Warning : Chap ini gak jadi END, END di chap selanjutnya..maafkan Author yg udah nge-php T.T

.

.

"Jaehyun, ku mohon bantulah Taeyong Hyung" Ten menarik-narik lengan baju Jaehyun, ia menangis sesengukan memohon agar Jaehyun mau kembali dan membantu Taeyong yang sedang menghadapi 3 berandal seorang diri.

Jaehyun tersenyum lembut dan mengelus pucuk kepala Ten sayang.

"Tenanglah, Taeyong Hyung pasti bisa mengatasinya"

"T-tapi…"

"Sssttt…Percayalah padaku" Jaehyun memeluk Ten dan membisikan kata-kata penenang untuknya.

Setelah dirasa Ten sudah tenang, Jaehyun menyalakan mesin mobilnya dan mengantar Ten pulang ke rumah.

.

.

I LOVE U too

.

.

"Hyung" Yuta yang baru saja memasuki Diarest café langsung berlari mencari keberadaan Hyungnya

"Taeyong kemana?" Tanya-nya kemudian setelah menjumpai Hyung nya yang sedang sibuk di dapur

"Pulang" Jawab Hyung nya singkat

"Aish~ anak itu, sudah kubilang jangan pulang dulu"

"Mungkin dia masih berada di dekat sini"

"Baiklah, aku akan menyusulnya" Yuta segera berbalik dan secepat kilat berlari keluar dari café.

Hyung nya hanya menggelengkan kepala melihat sikap adiknya dan kembali fokus pada pekerjaanya

Yuta menyusuri rute jalan menuju arah rumah Taeyong, ia melirik jam tangannya, Hyung nya bilang sekitar 10 menit lalu Taeyong baru saja keluar dari café, itu berarti Taeyong belum jauh dari sini.

Langkah cepatnya tiba-tiba terhenti saat ia mendengar suara gaduh di depannya, ia mencoba mendekat mencari sumber suara. Yuta semakin mempercepat langkahnya saat mendengar suara seperti benda yang pecah, tepat di depannya ia melihat gang sempit dan gelap, suara gaduh itu semakin terdengar jelas, dan tak lama kemudian muncul tiga namja dari dalam gang dengan luka memar hampir memenuhi wajahnya, mereka berlari pincang sambil sesekali melihat ke belakang, melihat ke arah gang sempit . Yuta yang diselimuti rasa penasaran memberanikan diri masuk ke dalam gang sempit, ia menelan ludahnya berat sambil sesekali merapalkan berbagai macam doa. Langkah kakinya memberat saat ia semakin masuk ke dalam gang, dan ia semakin mempercepat langkahnya saat melihat seseorang yang sangat ia kenal duduk bersandar pada tembok dengan cairan merah pekat yang menetes melewati dahinya, walau pencahayaan di dalam gang sangat minim namun Yuta dapat mengenali siapa orang itu. Orang yang sedari tadi dicarinya, orang yang sudah Yuta anggap sebagai keluarga.

"TAEYONG-ah" Yuta berteriak dan berlari menghampiri sahabatnya itu.

"T-Taeyong..a-apa yang terjadi padamu?" Yuta tergagap, ia menopang tubuh Taeyong dengan kedua tangannya, tubuhnya gemetar melihat Taeyong dengan luka di sekujur tubuhnya dan matanya yang sudah terpejam. Tangannya ikut bergetar ketika tak sengaja cairan pekat itu mengenai tangannya yang ia gunakan untuk menopang kepala bagain belakang Taeyong

"Kumohon bertahanlah" Yuta panik, ia menengok ke segala arah, tidak ada siapapun, apa yang harus ia lakukan

"T-Taeyong..k-ku mohon bertahanlah, aku akan mencari bantuan" Tidak ada jawaban karena Taeyong sudah tidak sadarkan diri sedari tadi. Yuta kembali menyandarkan tubuh Taeyong pada dinding dan ia segera berlari keluar gang untuk mencari bantuan..

.

.

"Sunbae, apa Taeyong Hyung sudah datang?"

"Taeyong? Belum, dia belum datang"

"Aahh~ gomawo sunbae" Ten membungkun kan badan dan berucap terimakasih

Pagi ini setelah Ten menginjakkan kaki di sekolahnya ia dengan segera menuju ke kelas Taeyong, namun sesampainya disana ia tidak mendapati Taeyong di kelasnya.

