Satu kali lagi tarikan napas lalu—

Hei-hei, putar saja botolnya!

.

.

.

"Pertanyaan berputar?"

Lima pasang mata terpatri penuh rasa ingin tahu pada Temari yang hanya menanggapinya dengan senyum kecil. Tak ingin bersikap tidak sopan pada kelima temannya, akhirnya dia mengangguk.

"Err... Tema-chan, aku tak tahu apa kau memiliki otak berfrekuensi berbeda denganku atau apa, tapi yang jelas aku tak tahu jenis makanan apa yang kau sebutkan tadi dan itu membuat sesuatu di kepalaku—yang orang sering menyebutnya otak—berputar." Tenten menyeringai berusaha menampakkan sikap lugu dengan menggosok tengkuknya berulang kali sebelum akhirnya menjatuhkan kedua tangannya di atas pangkuan.

"Satu suara untuk Tennie, aku juga kurang paham." Ino berusaha tak mengacuhkan pelototan Tenten atas julukan yang dengan seenak perutnya dia berikan pada gadis tomboy itu.

"Dua suara milikmu, Tennie." Pelototan Tenten beralih pada Sakura yang hanya tertawa ringan.

"Aku sehati dengan Tennie." Hinata tersenyum manis sekali sehingga nyaris saja Tenten percaya bahwa gadis yang terlihat luar biasa murni itu tidak dengan sengaja ikut menggodanya. Was-was Tenten mengalihkan manik matanya pada sosok yang paling familiar di depannya.

Matsuri tersenyum kalem, "Temari-chan, sepertinya kau harus menjelaskan pada kami lebih detail tentang permainan yang kau usulkan itu." Tenten menyeringai, setidaknya ada dua orang di antara mereka yang masih cukup waras. Nyaris, karena selanjutnya sosok gadis berambut pendek di depannya kembali membuka suara.

"Karena seperti yang kau tahu, Temari-chan. Tak ada lagi bukti persetujuan yang bisa kuberikan pada Tennie kita tersayang." Matsuri membalas geraman rendah Tenten dengan kerlingan mata menawan, gadis-gadis di sekeliling mereka berusaha menahan tawa.

Tenten mendengus lalu menoleh ke kanan. "Apa ada yang ingin kau tambahkan, Tema-chan?" Desisnya, tidak terlalu berusaha untuk menahan diri.

"Oh, kau tahu aku tak sekejam itu 'kan, Tenten—,"

.

.

Tenten baru saja ingin mengulurkan tangannya melingkari bahu Temari saat gadis itu meneruskan,

.

.

"—kun?"

Dan ledakan tawa dari lima orang gadis serta desisan jengkel seorang dari mereka mewarnai keramaian gerbong itu.

.

.

.

.

"By Chance"

.

.

.

© Skyzhe Keymata's Imagination

Standard Disclaimer Applied © by Masashi Kishimoto

.

.

.

Warning Inside! Alternative Universe and (Like the other authors, I hardly try not to make it) Out Of Character

Almost Like Drabble, Ridiculous Things, and Ordinary Ideas

.

.

.

Chapter 2: Playing Around (2nd prologue)

Setelah berusaha meredam ledakan tawa dan meminta maaf pada Tenten yang hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah tertekuk (ekspresi gadis itu tak tampak melunak tapi juga sama sekali tak tampak menakutkan, malah kelima temannya setuju dalam diam bahwa ekspresi kesal Tenten sangat menyenangkan untuk dilihat), keenam gadis itu kembali menguasai diri dan langsung serius dengan permasalahan utama mereka.

Temari menghela napas panjang. "Permainannya sangat sederhana. Masing-masing dari kita bisa memberikan satu pertanyaan yang akan dijawab dengan jujur oleh kita semua, termasuk si pemberi pertanyaan. Ingat, harus jujur. Bisa dibilang permainan ini hampir sama dengan permainan 'Truth or Dare', kalian tentu tahu bedanya di mana. Aku biasa memainkan ini saat berkumpul dengan adik-adikku." Kelima gadis itu dapat melihat kerinduan yang tersirat di senyum samar Temari saat mengucapkan kalimat terakhir.

