Berbekal selembar kertas bertuliskan alamat yang sang ayah berikan, Kuroko Tetsuya memulai hidupnya dikota Tokyo bersama 'ayah' barunya.
Meski sang 'ayah' baik, Tetsuya terlalu segan untuk meminta pertolongan. Bahkan pada teman-teman terdekatnya sekalipun, namun, perlakuan lembut dari sang 'ayah' baru, Akashi Seishirou perlahan membuat hatinya luluh.
.
AkaShiro present
Saikou no Atarashi Tousan
.
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Just a Family Fanfiction by AkaShirou
.
.
Teiko!AU/Drama/ Family
1/?
.
Warning : Dont like Dont read, maybe OOC.
.
Oreshi!Seijurou, Bokushi!Seishirou, Vampire!Seishirou, Male Version of Momoi!Natsuki
.
Hope You Like It
.
.
.
.
Chapter III : Meets UpSatsuki's POV
Harum serbuk kopi yang dijerang air bersuhu tinggi yang tercium dari arah dapur membuatku melengkungkan senyum. Sedikit berjingkat bak pencuri, aku memasuki area yang seharusnya tidak aku masuki saat ini.
"Masuk selangkah lagi, aku tidak akan membuatkan sarapan untukmu lagi, Anee-ue."
Aku mendecih pelan mendengar peringatan dari sosok adikku yang tengah berkutat dimeja dapur. "Mou….. Aku cuma ingin tahu apa yang sedang dibuat adik kesayanganku. Apa tidak boleh?" tanyaku seraya menyenderkan badan diambang pintu dapur. Batas aman yang diberikan adikku –Momoi Natsuki- di dapur.
Sosok pemuda bersurai Baby pink dengan paras nyaris mirip denganku –Well… kami anak kembar ngomong-ngomong- berbalik kearahku dengan dua buah cangkir berisi liquid hitam yang mengepulkan asap. "Oh ya? Terakhir kuingat saat anee-ue bilang seperti itu, omurice buatanku berubah rasa jadi tak karuan." Seloroh Natsuki seraya meletakkan dua cangkir kopi diatas meja makan.
Aku memajukan bibir bawahku, "Itu sudah lama sekali Nat-chan. Tolong jangan ungkit-ungkit lagi." Balasku sedikit kesal, "Lagipula aku sudah bisa masak sekarang." Lanjutku sambil melangkahkan kaki kearah meja makan dan mendudukkan diri.
"Biarpun masakanmu tidak bisa seenak masakanku." Celetukan dan seyuman menyebalkan dari Natsuki cukup untuk membuatku ingin melemparkan sendok makan kewajahnya. Aissssh…. Kenapa aku harus mempunyai adik –kembaran- seperti dia sih? Biarpun dia manis, kalau sifat menyebalkannya sedang kumat, rasanya aku ingin sekali membuangnya kelaut.
'Drap! Drap! Drap!'
Suara gradak-gruduk dari lantai atas membuatku dan Natsuki saling melayangkan lirikan.
"Aaaa… Anee-ue! Anii-ue! Kenapa kalian tidak membangunkanku?"
Sesosok pemuda yang jauh lebih muda dari kami muncul dengan penampilan tak karuan. Dasi yang belum terpasang, kemeja yang belum dimasukkan, juga rambut yang…oke, masih acak-acakan.
"Kami sudah membangunkanmu." Sahutku dan Daiki berbarengan. Kulihat ia –Momoi Daiki, adik laki-laki kami- pundung dipojokan dengan aura suram yang kentara. Aku nyaris saja tertawa mendengar gumaman pundungnya.
"Dari pada kau pundung tidak jelas seperti itu, lebih baik kau cepat sarapan kalau tidak ingin kami tinggal." Celetukan Natsuki diantara seruputan kopinya membuatku tersenyum. Adik laki-laki ku yang terpaut empat menit dariku itu memang bermulut pedas, biarpun sebenarnya ia sosok yang sangat perhatian.
