Ten memasuki gerbang sekolah dengan semangat pagi ini, jangan lupakan senyum manis yang tak pernah luntur dari wajahnya. Hari ini adalah hari baru untuknya, karena hari ini tidak ada lagi yang membuatnya khawatir, Taeyong dan Yuta Hyung-nya telah kembali. Persahabatn mereka telah kembali. Kemarin setelah sampai dirumah, ia langsung menghubungi Yuta untuk menceritakan semuanya, beruntung Yuta mau menjawab panggilannya dan mendengarkan ceritanya. Tidak sampai disitu, Ten juga melakukan panggilan group untuk Taeyong juga, sehingga mereka ber tiga dapat bercerita dan saling mendengarkan- yah, seperti dulu. Mereka dulu memang sering melakukan hal seperti itu, namun satu minggu belakangan ini semuanya telah berubah dan kini semuanya telah kembali lagi seperti semula. Ten tersenyum jika mengingat hal itu.
"Ten" seseorang memanggilnya dan merangkul pundaknya
"Annyeong Jaehyunie" sapa Ten setelah mengetahui seseorang itu adalah Jaehyun
"kelihatannya kau senang sekali hari ini?"
"tentu saja"
"apa karena aku menyapamu pagi ini?" Tanya Jaehyun diiringi tawanya
Ten tertawa, dan bergumam sebelum menjawab,
"Bukan, kau ini percaya diri sekali"
"lalu apa?"
"karena Taeyong Hyung sudah kembali seperti dulu, ah-Yuta Hyung juga" Ten kembali tersenyum mengingatnya.
Mendengar hal itu senyum Jaehyun perlahan luntur, wajahnya menjadi dingin, namun Ten tidak menyadari hal itu
'jadi karena Taeyong Hyung'
I LOVE YOU too
"TAEYONG!" Yuta berteriak tepat di telinga Taeyong
"YA!" Taeyong reflek menoleh dan menutup telinganya,
"aku sudah memanggilmu lima kali dan kau mengacuhkan ku"
"mian"
"apa yang kau lihat?" Yuta mengarahkan pandangannya ke luar jendela, dimana sebelumnya Taeyong melakukan itu.
Setelahnya Yuta menghela nafas, dan kembali ke posisi nya menghadap Taeyong.
Di luar sana, ia melihat Ten da Jaehyun yang berjalan beriringan dengan lengan Jaehyun yang merangkul bahu Ten
"bodoh" satu kata itu membuat Taeyong mengerutkan dahi
"kau sungguh-sungguh bodoh, dengan mudah memaafkannya dengan acting bodohmu itu"
"kau juga memaafkanya"
"Itu karena kau yang menyuruh"
Taeyong menghela nafas lalu menyenderkan punggungnya pada kursi
"Perlu kau ingat, kau sendiri yang menyuruhku untuk menemuinya"
"memang benar, tapi bukan berarti kau berbohong padanya"
"Lupakan, lagipula itu sudah terjadi dan " Taeyong menjeda ucapannya
"dan?"
"Dan lagipula kita akan lulus dan setelah itu aku tidak perlu lagi melihat mereka"
"Apa hatimu siap?" Yuta menaikkan sebelah alisnya
"Bisakah kita tidak membahas ini" Taeyong kembali duduk tegak dan memandang Yuta dingin
"Baiklah-baiklah"
"Apa rencanamu setelah kita lulus nanti?" Yuta mengganti topic pembicaraan
"entahlah, mungkin aku akan bekerja karena Soe Jun semakin hari semakin besar dan dia masih perlu untuk melanjutkan sekolahnya"
"Bukankah kau juga ingin melanjutkan kuliah?"