Sesaat hanya ada keributan dari obrolan penumpang lain dalam gerbong yang melatarbelakangi keheningan di antara mereka.

"Itu berarti seandainya aku memberikan pertanyaan, aku juga harus menjawabnya untuk diriku sendiri?" tanya Matsuri memastikan. Temari mengangguk.

"Dan kita boleh menanyakan apa saja? Tak ada batasan seperti apa jawaban yang akan diberikan dari pertanyaan itu? Kalian tahu, seperti pertanyaan dengan jawaban 'ya-tidak' atau pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang lebar? Atau bahkan mungkin pertanyaan yang bersifat privasi?" tambah Sakura.

Temari kembali mengangguk. "Tentu, tak ada batasan, itu sudah menjadi bagian dari persetujuan sejak awal. Jadi, apa usulanku diterima?"

Anggukan antusias Ino, senyum manis Hinata, tawa kecil Sakura, dengusan geli Matsuri, ditambah dengan gedikkan dagu dari Tenten menjawab pertanyaan Temari.

"Kalau begitu siapkan pertanyaan yang bagus, Teman-teman. Jangan sia-siakan kesempatan ini dan ... siapa yang ingin mulai lebih dulu?" bahkan sebelum Temari menyelesaikan kalimatnya, salah satu di antara mereka sudah mengacungkan tangannya dengan penuh semangat.

Kelima gadis yang baru sekitar setengah jam saling mengenal itu menghela napas dengan kompak. Tentu saja.

"Better start it with great question, Pig." Nada sarkastis Sakura tak mengurangi semangat dari sosok yang disindirnya, malah sahabatnya itu mengangguk penuh semangat.

"Tentu, Forehead!"

Kelima gadis itu menunggu dengan sabar sementara Ino menarik napas dalam-dalam guna sedikit meredam antusiasme yang meledak-ledak di kepalanya.

"Apa fashion-style favorit,warna favorit, aksesoris favorit, nomor ukuran sepatu, dan nomor ukuran badan kalian?" tanya Ino penuh semangat, temponya semakin lama semakin cepat dengan diiringi volume yang meninggi.

.

.

Sunyi

.

.

"Err, Ino-chan ... ini hanya pendapatku, tapi aku rasa itu lebih dari satu pertanyaan?" Matsuri meringis berusaha menahan diri untuk tidak memukul dahi seperti yang sudah dilakukan Tenten dan Sakura.

"Se-sepertinya kau terlalu bersemangat, Ino-chan?" tanya Hinata dengan volume suara yang bahkan tak lebih dari seperempat volume suara Ino.

"Well, tekniknya 'kan pertanyaanku hanya memiliki satu tanda tanya?" Sambar Ino buru-buru, tak begitu peduli dengan fakta bahwa ia memotong apapun yang akan diucapkan Sakura.

Skak mat.

Ino tak yakin ia mampu tersenyum lebih lebar lagi saat melihat kelima gadis di depannya hanya mampu pasrah dengan gerutuan dan gelengan tak percaya.

"Dasar Desainer Psycho!" Maki Sakura pelan namun cukup keras untuk didengar beberapa orang di sekelilingnya. Ino hanya tertawa penuh kemenangan.

"Perjanjian tetap perjanjian, jadi kita tetap harus menjawab. Kau ingin siapa dulu yang menjawab, Ino-chan?" kata Temari pelan, terlihat sekilas ekspresi kaget di matanya, jelas tak menduga rentetan pertanyaan yang dipikirkan gadis yang memiliki rambut identik dengannya itu.

Ino mengetukkan ujung jari telunjuknya ke bibir, berpura-pura tak menyadari aura tegang yang diakibatkan gerakan kecil itu. Gadis bermata biru itu baru membuka suara saat ujung Converse abu-abu Sakura kembali mendarat di tulang keringnya.