Ten menghela nafas, dengan lesu ia pergi menuju kelasnya. Ia benar-benar khawatir dengan Taeyong, apakah ia baik-baik saja? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Pertanyaan itulah yang sejak kemarin terus terngiang di pikirannya, ia hanya ingin memastikan bahwa Taeyong baik-baik saja.

"Istirahat nanti aku akan kesini lagi" Gumam Ten

.

Bel tanda istirahat berbunyi, sesuai dengan apa yang telah menjadi tujuannya sejak awal Ten dengan tergesa merapikan buku-bukunya, memasukkannya ke dalam tas dan dengan langkah cepat keluar dari kelas, bahkan ia mengabaikan Jaehyun yang memanggil namanya.

"Sunbae, apa Taeyong hyung ada?" Tanya Ten setelah sampai di depan pintu kelas Taeyong, yang kebetulan salah satu siswa di dalam kelas itu baru saja keluar dari dalam kelas.

"Kau yang tadi ?" Tanya namja dengan rambut belah tengah

"Iya sunbae" Ten mengangguk

"Taeyong hari ini tidak masuk"

"Kenapa?"

"Entahlah, tidak ada pemberitahuan darinya" Namja itu mengendikkan bahunya

"Apa Yuta Hyung ada?" Tanya Ten lagi

"Yuta hari ini juga tidak masuk"

'Kemana mereka berdua?" Tanya Ten pada dirinya sendiri dengan suara yang lirih tentu saja

"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?"

"Ah- tidak, gomawo sunbae" Ten mem-bow-kan badanya sama seperti pagi tadi. Ia lalu berbalik menuju kembali ke kelas tanpa mendapatkan hasil apapun

Di tengah perjalan menuju ke kelas, dari kejauhan ia melihat Jaehyun sedang memegang ponselnya, sepertinya sedang melakukan panggilan dengan seseorang. Sebenarnya Ten bukanlah orang yang ingin tahu urusan orang lain, tapi entah kenapa kaki mungilnya tanpa sadar mengikuti kemana Jaehyun pergi.

Dan sampailah ia di rooftop sekolah, Jaehyun tidak menutup pintunya rapat, ia biarkan sedikit terbuka, entah di sengaja atau tidak. Ten bersembunyi di balik pintu dan mengamati Jaehyun dari celah pintu yang sedikit terbuka.

"Ya, halo?"

"…."

"Kerja bagus, apa kalian sudah memastikan bahwa Taeyong benar-benar mati?"

"…."

DEG

Jantung Ten berpacu cepat ketika mendengar Jaehyun menyebutkan nama Taeyong dalam percakapannya dengan seseorang di seberang sana, entah dengan siapa Ten juga tidak tahu.

"Dasar bodoh, kalian payah. Aku membayar kalian untuk menghabisinya bukan hanya untuk membuatnya terluka saja" Jaehyun berteriak marah

"…."

"Bodoh, lain kali aku tidak akan menggunakan kalian lagi" Jaehyun mengumpat sebelum akhirnya mengakhiri panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya

Ten mengepalkan kedua tangannya kuat, urat ototnya bahkan sampai terlihat jelas, giginya bergemelutuk,nafasnya memburu menahan amarah, ia benar-benar tidak menyangka Jaehyun yang melakukan itu semua. Ten berharap bahwa apa yang barusan ia dengar adalah salah. Namun faktanya adalah Jaehyun benar-benar merencanakan itu semua, ia tidak salah dengar, ia benar-benar mendengar dengan jelas bahwa Jaehyunlah yang menyuruh seseorang untuk mencelakai Taeyong. Dengan masih menahan amarah yang siap meledak kapan saja Ten memegang kenop pintu, bersiap membuka pintu lebih lebar namun

BRAKKK

Seseorang dengan kasar menendang pintu dan melesat dengan cepat melewati Ten bak angin yang berhembus kencang tanpa kau sadari kehadirannya.

Orang itu tiba-tiba mendorong tubuh Jaehyun sampai Jaehyun tersungkur di lantai

"Y-YUta Hyung" gumam Ten ditengah keterkejutannya

.

.

Yuta baru saja keluar dari ruang Kim Songsaenim, memberitahu pada wali kelasnya itu bahwa Taeyong sedang di rawat di rumah sakit yang mengharuskannya tidak masuk sekolah untuk beberapa hari. Yuta menghela nafas lega setelah ia juga diberi ijin untuk tidak masuk sekolah karena harus menjaga Taeyong.

