Medan magnet berupa kesederhanaan yang manis—
"... aku menemukannya jauh setelah dia menemukanku ...,"
.
.
.
Untuk sejenak, hanya keheningan yang menguasai keenam gadis itu. Matsuri menyandarkan punggung, memejamkan kedua mata dan menghirup udara yang masih cukup dingin di dalam gerbong kereta bermesin penghangat dan dipenuhi dengan penumpang tersebut. Jika saja bukan karena kakinya yang secara konstan bergerak kecil naik-turun, kelima temannya pasti sudah mengira ia tengah berusaha mengabaikan mereka dengan sengaja berpura-pura tidur.
Merasa usil, Tenten melambai-lambaikan tangan kanan di depan wajah teman berambut pendeknya itu dan memasang berbagai ekspresi aneh kepadanya. Membuat Hinata tak bisa menahan diri untuk menjejalkan kedua tangan di mulutnya guna menahan tawa. Sedangkan yang lain hanya bisa tersenyum kecil (Temari), menggelengkan kepala sambil mendecakkan lidah (Ino), dan memutar kedua bola mata penuh imajinatif (Sakura) menanggapinya.
"Tenten!"
Sontak Tenten menarik tangannya dan memasang wajah bak malaikat. "Ya, Matsu?" jawabnya manis, tak mengindahkan tawa cekikikan dari teman-temannya.
"Aku melihatnya!" Sentak Matsuri tanpa repot-repot membuka kedua mata.
"Huh? Aku tak mengerti apa yang sedang kau bicarakan, Matsu-chan," sahutnya masih dengan wajah tanpa dosa dan nada polos yang sangat meyakinkan.
Akhirnya Matsuri membuka mata dan menyipitkannya pada Tenten yang tetap dengan senyum malaikatnya. "Nice try," desisnya galak namun saat teman-temannya malah tertawa, mau tak mau ia pun ikut tertawa.
"Haah, lebih baik aku mulai saja ceritaku. Tapi," Matsuri menyelipkan helaian rambut di belakang telinga kanannya, "Seperti yang telah aku bilang, aku tak memiliki banyak cerita asmara," mengangkat bahu, "Hanya satu ini. Itu pun terjadi saat aku masih SMA," tersenyum kecil.
Kelima gadis lainnya seolah terpaku di tempat mereka masing-masing dengan memasang ekspresi yang nyaris identik—antara terkejut dan tak percaya. Reaksi yang tak luput dari pengamatan Matsuri.
Tertawa ringan, gadis bermata gelap itu berkata, "Jangan menatapku seperti itu, teman-teman! Berlebihan sekali kalau kita selalu mengharapkan kisah hidup kita seperti serial drama percintaan yang ada di TV, 'kan?" menyentuh ujung helaian rambutnya. "Lagipula bagiku satu ini saja sudah cukup rumit," tambahnya sambil mengedipkan sebelah mata.
Saling bertukar pandang, akhirnya kelima gadis itu menyerah. "Oke, lalu apa yang terjadi?" Tanya Ino cukup sabar.
Memandang kedua tangannya, Matsuri tersenyum samar. "Saat itu pertengahan musim gugur yang cukup basah. Mungkin karena itulah aku menemukannya jauh setelah dia menemukanku, karena hujan membuatku tak terlalu awas dengan sekelilingku…,"
.
.
.
"By Chance"
.
.
.
Copyright (2013)Skyzhe Kenzou
Standard Disclaimer Applied by Masashi Kishimoto
.
.
.
Warning Inside! Alternative Universe and (Like other authors, I try hard not to make it very) Out Of Character
Fleeting Short-Stories
The Past is using First Point of View
"Matsuri"
.
.
.
Chapter 4: Bear (2nd Story)
Setelah sekali lagi kupastikan bahwa setiap kancing mantel hujanku terkait dan topi wolku tak miring, aku mengambil payungku dari tempat payung di samping pintu masuk toko lalu menoleh kembali ke dalam toko dan berkata, "Terima kasih untuk kerja samanya hari ini. Aku pulang dulu, Miwako-san, Ana-chan!"
