"Apa yang sudah kulakukan tadi?" Taeyong mengacak rambutnya kasar dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
Menghela napas berat untuk kesekian kalinya dan bergegas menuju kamar mandi dengan langkah yang berat.
Srrrrsshhhh ~~ (bunyi air kran)
Memandang wajahnya yang basah di cermin wastafel dan kemudian mencuci wajahnya lagi, mengangkat wajahnya sekali lagi dan melihat banyangan wajahnya di cermin, perlahan air mengalir melewati pipi dan lehernya, namun ia tak peduli, membiarkannya begitu saja tanpa repot-repot menyekanya.
Aku kelepasan, sungguh – sesalnya dalam hati
Taeyong masih saja mengingat kejadian di taman tadi, dimana ia dengan kurang ajarnya mencium Ten, sahabat yang dicintainya. Namun apa ini benar-benar salahnya? Lagipula Ten tidak menolak, jadi sebenarnya siapa yang salah?
Arrrrgghhhhh
Berteriak frustasi dan lagi-lagi mengacak-acak rambutnya yang sedari tadi memang sudah berantakan.
I LOVE U too
"J-jaehyunie"
"Oh- Annyeong Hyung" sapa Jaehyun ketika melihat Taeyong duduk bersama Ten
"Hmmm" taeyong hanya bergumam sebagai balasan
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ten mencoba berbicara senormal mungkin, mengilangkan kegugupan-nya
"aku tadi hanya berjalan-jalan, dan aku tadi seperti melihat mu dari kejauhan, ternyata memang benar itu kau"
"ah-begitu"
"lalu apa yang kau lakukan disini? Err-dengan Taeyong Hyung?" Jaehyun bertanya dengan memicingkan matanya kea rah Taeyong, namun Taeyong tidak melihatnya, karena sedari tadi ia mengalihkan pandangannya ke arah ayunan kosong yang tidak jauh dari tempatnya duduk, sertinya ayunnan itu lebih menarik daripada seseorang disebelahnya dan didepannya
Ten berdehem untuk menyembunyikan kegugupannya lagi dan menjawab-
"aku hanya tidak sengaja bertemu dengan Taeyong Hyung" Ten berbohong, sedikit melirik ke arah Taeyong yang sedari tadi diam
Jawaban Ten membuat tubuh Taeyong menegang untuk beberapa detik, namun kemudian ia menghela nafas pelan dan memejamkan mata sebentar
"benarkah?" Jaehyun sepertinya tidak percaya
Ten menoleh kesamping ketika melihat pergerakan dari seseorang disampingnya. Taeyong berdiri dan memasukkan kedua tangannya pada saku hoodie.
"Pulanglah-udara semakin dingin" kata Taeyong tanpa memandang Ten, setelah itu Taeyong berjalan menjauh dari bangku taman itu. Ten terus memandang punggung hoodie merah itu sampai bayangannya menghilang tertelan gelapnya taman yang memang pencahayaanya tidak terlalu terang. Ada perasaan menyesal tapi Ten tidak mau Jaehyun salah paham jika ia berkata yang sebenarnya.
"Ten"
Suara Jaehyun membuyarkan lamunan Ten
"Mau jalan-jalan malam?"
"Aku mau pulang saja" kalau biasanya Ten sangat senang bisa jalan berdua dengan Jaehyun, tapi lain halnya dengan malam ini, rasa senang itu menguap entah kemana
"Baiklah"
"Apa kau sudah gila?" Yuta berteriak heboh
Pagi ini, Taeyong sengaja meminta Yuta untuk berangkat lebih pagi dari biasanya, Taeyong hanya ingin berbagi kegalauannya dengan sahabatnya itu, namun yang didapat justru umpatan dan teriakan. Beruntung saat ini kelas masih sepi jadi mereka tidak perlu khawatir kalau seisi kelas memperhatikan mereka.
