Kau pikir kata 'jodoh' hanya untuk mereka yang akan menjadi pasangan hidup-matimu? Jodoh adalah mereka yang telah ditakdirkan untuk meninggalkan jejak di hatimu.
.
.
"By Chance"
.
.
.
© Skyzhe K-Pad's Imagination
Standard Disclaimer Applied © by Masashi Kishimoto
.
.
.
Warning Inside! Alternative Universe and (Like the other authors, I hardly try not to make it) Out Of Character
Almost Like Drabble, Ridiculous Things, and Ordinary Ideas
Pure Friendship for This Chapter
.
.
.
Chapter 1: Meet (Prologue One)
Sakura merenggangkan tubuhnya dan menatap ke sekeliling. Gerbong kereta kelas reguler itu masih cukup lenggang seperti tadi pagi. Gadis berambut sewarna permen kapas itu menutup mulutnya dengan punggung tangan saat kuapan kecil memaksa keluar, lalu diteruskan dengan ritual bangun tidur lainnya seperti mengucek mata serta menepuk pipi pelan. 'Eh, ini jam berapa?'
Sakura melihat ke arloji yang melingkari pergelangan tangannya. 08.34 AM. Emerald Sakura sontak melebar. Demi apa! Dia tidur lebih dari empat jam! Buru-buru gadis berambut sebahu itu menatap keluar jendela, dengan susah payah akhirnya ia dapat menarik napas panjang lega ketika di antara derasnya hujan salju dapat ia kenali stasiun tempat kereta tumpangannya berhenti itu masih sama dengan yang terakhir kali dia lihat. Setidaknya ia tidak terlewat dari stasiun tujuannya. Tapi kelegaan itu segera berubah menjadi panik, kenapa keretanya tetap berada di stasiun yang sama sejak 6 jam yang lalu?
"Baru bangun, Saku?" sebuah suara sopran menyapa gendang telinga Sakura, membuat gadis itu menoleh ke pemilik suara. Terhenyak selama sedetik, Sakura nyaris lupa kalau dia tidak bepergian ke rumah neneknya sendirian kali ini. Merasa jauh lebih lega dari yang tadi, Sakura tersenyum.
"Hu-um. Kau dari mana, Ino?" Sakura berdehem, suaranya serak dan tenggorokannya kering sekali. Kapan terakhir kali dia minum? Seingatnya kemarin setelah makan malam yang cukup hambar di atas kereta. Gawat, bisa-bisa dia terkena dehidrasi.
Ino mendengus dan menggelengkan kepala saat menangkap raut kesakitan dari wajah sahabatnya itu. Buru-buru dia mengambil sebotol kecil air mineral dari tas kertas coklat yang sejak tadi dibawanya dan menyodorkan kepada Sakura yang menyambarnya penuh terima kasih. "Dari gerbong dapur, membeli makanan. Kau tidur nyenyak sekali, aku tak tega membangunkanmu."
Gadis berambut pirang itu kemudian duduk di kursi seberang Sakura, kembali mengaduk tas kertas coklat di tangannya. Sedetik kemudian sudah ada sekaleng kopi hitam di tangannya. Sakura mengerutkan alis.
"Kau sudah tidur, Ino?" suara khas pembuka kaleng yang terlepas dari tempatnya sedikit menyamarkan suara Sakura, tapi Ino masih mampu mendengarnya. Gadis bermata biru laut itu hanya menggeleng sambil mulai menenggak minumannya, tanpa sedotan. Sakura mendengus. 'Anggun sekali.'
"Siapa yang cerewet menceramahiku tentang keanggunan selama ini?" Sakura merenggut tas kertas coklat yang Ino letakkan di atas meja kecil di hadapan mereka dan mencari benda serupa pipa panjang berukuran kecil yang mungkin ada di sana.
Ino tersenyum geli. "Percuma saja kau mencari sedotan di sana, aku tadi menolaknya." Sakura mendongak, kedua alisnya terangkat tinggi. Tak biasanya sahabatnya yang 'sok' anggun itu bersikap seperti ini.
"Aku sedang kesal, kau tahu? Badai ini membuatku bosan. Dan kau sering bilang padaku bahwa minum dengan langsung menenggak dari kaleng atau botolnya mampu menyalurkan emosi kita, kan?" Sakura tertawa pelan melihat seringai jenaka dari sahabatnya.
"Apakah membantu?" Sakura mengeluarkan apel yang juga ada di dalam tas belanja Ino, tanpa meminta izin langsung mengigit buah berkulit merah mengkilap itu. Sebelah alis Ino naik satu senti, lalu tersenyum dan mengangkat bahunya ringan. "Yeah, lumayan." Gumamnya asal.
Kedua gadis itu sejenak terdiam, bersama-sama mengamati langit yang berwarna pekat. "Hmmph, sampai kapan badai ini akan berlangsung? Sejak tadi e-mail Sai-kun terus memenuhi inbox-ku dan aku harus bolak-balik keluar masuk kereta api karena dia ingin mendengar suaraku, memastikan apakah aku masih hidup atau tidak. Tak tahukah dia bahwa apa yang dia lakukan bisa membuatku mati perlahan? Aku bahkan tidak bisa tidur satu jam pun karena dia terus menerorku!"
Sakura tergelak ringan melihat raut depresi yang ditampilkan Ino. Bibir gadis berambut satu jengkal lebih panjang darinya itu mengerucut dan wajahnya memerah karena kesal. "Wajar saja Sai bersikap seperti itu, Ino. Kalian baru saja menikah dan alih-alih bulan madu dengannya, kau malah memilih pergi denganku. Aku bahkan ragu apakah kalian sudah melewati malam pertama kalian?"
Dan sebuah jitakan segera diperoleh Sakura di jidatnya yang tertutupi poni. Gadis yang resmi menjadi tunangan bungsu dari keluarga Uchiha sebulan yang lalu itu hanya tertawa sambil berusaha menyingkirkan kepalan tangan Ino dari kepalanya.
"Sialan kau, Saku. Itu urusan pribadiku dengan Sai. Mana mungkin aku bisa bulan madu dengan tenang jika sahabatku sedang sibuk menyiapkan pernikahannya?" sahut Ino dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Gadis itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik sengit, "Tentu saja aku sudah melewati malam pertama kami, Bodoh! Kau pikir aku mau melewatkannya?"—membuat tawa Sakura makin mengeras hingga gadis itu berusaha meredam tawanya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Ino sendiri setelah selesai mengatakan itu ikut tersenyum geli, menyadari ketololannya.