Kulihat Shouta, adik laki-laki yang berbeda delapan tahun dariku dan NAtsuki langsung saja melesat kemeja makan dan melahap sepiring nasi goreng yang dibuat Natsuki dengan beringas. Sementara Daiki menghabiskan sarapannya, aku berinisiatif merapikan seragamnya. Akan sangat tidak elit kalau adik kesayanganku berpenampilan tidak rapi kesekolahnya.
"Ah ya, anee-ue. Kau sudah menghubungi dosen pembingbingmu untuk memastikan dia ada dikampuskan?" Pertanyaan dari Natsuki membuatku menoleh, "Tentu saja sudah. Aku sudah menghubunginya dua kali pagi ini." Sahutku. Kulihat Natsuki mengangguk puas sebelum menyesap habis kopinya.
"Kalau sudah selesai, taruh semuanya di wastuffel. Biar pulang nanti aku yang cuci." Cetus Natsuki seraya menyambar jaket dan berjalan keluar dapur. Aku tidak perlu bertanya kemana karena aku tau dia pasti ke garasi untuk mengambil mobil.
Yah, beginilah rutinitas kami setiap pagi.
.
.
.
"Ano saa, Anee-ue."
Panggilan Natsuki yang tiba-tiba membuat fokusku pada layar ponsel buyar. Sembari meneguk ludah, kutolehkan kepala ku kesamping kiri. Dan benar saja, tatapan tajam dari Natsuki serta aura kelam yang dikuarkannya langsung menyapaku.
"Ya-ya?" tanyaku pura-pura abai dengan raut kesal yang ditunjukkan kembaranku itu.
"Bukankah sekarang sudah saatnya kau bertemu dosen pembimbingmu?" Tanyanya dengan sudut mata memicing, "Etto…. Seharusnya sih… seperti itu….." Sahutku lirih sambil melirik kearah lain, menghindari tatapan memojokkan Natsuki.
"Kalau begitu, kenapa sejak setengah jam yang lalu kita masih saja berdiri didepan ruang dosen huh?" Bunyi gemerutuk dari kaleng minuman yang diremukkan Natsuki cukup untuk membuatku ingin melesat pergi dari sana.
"Ah….. Gomen!" Ujarku sambil menangkupkan kedua tanganku dihadapannya, "Sebenarnya saat dimobil tadi, dosenku mengirim sms dan berkata kalau jam temunya diubah jadi jam 2 siang nanti." Ucapku pada akhirnya.
'KREK'
Aku terdiam menatap kaleng minuman yang sudah tidak berbentuk lagi tergeletak dilantai. Mau tak mau hal itu membuatku meneguk ludah lagi. Takut-takut kulirik Natsuki…KAMI-SAMA! SEJAK KAPAN ADIKKU YANG MANIS BERUBAH JADI IBLIS SEPERTI INI?
"Anee-ue, kemarikan ponselmu." Ujar Natsuki sembari menjulurkan tangan yang langsung kubalas dengan gelengan cepat. "Kemarikan, Anee-ue. Biar ku damprat dosen tidak tau diri itu." Lanjutnya masih tetap menjulurkan tangannya yang kembali kubalas dengan gelengan. Kali ini sembari menjauhkan ponselku dari jangkauan tangannya.
"Kemarikan Anee-ue!"
Kulihat Natsuki memajukan badannya –nyaris menerjangku- dan mencoba menggapai ponsel ditangan kiriku yang sejak tadi kujauhkan. "Tidak mau!" pekikku masih bersikeras menyelamatkan ponsel berhargaku.
'Splash!'
"Ah-!"
Aku tidak sengaja menubruk seseorang disertai dengan bahuku yang basah. Sontak aku berbalik dan mendapati seseorang tengah meratapi pakaiannya yang sedikit basah. Sontak aku membungkuk dan meminta maaf padanya. Ah- ceroboh sekali aku.
"Anee-ue, kau tidak apa-apa?" Lontaran Tanya dari Natsuki membuatku menoleh, "Ah, tidak. Tidak apa-apa. Hanya kena tumpahan jus sedikit." Sahutku sambil tertawa garing, "Etto…. Aku ingin ke toilet sebentar untuk membersihkan tumpahan jusnya. Kau tidak apa-apa kalau menunggu disini kan?"