"Kurasa kau memang benar-benar sudah gila"
"Bisakah kau berhenti mengatakan GILA" kata Taeyong dengan penekanan pada kata gila
"baiklah- baiklah. Lalu rencanamu selanjutnya apa?"
"entahlah, minta maaf mungkin" kata Taeyong sambil mengangkat bahunya, kemudian menopang dagu dengan tangan kirinya dan melihat kearah jendela yang tepat berada disampingnya. Di luar sana sudah banyak siswa-siswi yang mulai berdatangan.
"lalu kau akan mengatakanbahwa kau tidak sengaja melakukannya dan kemudian menyuruhnya untuk melupakan kejadian itu, lalu dia akan menamparmu dan membencimu dan bersahabatan kita hancur" Yuta mengarang cerita dengan kecepatan bicara lebih cepat dari biasanya
"kau berlebihan" Taeyong memandang sekilas ke arah Yuta dan mengarahkan pandangannya ke jendela lagi, dan indra penglihatannya tidak sengaja menangkap bayangan Ten dan Jaehyun yang berjalan memasuki gerbang sekolah dengan lengan Jaehyun yang merangkul pundak Ten. Taeyong menghela nafas berat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kea rah lain.
"apa aku harus mengatakan yang sebenarnya?" Tanya Taeyong dengan suara lirih, namun Yuta masih bisa mendengarnya. Sebenarnya itu bukan pertanyaan untuk Yuta namun lebih kepada dirinya sendiri
"Bukankah memang dari dulu aku sudah menyuruhmu untuk melakukannya?"
"tapi aku-"
"STOP, jangan katakana hal itu lagi, aku sudah bosan jika kau mau tahu. Cukup pergilah menemui Ten dan katakan semuanya, jangan terlalu memikirkan hasil akhirnya, kau tidak akan tahu jika belum mencoba. Jika suatu saat Ten membencimu, tenanglah masih ada aku" Yuta berbicara panjang lebar, dan sungguh baru kali ini ia mengatakan sesuatu hal yang bijak. Membuat Taeyong melongo tidak percaya
"jangan terharu"
"aku malah ingin tertawa" Kata Taeyong sambil menahan tawanya, karena demi apapun, Yuta yang serius lebih menggelikan daripada Chanyeol –sunbaenya dulu- yang dikenal sebagai happy virus
"sialan kau"
Disinilah Taeyong berdiri sekarang, di atap gedung sekolah, menunggu seseorang – siapa lagi kalau bukan Ten. Dengan paksaan dari Yuta akhirnya Taeyong memberanikan diri untuk mengatakan perasaanya pada Ten. Sebelumnya ia telah mengirim pesan pada Ten untuk menemuinya di atap gedung sekolah.
Seperti kata Yuta, lupakan hasil akhirnya, yang terpenting lakukan dulu, karena kita tidak akan pernah tau sebelum mencoba.
CKLEK
Pintu berwarna merah maroon itu perlahan terbuka, memperlihatkan seseorang masuk dengan pelan dan hati-hati, langkahnya sangat pelan sampai-sampai orang yang sedari tadi menunggunya tidak sadar akan kehadirannya
"Hyung" panggilnya
Yang dipanggil Hyung menoleh kebelakang dan mendapati seseorang yang ditunggunya sudah berdiri dihadapannya
Jujur saja, sekuat apapun tekatnya tadi akhirnya runtuh juga saat melihat Ten dihadapannya. Taeyong berdehem dan menarik nafas dalam, mengumpulkan lagi tekadnya yang sudah tercecer jatuh ke lantai.
"Aku ingin minta ma-"
"tidak perlu minta maaf hyung" Ten memotong ucapan Taeyong, seperti sudah tahu apa yang akan Taeyong katakan
"lupakan saja" Ten menambahkan
DEG
Tekat yang sudah berhasil ia bangun tadi dengan cepat hancur berkeping-keping [lagi] hanya dengan satu kata 'Lupakan' . namun belum sampai disitu, ucapan Ten yang selanjutnya lebih membuat Taeyong hancur.