"Lagipula bagaimana denganmu sendiri? Bukannya setahuku calon suamimu itu lebih over protective daripada suamiku, ya?" Ino menyeringai jenaka. Tanggapan dari Sakura membuatnya mengernyit. Pasalnya, sahabat merah mudanya itu buru-buru menyambar tas ransel yang tadinya ia gunakan sebagai bantal di dekat jendela dan mengaduk isinya dengan brutal.
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Sakura segera mengeluarkan benda itu. Ponsel merah hadiah dari Ino tampak di antara genggaman jari-jarinya yang entang mengapa memucat. Perlahan Sakura mendongak, menatap Ino dengan wajah yang meringis lucu seolah mencari dukungan. "Aku lupa kalau aku mematikan ponselku sejak kemarin. Hemat baterai."
Ino melongo dan nyaris meledak tertawa menghadapi tingkah polos dari sahabatnya itu. "Kau pikir di sini tidak ada pengisian baterai? Kau ini ada-ada saja, Saku." Sakura hanya mencebik dan dengan tangan gemetaran memberanikan diri menyalakan ponselnya.
Aura di sekitar kedua gadis tampak sedikit mencekam saat keduanya dengan tatapan intens mengamati ponsel di pangkuan Sakura. Satu menit kemudian ponsel itu bergetar, membuat pemiliknya sedikit terlonjak dan terus bergetar hingga nyaris lima menit penuh berikutnya.
Setelah benar-benar berhenti, Ino segera menyenggol tulang kering Sakura pelan dengan ujung sepatu bot merahnya. "Coba lihat berapa e-mail yang dia kirimkan padamu?" Sakura mengangguk ragu dan menekan layar touch-screen ponselnya dengan takut-takut. Melihat apa yang ditampilkan layar benda elektronik itu membuat Sakura terhenyak dan segera mendongak menatap horor Ino.
Ino yang merasa tak sabar segera menyambar ponsel Sakura dan nyaris tersedak ludahnya sendiri saat melihat apa yang menjadi sumber kekakuan sahabatnya. Hell, 163 new mail! Dan Ino melihat tanda berupa gambar amplop kecil di pojok ponsel Sakura masih berkedip, tanda inbox ponsel itu terlalu penuh dan harus dikosongkan untuk menerima e-mail baru lainnya. Ino menggeleng takjub, Sasuke benar-benar terobsesi pada sahabatnya!
Baru saja jempol Ino akan menyentuh layar touch-screen ponsel di tangannya, ketika dengan tiba-tiba benda itu bergetar dan menampilkan pemberitahuan berbeda. Membuat gadis itu nyaris melemparkan ponsel itu kembali pemiliknya.
.
.
Sasuke-kun calling...
.
.
Buru-buru Ino menyorongkan benda yang cukup ringan itu ke Sakura. "Your hunny-bunny-sweety, Saku!" ujar gadis itu asal. Sakura nyaris ingin melemparkan ponselnya itu juga ke Ino jika saja tak segera disadarinya bahwa apa yang akan ia lakukan itu konyol.
Sakura menatap nanar ponselnya untuk beberapa saat. "Untuk kebaikanmu, Saku. Angkat panggilan itu dengan jarak sekitar 25 cm dari telingamu dan saranku...," Ino memberi jeda hingga Sakura mendongak penasaran, "—kerahkan seluruh kemampuan merengekmu. Aku jamin itu akan membuat Sasuke mengurangi omelannya menjadi sekitar ...," (Ino mengetukkan jari telunjuknya yang lentik ke bibirnya, kebiasaannya jika berpikir), "Satu jam." Yakin gadis itu kemudian dengan ringisan di wajah cantiknya.
Sontak membuat Sakura membulatkan mata ngeri. Pasalnya, tebakan Ino tentang Sasuke seringkali tepat—lebih tepat dari dirinya sendiri ( karena Sasuke yang notabene sahabat Naruto, sepupu Ino, sejak kecil). Gadis itu terlihat makin enggan mengangkat telpon dari tunangannya. "Angkat saja. Kau tentu tau dia mencemaskanmu. Jangan sampai saat kita pulang nanti aku mendapati suamiku babak belur karena dihajar tunanganmu itu, Saku. Kau tau Sasuke sering lepas kontrol jika sudah berhubungan dengan hal-hal yang berkaitan tentang keselamatanmu, kan?"
Sakura meneguk ludah dengan susah payah, ia masih terpaku untuk beberapa saat. Kesal karena temannya tak juga memiliki keberanian menghadapi tunangannya sendiri itu, Ino akhirnya menarik Sakura berlari melewati lorong gerbong yang panjang dan keluar melalui pintu yang terbuka secara otomatis. Karena sudah terlanjur sampai di platform, dengan keberanian yang hampir menyerupai nekat Sakura buru-buru menekan gambar tombol hijau di layar ponselnya lalu mendekatkan speaker ke telinga. Bodohnya, ia lupa dengan peringatan Ino tentang ja-rak.
"HARUNO SAKURA! KENAPA PONSELMU MATI? KAU TAK TAU SEBERAPA KHAWATIRNYA AKU?" Alhasil, telinga Sakura berdenging hebat menerima bentakan keras dari suara bariton di seberang sana.
Ino membekap mulut agar suara ledakan tawanya tidak mencapai telinga lawan bicara Sakura. Jika sampai itu terjadi, matilah dia ikut kena omelan tuan muda Uchiha itu. Gadis itu buru-buru menyikut pelan rusuk Sakura dan berucap tanpa suara, "Bodoh, merengeklah!" saat ia menangkap gestur tubuh Sakura yang nekat akan balas membentak jika saja tak segera diingatkan.
Sakura buru-buru memasang wajah semelas mungkin dan membuat suaranya menjadi merengek, "Sasuke-kuuuuuuun! Maafkan aaakuuuuu."
Dan setelah itu Ino mendapat hiburan menarik dari nona muda Haruno yang mendapat omelan gratis dari tunangannya selama—well, tebakannya tepat—satu jam penuh. Berikut dilanjutkan dengan interogasi selama nyaris setengah jam dan obrolan 'mesra' berupa adu mulut tentang hal-hal yang menyangkut persiapan pernikahan mereka selama lebih dari dua jam setengah. Total kurang lebih 4 jam Sakura mengobrol dengan Sasuke.
Apakah Ino dengan sabar menontonnya? Tentu saja tidak, karena tidak lebih dari 5 detik setelah sesi omelan Sasuke selesai, Sai kembali menghubunginya.
Sigh, apakah pemuda-pemuda itu tak bisa membiarkan gadis-gadis mereka lepas dari pengawasan mereka dan bernapas, eh?
.
.
.
Persahabatan selalu menjadi sebuah tanggung jawab yang manis, tanpa menangguk keuntungan.
