LOVE LETTER

.

.

.

Keesokan harinya, Joshua terbangun dari tidur panjangnya, kepalanya terasa berat, seakan akan kamarnya berputar

"uhh..kepalaku, ahh gara gara Seungcheol, aku bersumpah aku tidak akan menyentuh air itu lagi" ujar Jisoo sat terbangun dan memegangi kepalanya

"kau sudah bangun?" tanya Seungcheol dan membawa air putih hangat untuk Joshua

"kepalaku sakit, kau..kau masih bisa berjalan?" tanya Jisoo bingung

"ehehehe, sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku minum, ayolha, kita sudah lebih dari 20 tahun, ini minumlah agar kau merasa baikan" balas Seungcheol

"ah, kurasa aku tidak bisa mengurus keperluanku hari ini" ujar Joshua dan meminum air dari Seungcheol

"hahaha payah, waktumu hanya seminggu Soo"

"ini semua karna kau bodoh"

"wow wow wow, lihatlah Jisoo, anak teralim di dunia, mulai mengumpat" tawa Seungcheol

"diamlah Cheol ah, aku mau tidur" ujar Jisoo dan kembali tidur

"hei kau mau dengar sesuatu?" tanya Seungcheol

"apa lagi Cheol, kepalaku rasanya mau pecaahhh" ujar Jisoo

"dengar, aku….aku mencintaimu, dan aku…aku ingin kau membatalkan kepulanganmu ke Amerika" ujar Seungcheol

"hmmm…" balas Jisoo

"hei, dengarkan aku Jisoo ah aku mencintaimu!" ujar Seungcheol, namun ternyata Jisoo sudah tertidur pulas akibat kepalanya yang masih sakit

Melihat Jisoo yang tak merespon, Seungcheol pun mulai mendekatkan wajahnya pada Jisoo, mengagumi struktur yang terpampang di hadapannya dengan seksama, membelai lembut pipi Jisoo dan mulai mencium bibir Jisoo, pelan dan lembut, menikmati setiap inchi bibir Jisoo, dan berubah menjadi ciuman yang panas. Jisoo yang mulai merasakan sesuatu terjadi bangun dan terkejut melihat Seungcheol, sahabatnya kini tengah mencium bibirnya.

Seungcheol bukannya menghentikan perbuatannya namun dia mulai menggigit bibir Jisoo meminta akses untuk melesatkan lidahnya kedalam mulut Jisoo, Jisoo yang merasakan sakit pada bibirnya hanya dapat membuka mulutnya mengeluarkan suara yang tanpa sadar membuat Seungcheol ingin lebih.

Seungcheol pun memainkan lidahnya di mulut Jisoo, mengabsen seluruh isi mulut Jisoo membuat Jisoo terus mengeluarkan suara suara desahan, tangan Seungcheol pun tak tinggal diam, ia mulai memainkan jarinya di dalam kemeja Jisoo, memainkan nipple Jisoo yang membuat Jisoo makin gelisah, semakin lama ciuman itu terjadi, semakin sedikit oksigen yang di dapat oleh mereka berdua, pukulan Jisoo membuat Seungcheol akhirnya menghentikan ciuman untuk meraup oksigen sebanyak banyaknya.

"Jisoo, aku…" belum selesai Seungcheol berkata, sebuah tamparan mendarat di pipi Seungcheol

"kau gila Cheol! Aku sudah bilang aku tidak sepertimu! Kau…kau sangat.."

"aku tidak perduli Jisoo ah! Aku mencintaimu, apa yang salah dari perasan cinta?! Memangnya salahku kalau aku memiliki perasaan ini?!"

"kau gila Cheol! Kita ini sama sama pria, kau mau apa dengan…mmphhh"

Tanpa menunggu, Seungcheol kembali meraup bibir kucing Jisoo, menurunkan ciumannya ke leher putih mulus Jisoo, memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana, Jisoo masih tetap berusaha menjauhkan Seungcheol, namu sakit di kepalanya di tambah dengan kekuatan Seungcheol yang jauh lebih besar tidak cukup membuat Seungcheol menjauh.

"ku mohon Jisoo ah, jadilah kekasihku, dan tinggallah di sini, bersamaku" ucap Seungcheol

"keluar kau! Aku benar benar membencimu Cheol! DAN AKU SANGAT MENYESAL PERNAH MENGENALMU!" teriak Jisoo.

Ucapan terakhir Jisoo benar benar membuat hati Seungcheol sakit, sakit tapi tak berdarah.