Netra nya tidak sengaja menangkap bayangan Ten yang terlihat mengendap-endap sedang mengikuti seseorang. Karena Yuta adalah orang yang memiliki rasa penasaran luar biasa, ia dengan sadar mengikuti kemana Ten pergi. Yuta sedikit ragu ketika ia menyadari bahwa orang yang sedang diikuti Ten adalah Jaehyun, namun lagi-lagi rasa penasaran mendorongnya untuk melanjutkan langkahnya.

Dan sampailah ia di rooftop sekolah, ia melihat Ten berdiri mematung di depan pintu rooftop tanpa melakukan apapaun. Yuta mendekat dan berinisiatif menepuk bahu Ten, namun ayunan tangannya terhenti saat tiba-tiba ia mendengar suara Jaehyun yang sedang berbicara dengan seseorang. Tanpa sadar ia menurunkan tangannya lagi dan mengepalkan tangannya kuat, amarah sudah mencapai titik didih paling tinggi, wajah nya memerah, kilatan matanya sangat menakutkan, seperti harimau yang siap menerkam mangsanya. Tanpa menunggu lama ia melangkah cepat melewati Ten yang sedikitpun tidak sadar dengan kehadirannya, menendang pintu dengan kasar dan mendorong tubuh Jaehyun sampai jatuh ke lantai.

.

.

BUGH BUGH

"BRENGSEK" Yuta menarik kerah seragam Jaehyun dan memukul wajahnya bertubi-tubi

BUGH BUGH

Yuta tak henti-hentinya memukul Jaehyun. Jaehyun yang terkejut dengan kehadiran Yuta yang tiba-tiba tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah menerima pukulan Yuta.

Ten yang melihat itu tidak melakukan apapun, ia hanya diam mematung tanpa bergeser sedikitpun dari posisinya. Ia hanya memperhatikan dari jauh bagaimana Yuta dengan membabi-buta memukul Jaehyun bertubi-tubi. Entah kenapa Ten tidak ada niatan untuk mencegah atau menghentikan Yuta.

Setelah dirasa amarahnya sedikit mereda Yuta menghentikan pukulannya.

"Jika sesuatu terjadi pada sahabatku kau akan mati" Yuta menggeram, setiap kata ia ucapkan penuh penekanan, sorot matanya tajam, seperti psikopat yang siap membunuh siapa saja yang menganggunya

Yuta melepas kasar cengkeramannya pada kerah Jaehyun, ia lalu berdiri dan berbalik menuju pintu rooftop, namun baru satu langkah suara Jaehyun menghentikan langkahnya.

"Setidaknya aku merasa lega jika dia mati sebelum aku mati" Jaehyun tersenyum miring dan melirik ke arah Yuta

Yuta mengepalkan kedua tangannya kuat, amarahnya yang tadi sempat mereda kini dengan cepat naik lagi. Yuta berbalik dan memukul wajah Jaehyun lebih kuat dari sebelumnya, terlihat dari Jaehyun yang semula duduk tiba-tiba terjatuh setelah menerima pukulan dari Yuta.

Setelah itu tanpa kata Yuta bergegas meninggalkan Jaehyun. Dan melewati Ten begitu saja tanpa menatap atau menyapanya.

Jaehyun mencoba untuk duduk kembali dan meludah, ia dapat melihat warna merah pekat bercampur air liurnya di lantai, menyentuh ujung bibirnya yang sedikit robek, meringis merasakan sakit namun lagi-lagi tersenyum miring. Jaehyun masih menundukkan wajahnya sampai ia melihat ujung sepatu milik seseorang berada di depannya dan barulah ia mengangkat wajahnya. Terkejut, matanya membola dan sesaat ia merasakan tubuhnya menegang.

"T-Ten" gumam Jaehyun

"K-kenapa kau melakukan itu?" Ujar Ten sedih

"….." Jaehyun hanya diam memperhatikan Ten

"Kenapa? Jawab aku Jaehyunie" Ten akhirnya berteriak, ingin sekali rasanya ia menangis saat ini juga, namun ia tidak ingin terlihat lemah terlebih pada seseorang yang tiba-tiba saja masuk kedalam daftar orang yang Ten benci.

"Karena aku membencinya"

"K-kenapa?"

"Apa kau ingat? Sejak kau mengikuti club dance sialan itu kau jarang meluangkan waktu untukku, bahkan setiap kali kita bersama kau sering membicarakan Taeyong. Dan rasa benciku semakin bertambah ketika tau dia menyukaimu" Jaehyun dengan lancar mengeluarkan isi pikirannya, bahkan ia menyebut Taeyong tanpa embel-embel 'Hyung'

".….."