.
.
.
Tenten menggigit bibir bagian dalamnya gugup melihat keadaan di luar bus yang cukup menyeramkan. Seluruh penumpang di bus yang ia tumpangi sudah sibuk berdoa dan meracau pelan. Kenapa dia tak menuruti nasihat ibunya untuk berangkat besok lusa saja? Tuhan, bahkan petugas pendamping di bus itu harus terus menghapus embun di kaca depan bagian dalam yang menghalangi pandangan sopir setidaknya tiga kali setiap menit. Kenapa perusahaan bus hari ini nekat memberangkatkan penumpang mereka? Apakah mereka tak melihat berita ramalan cuaca kemarin?
Lelah terus mencemaskan hal yang tak pasti, Tenten membuka tas ransel di pangkuannya. Mengaduk-aduk isinya sejenak sebelum menemukan apa yang dicarinya. Headphone coklat dan MP3 kesayangannya. Mencoba menyamankan diri, Tenten memasang headphone itu di kepalanya, mencari musik yang ceria, lalu mulai asyik tenggelam ke dunianya sendiri.
.
.
"Maaf? Boleh aku duduk di sini?"
Lagu yang didengarkan Tenten bahkan belum mencapai reff-nya saat gadis itu merasakan sebuah tepukan lembut di bahunya, lalu diikuti dengan suara lembut seorang gadis yang samar-samar menyapanya.
Dengan gerakan reflek yang cepat Tenten segera mengubah posisi headphone-nya hingga menjadi tergantung di leher dan menoleh. Mata coklat Tenten segera bertubrukan dengan sepasang mata hitam dari seorang gadis berambut pendek yang menatapnya ragu.
"Kursiku ada tepat di belakangmu, aku perhatikan sejak tadi kau duduk sendirian, sama sepertiku. Jadi boleh aku duduk di sini? Aku bosan sejak tadi sendirian." Gadis yang memiliki warna rambut nyaris sama dengannya itu menjelaskan perlahan, masih dengan raut ragu. Buru-buru Tenten memasang senyum bersahabat dan mengangguk. "Tentu."
Gadis itu mengambil tas selempang terbuat dari bahan jeans yang ia tinggalkan di kursi asalnya lalu mengenyakkan diri di kursi samping Tenten. Sejenak Tenten mengamati gadis itu dari ujung kaki hingga puncak kepala. Gadis itu memakai mantel panjang nyaris selutut berwarna pink pudar yang kancingnya terpasang dengan sempurna—dipadukan dengan celana hitam panjang, sepasang sepatu kets coklat gelap, syal hitam dengan motif garis abstrak biru, topi wol biru, dan sepasang sarung tangan warna hitam. Simpel tapi manis.
Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh dan balas memandang Tenten yang buru-buru tersenyum dan mencari bahan pembicaraan, "Namaku Tenten, Takeda Tenten." Katanya ramah sambil mengulurkan tangan.
Gadis lawan bicaranya pun menyambut uluran tangan itu dan tersenyum hangat, membuat matanya yang berbentuk hazel sedikit menyipit. "Senang berkenalan denganmu, Tenten-san. Namaku Matsuri, Kono Matsuri."
"Matsuri, eh? Matsuri-chan? Kenapa kau tak sekalian memanggilku 'sama'? Panggil saja aku dengan menggunakan nama kecilku, karena aku juga akan memanggilmu dengan nama kecilmu." Tukas Tenten cepat dengan nada yang tegas dan terkontrol, terlihat sangat terkendali dan senyum sangat cerah terukir di bibirnya. Matsuri terpaku sejenak, namun segera membalas dengan senyuman manis.
"Tentu."
.
.
.
Sebuah senyum yang menghantarkan sebuah kehangatan adalah guna-guna paling mematikan di setiap awal perjumpaan.
.
.
.
"Ji-san, apakah kau yakin aku tidak ketinggalan kereta?" Gojou, Sopir dari sedan hitam yang merayap dengan kecepatan stabil di bawah guyuran salju di jalanan utama itu tampak menghela napas panjang jengah. Sudah berulang kali gadis manis yang duduk di bangku belakang mobil yang dikendarainya itu melontarkan pertanyaan yang sama.
"Yakin, Nona. Dengan badai yang sejak tadi malam terus mengancam apakah Anda pikir akan membuat petugas stasiun nekat memberangkatkan kereta?" sahut pria berusia setengah baya itu dengan sabar dan tenang. Cukup meyakinkan sebenarnya, tapi berhubung lawan bicaranya dilahirkan dengan sifat yang terlalu mudah gugup, membuatnya ucapannya tak cukup memberikan efek.
Dilihatnya memalui kaca spion depan mobil itu bagaimana keadaan gadis manis berambut biru gelap sepunggung yang telah dilayaninya sejak beberapa belas tahun lalu itu, tetap menangkup dan saling meremas tangannya yang tertutup sarung tangan hijau muda.
Gojou menghela napas panjang. "Apakah tidak lebih baik ditunda saja, Nona? Sampai badai benar-benar reda? Sekarang saja kita sudah dikira gila karena mengendarai mobil di tengah ancaman amukan badai seperti ini." Pria itu melemparkan pandangan sekilas ke arah luar. Ia dapat melihat sosok-sosok di balik beberapa bangunan—baik itu rumah maupun gedung-gedung lainnya—yang memiliki jendela kaca besar di bagian depan dan beberapa orang yang masih belum beruntung untuk mencapai tempat berteduh mereka, mengawasi mobil mereka dan mobil-mobil lainnya yang tampak sangat mencolok di tengah lebatnya hujan salju dengan pandangan skeptis atau menggeleng-gelengkan kepala heran.
"Tidak bisa, Ji-san. Neji-nii sudah membelikan tiket ini untukku sejak jauh-jauh hari, sayang kan kalau disia-siakan? Lagipula ini satu-satunya kesempatan bagiku bisa naik kereta, sendirian, sekaligus tanpa pengawasan dua 'pengasuh besarku', Ji-san." Pria itu mau tak mau meledak tertawa saat melihat bagaimana nonanya itu memasang wajah sedemikian serius, seakan benar-benar tak ada kesempatan kedua baginya untuk bisa merasakan naik kendaraan umum selain taksi ataupun bus umum sendirian.
Namun pria itu mengangguk-angguk memahami, sejak kecil seorang Hyuuga Hinata jarang sekali dapat merasakan kebebasan. Hidup dalam bayang-bayang kematian Ibu dan adik perempuannya, membuat gadis bermata abu-abu keunguan itu dijaga dengan sangat hati-hati oleh kedua pria yang paling dia sayangi sekaligus hormati, Ayah dan kakaknya.
