...
Maafkan Hika karena sudah menelantarkan fic ini Dx. Oke deh daripada readers kesel mending langsung bales review, gak ada curhatan lagi.
Kiriko Alicia: tapi RinLen nya menghilang di chapter ini *digeplak
Kurotori Rei: pertemuan langsung berantem itu mainstream ya...
Yona Asuna: maaf lanjutnya gak kilat ;w; makasih support-nya
Mikan chan X3: *padahal tadinya mau bikin Len yang jahat, tapi malah terkesan baik* btw Hika udah baca fic parodi Mikan-san lho OwO
Hachipine Ia: ini sudah lanjut ;w; Hika lagi buntu ide makanya jadi lama
o.r.e.n.j.i: Len cuma kebetulan numpang lewat rumah Rin, makanya dia tau xD
Okay then, enjoy the fourth chapter!
HMO, Harvest Moon Online
a crossover fanfiction by hikari-lenlen
Vocaloid (c)YAMAHA and Crypton Future Media
Harvest Moon (c)Natsume Inc.
Sword Art Online (c)Reki Kawahara
Pair: Rin K. x Len K.
Lily Ranch
"Hei!" ujar seseorang, sembari membanting pintu peternakan milik Lily Nakamura.
"Ara ara, bukankah kamu sudah pernah diajarkan sopan santun?" sang pemilik toko mengalihkan pandangannya dari buku novel-nya, dan menatap lelaki berambut pirang madu itu.
Wajahnya menunjukkan seulas senyum lembut, namun sepertinya dia tidak marah— dia hanya berusaha memaklumi tindakan orang itu.
"Biar saja." ucap si pemuda ketus. Lalu, ia membuka inventory-nya, dan mengeluarkan sekantung koin emas. "Beli ayam. Satu saja, yang sudah dewasa kalau bisa." lanjutnya.
Kemudian, Lily mengayunkan jari telunjuknya ke bawah, dan menampilkan sebuah layar kecil. Ia memencet beberapa bagian layar itu sambil bersenandung riang.
"Pembelian pertama gratis sepuluh Chicken Feed~" katanya, dengan ucapan yang sengaja dibuat agar terkesan ceria.
"Huh." pembelinya merespon. "Oh iya, kenapa kau masih menggunakan nama itu?"
Namun, yang ditanya tidak menjawab. Keheningan pun melanda ruangan itu.
...
...
"Terserah."
Setelah mengucapkan satu kata itu, sang lelaki bergegas meninggalkan peternakan Lily.
Sementara itu, tanpa diketahui Lily, seorang pemuda lain bersurai dirty blonde berdiri di balik pintu, berusaha mengorek informasi dari pembicaraan barusan.
Keesokan harinya
"La~ la~ la~"
Tokoh utama kita—Rin merasa sangat bahagia hari ini. Bagaimana tidak, lobak yang sudah ia rawat dengan susah payah akhirnya siap dipanen. Sembilan buah lobak tampak tertanam indah dalam tanah. Uuh, rasanya Rin ingin cepat-cepat mencabutnya!
Rin bertambah senang ketika ia mengetahui bahwa mencabut lobak tidak sesulit mencangkul tanah. Tidak terasa, Rin pun sudah selesai memanen lobaknya. Sekarang hasil panennya sudah tersimpan di inventory.
Lima buah lobak ia simpan dalam kulkas. Sementara, empat lainnya ia masukkan ke dalam shipping bin.
Apa itu shipping bin? Shipping bin adalah sebuah peti yang terletak di dekat pintu masuk pusat setiap desa, dimana warga akan menjual barang-barang mereka, baik hasil panen, hasil ternak ataupun yang lainnya seperti hasil tambang dan ikan. Cara menggunakannya sederhana, kita tinggal memasukkan barang yang akan dijual ke dalam peti. Ajaibnya, peti itu tidak akan penuh berapapun banyak barang yang kita masukkan. Isi peti akan kembali kosong hari berikutnya. Sedangkan uang hasil menjual barangnya akan diterima tepat pukul lima sore setiap harinya.
Kembali ke cerita. Setelah puas dengan panen-nya, Rin segera ikut mengantri untuk menjual lobak-nya di shipping bin. Seperti biasa, antrian di depan itu sangat panjang, mengingat bahwa ada jutaan orang yang harus mencukupi keuangan mereka di dunia baru ini.
Untungnya, mereka tidak perlu mengantri seharian untuk sekedar penyentuh permukaan peti tersebut. Desa Bluebell dibagi dalam banyak distrik. Setiap distrik punya jadwal tertentu untuk menggunakan shipping bin.
Oh ya, penduduk desa Konohana juga bisa menggunakan shipping bin milik Bluebell, begitupun sebaliknya. Tapi jarang ada orang yang melakukan itu.
Setelah setengah jam mengantri, akhirnya Rin berhasil menjual lobak-lobaknya.
"Huft~" desah Rin lega. "Sekarang enaknya ngapain ya?" gumam gadis itu.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Rin. Kenapa tidak berkunjung ke desa Konohana saja? Siapa tahu bisa bertemu Gakupo atau yang lain.
Di gunung, dalam perjalanan menuju Konohana
Rin P.O.V
Aku tidak pernah membayangkan luas gunung di dunia game ini!
Biasanya, ketika aku masih main game Harvest Moon ini di dunia nyata, aku bisa mencapai desa Konohana dalam lima menit. Namun, sekarang tidak bisa begitu. Tiga jam saja belum tentu sampai!
