Story Owned By Hikaru Reisa

Naruto owned By Masashi Kishimoto

Pair : SasuFemNaru and GaaSaku (Slight SasuSaku, GaaNaru)

Warn : Sasu Road To Ninja (RTN)! Genderbend, bahasa nyantai, Oocness, Typo!

:3:3:3:3:33:3:3:3:3:3:33:3:3:3:3:3:3

[2] Awal Mula

Beberapa minggu yang lalu

Restaurant Valley, tempat pertemuan keempat orang itu. Pukul delapan malam, seperti yang di janjikan. Naruto dengan bangga mengajak pacarnya ke sana, begitu juga Sasuke. Senyum tak pernah luntur dari wajah kedua orang itu,

"Kenalin ini pacar Gu-eh ku, Sabaku Gaara~" Hampir saja menggunakan bahasa nyantainya di depan Gaara. Naruto memperbaiki semuanya cepat, tersenyum kikuk saat mengenalkan Gaara pada Sasuke dan kekasihnya.

"Uchiha Sasuke,"

"Haruno Sakura."

Sasuke berjabat tangan sebentar dengan Gaara, dan gadis merah muda di samping sahabat ravennya itu ikut andil. Senyum yang manis dan penampilan yang anggun, jujur saja Naruto merasa sedikit-hanya sedikit-minder dengan penampilannya sekarang ini. Celana panjang pensil, dan baju dengan sedikit renda berwarna kebiruan, itu saja sudah cukup menurutnya. Rambut pirangnya sengaja ia gerai agar terlihat lebih manis, padahal sebenarnya ia sudah kepanasan sejak tadi.

Sedangkan gadis merah muda di depannya, dress selutut tanpa lengan berwarna polkadot hitam putih, dengan ikat pinggang besar berwarna hitam yang melingkar pas di pinggang kecil gadis itu. rambut merah muda sepunggung yang di buat ikal pada bagian bawahnya. Sangat berbeda!

Menjauhkan prasangka jeleknya, Naruto beralih menatap ke arah pacarnya. Gaara yang menawan dengan pakaian kemeja berwarna kehitaman dan celana jeansnya. Rambut merah itu nampak teracak sempurna, ganteng sekali!

Sasuke pun sebenarnya sih keren juga. Sahabatnya itu menggunakan kaus berlengan panjang yang sengaja di lipat setengah dan jeans berwarna biru dongker. Rambut pantat ayam yang acak dan jam tangan melingkar manis di pergelangan tangannya.

Stop membicarakan sahabatnya, Naruto masih punya Gaara yang harus di lihat sana-sini. Kedua mata kebiruannya itu menatap sengit Sasuke, kebetulan saja sahabatnya balas mendelik. Selama beberapa menit tidak menghiraukan keberadaan kekasih mereka.

'Gimana? Hunny Bunny Gue lebih ganteng dan keren kan?!'

'Sakura Gue lebih manis~'

'Enak aja, pacar Lo itu lima tingkat di bawah Gaara. Gue bahkan Sembilan puluh persen yakin kalo Lo bakal berubah jadi Homo kalo deket terus sama Gaara. Dijamin manjur, beneran deh!'

'Jijay Lo! Gue nggak Homo, Jorok! Jauh-jauhin dia sana, astaga!' Wajah Sasuke mendadak pucet. Dia langsung memutus pembicaraan batinnya dengan Naruto.

Sementara Naruto sudah ketawa terpingkal-pingkal karena melihat wajah sahabatnya. Dia berhasil mengerjai si Pantat Ayam.

"Kalian sepertinya dekat sekali ya?" Gaara menginterupsi tingkah laku kedua sahabat itu. Memberikan senyum dan bertanya singkat,

"Iya, Sasu juga sering sekali membicarakan tentang Naruto padaku. Naruto itu gadis yang cerewet, terus suka berantem, ahaha~" Kali ini Sakura ikut-ikutan. Baik Gaara dan Sakura malah asyik berbicara mengenai mereka berdua.

Keduanya kikuk, "Gaara kau harus hati-hati kalau berpacaran dengan Naruto, dia itu jarang sekali cuci rambut, tidak seperti Saku-aw!" Sasuke menjerit sakit, kakinya diinjak dengan keras oleh Naruto.

Gadis itu sudah melempar deathglare mematikannya, "Ja-jangan percaya! Dia bohong! Aku rajin kok cuci rambut, pakai shampoo mahal lagi, tuh harum kan, sayang?!" Naruto mengibaskan rambutnya ke depan Gaara, niatnya buat ngebuktiin tapi yang ada pacarnya malah kelilipan rambutnya.

