Berbekal selembar kertas bertuliskan alamat yang sang ayah berikan, Kuroko Tetsuya memulai hidupnya dikota Tokyo bersama 'ayah' barunya.
Meski sang 'ayah' baik, Tetsuya terlalu segan untuk meminta pertolongan. Bahkan pada teman-teman terdekatnya sekalipun, namun, perlakuan lembut dari sang 'ayah' baru, Akashi Seishirou perlahan membuat hatinya luluh.
.
AkaShiro present
Saikou no Atarashi Tousan
.
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Just a Family Fanfiction by AkaShirou
.
.
Teiko!AU/Drama/ Family
2/?
.
Warning : Dont like Dont read, maybe OOC.
.
Oreshi!Seijurou, Bokushi!Seishirou, Vampire!Seishirou
.
Hope You Like It
.
.
.
.
Chapter II : Plot Twist
Seishirou's POV
Pip pip pip
Suara berisik mengusik tidurku, perlahan kubuka mataku dan cahaya samar matahari mulai meneruak masuk dengan kurang ajarnya ke dalam mataku. Aku menggeram kesal dan menyambar alarm di meja nakasku lalu melemparnya dengan kesal ke pojok ruangan sampai tak berwujud, terlihat pula sedikit retakan di tembok, ah aku terlalu kuat melemparnya. Kurasa nanti aku harus membeli jam weker baru.
Kutarik selimutku untuk melanjutkan tidurku, aku kekurangan tidur beberapa hari ini.
'Seishirou-kun, apa yang- kenapa ada darah disini?!'
Deg!
Kelopak mataku terbuka lebar dengan keringat dingin mengalir di pelipisku. Kualihkan pandanganku kesekitarku sebelum akhirnya aku terdiam cukup lama. Mimpi sialan! Geramku sambil menyibak selimut yang kugunakan.
Kakiku melangkah kedalam kamar mandi dengan sedikit menghentak kesal. Kubasuh wajahku dengan sedikit emosi lalu menatap pantulan bayanganku di cermin. Terlihatlah sosok pemuda dengan penampilan dan wajah yang kusut tak karuan. 'Geez… apa skripsi bisa membuat penampilan dan otak seseorang menjadi rusak seperti ini?', Gerutuku dalam hati.
Kulangkahkan kakiku ke dapur, membuka kulkas dan mengambil sebuah kantung darah dari dalam kulkas. Setelah menggunting ujungnya, aku hanya perlu menuangkannya kedalam gelas dan menikmati sarapanku di depan kumpulan berkas setan bahan skripsi yang beberapa hari ini menggangguku. Bukan hanya itu saja, bahkan sudah beberapa malam aku kekurangan waktu tidur lantaran terus diganggu oleh mimpi buruk sialan.
Baru saja aku akan berkutat lagi dengan skripsi laknatku, tanganku meraba sebuah amplop yang terselip diantara berkas-berkasku.
"Huh? Surat?" Gumanku sambil mengambil amplop itu.
Kubalik amplop lusuh yang kurasa awalnya berwarna putih itu, setelah melihat nama Kuroko Satoshi di sudut kirinya aku hanya bisa menghela napas berat. Mungkin Satoshi-nii mau meminta bantuan atau meminjam uang lagi. Kalau meminjam uang lagi kupastikan aku akan mengadu pada ibu.
Dengan ogah-ogahan aku membuka amplop surat itu.
Untuk adikku Seishirou,
Hai, apa kabarmu adikku? Kau sehat kan disana? Bagaimana kuliahmu? Kudengar kau sudah mau lulus ya?...
Huh kalau ada butuhnya saja baru bertanya, dasar. Lagipula lulus rasanya masih jauh dari jangkauan…
Sebenarnya begini, Seishirou. Aku ingin meminta bantuanmu, tapi tenang saja aku tidak akan meminta bantuan yang berhubungan dengan uang lagi.
Okay, aku sangsi dengan pernyataan ini.