"Aww! Sial kau, Saku! Sakit tau!" pekik Ino berbuah putaran bola mata berkesan 'berhenti-bersikap-berlebihan-dan-memangnya-aku-peduli' dari Sakura.

"Tema-chan."

"Eh? Aku?" Temari menunjuk dirinya sendiri memastikan, Ino mengangguk tak peduli—tangannya sibuk memijat betis yang ditendang Sakura. Semua perhatian kembali beralih pada Temari.

"Ummm, fashion-style favoritku ...,"

.

.

.

Layaknya biji tanaman, kau bisa menyebarkannya sebanyak apapun di sebidang tanah, namun tak semua biji akan bertunas.

Begitupun pertanyaan, kau bisa menanyakan sebanyak apapun pertanyaan yang ingin kau tanyakan, namun tak semua pertanyaan memiliki jawaban.

.

.

.

"Matsu-chan?"

"..."

"Siapa tiga orang yang paling berarti di hidup kalian? Umm, karena perjanjian kita dilarang menyebutkan nama orang-orang yang kita kenal, sebutkan saja posisi mereka dalam hidup kalian."

"Dengarkan itu, Ino. Itu baru pertanyaan."

"Cih, diam kau, Saku!"

"Saku-chan, kau yang menjawab dulu."

"Hn? Tiga orang ya ... baiklah ... yang pertama ...,"

.

.

.

.

.

"Bagaimana cara kalian mendeskripsikan diri kalian sendiri dengan menggunakan lima kalimat sempurna?"

"..."

"Wew, pertanyaan berat. Kau benar-benar ingin memanfaatkan kesempatanmu ya, Tema-chan? Memangnya ini kelas sastra?"

"Tentu, Tennie. Jawab saja."

"..."

CUP

"!"

"Yaiks! No Way!Tennie sinting!"

"Maaf, kelepasan. Toh hanya di pipi."

"Euuuuurgh, untung aku tak duduk di samping Tennie."

"Aku tak menyangka Tennie su-suka ... sesama perempuan."

"Santai saja, Hina-chan. Aku pasti melindungimu darinya!"

"Kalau kalian tak segera diam, aku jamin kalian akan mendapatkan jatah kalian masing-masing. Tenang saja, sepertinya badai di luar akan bertahan lama kok."

"..."

"..."

"..."

"..."

"Kau boleh duluan yang menjawab, Tennie."

"Ck, sial. Oke, menu—hei, aku hanya bercanda! Berhentilah menjaga jarak dan memasang tampang seperti itu!"

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

.

.

.

.

.

"Hinata-koi! Aku tau kau memang lebih cerdas dari Saku dan Tennie! Apa pertanyaanmu, Darling?"

"Shut up, Pig!"

"Yeah, shut up or I'll do the same thing like I had done to Tema, Ino-chan."

"?"

"Just make sure it will be properly on her lips, Tennie." Seringai.

"Would you mind holding her hands, Saki?"

"That will be my pleasure."

"Aku bisa membantu memegangi kakinya kalau kalian mau?"

"Tema-chan!"

Angkat bahu. "Kelihatannya itu seru."

"Uhmm, Girls. Sebaiknya kalian tunda dulu rencana kriminal kalian ... Hinata siap di sini."

"..."

"..."

"..."

"Trims, Matsu-chan."—"You are truly my saviour, Matsu!"

"Hinata?"

"A-aku ingin tahu hal apa saja yang bisa membuat kalian bahagia di dunia ini?"

Hening.

"Ma-maaf. Aku ha—,"

"Itu manis sekali, Hina-chan, dan aku yakin yang lainnya juga setuju denganku. Kau ingin siapa yang menjawab duluan?"

"Matsu-chan saja." Merah padam.

"Haha, mereka membuatmu ketakutan, ya? Baiklah, hal-hal yang paling bisa membuatku bahagia adalah ..."

.

.

.

.

.

"Tennie, kau duluan."

"Trims, Saki."

Tegang. Tarik napas.