"Aku percaya, Naru." Gaara mengucek matanya yang sedikit sakit, Naruto panik dia tanpa basa-basi nyerobot tisu di atas meja, tapi sebelum bisa memberikan benda itu pada pacarnya.

"Ini, pakai saja~" Sakura sudah mengulurkan sebuah sapu tangan pada Gaara, gadis itu tersenyum manis. Setengah berdiri saat memberikan benda itu, yang hebatnya di sambut baik oleh Gaara.

"Thanks,"

Apa daya dia nggak pernah bawa sapu tangan, adanya tisu dan itupun ngambil di atas meja. Seketika gadis itu menciut, merasa minder lagi dengan sikap Sakura. Bawa sapu tangan kemana-mana, itu kan sudah kodrat seorang perempuan anggun untuk menyimpannya di dalam tas kecil mereka. Kalau dia gimana? Naruto nggak pernah bawa begituan! Yang dia bawa itu paling handuk kecil buat nyeka keringat setelah selesai latihan karate dan bela diri yang lainnya.

Tangannya yang tadi nyaris memberikan tisu itu pada Hunnynya langsung diurungkan, pandangannya menunduk, mengepalkan tisu di tangan itu kuat-kuat. Dia tahu Sakura baik, tapi kan ada batasnya juga! Naruto jadi tidak bisa mesra-mesraan dengan Gaara, ya ngapus kelilipan pacarnya itu kek atau tiup-tiup matanya biar kelilipannya hilang.

Sedangkan Sasuke, pemuda itu mendengus. Antara bangga dengan sikap Sakura yang sigap dan anggun, tapi juga tidak enak hati pada Naruto. Lihat saja sekarang, wajah sahabatnya itu sudah kucel, mengkerut kemana-mana, dan bibirnya kayak bebek kejepit.

Salah satu tangannya terangkat memanggil pelayan, sengaja mengeraskan suaranya agar Naruto bisa mendengar. "Pesan empat Parfait Ice Creamnya porsi besar, yang satu lebihkan potongan jeruk dan strawberrynya."

"Baik, di tunggu pesanannya~" pelayan itu tersenyum sekilas sebelum akhirnya kembali ke dapur.

Sasuke sengaja mengalihkan pandangannya saat melihat Naruto menengadah, menatapnya dengan pandangan berbinar. Senyuman gadis itu nampak lagi saat mendengar pesanan sahabatnya. Parfait Ice Cream porsi besar dengan lebihan potongan jeruk dan strawberry! Itu kesukaannya!

Sahabatnya ini memang paling mengerti dirinya~

Sas, Sas kalo aja Gue nggak kenal Lo dari kecil, kita ketemunya pas Gue lihat sikap Gentle Lo kayak gini. Udah Gue pacarin Lo dari dulu kali ya. Batinnya tanpa sadar.

Siapa yang tahu kalau pertemuan yang mereka lakukan saat itu, mampu membuat kedua kekasih mereka tanpa sadar saling menyukai. Pemberian sapu tangan Sakura yang ternyata berefek besar bagi Gaara begitu juga sebaliknya.

Naruto dan Sasuke benar-benar tidak memperhatikannya.

.

.

.

.

.

.

Wedding Rush

.

.

Kembali ke waktu sekarang-

Naruto masih nangis, sekarang gadis itu sudah menjauhkan tubuhnya dari pelukan Sasuke. Pembicaraan ini harus di lakukan dengan acara tatap muka, bukan saling paling muka kayak gini! Ngehapus air matanya cepet, Naruto natap Sasuke yang masih enggan menatapnya balik.

"Sas! Lo denger nggak Gue bilang apa?!" sedikit kesal karena di acuhkan. Sementara Sasuke, pemuda itu manggut-manggut.

"Denger kok," dia berbicara seadanya.

Gadis itu berdecak kesel, tanpa bilang-bilang narik tangan Sasuke masuk ke pekarangan rumah. Mengajak pemuda itu untuk duduk lagi di atas trampoline tempat mereka nongkrong beberapa jam tadi.

Mendudukkan Sasuke, Naruto sengaja menyentuh kedua pipi sahabatnya agar pemuda itu menatapnya langsung. "Gue nggak bakal ngetawain Lo, Sas. Mau nangis kejer, atau guling-guling di tanah pun Gue bakal maklum karena posisi Lo sekarang sama kayak Gue! Jadi jangan alihin pandangan Lo!" sedikit teriak, membuat Sasuke tertegun.