"Aku tahu apa yang akan Hyung katakan" Taeyong menatap Ten tidak percaya.
"Aku minta maaf Hyung, tapi aku tidak bisa menganggapmu lebih dari seorang Hyung dan sahabat"
Apa ini berarti Taeyong ditolak? Bahkan sebelum ia mengatakannya?
Teayong membeku ditempatnya, ia merasa sesuatu yang berat tengah menimpanya, ia tidak bisa bergerak, bahkan matanya tidak berkedip, tatapannya tetap pada objek didepannya, namun yang ditatap hanya menunduk dalam diam setelah mengatakan itu.
Sekitar 1 menit tidak ada jawaban dari Taeyong, dan Ten sepertinya tidak melanjutkan ucapannya, akhirnya Taeyong angkat bicara, ia menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya
"Tidak perlu minta maaf" Kata taeyong akhirnya, mencoba bersikap biasa saja
Ten mengangangkat kepalanya dan memandang Taeyong yang kini tengah tersenyum kearahnya –senyum yang dipaksakan tentu saja-
Tangan kanannya terangkat untuk mengusak lembut rambut Ten, salah satu hal yang disukai Ten.
"tidak perlu dipirkan, oke? Hiduplah bahagia dengan pilihanmu" lagi, Taeyong tersenyum di akhir kalimatnya, sungguh acting yang luar biasa
Setelah mengatakan itu Taeyong menepuk pelan pundak Ten kemudian berjalan menjauh meninggalkan Ten yan masih bertahan pada posisi –berdiri- nya. Setelah terdengar suara pintu tertutup, tubuh Ten merosot kelantai, Ten menunduk dan ia dapat melihat dengan jelas tetesan air membasahi lantai. Ya, Ten menangis, ia benar-benar tidak dapat menahan air matanya, dan tidak dapat juga menghentikan tangisannya.
"kenapa? Kenapa aku menangis?" Tanya Ten pada dirinya sendiri, mengusap kasar airmatanya kemudian mendongak menatap langit yang saat itu terlihat sangat cerah, berbeda sekali dengan suasana hatinya saat ini.
Tanpa sepengetahuan Ten dan Taeyong, sedari tadi ada yang memperhatikan dan menguping pembicarann mereka, orang itu mengepalkan tangan sebelum meninggalkan tempat itu.
"bagaimana?" Tanya Yuta saat mereka berjalan menuju gerbang sekolah, karena saat pelajaran terakhir Taeyong tidak kembali ke kelas
"seperti yang sudah aku perkirakan sebelumnya-" Taeyong menjeda ucapannya sebentar
"-aku ditolak" lanjutnya
Yuta menghela nafas, dan merangkul pundak Taeyong, memberikan kata-kata semangat untuknya. Dan jangan lupakan kalimat humornya yang selalu sukses membuat Taeyong tertawa, paling tidak Yuta bisa membuat sahabatnya tertawa untuk saat ini.
BRUKK
"maafkan aku, aku benar-benar minta maaf" anak kecil itu membungkuk berapa kali dan mengucapkan maaf berulang-ulang karena telah menabrak orang didepannya dan menjatuhkan ice cream yang dipegangnya
"hei, sudah-sudah, aku tidak apa-apa" katanya mencoba menenangkan, karena ia meliahat anak kecil itu matanya sudah berkaca-kaca mau menangis.
"t-tapi sepatu hyung kotor-hiks" akhirnya anak kecil itu menangis juga
"sudah, tidak apa-apa" berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan anak kecil di hadapannya
"namamu siapa"
"Soe Jun hiks, Lee Soe Jun-hiks"
"hei, sudah jangan menangis, kau bisa memanggilku Ten Hyung" Ten memperkenalkan diri sambil menghapus airmata Soe Jun
"kajja" Ten berdiri kemudian menarik tangan Soe Jun untuk mengikutinya
Soe Jun terlihat ketakutan, takut kalau orang didepannya ini mau menculiknya atau melaporkannya ke polisi Karena sudah membuat sepatu Ten kotor, ya begitulah pikiran anak kecil, sederhana. Ten yang melihat raut wajah Soe Jun yang ketakutan hanya tersenyum.