Miwako-san dan Ana-chan yang masih cukup sibuk menggunting kain boneka sesuai dengan pola yang tergambar di sana serentak mengangkat kepala, "Terima kasih untuk kerja samanya hari ini. Hati-hati di jalan, Matsuri-chan!" jawab mereka nyaris bersamaan.
Tersenyum dan mengangguk aku menarik pintu toko terbuka, sedikit terhibur dengan suara gemerincing bel yang mengikutinya, namun perasaan itu segera menguap saat udara lembab gerimis di luar menerpa wajahku. Dingin sekali. Bahkan dari balik mantelku dapat kurasakan lapisan air yang mulai menempel di setiap jengkal pakaian anti-airku itu. Cepat-cepat kutarik payungku hingga terbuka dan mulai berjalan menyusuri trotoar menjauhi toko setelah sekali lagi kupastikan untuk melambai kepada Miwako-san dan Ana-chan.
Hari ini toko kami cukup produktif, lebih dari 20 boneka terjual dan ada 9 pelanggan yang memperbaiki boneka mereka. Tidak terlalu buruk untuk hari selain hari-hari akhir pekan. Andaikan saja setiap hari seperti ini, pikirku penuh harap, mengingat betapa mengerikannya dua hari yang lalu. Toko kami hanya mampu menjual 3 boneka berukuran kecil, membuat Ana-chan nyaris menangis.
Tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum mengingat bagaimana imutnya ekspresi Ana-chan saat itu, aku berhenti di samping lampu lalu lintas bersama beberapa orang lain dengan payung mereka yang telah lebih dulu menunggu warna hijau untuk pejalan kaki. Sambil lalu kusadari bahwa jalanan malam ini masih cukup ramai—pejalan kaki memadati trotoar di setiap sisi jalan dan sepanjang jalan raya hampir tak luput dari kendaraan.
Ada apa dengan hari ini sebenarnya?
Begitu tenggelam dalam pikiranku, aku nyaris tak menyadari lampu yang telah berubah warna menjadi hijau. Jika saja ujung kiri payungku tidak tersenggol seorang pejalan kaki yang lain, pasti aku hanya akan melamun di samping lampu lalu lintas seperti orang idiot. Buru-buru aku melangkah secepat yang aku bisa, tak ingin mengganggu pejalan kaki lainnya. Lalu saat itulah aku menyadarinya…
Aku tak tahu sejak kapan dia ada di sana, tapi kurasakan sosoknya yang nyaris membayangi tubuhku dari belakangku. Aku memang tak terlalu tinggi, tapi aku juga tak terlalu pendek, jadi bisa kusimpulkan bahwa seseorang yang berada di belakangku itu pasti memiliki tubuh yang cukup jangkung. Bahkan saat sekilas kuberanikan diri untuk melirik ke belakang, aku nyaris tak bisa melihat ujung dagu sosoknya, hanya ujung rambut pendek kemerahannya yang mampu kudapat.
Well, setidaknya aku tahu bahwa seseorang yang kemungkinan besar penguntitku ini adalah laki-laki…, pemahaman yang sama sekali tak menenangkanku. Menahan napas namun berusaha tetap terlihat normal, aku sedikit mempercepat langkahku dan berjalan lurus menyusuri trotoar di seberang garis penyeberangan, kuingatkan pada diriku sendiri untuk memilih rute yang masih dalam jangkauan keramaian.
Jantungku serasa hampir meledak dan kepalaku terasa berputar karena adrenalin. Aku harus tenang dan berpikir. Belum tentu orang ini mengikutiku.
Bisa saja dia terlalu sopan untuk berjalan mendahuluiku di penyeberangan tadi, tidak seperti yang orang normal lain lakukan pada umumnya. Jadi aku harus tenang. Oke, tarik napas!
Berlawanan dengan apa yang kuperintahkan dari otakku, aku memelankan langkahku dan menahan napas lalu melirik ke belakang. Aku nyaris saja memekik.
Orang itu masih mengikutiku!
Tapi bisa saja dia juga ingin melewati rute ini, kan? 'Kan?!
.
.
"Kau terlalu naïf, Matsu!" Tenten.
"Tapi berprasangka buruk itu tidak baik, Tennie-chan." Hinata.