"Aku senang ketika kau menolaknya" Jaehyun tersenyum miring

"J-jadi kau…"

"Ya, aku mendengar pembicaraan kalian, tapi sejak saat itu kau menjadi lebih pendiam dan mengacuhkanku. Aku benar-benar marah ketika mengetahui apa alasan mu tersenyum kembali, dan jawabannya adalah karena Taeyong"

Jaehyun mencoba mengingat kembali ketika Ten menolak Taeyong di rooftop, tempat sekarang ia berada. Tapi beberapa hari setelah kejadian itu Ten justru menjadi lebih pendiam dan sering mendiamkannya. Dan suatu hari Ten kembali menjadi Ten yang ceria seperti dulu, Jaehyun tentu saja senang melihat perubahan Ten, namun senyumnya seketika luntur ketika lagi-lagi Taeyong-lah yang menjadi alasan Ten tersenyum kembali.

"Dan aku semakin ingin menyingkirkannya ketika kau menggantung pernyataan cintaku, tapi sekarang aku lega karena dia sekarang mungkin saja sedang mendekati ajalnya" Jaehyun lagi-lagi tersenyum miring, menunggu reaksi Ten.

Ten tentu saja terkejut mendengar ucapan frontal dari Jaehyun, seseorang yang selama ini ia anggap baik, pendiam dan tidak pernah mempunyai pikiran jahat sedikitpun ternyata otak dibalik kejadian kemarin malam. Bahkan Ten masih tidak percaya bahwa Jaehyun menginginkan Taeyong mati.

Ten berusaha menahan amarahnya, tangannya mengepal kuat, mencoba agar ia tidak kelepasan seperti Yuta.

"Aku ingin sekali memukulmu, namun sayangnya aku tidak akan membiarkan tanganku yang bersih ini ini menyentuhmu yang kotor dan rendah melebihi hewan sekalipun"

"Jika benar terjadi sesuatu dengan Taeyong Hyung aku sendiri yang akan membunuhmu" Ten memberikan tekanan pada akhir ucapannya.

Dengan masih menahan amarah Ten berbalik menuju pintu rooftop, menutupnya dengan kasar dan meninggalkan Jaehyun seorang diri. Jaehyun merebahkan tubuhnya, menghela nafas dan memejamkan matanya, ia menyesal Ten mengetahui rencana jahatnya secepat ini bahkan sebelum Ten menerima pernyataan cintanya, namun ia kembali tersenyum mengingat Taeyong yang mungkin saja sebentar lagi akan pergi ke surga.

.

Ten berlari menuruni anak tangga rooftop dan menyusuri koridor mencari dimana keberadaan Yuta, ia tidak peduli banyak pasang mata yang menatapnya aneh karena berlarian seorang diri seperti sedang di kejar-kejar oleh polisi. Yang pertama ia tuju adalah kelas Yuta.

Dengaan nafas terengah-engah ia mengedarkan pandangannya ke dalam kelas Yuta.

Seseorang tiba-tiba saja menepuk pundaknya membuat Ten berjengit kaget dan reflek menoleh ke belakang.

"hei , kau yang tadi?" Ternyata itu adalah sunbae yang tadi Ten temui

"Apa Yuta Hyung tadi kesini?" Ten bertanya tidak sabaran

"Tidak, dia tidak kesini"

"Apa sunbae tahu Yuta Hyung pergi kemana?"

"Bukankah tadi sudah kubilang Yuta tidak masuk hari ini"

Tanpa mengucapakan terimaksih atau basa-basi yang lain Ten bergegas meninggalkan sunbae itu. Sepertinya Yuta tidak ke kelas, batinnya

Ten berlari lagi menyusuri koridor, mencari Yuta di setiap sudut sekolah,bahkan di tempat yang tidak umum seperti gudang pun ia datangi. Namun nihil, ia tidak menemukan Yuta dimanapun, bahkan Ten mengabaikan bel masuk dan getaran dari saku celananya- panggilan dari Mark teman sekelasnya.

Ia terduduk lesu di bangku taman, peluh menetes melewati dahi dan leher jenjangnnya. Ia tidak memperdulikan seragamnya yang basah oleh keringat dan bau asam yang berasal dari tubuhnya. Ia menunduk, setetes airmata jatuh membasahi tanah, Ten menangis, menagis karena kebodohannya yang telah mempercayai Jaehyun, menangis karena tidak mendapatkan Yuta dimanapun, menangis karena ia ingin bertemu Taeyong.

