Part 3
Aku berdiri di sini. Merasakan jantungku yang berdegup kencang. Ya, ini saatnya. Saat dimana janji akan terikat, Granger diganti Malfoy, lalu memakai cincin kemana-mana. Sebentar lagi. Bahkan ini lebih menegangkan dibanding saat hasil ujian diumumkan.
Aku menjatuhkan tubuhku, duduk di lantai. Persetan dengan gaun putih mahalku yang akan kotor. Lama-lama ini semakin terdengar menakutkan. Pada akhirnya aku akan hidup dengan manusia yang sama selama sisa hidupku. Mungkin di hidupku akan ditambah beberapa peraturan, atau lebih buruk lagi. Anak. Kenapa aku mau sih menikah dengannya? Bukannya sejak dulu kami memang tidak punya tujuan untuk menikah?
"Kau tahu kan, hubungan kita ini hanya untuk senang-senang?"
"Tentu saja. Rencananya aku juga tidak akan serius-serius amat menjalaninya."
Masa itu sepertinya sudah lama sekali. Nyatanya kami serius menjalaninya. Nyatanya hubungan kami bukan sebatas senang-senang. Nyatanya sebentar lagi aku akan jadi isterinya. Kenyataannya perkataan kami yang dulu hanyalah sebatas kata-kata. Kami melanggar komitmen kami sendiri.
"Aku tidak akan pernah menikah." Kataku sambil menatap seorang ibu yang mengejar anak laki-lakinya. Pria pirang yang duduk di sampingku melihatnya juga. Taman yang begitu ramai. "Kenapa?"
Ibu itu akhirnya berhasil mencapai anaknya. Memeluknya. "Ikatan, aku tidak suka terikat janji." Ia menatapku mengerutkan dahi. "Apa?"tanyaku. Draco hanya menggeleng,"kupikir kau tipe cewek yang suka hal-hal seperti ikatan dan janji. Cincin dan sebagainya."
"Benarkah? Sebetulnya, rencananya, aku tidak akan menikah." Lagi-lagi Draco mengeluarkan ekspresi yang sama. Tapi kali ini ia menanggapi,"aku ingin memiliki sebuah keluarga, dan sama sepertimu tanpa pernikahan." Kami berbicara seakan-akan kami bukan pasangan, tetapi sebagai teman yang sedang memikirkan masa depan.
"Bedanya aku tidak mau menghabiskan hidupku untuk membesarkan anak. Maksudku, kurasa lebih baik aku menambah ilmu kan? Lagipula populasi manusia sudah banyak tanpa perlu kutambah lagi."
Draco tersenyum menatapku. "Mungkin kau benar."
Kudengar pintu ruang riasku diketuk,"masuklah." Aku menumpukan kepala di lutut, sementara kedua tanganku menutup kepala. Singkatnya pose calon pengantin depresi. Tidak peduli.
"Sepertinya ada yang sedang tertekan, huh?" dari suaranya sudah bisa kutebak kalau si sialan Draco yang masuk. Tanpa melihat aku tahu ia sedang tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai. "Kau pikir gaun itu untuk duduk-duduk di lantai?" Diam, Draco. "Apa aku kelihatan seperti aku akan peduli?" dia tertawa. Tuh, kan. Kurasa ia ikut menjatuhkan diri di lantai. Duduk di sampingku, dan merangkul pundakku.
"Apa sekarang kau jadi ragu?" tanyanya dengan dahi berkerut.
Aku menatapnya, "entahlah. Mungkin ini hanya efek samping pernikahan yang rumit." Draco tersenyum kecil. Ia memelukku lebih erat memutar tubuhku berhadapan dengannya, lalu menyandarkan dahinya ke dahiku. Menutup matanya rapat, dalam jarak sedekat ini aku bisa melihat dahinya yang masih berkerut. Apa ia ragu juga? Lalu Draco kembali membuka matanya, "aku mencintaimu."