Taeyong menghela nafas lagi
"Aku masih memikirkan hal itu"
Tiba-tiba sebuah bola lampu imajiner menyala di atas kepala Yuta
"Bagaimana kalau ke Jepang" seru Yuta, dan taeyong hanya menaikkan satu aliasnya-tidak mengerti akan ucapan Yuta
"Kau dan aku pergi ke Jepang, kita bisa kuliah disana, aku tahu universitas yang bagus. Aku juga punya sepupu yang usia nya sama dengan Soe Jun, dan kita bisa mengambil kerja Part Time, aku sangat ingin bekerja jika kau ingin tahu. Bagaimana?" Yuta bersemangat sekali menceritakan tentang Negara asalnya
"akan ku pikirkan"
"hei, ayolah~~ kapan lagi aku mengajakmu tinggal di Jepang, lagipula kau mungkin bisa melupakan Ten" Suara Yuta mengecil di akhir kalimat
"akan kubicarakan dengan Soe Jun nanti, jika dia mau mungkin aku bisa memikirkannya lagi"
"Kuharap Soe Jun mau"
"Ya, semoga"
Mungkin ini kesempatan bagus, lagipula apa salahnya dengan Jepang? Negara itu juga sama-sama memiliki empat musim, dan mungkin dia juga bisa melupakan semua hal yang menyakitkan selama di Korea, orang tua yang meninggalkannya dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Taeyong menginggat kembali kejadian pahit yang selama ini ia alami, dan Soe jun mungkin juga butuh suasana baru- pikirnya.
"Ten, mau kemana?" Tanya Jaehyun setelah melihat Ten yang dengan cepat merapikan buku-bukunya dan berdiri dari kursi
"Ke kantin,bertemu Taeyong dan Yuta Hyung" Ten sedikit mendorong kursinya kebelakang agar memudahkannya untuk keluar, namun pergelangan tangannya di tahan oleh Jaehyun.
"Bukankah kau bilang kau menyukaiku?"
Ten mengerutkan dahinya, menatap tidak mengerti pada Jaehyun
"Kenapa selalu mereka? Apa kau mulai menyukai Teayong Hyung"
Ten mengerti sekarang, ia memegang tangan Jaehyun dan melepasnya dari pergelangan tangannya
"Aku memang menyukaimu, tapi bukan berarti aku tidak bisa menemui mereka, sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengan mereka, dan kini kami sudah berbaikan. Dan jangan lupakan satu hal. Kau tidak bilang jika kau menyukaiku juga"
"Kalau sekarang ku bilang aku juga menyukaimu, bagaimana?"
"kau hanya terbawa emosi, aku tidak merasakan ada kesungguhan dalam ucapanmu" Setelah mengatakan hal itu, Ten beranjak meninggalkan jaehyun sendirian
"arrgghhhh sial" Jaehyun berteriak tertahan, mengusak rambutnya kasar dan segera pergi meninggalkan kelas juga
"aku akan membuatmu membenci mereka, terutama Taeyong Hyung" ujar Jaehyun dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Syukurlah, semuanya kembali seperti dulu" Ten menghela nafas lega sekembalinya dari kantin untuk menemui Taeyong dan Yuta. Semuanya kembali seperti dulu, tak ada rasa canggung, segan ataupun saling menjauh, yang ada hanya tawa dan canda seperti dulu, benar-benar seperti dulu.
Suasana hati Ten sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya, senyum manis tak pernah luntur sedikitpun dari wajahnya. Ia berjalan riang menuju kelasnya sesekali menyapa teman yang dijumpainya.
"Ten" seseorang dari arah belakang Ten memanggilnya
"ya?"
"Taeyong sunbae ingin bertemu denganmu"
"hhe?"