Begini… yah, kau tahu aku sendiri sekarang sedang kesulitan ekonomi sementara dia sedang bersekolah sekarang, jujur saja aku tidak sanggup membiayainya sekarang. Kau pasti tidak tega melihat keponakanmu putus sekolah, 'kan? Jadi, Aku ingin kau menjaga anakku yang dua hari lagi akan sampai di tempatmu.
Tenang saja, Tetsuya anak yang pintar dan mandiri kok. Dia pasti bisa membantumu juga. Dan juga Tetsuya berhasil di terima di Teiko lho, kau tahu kan sekolah elit yang-
BREEK!
Aku menatap datar robekan kertas surat di kedua tanganku sebelum membakar kertas laknat itu cepat-cepat. Enak saja, aku sedang pusing skripsi sekarang disuruh menjaga anakmu! Memangnya dia pikir aku baby sitter?!
Aaargh moodku benar-benar hancur! Terkutuklah skripsi! Satoshi-niisan! Dan terkutuklah—Kucing sialan jangan duduki berkas-berkasku!
Setelah kerusuhan tempo hari, akhirnya aku bisa memejamkan mata dengan tenang. Jangan berpikiran aku mati hanya karena tubuhku tidak bernapas, oke? Aku hanya tidur.
Perlahan mataku terpejam untuk menyapa alam mimpiku, ah inilah waktu yang tepat untuk—
Ting Tong!
The Fu*k! kali ini apa lagi?!
Oke abaikan Seishirou, abaikan.
Ting tong! Ting tong!
Bantal! Mana bantal? Tanganku meraba-raba mencari benda empuk teman tidurku itu. Setelah benda itu kudapatkan dan baru saja aku berencana menutup telingaku sampai—
Ting tong! Ting tong! Ting tong!
YOU GOT ME, JERK! Kalau tidak penting, kupastikan tamu sialan itu akan kubuat kering saat itu juga!
Ting tong!
"SHUT UP, YOU JERK! I'LL GO THERE ALREADY!" Teriakku frustasi seraya melempar bantal dan bergegas menuju pintu depan.
Pintu kubuka pintu sambil sedikit menggerutu. Baru saja aku ingin mendamprat makhluk sialan yang mengganggu tidurku, namun urung karena melihat sosok anak kecil yang berdiri takut-takut di depan pintu rumahku. 'Anak nyasar?.' Batinku
"Siapa?" Tanyaku.
Kulihat dia masih terbengong-bengong menatapku, ada yang salah dengan wajahku? Atau aku terlihat terlalu kacau?. Bingungku.
"Siapa?" Ulangku.
"Tetsuya… Kuroko Tetsuya. A-aku mencari seseorang bernama Seishirou-san. Apa dia tinggal disini?"
Kuroko? Siapa? Sepertinya aku cukup familiar dengan nama itu.
"Huh? Ya, aku Seishirou . Ada perlu apa?" Jawabku.
Kulihat dia masih terbengong menatapku. Apa aku terlihat seaneh itu di matanya? Dasar anak kurang ajar. Baru saja aku ingin menegurnya, tiba-tiba terlintas surat dari Satoshi-niisan beberapa hari lalu.
"Oh! Aku baru ingat, kau anaknya Satoshi-niisan, 'kan?" Celetukku, "maaf maaf aku menyambutmu dengan sambutan yang kurang sopan. Silakan masuk dan duduklah. Akan kubuatkan minuman." Lanjutku sambil membuka pintu lebar-lebar dan berjalan masuk. Kulirik dia yang mengangguk dan mengekoriku.
Setelah kupastikan pemuda bertubuh kecil itu duduk di sofa, aku bergegas ke dapur untuk mencari camilan dan membuatkan teh untuknya. Ah, semoga aku masih menyimpan makanan manusia disini.
Sembari grasak-grusuk membuatkan minuman untuknya, mataku mengkap kantung kertas yang tergeletak di sebelah kompor. Penasaran, aku mengambil kantung itu dan membukanya.