"Soo aku…"

"keluar Cheol! Keluar!" ucap Jisoo, dan air mata tampak mengalir mulus di pipi Jisoo

"Soo maaf…" ujar Seungcheol dan menjulurkan tangannya hendak mengusap air mata Jisoo namun di tepi oleh Jisoo

"pergi! Aku tak ingin melihatmu sampai kapanpun Soo"

Seungcheol menatap Jisoo sedih, orang yang di cintainya kini membencinya, orang yang dulu menghabiskan waktu berdua bersamanya, kini menyuruhnya pergi jauh.

"Soo, aku benar benar minta maaf, aku….aku pasti akan selalu menunggumu" ujar Seungcheol dan meninggalkan Jisoo dengan berat hati.

.

.

.

"Soo, apa kau sebegitu membenciku? Sampai kau bahkan mengganti nomormu" ucap Seungcheol yang semakin gelisah, sejak kejadian waktu itu, Seungcheol tidak bisa menghubungi Jisoo, bahkan di kampus ia tidak mendapati Jisoo, padahal dia masih harus mengurus beberapa hal sebelum dia kembali ke negaranya.

"kau kenapa?" tanya Mingyu

"ah, Gyu, kau..kau tau nomor baru Jisoo?" tanya Seungcheol kepada Mingyu

"Jisoo? Kan masih yang lama"

"tidak, aku sudah menghubunginya beberapa hari ini tapi tidka di jawab olehnya, bahkan nomornya tidka tersambung"

"kau gila?" ucap Mingyu dan memegang kening Seungcheol

"aku tidak gila aku…" belum selesai dia mengatakannya, Jisoo lewat di depannya, namun bagaikan angin, dia bahkan tidak melihat Seungcheol

"Soo! Soo tunggu" ucap Seungcheol mengejar Jisoo

"Soo dengar aku…"

"aku buru buru maaf" ujar Jisoo tersenyum dan meninggalkan Seungcheol

"Soo! Dengar..aku…"

"hei kalian kenapa? Ada masalah?" tanya Mingyu

"masalah besar" ucap Seungcheol

"kenapa?"

Dan akhirnya Seungcheol menceritakan semuanya pada Mingyu, mulai dari awal dia bertemu dan menyukai Jisoo, sampai hari dimana mereka terakhir bertemu, bahkan hal yang mem buat Jisoo seperti ini padanya.

"kau benar benar melakukannya?" tanya Mingyu, ini bukan hal untuknya, ia tahu kalau Seungcheol memang memiliki sedikit kelainan, dan itu bukanlah masalah baginya. Menurut Mingyu, bukan manusia yang salah tetapi cinta, kenapa cinta harus ada di tempat yang salah.

"dan aku tidak tau harus bagaimana"

"kau mau membuat Jisoo yang selurus tiang listrik itu menjadi belok sepertimu?" tanya Mingyu

"aku hanya ingin membuat dia juga mencintaiku, itu saja"

"apa bedanya?" tanya Mingyu heran

"entahlah, aku pusing" ujar Seungcheol meninggalkan Mingyu

.

.

.

Esoknya, Seungcheol hanya terduduk lemas bagaikan tak bernyawa di kelasnya, terus menatap wallpaper handphonenya yang menunjukkan foto dia dan Jisoo.

"Cheol..hahh….hahh…" ujar Mingyu terengah

"hmmm…." Ucap Seungcheol malas

"Soo…hahh…ame..rika" ucap Mingyu tak jelas

"hmmm…"

Akhirnya Mingyu memutuskan untuk istirahat sebentar menormalkan nafasnya, dan memulai ceritanya

"ehem…kau harus pergi mencegah kekasihmu sekarang atau terlambat"

"hmmm…" ucap Seungcheol masih tak perduli

"Jisoo, satu jam lagi, pesawat akan membawanya ke Amerika" ujar Mingyu lagi namun Seungcheol masih belum sadar

"kalau kau mencintai Jisoo mu, maka ini adalah hari terakhirmu untuk menahannya atau Jisoo akan selamanya pergi dari dirimu" ucap Mingyu tepat di telinga Seungcheol.

Mata Seungcheol melebar, tidka , ia tidak bisa membiarkan Jisoo pergi meninggalkannya, tidak akan pernah, diliriknya jam yang ada di tangannya, tersisa hampir satu jam, ia dengan buru buru mengambil tasnya dan pergi dengan motor sport kesayangannya menuju bandara.