"Katanya ada yang ingin ia tunjukkan, sekarang pergilah menemuinya di Taman belakang sekolah"
"a-ah. Okay. Gomawo" dan kemudian orang itu berlari menjauh dari tempat ten berdiri
"aneh, bukankah tadi kita baru bertemu?" gumamnya dalam hati, namun ia segera melangkahkan kaki menuju taman belakang sekolah, sesuai ucapan temannya tadi. Ia tidak mau ambil pusing, toh mungkin saja memang ada sesuatu yang ingin Hyungnya itu tunjukkan
"TAEYONG HYUNG" Ten berteriak sesampainya ia di taman, ia berlari dan mendorong tubuh Taeyong
"T-Ten" Taeyong terkejut dengan kehadiran Ten yang tiba-tiba
"apa yang kau lakukan?"
"A-aku tidak-"
"Jaehyun-ie gwaenchana?" Ten mendekati Jaehyun dan membantunya berdiri
"Apa ini yang ingin Hyung tunjukkan?"
"Apa yang kau bicarakan?"
"janganpura-pura Hyung, kau menyuruhku kemari dan kau bilang ingin menunjukkan sesuatu. Jadi seperti ini yang kau maksud?" Ten berteriak dengan air mata yang sudah membasahi pipinya
"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini pada Jaehyun-ie? Kenapa Hyung?" ucapan Ten melemah, tersirat kesedihan didalamnya
"Hyung, aku kecewa padamu"
Taeyong hanya berdiri dalam diam, syaraf tubuhnya serasa mati, ia tidak dapat berpikir ataupun membalas ucapan Ten. Pandangannya kosong, ia dapat melihat didepannya kini Ten menuntun Jaehyun yang penuh luka pada wajahnya, Ten mengalungkan lengannya pada pinggang jaehyun, sedangkan lengan Jaehyun melingkar pada pundak Ten. Ten menuntun Jaehyun untuk berjalan, ia melewati Taeyong begitu saja, melewatinya tanpa peduli apa yang di rasakan taeyong, seperti dua orang yang tidak saling mengenal.
"Hyung" Ten menghentikan lagkahnya tepat dibelakang taeyong, tanpa memandangnya
"Aku membencimu"
DEG
Tubuh Taeyong menegang, dapat ia rasakan dada sebelah kirinya berdenyut sakit, ia membalikkan tubuhnya,dan dapat ia lihat Ten dan Jaehyun melangkah pergi menjauh darinya. Sepoi angin menerbangan rambut coklatnya yang halus, ia memejamkan mata menikmati semilir angin yang mungkin saja bisa membawa rasa sakitnya terbang menjauh darinya. Tidak masalah jika Ten nantinya akan menjadi kekasih Jaehyun, tidak masalah jika Ten tidak ada lagi waktu untuk sekedar berbicara dan menikmati segelas Jus di kantin bersamanya, itu semua tidak masalah. Masalahnya sekarang ten membencinya, dan taeyong tidak siap akan hal itu.
'aku membencimu"
Ucapan Ten terus terngiang di pikirannya, bagaikan kaset rusak yang tidak mau berhenti dan terus saja berputar.
"Kau sekarang benar-benar membenciku?" Taeyong tersenyum pahit, dan beranjak dengan langkah berat.
Tanpa Taeyong dan Ten sadari, Jaehyun ber-smirk ketika Ten mengatakan kalimat yang sakral bagi taeyong –aku membencimu- dan melewati taeyong tanpa menoleh padanya
BRAKKK
Yuta menggebrak meja, seisi kelas menatap heran padanya
"APA LIHAT-LIHAT?" Yuta menatap seisi kelas dengan tatapan dingin dan tajam, ia sekarang bukan sedang bercanda. Dan semua teman di kelasnya tahu jika Yuta sangat menakutkan jika sedang marah. Reflek semua temannya langsung menyibukkan diri dengan kegiatannya masing-masing, akan sanagt berbahaya jika berurusan dengan Yuta yang seperti monster.
"Akan ku beri pelajaran dia" Yuta segera berdiri dengan tangan yang mengepal kuat, namun Taeyong menahannya.