Tapi apakah sebuah harga kebebasan ini sepadan dengan apa yang dilakukan nonanya itu sekarang? Nekat menerobos salju yang membawa 'pertanda awal akan terjadinya badai' demi naik kendaraan umum yang kemungkinan besar akan terjebak badai?
"Ji-san! Berhenti sebentar!" seruan Hinata membuat sopir keluarga Hyuuga itu buru-buru menginjak pedal rem sekuat tenaga, memberikan goncangan yang sangat besar bagi keduanya. Untung ada orang jenius yang menemukan seatbelt, kalau tidak mungkin mereka sudah terlempar dari kaca depan mobil sekarang. 'Atau setidaknya hanya aku', pikir pria itu getir.
Dilihatnya lagi melalui kaca spion hal gila apa lagi yang ingin dilakukan nonanya itu. Pria itu buru-buru menoleh ke belakang dengan raut kaget saat Hinata membuka jendela pintu belakang mobil sebelah kiri.
"Hei, apa yang sedang kau lakukan di sana?" Gojou mengernyit tak percaya mendapat nonanya yang biasanya begitu penurut dapat berteriak dengan lantang. Penasaran, pria yang rambut hitamnya mulai memutih itu sedikit merunduk dan melihat melalui kaca jendela di sebelah kursi penumpang bagian kiri depan. Rupanya mereka berhenti tepat di depan halte bus yang nyaris kosong, namun ada seorang gadis berambut pirang yang duduk di salah satu bangku besi tunggu di sana.
Gadis itu mendongak terkejut dan menyipitkan mata, berusaha melihat menembus tirai salju. Merasa harus bersikap sopan, gadis itu berdiri dan sedikit maju ke depan agar mampu melihat lebih jelas seorang gadis lain yang menyapanya.
"Aku sedang menunggu bus," serunya menjawab pertanyaan Hinata.
"Di tengah ancaman badai seperti ini? Bus tidak akan beroperasi, Nona!" Gojou yang samar-samar dapat mendengar jawaban gadis asing itu segera menjulurkan kepala melalui celah dua kursi bagian depan dan balas berteriak.
Gadis di halte bus itu tampak tercenung, namun di raut wajahnya tergambar keteguhan. Dia tak akan meninggalkan halte bus itu. Merasa memiliki inisiatif, Hinata mengangguk yakin dan kembali mengangkat kepalanya.
"Kau mau ke mana?" tanyanya kembali dengan suara keras, berusaha mengalahkan suara desisan angin yang menerbangkan butiran-butiran salju hingga menghantam kap mobil, aspal hitam jalan raya, dan atap beton halte bus dan suara-suara mobil lain yang kelihatan terburu-buru lalu menekan klakson keras-keras.
Gadis di halte bus itu sontak mendongak dan balas berseru ragu. "Stasiun."
Hinata sontak melebarkan matanya dan kembali bersuara. "Stasiun? Stasiun Maruyama?" cetusnya memastikan. Gadis yang mengenakan mantel biru gelap itu mengangguk hati-hati.
"Kami juga mau ke sana!" seru Hinata dengan suara riang yang jarang sekali ia keluarkan di depan orang asing. Gadis asing itu sedikit terkejut, namun sebuah senyum penuh harap—meskipun terlihat sedikit ragu—menghiasi wajah cantiknya.
"Benarkah?" tanyanya memastikan. Hinata tak segera menjawab, namun buru-buru membuka pintu belakang mobil sebelah kiri.
"Ayo, sekalian ikut dengan kami saja." Gadis yang memakai jaket hijau daun dan rok kuning lembut selutut dipadukan dengan stocking hitam itu meloncati trotoar, menghampiri halte bus dan tersenyum ramah. Jejak sepatu bot putihnya dengan cepat tertutupi oleh salju yang terus turun. Gadis yang menjadi lawan bicaranya terpaku sejenak, namun segera membalas senyum Hinata lebih lebar dan penuh kelegaan. Dengan jarak sedekat ini, Hinata baru menyadari bahwa gadis berambut pirang panjang itu memiliki pesona yang memikat.
"Apakah tidak merepotkan?" kata gadis itu tampak masih sedikit ragu. Mengundang tawa kecil dari Hinata yang buru-buru menggeleng. "Tentu tidak. Aku malah senang sekali karena tak sendirian di stasiun nanti. Ayo, aku bantu membawa barang-barangmu."
Hinata menunduk dan menyambar salah satu tali pegangan tas jinjing yang dibawa gadis pirang itu. "Tidak usah, biar aku membawanya sendiri saja." Hinata tak mengacuhkan protes lawan bicaranya itu dan tetap bersi kukuh membantu.
.
.
Setelah akhirnya Gojou ikut membantu meletakkan barang-barang gadis asing yang ditolong nonanya itu dengan aman di bagasi belakang mobil, mereka segera menyamankan diri di posisi masing-masing dan melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
"Jadi, kita belum berkenalan. Namaku Hinata, Hyuuga Hinata. Panggil saja aku Hinata." Hinata mengulurkan tangan dan tersenyum manis ke arah gadis yang mungkin seumuran dengannya dan telah duduk di sampingnya kirinya itu, rona merah samar menghiasi pipinya yang putih. Gadis asing itu menatapnya lembut, menyambut uluran tangannya dan balas tersenyum.
"Namaku Temari, Sabaku Temari. Panggil saja aku Temari. Senang sekali bertemu denganmu, Hinata. Kau benar-benar menolongku." Kata gadis itu tulus. Hinata hanya tertawa pelan dan menggaruk pipinya yang kembali memerah.
"Ini bukan apa-apa, Temari-san. Aku senang sekali memiliki teman di stasiun nanti," kata Hinata sambil sekilas menunduk sopan. Kebiasaan yang melekat di dalam dirinya.
Temari mau tak mau merasa kikuk dan canggung diperlakukan begitu oleh teman gadis sebayanya. "Jangan bersikap seperti itu, Hinata-san. Panggil saja aku Temari, tanpa embel-embel yang memberatkan seperti itu." Sambar gadis dari sulung keluarga Sabaku itu dengan cepat.
Hinata menoleh dan memiringkan kepalanya, membuat Temari mengerti akan betapa polosnya gadis yang baru saja—atau sebenarnya masih sedang—menolongnya itu. "Jangan terlalu sopan padaku, Hinata-chan. Boleh aku memanggil begitu? Aku rasa kita bisa berteman?" tanpa benar-benar menyadari apa yang dilakukannya, Temari menepuk lembut puncak kepala Hinata yang tertutupi topi rajutan kuning. Hal yang membuat Hinata dan Gojou—yang merasa sejenak disisihkan—membelalakkan mata mereka.