Kumohon Jisoo, tunggu aku, kumohon…kumohon jangan tinggalkan aku, atau aku yang akan menjemputmu! Ucap Seungcheol dalam hati

PENERBANGAN DENGAN PESAWAT SVT AIR, TUJUAN AMERIKA AKAN SEGERA BERANGKAT, KEPADA SELURUH CALON PENUMPANG DI HARAPKAN SEGERA MENUJU GERBANG 13P, TERIMA KASIH.

"hai anak muda, bangun hei" ucap salah seorang petugas

"ah..umm..ya ya maaf" ujar Jisoo

"kemana tujuanmu?"

"ah..aku ke Amerika dengan menggunakan SVT Air" ucap Jisoo ramah

"lho, pesawat itu akan segera berangkat, kau tidak mendengarnya?"

"WHAT?! Gosh!" ucapnya namun sayang, pesawat yang akan membawa dirinya ke Amerika sudah lepas landas

"pesawatku!" ujar Jisoo lemas

"kau terlihat sangat lelah nak, lebih baik kau istirahat saja"

"tidak, aku akan membeli tiket lagi, kapan pesawat selanjutnya?" tanya Jisoo lagi

"untuk hari ini, pesawat tadi adalah yang terakhir ke Amerika, kau bisa membeli penerbangan besok nak, permisi" ucap petugas tersebut

Jisoo terduduk lemas, bagaimana bisa dia tertidur seperti itu, dan tidak mendengar suara tadi?, dia mengambil handphonenya, dan menekan tombol nomor 1, panggilan orang spesial di hidupnya

"mommy, sepertinya aku tidak jadi berangkat hari ini…eum, aku ketiduran dan aku…"

"SOO!" teriak Seungcheol, Jisoo yang melihat Seungcheol di hadapannya segera memutuskan pembicaraannya dengan orang tuanya

"Soo! Soo! Kumohon jangan pergi Soo" ucap Seungcheol yang menemukan Jisoo

"Soo kau..kau tidak apa apa? Kau..kau terlihat kacau dan pucat Soo" ujar Seungcheol belum sempat Jisoo menjawab, tubuh Jisoo jatuh tepat di pelukan Seungcheol, ia pingsan dan dengan cepat Seungcheol membawanya pergi dari bandara.

.

.

.

"nnhhh.." lenguh Jisoo, ia pun terbangun, dan melihat kesekeliling, bukan kamarnya, ia mencoba mengingat apa yang terjadi, di bandara, ketinggalan pesawat, menelfon orang tuanya dan Seungcheol yang datang

"kau sudah bangun? Kau tadi pingsan, badan mu panas sekali jadi…"

"terima kasih, aku permisi" ucap Jisoo dan mencoba beranjak dari kasurnya namun di tahan oleh Seungcheol

"lepas!" ucapnya lagi

"kumohon Soo, jangan pernah tinggalkan aku sendiri, aku benar benar mencintaimu, aku tak kan bisa kehilanganmu Soo"

"aku tidak akan membicarakan hal yang tidak penting, aku akan pulang sekarnag, maaf merepotkanmu"

Belum sempat Jisoo melangkah, Seungcheol berlutut di hadapannya, membuat Jisoo menjadi merasa tidak nyaman, ia tahu betul, Jisoo tidak akan membiarkan siapapun berlutuh di hadapannya.

"aku mencintaimu, aku akan melakukan apapun untukmu, apapun itu, asal kan kau tetap bersamaku, aku bahkan tidak pernah mencintai siapapun samapi seperti ini, aku bahkan belum pernah memohon dan mengemis cinta kepada siapaun seperti aku memohon padamu"

Jisoo hanya menatap Seungcheol jengah, jujur ia sedang tidka ingin berdebat, di tambah dengan kondisinya yang sedang tidak sehat, tanpa pikir panjang ia hanya mengatakn hal yan gbisa membuatnya selamat, menurutnya

"aku akan menerima cintamu dengan syarat, kau harus bisa membuat aku mencintaimu" ucap Jisoo, menurutnya ini adalah cara yang ampuh, menurutnya, ia tidak akan pernah mencintai Seungcheol karna ia sendiri masih normal

"be-benarkah? Kau..kau akan…"

"2 minggu"

"apa?"

"2 minggu, itu adalah waktumu"

"tapi itu…"

"aku pergi" ucap Jisoo dan meninggalkan Seungcheol

.

.

Hari demi hari telah di lalui oleh Seungcheol dengan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Jisoo, mulai dari mengingatkan hal hal kecil, sampai mengirimkan hadiah hadiah kecil langsung untuk Jisoo

Tok tok tok

Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, dengan bermalas malasan, Jisoo berjalan membuka pintunya ia tahu siapa yang akan bertamu, Seungcheol.