Thanks god! Seruku dalam hati saat melihat setoples kue keju didalam kantong itu. Seingatku itu pemberian teman satu kampusku kemarin, Amamiya-san. Langsung saja aku mengambil kue itu dan menaruhnya diatas nampan bersama dengan cangkir berisi teh dan gula. Jangan tanya kenapa aku memiliki makanan manusia, tentu saja karena takut kalau-kalau ada manusia yang bertamu ke rumahku.
Aku kembali ke ruang tengah dengan membawa nampan itu dan meletakkannya dimeja.
"Yah, maaf lama… surat dari niisan baru saja tiba 2 hari lalu, dan aku jadi kelupaan karena skripsiku" Kilahku sambil melayangkan cengiran kearahnya.
"Hai' daijoubu desu." Sahutnya singkat.
"A-ah oke, jadi kita belum berkenalan ya? Namaku Seishirou , kau sudah tahu bukan? Umurku sekarang 22 tahun, mahasiswa semester akhir yang.. yah, kau lihat sendiri.." aku menunjuk tumpukan kertas diatas meja ruanng tengah dengan tatapan seolah 'kau-lihat-sendiri'.
Pats
Aku terdiam beberapa detik saat melihat layar laptopku menghitam secara tiba-tiba. "FILE-FILEKU BELUM KU SAVE!" Seruku histeris seraya berlari sprint mendekat ke laptopku. Jariku mengutak-atik benda kesayangan yang telah menemaniku bermaso-ria bersama skripsi, berharap agar benda tipis situ masih bisa terselamatkan. Atau lebih tepatnya, skripsiku.
Wajahku pucat seketika ketika melihat sambungan charger laptop tergeletak nista di lantai tanpa terhubung dengan stop kontak. WHAT THE FU*K! ingin rasanya aku menggulingkan meja saat itu juga.
"Ano…..Seishirou -san mahasiswa ekonomi?" suara bocah itu menginterupsiku. Segera kutolehkan kepalaku ke arahnya dan mendapati bocah itu yang tengah memegang salah satu buku sumberku.
"Ah, ya, aku mahasiswa ekonomi… lebih tepatnya jurusan Akuntansi." Sahutku dengan senyuman putus asa. "Ah- iya, tadi siapa namamu?" Tanyaku.
Kulihat ia terdiam sambil menatapku dengan tatapan ? Ada yang salah dengan pertanyaanku?
"Kuroko… Tetsuya… 15 tahun, kelas 1 di Teiko Chuugako… sebenarnya, aku baru saja mendaftar dan di terima disana. Salam kenal… err Seishirou -san…" Ujarnya tampak ragu.
"Karena mulai hari ini aku akan jadi walimu, bagaimana kalau kau mulai memanggilku dengan suffix 'niisan' atau 'paman' atau apalah. Kau punya ide untuk itu?" Kataku. Kulihat ia tampak berpikir sejenak.
"Ayah?"
"Hmm… " Aku rasa tidak ada salahnya kalau menjadi ayah sementaranya, bukan ide yang buruk. "Baiklah, mulai hari ini panggil aku ayah."
Aku tersenyum selembut mungkin dan iapun ikut tersenyum.
"Iya, Ayah!"
Sudah 3 bulan berlalu, anakku –Tetsuya- kini sudah masuk ke Teiko Chuugako, almamaterku. Rasanya baru kemarin aku dan Tetsuya bertemu, tapi sekarang dia sudah masuk SMP, senang juga rasanya. Kutatap punggung Tetsuya yang bersemangat masuk ke area sekolah. Ah masa muda…
Ringingg Ringing
Ponseku berdering, menandakan adanya panggilan masuk, setelah kulihat nama si pemanggil, rasanya jantungku berhenti berde—okay abaikan aku memang tidak punya detak jantung. Maksudku, aku benar-benar ingin melayangkan sumpah serapah dan kutukan pada si pemanggil yang merupakan dosen pembimbingku. Aaargh!
Segera aku tancap gas meninggalkan sekolah itu menuju kampusku, Universitas Tokyo.
