Bermula dari kelembutan yang mengalir dengan malu-malu—

"... pertemuan kami dimulai dengan ketidaksengajaan dan kejahilannya ...,"

.

.

.

Hinata mengarahkan kedua matanya yang sewarna kecubung ke luar jendela yang buram karena tersaput embun dan gumpalan salju di samping bangku mereka. Awan-awan kelabu memenuhi langit, tak mengizinkan matahari menyelipkan sinarnya barang secercah. Hinata menyipitkan mata saat kilasan memorinyanya memperlihatkan pemandangan yang jauh berbeda dengan di depannya saat ini.

"Hari itu hari terakhir masuk sekolah sebelum memasuki liburan musim panas ... dan hari terakhir masa SMP-ku di Konoha. Bisa dibilang pertemuan kami dimulai dengan ketidaksengajaan dan kejahilannya...,"

.

.

.

"By Chance"

.

.

.

copyright (2013) Skyzhe Kenzou

Standard Disclaimer Applied by Masashi Kishimoto

.

.

.

Warning Inside! Alternative Universe and (Like other authors, I try hard not to make it very) Out Of Character

Fleeting Short-Stories

The Past is using First Point of View

"Hinata"

.

.

.

Chapter 3: Twilight (1st Story)

Menyusuri jalan dari sekolah menuju rumah, aku tak bisa menahan diri untuk tidak memijat pelan-pelan tengkuk dan kedua lengan atasku secara bergantian. Lelah sekali. Tas yang hanya berisi satu notes, kotak pensil berisi lengkap, dompet, ponsel dan payung lipat terasa berat di pundakku. Membersihkan kelas yang hanya berukuran 9 x 10 meter ternyata luar biasa melelahkan jika dilakukan hanya dua orang.

Haah, aku harap Chihiro-san tidak selelah aku..

Tersenyum, aku mengingat bagaimana bersemangatnya teman-teman saat aku menawarkan kesediaanku (tentunya setelah dengan amat susah payah aku katakan) untuk piket kelas menggantikan mereka semua. Pada akhirnya semua anak benar-benar kabur dari tugas, membuat Chihiro-sanyang selama ini terkenal dengan sikap luar biasa tenangnyasampai terus menggerutu sepanjang waktu kami membersihkan kelas.

Chihiro-san baik sekali. Sejak awal pindah, hanya dia satu-satunya orang yang kebal dengan sifat pemaluku. Selalu menolongku saat ada anak yang akan mengganggu atau menjadikanku lelucon mereka. Sifatnya yang pendiam, berlidah tajam, tapi sabar, melengkapi sifatku. Aku akan sangat merindukannnya.

Getaran mendadak dari dalam tas membuatku nyaris terlonjak. Cepat-cepat kuraih ponselku dari dalam tas.

You've got 1 email!

From : Niisan

Subject : -

Aku sudah bilang pada Tousan kau pulang sore. Ingat, jangan lebih dari jam 7. Truk barang sudah datang tadi siang. Kau yakin tidak ada yang ketinggalan?

Tanpa berniat membalas pesan Niisan, aku memasukkan ponselku ke dalam tas. Aku tak ingin terlalu memikirkannya, tapi sayangnya tak pernah benar-benar berhasil. Kurasakan desakan familiar yang tak menyenangkan di perutku, hal biasa yang terjadi setiap kali aku merasa tertekan. Besok kami pindah. Lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya sejak ibu dan Hana-chan pergi. Tak bisa kucegah, mataku telah basah. Tuhan, aku cengeng sekali. Sudah berapa kali aku menangis dalam seminggu ini?

Berjalan semakin cepat, kupeluk erat-erat tubuhku meskipun udara sore hari ini masih cukup pengap karena panas. Aku rindu ibu.

.

.

Aku baru saja berbelok dari sudut jalan menuju rumahku saat aku mendengar suaranya, tenor yang sedikit melengking untuk laki-laki, tapi mungkin itu karena dia sedang berteriak keras. Nyaris melengking. Tanpa benar-benar aku sadari aku telah berlari menuju ke arahnya. Dapat kudengar suara derap langkahku bersaing dengan suara degup jantungku. Suara jeritan itu kembali terdengar.

Meskipun aku tak mau memikirkannya kurasakan bulu kudukku meremang. Was-was aku merasakan efek suasana temaram di sekelilingku. Sinar jingga matahari yang biasanya familiar dan mampu membuatku terhipnotis kini seakan menjadi asing; alih-alih, membuat kedua lututku gemetar.

