Don't Let Me Down

Pair : Sasusaku

Rate : T

Chap 2 : Sekarang

" Sakura-chan jangan khawatir, paman berambut putih gondrong itu adalah orang baik! Ino pernah dibelikan paman itu ice cream!"

Bodohnya Sakura percaya.

Sebelum umurnya beranjak tiga belas tahun seperti sekarang, enam tahun lalu Tsunade menjualnya kepada paman Jiraiya. Menurutnya sendiri, Jiraiya adalah orang yang baik. Paman mesum itu bahkan sering memberi makan para tunawisma di jalan.

" Maaf menunggu lama!" Ia mengantarkan beberapa botol alkohol di meja paling ujung.

Jiraiya adalah teman lama Tsunade. Nenek lampir berambut pirang itu ternyata bukanlah orang baik. Ino yang terlalu polos malah menganggapnya baik-baik saja. Hidupnya pun berakhir di kelab malam milik Jiraiya.

" Sakura-chan! Antarkan dua lagi untuk kami!" Pria di sisi kanan kelab sana melambaikan tangannya, wajahnya tampak memerah karena mabuk. Menurut Sakura, pria itu bukan pemabuk yang biasa kesini. Biasanya adalah orang yang di-PHK dari pekerjaannya atau bisa jadi pengangguran.

Setelah lewat tengah malam. Para gadis akan keluar dan menari seksi diatas panggung disana. Beberapa dari mereka adalah profesional, mereka tak mau menghabiskan malam dengan para idiot. Biasanya mereka akan memikat para pria kaya, tak perduli tua atau pun muda.

" Sakura-chan!"

Sakura pun melesat menuju meja di sisi kiri ujung.

" Antarkan aku tiga gelas alkohol dan..." Pria tua itu mendekatinya.

" ...Beberapa gadis cantik tentunya" Sakura bergidik ngeri.

" Baik!"

Sakura buru-buru pergi.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti.

Pranggg!

Sakura menghela nafas panjang. Seperti biasanya pak tua itu sering sekali memecahkan botol alkohol.

Buagh!

Sakura merasa hal buruk akan segera terjadi.

Gadis-gadis berteriak takut. Dapat Sakura dengar beberapa orang disana berkelahi. Kenapa?, biasanya hanya ibu-ibu yang datang dan memaki-maki tempat ini.

" Semuanya angkat tangan!"

Sakura berbalik sembari mengangkat kedua tangannya. Kelab terlihat berantakan. Gelas-gelas alkohol pecah dimana-mana, beberapa kepala pengunjung terlihat berdarah. Para penari profesional itu pun hilang entah kemana.

Yang tersisa hanyalah orang-orang bodoh yang hanya bisa berteriak takut.

" Apa yang kau lakukan?! Kau seperti anjing gila!" Bapak tua yang terlihat mabuk itu mencoba melawan, di tangannya ia menggenggam pecahan gelas.

Dengan raut marah pak tua itu mendekati para pria berseragam hitam. " Kau benar-benar menghancurkan malam indah ini! Dasar anjing gila! Kau tahu apa yang tela—

Dorr!

Percikan darahnya mengenai wajah Sakura. Pak tua itu ambruk dihadapannya. Dendam apa yang dimiliki orang-orang itu pada para pengunjung?, Sakura tak mengerti. Meski dari dulu yang juga ia inginkan adalah menghancurkan tempat nista ini.

Tapi semua ini terlalu mengerikan.

Indra penciumannya menangkap bau amis darah dimana-mana.

Orang-orang berseragam hitam itu menembak siapapun yang mencoba lari dari tempatnya. Beberapa orang yang berlarian takut dihadapan Sakura ambruk satu persatu. Perlahan teriakan-teriakan itu memudar.

Seharusnya tempat ini baik-baik saja.

Kenapa ia merasa marah?

Bukannya ia juga membenci tempat ini.

Diantara temaram lampu-lampu kelab yang kebanyakan sudah pecah, pria itu mendatanginya. Pria itu tak memegang senjata seperti yang lain. Sakura tak dapat melihat wajah sang pria dengan jelas, tapi Sakura yakin pria itu tersenyum puas terhadapnya.

" Aku menantikan kehancuran ini"

Seringai kejamnya seolah berkata ia menikmati pemandangan merah ini.

" Tuan! Apa kami perlu membunuh gadis berambut merah muda itu! Dia telah melihat wajah anda Tuan! Bagaimana jika ini tersebar ke media? Bisa-bisa kita akan melarikan diri lagi!" Satu-satunya pria berjas putih itu tampak khawatir.

Sang Tuan menggelengkan kepalanya. " Kau yakin? Gadis cilik itu bisa menghancurkanku?" Ia terkekeh pelan.

" Bukan itu...Maksud saya..."

" Kau ingin kepalamu kugantung di kantor kepolisian?" Sepertinya mood sang Tuan sedang buruk.

Pelayan itu menggeleng takut. " Saya tidak akan membunuh gadis merah muda itu!"

" Baguslah jika kau mengerti. Sebuah permata akan tampak semakin indah jika dipoles, aku yakin akan itu"

Ia memegang dagu Sakura. " Aku menginginkan gadis ini"