Pagi ini tak secerah pagi kemarin, gumpalan awan hitam di atas sana memperjelas semuanya.

Sama seperti suasana hati Ten saat ini, suram- dan jangan lupakan kantung matanya yang terlihat jelas menghitam sama seperti gumpalan awan pagi ini.

Ten benar-benar tidak bisa memjamkan matanya semalaman, bayangan Taeyong dan Jaehyun selalu berputar dipikirannya setiap ia memejamkan mata. Sekalinya bisa memejamkan mata itupun 5 menit sebelum suara gedoran pintu dari luar kamarnya memaksanya untuk kembali membuka matanya. Bisakah ibunya tidak menggedor pintu terlalu keras atau bisakah ia tidur satu jam lagi?. Ten menghela nafas lelah…ia butuh tidur sekarang.

Ia berjalan lesu menuju kelasnya dan tak sengaja netranya menangkap bayangan Taeyong yang sedang bermain basket dengan teman-temannya di lapangan basket sekolah. Hyungnya itu memang terlihat sangat keren jika sedang bermain basket tapi jauh lebih keren saat sedang menari.

Ten tersenyum namun kemudian senyumnya perlahan memudar mengingat apa yang kemarin telah dilakukan Taeyong pada Jaehyun.

Apakah benar Taeyong Hyung yang melakukannya? Pertanyaan itulah yang semalam terus berputar dipikirannya, belum lagi Jaehyun yang tiba-tiba menyatakan perasaannya. Bukankah seharusnya Ten senang karena Jaehyun kini juga menyukainya, lalu apa lagi? Ten menghela nafas lagi dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

I LOVE YOU too

"Ten, aku menyukaimu, jadilah kekasihku?"

Ten merasa dirinya berhenti bernafas untuk beberapa saat, ia terkejut mendengar pernyataan Jaehyun yang tiba-tiba

Jaehyun menghapus bekas airmata Ten yang masih basah dengan ibu jarinya, ia menuntun wajah Ten untuk memandangnya.

"kenapa kau menangis hmm?" Tanya Jaehyun lembut

"…" Ten masih belum bisa berpikir jernih

CUP

Ten tersadar dari lamunanya saat tiba-tiba Jaehyun mengecup bibirnya singkat

"are you okay?"

"i-iya"

"Bagaimana? Kau juga menyukaiku kan?" Jaehyun sedikit terlihat memaksa namun ia mencoba menyembunyikannya lewat tutur katanya yang lembut

"B-Biar ku pikirkan dulu" Ten memalingkan wajahnya ke samping, mukanya sedikit memerah. Bukankah seharusnya Ten senang mendengar Jaehyun memintanya menjadi kekasihnya, namun entah kenapa bayangan wajah Taeyong selalu mengusiknya, ia butuh ketenangan untuk semua ini.

"Sebaiknya kau istirahat, aku akan kembali kekelas, sebentar lagi kelas dimulai" Ten merapikan kotak obat dan menyimpannya kembali.

"Baiklah" Jaehyun kemudian berbaring di tempat tidur UKS, dan Ten berdiri dari duduknya, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat yang membuatnya sedikit kacau hari ini.

Setelah menutup pintu UKS, Ten bersandar pada pintu dan memengang bibirnya, ia tidak tahu harus ber-ekspresi apa sekarang, senang ataukah …..?


Sudah 3 hari sejak insiden di taman belakang sekolah, luka Jaehyun juga semakin membaik dan Ten juga masih belum memberikan jawaban apapun pada Jaehyun. Semuanya berjalan seperti biasa, mereka yang terlihat dekat dan selalu bersama. Namun lagi-lagi Ten merindukan sosok Taeyong dan Yuta. Setiap ia pergi kekantin ia tidak mendapati Hyungnya itu di sana, dan setiap ia pergi ke club dance dua Hyung nya itu juga tidak terlihat sama sekali. Dan barulah ia tahu alasannya ketika ia menanyakannya pada Soe Jun, seperti biasa setiap pulang sekolah ia selalu menraktir Soe Jun ice cream, terkadang mereka hanya duduk-duduk didepan kedai ice cream tanpa membeli dan bercerita hal yang menarik yang membuat keduanya semakin dekat.

