'This ain't the last time that I'll see your face, come on baby, you said you'd find someone to take my place. I just don't believe that you have got it in you 'cause we are just gonna keep doing it, and everytime I start to believe in anything you're saying, I'm reminded that I should be getting over it."

Somebody Else — The 1975

.

.

.

Donghae POV.

Aku merasa kebahagian yang tidak wajar setelah aku memasuki wilayahnya. Aku melakukan kompromi yang sengit terlebih dahulu bersama seorang security, dia tampaknya mengenali wajahku yang tidak asing karena sebulan lalu sempat beradu muka denganku. Kukatakan kepadanya bahwa Hyuk Jaelah yang mengundangku kemari, sulit kupercaya jika dia akan menyerah. Dia menghindar dari masalah sehingga dia mendorongku pergi menuju lift, aku menatapi keanehan di wajahnya dan sebisik kalimat yang tidak mampu kutangkap. Aku merasa buruk karena aku telah membohongi orang tetapi keadaan memang sudah buruk.

Aku berjalan menuju lorong yang sepi sambil membaca pesan-pesan Hyuk Jae. Dia mengirim lebih dari sepuluh pesan yang berisi komentar jahat, supaya aku pergi ke neraka atau jangan pernah kembali lagi.

Aku terkekeh selagi melintasi keheningan, pintunya tertutup rapat dan kuketuk rumahnya, namun tak ada jawaban yang menyusul. Aku bersender di pintu keluar lalu menghidupkan rokok. Hyuk Jae pasti masih di luar sana, mungkin berkencan atau apapun yang bisa merecokiku. Tapi tampaknya Tuhan sedang bermurah hati, Hyuk Jae datang dari ujung lorong, wajahnya nyaris kosong. Penampilan luarnya payah, dia sekilas kelihatan kurang bermutu. Aku berharap dia akan menyapaku, selain itu aku juga membutuhkan kata-kata kasarnya agar aku lebih bersemangat lagi. Sayangnya Hyuk Jae melongos, kurang berekspresi terhadap kehadiranku sehingga aku perlu suasana kejam lainnya buat memancing pertengkaran lagi.

Aku menahan tangannya yang hendak membuka gagang pintu, wajahnya mengkaku sedetik kami bersentuhan. Aku menyender lebih dekat kepadanya, membiarkan napasku menerpa permukaan wajahnya kemudian kukepulkan asap yang tebal ke wajahnya, dia terbatuk-batuk dan tersinggung.

"Aku ingin kita bicara."

Hyuk Jae menatapku selama beberapa saat, menampik tanganku dengan separuh tenaga yang dia punya. "Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan, anggap saja kita tidak saling kenal, kau brengsek. Pergi dari sini!"

Aku membuang rokokku ke lantai, mematikannya dalam satu injakan yang kuat lalu membalas tatapan matanya. "Aku butuh teman tidur. Dan aku tidak bisa tidur dengan bangsat manapun selain kau, Hyuk Jae."

Dia melebih-lebihkan amarahnya, seolah dari kencan satu malam kami yang kemarin dia yang paling merasa dirugikan. Karena aku secara unik telah mencampakkannya dan itu menyakiti hatinya. Hyuk Jae lebih senang menyebutnya sebagai melupakannya. Aku sedih sekali melihat kondisi emosional Hyuk Jae yang terguncang. Selain itu matanya memancarkan kepedihan.

"Berhenti beromong kosong! Sekarang pergi dari sini sebelum aku memukulimu."

Aku menebar senyum canda, kugenggam lengannya seerat sakit hatiku sebab itu dia mendesis. "Kenapa kau begitu marah padahal kau juga melakukan hal yang sama padaku Hyuk Jae?" ejekku.

Dia melirikku menggunakan ujung matanya sebelum kemarahan yang lebih besar melalap hatinya. Dia menekan dadanya dan menatapku bengis. "Enyahlah kau dari hidupku Donghae!"

"Hyuk Jae, kau yang tidak mau enyah dari hidupku." Aku memaksanya membuka pintu serta tatapanku mengancam. Dia tampak khawatir bila aku akan melakukan sesuatu yang harusnya tidak kulakukan, jadi dia menurut karena dia pikir aku bukan tipe orang yang berniat menyakitinya. Aku mengunci pintu semenit kami masuk, kupandangi dia lebih intens dari sebelumnya. "Tidak, kita berdua tidak bisa enyah, kita akan terus melakukannya Hyuk Jae, entah itu kau atau aku."

"Donghae, aku tidak ingin melakukannya lagi. Kita sudah putus, kita selesai, tetapi kau brengsek, ketika aku memberikan secuil harapan kau menggunakannya sebagai kesempatan buat balas dendam! Kau pergi begitu saja, kau sama busuknya denganku, atau bila perlu kuadukan ini kepada Jung Soo supaya kakak kesangayanmu itu menonjokmu pula. Karena aku juga berharap banyak, sialan!" Hyuk Jae berapi-api.

"Kau tidak bahagia?" tanyaku.

Hyuk Jae memalingkan wajahnya, "lebih dari tidak bahagia."

Aku tertawa kejam, "kau ingin kita kembali seperti dulu lagi?"

Hyuk Jae seperti menimbang, beberapa menit kami lalui dengan caranya berpikir keras. "Kalau itu maumu."

Aku tertohok dalam hati, "oh, tidak sayang," Hyuk Jae keheranan dibuatku. "aku tidak mau itu Hyuk Jae. Kau sudah menghancurkanku, aku hanya melakukan hal yang sama."

Sontak Hyuk Jae menendang perutku, rasanya menyakitkan sampai aku tersungkur jatuh, dia naik ke perutku dan memukul wajahku, dia fokus kepada rasa sakitku, menyerangku lagi, terus seperti itu sampai aku nyaris pingsan. Aku melihatnya menangis dan berbisik begini, "terkutuklah kau Donghae! Kau mati saja, sebenarnya apa maumu?!"

Aku menyerangnya balik sewaktu Hyuk Jae limbung ke samping tubuhku, kutonjoki dia juga hingga bibirnya robek. Rasa sakit hatinya tidak sepadan dengan apa yang kulalui, tetapi melihatnya melalui hal yang sama denganku, aku diserang simpati yang berbahaya. Aku menjauh dua meter darinya setelah melayangkan pukulan terakhir. Dia tersedu-sedu dan menutup matanya, kami sama-sama menangis dan lebam. Tetapi tangisannya hanya berlangsung sepersekian detik dan kandas sewaktu aku berpaling lagi kepadanya.