.

.

.

"Hinata-chan... kita berharap cerita romantis yang membuat kita nyaris sakit gigi karena saking manisnya, bukan cerita horor!"

"Ssst, Tennie menghancurkan suasana!"

"Tapi-,"

"Huush, Tennie diam dulu dan dengar."

.

.

.

Menarik napas panjang, aku menggeleng keras. Aku mulai tidak rasional. Setelah menepuk pipi keras-keras dan mengangguk berusaha meyakinkan diri, aku mulai melangkah lagi dan aku mendengarnya dengan lebih jelas. Oh, bodohnya aku, itu suara langkah kakiku sendiri. Nyaris terkikik menyadari kebodohanku sendiri, aku tersentak saat mendengar teriakan itu lagi.

Ini hanya perasaanku atau memang teriakannya sedikit seperti dibuat-buat?

Hmmph, ayolah Hinata... jangan takut! Itu jelas hanya seorang anak laki-laki.

Sungguh? Tapi... anak laki-laki macam apa yang memiliki suara tenor seberat itu?

Anak laki-laki yang telah melewati masa pertumbuhannya?

Tuhan... aku bicara dengan diriku sendiri!

Tanpa aku sadari aku telah berada di gerbang rendah pembatas wilayah taman kecil dekat sekolah yang cukup ramai di pagi atau siang hari tapi sepi saat sore hari itu.Tamannya memang tak terlalu luas; di dalamnya hanya terdapat 3 kursi kayu panjang bercat hijau yang tersebar mengitari sekeliling taman, kecuali salah satu sisi ujung taman yang dikuasai sepasang ayunan dengan tali penahan yang terbuat dari tambang kulit tebal—tertambat di salah satu dahan pohon maple tua yang berada di salah satu ujung taman, pohon yang menjadi daya tarik utama di tempat itu—, tanahnya tertutupi rumput hijau yang selalu terpangkas rapi dengan satu petak berukuran 3x4 meter berisi pasir untuk bermain sebagai pusat tempat relaksasinya.

Berdiri membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut di tengah hamparan pasir, seorang anak laki-laki yang juga memakai seragam sekolahku tampak terengah-engah dan gemetaran. Ragu, perlahan aku melangkah melewati pintu gerbang taman dan hati-hati aku mendekatinya. Tepat saat kaki kananku hampir menapak beton pembatas antara tanah berumput dan kotak pasir, anak laki-laki berambut pirang itu mengangkat kepalanya, membuat kami berdua terkesiap keras nyaris bersamaan; aku karena tak siap dengan konfrontasi mata biru cerahnya yang tajam dengan kilau pantulan sinar jingga matahari (indah sekali…) dan dia karena, e-eh, kalau aku tak salah liat … takut? Tidak, sekilas, walau nyaris hanya sepersekian detik tadi, sorot mata itu tak menampakkan emosi takut—alih-alih, seperti jahil. Tapi, sekarang kedua mata itu menampakkan emosi takut … eh, bukan takut, lebih tepatnya ngeri! Dan itu sama sekali tak memperbaiki situasi di antara kami.

Lalu sesuatu terjadi; tanpa peringatan, anak laki-laki itu tiba-tiba saja melompat menjauhiku, membuatku reflek ikut mundur, dan berteriak, "SADAKO! JANGAN GANGGU AKU!"

Huh?

Dia bilang apa?

"Eeeeeh?!"

.

.

.

"What. The. Hell?"

"Seriously?"

"Bhuahahaha-hmmmmrrrph!"

"Tennie, apakah kau tak sadar jika di sini kau yang lebih mirip sadako dengan tawamu itu?"

"Hmmmrrph-mmmpphh-eeeeemmmmmph!"

"Huh? Kau bilang apa, Ten?"

"Errr, Matsu-chan, bukannya kau juga ikut makan keripik pedasku ya? Apa tanganmu sudah bersih?"

"Eh? Uh-oh! Maaf, Tennie!"

"PANAAAASSSSS!"
"Napas, Ten, Napaaaas!"

"AIR!"

"Air-air-air … Tema-chan, di mana tadi airnyaaaa?"

"AIIIRR!"

"Oh, My …"

"Saku, berhenti dulu mendramatisirnya! Bantu mencari airnya!"

"AIIIIIRRRR!"

"Ino, bukannya tadi kau yang menyimpan botol airnya di tasmu?"

"Eh? Oh, iya, hehehe, maaf. Ini, Ten."

"Hmph! Akhirnya! AIR!"