"siang princess ku…" ujar Seungcheol dan membawa boneka beruang besar

"hmm…"

"kau masih demam?" tanya Seungcheol

"tidak"

"aku tidak masuk?" tanyanya sambil memasang wajah sedih yang dibuat buatnya

"masuklah"

"Soo, ini hari ketiga kan" ujarnya lagi

"hmmm…"

"ingin rasanya aku menerkammu sekarang juga" ucapnya asal

"minus 50 point!" ujar Jisoo

'aku tak takut, kita tidak menggunakan point, Soo sayang"

"aku tidak bilang itu kan, berarti ini memakai poin" ucapnya lagi

"berarti dalam 3 hari aku mendapat poin di atas 50? Hahahhaa"

"lupakan!"

Seungcheol hanya tertawa melihat kelakuan Jisoo, dia memang tidak berubah, tetap dingin menghadapi Seungcheol, tetap tidak perduli walaupun Seungcheol ada di dekatnya dan ia berjanji pada dirinya sendiri ini tidak akan berlangsung lama

Hari ke lima, tujuh, dan sepuluh telah di lewati, tetap sama, tidak ada perubahan pada sikap Jisoo pada Sengcheol, namun Seungcheol tetap tidak pernah menyerah hingga suatu hari, di hari terakhir usaha Seungcheol…

"hallo gyu, ada apa?"

"Soo! Seungcheol kecelakaan! Kau bisa datang?!" ucap Mingyu

"apa?"

"Seungcheol kecelakaan Soo ya tuhan kau bisa datang atau tidak?!"

"tapi…tapi aku di bandara saat ini"

"apa?! Bandara?!"

"aku akan pulang hari ini"

"tunggu, setahuku, hari ini kau akan mengatakan jawabanmu pada Seungcheol kan? Lalu kenapa?"

"maaf pesawatku akan segera berangkat, aku pergi" Jisoo pun mematikan ponselnya dan segera memasuki gerbang untuk menuju ke pesawatnya.

"apa? Bagaimana?" tanya Seungcheol

"dia sudah pergi"

"pagi ini?!" teriak Seungcheol

"kurasa usahamu sia sia Cheol" ujar Mingyu

"aku akan menyusulnya!" ucap Seungcheol namun di tahan Mingyu

"percuma, pesawatnya sudah lepas landas"

.

.

.

Sudah seminggu Sengcheol tidak masuk kuliah, rasanya jiwanya telah pergi, rohnya sudah tidak ada lagi dan dunianya hancur, ingin menyusul ke Amerika, tapi Amerika bukanlah Korea, dan bahasa inggrisnya belum terlalu lancar, bisa bisa ia harus membutuhkan translator di sana nanti

Ting

Sebuah pesan masuk, namun masih di abaikan

Ting

Seungcheol mulai mengambil ponselnya, mungkin saja ini penting mengingat dia sudah seminggu tidak masuk kuliah. Dan saat ia melihat pesan yang masuk ke ponselnya, nomor tak di kenal.

" 3 "

Gila fikir Seungcheol dan mengabaikan pesan tersebut

"JiCheol"

Saat Seungcheol melihatnya lagi, ponselnya pun mati.

"ah…aku lupa mengisi baterainya, huft" ujar Seungcheol lalu mengisi baterainya dan kembali tidur.

.

.

FIN / TBC

Hei hei hei…kembali muncul membawa lanjutannya hahahahhaha, thanks yang udah ngereviews, aduh senengnya, ini ff JiCheol pertama lee dan, terinspirasi dari hari ultahnya Scoups, liat dong, Jisoo heboh sendiri, yang ultah Scoups dia yang uring uringan, ampe ngerap lol, Jisoo keluar sisi gelapnya wohooo Jisoo udah ga alim woohoooo lol

Veyyeon21 : nanti kita buat ya kalo banyak inspirasi lol, kita buat Jisoo seme mungkin bahahahha

Who am I : Jisoo kan anak alim, anak tuhan, selalu ikut pengajian emak emak, jadi khusus buat Jisoo, minuman beralkohol itu juga haram, kan kata bang roma juga gitu lol, mereka sulit dapetinnya karna kan jam 2 pagi dan mereka itu ga tau di mana yang jual seperti itu, dank e,bali untuk Jisoo, alcohol dan yaoi itu dosa lol

wukim9091 : hahahaha ya ini lagi di kejar setoran soalnya, lagi belajar one shoot lol, terlalu cepat ya? Hmm nanti akan di coba aga di perlambat dengan slow motion mode hahaha

thanks yang udah revies, jangan lupa reviews di next chap ya!