"Kalau begitu nasihat itu mungkin lebih cocok untukmu, Hinata-chan." Sakura.
"Aku tak bisa lebih setuju." Temari.
"Bisakah kalian berhenti bicara ?!" Ino.
"…"
"…"
.
.
Kembali mempercepat langkah, aku berusaha berpikir dan saat melihat ujung lampu lalu lintas perempatan jalan lain yang harus kuseberangi itulah aku mendapatkan ide. Alih-alih menyeberang seperti yang biasa kulakukan, aku mengikuti arus pejalan kaki yang berbelok ke kanan memutari blok. Setelah sekali lagi berbelok ke kanan hingga benar-benar hampir memutari satu blok bangunan pertokoan dan kupastikan bahwa sosok itu memang mengikutiku, dengan gerakan kilat aku melompat ke bagian dalam trotoar hingga nyaris menabrak kaca etalase toko pakaian terdekat yang masih buka dan berbalik menghadapi sosok itu.
"Saya tahu anda mengikuti saya. Apa yang anda inginkan?" Susah payah kalimat yang hampir selama semenit tadi kulatih dalam otakku kulontarkan. Sayangnya dapat kudengar suaraku bergetar. Kumiringkan payungku hingga aku dapat mendongak dan melihat wajah sosok penguntitku yang kali ini terlihat sangat jelas diterangi lampu baik dari dalam toko maupun dari bawah kanopi depan toko pakaian di belakangku. Kurasakan jantungku terjun ke perutku.
Penguntitku memang laki-laki, tapi bukan laki-laki dewasa seperti yang tadi kubayangkan. Dia masih seumuranku, mungkin bahkan sebaya denganku. Rambut merah terangnya terlihat semakin mencolok di bawah siraman lampu neon. Kulitnya sepucat susu. Jika saja tidak ada tanda hitam di sekeliling kedua matanya, wajahnya pasti akan berkesan transparan.
Wajah transparan yang menawan.
Nyaris tersedak dengan pikiran anehku itu, aku memaksa diriku untuk kembali ke kenyataan. Pemuda ini seorang penguntit, demi Tuhan!
Merasa jengah dengan kedua mata sewarna daun muda di musim semi yang hanya menatapku dengan tanpa ada tanda-tanda akan menjawab pertanyaanku itu aku menggenggam erat-erat payungku dan kembali bertanya, "Aku tahu kau mengikutiku. Apa maumu?" suaraku masih bergetar, tapi setidaknya aku tak harus memakai bahasa formal lagi.
Lagi-lagi dia hanya diam tanpa ekspresi di bawah payung hijau tua polosnya. Untung saja warna payungnya masih cukup normal, tidak hitam legam. Kalau iya mungkin dia akan terlihat semakin mirip dengan psikopat. Setidaknya hingga detik ini.
Melihatnya yang hanya berdiri di sana dengan latar belakang lalu lalang pejalan kaki dan kendaraan sambil terus menatapku dengan tatapan anehnya itu aku tak tahan lagi. Sedikit hilang rasa takutku hingga aku mampu berkata, "Dengar, jika aku hanya salah paham dan kau tidak mengikutiku, aku minta maaf. Tapi—,"
"Apakah kau suka kopi?"
"—Kau… H-huh?" Apa dia bilang? Kopi? Sepertinya aku salah de—
"Apakah kau suka kopi?" Ulangnya kali ini lebih jelas. Suaranya tak sedingin yang aku duga.
Hening. Otakku serasa lumpuh seketika.
Aku rasa aku harus cepat pergi dari sini…
"Aku ingin minum kopi,"
Aku tak tahu harus menjawab apa?
"Kafe di sana terkenal dengan kopinya," lalu dia melangkah begitu saja menuju tempat yang memang merupakan kafe berjarak tiga bangunan dari toko pakaian di mana aku masih berdiri di depannya.
Ini kesempatanku…
"Kau tidak ingin tahu kenapa aku mengikutimu?" baru saja aku berbalik kembali ke arah aku datang tadi yang berlawanan dengan kafe tujuan pemuda aneh itu saat kudengar kembali suaranya.