"Junnie mau ice cream apa?" Tanya Ten saat mereka berdua memasuki kedai ice cream

"Junnie mau ice cream rasa pisang dengan topping chocochip dan saus caramel"

"baiklah, kau tunggu disini yaa, biar Hyung pesankan dulu"

Soe jun mengangguk patuh

Tah berapa lama kemudian Ten membawa ice cream pesanan Soe Jun dan sekaleng soda untuk dirinya

"Gomawo Hyung" Ten tersenyum dan mengusak rambut halus Soe Jun

Ten memandang ke arah luar Jendela dapat ia lihat di bangunan seberang seseorang tengah memakai apron warna merah maroon lengkap dengan seragam khas Dearest café, seseorang itu yang tidak lain adalah Taeyong tengah melayani pelanggan yeoja yang kebanyakan adalah siswa seumuran dengannya. Dapat ia lihat juga yeoja-yeoja itu menggoda Taeyong dan Taeyong hanya tersenyum sopan menaggapi pelanggannya. Tiba-tiba salah satu yeoja itu menarik lengan Taeyong dan mengajaknya berfoto bersama, dan Ten tidak sadar telah meremas kaleng sodanya yang sudah kosong.

"Ten Hyung kenapa?" soe Jun sedikit kaget ketika tiba-tiba terdengar suara aneh dan ternyata itu adalah suara kaleng soda yang diremas oleh Ten

"eh?" ten tersadar dan mengalihkan pandangannya dari Dearest Cafe

"tidak apa-apa" lanjutnya sambil tersenyum

"Jun-ie, hyung boleh bertanya sesuatu?"

"iya" Soe jun masih fokus dengan ice cream nya

"Apa Hyung Jun-ie akhir-akhir ini selalu bekerja, maksudku bekerja lebih keras dari biasanya?"

"Iya, setelah pulang sekolah Hyung Jun-ie pergi bekerja, kalau Hyung pulang lebih awal Hyung akan membantu Jinki Appa (appa nya jinki) di restaurant" jawab Soe jun jujur dan polos

'kenapa Taeyong Hyung bekerja keras seperti itu?' Tanya ten dalam hati sambil mengamati Taeyong dari dalam Kedai ice cream

"Jepang" Seru Soe Jun tiba-tiba

"eh?"

"Yuta Hyung mengajak Hyung Jun-ie ke Jepang" Soe Jun telah selesai menghabiskan ice cream nya, ia mendorong cup ice cream sedikit menjauh darinya

"wah~ pasti menyenangkan sekali ya?"

"tapi nanti kalo Jun-ie ke Jepang pasti Jun-ie rindu sama Ten Hyung" Soe Jun mengerucutkan bibirnya

"Hei…itukan Cuma beberapa hari. Setelah Jun-ie pulang dari Jepang Hyung akan mengajak Jun-ie makan ice cream lagi. Bagaimana?"

"Tapi Jun-ie perginya lama Hyung"

"Lama? Memangnya berapa hari?"

"Mungkin menunggu Hyung Jun-ie selesai dengan kuliahnya"

"M-maksudnya?" Ten mempunyai firasat buruk sekarang

"Hyung Jun-ie dan Jun-ie akan pindah ke Jepang"

DEG

Ten merasakan jantung nya berdetak cepat, ia merasakan nyeri pada dada kirinya. Kenapa taeyong tidak memberitahunya? Haruskah Ten menanyakannya? Haruskah mereka berpisah dengan keadaan yang bisa dibilang tidak baik-baik?


"Hyung Jun-ie dan Jun-ie akan pindah ke Jepang"

Di sepanjang jalan pulang Ten terus memikirkan perkataan Soe Jun, ia tidak mau jika Taeyong tidak mengucapkan apapun sebelum dia pergi. Ia harus berbaikan, tapi bagaimana caranya?