"sudah sampai" kata Ten bersemangat
"eh?"
"Paman, aku mau ice cream strawberry dua, dengan topping saus coklat dan choco chips" ternyata Ten mengajak Soe Jun ke kedai ice cream langganannya
"hyung, Jun-ie tidak punya uang" kata soe jun polos
Kata-kata Soe Jun sukses membuat Ten tertawa
"aigooo~~ kau lucu sekali"
"silahkan" Paman ice cream mengantar pesanannya
"terimakasih paman"
"makanlah, aku yang akan membayarnya" Ten mendorong satu cup ice cream ke arah soe Jun
"woaahh~~ jinjja?" seru Soe Jun dengan muka berbinar, dan lagi-lagi sukses membuat Ten tertawa
"Jun-ie mau kemana?" Tanya Ten ditengah acara nya makan ice cream
"Jun-ie mau pergi ke tempat Hyung Jun-ie bekerja"
"sendirian?" Tanya Ten tidak percaya
"hmmm" gumam Soe Jun sambil terus menyendokkan ice cream ke mulutnya
"apa tidak ada yang mengantarmu? Ayah? Ibu?"
"Jun-ie tidak punya ayah ibu, Hyung Jun-ie bilang kalau mulai sekarang Hyung Jun-ie yang akan jadi ayah dan ibu Jun-ie"
"wahh~~ Hyung Jun-ie pasti orang yang hebat"
"tentu saja, Hyung Jun-ie sangat sayang pada Jun-ie, Jun-ie juga sangat sayang Hyung Jun-ie" Ten tersenyum mendengar ucapan tulus Soe Jun
"Hyung Jun-ie kerja dimana?"
"disana?" Seru Soe Jun sambil menunjuk kea rah luar kedai, tepat di depan kedai ice cream berdiri bangunan Café bertuliskan Dearest Café. Ten merasa akan ada hal buruk yang sedang menantinya.
"kalau boleh Hyung tahu, siapa nama Hyung Jun-ie?" Ten bertanya hati-hati
Dan karena Soe Jun sangat fokus pada acaranya 'mari memakan ice cream' sampai-sampai ia tidak mendengar pertanyaan Ten.
Dan ketika Soe Jun mengangkat kepalanya ia lagi-lagi dia menunjuk ke arah luar
"Hyung, lihat! Itu Hyung Jun-ie" Soe Jun berseru sambil menunjuk seseorang di dalam bangunan yang berseberangan dengan kedai ice cream –Dearest Café
Dengan gerakan slowmotion, Ten mengikuti arah tunjuk Soe Jun. bola matanya membesar, jantungnya berdegup kencang. Entah kenapa akhir-akhir ini setiap melihat Taeyong jantungnya sering sekali berdegup dua kali lebih kencang daripada biasanya.
'Marga yang sama, ternyata benar Lee Soe Jun adalah adik dari Lee Taeyong'
"Ten Hyung setelah ini ayo ikut Jun-ie kesana, Jun-ie kenalkan Hyung Jun-ie" Suara Soe Jun membuyarkan lamunan Ten, ia tidak mungkin bertemu dengan Taeyong setelah kejadian tadi siang, ia hanya belum siap
"bagaimana Hyung?" Soe Jun bertanya lagi karena Ten sedari tadi hanya diam
"E-eh, Hari ini Hyung tidak bisa" Ten mencoba menolak secara halus
"ah-baiklah" terdengar nada kecewa dari Soe Jun
"hei, jangan sedih, sebagai gantinya bagaiman kalau Jun-ie setiap hari makan Ice cream dengan Hyung" Ten mencoba menghibur Soe Jun dan-
"Jinjja?" mata Soe Jun berbinar
Berhasil
"iya, setiap hari datanglah kesini, aku akan mentraktirmu Ice cream, bagaimana?"