"…"

"…"

"…"

"Aku lanjutkan saja ceritaku, ya?"

.

.

.

"Bhuahahahahah…"

Duduk di ujung salah satu bangku kayu paling dekat dengan pintu gerbang taman, sesekali aku melirik anak laki-laki bermata biru yang juga duduk di ujung lain dari bangku yang kududuki melalui poni rambutku yang sesekali bergerak tertiup semiliri angin sore. Dia sedang sibuk memegangi perutnya kuat-kuat dan terus tertawa. Padahal dia sudah tertawa seperti itu sejak selesai berteriak tadi, membuatku malu dan kesal setengah mati. Tapi entah kenapa, dadaku menghangat mendengar tawanya. Uh-oh! Tidak mungkin!

"Hmmmph, maaf, tapi ekspresimu tadi su-sungguh … hmmrrph, tak terduga! Hahahahahaha!"

Aku menunduk berusaha menyembunyikan pipiku yang sangat panas di balik helai rambutku, pasti warnanya sudah semerah stroberi. "Ti-tidak lucu! Ka-kau… Ba-bagaimana bisa kau mengerjai orang yang baru kau temui!" semburku kesal untuk yang kesekian kali padanya. Dia terkekeh untuk beberapa saat lalu menarik napas panjang dan menghapus sisa air mata di ujung matanya.

"Maaf, kau pasti tadi terkejut, ya," ujarnya tanpa ada nada bertanya atau memastikan di suaranya. Kuperhatikan sejenak saat ia berputar memosisikan tubuhnya hingga duduk menyamping, menghadapku dengan sisi kiri tubuhnya bertumpu pada sandaran kursi, membuat jantungku nyaris berhenti berdetak. Posisi duduknya yang membelakangi matahari terbenam membuat mata birunya menggelap, seolah memberikan kesan misterius di sosoknya. Ya Tuhan, ada apa dengan jantungku?

Aku kembali menunduk. Tak tahu bagaimana seharusnya aku menanggapinya, aku hanya mengatakan, "Be-begitulah," dengan lirih. Keheningan melingkupi untuk beberapa saat, tapi aku bisa melihat dari ujung mataku kalau ia sedang mengamatiku secara terang-terangan, membuat pipiku yang sejenak sempat mendingin kembali memanas. Sesekali mata kami tak sengaja bertubrukan, membuatku salah tingkah. Lalu dia tersenyum lebar.

"Aku Naruto, Namikaze Naruto dari kelas 2-3. Kau?" tanyanya tanpa ragu. Sejumput rasa iri menyusup di dadaku, andai aku bisa sepercaya diri itu.

"Hinata, Hyuuga Hinata, da-dari kelas 2-1," jawabku pelan. Sepertinya suaraku terlalu pelan karena Namikaze-san kemudian mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Oh! Anak baru pendiam pindahan dari Ame itu, ya?"

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak kembali menunduk dan bergeser menjauhinya meskipun hampir tak ada lagi sisa dari bangku yang aku duduki; membangun tembok tak kasat mata di antara kami. Kenapa aku tadi menerima ajakannya untuk mengobrol sebentar?

"Oh, maksudku bukan seperti itu!" seru Namikaze-san buru-buru dengan nada menyesal, bergeser maju mendekatiku. "Hanya saja … itu yang aku dengar dari teman-teman, tapi bukan berarti aku mempercayainya mentah-mentah! Sekarang setelah kita bertemu aku tahu kau tidak pendiam. Kau hanya … pemalu? Dan sedikit pendiam? Tapi hanya sedikit kok," cerocos Namikaze-san kemudian mengangkat tangannya di depan wajahnya dan mendekatkan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya untuk menekankan, "Sedikiiiit sekali!"

Mau tak mau aku tersenyum melihat bagaimana dia memasang berbagai macam ekspresi kalut, lugu, meyakinkan, dan memohon dalam satu waktu. Senyumku yang ternyata mampu dia lihat segera memberikan efek padanya; tubuhnya kembali bersandar menyamping rileks dan senyum cerah segera terpatri di wajahnya yang kecoklatan.

Dengan penuh kemenangan dia berkata, "Ha! Kau terseyum! Berarti kau sudah memaafkanku 'kan, Hinata-chan?" aku berjengit mendengar panggilan itu, tapi sepertinya dia tak menyadarinya. Kuanggap itu memang kebiasaannya; langsung akrab dengan orang asing. Dan jujur saja, cara Namikaze-san menyebut namaku … aku sedikit menyukainya. Ya, hanya sedikit. Iya, 'kan?