Baru saja aku selesai grasak grusuk dengan berkasku di mobil dan baru saja berencana untuk melakukan sprint ke ruang Rektor, sesosok makhluk tiba-tiba sudah menggelayuti punggungku bak lintah. Shit! Disaat seperti ini?!
"Seishirou-kun! Ohayou!" sapanya masih menggelayuti punggungku.
"Ah—ya, ya ohayou.." Jawabku malas kearah seorang wanita bersurai hitam sepunggung, Amamiya Natsumi, "Menyingkirlah, aku harus mengejar dosen pembimbingku." Ujarku kesal.
"Ehh, Hidoii yo, Seishirou-kun. Padahal aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Kau pasti lupa sarapan karena sibuk kan?" Ujarnya sambil menyodorkan kota bento kearahku. "Ayo ke kantin dulu kita makan disana, Seishirou-kun." Dasar hama! Dosenku bagaimana?! Baru saja aku akan menolak, tanganku ditarik olehnya, menghindari insiden lempar melempar manusia lebih baik aku menurut saja toh tidak sulit untukku untuk pergi ke ruang rector dalam waktu 1 detik.
Kantin cukup ramai seperti biasa padahal hari masih cukup pagi untuk para mahasiswa mejeng atau sekedar mengisi perut yang lupa diisi. Sudut kanan kantin yang kosong menjadi spot yang dipilih oleh Amamiya-san untuk makan, ia membuatkanku makanan dan yang pasti aku harus menguras isi perutku nanti.
"Nee, nee… Seishirou-kun, buka mulutmu… aaa~" Ia menyodorkan sumpit yang berisi kaarage. Mati-matian aku menahan mual ketika benda yang lebih cocok disebut 'Kayu Goreng' itu masuk kemulutku.
Cepatlah berakhir siksaanku ini... batinku nelangsa.
Terhitung empat suapan, mual mendera perutku. Segera kututup mulutku dan beranjak dari sana menuju toilet, aku sudah tidak perduli lagi dengan Amamiya dan bento laknatnya. Aku ingin mengeluarkan makanan nista itu dari dalam perutku.
BRUK!
Saking terburu-burunya, aku bahkan sampai menabrak seorang wanita yang tampaknya juga baru keluar dari toilet.
Perawakannya yang mungil dengan surai pink sakura yang diigerai indah dengan pita kuning yang dijadikan bando. Baru saja aku ingin menegakkan tubuhku, pita kuning itu tersangkut di salah satu kancing bajuku. Kudengar ia mengaduh pelan, mendengar suaranya membuat irisku membulat sempurna. Aku mengenali suara ini-Tidak! Tepatnya aku tidak bisa melupakan suara ini. Segera ku dongakkan kepalaku dan ternyata benar saja, masa lalu memberiku karma secepat ini rupanya
Kulihat gadis itu berusaha melepaskan pita kuningnya yang tersangkut, tanganku terulur untuk membantu melepaskan pita kuning itu. Pandangan kami saling bertemu, ia terlihat kaget dengan kehadiranku, kulihat ia menarik jarak antara kami, membiarkan pita kuning itu tetap berada di tanganku.
"M-maaf… aku tidak sengaja." Lalu, pergi menjauh dariku. Aku hanya bisa menggenggam pita itu erat di tanganku.
Kurasakan tenggorokanku yang tadinya siap mengeluarkan makanan nista karya Amamiya berubah menjadi sangat kering.
"Satsuki…" Gumanku.
.
.
.
To Be Continued
a/n : doumo minna, akashiro desu. maaf baru menyapa di chapter 2 karena kemarin lupa menulis a/n dan lupa menulis tulisan 'bersambung.' aku senang jika kalian menyukai tulisanku yang kurang jelas ini, maaf aku juga newbie di fandom ini.
salam kenal semuanya, terima kasih sudah membaca ceritaku.
dan terima kasih sudah mengkritik ff yang abal bin absurd ini.
AkaShirou
see you in next chapter