Ten menghela nafas, memasukkan kedua tangannya pada saku Hoodie nya, kepalanya mendongak ke atas memperhatikan indahnya bulan dan bintang yang saling berdampingan. Ya, ini memang sudah malam, langit gelap telah memayungi seluruh kota Seoul. Ten terlalu sibuk dengan pikirannya sampai ia memnghabiskan banyak waktunya untuk melamun di Kedai ice cream, padahal Soe Jun sudah berpamitan padanya dua jam yang lalu.

Ten lagi-lagi menghela nafas panjang, ia masih tidak fokus pada jalanan.

BRUKK

Ten menabrak seseorang

"Maaf, maafkan aku" Ten membungkuk beberapa kali dan minta maaf, belum menyadari siapa yang ia tabrak

"Hei manis tenang saja" seseorang menggoda Ten dengan bau alcohol yang menguar dari mulutnya

Ten kembali berdiri tegak, dan betapa terkejutnya ia setelah mengetahui siapa yang baru saja ia tabrak.

3 orang namja berandalan dengan salah satunya membawa botol alcohol ditangannya

Ten berjalan mundur, walaupun dia namja tapi tetap saja ia takut jika harus berhadapan dengan 3 namja terlebih mereka adalah seorang berandalan yang berwajah sangar

"Manis, mau menemani kita minum" Tanya salah satu namja berandal yang berpakaian serba hitam

Ten semakin berjalan mundur dan ketiga namja itu juga semakin melangkah maju, Ten panic bukan main dan ia menutuskan untuk lari sekencang-kencangnya, ia berlbelok kesebuah gang sempit, dan ia baru menyadari bahwa gang sempit itu memiliki ujung alias buntu. Ten tidak bisa kembali karena di ujung gan tiga namja berandal itu sudah disana dengan senyum yang mengerikan, Ten benar-benar tidak bisa lari lagi, punggungnya menabrak dinding dibelakangnya, ia terpojok. Tiga namja itu semakin mendekat. Ten benar-benar takut, ia hanya berharap ada seseorang yang melewati gang sempit ini, walau kemungkinannya kecil karena gang sempit ini merupakan jalan buntu.

"kulitmu halus juga" Namja dengan celana jeans selutut mengelus wajah Ten

Ten menepisnya tangan namja itu, ia sangat ketakutan tapi ia juga harus terlihat berani

"Wow~` lihat..dia ternyata galak juga..hhaha" ketiga namja itu tertawa menggelegar seperti ahjushi-ahjushi

Namja itu kemudian mencengkeram kedua pipiTen dengan tangannya yang besar, sehingga bibir Ten mengerucut ke depan.

"Hmm…sepertinya bibirmu manis"

Ten tidak bisa bergerak, pipinya sakit karena terlalu kuat dicengkeram, ia sungguh ketakutan dalam hati ia menyebutkan nama TAEYONG, ia berharap Taeyong datang menolongnya. Ten memjamkan mata takut, tidak mau melihat wajah ke tiga berandalan itu.

"YAKK! LEPASKAN TANGAN KOTOR MU DARINYA"

Ketiga namja berandal itu serempak menoleh ke sumber suara, Ten juga membuka matanya terkejut, ia mengenali suara itu. Dapat mereka lihat seorang namja dengan Hoodie merah nya berdiri di ujung gang. Seperti harapan Ten, taeyong datang menolongnya. Apakah mereka memeliki ikatan batin?

Namja berandal itupun melepas cengkeramannya pada pipi Ten dan kemudian berdecih

"Kau siapa?"

Taeyong perlahan melangkah maju mendekati mereka, Ten masih berdiri kaku bersandar pada tembok.