"Yoosh, mungkin untuk membayar salahku tadi, kau boleh bertanya duluan," aku menoleh dan memiringkan kepala menatap—untuk yang pertama kali—nya secara langsung. Kuperhatikan ekspresi Namikaze-san berubah dengan cepat; dari santai, kaku, lalu seperti berusaha santai lagi—huh? Apakah dia baik-baik saja?

.

.

.

"Hoho, aku berani jamin anak laki-laki itu pasti sudah jatuh cinta padamu, Hinata-chan!"

"Hummmh, jadi penasaran dengan nama anak itu. Kita benar-benar tidak bisa merubah peraturannya, ya?"

"No, no, no, tidak boleh ada yang berubah! Nanti tidak seru lagi."

"Yup, bertahan saja. Biarkan semuanya tetap menjadi misteri…,"

"Berat, sih. Tapi mau bagaimana lagi?"

"Uummm, bolehkah aku melanjutkan ceritaku?"

.

.

.

"Be-bertanya duluan?"

Namikaze-san meringis jenaka, "Bukankah kalau berkenalan kita harus saling bertanya supaya bisa benar-benar kenal satu sama lain?"

"Oh!" segera kubekap mulutku dengan sebelah tangan saat kusadari mulutku yang terbuka lebar. Tentu saja, kenapa aku bisa tidak peka? Aku kembali menunduk malu. "Ma-maaf, aku lupa," ucapku pelan. Namikaze-san hanya tersenyum pelan.

"Tidak apa-apa. Jadi?"

Merasa terintimidasi dengan ekspresi penuh antisipasi darinya, aku mencoba mencari pertanyaan yang bagus. "E-etto, ano ne … ta-tadi kau sedang apa? Berteriak-teriak seperti itu?"

Bisa kulihat kedua pipi Namikaze-san yang sedikit memerah, membuatku merasa lebih lega. Setidaknya sekarang aku tahu kalau bukan hanya aku yang memiliki bakat itu. "Oh, a-ha-ha-ha," tawanya terdengar sedikit dipaksakan, "Itu tadi… aku sedang… eh-hem… latihan untuk klub drama," jawabnya sedikit malu-malu.

Mengerutkan dahi, "Klub… drama?" tanyaku ragu.

Namikaze-san mengangguk, "Ya, aku ikut klub drama. Aku suka acting," meringis, dia menggaruk lehernya malu-malu. Tanpa bisa aku tahan aku reflek melihat penampilannya dari ujung kaki hingga kepala; Namikaze-san memang memiliki wajah yang menarik—tidak bisa disebut tampan tapi menyenangkan untuk dilihat, apalagi dengan kedua mata biru terangnya yang ekspresif dan goresan tanda lahir samar di kedua pipinya, membuatnya terlihat liar sekaligus imut dalam satu waktu—, namun bukan tipe wajah yang umumnya akan mendominasi panggung teater. Ekspresi wajahku pasti menggambarkan apa yang aku pikirkan, karena kemudian kusadari senyum Namikaze-san melunak, "Aku benar-benar tidak punya potongan artis, ya?" walaupun terdengar riang, aku bisa mendengar setitik nada suram di suaranya, terang saja membuatku menyesal.

"Bu-bukan maksudku seperti itu!" pekikku buru-buru, tapi Namikaze-san hanya terkekeh pelan dan melambaikan tangannya.

"Tidak apa-apa, Hinata-chan. Aku sudah biasa kok," kalimat yang justru semakin membuatku sulit bernapas.

"Dulu bahkan aku pun kesal dengan diriku sendiri," jelas Namikaze-san santai. "Di antara semua klub, kenapa justru drama yang benar-benar menarikku, bukannya klub olahraga seperti yang anak laki-laki lainnya sukai. Jadi aku menceritakannya ke ibuku, tapi kau tau apa yang dia lakukan, Hinata-chan?" mata biru Namikaze-san tampak berkilau saat menyebut ibunya. Terlalu terpaku untuk menjawab, aku hanya menggeleng. Namikaze-san tertawa pelan, "Ibuku memarahiku habis-habisan."

Aku harap dia tak menyadari usaha kerasku untuk tidak berjengit dan menangis saat itu juga. Sepertinya dia memang tak menyadarinya—atau mengabaikannya—karena kemudian dia melanjutkan, "Dia bilang apa yang kurasakan itu sesuatu yang langka dan tak semua orang bisa merasakannya apalagi memiliki keberanian untuk memerjuangkannya, jadi jika aku memang keturunan dari Namikaze, aku harus jujur dengan apa yang benar-benar aku inginkan dan berani memerjuangkannya." Sejurus Namikaze-san menoleh padaku dan tersenyum jenaka, "Berlebihan sekali, ya?"