Dia mengerahkan tenaganya untuk bangun, setengah tertawa setengah menangis. Matanya berkaca-kaca, dia memandangiku seolah kita akan bertengkar lagi. Hyuk Jae berjalan mendekatiku, napasku seakan direnggutnya, tetapi tidak ada yang berhasil menakutiku selain tangisannya. "Kau gila, aku tidak habis pikir denganmu." Hyuk Jae menghusap sisa darah yang berada di bibirnya, wajahnya mengandung lebih banyak luka hingga aku terpingkal-pingkal.

"Semenjak panggilan telepon itu aku tidak pernah merasa damai."

Dia menatapiku, tangannya terletak setinggi pinggangnya. "Perpisahan ini bahkan tidak mudah buatku, kau pikir aku bisa tertidur pulas?"

Aku memandanginya, marah berkobar di hatiku. Aku melanjutkan kata-kataku yang separuh tertanggal, "jangan, jangan ucapkan itu Hyuk Jae. Kau menyesal jadi kau mengatakan ini, begini, kau sama sekali tidak membalas panggilan teleponku, menyudahi hubungan kita lewat satu pesan yang tidak logis. Mengusirku dari rumahmu, kau tidak dapat dipercaya!" Aku berteriak kepadanya kesetanan, jadi dia mundur satu langkah.

Hyuk Jae tersinggung tetapi dia menahan sepenggal kalimatnya di kerongkongannya.

"Tidak Hyuk Jae, kau tidur dengan orang lain,"

"Aku tidak tidur dengan siapapun!" selanya yang membuat secercah harapan di hatiku menerang. Aku biarkan dia menenangkan diri, sehabis itu aku pikirkan sepenggal kalimat matang yang bisa menutup mulutnya selain kekejaman-kekejaman lain yang dia kira pantas untukku. Dia menggusar rambutnya karena dilanda frustasi, dia mengabaikan tatapan mataku, dia tidak bisa berkata apa-apa sebab dia tidak memiliki alasan apapun yang bisa dia gunakan buat berkelit. "Aku tidak tahu bagaimana lagi harus menghadapimu, kau bisa lenyap, aku tidak akan peduli."

Saat ponsel Hyuk Jae berdering dari meja, dia kelimpungan dan tampak mencari-cari darimana suara itu berasal. Aku berpikir bahwa hal seperti ini adalah sebuah penghinaan yang tidak adil, aku tidak perlu menebak mengapa, bahkan setelah dua menit berlalu, ponselnya tidak henti-hentinya berdering. Aku menawan Hyuk Jae lewat tatapan mataku, "jangan bergerak sejengkalpun dari sana," camku padanya. Aku melangkah meraih ponselnya yang ditaruhnya di atas meja. Aku melihat matanya sekilas sesaat aku menyadari kalau kecurigaan itu memang beralasan.

Tidak ada kemungkinan kosong yang bilang kalau seseorang yang berhubungan dengan Hyuk Jae kini cuma sebatas teman kerja yang tingginya sampai dua kaki. Satu-satunya hal yang tidak bisa membuatnya berkelit adalah ketika aku mulai mengangkat telepon, menekan opsi speaker supaya didengar olehnya, seolah aku ingin mempermalukannya di depan umum. Walau kerumunan yang kumasudkan adalah diriku seorang, aku ingin Hyuk Jae mengerti betapa aku tidak bisa menoleransi omong kosong dan tekniknya berkamuflase agar mendapatkan simpati dariku dalam satu waktu sekaligus.

Terdengar suara yang riuh dari sambungan telepon, aku tidak mengatakan sepatah katapun selama tiga puluh detik. Aku malah mengancam Hyuk Jae, aku menyaksikan bagaimana wajahnya terlihat panik sewaktu orang itu berdeham karena dia pikir terlalu canggung buatnya karena Hyuk Jae tidak membalas apapun. Padahal kalau dia mau amati, aku adalah seorang bajingan yang merupakan mantan pacar Hyuk Jae dan tidak akan ragu untuk memukul rahangnya terang-terangan.

Dia bicara beberapa kalimat yang kurang bisa kutangkap artinya. "Hyuk Jae aku senang sekali, aku khawatir karena kau tidak membalas pesanku. Kupikir ada sesuatu yang terjadi, karena sebenarnya aku memiliki waktu yang menyenangkan bersamamu. Aku ingin mengetahui tentangmu lebih dalam, kau mau kita ketemu disuatu tempat? Sekedar mengobrol?" pria itu bicara patah-patah, jangka waktu jedanya lama.

"Sialan kau! Siapapun namamu, pecundang jalang, kau mengajak tidur pacarku, kau bangsat! Enyah ke neraka dan jangan pernah menghubunginya lagi!" Aku berteriak lebih keras seiring dengan kemarahanku yang meluap tanpa batas. Aku pula membanting teleponnya ke lantai, Hyuk Jae tampak tidak terkesan, tetapi aku lebih terperangah karena dia berani tidak terkesan oleh sikapku. "Benar, kau tidak tidur dengan siapapun, tidak. Kau mungkin hanya seorang pria yang menangis karena ditinggal kekasihnya, kau kelewatan!"

Hyuk Jae menutup matanya, dia berusaha tenang agar tidak menghardikku balik. Dia kelelahan sebab setiap pertemuan yang kami lalui hanyalah diisi oleh pertengkaran. "Dia hanya teman yang kuajak minum kopi," katanya, "wanita yang kemarin, dia juga begitu. Mereka sama, tidak lebih."

Aku membuat-buat ekspresi terkejut, "lalu kau mau aku percaya?" tanyaku.

Hyuk Jae melongos, menghentakkan tubuhnya. "Dengar Donghae, kau bisa lakukan apapun. Kau bisa pergi, aku tidak akan mencegahmu. Kau bisa diam disini, tetapi jangan bermain-main dengan api!"

Aku mulai mengalihkan diriku dari hendak menamparnya jadi mendekatinya, menimbang-nimbang apakah memukulnya sekali lagi adalah rencana yang baik untuk kelangsungan hubungan kami, tetapi tampaknya tempramen yang buruk itu bukanlah jalan keluar. Aku memutuskan memaksanya terduduk di bawahku, melempar tubuhnya yang penuh siasat buruk di antara kedua kakiku. Kujambaki rambutnya dan berkata, "kau luar biasa kejinya sampai aku ingin sekali menghancurkanmu."

Dia mengalami syok yang lumayan berat, disuatu titik tertentu dia kelihatan sedih, sedih yang tidak wajar. Dia menekan pahaku dan meliukkan kepalanya, wajahnya sejajar di kancing celanaku. Bersama getaran yang setara sakit hatiku, tubuhnya limbung keras mengingat betapa kami berakhir dengan sangat buruk. "Aku akan menyesali ini, atau aku mungkin tidak menyesali ini keesokan harinya." Dia berkeluh kesah.