Tetapi sang dewi Fortuna ada di pihakku. Ternyata masih ada orang baik yang menawarkan jasa antar jemput Bluebell-Konohana dengan kereta kuda. Hehe, seperti angkot ya?
"Konohana ya?" tanya seorang pria yang sedang berdiri di depan sebuah kereta kuda.
Aku menjawabnya dengan sebuah anggukan.
"Kebetulan, aku baru selesai mengantar orang dari Konohana ke sini. Ayo naik. Bayarnya 250 gold saja kok." tawarnya, dengan senyum ramah.
Kemudian, aku masuk ke dalam kereta kuda itu, diikuti dengan langkah kaki sang pria yang naik ke kuda-nya.
"Eh... selamat siang. Anda orang Konohana?" sapaku. Ukh, suasananya canggung banget...
"Aku Yohio Yamada. Bagaimana dengan nona sendiri?"
"Aku.. Rin Kagamizu. Senang bertemu Anda, Yamada-san."
"Yohio saja."
Aku tertawa kecil mendengar itu. Dia menyuruhku memanggilnya dengan naam kecil, padahal dia sendiri memanggilku "nona".
Perjalanan itu terasa singkat. Ya, pintu gerbang desa Konohana sudah terlihat di depan mataku. Aku pun cepat-cepat mengeluarkan sekantung koin dan menyerahkannya pada Yohio-san.
"Bayarnya segini kan?" tanyaku memastikan, dengan 250 gold di tanganku.
"Benar." Yohio menerima uangnya dan membungkuk sopan. "Terima kasih."
"Ya, sama-sama."
Desa Konohana
Tatapan mereka semua tertuju ke arahku.
Wajar saja, dilihat dari model pakaianku saja sudah terkesan berbeda dengan penduduk desa ini. Jelas sekali terlihat bahwa aku adalah orang Bluebell!
Aduuh, mereka itu keberatan nggak sih kalau aku jalan-jalan ke desa Konohana?
Tapi menurutku mereka nggak mungkin menolak kedatanganku sih, karena pada dasarnya seluruh penduduk dunia ini berasal dari tempat yang sama, ya 'kan?
Jadi, mungkin mereka hanya tidak terbiasa melihat gaya pakaianku. Santai saja Rin...
"Hei."
Tiba-tiba, seorang gadis muncul di hadapanku. Rambutnya hitam, dengan aksesoris yang agak menyolok. Warna matanya senada dengan zamrud. Pakaiannya pun terlihat mirip kimono—namun aku tahu itu bukan kimono. Model pakaian itu berasal dari negeri Cina.
Dia cantik.
"Kau orang Bluebell 'kan? Lain kali datanglah ke toko pertanian kami. Setahuku di Bluebell tidak ada toko yang menjual alat-alat bertani, jadi kuharap kau tertarik." jelas gadis itu panjang lebar, sambil menyerahkan pamflet yang sepertinya ditulis tangan.
"Um... ya, mungkin aku akan datang." jawabku gugup.
"Kutunggu kedatanganmu." balasnya, sambil pergi berlalu.
Aku melambaikan tanganku, lalu menyimpan pamflet itu di dalam inventory.
Tak lama setelah kepergian perempuan tadi, pandanganku tertuju pada sebuah papan yang terlihat familiar. Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat...
Oh iya! Itu papan request! Kuharap kau masih ingat dengan benda ini.
Banyak sekali kertas yang menempel disana. Karena penasaran, aku pun menghampiri papan itu, mataku menelusuri setiap request yang tersedia disini.
.
.
Oh, tampaknya aku menemukan sesuatu yang bagus. Bagus sekali. Aku segera menerima salah satu request yang kuanggap menarik. Mau tahu isi request-nya?
.
.
Request
Requester: Len
Siapapun tolong pergi ke Bluebell, belikan sesuatu disana. Aku akan memberikan detail-nya kalau kau menemuiku.
Reward
500 Gold
3 Potato
Dengan begini, aku bisa membuat si Len Kagamine itu kapok, hahaha! Ia akan meminta maaf padaku kalau aku berhasil membantunya! Dengan begini, aku juga akan membalas budi atas apa yang ia lakukan saat aku sedang menanam lobak...
Ah, lupakan itu!
Len's House
Setelah bertanya pada walikota Konohana, aku bisa menemukan rumah Len. Bersiaplah kau, pengecut! Kau akan terkejut ketika kau melihatku di depan rumah bobrokmu ini, hahahaha!
Aku mengetuk pintu rumah itu kencang. Ayo, cepatlah buka, Len! Aku ingin melihat wajah bodohmu itu saat kau membuka pintu.
...
...
...
Ah, mana sih orang itu?! Sudah cukup lama aku menunggu disini.
Karena tidak sabar, akhirnya aku mendobrak pintunya. Eh, tunggu!
KLIK
Ternyata dari tadi ini pintu ini tidak dikunci! Huh, kau mengerjaiku ya, pengecut?! Kubalas kau nanti.
"Heei, pengecuut!"
...
Hening.
Kalau begini aku sudah terlanjur penasaran. Aku pun masuk ke rumahnya, dan...
"LEN?!"
...melihat pemandangan mengejutkan.
Len Kagamine, terbaring di lantai. Keringat bercucuran di pelipisnya.
.
.
To be continued
Maaf kalau chapter ini rada nggak jelas._. Reviewnya ditunggu, tapi jangan flame ya OwO
Akhir kata...
Review, please?