Terkesiap, aku menunduk. "A-aa, sedikit," sahutku asal. Namikaze-san meledak tertawa—berusaha tak kuacuhkan desiran sejuk di dadaku saat mendengarnya.

"Yaah, tapi dia benar. Jadi aku bergabung dengan klub drama … dan sekarang lihat hasilnya!" Namikaze-san mengacungkan gulungan kertas di tangan kanan yang sejak tadi memang dia pegang. Sepertinya itu naskah. "Kau tahu ini apa, Hinata-chan?" Tanyanya sedikit tidak sabar.

Meringis, aku mengangguk, "Kalau tidak salah … itu naskah?"

"Yup, benar sekali!" angguk Namikaze-san dengan penuh semangat. "Tapi ini bukan sembarang naskah. Kau tahu kenapa, Hinata-chan?" sepertinya aku tahu, tapi melihat dari ekspresinya, Namikaze-san ingin sekali mengatakannya, jadi aku hanya menggeleng. "Karena di naskah inilah untuk pertama kalinya aku dapat peran!" umumnya penuh kebanggaan.

Aku tak tahu harus merespon bagaimana, jadi aku mengikuti instingku dan berkata, "Be-benarkah? Selamat kalau begitu, Namikaze-san. Ka-kalau aku boleh tahu, perannya apa?"

Instingku kali ini ternyata sangat tepat, karena masih dengan penuh semangat, Namikaze-san membuka naskahnya dan mencari-cari halaman di mana perannya muncul. "Ah! Ini dia! Kau bisa lihat sendiri, Hinata-chan," ia menyodorkan naskahnya padaku.

Aku menerima dan mulai membacanya. Beberapa puluh detik kemudian kurasakan keningku mengerut, ini bukannya …?

Melihat ekspresi pemahamanku, Namikaze-san segera mengungkapkan apa yang menarik perhatianku, "Kau lihat, 'kan? Klub kami tahun ini ingin menampilkan cerita horor Sadako dan aku mendapatkan peran yang cukup penting."

"Di sini bukannya kau menjadi …?"

"Yup!" potong Namikaze-san cepat. "Di sini aku berperan sebagai salah satu korban Sadako." Cepat-cepat kulirik kembali naskah di tanganku, melihat bagian percakapan yang diberi tanda stabilo, perannya memang sebagai korban. Tapi di mana letak pentingnya kalau dia hanya memiliki bagian berbicara dua baris dan akan muncul selama tidak lebih dari satu menit saat kemudian perannya mati?

.

.

.

"Hihihi, aku tak tahu dia seperti itu karena bebal atau memang sangat sabar."

"Hahahah, menyedihkan sekali!"

"Yap, parah. Hehehe,"

"Heeee, aku tak tahu harus berkomentar apa…?"

"Hmmph, hahaha, Bukannya seharusnya kita memujinya?"

"…"

.

.

.

Tak ingin menyinggung perasaannya lagi, aku hanya mengangguk pelan dan menyerahkan kembali naskahnya.

Namun tiba-tiba saja Namikaze-san kembali meledak tertawa. "Hahahaha! Harusnya kau lihat ekspresimu, Hinata-chan! Kau pikir aku tidak tahu kalau peranku tidak penting?" pertanyaannya membuatku tak enak setengah mati dan dia malah terus saja tertawa. "Hehehe, semua berawal dari nol, Hinata-chan. Jadi menurutku ini sudah kemajuan besar. Kemarin-kemarin selama hampir setahun, aku cuma kebagian sebagai penata panggung lho! Jadi ini jelas kemajuan, 'kan?" dia mengambil naskahnya sambil menaik turunkan alis pirangnya menggodaku, membuatku mau tak mau ikut tersenyum.

Perasaan campur aduk memenuhi hatiku. Bagaimana mungkin dia bisa seoptimis itu? Kalau aku pasti sudah menyerah sejak awal.

Kulirik lagi Namikaze-san yang masih tersenyum lebar, memberikan efek berdesir dan hangat yang sama pada dadaku. Menarik napas panjang. Tuhan, ada apa denganku?

Lalu, seakan ada sebuah lampu bohlam menyala di kepalaku, aku pun tahu, "Pasti bisa." Pikirku, sejurus baru aku sadari bahwa aku menggumamkannya dengan cukup keras.