Temari sontak menangkup mulut dengan kedua tangan dan membungkuk minta maaf. "Ah, maaf, maaf, aku sudah sangat tidak sopan."
Hinata mengerjapkan mata, masih tampak sangat terkejut selama beberapa detik. Tangannya terangkat menyentuk puncak kepalanya yang tadi ditepuk Temari. Hangat, sudah lama sekali sejak terakhir kali Hinata diperlakukan seperti itu oleh seorang perempuan. Ingatan samarnya menampilkan kilasan samar seorang wanita yang sangat mirip dengannya sedang tersenyum lembut dan mengelus kepalanya.
Perlahan mata Hinata berubah berkaca-kaca dan gadis berponi rata itu buru-buru menundukkan kepalanya, berusaha menghalau air mata yang siap meluncur ke pipinya. Tak mendapatkan tanggapan dari lawan bicaranya, membuat Temari sangat bingung. Ia menoleh kepada Gojou yang tampak mengawasinya dengan ringisan tak percaya dari kaca spion.
"Nona? Anda tidak apa-apa?" suara berat Gojou membuat Hinata segera tersadar dan buru-buru mendongak, memasang senyum menenangkan di wajahnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa, Ji-san." Hinata menoleh ke Temari yang telah memajang wajah penuh penyesalan. "Aku tidak apa-apa, Temari-chan. Hanya saja, kau sedikit mengingatkanku pada seseorang. Kau sangat... hangat, terima kasih." Temari mengerjapkan mata, heran namun tersenyum samar membalas senyum sendu dari Hinata.
.
.
.
Tahukah kau? Bahwa ketika kau bertemu dengan seseorang yang mengingatkanmu akan masa lalu, dengan tanpa kalian berdua sadari, ia akan menjadikan mimpi-mimpimu lebih nyata... dan seketika itu pula kau ingin memiliki sosoknya.
.
.
.
"APA? TIDAK BISA BEGITU, DONG!"
"Maaf, Nona. Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk mengganti kerugian dan ketidak nyamanan Anda. Kami harap Anda mau mengerti."
"Tapi dengan memberi kami tiket Kyuko kelas reguler? Ini tidak bisa mengganti kerugian kami!"
Hinata dan Temari baru saja tiba di pintu masuk stasiun saat mereka melihat keramaian—err, lebih tepatnya keributan—di dekat mesin penjual tiket otomatis. Berusaha tak terlalu memikirkan mengapa stasiun masih dalam keadaan ramai di bawah cuaca ekstrim seperti ini, kedua gadis itu memperhatikan sumber keributan tak jauh di hadapan mereka. Terlihat seorang gadis berambut coklat gelap panjang yang dikuncir menjadi satu di sebelah atas telinga kanannya sedang berkacak pinggang di hadapan beberapa pria yang dari seragamnya terlihat seperti petugas bus.
Dilihat dari penampilannya, gadis itu memang terlihat lumayan tomboy. Ia memakai hoodie hitam kebesaran dengan gambar tengkorak putih besar di depannya, celana panjang tentara berwarna krem polos, sneakers coklat gelap, sepasang sarung tangan hitam, syal hitam, dan topi baseball hitam. Sebuah ransel besar motif tentara tampak begitu ringan ia gendong di punggungnya. Dari gelagatnya, gadis itu nampak tak puas dengan sesuatu.
"Kalau kalian memang benar-benar ingin mengganti kerugian kami, setidaknya kalian memberi kami tiket Kyuko kelas green atau Tokkyu kelas reguler. Lebih bagus lagi kalau Shinkansen." Cela gadis itu dengan suara tajam yang tak dapat dibantah. Volume suaranya memang lebih rendah daripada yang tadi, namun karena Hinata dan Temari bergerak mendekati kerumunan itu, mereka dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
Beberapa orang pria yang menghadapinya menampakkan raut wajah campuran antara kesal dan geli. Bagaimanapun jarang sekali ada seorang gadis yang dengan blak-blakan mengungkapkan pemikiran mereka di depan umum—kecuali nenek-nenek cerewet atau ibu-ibu tukang gossip, bukannya gadis muda seperti di depan mereka ini.
"Maaf sekali, Nona. Kami juga ingin memberikan yang terbaik untuk mengganti kerugian Anda. Tapi untuk saat ini, kereta tujuan Konoha hanya tersedia Kyuko, dan sayang sekali tiket kursikelas green sudah habis. Sedangkan Shinkansen tidak beroperasi dalam badai seperti ini," jelas salah satu petugas bus sabar dan lembut.
.
.
Mendengar penjelasan penuh kesabaran dari petugas bus di depannya ini tak membuat Tenten cukup puas. Ia masih merasakan ledakan emosi di kepalanya dan ia tak bisa menahan diri untuk melampiaskannya. Baru saja bibir tipisnya terbuka dan akan mengeluarkan suara yang kemungkinan masih bernada tinggi, ketika dengan cepat sebuah suara lembut menginterupsi.
"Sudahlah, Tenten-chan. Ini bukan salah mereka. Mereka sudah berusaha yang terbaik, kan? Di cuaca buruk seperti ini, masih untung ada kereta yang beroperasi. Ayo, lebih baik kita segera masuk kereta," Tenten menoleh dan mendesis gusar pada Matsuri yang berkata dengan tenang dan penuh pengertian. "Sebelum kita tidak kebagian kursi," tambah gadis itu halus saat sudut matanya menangkap gestur memprotes yang akan diluncurkan teman barunya itu.
Tenten mengerutkan kening, berusaha memikirkan bantahan untuk temannya yang menurutnya terlalu kalem itu, tapi pikirannya buntu. Merasa lega karena akhirnya memiliki kesempatan untuk menarik Tenten dari keributan, Matsuri segera menarik lengan Tenten menuju gerbang tiket otomatis. Tak ia acuhkan suara gerutuan rendah dari teman yang baru ia kenal selama beberapa jam lalu itu dan tatapan takjub dari beberapa orang yang memperhatikan mereka kepada dirinya.
Matsuri tersenyum samar, jika dia berada di posisi mereka, mungkin ia akan berpikiran sama. Bagaimana pun, penampilan dan gaya bicara Tenten yang sedikit terlalu blak-blakan membuat orang-orang yang baru mengenalnya akan bergidik ketakutan. Tapi setelah mengenal gadis tomboy itu selama beberapa jam, segera menepis semua pandangan skeptis Matsuri. Entah kenapa ia sangat nyaman dengan sikap sinis Tenten.
.
.