"Jun-ie mau" seru Soe Jun bersemangat
"Tapi Jun-ie harus berjanji satu hal"
"apa Hyung?"
"jangan beri tahu Hyung Jun-ie"
"Kenapa?"
"mm…karena ini rahasia, hanya kita berdua. Arra?"
"Araseo, Jun-ie janji" keduanya tersenyum dengan mengaitkan jari kelingking masing-masing sebagai bukti janji mereka.
Seminggu berlalu setelah kejadian dimana Ten menolak Taeyong, selama itu pula kedua-nya tidak pernah lagi bertatap muka, Ten yang semakin dekat dengan Jaehyun dan Taeyong yang menyibukkan diri dengan belajar dan bekerja. Taeyong juga tidak pernah lagi mengikuti club dance, Ten hanya mendapati Yuta yang masih aktif di Club. Sebenarnya Ten ingin sekali bertanya pada Yuta, tapi sepertinya Hyung nya yang satu itu juga menjaga jarak dengan nya. Iya benar-benar merasa kehilangan sekarang. Di sekolah pun dia juga tidak pernah bertemu dengan Taeyong, Taeyong seolah-olah menghilang dari pandanagnnya. Ia hanya dapat melihat Taeyong saat bekerja, mengamatinya dari balik kaca jendela kedai ice cream yang letaknya bersebrangan dengan tempat Taeyong bekerja. Ngomong-ngomong soal kedai ice cream, Ten menepati janjinya untuk mentraktir Soe Jun setiap hari, terkadang Soe Jun mengajak Jinki juga. Dan dengan ini ia juga dapat melihat Taeyong setiap hari-dari kejauhan tentu saja. Setidaknya ia dapat memastikan bahwa Hyung nya itu baik-baik saja.
"Ten" seseorang menepuk pundaknya, ia menoleh lalu tersenyum
"Americano lagi?" Jaehyun- orang itu bertanya pada Ten, karena akhir-akhir ini Ten sering memesan Americano.
"Yah, seperti yang kau lihat" Ten menjawab sekenanya
"Jangan terlalu sering minum Americano, tidak baik untuk kesehatanmu"
DEG
Ten berhenti mengaduk-aduk Americano-nya dan merasakan sesuatu mengetuk-ngetuk tulang rusuknya. Ia tersenyum miris, kata-kata Jaehyun mengingatkannya lagi pada Taeyong, Taeyong yang selalu menasehatinya ini dan itu, melarangnya ini dan itu, ia dulu membenci hal itu tapi sekarang ia merindukannya. Memang benar kata orang, kita akan merasa benar-benar kehilangan setelah seseorang itu pergi.
"Ten?" Jaehyun membuyarkan lamunan Ten
"ya?"
"kau kenapa?"
"tidak" Ten mendorong Americano nya dan berdiri
"kau mau kemana?"
"ke kelas" setelahnya Ten beranjak dari hadapan Jaehyun dan meninggalkannya sendirian
"Kau sudah berubah Ten, dan kau tahu? Aku tidak menyukainya" Jaehyun menatap punggung Ten yang berjalan menjauh, ia menunduk dan ber-smirk, mengaduk minumannya dan pergi meninggalkankan kantin tanpa meminum minumannya
Hari sudah menjelang sore, di atas sana langit semakin menggelap dan udara juga semakin dingin. Ten tengah duduk seorang diri di Halte bis, menunggu jemputan sepertinya,matanya menatap kosong jalanan yang tidak begitu ramai, fikirannya melayang jauh entah kemana, sekalipun ada kecelakaan di depannya ia tidak peduli atau bahkan tidak menyadarinya
"Kau sendirian?" tiba-tiba saja ada orang yang berdiri di sebelahnya
Dengan cepat Ten mendongak menatap lawan bicaranya setelah mengenali suara orang itu, tidak perlu lama untuk mengenali suara itu, karena suara itulah yang seminggu ini tidak pernah didengarnya, dan ia merindukan itu.