Namikaze-san mengangkat alisnya padaku, "Huh? Apanya yang bisa, Hinata-chan?"

Sejenak aku menimbang, haruskah aku mengatakannya? Tidak ada salahnya, 'kan? Meskipun akan sedikit memalukan dan berkesan sok tahu. Tapi aku ingin dia tahu kalau aku …

Aku mengangkat mataku dan untuk kedua kalinya menatap tepat pada mata biru Namikaze-san. Dia sedikit terpaku melihat perubahan emosi yang pasti jelas terlihat di wajahku. Berusaha mati-matian menahan rona di pipiku dan mengacuhkan raut terkejutnya, susah payah aku menarik kedua ujung bibirku ke atas—semoga saja tak terlihat terlalu aneh karena aku jarang tersenyum langsung kepada orang yang baru kukenal—lalu aku mengatakannya dengan hati-hati, "Kau pasti mewujudkannya, Namikaze-san. Kau pasti bisa menjadi aktor berbakat."

Dan semoga saja perasaanku tersampaikan, karena aku ingin dia tahu…

Kalau aku mendukungnya… dan juga karena aku rasa, aku menyukainya.

.

.

.

"Eeeeh? So sweeeeet! Lalu apa yang terjadi, Hina-chan? Kau masih berhubungan dengannya tidak?" rengek Ino tak sabar karena tiba-tiba saja Hinata menghentikan ceritanya. Yang lainnya mengangguk tanda mereka mendukung gadis berambut pirang itu.

Hinata tersenyum kecil—senyum yang sedikit sulit didefinisikan, perpaduan antara seperti geli dan sedih—, "Dia berteriak terima kasih dan nyaris memelukku kalau saja aku tidak melompat menjaga jarak," tertawa pelan, "lalu dia mengajakku untuk bertemu lagi selama liburan panas di taman itu, di waktu yang sama. Dia ingin aku menemaninya berlatih," lanjutnya menerawang.

Temari mengerutkan kening, "Eh? Tapi bukannya…?"

Ino menoleh galak pada Temari, melupakan satu fakta penting yang membuat Temari terpaksa merusak suasana nyaman di antara mereka. Matsuri, Tenten, dan Sakura terdiam, ekspresi mereka sama tampak terganggunya seperti Temari.

Hinata menoleh, memandang mereka satu persatu dan tersenyum. Mengangguk ia berkata, "Ya, aku tak bisa datang karena tak lebih dari 20 jam kemudian aku sudah berada di Suna," menarik napas panjang. "Kalian lihat? Aku tahu aku akan pindah, tapi aku bahkan tak memiliki cukup keberanian untuk mengatakannya. Aku meninggalkannya."

Tak ada yang bersuara. Semua tampak bergelut dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

"Kau tak pernah bertemu lagi dengannya? Berhubungan dengannya? Kalian tidak tukar nomor, email, atau apapun? Bagaimana kabarnya pun kau tak tahu, Hina-chan? Sungguh?" tak tahan lagi, Ino akhirnya menyuarakan kegusarannya. Hinata menunduk dan menggeleng. "Demi Tuhan, Hinata! Ini jaman apa? Ada ponsel, email, Facebook, Twitter, bahkan WA! Tapi kau tak memanfaatkan satu pun dari mereka?" dengan nyaris memekik di akhir kalimatnya, Ino pasti sudah akan mengguncang-guncang bahu Hinata kalau saja ia tidak sudah ditahan Sakura.

"Hei-hei, Ino. Sabar dulu, semuanya sudah berlalu, 'kan? Tidak ada gunanya kau marah-marah seperti itu. Lagipula Hina-chan kan seumuran dengan kita? Jaman SMP kita dulu pasti belum ada Facebook dan kawan-kawannya!" Sakura mendengus geli, diikuti dengan tawa cekikikan dari yang lain.

"Eh? Belum ada ya?" Ino membeo, menoleh pada Hinata yang menggeleng dan ikut terseyum.

Tenten mendengus, "Friendster saja belum terkenal," mengundang yang lainnya kembali tertawa.

Ino menyipitkan matanya, "Well, bagaimanapun, aku tetap kecewa padamu, Hinata-chan!" mengacungkan jari dengan kuku bercat merah menyalanya pada Hinata, "Kau menyia-nyiakan potensi akan adanya cerita kasih di SMP yang bagus di sini!"

Hening, semua melongo menatap Ino. Bahkan bibir Temari pun sedikit merenggang.