Sekembalinya dari taman, Taeyong langsung menceritakan apa yang terjadi, sebenarnya dia tidak ingin bercerita. Namun yuta melihat ada yang aneh dari Taeyong, wajahnya benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasannya, dan dengan paksaan dari Yuta yang terus mendesaknya untuk bercerita akhirya Taeyong menceritakan semua-nya
"hei, sudahlah" Taeyong mencoba menenangkan yuta
"Apanya yang sudahlah?" Yuta masih saja berbicara keras
"kau menakuti semua teman kita"
Yuta memandang sesisi kelas dan kemudian mendengus, dapat ia lihat semua temannya pura-pura sibuk dan menghinadari bertatap muka dengannya
"duduklah"
Yuta menghela nafas dan kemudia duduk
"kenapa kau tiadak menjelaskan pada Ten? kenapa kau bisa sebaik ini? Kau membuatku gila, sialan"
"aku hanya tidak mau memperpanjang masalah" Taeyong menjeda ucapannya
"- lagipula sebentar lagi kita lulus dan aku akan ke Jepang bersamamu, bukankah seperti itu lebih baik"
"terserah kau saja" Yuta menyerah menghadapi taeyong. Sahabatnya itu sangat keras kepala
"jadi kau akan ke jepang?" Tanya Yuta antusias setelah menyadari ucapan Taeyong
"hmm" Taeyong hanya bergumam dan tersenyum
"Soe Jun sepertinya akan setuju jika aku mengajaknya ke Jepang" lanjutnya
"jadi kau belum bicara pada Soe Jun?"
"belum"
"sialan kau"
"apa ini tidak apa-apa?" Tanya Ten khawatir dengan keadaan Jaehyun saat ini, mukanya penuh dengan luka dan lebam
Jaehyun hanya menganguk dan tersenyum
"kenapa Taeyong Hyung melakukan ini padamu ..hiks" Ten mulai menangis dan menyentuh wajah Jaehyun hati-hati
"ssttt…sudahlah, aku tidak apa-apa, sungguh" jaehyun memegang tangan Ten yang berada di wajahnya kemudian mencium tangan-nya
Ten hanya diam ketika tangannya dicium oleh Jaehyun, ada sesuatu yang aneh dihatinya, seperti ada yang hilang
"Aku tidak masalah terluka seperti ini asalakan kau selalu disisiku"
"Hiks…tapi kenapa Taeyong Hyung memukulmu…hiks?"
"Jangan menyebut nama-nya lagi, okay?" Jaehyun benar-benar muak, ia tidak suka ketika Ten selalu menyebut nama Taeyong
"tapi-"
CUP
Suatu benda kenyal menempel dipermukaan bibirnya, ia membulatkan matanya dan tangisnya juga seketika terhenti, seseorang didepannya menutup mata dan perlahan melumat bibir tipisnya. Jaehyun menciumnya
Ia perlahan juga memejamkan matanya dan membalas ciuman jaehyun, dapat ia rasakan pipinya basah lagi, Jaehyun juga merasakan pipinya basah. Ten menangis. Ten tidak tahu apa yang ia rasakan, seharusnya ia senang, namun entah kenapa ia kembali menangis, dan di fikirannya kini hanya ada satu orang yang membuatnya kacau- Taeyong, Ten benar-benar tidak bisa menghapus Taeyong dari pikirannya.
Dan disela-sela ciuman itu jaehyun tersenyum, senyum kemenangan.
"aku akan membuatmu membenci mereka, terutama Taeyong Hyung" ujar Jaehyun dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya
"rencana A dimulai" gumamnya dalam hati, ia berjalan menuju suatu tempat
"kenapa kau memanggil ku?" Tanya seseorang yang kini berada dihadapan Jaehyun
"pukul aku"
"hah?"
"pukul wajahku" Jaehyun mengulangi perkataannya
"apa kau gila?"