"Hiks…Yuta Hyung..kau dimana..hiks..?" isakannya lolos begitu saja

"Apa yang terjadi dengan Taeyong Hyung..hiks"

Ten merogoh saku celananya dan melakukan panggilan pada seseorang, namun hanya suara operator yang terdengar

"Hiks..bahkan Yuta Hyung hiks mematikan ponselnya…" ia menatap sedih layar ponselnya kemudian menggenggamnya erat

"Yuta Hyung…kau dimana..hikss… hiks…a-aku ingi sekali hiks…bertemu Taeyong Hyung..hiks… hikss"

.

.

Sudah 2 hari berlalu sejak kejadian di rooftop, Ten masih tidak mendapati Yuta dan Taeyong di sekolah, begitupun Jaehyun yang tiba-tiba menghilang dan tidak kelihatan batang hidungnya di kelas. Ia tidak peduli dengan Jaehyun, ia hanya ingin bertemu dengan Yuta dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Taeyong.

Ten sudah mencoba mendatangi Café tempat Taeyong bekerja, namun tidak ada satupun dari teman kerja Taeyong yang tahu keberadaanya, begitupun dengan Soe Jun- adik Taeyong, yang 2 hari ini tidak datang menemuinya atau menunggunya di depan kedai ice cream seperti hari-hari sebelumnya.

Sudah 2 hari juga Ten tidak fokus dengan sekolahnya dan mendadak mengidap insomnia akut, dimana ia baru bisa memejamkan matanya satu setengah jam sebelum oemma nya menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya untuk bangun.

Ten sudah seperti mayat hidup, wajahnya pucat dan tidak bersemangat untuk melakukan apapun, lingkaran hitam semakin terlihat jelas di bawah matanya. Ia sekarang benar-benar tidak peduli pada penampilannya. Yang Ten butuhkan hanya bertemu Taeyong. Ten benar-benar merasa kehilangan, di setiap malam ia selalu menyesali perbuatannya, menyesal telah membuat Taeyong merasakan sebuah penolakan, menyesal karena ia baru menyadari siapa yang ia cintai sebenarnya, namun semuanya terlambat. Ten benar-benar terlamat menyadari perasaannya.

Seperti biasa ketika pulang sekolah Ten menyempatkan diri pergi ke kedai ice cream untuk memastikan apakah Soe Jun menunggunya atau tidak.

Dari kejauhan Ten seperti melihat bayangan anak kecil sedang berdiri di depan kedai ice cream, Ten sedikit mempercepat langkahnya, memastikan bahwa anak kecil itu adalah Soe Jun. Ia mengucek matanya berkali-kali, mencubit pipinya dan itu terasa sakit, ia hanya memastikan bahwa saat ini ia sedang tidak bermimpi, bahwa yang di depannya itu adalah Soe Jun.

Dengan tidak sabaran ia berlari dan meneriakkan nama Soe Jun

"SOE JUN-AH"

Ten tanpa sadar memeluk Soe Jun erat, airmata lolos dari mata indahnya tanpa ia perintah. Dalam hatinya ia merasa lega, lega karena bertemu Soe Jun yang mungkin saja bisa memberitahu informasi tentang Taeyong, karena Soe Jun adalah adiknya.

"Hiks….hikss.." Itu bukan isakan Ten

Ten cepat-cepat mengusap airmatanya tidak ingin Soe Jun melihatnya menangis. Ten melepas pelukannya, dan menatap Soe Jun penuh tanda tanya, karena Soe Jun tiba-tiba saja menangis.

"Kenapa kau menangis?" Ten bertanya lembut dan mengusap air mata Soe Jun

"Hikss…Hyung…hikss hikss...Hyung Junnie..hikss hiksss" airmata Soe Jun semakin deras, ia berusaha berbicara ditengah isakannya

"K-kenapa dengan Hyung Junnie?" Ten bertanya hati-hati

Sesuatu di dalam tubuhnya memukul-mukul tulang rusuknya, jantungnya berdegup dengan cepat dan seperti diremas-remas, Ten tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya, ia tanpa sadar menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangan. Ten hanya tidak sanggup mendengar ucapan Soe Jun selanjutnya, tidak siap jika sesuatu yang buruk terjadi pada Taeyong.

.

.

TBC

.

.

Maaf-in author~~

Ini FF udah telaaaaattt update malah TBC

Gak memuaskan pula T.T

Chap ini gak jadi END ya pemirsahhh ~~

Karena terlalu panjang makanya Author jadi-in 2 chap [Chap selanjutnya benar-benar End]

Maaf kalo di chap ini gak ada moment apa-apa T.T

Dan terimakasih uda sempetin baca :')

.

RnR juseyooo ~~