"Aku tidak peduli, aku tidak perlu opinimu."

Aku menahan dagunya dengan tidak bertanggung jawab sehingga kedua kakinya ditekukkan secara kasar sampai dia mengaduh dibuatnya, sepasang matanya berkilat takut, "Donghae, kau tidak bisa melakukan ini kepadaku."

Aku memberikan isyarat kepadanya, "tetaplah diam," persisnya itu adalah peringatan dari wajahnya yang mengandung ketakutan. Sejengkal lututku menyentuh dada Hyuk Jae, kedua jariku berdalih ke belakang kepalanya dan segenggam rambutnya kujambak dengan menyakitkan hingga Hyuk Jae terlonjak. Aku menghubungkan sepasang tangannya menjadi satu ikatan yang kuat, sisi lain dari tubuhnya kutegapkan dengan benar, tampaklah dia tidak berdaya, bukan tidak berdaya yang bermaksud buruk, tetapi tidak berdaya yang tidak mampu melakukan apa-apa namun masih memiliki kekuatan yang cukup untuk menghentikanku.

Bagus, aku tersenyum. Jari-jariku membelai bibir Hyuk Jae yang ranum, kukangkangkan mulutnya paksa, kumasukkan kedua jariku sampai dia mendapatkan rasa kaget sungguhan. Dia hendak memuntahkan jariku dari mulutnya, namun dengan segenap cara aku menghalau giginya yang hendak menggigitku, pada satu waktu kucubit pipinya dan kukatakan padanya, "tidak ada satu inci dari tubuhmu pun yang ingin meninggalkanku." Aku membelai bibirnya yang basah dan berminyak, kami disinari lampu remang saling bergemuruh.

Kedua mata Hyuk Jae terbuka lebar, dia membawa lidahnya menuju kukuku. Melalui siksaan batin yang kuat, segaris kesenangan melintas di senyumnya yang pendek. Kuratapi wajahnya sangat yakin. "Hyuk Jae kita tidur bersama sekali, kau akan memutuskan mana yang terbaik. Maksudku itu aku, aku yang memutuskannya."

Hyuk Jae ingin bertanya tetapi pada akhirnya dia urung. Hyuk Jae bergeser menuju lantai yang lebih datar, matanya lalu terpejam rapat merasakan nikmat karena dia dicekoki kedua jariku, jari-jariku yang seharusnya dijijikkannya, malah nyaris membuatnya sulit bernapas, tetapi Hyuk Jae sendiri menginginkannya. Jadi tangannya menggapai pinggulku, seluruh napasnya pun menegang.

Aku memisahkan rambutnya yang menutupi kedua matanya, membelai dahinya, tetapi karena aku tidak bisa mengandalkan reaksi cinta ini, kupisahkan kepalanya dari tanganku. Bahkan dengan separuh sadar separuh tidak sadar ini, tatapannya yang mabuk memicu gairahku. Kami berlama-lama berpandangan buruk. Sayangnya aku menyerah. Aku sudah dikelabukan oleh Hyuk Jae seorang dan aku tergila-gila terhadapnya.

Di situlah dia akhirnya menyerah pada harga dirinya. Dia menarik celanaku sepelan hembusan angin, dia bersidekap antara senyum gelisah dan ragu-ragu. Aku pula merasa siap ditelan gairah, giginya menyentuh kejantananku yang terbalutkan kain. Dia mendesak kepalanya, dia menjilati milikku yang telah basah dan melicin. Aku mengamati segenap ketakutan dirinya terhadapku. Hyuk Jae menunggu responku, dia bisa melakukan apapun kepadaku tanpa izin yang sah, kecuali tentang putus dan begitulah akhirnya, dia menelan separuh penisku. Dia menatapku bersama ragam ekspresi tak wajar. Bibirnya segar menyentuh seujung kepasrahanku. Aku bilang padanya bahwa, 'aku menyerah,' dan dengan seluruh ketangkasannya dia menanggalkan kain terakhir di tubuhku.

Dia melaju lagi, namun sekarang lebih bersemangat. Selama beberapa saat dia hanya akan menjilat, menghisap, dicepatkan lagi kemudian kecepatannya menurun. Dia turut serta menghempiskan rahangnya supaya aku menemukan yang lebih gila. Pipiku terbakar oleh panas bibirnya. Hatiku seolah dibor seiring tatapan matanya yang memohon.

Beginikah akhirnya, bahwa aku memang tidak bisa menang darinya? Curang atau tidaknya, Donghae hanya tentang kekalahan bila dihadapkan oleh berangnya hati Hyuk Jae. Karena aku adalah pria yang cuma bisa mengalah, pokoknya sangat tidak berkemampuan dihadapan Hyuk Jae.

Aku akhirnya dipengaruhi oleh rasa tidak enak hati ini dan menyodok tenggorokkannya sampai dia tersedak. Aku mengoyak bibirnya yang dipenuhi ludah dan setitik kasihku. Dia mendorong pinggulku, heran dengan kemarahanku, dia mau meneriakiku tetapi aku membalas tatapannya dengan kemarahan yang lebih besar. Aku tersengal-sengal merasakan giginya menggesek kulitku yang tengah bergelora. Wajahnya menetes peluh, dagunya dialiri cairan. Tubuhnya berlavakan nafsu kepadaku. Dia memutar milikku di bibirnya, memenjarakan seluruh jengkal tubuhku, memagutnya terus-menerus. Padahal, kenyataanya, aku lah yang menerima segenap kenikmatan namun anehnya malah Hyuk Jae yang tak henti-hentinya memanggil namaku.

Oh Hyuk Jaeku sayang, seumpama kau tidak minta putus denganku, dan sepenggal pesan elektronik yang bangsat itu, maka kau akan seutuhnya kumiliki melalui seluruh keyakinan diriku yang besar. Hyuk Jae, kau tidak akan menemukan Donghae-Donghae lainnya. Hanya aku yang rela merasa setengah mati untukmu yang jalang.

Aku menghembuskan napas sengsara, "Hyuk Jae, baiknya kau membiarkanku sampai," kataku karena badan lidahnya menyumpal akses surgawiku. Hyuk Jae terbengong sebelum menyadari keanehanku dan tertawa. Bahkan tawanya meyiratkan sejuta keindahan.