"Dia mulai gila," Tenten menggeleng dan memasang ekspresi ngeri. Ino mendelik padanya.

"Tidak, Tenten, dia tidak mulai gila," menoleh cepat, Ino memandang Sakura yang tersenyum semanis padanya penuh curiga, "Dia kan memang sudah gila, jadi yang benar itu kambuh." Sakura buru-buru mengangkat kakinya ke atas kursi, menghindari tendangan mematikan dari ujung sol sepatu boot merah tebal sahabatnya.

"Aku kan hanya mengungkapkan fakta! Jangan bilang kalian tidak berpikir begitu," tantang Ino berapi-api, yang segera disambut gelengan kompak dari teman-temannya.

"Aku tidak berpikir begitu, Ino-chan. Sungguh. Kan itu bukan ceritaku?" Matsuri berusaha memasang wajahnya sepolos mungkin, membuat yang lainnya tersenyum geli.

"Iya, Ino-chan. Kau sedikit terlalu bersemangat sekarang. Lihat saja, syalmu sampai basah begitu," Temari menunjuk bekas tumpahan air saat Ino minum tadi dengan ekspresi geli, tak ingin kalah menggoda Ino.

Ino menggeram kesal, "Ah! Terserah kalian. Tidak seru!" dan langsung melipat kedua tangannya di depan dada sambil mencebik.

Temari dan Hinata tertawa pelan, Matsuri bahkan sampai menutup bibirnya dengan tangannya, sedangkan Tenten dan Sakura hanya menggeleng dengan ekspresi geli terpatri di wajah mereka.

"Ya sudahlah. Terima kasih atas cerita manisnya ya, Hina-chan? Semoga kau… ah, tidak! Semoga kita semua bisa bertemu dengan anak laki-laki itu nanti. Jadi kau bisa melanjutkan kisah kasih di SMP-mu seperti yang dikatakan Ino tadi." Hinata kontan merunduk berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah saat kedipan jenaka Sakura disambut dengan seruan 'cieeee' dari teman-temannya.

"Okeeee, lanjut! Sekarang siapa yang ingin bercerita?" tak ingin merasa kebagian, semuanya saling menoleh dan menuding.

"Kau saja, Ino-chan. Berhubung daritadi kau meneriakkannya, kau pasti punya kisah kasih di SMP-mu sendiri yang ingin kau bagikan, 'kan?" tantang Tenten pada Ino.

"Har-har, kenapa tidak Sakura saja? Di sini dia satu-satunya yang memiliki warna rambut berbeda selain Hinata, 'kan? Itu suatu pertanda! Lagi pula, melihat dari keunikan warnanya, pasti dia memiliki cerita yang juga unik. 'Kan dia juga penggagas pertanyaan ini?" cetus Ino asal, tak mengacuhkan pelototan maut yang Sakura lemparkan padanya.

"Uuukh, bolehkah aku mengusulkan sesuatu?" setelah beberapa lama diam karena lelah berbicara, akhirnya Hinata harus kembali mengangkat suaranya. Ino, Tenten, dan Sakura segera menghentikan pertengkaran mereka dan menoleh pada gadis berambut gelap itu.

"Tentu, Hina-chan, katakan saja," Matsuri tersenyum mendukung.

Hinata mengangguk lega padanya. "Bagaimana kalau… pencerita sebelumnya saja yang memilikih pencerita selanjutnya?" ucapnya ragu-ragu.

Hening.

"Iya-ya? Benar juga!" Tenten memukulkan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kirinya. Yang lain menggumamkan persetujuan yang sama.

"Baiklah, menurutmu siapa pencerita selanjutnya, Hina-chan?" pertanyaan Temari membuat semua kembali hening, menunggu penuh antisipasi terhadap keputusan Hinata.

Setelah menimbang-nimbang beberapa lama, akhirnya Hinata mengangkat kepala dan menatap teman-teman sekursinya, "Menurutku pencerita selanjutnya adalah…," sengaja menggantung untuk memberikan efek dramatis, Hinata menarik ujung kedua bibirnya.

"Matsu-chan?" putusnya akhirnya.

"E-eeeeeeeeeeeh?" Matsuri.

"Bagus sekali, Hina-chan!" Sakura.

"Way to go, Matsu!" Tenten.

"Oooh, ayo-ayo! Aku tak sabar mendengarnya!" Ino.

"Good luck, Matsu-chan." Temari.