"Gu..gue nggak nangis, jorok!" mendengus keras, maunya ngalihin pandangan lagi tapi pegangan di pipinya kuat banget.

"Oke! Lo nggak nangis tapi mewek! Udah!"

Mau ngebalas lagi, tapi Sasuke urungkan. Melihat wajah Naruto yang sudah sekacau wajahnya, dia diam.

"Ini permintaan Gue satu-satunya, Sas. Gue nggak mau diemin dua orang itu nyakitin kita gitu aja, setelah apa yang mereka lakuin diem-diem di belakang kita bahkan sampai nikah kayak gini! Itu bukan masalah sepele! Gue pingin balas dendam, biarpun kata Ibu Gue, balas dendam itu nggak bakal ngehasilin apa-apa, Gue..Gue nggak peduli," kalimat keras itu perlahan memelan seiring suara isakan Naruto yang kembali terdengar. Gadis itu menangis lagi, kali ini makin sesenggukan.

"Gue sakit hati, Sas. Jantung Gue rasanya di remes, sakit banget pas tahu kalau mereka ada hubungan nggak wajar di belakang kita. Lo nggak mau balas dendam?!" gemas melihat Sasuke yang sejak tadi diem aja.

"Gue bukannya nggak mau balas dendam Nar, tapi nikah itu resikonya besar."

Bibir Naruto mengerucut, "Jadi Lo nggak mau nikah sama Gue dan lebih milih nikah sama gadis sialan itu?!" dia sewot, sebenernya dia tahu arah pembicaraan Sasuke bukan kesitu tapi emosinya sedang labil sekarang.

"Nar!" tak di sangka Sasuke balas membentaknya,

"Apa?! Lo nggak suka Gue ngejelek-jelekin Sakura! Nenek lampir yang udah ngerebut Gaara!"

"Jangan bicara Lo! Justru Panda Item Lo yang ngerebut Sakura dari Gue! Seharusnya Gue nggak pernah ngenalin Sakura ke Lo ataupun cowok sialan itu! Ini semua awalnya memang salah Lo yang ngajak kita ketemuan pas itu!" pemuda raven itu ikut emosi, berdiri tanpa sadar dan menantang wajah sahabatnya.

Shock,

Naruto kaget, matanya membulat. Air mata makin turun deres dari pelupuknya. Sasuke sama sekali nggak pernah marahin dia kayak gini, berantem pun Sasuke selalu tahu batas. Tapi sekarang, gara-gara Sakura, pemuda itu menyalahkannya.

Gadis itu menangis sesenggukan, pundaknya gemetar. Perkataan Gaara dan Sasuke sudah cukup menghancurkannya malam ini.

"Lo jahat banget, Sas. Baik Lo ataupun Gaara kalian berdua sama aja, sama-sama brengsek! Gue benci Lo, Sas!" berteriak keras, tangannya tepat mendorong tubuh Sasuke yang berdiri di hadapannya. Membuat pemuda raven itu terjatuh di atas trampoline.

Sasuke yang baru sadar dengan perkataannya sendiri. "Shit! Nar, bukan gitu maksud Gue!" mengumpat singkat, pandangannya melihat Naruto yang keluar dari pekarangan dan lari ke rumahnya. Dia mengejar, tapi kecepatan Naruto saat galau benar-benar tidak bisa di tandingi. Alhasil-

"Nar, maafin Gue!" Sasuke cuma bisa teriak, manggil Naruto yang masih nangis masuk ke dalam rumahnya. Menutup pintu keras-keras, seolah-olah gadis itu tidak mau bertemu dengannya lagi.

Menendang batu di dekatnya, Sasuke mengumpat terus menerus. "Shit! Shit! Maafin Gue, Nar!" mengucapkan maaf berkali-kali, pemuda itu mengacak rambutnya kasar.

Kenapa malam minggu yang seharusnya manis berubah jadi neraka kayak gini?!

Persetan dengan Sakura, Sasuke malah lebih mengkhawatirkan sahabatnya itu saat ini.

Bersambung-

Catatan Kecil :

Aku bakal tetep pakai bahasa nyantai kayak gini, jadi buat yang tidak suka silahkan tekan tombol Back. Kenapa gitu, soalnya lebih enak gitu rasanya :)