"Gadis yang menarik, eh?" suara alto Temari menyadarkan Hinata dari pandangan kagumnya terhadap dua gadis asing yang baru saja berlalu dari pusat keramaian di hadapan mereka.
"Umm!" angguk Hinata penuh semangat, namun rona kemerahan kembali menjalari pipinya. "Aku kagum sekali pada temannya tadi, pasti mereka telah berteman sejak lama. Aku ingin mengenal mereka." Meskipun berucap panjang lebar, suaranya masih mengandung nada kemalu-maluan yang samar.
Temari tersenyum kecil, "Aku rasa itu bisa diatasi."
"Eh?"
"Kau tak mendengarnya tadi? Tujuan kereta mereka juga ke Konoha."
Amethyst Hinata segera melebar takjub. "Sungguh kebetulan yang luar biasa sekali!" serunya riang. Temari mendengus, lagi-lagi tersenyum mengamati wajah imut di depannya. Entah kenapa ia merasa Hinata tak begitu asing baginya. Sikap gadis itu yang kekanakan namun menyenangkan membuat refleks alaminya sebagai anak sulung dari tiga bersaudara terpancar dengan wajar, seakan mereka telah mengenal sejak lama.
"Tapi coba periksa dulu tiketmu. Kalau aku memang baru akan membeli tiket, jadi aku pasti mendapat tiket yang sama dengan mereka," kalimat Temari menghapus senyuman Hinata. Gadis itu buru-buru mengacak isi tas selempang ungu mungil kesayangannya dan menarik secarik tiket dari sana.
"Kyuko kelas green, shitei-seki," gumam Hinata lemas. Temari menepuk pelan pucuk kepala Hinata, kali ini tak merasa tak sopan lagi.
"Kita berpisah di sini kalau begitu," ucap gadis yang memakai skinny jeans abu-abu, suede boots hitam, sweater hitam di balik mantel biru gelapnya, dan syal abu-abu yang melingkari leher jenjangnya itu. Rambut pirang sepinggangnya ia kepang menjadi satu di tengkuknya.
Ringisan manis terpahat di wajahnya saat menangkap raut sendu Hinata. "Kau ingin menyia-nyiakan tiketmu? Mungkin aku bisa membelikanmu tiket yang sama denganku? Sebagai ganti tumpangan tadi?" tawar Temari dengan nada jenaka, hanya berniat menggoda. Namun tanggapan Hinata segera membuatnya kaget, gadis itu mengangkat wajahnya dengan ekspresi cerah dan mengangguk penuh semangat.
Hell, orang bodoh mana yang mau menyia-nyiakan kursi kelas pertama di transportasi umum kecuali gadis di depannya ini? Menghela napas dan berusaha memasang wajah mengerti, Temari beranjak ke counter penjual tiket perjalanan jauh dan kembali ke tempat Hinata berdiri dengan dua tiket kyuko kelas reguler di tangannya.
Setelah mereka berhasil melewati gerbang tiket otomatis dan menemukan platform mereka dengan tanpa kendala tertentu, kedua gadis itu segera memasuki pintu gerbong kereta yang terbuka secara otomatis. Tak menyadari hembusan angin lembut bermuatan butiran salju sewarna kapas yang seolah membawa dampak magis begitu kaki mereka menginjak lantai gerbong kereta, di belakang mereka.
.
.
.
Bersamaan dengan terjalinnya benang-benang tak kasat mata yang mulai menyatukan takdir mereka, lembaran pertama dari kisah mereka pun mulai terangkai dengan kelembutan yang bermakna...
.
.
.
Semua mata memandang sepasang gadis yang cukup menarik perhatian itu. Keduanya tampak mencolok di antara deretan kursi yang telah penuh diduduki penumpang kereta.
"Maafkan aku, Matsu. Gara-gara aku, kita tak kebagian kursi." Matsuri memutar mata hitamnya penuh imajinatif, tanpa berusaha melirik Tenten yang berjalan cepat mengikutinya, tepatnya di belakang koper hitam berukuran sedang yang ditariknya.
"Santai saja, Tenten-chan. Kita pasti kebagian kursi."
Tenten tak banyak berkomentar lagi, namun alisnya terangkat sangsi. Mereka tadi sengaja masuk dari gerbong penumpang paling belakang, hingga saat ini setidaknya mereka telah menelusuri tiga gerbong penumpang dan semua kursi telah berpenghuni. Jika tebakannya tak salah, biasanya satu kereta tersusun dari satu gerbong masinis, lima gerbong penumpang, dan satu gerbong dapur di ujung paling belakang kereta. Jadi harapan mereka hanya tinggal dua gerbong.
Tepat ketika mereka melewati pintu antara gerbong penumpang ketiga dan keempat (jika dihitung dari belakang) yang terbuka secara otomatis, sebuah pekikan lembut menarik perhatian Tenten dan Matsuri—juga sebagian besar penumpang di sana.
Di sepasang mata coklat Tenten, terpantul bayangan sepasang kursi penumpang berhadapan yang harusnya diisi enam orang penumpang, masih baru terisi empat penumpang. Jadi, ada dua kursi penumpang berhadapan paling ujung yang masih kosong. Tanpa ba-bi-bu, Tenten segera menarik Matsuri yang tadi berpindah posisi ke belakangnya menuju dua kursi itu, tak tertarik lagi dengan seorang gadis yang tadinya memekik juga ada di sana.
"Sumimasen, dua kursi ini apakah ada yang menempati?" tanya Tenten sopan mewakili dirinya dan Matsuri. Empat pasang mata bermacam warna—mulai dari hijau daun, biru laut, abu-abu keunguan, dan hijau pucat—memandang mereka dengan pandangan terkejut, namun berubah ramah hampir secara bersamaan.
"Tidak ada, kalian boleh menempatinya." Gadis berambut pirang dikucir kuda dan bermata birulah yang menjawab, senyum bersahabat terukir manis di bibirnya. Gadis itu duduk di dekat jendela, berhadapan dengan seorang gadis berambut sewarna bunga Sakura—sesaat Tenten menahan napas mendapati hasil paduan warna mata dan rambut gadis itu. Di samping kanannya duduk seorang gadis berambut biru gelap yang memandangi mereka dengan tertarik dan di seberang gadis itu seorang gadis berambut pirang lainnya tampak duduk dengan tenang.
"Terima kasih," Tenten langsung memasukkan ranselnya dan koper Matsuri di bagasi atas kursi mereka dengan tanpa kesulitan, lalu menghempaskan pantatnya di ujung kursi yang bersisian dengan gadis berambut pirang. Tak menyadari tatapan takjub yang ia peroleh dari beberapa penumpang—termasuk rekan-rekan satu kursinya.