"Hyung" Ten berdiri dan langsung memeluk erat Hyung yang seminggu ini selalu menganggu fikirannya. –Taeyong-
Taeyong sedikit terhuyung kebelakang karena Ten tiba-tiba saja menerjangnya, beruntung Taeyong bisa menyeimbangkan tubuhnya, kalau tidak mungkin saja mereka berdua akan jatuh.
"Hiks Hiks hiks"
Taeyong mendengar suara isakan, dengan segera ia mendorong pelan tubuh Ten
"hei, kau kenapa?" Tanya Taeyong lembut
Ten masih saja menangis dan menundukkan kepalanya tidak berani menatap taeyong. Taeyong mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh dagu Ten, menuntunnya untuk mendongak menatap dirinya, dapat dilihatnya mata yang dulu selalu tersenyum itu kini basah oleh airmata, Taeyong dapat merasakan kesedihan didalamnya
Taeyong menangkup pipi mulus Ten dengan kedua tangan-nya dan menghapus pipi basah itu dengan ibu jarinya.
Ten masih saja menatap Taeyong dengan airmata, ia tidak sanggup jika terlalu lama menatap namja didepannya ini, dan ia memutuskan untuk memeluk Taeyong kembali.
"Katakan, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?" Tanya Taeyong setelah kedua nya kini duduk bersebelahan dan Ten yang sudah kembali tenang.
"Hyung, aku minta maaf" Ucap Ten dengan suara parau,
"untuk?"
"Kejadian seminggu yang lalu" ucap Ten hati-hati
Taeyong menghela nafas pelan, menatap langit yang kini sudah benar-benar gelap, hanya ada sedikit bintang malam itu, mungkin jika taeyong ingin ia bisa menghitungnya.
"Apa hal itu yang membuatmu menangis?" pandangan Taeyong beralih menatap Ten
Ten mengangguk lemah
"Karena Hyung menjauhi ku, tiba-tiba saja aku tidak bisa mendapati Hyung di setiap sudut sekolah, Hyung juga tidak pernah lagi datang ke club, bahkan Yuta Hyung juga menjaga jarak denganku" tutur Ten sedih
Mendengar hal itu Taeyong merasa bersalah pada Ten, apakah dia yang telah menyebabkan Ten menangis, apakah ia terlalu berlebihan menjaga jarak dengan Ten selama seminggu ini?
"Aku tidak menjauhimu, aku hanya sibuk akhir-akhir ini, dan soal aku yang tidak pernah datang ke club itu karena aku harus bekerja, sungguh aku tidak bermaksud untuk menjauhimu" Taeyong mencoba menghibur Ten, tujuannya tentu saja agar Ten tidak terlalu memikirkan hal itu. Dan sudah jelas Taeyong berbohong karena memang seminggu ini ia menjaga jarak dengan Ten, ia hanya belum siap bertemu dengan Ten. Dan hari ini ia memutuskan untuk menyapa Ten terlebih dulu karena YUta mengatakan bahwa Ten seperti kehilangan semangatnya, gerakan dancenya tidak beraturan dan dia juga sering melakukan kesalahan.
"Apakah kita sekarang baikan?"
"Memangnya sejak kapan kita bertengkar?" Taeyong tersenyum, ia mengusak rambut Ten acak
Ten merasa lega sekarang, ia dapat melihat Taeyong tersenyum lagi untuknya, senyum yang selalu ia rindukan.
"Mana jaketmu?" Tanya Taeyong ketika menyadari Ten hanya memakai kemeja sekolahnya
"Aku meninggalkannya di loker" Jawab Ten dengan tertawa
"Hyung tidak bekerja?"
Taeyong tidak mengindahkan pertanyaan Ten, ia justru melepas tas ranselnya dan menaruhnya di pangkuannya, ia kemudian melepas hoodie hitam yang sedari tadi ia kenakan untuk kemudian dipakaikan pada Ten.