Hyuk Jae menelan ludahnya yang banyak dan mengangakan mulutnya. Sesungguhnya, aku tidak ingin yang lebih emosional dari hanya menghisap kejantanan. Tetapi karena dia sudah menyerahkan dirinya (menyerahkan diri dengan sepenuh hati dan keluguan). Aku secara bengis sampai di lidahnya dan kedua matanya. Otomatis wajahnya dipenuhi oleh sisa kelengketan.

Cukup sudah.

.

.

.

Namun pria itu tetap berada di ponsel Hyuk Jae sehingga aku tidak bisa meredakan rasa iri hatiku. Lagipula mereka kan cuma teman minum kopi, tak perlu saling menyimpan nomor telepon. Secara ajaib kuhapus kontaknya, sedetik kemudian pesan-pesannya pun hilang. Aku pula mendapati sejumlah pesan yang bernuansa seduktif dari wanita-wanita yang dikenal Hyuk Jae di kelab itu. Salah satunya, berpesan begini, "Hyuk Jae, aku kagum dengan caramu berdansa. Aku ingin kita nari salsa kapan-kapan." Langkah ini bukan langkah yang mengagumkan buat mengajak seorang pria keluar kencan, karena Hyuk Jae tidak suka dipuji terlebih karena dia tidak suka salsa. Aku menghitung daftar-daftar nama lain lagi, dari yang berisi nama keluarga dan yang paling membuat rasa percayaku terhadapnya berkurang. Aku terheran-heran karena Hyuk Jae sudah menghapus kontak si Pustakawan yang kuno dan memilih bergabung kembali denganku menjadi sepasang pria lapuk yang busuk. Tidak hanya itu, aku pula menyisakan nomor telepon yang sekiranya penting saja, diantaranya adalah keluarga Hyuk Jae, kolega bisnisnya yang bersifat formal dan beberapa teman dekatnya yang kuketahui.

Aku pun memblokade segenap pesan sensual dari beberapa orang yang tak punya kerjaan dan pasti bisa diragukan kebersihan seksnya. Ada juga yang disembunyikan Hyuk Jae dariku, yaitu sosial medianya. Dia seminggu yang lalu berkenalan dengan seorang pria dan usianya sekitar lima belas tahun di atasnya. Tetapi tidak ada satupun kekacauan yang bisa lolos dari mataku. Aku menghapus segala kokotoran hidupnya dan dengan puas bersandar di tempat tidurnya. Mengapa dia bodoh sekali—dalam kasus ini konyolnya—berkelakuan genit bersama seorang pria yang sudah menikah, masih pula memiliki istri, dan cucunya seumuran keponakan Hyuk Jae? Luar biasanya lagi, mereka sudah bertukar alamat rumah dan aku ingin segera menonjok dinding sebab Hyuk Jae belum juga selesai mandi. Aku berinisiatif menelepon pria ini terlebih dahulu, aku tidak akan membiarkan pria ringkih yang suka selingkuh dengan pria muda datang ke rumah Hyuk Jae suatu saat nanti, bila seumpama memang benar suatu saat nanti dia datang, aku yang bakal menyapa wajahnya menggunakan kakiku dan akan kumasukkan dia ke penjara atas tuduhan pelecehan dan perbuatan mesum.

Pria itu dalam dua menit kegirangan mengangkat teleponnya, dikiranya aku ini adalah Hyuk Jae. Dia menyampaikan rasa senangnya dan suaranya separuh parau. Dia menggubris kapan terakhir kali Hyuk Jae mengiriminya pesan dan itu seminggu lalu. Aku tidak bisa menahan tawaku, aku meledak karena perutku terkocok dan aku tertawa. Dia menanyaiku Hyuk Jae (dimana pria yang akan diajak kencan diam-diam pergi). Aku menekan ponsel sedetik dia menyebut nama Hyuk Jae kemudian menghentikan tawaku yang aneh. Kusampaikan kepadanya, begini, "kau tua bangka, mati saja. Pecundang bau sepertimu harusnya berternak babi di desa, pria tidak berotak sepertimu itu tidak tahu diri!" Aku berteriak-teriak supaya memicu keingintahuan Hyuk Jae. "Kau tidak akan bisa tidur dengannya karena kau mungkin sudah dizinahi kutu dan baumu tidak segar, kau harusnya tahu diri. Aku lebih dulu tidur dengannya dan aku peringatkan padamu bangsat, jauh-jauh dari Hyuk Jae!"

Pria itu segera menutup telponnya dan berteriak bahwa aku sudah gila. Aku memancing Hyuk Jae dengan suaraku yang sengaja dikeras-keraskan, sehingga Hyuk Jae kurang dari semenit, keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah sehabis keremas. Memandangiku tak percaya sekaligus ragu serta dia mengataiku persis seperti apa yang baru saja tua bangka itu katakan padaku. Hyuk Jae buru-buru mengambil ponselnya, dan memeriksa mereka. Hyuk Jae berkacak pinggang, menyerah akan keadaan. "Apa yang salah denganmu Donghae?! Persetan, kau hapus semua nomor kolegaku!"

Aku memandanginya dari atas sampai ke bawah, aku tak pintar menyembunyikan kemarahanku jadi aku langsung mendekatinya. "Kalau kolega yang kau maksud adalah babi tua yang mau mengajakmu tidur, maka aku pantas bertindak lebih."

Hyuk Jae menggelengkan kepalanya, luar biasa tidak percaya. "Dia adalah salah satu kolega bisnisku dengan begitu kami bisa lanjutkan proyek." Dia bersabar hati menjelaskan maksudnya kepadaku.

Aku memandanginya naif seperti aku percaya, namun Hyuk Jae sendiri tahu bahwa itu hanya akal-akalan busuknya. "Hyuk Jae, dia sudah beristri dan kau berikan alamat rumahmu, kau itu pria berpenyakit." Hyuk Jae tanpa ragu menonjok wajahku, aku terjungkal lantas memegangi daguku yang merah. Terlebih dia baru saja menonjokku buat membela paruh baya nista yang tidak bersahaja itu. "Hyuk Jae dengan begini kau memperlihatkan rasa tidak percaya dirimu!"

"Aku berani sumpah kalau semua itu berhubungan dengan tetek bengek bisnis kami, Yesung bertanggung jawab langsung atas semua ini. Dan kalau suatu saat dia mengunjungiku, Yesung bakal berada di sana."

Aku terbangun memegangi dagu yang berdenyut perih karena tinjunya. "Aku akan memukul Yesung sampai babak belur," peringatku dan Hyuk Jae langsung waspada.

Dia mendecak ludahnya, meskipun aku kedengaran tidak waras dia ada baiknya tidak menyinggung suasana hati yang terlanjur keruh kecuali kalau dia mau aku benar-benar memukuli Yesung.