Seorang gadis mengangkat koper dengan ukuran 'lumayan' dan memasukkannya ke atas bagasi yang 20 cm lebih tinggi dari ujung kepalanya dengan tanpa kesulitan? Wow! Jelas mengundang decakan takjub dari orang-orang di sekitarnya.
"Show off!" cibir Matsuri dengan nada geli, gadis itu duduk dengan sopan di kursi yang tersisa, di samping gadis bermata abu-abu keunguan.
Tenten yang sedang melepas topi baseball-nya, mendongak dengan kerut samar di keningnya. Matsuri tersenyum manis.
"Lagi-lagi kau sudah menarik perhatian." Mata hitamnya melirik ke samping kiri, membuat Tenten refleks menoleh ke empat gadis yang masih memandanginya. Mendapat respon wajah kebingungan dari artis-dadakan-mereka, langsung membuat empat gadis itu kegelian.
"Apa?"
Pertanyaan spontan dari Tenten, ditambah dengan raut konyolnya, otomatis membuat kelima gadis itu tertawa bersama. Bahkan gadis pirang di sampingnya yang tampak paling tenang pun tertawa kecil. Karena sepertinya tak akan ada yang menanggapinya, Tenten hanya memutar bola matanya bosan dan mencibir sambil bersandar.
"Apakah kau ikut bela diri? Kau pasti cukup kuat, mengangkat dan memasukkan koper ke bagasi tanpa kesulitan sama sekali," sebuah suara bening bernada ramah segera menarik perhatian seluruh gadis itu.
Tenten berpaling pada pada si pemilik suara. Gadis berambut sewarna bunga Sakura tadi. Tenten nyengir polos, "Yeah, mungkin. Hanya karate dan aikido...dan sedikit kickboxing." Keempat gadis yang mendengarnya spontan menelan ludah, sedangkan Matsuri yang sudah tahu lebih dulu meringis.
"Again.."
Tenten menyipitkan matanya pada Matsuri. "Jangan membuatku menyesal karena membolehkanmu duduk di sampingku saat di bus tadi hingga kita saling kenal, Matsu," desisnya sinis, tampak cukup serius hingga membuat suasana berubah sedikit tegang. Tapi juluran lidah dan aura santai yang dipancarkan Matsuri mampu membuat suasana kembali cair.
"Eh? Jadi kalian baru kenal hari ini?" Matsuri dan Tenten kompak menoleh ke arah gadis berambut biru gelap yang menanyakannya. Begitu mendapat tatapan tajam tidak hanya dari kedua orang yang dituju—tapi juga ketiga gadis lainnya—gadis itu langsung merona merah dan menunduk. Sebuah perasaan asing—campuran antara sayang dan ingin melindungi—segera menjalari dada Tenten dengan cepat saat melihat sikap gadis itu.
"Yup, kami baru kenal hari ini. Mmm, tepatnya tiga jam yang lalu. Ya kan, Matsu?"
Matsuri mengangguk, tersenyum manis.
"Woaa, tapi kalian sangat akrab, seperti sudah berteman sejak lama. Seperti aku dan Sakura. Iya kan, Saku?" gadis berambut pirang di sebelah jendela kali ini yang membuka suara. Kaki jenjangnya yang tertutup sepatu boot merah menyenggol pelan tulang kering gadis berambut merah muda yang tertutupi celana jeans coklat. Yang ditanyai mengangguk, "Hu-um."
Namun bukan itu yang menarik perhatian Tenten. "Namamu Sakura?"
Gadis berambut sebahu itu terlihat sedikit berjengit. "Eh? Iya, namaku Sakura. Kenapa? Kau mengenalku?" jade Sakura tampak lebih berkilauan.
Tenten nyengir. "Tidak, aku hanya berpikir kalau namamu sangat cocok denganmu. Kau tau maksudku? Rambut dan matamu?" beberapa gadis di situ langsung mengangguk setuju. Sakura tersenyum canggung, menggaruk pipinya yang sedikit memerah. "Ah, maaf. Aku terlalu terus terangkah?" Tenten refleks menggigit bibir bagian dalamnya, kebiasaannya jika gugup.
"Haha, tidak. Sakura sudah biasa kok. Saat dulu pertama kali bertemu dengannya, aku juga langsung tertarik dengan rambutnya. Dia benar-benar seperti pohon Sakura berjalan, kan?" itu jelas bukan pujian. Keempat gadis lainnya langsung menyeringai saat gadis bermata biru yang menyambar kata-kata Sakura menjerit tertahan karena tendangan di tulang keringnya oleh ujung Converse abu-abu Sakura.
"Ah, kalian nanti turun di mana?" masih gadis berambut pirang tadi. Sejenak Tenten memperhatikan penampilan gadis itu, jelas tipe gadis yang benar-benar memperhatikan fashion. Gadis itu memakai rok ungu terang selutut yang dipadukan dengan jaket merah marun, stocking ungu gelap, sepatu bot merah, sepasang sarung tangan merah, dan syal ungu dengan motif bercak-bercak merah. Rambut pirang sepunggungnya ia kuncir kuda dengan bando ungu sebagai penghiasnya.
Tenten biasanya cukup antipati dengan gadis yang memiliki tipe seperti itu, tapi kali ini ia tak bisa menghilangkan perasaan tertariknya. Gadis fashionable itu memiliki aura yang sehangat matahari. Aura yang sangat serasi jika disatukan dengan aura menyejukkan dari gadis di depannya, Sakura. Berbanding lurus dengan sahabatnya, gadis itu tampaknya cukup cuek terhadap penampilannya.
Sakura mengenakan beberapa lapis pakaian yang warnanya saling bertabrakan dan nyaris seluruhnya terlihat dari luar. Kerah sweater shocking pink turtle-neck menutupi lehernya dengan sempurna dan membuat pakaian hangat itu nampak jelas menyembul dari kemeja biru terang yang ia pasang sebagai luarannya, mantel warna putih terpasang dengan sembarangan karena kancingnya terbuka, sepasang sarung tangan coklat, topi baret coklat, celana jeans coklat, dan Converse abu-abu.
Melihat Tenten yang sepertinya terlalu asyik memperhatikan gadis-gadis asing di sampingnya, Matsuri mengambil inisiatif untuk menjawab. "Konoha, kami akan turun di Konoha."
"Wow, bukankah ini kebetulan yang menakjubkan sekali? Kita berenam duduk di bangku yang sama dan kita akan sama-sama turun di Konoha! Ini pasti takdir!" gadis pirang bermata biru kembali mengambil alih kesunyian di antara mereka.