"hyung ini.."
"lain kali jangan taruh baju hangat mu di loker, taruh dalam tasmu" Taeyong menasehati sambil merapikan hoodie yang dipakai Ten
Ten tersenyum, Taeyong Hyung nya telah kembali
"gomawo Hyung" lagi, Ten tersenyum yang dibalas senyum juga oleh Taeyong
"Aku hari ini libur"
"eh?" Ten menatap Taeyong bingung
"Untuk pertanyaanmu yang tadi" dan Ten hanya ber "Oh" sebagai balasan
"Jangan pernah menangis lagi, karena kau semakin jelek jika kau mau aku jujur"
"YAKK!" Ten memukul lengan Taeyong main-main dan setelahnya hanya terdengar candaan dan suara tawa dari keduanya
TIINNN TIIINNN
Tidak lama kemudian, sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan mereka. Dan membawa Ten pergi membelah kota seoul yang dingin malam itu, meninggalkan Taeyong seorang diri karena sebelumnya dia menolak tawaran Ten untuk pulang bersama.
Taeyong menatap langit malam dan menghela nafas berat setelah kepergian Ten. Ia hanya berharap hari esok lebih baik hari ini dan ia dapat mengontrol dirinya lebih baik lagi.
Di dalam mobil Ten terus tersenyum, sesekali mencium wangi maskulin dari hoodie yang dikenakannya. Ia bersyukur Taeyong telah kembali seperti dulu dan perhatian lagi padanya, hari-hari berikutnya pasti akan kembali seperti semula, dia, taeyong dan Yuta akan kembali seperti dulu. Semuanya akan sama seperti dulu. Yah, itu hanya pemikiran Ten, namun siapa yang tahu persahabatan mereka masih tetap sama walaupun sebagian bagian dari persahabatan itu sudah retak dan tak dapat diperbaiki.
.
..
.
TBC or END?
NB:
"kau sungguh-sungguh akan mengatakannya pada Ten?"
"iya" Taeyong menatap bayangannya dan Yuta di cermin wastafel toilet sekolah
"Aku sudah siap apapun jawabannya"
"Apa kau akan tetap mencintainya jika ia menolak mu?"
"ya" Taeyong membasuh kedua tangannya, mengeringkannya dengan tisu lalu berbalik menghadap Yuta
"Aku akan tetap mencintanya, walaupun dia menolakku" lanjut Taeyong
"semoga berhasil kawan" Yuta menepuk pelan pundak Taeyong dan kemudian keduanya beranjak pergi meninggalkan Toilet setelah sebelumnya Taeyong membuang tisu pada tempat sampah di dekat pintu.
Tanpa keduanya sadari, sedari tadi ada yang menguping pembicaraan mereka. Tubuhnya menegang memegang knop pintu. Tujuan awalnya adalah segera keluar dari dalam toilet setelah menuntaskan panggilan alamnya, namun ia mengurungkan niatnya setelah seseorang diluar sana menyebut namanya dan membicarakannya, membuat ia mau-tidak mau menguping pembicaraan itu. Ya, orang itu adalah Ten. Ia sangat shock ketika mengetahui jika selama ini Taeyong menyukainya dan akan menyatakan cintanya padahal baik Taeyong maupun Yuta tahu bahwa Ten menyukai Jaehyun.
Sebelumnya author minta maaf telaaaat banget update nih FF T.T
Review yang sedikit membuat author 'agak' males buat ngelanjutin T.T
Tapi kalau gak dilanjutin kasian yang uda Review dan nunggu kelanjutan ff nya- duh author ke-pede-an nih :3
Lupakan itu, terimakasih bagi yang udah nyempatin review, fav, dan follow. . satu lagi jangan lupa juga baca ff author yang NOT YOU [ff receh dari author yang masih newbie di bidang per-ff-an, jadi maklum saja kalau garing krenyes krenyes ]
Terakhir, jangan lupa Review biar author semangat buat lanjutin ^^
Ppai ppai ~~