"Well, satu hal apa yang kalian pikirkan saat pertama kali melihat masing-masing dari kita berenam?"

"E-eh?"

"Nice."

"Wow!"

"Hn."

"Get it."

"Ino-chan, kau dulu."

"Aku tau kau memang memiliki perasaan spesial padaku, Tennie!" Cengiran.

Tatapan bosan.

"Oke, oke. Aku jawab ya! Satu hal yang aku pikirkan ketika melihat ...,"

.

.

.

.

.

"Musim semi." Hinata malu-malu menatap Sakura dari balik bulu matanya.

Mata Sakura terlihat semakin berkilauan saat ia menyeringai pada Hinata. "Trims, Hina. Jangan malu-malu seperti itu. seperti yang aku bilang tadi, sekarang saja wajahmu semakin merah seperti senja, kau tahu?"

Dengan pipi yang semakin memerah Hinata mengangguk dan menoleh. "Pantai?" kata Hinata ragu pada Ino.

Ino tertawa, "Itu salah satu tempat favoritku, Hina-chan."

Tersenyum lega Hinata beralih pada Matsuri yang telah memasang ekspresi antusias, "Beruang."

"NEEE?"

Pekikan tak percaya Matsuri membuat yang lainnya tertawa. Hinata meringis dan buru-buru menyanggah, "Kau mengingatkanku pada boneka beruang kesayanganku, Matsu-chan. Warnanya hitam, tapi bulunya tebal dan sangat lembut."

"Oh, aku kira beruang asli," gumam Matsuri segera rileks kembali pada sandaran kursi di belakangnya. Yang lainnya masih tertawa geli tapi Hinata tersenyum malu dan segera berpaling pada Tenten.

"Cokelat."

Cekikikan segera menjalar di sekitar bangku itu saat Tenten merespon ucapan Hinata dengan ekspresi seakan ia sedang dicekoki obat yang luar biasa pahit.

"Ukh, mungkin hanya kau satu-satunya orang di dunia ini yang punya pikiran untuk mengaitkan benda manis semacam itu denganku, Hinata."

Hinata tertawa bersama yang lainnya kali ini dan pada saat mata keunguan itu beralih pada Temari, kelima gadis itu mengernyit heran mendapati Hinata hanya memandang Temari dengan pandangan yang sulit mereka artikan.

"Hinata?"

Mereka tak melewatkan bagaimana Hinata berjengit saat Sakura menyentuh lengannya.

"E-eh? Maaf. Aku, aku hanya ...," mata Hinata tampak begitu sendu saat kembali bersitatap dengan Temari yang masih tenang menunggunya. Entah apa yang gadis berambut biru gelap itu dapatkan setelah memandang temannya, karena selanjutnya ia menghela napas dalam.

"Ibu."

Lima pasang mata sontak membesar, tak mampu menutupi keterkejutan yang terselip di sana. Beratnya Keheningan yang menyusul membuat Hinata kembali membuka suara.

"Temari-chan mengingatkanku pada almarhumah ibuku."

.

.

Sepi. Kelima gadis di sana menahan napas dengan tanpa mereka sadari.

.

.

"Oh." Suara alto Temari seperti bergema di antara mereka.

Hinata menunduk mengamati jari-jari kedua tangannya yang saling bertautan di atas lututnya. Ia bukannya tidak menyadari tatapan tajam dari teman-teman barunya, ia hanya tak ingin melihat ekspresi kasihan yang biasa ia dapati dari orang-orang di sekitarnya saat mereka tahu ia tidak lagi memiliki ibu di sampingnya.

"Ummm, itu sangat—eh, luar biasa, Hinata. Terima kasih," ujar Temari tulus, sebelah tangannya terulur menggenggam tangan Hinata, sedangkan ujung jari telunjuk tangannya yang lain menyusup di bawah dagu gadis itu, memaksa Hinata untuk mengangkat wajahnya.