"Donghae kau itu bedebah sakit, keluar dari rumahku!" Dia berteriak seperti lolongan singa yang gelegarnya sampai menggetarkan hatiku. Dia meluruskan tubuhnya, posturnya sempurna lebih tinggi dua centi dariku.

Tetapi aku terlalu biasa dengan kata-katanya yang beromong kosong munafik. Jauh di dalam hatinya aku tahu dia tidak berkeinginan untukku pergi. Sah-sah saja kalau dia ingin aku pergi namun aku akan selalu kembali dan lagipula walau Hyuk Jae tidak mengindahkan secuil perasaanku yang telah teroyak olehnya aku akan berusaha mendapatkannya kembali, dalam kamusku berarti mengoyaknya sampai dia berkepig-keping supaya dia tahu seberapa pentingnya aku di dalam hidupnya. Biar dia sadar bila yang bergejolak bukan hanya Donghae justru dia sendiri juga akan mengalami sakit hati yang sama besarnya dengan kekosongan hidupku.

.

.

.

Aku menaruh sekumpulan cokelat beku ke dalam keranjang belanja dan dua botol bir dingin yang semula kuakumulasikan sebagai yang termahal dari segala jenis bir lainnya. Aku memilih, daging babi yang paling gemuk dan mungkin akan disukai Hyuk Jae yang lemaknya paling banyak dan merupakan favoritnya, selain bagian perut dan paha dalam. Aku merasa ada seseorang yang mengintaiku jadi aku segera memasukkan botol susu dan berpaling. Aku merasa sangat terganggu dengan keramaian yang ada karena itu berarti kasir akan dipenuhi banyak orang. Tidak hanya itu, aku merasa jantungku berdetak lebih keras. Salah satu teman kencan Hyuk Jae yang ditolaknya tidak sedang menguntitkukan? Tidak dendam akan kata-kataku yang separuhnya benar itukan? Aku sedang malas memulai keributan di depan umum, terlebih jika ada kolega bisnisku dan seorang bibi yang bekerja di sini dan dekat dengan ibuku, rebutan pacar tidak semestinya jadi konsumsi terang-terangan khalayak umum.

Aku mengelilingi rak-rak krim cukur dan barisan obat kumur mulut, pokoknya yang aromanya disenangi Hyuk Jae. Yang berwarna hijau yang paling menarik. Tetapi sebelum aku bisa meraihnya, sepasang tangan menyentuh tanganku sehingga aku langsung dibuat memandangi orang ini. Aku hampir saja menonjoki orang itu, untungnya aku tidak tengah dalam kondisi yang aneh, aku sedang menghadapi Jung Soo dan anaknya Henry yang lucu.

Henry menatap mataku yang membelalak kemudian tertawa dibarengi Jung Soo. "Pasti kau pikir kita siapa ya?"

Aku terkekeh dan menghapus sisa selai kacang di bibir Henry. "Aku hampir saja menonjok ayahmu, karena kau tahu, menguntiti orang dewasa itu licik." Henry tertawa dibuatku. Seorang teman Henry yang kupikir sebaya dengannya memanggilnya dari kejauhan dan Henry menyampaikan selamat tinggal yang sopan. Jung Soo meneriakinya buat segera pulang dan jangan kemana-mana. Aku pun mengatakan hal yang sama pula.

Jung Soo lalu menawan mataku, seolah ada yang tidak beres denganku, karena aku baru saja bercukur pagi ini dan tampangku tiba-tiba jadi dahsyat. Maksudku begini, mataku tidak lagi lesu, kulitku pun sudah hilang pucatnya. Aku sudah tampan semenjak jam empat pagi tadi, sebelum Hyuk Jae mengusirku dari rumahnya.

Jung Soo mengajakku berjalan bersamanya, kami menuju mesin kasir selagi mengobrol ringan. Aku belum khawatir karena Jung Soo belum menyangkutpautkan kesegaranku ini dengan Hyuk Jae. Namun dia memiliki prediksinya sendiri jadi dia menimpaliku begini, "apa yang terjadi?"

"Aku tidur dengan Hyuk Jae lagi. Ini gilakan? Aku sendiri tidak mempercayainya."

Sepanjang detik yang berlalu Jung Soo menahan mataku seolah-olah dia baru saja mendengar suatu kekacuan. Dia tampak marah tetapi dia menjadi lebih tenang dari sebelumnya. "Kau sinting. Apa yang terjadi padanya?"

Aku merasa ini adalah pertanyaannya yang nyata dan butuh jawaban serius. "Kami mengalami percekokan yang biasa, lalu aku menonjokinya, hal yang serupa juga terjadi padaku. Setelah itu kami saling rangkul-rangkulan."

Jung Soo mengalami trauma sehingga dia diam selama sesaat meracau. "Berakhir dengan kalian yang balikan lagi?"

Aku menggusar rambutku, sebenarnya aku tidak keberatan dengan balikan lagi karena begitulah memang rencanaku. Namun Hyuk Jae baru-baru ini berada di kehidupan sosial yang aneh, yang terlalu berat buatku ikut dengannya, kami tersusun diantara balok-balok yang berbeda, rasanya tak ada bedanya dengan putus atau dicampakkan. "Tidak, mungkin aku punya rencana, tapi belum. Dia ingin bertemu denganmu, katanya begitu."

Jung Soo menggeleng jijik. "Persetan Donghae, simpan saja dia buat pertengkaran kalian yang lain."

Sesungguhnya Jung Soo bukan orang yang begitu kejamnya menyimpan dendam, dia cuma melampiaskan kekesalannya oleh karena itu dia akan membuat dirinya merasa lebih baik. Kubiarkan ocehan yang tidak ada ujungnya mengantar kami menuju kasir. Aku bersyukur sebab tinggal seorang bibi tua dan seorang pria seumuranku yang membeli rokok serta sereal kotak. Sewaktu giliranku tiba, Jung Soo menawari untuk membayar seluruh belanjaanku tetapi sewaktu dia dengar bahwa setengah dari belanjaanku adalah milik Hyuk Jae dia urung melakukannya. Apalagi yang daging babi paling berlemak itu.

Aku menunggu giliran Jung Soo yang perlu lima belas menit lamanya karena Jung Soo sempat memarahi kasir yang lelet dan melalaikan diskon pembeli supaya uangnya dia simpan secara pribadi. Jung Soo pula dengan tegas menghardik wanita yang berniat menyalip tempatnya sebab Jung Soo terlalu lama marah-marah. Jung Soo bersama delikan matanya akhirnya berjalan bersamaku. Dia menyampaikan bahwa ada nilai-nilai moral yang dia lewatkan atas balikannya aku dan Hyuk Jae, jadi dia bilang dia bakal datang besok ke rumahku setelah dia pulang kerja buat mendiskusikan hubungan cintaku yang sudah patah ini secara serius. Aku ucapkan hati-hati kepadanya dan kami berpisah di blok kedua setelah lampu merah pertama, yang seratus meter jauhnya dari Supermarket.