"Takdir yang indah, aku penasaran apakah ini akan berlangsung untuk seterusnya?" untuk pertama kalinya gadis pirang lainnya yang berbicara. Semua terdiam, meresapi bagaimana kuatnya aura teduh mendominasi yang terbawa seiring dengan alunan dalam dan lembut suara alto gadis itu.
"Apakah kita ingin memastikannya?" Sakura tersenyum menawan.
"Sepertinya seru. Bagaimana kita memastikannya?" gadis berambut biru segera menyambut.
"Ayo, kita berkenalan!" keempat gadis itu menatap intens si gadis fashionable, kecuali Sakura yang menyipitkan matanya kesal.
"Sial, kau mencuri ideku lagi, Ino?"
Gadis pirang yang dipanggil Ino itu menyeringai. "Kau terlalu mudah ditebak, Saku Sayang...," untuk beberapa detik kedua gadis itu saling berpandangan.
"Oke, hentikan itu, Girls. Sadarkah kalian bahwa kalian berdua telah memakai bahasa yang hanya bisa kalian berdua mengerti? Pakailah bahasa yang sama dengan kami," Tenten tak bisa menyembunyikan nada sarkastisnya. Matsuri menendang lembut tulang kering Tenten dan mendelik memeringatkan, tapi hanya dibalas dengan gedikan bahu cuek oleh yang bersangkutan.
Ino dan Sakura meringis minta maaf. "Teruskan, Ino." Kata Sakura dengan nada manis yang dibuat-buat. Ino mengangguk tak kalah manisnya. Sekilas mereka saling melemparkan death-glare.
"Kita berkenalan, tapi hanya dengan memberitahukan nama depan kita. Jadi kalau di waktu yang akan datang nanti kita bertemu lagi, kita bisa menagih nama belakang kita. Tapi jika tidak, kita harus berpuas diri dengan nama depan yang kita dapat sekarang. Ini bisa membuktikan apakah memang kita ditakdirkan berteman atau tidak. Aku dulu pernah melakukannya dengan Sakura dan ini seru sekali! Seperti menantang takdir!"
Rasanya ajaib sekali saat keempat gadis yang asing itu memikirkan hal yang sama saat melihat Ino mengoceh. 'Bagaimana mungkin dia bisa berbicara sepanjang itu dengan hanya satu kali tarikan nafas?'
Sakura menyeringai melihat ekspresi takjub dari empat gadis itu atas 'kelebihan' sahabatnya. "Jadi?" sengaja ia sedikit meninggikan volume suaranya agar perhatian mereka beralih kepadanya.
Hening. Saling berpandangan.
.
.
"Boleh juga. Sepertinya seru." Tenten-lah yang pertama kali membuka suara.
"Uhm, aku juga setuju." Kali ini Matsuri dengan senyum manisnya.
"Bukan ide yang buruk." Gadis berambut pirang bermata hijau mengangguk.
"Aku tak keberatan, tapi bukankah di antara kita sudah ada yang saling mengenal lebih dulu?" gadis berambut biru itu bertanya ragu-ragu.
"Itu bukan masalah. Hingga kita sampai di Konoha nanti anggap saja kita semua baru berkenalan," kata Sakura dengan nada jenaka. Semuanya tampak manggut-manggut mengerti.
"Oke! Karena semuanya sudah setuju, kita mulai saja! Namaku Ino, senang bertemu dengan kalian," Ino melambaikan tangannya dengan antusias. Beberapa gumaman tak jelas berdengung menanggapi perkenalan dari gadis itu. Perhatian beralih pada Sakura.
"Seperti yang telah kalian tahu, namaku Sakura. Salam kenal," Sakura menundukkan kepalanya sekilas dan tersenyum santai.
"Kalian boleh memanggilku Temari, senang bisa memiliki kesempatan mengenal kalian," gadis pirang berkepang meneruskan saat semua mata tertuju padanya, tersenyum kecil dan mengangguk sekali.
"Ah, namaku Hinata. Aku harap kita semua bisa berteman," gadis bermata abu-abu itu buru-buru melanjutkan sambil menunduk dalam, gadis-gadis yang lainnya tersenyum geli menyadari gelagat gugup dan pipi merona merahnya.
"Aku Matsuri, senang sekali bisa bertemu kalian semua," Matsuri tersenyum ramah, mengangguk ringan. Lalu semua mata gadis itu tertuju pada Tenten yang bersedekap, tampak siap dengan perhatian yang tertuju padanya.
"Tenten, salam kenal." Kelima gadis lainnya sontak melongo lalu berusaha menahan diri untuk tidak melampiaskan emosi mereka pada tersangka yang hanya nyengir polos mengetahui kekesalan teman-teman baru di depannya.
.
.
.
Berikanlah kesan yang berbeda di perkenalan pertama kalian dengan setiap orang yang kalian temui, maka aku jamin kalian akan menjadi sosok yang tak terlupakan.
.
.
.
Prologue One End
.
.
.
End Note:
Kyuko : jenis kereta express di Jepang.
Tokkyu : jenis kereta limited express di Jepang. Biaya tiketnya sedikit lebih mahal daripada kyuko dan hanya berhenti di stasiun-stasiun besar.
Shinkansen : jenis kereta super express di Jepang yang sangat populer. Biaya tiketnya jauh lebih mahal dari kereta jenis lokal, memiliki jalur dan platform yang terpisah (dikhususkan).
P.S : di Jepang ada dua jenis lagi pengelompokan kereta, yaitu reguler dan green (kelas pertama). Kursinya juga dibagi atas shitei-seki (kursi reserved) dan jiyu-seki (kursi non-reserved). Ada juga kursi merokok dan dilarang merokok.
Cuap-cuap Author:
Seperti yang sebagian kawan-kawan tau (mungkin?), chapter ini hanya republish dengan adanya sedikit (sekali) editan di sana-sini. Maaf buat kawan-kawan yang udah nungguin dan merasa dikecewakan T_T
Sky lagi butuh semangat buat nulis ... WB udah mendarah daging di diri Sky akhir-akhir ini. Jadi boleh Sky minta dukungan moral dari kawan-kawan lagi? *tampang melas* yaaah, kalo kawan-kawan merasa fic ini layak untuk dilanjutkan sih ... hehe ^^"
Makasih (lagi) untuk kawan-kawan yang udah review:
Phouthrye Mitarashi15, FhYyLvRhYy ELF, Kireina Yume, puerliche, Chadeschan, Naomi azurania belle, Uchiha no luti, missclouds (padahal udah janji ma dirimu ya, Dii?), nta-unfinished, Uchiha Steffanie, Sichi, Icha yukina clyne, Akasuna no ei-chan.
Review sangat dinanti untuk kelangsungan fic ini. See ya!
Here with,
~Sky~