Saat akhirnya mata kelabu gadis itu menangkap mata Temari, gadis itu nyaris terhenyak. Temari tersenyum lembut, tak ada ekspresi seolah mengasihani sama sekali, alih-alih Hinata seolah melihat kesedihan di sana. Seakan ia sedang bercermin dan Temari menjadi bayangannya.

"Kau tahu apa yang lucu, Hinata? Ibuku juga sudah pergi," gumam Temari pelan. Suasana di sekitar mereka berubah semakin pekat.

"Uhm, aku ... aku tak tau harus bilang apa, tapi aku bisa mengerti. Jadi hei, tersenyumlah. Jangan membuatku merasa bersalah dengan wajah murungmu itu," senyum manis Hinata yang membalas senyum hangat Temari membuat semua gadis di sekitar mereka menarik napas lega.

"Aku tak ingin menambah suasana menjadi lebih suram, tapi bukan hanya kalian yang tak memiliki ibu lagi, kalian tahu?" bersikap seolah hanya sedang ber-gossip, Ino mengedipkan sebelah matanya pada Temari dan Hinata.

"Well, kedua orang tuaku masih hidup, tapi mereka bercerai saat liburan musim semi ketika aku masih SMP. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu lagi dengan ibuku, dia kembali ke negara asalnya, Denmark, dan menghubungiku lewat telpon atau email seminggu sekali. Anehnya, kedua orang tuaku tak ada yang menikah lagi dan ... mungkin yang kurasakan berbeda dengan apa yang kalian alami, tapi aku pikir aku bisa mengerti," Sakura tersenyum ringan saat melihat ekspresi bersimpati dari teman-temannya, kecuali Ino yang memang sudah tahu.

"Ya ampun, aku tak tau kalau pertanyaanku bisa beralih sedrastis ini!" sergah Tenten terkekeh tanpa beban.

"Ceritakan juga tentang orang tuamu, Tennie," kata Ino riang.

Tenten tertawa semakin renyah, tak mengacuhkan raut bingung dari gadis-gadis di sekelilingnya. "Aku tak tau harus menceritakan orang tuaku yang mana."

"Maksudmu?"

Setelah sekali lagi tertawa, Tenten berkata, "Aku menghabiskan masa kecilku di panti asuhan, kalian tahu? Aku tak pernah mengenal orang tua kandungku, orang-orang dari panti pernah bilang bahwa aku ditemukan polisi lalu lintas di depan sebuah mini market saat aku berusia 3 bulan. Mereka bilang aku benar-benar beruntung mampu bertahan karena saat itu musim dingin dan siapa pun yang meninggalkanku hanya memberikan selembar selimut bayi untukku. Oleh karena itu ibu panti memberiku nama Tenten."

"Oh, Tennie!" Ino meletakkan kedua tangannya di depan mulutnya. Mata biru safirnya membelalak tak percaya.

Tenten nyengir, "Kalian tak usah memasang wajah seperti itu. Aku rasa aku memang beruntung karena kemudian aku memiliki orang tua, kalian tahu? Mereka mengangkatku saat aku lulus dari SMP dan memberiku hal yang paling kuinginkan sejak—selamanya, nama keluarga mereka. Mereka tak memiliki anak lain dan mereka sangat menyayangiku. Aku rasa aku tak bisa meminta lebih dari itu lagi, kan?"

Aura ceria yang terpancar dari Tenten membuat kelima gadis lainnya mau tak mau merasa rileks di bangku masing-masing.

"Kalau orang tua Matsu-chan bagaimana?" tanya Hinata pada satu-satunya gadis di antara mereka yang belum mengeluarkan suara.

Bibir tipis gadis berambut paling kelam di antara mereka itu melengkung samar. "Orang tuaku tinggal di perbatasan Suna, dekat tepi pantai. Ayahku pekerja kantoran biasa sedangkan ibu selalu tinggal di rumah. Mungkin ini sedikit menyedihkan, tapi tak ada yang terlalu spesial di antara kami. Aku tak terlalu dekat dengan mereka, sederhananya mereka menyayangiku dan aku menyayangi mereka dan tidak lebih dari itu. Parahnya lagi saat kenaikan SMA Aku memilih tinggal dengan saudara perempuanku di Konoha hingga sampai sekarang. Biasanya setiap kali liburan musim panas dan musim dingin aku mengunjungi mereka."