.

.

.

Aku tidak memikirkan hal-hal lainnya lagi sewaktu aku sampai di depan rumah Hyuk Jae. Sebaliknya aku merasa begitu puas. Aku banyak menjunjung tinggi luapan kemaharan Hyuk Jae yang ditimpakannya kepadaku, meski potongan besar dari hinaannya menghujam hatiku, aku begitu merasa senang, aku seolah-olah terpuaskan karena dia terpengaruh oleh tingkah lakuku kepadanya. Dalam muslihat yang penuh dengki itu, bahwa dia membenciku, aku sadar kalau itu hanyalah taktik busuknya yang berarti perasaannya yang mulai mekar lagi kepadaku. Rasanya sungguh menyakitkan buat tahu bila kami sama-sama tidak bahagia dikondisi yang urakan semacam ini. Dia menuntut keadilan kelabu itu selagi aku hanya menginginkan egonya buat merendahlah sedikit untukku. Karena aku adalah pacar setianya yang walau tanpanya enggan bergonta-gonti teman telanjang.

Tidak seperti Hyuk Jae yang selalu kurang puas dengan satu pacar dalam dua tahun karirnya. Apalagi ketika aku melihatnya dirangkul oleh pria lain dengan seutas ikat pinggangnya yang bersinar dan wajahnya yang mengikrarkan ketidaknyamanan, dengan begitu dia menghardik kedatanganku karena aku memotong luapan asmara mereka. Mencegah mereka saling mengaitkan jiwa. Aku tidak menghargainya sama sekali, lebih dari itu aku sangat tidak bahagia. Memang benar aku kerap kali suka main tangan, bersikap brengsek, tetapi semua itu dipicu oleh perasaan cemburu dan tindakan semena-menanya padaku.

Tentu ini sangat tidak adil. Dua bulan bukan waktu untuk bersenang-senang, dua bulan berlalu seperti neraka yang panas. Dan Hyuk Jae selalu menjadi orang pertama yang mengenal rasa sakitku lebih baik dari diriku sendiri. Tetapi pada akhirnya itu hanya akan berakhir pada kehancuran terburuk. Maksudku patah hati dan putus, terlalu terdengar emosionalkan? Terutama ketika aku telah melenyapkan segenap kepercayaanku kepadanya. Rasa sakit berkali lipat menghujamku ketika segelas bir saja tidak bisa membunuh sentuhan Hyuk Jae yang merangsang jantungku, matanya yang berkilau, setiap jengkal tubuhnya itu. Tidak, kenyataannya bahwa aku sendiri membiarkannya membuatku terlunta-lunta adalah cara bahagia yang salah. Bahkan sekarang aku bukan hanya ingin menonjokinya, tetapi juga membabak belurkan pria yang merangkul bahunya yang semeter jauhnya dariku.

Hyuk Jae yang wajahnya sembunyi di dada pria itu dapat mendengar kegelisahanku, sepertinya dia sungguh-sungguh ingin memprovokasiku. Sehingga sewaktu wajahnya naik lagi kami bertatapan dan dia sekilas terkejut. Anehnya, dia sekilas terkejut. Bukan terkejut yang khawatir kalau aku bakal memergokinya merengkuh punggung pria lain, pergi bersama pria lain. Namun terkejut karena pada akhirnya aku ada disini. Seolah dia mengekspektasikan eksistensiku walau cuma separuh yakin aku benar-benar datang. Aku tidak mengubah pikiranku, aku langsung menonjokinya, dan aku kagum karena aku tidak menahan diri.

Aku hanya bilang ungkapan serapan yang kalau diartikan adalah hati yang genting dan peringatan untuknya buat jauh-jauh dariku maupun Hyuk Jae. Biarpun aku telah memukul rahang pria yang berambut cokelat ini sebanyak tujuh kali, Hyuk Jae dengan kepastian dirinya tidak menghentikanku, dan menurut pengetahuanku dia bilang dia suka melihat aku berdebat. Aku melakukan hal yang sama seperti aku menghantam pria-pria lain yang mendekati Hyuk Jae. Tanpa teknik yang meleset. Dalam diriku aku tidak terlalu bangga, dan aku ingin memikirkan cara lain untuk meredam diri atau mengeroyokinya terus sampai dia pingsan.

Demi Tuhan, sedetik aku mencengkram rahang pria tak bernama ini, suaranya yang tersengal-sengal karena kaget mencegahku buat menendang maupun menghantamnya lagi. Jadi aku tergesa-gesa bangun, menggusar rambutku yang kusut, menatap Hyuk Jae yang setengah matanya tertutup sebab dia mabuk. Oh Tuhan, betapa kacaunya aku sekarang. Aku ingin mendekat ke arah Hyuk Jae, memeluknya, disisi lain aku bersimpati terhadap kebobrokan Lee Donghae yang gila ini.

Benar, Hyuk Jae berhasil menghancurkan hidupku. Sepatutnya aku tidak merengek kepadanya, seharusnya aku membuatnya kapok dan lupakan kebahagiaan kami selamanya, yang turut serta akan menjadi cikal bakal putusnya kami.

Hyuk Jae mulai kelihatan bingung, tubuhnya lesu dan itu membuat dia senderen di pintu rumahnya. Seperti dia belum tersadar, dia hanya memperhatikanku selagi mengangakan mulutnya tetapi tak ada satu katapun yang keluar. Dia mungkin punya lebih banyak keberanian kalau dia sadar, tetapi tak ada seorangpun yang tahu apa yang ada dipikirannya. Sementara pria itu sudah kehilangan riwayatnya (maksudku tak sadarkan diri dan terkulai di atas lantai) bibirnya berdarah pula, sepatunya nyaris copot. Belum pasti kenapa dia sama sekali tidak bereaksi terhadap kemarahanku yang brutal.

Aku selalu menganggap orang-orang yang sejenis ini—pria yang tengah dikencani Hyuk Jae sekarang—adalah pria berbahaya, dan aku melalaikan keadaan yang lebih buruk dari dia yang bakal mengenali wajahku. Seperti ketika tetangga-tetangga Hyuk Jae yang suka ikut campur mengenaliku. Aku akan menganak tirikan perasaan pribadiku yang runyam ini. Oleh karena itu aku menjauh dari sepasang gundik yang memiliki semacam sinisme yang sama-sama besarnya kepadaku.