"Ten kesini" Taeyong mengisyaratkan Ten untuk mendekat padanya

Ten segera berlari dan berlindung di balik punggung Taeyong

"Beraninya kau menganggu kami" berandal itu berdecih dan menyeringai

"Langkahi dulu aku" taeyong berucap dengan lantang dan berani

Taeyong menatap Ten yang sedari tadi memegang ujung hoodinya, ia mengangguk sebagai isyarat bahwa Ten harus melepas pegangangannya, namun Ten menggeleng kuat bahkan ia sudah menangis

"Hei bocah, jangan drama di depan kami" barandal itu berteriak

Akhirnya dengan berat hati Ten melapas pegangannya pada hoodie Taeyong.

Taeyong dan 3 berandal itu saling mendekat satu sama lain, dan selanjutnya seperti yang sudah bisa kita tebak, mereka saling pukul satu sama lain

Walaupun Taeyong seorang diri ia mampu mengatasi ke tiga berandal itu, karena ia sudah terbiasa melindungi dirinya sendiri sejak ditinggal oleh orang tuanya.

Ten terduduk lemas, airmata masih terus mengalir membasahi pipinya. Satu berandal telah berhasil dilumpuhkan oleh taeyong namun masih ada dua berandal lagi yang masih bertahan. Walaupun taeyong unggul bukan berarti tubuh dan wajahnya bersih oleh luka, justru sebaliknya tubuhnya sudah lebam-lebam dan wajahnya juga tak luput dari goresan dan warna biru keunguan.

Ten sungguh tidak tega melihat Taeyong kesakitan dan berjuang sendirian, Ia ingin membantu namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa melihat Taeyong dihajar sana-sini oleh satu berandal, karena satu berandal lagi sudah K.O. enenrgi taeyong sudah terkuras habis, namun tak lama kemudian taeyong berhasil membalikkan keadaan, dengan dia yang menduduki perut si berandal dan menghajarnya bertubu-tubi.

Namun tiba-tiba ada seseorang yang menarik Ten untuk berdiri, Ten terkejut dan menoleh takut itu adalah teman si berandal, namun ia salah ternyata itu adalah Jaehyun.

"J-Jaehyun" Ten masih terisak ia bersyukur ada seseorang lagi yang menolongnya

"Ayo kita pergi dari sini" Jaehyun menarik Ten agar menjauh dari gang itu

"J-Jaehyun bantu Taeyong Hyung…hiks" Ten meronta, namun Jaehyun terus menariknya

Taeyong yang mendengar suara Ten menyebutkan nama jaehyun langsung berdiri dari perut berandal yang sudah terkapar.

Ia hanya bisa memandang Jaehyun yang terus memaksa Ten pergi dari gang itu. Taeyong tidak dapat menjegahnya karena tenaganya kini sudah habis.

Ten memandang Taeyong dengan uraian airmata, Taeyong tersenyum dan memberikan isyarat 'aku tidak apa-apa ,pergilah' sebelum bayangan Ten benar-benar menghilang dari gang sempit itu.

Taeyong masih memandang sendu kepergian Ten sampai ia tidak menyadari salah satu dari ketiga berandal itu mendekatinya dan memukulkan botol alcohol ke kepala Taeyong. Ia dapat melihat darah menetes dari kepalanya sebelum ia jatuh terduduk bersandar pada dinding gang yang dingin. Pandangannya mengabur, namun sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya dapat ia lihat seseorang berlari kearahnya dan meneriakkan namanya. Taeyong tersenyum, ia berharap itu adalah Ten yang kembali untuknya.


"Kerja bagus" seseorang itu mengahiri panggilan teleponya, seorang namja yang baru saja mengantar Ten pulang ke rumah. Ia menyimpan ponselnya di atas dashboard mobil dan kemudian tersenyum licik- Jaehyun.

.

.

TBC

.

.

.

Maaf lamaaaaaaaaaaaaa…

Maaf pendekkkkkkkkkkkkkk….

Karena review yang sedikit Author jadi merasa nih FF gak menarik T.T

.

Mungkin yang selanjutnya adalah Chap terakhir ^^

RnR juseyo~~ ^^