Kurasa mataku bertambah lebar atau wajahku memerah atau, pokoknya wajahku pasti sangat menggelikan karena Draco malah tertawa. "Apa?" sahutku kesal. "Apanya yang apa?" aku memelototinya dan dia malah tertawa kembali.
"Kau lucu," katanya sambil mengelap air mata akibat terlalu banyak tertawa. Aku mendelik.
"Jadi kau tidak akan membalas pernyataanku?"
"Huh?"
"Aku bilang, aku mencintaimu." Dan kurasa pipiku merona lagi. Pipi pengkhianat.
Dan Draco tertawa lagi. "Oh, Hermione, kurasa kau tidak perlu perona pipi. Aku hanya perlu mengatakan bahwa aku mencintaimu dan pipimu akan merah."
Iya, terus saja mengatakannya dengan sengaja. Bilang terus "aku mencintaimu" supaya pipiku tambah merah.
"Tuh, kan. Lihat pipimu. Padahal tadi aku tidak bermaksud bilang aku mencintaimu, lho." Ia menyeringai, yang anehnya terlihat manis.
"Sialan."
"Jadi itu balasanmu setelah aku bilang aku mencintaimu?" tanyanya lagi dengan seringaian yang tambah lebar. "Sudahlah Draco, sebentar lagi aku akan jadi isterimu dan kau masih tetap membuatku jadi lelucon."
Ia terdiam sebentar, lalu kembali tersenyum. "Jadi kau sadar juga kau akan jadi isteriku."
"Tentu saja, bodoh."
"Tapi sampai sekarang kau masih belum membalas pernyataanku, padahal aku sudah bilang bahwa aku mencin…" kali ini aku memotong kalimatnya, "iya, iya. Aku tahu."
"Apanya yang iya?"
"Bahwa kau mencintaiku juga?" lanjutnya.
"Aku…"
"Kau apa?"
"Aku… aku mencintaimu." Ia tersenyum. Lalu tanpa basa-basi langsung melumat bibirku.
Entah sekarang jam berapa. Yang kulakukan dari tadi hanyalah duduk diam di kamar ini, menatap foto pernikahan yang dipajang di dinding dekat pintu. Aku heran mengapa Draco bersikeras mengubah warna foto itu menjadi hitam-putih. Diam-diam aku sering membayangkan jika saja kami tinggal di rumah orang tua Malfoy yang misterius dan menyeramkan itu, betapa cocoknya dengan foto pernikahan kami yang kuno. Atau mungkin Draco yang memang suka segala sesuatu yang terlihat termakan usia?
Atau lebih aneh lagi aku merasa takut dengan rumah itu. Dan aku bukanlah orang yang penakut, apalagi hanya karena sebuah rumah tua.
Yang penting aku tidak tinggal di rumah itu.
Draco menghilang entah kemana dan masih belum kembali sampai sekarang. Aku mulai bosan menunggunya dan beberapa hari ini aku mulai penasaran dengan apa yang dilakukannya setiap malam. Juga, oh, bahkan ketika kami sekarang menempati satu kamar ada daerah-daerah yang tidak boleh kulihat atau kubuka. Berangkas miliknya, misalnya.
Pernah sekali aku mengintip ke dalam berangkas itu ketika Draco membukanya. Kosong. Aku dapat melihat dinding bagian dalam dari berangkas tersebut, apa yang ditaruh Draco di sana?
Mataku melirik singkat ke arah jendela. Sepertinya masih lama sampai Draco pulang. Kuputuskan untuk menyelidiki apa yang disembunyikannya dariku.
Sudah lama sejak terakhir kali aku mengunjungi Diagon Alley. Aku perlu membeli beberapa perkamen kosong dan buku-buku baru. Lalu sedikit melihat-lihat, sepertinya tempat ini telah berubah begitu banyak.
Begitu juga dengan orang-orangnya.
Terakhir kali aku ke sini, setidaknya beberapa orang masih mengenaliku-well, setidaknya tahu dari keluarga mana aku berasal. Tapi sekarang, mereka bahkan tidak melirikku. Sama sekali tidak tahu dan peduli.
Dasar, orang-orang jaman sekarang.
TBC