Pecundang yang urakan.

Sepintas aku mendengar Hyuk Jae meneriaku namaku. Dua atau tiga kali banyaknya. Berusaha buat menggagalkanku melarikan diri darinya. Namun itu tidak membuatku berhenti. Aku bergerak lebih cepat dengan lebih banyak ketegangan di langkahku. Gilanya dengan cinta yang sama besarnya.

.

.

.

Bagaimana bisa kami berakhir seperti ini yang hanya terdiri dari lima huruf yang arogan, putus, begitulah kami? Putus yang rasanya setengah mati, perpisahan ini hanyalah menyakitiku saja, akupun tak bangga dengan diriku yang kemarin baru melalui masa-masa ingin memperbarui hubungan kami. Bayangkan saja, menangis dan marah hanyalah kilasan balik yang cuma tentangku saja, Hyuk Jae tidak pernah patah hati, bagaimanapun aku mencoba itu agar terjadi. Bagaimana Hyuk Jae mengiris-iris hatiku dengan komentar jahat, selingkuh, tatapan matanya yang suka menyumpah serta merta dirinya yang berdansa bersama pria lain. Dengan segelas botol anggur di tangan Hyuk Jae, dia luwes menyapa seorang pria—ingatanku dulu—sungguh busuknya mereka saling tukar-tukaran nomor ponsel, berkonsultasi dari pengalaman patah hatinya dengan pria asing dan pria itu akan sependapat dengan Hyuk Jae bahwa aku adalah pacar yang suka mengatur. Tak akan bahagia bila aku masih pacarnya.

Aku pusing memikirkan sakit hatiku, kerinduanku terhadap cintanya, kasihnya dan sayangnya. Rasa pusing ini bukanlah rasa pusing yang menyenangkan, melainkan menjengkelkan sehabis mabuk. Aku terlalu serius menanggapi secuil kebohongannya itu. Aku pun sudah mentah-mentah menolak kedatangan Jung Soo yang dijanjikannya kemarin. Aku terlalu putus asanya sehingga yang kulakukan hanya menghela napas, mendengarkan suara dari keran air dan panggilan telepon Hyuk Jae karena dia khawatir. Sayangnya dia memang bertanggung jawab tentang sakit hatiku, dan menelponku untuk memastikan bila aku baik-baik saja tidaklah cukup. Tidak ingatkah dia kemarin, tatapan matanya yang angkuh? Mengapa dia beromong kosong mengenai sentimennya yang bohong? Aku menghapus nomor ponselnya kemarin, karena sikapnya yang tidak mencerminkan kebajikan orang dewasa.

Aku sudah memutuskan kalau aku tidak akan mengejar cintanya. Kalau kami sudah berakhir didua tahun hubungan kami dan minggu pertama dibulan Desember. Jika kudukung sifatnya yang jalang dan ingin menang sendiri ini dia akan keenakan menyadari bila ada seorang pria yang suka rela menunggu sadarnya Hyuk Jae. Aku menghubungi temanku bilamana aku akan izin kerja sebab aku baru saja mengalami masalah mental dan kesulitan menemukan jalan keluarnya. Temanku yang penuh nuansa duka menyampaikan simpatinya lalu menutup telepon. Sepertinya dia terpengaruh oleh keganjilanku dimasa-masa lampau terdahulu sehabis aku putus dari Hyuk Jae. Baiklah aku akan siap membuka hati, aku akan cari Hyuk Jae yang lain, yang lebih berwawasan luas darinya. Sadar komitmen, sukses, sempurna dan tidak punya tekanan psikologis sepertinya.

Aku hendaknya membuka lemari es tetapi seseorang memanggilku. "Donghae, buka pintunya." Itulah kedengarannya. Selang semenit yang panjang, aku menatapi pintu dengan murka. Siapa lagi kalau bukan dia? Aku tergoda antara pilihan buat membukakannya pintu atau mengusirnya. Tetapi karena aku bukan orang yang suka main hakim sendiri dan mengdepankan musyawarah, aku menyerah pada suaranya yang makin keras dan segera saja membuka pintu. Akibat itu dia masuk dengan wajahnya yang terpogoh-pogoh oleh kemarahan dan linangan airmata. Airmata itu pula sangat panas karena emosinya bercampur aduk.

Aku mengabaikan kasihanku lalu berpaling darinya. Dia menghapus airmatanya yang kentara, serius, dia baru saja menangis karena aku. Tidak, kenapa dia melakukannya? Bukannya aku lah yang harusnya bersungut-sungut dan tumpah ruahlah darahku semuanya? Aku kagum betapa dia yang berpeluhkan keringat, saking banyaknya keringat bercampur airmata, kulitnya berkilau, dia pula menangis tersedu-sedu sebab dia menyesal. Hyuk Jae yang bermandikan cahaya temaram dari lampu di samping meja, berjongkok kaget terhadap dirinya sendiri yang sudah bersikap keji kepada Donghae. Tak henti-hentinya dia memohon maaf.

"Maafkan aku Donghae, aku memang pria yang bodoh. Seharusnya tidak kulakukan itu, aku sangat egois dan tidak berotak, tapi percayalah aku masih sangat peduli mengenaimu."

Aku tertawa diselingi tangisku. "Memang benar. Tapi semuanya tidak mudah Hyuk Jae, kau brengsek, dan aku tidak mau memaafkanmu sama sekali. Ini terlalu menyakitkan buatku."

Hyuk Jae menatapiku, tidak bisa berkata apa-apa. "Aku mengerti, tapi Donghae, aku mengakui segalanya. Aku bersalah, aku idiot yang jalang. Ketahuilah, aku tidak tidur dengan satupun dari mereka. Meski begitu aku itu bajingan."

Aku mendapatkan sensasi khusus dari sepenggal kalimat itu yang mempengaruhi sejumlah kata-kata sehingga aku terbata menatapinya. Aku ingin menyingkirkannya dari rumahku, sesungguhnya itu adalah cara yang dibuat asal-asalan tetapi dia keburu minggir sehingga aku terlambat, dia meniru gerakan yang tadi dengan gaya yang ugal-ugalan, dia menepikan dirinya di ujung pintu dan menghadang seluruh akses keluar dari rumah. Aku disapu oleh angin berdesir, kemudian kuratapi keadaannya yang bagai terombang-ambing. Secara pribadi, sungguh kusenangi Hyuk Jae yang tak berdaya, yang tidak punya daya dan hanyalah bukan siapa-siapa sewaktu aku marah. Namun aku sudah paham sekali kalau kebrengsekannya yang kemarin tidak bisa kutoleransi.