Setelah mendapat anggukan dari Natsuki, segera saja aku melesat ketoilet perempuan. Rasa lengket dari jus yang menumpahiku benar-benar tidak enak.
.
.
.
"Yosh… Setidaknya bekas tumpahan jusnya tidak terlalu kentara." Gumamku sembari memperhatikan bajuku yang sudah lumayan bersih dari tumpahan jus tadi. Beruntunglah tadi aku hanya ketumpahan jus saja. Kalau sampai kopi, mau tidak mau aku harus pulang untuk mengganti baju.
Setelah memastikan kalau penampilan dan dandananku rapi, aku segera bergegas keluar dari toilet. Bisa gawat kalau aku membuat Natsuki menunggu lama. Bisa-bisa aku didampratnya nanti.
Baru saja kaki ku berjalan beberapa langkah keluar dari toilet, kesialan kembali menimpaku.
'BRUK!'
Lagi-lagi badanku menabrak seserang dengan keras. Aissssh….. Apa hari ini hari tabrakan sedunia? Sudah dua kali ini aku menabrak orang lain pagi ini. Sambil sedikit mengaduh –sungguh, tabrakan kali ini cukup keras buatku- aku mencoba menjauh dari badan si penabrak. Tapi sepertinya dewi Fortuna tidak berpihak padaku kali ini. Baru saja aku ingin menarik diri, pita kuning yang kuikat disamping kiri kepalaku malah tersangkut dikancing baju si penabrak.
"A-aduh!" Lirihku saat kembali mencoba menarik dan melepaskan pitaku dari sangkutan kancing baju si penabrak.
Tangan pucat milik si penabrak terjulur dan mencoba membantu melepaskan pitaku yang tersangkut. Dalam sekali tarikan, pita dikepalaku terlepas dari sangkutan kancing bajunya.
"Ah, Terima ka-!" Ucapan terima kasihku tertahan ditenggorokan begitu pandangan kami bertemu. Secepat kilat aku menarik diri darinya, membiarkan pitaku tertahan ditangannya.
Seraut wajah yang sangat kukenali terpampang jelas didepanku. Wajah tampan dengan bola mata Heterochrome yang tajam namun tegas, rahang kokoh, hidung mancung, dan bibir tipis yang dulu selalu melontarkan suara berat yang khas. Sungguh, aku tidak bisa untuk tidak ingat dengan wajah itu. Lebih tepatnya aku tidak bisa lupa dengannya, Seishirou.
Aku terdiam beberapa detik sebelum rasa sesak memenuhi dadaku. Rasa sesak yang akhir-akhir ini mulai kulupakan-atau susah payah kulupakan.
"M-maaf… aku tidak sengaja." Ucapku susah payah, masa bodoh dengan suaraku yang terdengar seperti orang tercekik. "A-aku permisi." Lanjutku sebelum melangkahkan kaki secepat yang kubisa dari tempat itu.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk sampai ditempat Natsuki menunggu. Bola mata Pink Natsuki membelalak begitu mendapati sosokku. Entah raut wajah seperti apa yang kini aku tunjukkan, aku hanya merasa wajahku basah oleh sesuatu yang terus mengalir dari kedua mataku. Aku hanya diam saat Natsuki melingkarkan lengannya dibadanku dan menncecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak aku dengarkan sama sekali.
Sungguh, aku tidak tau kenapa aku bisa merasa sesesak ini. Atau kenapa mataku terus mengalirkan air mata seperti ini. Dan aku benar-benar tidak tahu dengan gigir takdir yang entah kenapa kembali mempermainkanku dan mempertemukan kami sekarang. Sungguh, aku benar-benar tidak tahu.
.
.
.
To Be Contiuned
a/n : ok, maaf atas kesalahan yang AkaShiro lakukan beberapa hari lalu, sebagai gantinya Akashirou publish beserta dengan chapter 3 nya. Semoga kalian suka.
AkaShirou