Senyum hampa Matsuri mengiringi keheningan yang kembali menyeruak di antara mereka.

.

.

.

Engkau buta dan aku tuli dan bisu.

Karena itu, marilah kita saling bergandengan tangan dan saling memahami.

.

.

.

Sakura menggigit bibir bawahnya keras-keras, merasakan seluruh mata terpancang padanya.

"Pertanyaan terakhir, Forehead. Better make it great!" seru Ino penuh semangat.

"Shut up, Pig!"

"Kami menunggumu, Sakura."

"Jangan membuatku tegang, Matsu." Tatapan jengah. "Oke-oke, karena ini pertanyaan terakhir aku ingin kalian memberikan pengkhususan padaku."

Sakura memandang satu persatu seluruh gadis yang mengelilinginya, sebelah alis permen kapasnya terangkat meminta persetujuan.

"Pengkhususan?" Kedua alis Temari nyaris menyatu.

"Uh-huh, pertanyaanku mungkin akan lebih menjurus ke permintaan. Tidak apa-apa, kan?" Keenam gadis itu langsung saling berpandangan dan berdiskusi dalam diam. Sepuluh detik kemudian, seakan telah mengambil persetujuan, Tenten membuka suara mewakili gadis lainnya.

"Asalkan permintaanmu bisa kami terima, boleh-boleh saja, Saki."

Sakura tersenyum menawan dan berujar, "Aku rasa kalian akan menyukai pertanyaan dariku."

Ino mengangkat alis, menantang. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Tanyakan saja, Saku."

Bibir tipis Sakura tertarik semakin lebar hingga terlihat seolah setiap sisi ujungnya mencapai pangkal telinga gadis berambut pucat itu.

"Well, bagaimana kalau kalian ceritakan pertemuan pertama kalian dengan pemuda yang membuat kalian jatuh cinta pada mereka? Cinta yang paling berkesan di hati kalian sampai kalian mengingat mereka hingga sekarang, tak peduli itu cinta pertama, kedua, atau keberapa lainnya. Tentu tanpa menyebutkan nama mereka. Bagaimana?"

.

.

—kaku—

.

.

"Wow, Saku! Pertanyaan jenius!" Seruan bernada dua oktaf dari Ino membuat semua orang di gerbong itu nyaris terlonjak. Namun dengan entengnya gadis itu berdiri, membungkuk sambil tertawa dan bergumam minta maaf lalu kembali duduk, tanpa ada setitik pun rona malu di wajah cantiknya. Sejenak perhatian tertuju padanya, lalu akhirnya kembali pada tersangka utama, Sakura.

"Uuukh, sialan kau, Saki!" maki Tenten dengan diiringi tawa geli.

"A-aku tak menyangka Sakura-chan akan menanyakan hal itu," wajah dan leher Hinata memerah sepenuhnya.

"Aku tak tau harus berkomentar apa," kata Matsuri menggeleng takjub.

"Harus aku akui pertanyaanmu unik, Sakura-chan, tapi aku rasa itu tak menyalahi aturan. Aku tak keberatan menjawabnya. Bagaimana dengan yang lain?" Temari menelengkan kepala dan tertawa pelan.

"Tentu saja aku mau!" Ino bergerak-gerak tak sabar di kursinya.

"Oke, siapa takut?" seringai Tenten melebar.

"Mungkin aku punya satu cerita," gumam Matsuri sedikit ragu.

"Aku a-akan berusaha!" seruan tak terduga dari Hinata membuat mereka sejenak terdiam. Wajah Hinata sontak kembali memerah saat gadis itu menyadari betapa anehnya jawabannya. Ledakan tawa dan tepukan ringan di rambut segera mengelilingi gadis itu.

"Kau manis sekali, Hina-chan. Baiklah, karena kau yang paling bersemangat di antara kita, bagaimana kalau kau yang membagikan ceritamu duluan?"