"Eeeeeeeeh? Benar-benar aku?" menoleh pada Hinata yang mengangguk. Pasrah, "Haaaah, baiklah … tapi kalian jangan terlalu berharap, ya? Aku tak punya banyak cerita cinta," menggigit bibir bawah, Matsuri berdehem tak nyaman.

"Sudah, tak usah banyak alasan, Matsu! Sikat saja!" seru Tenten mengompori.

"Oke-oke, dimulai dari mana ya? Ah … sebaiknya dari sini saja …,"

Dan kisah lain dari masa yang lain pula itu pun mengalir menggantikan kisah sebelumnya dengan tak kalah lembut dalam kesederhanaannya.

.

.

.

Gapailah langit, karena jika meleset pun, kau tetap akan berada di antara bintang-bintang. (Rosa Torcasio)

.

.

.

Story 1 End

.

.

.

C U!

.

.

.

A/N:

O.M.G? What happened with this story? O.o

Haaaah … terserah deh, terseraaaaaaaah *teriak-teriak ga jelas*

Kayaknya aku benar-benar keracunan kebiasaan bikin cerita bermakna eksplisit deh. God, Help Me T_T

Oh,Yo, Guys! Apakah ada yang merindukanku? Ho-ho-ho #dilempar martil

Gila, chapter ini adalah chapter yang paling stuck yang pernah Sky bikin. Ajigile aja … butuh ngelewatin 3 kali lebaran 3 kali puasa dulu buat Sky nyelesaiinya! Dan hasilnya? Tetep aja amburadul =="

Yang jadiin susah coba deh tebak apa?

#krikkrik

Yep, penjiwaan buat karakter Hinata! *HeRi*

Dari semua tokoh dari 6 cewek ini, Hinata itu salah satu tokoh yang kepribadiannya susah Sky rasain. Secara ya, Hinata ma Sky tu ibarat pegunungan ma tanah datar, jadi susah ketemunya! *lirik badan ndiri ma badannya Hinata* wkwk, malah hentai. X"D

Sky harus bolak-balik ngerubah alur karena saking nggak dapat feel-nya. Sampe akhir pun sebenernya Sky masih ragu buat update, tapi mau gimana lagi? Mau dirubah kayak apapun ntar jadinya nggak bakal jauh-jauh dari ini. Diksi Sky juga agak berubah ya kayaknya? Haaaah … maaf ya, kalau temen-temen kecewa? T_T

Yo wislah, buat chapie selanjutnya tantangan buat Sky adalah GaaMatsu! Ihiiiir … pair yang paling jarang dibuat di antara semua pair di fandom Naruto~ *mbatin: alamat bakal OOC lagi dah =_=*

Oh, hampir lupa! Buat kemarin yang udah dengan sangat baik hatinya review, harus aku kasih apa kalian supaya kalian mau review lagi? Hiks … #ditabok panci

skyesphantom,

Ucucubi,

,

Rieiolanthe,

kithara,

Banjir TomatCeri,

nakato-san,

Nina317Elf,

danDogoier,

Guest,

nta-unintended,

Aihara Aya,

Tsurugi De Lelouch,

missclouds,

Scy Momo Cherry,

Bunga Sakura,

cherry girl,

uniquegals,

SeiHinamori,

Mizu Kanata,

Haruno Kagura,

NAKAJIMA Miyako,

uchihyuna,

Uchiha Yui-chan,

woroworo,

Nhakina Aqheela,

N'Khiena.

LOVE YOU AND THANK YOU GUYS SO MUCH! :D

Special Love and Thanks for:

Phipi, yang selalu sabar ada di sampingku, dukung aku dan dengerin semua curhatku. /kisses/

Aika Umezawa, yang udah mau sabar dengerin dan jadi tempat tuker pendapat tentang segala hal yang berhubungan ma fanfic. /hugs/

missclouds, yang udah setia selalu dukung aku di sini dan di sana dan selalu setia jadi temen berantemku di chat. /kicks/

Well, seperti biasa, makasih buaaaanyak buat yang udah sempat lirik, baca, apalagi sampe review. You are the best like ever, Guys!

Kalo ada kritik, saran, atau ungkapan emosional lainnya… monggo tinggal isi kotak ripiu di bawah ini. Segalanya akan diterima dengan sedikit filter tapi penuh rasa terima kasih dan haru oleh Sky! X33

YOOSH, meskipun udah telat aku tetep pingin bilang: SELAMAT TAHUN BARU 2014! :DD

Finish on February, 1st 2014 at 00:00 PM

See and Love you!

Here with,

~Sky~