Jaehyun mengambil sesuatu disakunya dan menyerahkan beberapa lembar won pada orang itu
"Terima ini dan cepat pukul aku"
Orang itu hanya menatap takjub uang yang berada di tangannya, kemudia ia ber-smirk
"baiklah jika itu maumu"
BUGH…. PLAK…. BUGH… BUGH
Orang itu dengan senang hati memukul wajah jaehyun berulang kali, wajahnya yang tampan kini penuh dengan luka lebam.
"sudah cukup, pergilah" dengan nafas yang terengah ia menyenderkan punggungnya pada tembok dan mengambil ponsel pada saku celananya dan melakukan panggilan pada seseorang
"Junho, pergilah menemui Taeyong Hyung dan katakan padanya bahwa Ten ingin bertemu di Taman belakang sekolah, lakukan hal yang sama pada Ten"
"….."
Ia memutuskan panggilannya dan tersenyum licik
"Sial, sakit sekali" ia menyentuh wajahnya dan melihatnya pada layar ponselnya
Setelah itu ia berdiri dan beranjak dari sana.
"Taeyong sunbae"
Taeyong yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi menolehkan kepalanya pada seseorang yang baru saja memanggilnya
"ya?"
"Ten ingin bertemu dengan sunbae di taman belakang sekolah"
"Gomawo" taeyong tidak bertanya lebih lanjut pada siswa itu dan hanya berucap terimakasih. Ia dengan langkah santai berjalan menuju taman belakang sekolah
Sesampainya di taman-
"Ten?" Taeyong ragu untuk memanggil, pasalnya seseorang yang berdiri membelakanginya kini seperti bukan Ten, dilihat dari postur tubuh dan model rambutnya.
Taeyong mendekat dan orang yang membelakanginya perlahan berbalik menghadap Taeyong.
Taeyong membulatkan mata, terkejut tentu saja, ia berlari mendekati orang itu
"Jaehyun, apa yang terjadi padamu?"
Ya, orang itu adalah jaehyun. Dengan luka lebam yang memenuhi wajah tampannya
"siapa yang melakukan ini padamu?" Taeyong bertanya dengan raut wajah khawatir
Jaehyun hanya diam dan tersenyum licik, ia mengalihkan pandangannya pada bayangan seseorang yang sedang menuju dimana ia dan Taeyong berada- itu adalah Ten. taeyong tidak mengetahui hal itu karena posisinya yang membelakangi Ten. Ten semakin mendekat dan Jaehyun tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan berteriak mengaduh.
Melihat hal itu Taeyong dengan raut wajah yang khawatir dengan reflek merendahkan tubuhnya untuk membantu Jaehyun berdiri, namun—
" TAEYONG HYUNG"
Ten tiba-tiba saja datang dan mendorong tubuhnya. Ten telah beranggapan bahwa Taeyong yang menyebabkan Jaehyun terluka.
Jaehyun tersenyum menginggat kejadian itu, tinggal selangkah lagi dan ia bisa menyingkirkan Taeyong.
'selanjutnya adalah rencana B' Jaehyun kembali tersenyum licik menginggat rencana yang akan ia jalankan selanjutnya.
Ia terus melumat habis bibir Ten sampai Ia merasakan seseorang memukul-mukul dadanya. Jaehyun melepas ciumannya, ia memandang Ten yang tengah mengambil pasokan oksigen banyak-banyak.
Ia kemudian mengenggam kedua tangan Ten dan-
"Ten, aku menyukaimu, jadilah kekasihku?"
.
.
.
TBC
.
.
Telaaattttttttt banget update nya ..miannnnn T.T
Di daerah Author dari kemarin malam samape siang ini hujan terus masa -.-
Bikin males ngapa-ngapain -.-
.
Ini ff 1-2 chap lagi bakalan END kok…yeiiii ^^
Ada yang bisa nebak apa rencana B jaehyun dan apakah ten menerima jaehyun?
.
Terakhir ~~ gomawo and RnR juseyoooo~~~~