Sepasang manik keunguan itu seolah akan meloncat keluar dari rongganya, dengan diiringi sepasang bibir mungil yang membentuk huruf 'o' besar. Lalu ketika sadar Hinata segera menunduk dan menangkup pipinya. Sedikit kesal ketika teman-temannya tertawa melihat reaksinya.

"A-apa memang ha-harus aku dulu, Sa-sakura-chan?" Hinata nyaris tak mengenali suaranya yang melengking karena malu.

Berusaha menahan kegeliannya, Sakura mengangguk. "Semakin cepat kau bercerita, semakin cepat kau tak malu lagi, makanya aku memberimu kesempatan pertama."

Entah karena Hinata terlalu polos atau tak mampu lagi berpikir karena saking malunya, gadis itu mengangguk membenarkan. Tanpa ia tahu, saat ia menunduk dan menghela napas panjang, gadis-gadis di sekelilingnya saling berpandangan dan menyeringai penuh arti pada Sakura.

Lalu dengan suara kecil namun jelas, Hinata mengangkat kembali wajahnya dan memulai ceritanya yang mengalir dengan (tak seperti yang mereka duga di awal) halus.

.

.

.

Hari-hari yang paling indah untuk dikenang dalam hidup ini adalah hari-hari yang menggemakan sedikit imajinasi.

.

.

.

Prologue Two End

.

.

.

C U!

.

.

.

Yoyoi! Tetep aneh, kan? Gaje, kan? Nggak memuaskan? *nyebarin undangan pembunuhan(?)* silahkan sediakan senjata apa aja buat bantai Sky.. T.T ditunggu kedatangannya hari Jum'at 17 Agustus yang akan datang.

Berapa bulan aku ngaret? Yang bisa jawab dapat hadiah satu onde-onde dariku buat buka puasa! Hehehe, maaf, maaf. Beberapa omelan dari kawan-kawan kemarin manis banget, deh. Serius. Makasih ripiunya yang jadi penyemangatku buat nerusin fic ini. ^^

Hei-hei, perasaanku ato emang fandom SasuSaku Indonesia makin sepi ya? Apalagi sejak kepergian dua kawan kita beberapa minggu kemarin. Sumpah, nyelekit banget rasanya waktu denger beritanya. Semoga mereka tenang di sana :') *sebutkan dan ukirkan nama mereka dalam hati agar mereka tetap hidup di kenangan kita masing-masing*

Oh, Selamat hari ulang tahunnya Sakura dan Sasuke! =D +dilempar martil "TELAT, WOI!"+

Nggak banyak omong lagi deh. Makasih buat yang kemarin udah ripiu, aku kasih belewah ni buat kalian satu-satu xD *PLAK* :

nta-unfinished, Phouthrye Mitarashi15, Chadeschan, Uchiha Steffanie, Sichi, missclouds, Icha yukina clyne, Akasuna no ei-chan, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, skyesphantom, Sasusaku's Addict, Ucucubi, miyank, Shana Kozumi, hatsunemiku.

Noh, lumayan kan? Bisa buat buka kalo yang puasa... *-*

Yang sebelumnya udah ripiu juga, aku kangen kalian ihikhikhik *injek*:

FhYyLvRhYy ELF, Kireina Yume, puerliche, Naomi azurania belle, Uchiha no luti.

Buat silent-reader ... seriusan nggak mau oleh-oleh bulan Ramadhan dariku ni? *nyengir*

Well, seperti biasa, kalo ada kritik-saran-pujian-omelan-tembakan(?) monggo tinggal isi kotak ripiu di bawah ini. Segalanya akan diterima dengan semangat masa muda bulan Ramadhan oleh Sky. YOOOSH, DATTEBAYOU! xD SELAMAT BULAN RAMADHAN!

P.S : chapter yang akan datang cari di fandom NaruHina, ye? Sky usahain apdet cepet. :DD

See and Love you!

Here with,

~Sky~