Dia memandangiku penuh harap, sebulir keringat turun dari dahinya menuju pipinya yang licin. Tak terhitung jumlah tangisannya dan tangisanku pula. "Donghae maafkan aku, ayo kita bersama lagi. Aku adalah bajingan liar yang tidak tahu diuntung, benar, tapi aku masihlah mencintaimu. Donghae, aku merasa begitu bersalah," mohon Hyuk Jae.

Aku melongos, "aku tahu ini adalah cara yang praktis, kau minta maaf karena kau pikir kau tidak terlibat atas segala hal yang kau lakukan, sampai maaf saja cukup bagimu. Sebab bangsat tidak akan berubah dalam satu waktu yang singkat."

Hyuk Jae memandangiku dari jarak yang mengecewakan, tatapannya muram penuh dendam dan kusam dan kehampaan. "Tapi kau juga sama brengseknya denganku!" Hyuk Jae dengan kata-katanya itu menggelitik kemarahanku, aku memandanginya seperti ingin membunuhnya. Penuh nuansa kemurkaan, kudorong Hyuk Jae dari pintu, kujejali dia keluar, aku pun memukul bahunya dan dia kurang berakhlaknya mengomentari caraku yang kasar dibandingkan kesempatan-kesempatan sakit hatiku kemarin, ini bukanlah apa-apa.

Aku meneriakinya. "Hyuk Jae, tutup mulutmu! Kau itu jalang yang suka sekali memutar balikkan omonganku, sialan yang tidak berotak dan banyak bicara!"

Hyuk Jae tersadar dari hipnotis egonya, dia memohon kembali, "maafkan aku Donghae," sambil memegangi pintu.

Aku mendorongnya lebih kuat dan dia menangis makin keras, aku tidak ingin melihatnya, tidak dengan kondisi yang seperti ini dan kondisiku juga, terlepas dari segalanya, baiklah kami putus.

Hyuk Jae menghalangi kakiku sepenuh tenaga, aku bersikuat mental supaya tidak menonjokinya keluar dari rumahku. Tetapi karena dia sudah tidak berkeadaan wajar, menangis di depan pintuku dan meraung-meraung, seorang pria dan pacarnya memandangi aneh kami, penuh keganjilan, Hyuk Jae pula merengek agar tidak ditutupi pintu. Sungguh, mengapa tekad untuk melupakannya amatlah sulit? Kami hendaknya tidak boleh bertemu, tetapi serangan emosional yang terjadi sekarang dimana Hyuk Jae amatlah tegar menangis di depanku, penuh keinginan bersama membuat hatiku tergerak.

Aku pun menariknya masuk, dan kuteriaki sepasang domba yang mau tahu itu pergi jauh-jauh dari sini. Setelah kututup pintu dengan suara keras, Hyuk Jae terjatuh di lantai, menghapus airmatanya. Menyiratkan rasa yang tidak berdosa, kebeliaannya terhadap putus cinta dan putus asa. Hyuk Jae mengapa kau lucu sekali?

"Hyuk Jae, bayangkan bagaimana perasaanku. Bagaimana sakit hatiku sewaktu kau bilang semuanya selesai tanpa adanya persetujuan dari orang bobrok ini. Kau itu kejam sekali, kau tidak punya hati!"

Dia cuma meraung-raung setelah kukomentari. Tidak terhembus separuh napas pun darinya.

"Kau mempermainkan kewarasanku, kau itu gila. Aku memohon-mohon juga pada saat itu," naik kepala Hyuk Jae menatapiku, karma beginilah rasanya. "Tapi kau berkepala batu, kau sama sekali tidak bersimpati. Kita punya perbedaan yang signifikan, kau itu tidak berotak dan egois sementara aku masih sangat mencintaimu. Aku tidak memiliki setitik pun motivasi buat menyakitimu sebesar antusiasmu menghancurkan hatiku. Kau sebegitu hebatnya, Hyuk Jae."

Dia menangis lebih keras, kali ini persisnya dia melayangkan tendangan ke udara saking jengkelnya. Karena memang benar akulah orang yang sepatutnya sungguh mencintainya, alih-alih bermain mata dengan pria lain, aku mendidik hatiku agar melihatnya seorang. Hyuk Jae marah-marah, frustasi akan kelakuannya sendiri dan kelakuanku.

"Tapi begitupula denganmu Donghae, kau tidak mengerti kekeliruan apa yang membuatku jadi seperti ini! Ibumu, tidak, semua orang yang ada disekitarmu adalah pengecut yang suka menjelek-jelekkan aku sementara kau hanya menundukkan wajahmu seakan-akan kau setuju. Aku bukan hanya jalang di matamu saja, aku adalah brengsek yang tidak berperasaan di mata Jung Soo, aku pria tua yang suka mengatur bagi ibumu!"

Aku memejamkan mataku, terheran-heran dengan kata-katanya tapi Hyuk Jae buru-buru melanjutkan lagi. "Dan semuanya terasa begitu tidak adil, pada saat itu aku memutuskan bahwa aku tidak bisa menahannya lagi, dan kukatan padamu jikalau kau itu seorang pecundang yang bertingkah baik tapi kurang moral dalam hatinya. Memang benar aku menyesalinya, tetapi aku punya alasan mengapa aku melakukannya Donghae. Aku punya alasan spesifik yang menyangkutpautkanmu ke dalamnya juga."

Aku menjadi sadar akan kemarahannya, tetapi aku tidak bisa menerima kebiasaannya yang suka selingkuh serta main mata yang simbolis lewat sosial media, lewat interaksinya, lewat kelab dan seorang wanita lainnya. Aku tidak suka mereka.

"Sekarang kutanya padamu, siapa yang gila? Aku yang tidak henti-hentinya menggilaimu atau kau yang suka mempengaruhi pria naif sepertiku buat terus bersamamu, dalam kondisi yang meyakinkan, seperti diburu rasa cemburu, karena sial, kukira pada awalnya kita adalah pasangan harmonis yang siap menikah!"

"Donghae, kita gila, kita berdua sama-sama gila. Aku melakukan kesalahan, aku tidak bisa memaafkan diriku, aku sangat khawatir."

Aku merosot mengenai lantai, lututku sedemikian rupanya berdenyut-denyut ditambah tangisan Hyuk Jae. "Mengapa kau lakukan ini padaku?" tangisku berang kepadanya. Aku juga merengkuhnya ke dalam pelukanku, dia berbisik kepadaku. "Karena aku kehilangan kewarasanku, kaupun begitu."

.

.

.

END

.

.

.

Author note:

Ini happy ending, mereka balikan lagi kok xD

Any feedback?