Huh? Kalau dia bilang begitu…
Ragu-ragu aku berbalik kembali menghadapnya. Dia masih saja dengan ekspresi tak terbacanya, mengamatiku seolah tak ada yang janggal dengan situasi di antara kami.
"Memangnya kenapa kau mengikutiku?" tanyaku pelan.
"Aku perlu bantuanmu. Tapi sebelum itu, aku butuh kopi." Kepalaku kembali berputar. Apakah aku bisa mempercayainya? Sepertinya dia bukan orang jahat. Lagipula kafe yang dia bilang terlihat cukup ramai. Pasti aman, kan? Dan aku memang ingin tahu alasan dia menguntitku. Jadi aku rasa tak apa-apa, tapi…
"Kalau kau tak keberatan?" Meskipun tak kentara, aku menangkap aura berharap darinya.
Aku rasa tak apa-apa.
"Baiklah, kau duluan." Ucapku sembari dalam hati berdoa agar keputusanku tidak salah. Dia hanya mengangguk kecil lalu berbalik menuju kafe yang entah mengapa sekarang terlihat lebih menarik daripada separuh menit yang lalu.
Bunyi gemerincing bel di atas pintu terdengar saat pelayan kafe menyambut kedatangan kami dengan ucapan selamat datang yang khas dan membantu kami meletakkan payung dan melepaskan mantel. Hal yang cukup membuatku gugup karena pada saat itulah aku baru menyadari suasana berkelas dari kafe itu.
Sepertinya aku harus mengecek dompetku lagi…
Seorang pelayan lain datang dan memperkenalkan dirinya. Karena terlalu gugup, aku hampir tak menyadari antusiasme berlebihan dari gadis pelayan itu saat menyambut pemuda di depanku.
"Selamat malam. Nama saya Megumi, saya pelayan Anda malam ini. Meja untuk berapa orang?" Firasatku mengatakan Megumi-san memang sengaja tak mengacuhkanku.
"Meja untuk dua orang," Jawab penguntitku singkat. Kurasakan lirikan tajam dari pelayan kami yang hanya bisa kubalas dengan tatapan kosong. Panik menguasai sekujur tubuhku.
"Oh, mari ikuti saya," Sepertinya Megumi-san masih berusaha menarik perhatian penguntitku. Aku dan dia mengikuti gadis yang bertubuh lebih tinggi dariku itu menuju jejeran sofa kecil empuk yang berjejer berhadapan lengkap dengan mejanya di sepanjang dinding kaca bagian depan kafe dan berhenti tepat di sepasang sofa dan meja terakhir. "Bagaimana dengan meja ini?"
"Cukup bagus," Kurasakan desakan untuk berlari nyaris membuatku kaku tapi aku bisa menahannya dan ikut duduk saat pemuda aneh itu duduk. Haruskah kukatakan sofanya terbuat dari kulit dan empuk sekali?
"Anda memesan apa?"
Aku berjengit kecil saat dia menoleh dan menatapku. "Eh, ummm, cokelat panas." Kusebutkan hal pertama yang ada di daftar menu di hadapanku.
"Cappucino satu," Ujarnya menyusul tanpa repot-repot melirik daftar menu.
"Cokelat panas satu, cappuccino satu. Ada yang lain?" Megumi-san masih dengan sedikit antusiasmenya. Aku reflek menggeleng dan dia berkata, "Tidak."
"Saya akan kembali dengan pesanan Anda," kuperhatikan Megumi-san yang sekarang lebih terlihat normal meninggalkan meja kami, sepertinya ia sudah menyadari tak adanya harapan. Aku berbalik menatap penguntitku.
Hening.
"Jadi? Apa yang bisa kubantu?" tanyaku lirih.
Pemuda itu kembali terdiam. Kuamati sosok jangkungnya yang terlihat kikuk duduk di sofa berukuran sedang itu dan kaki kanannya terus bergerak naik-turun kecil dengan kecepatan konstan. Kesadaran menghantamku, pemuda itu ternyata tak setenang yang aku kira. Jadi aku menunggu dengan sabar.
"Kau bekerja di toko boneka." Bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Sedikit ngeri tapi aku mengangguk pelan.
"Kau bisa membuat boneka?" Akhirnya aku mendengar sedikit nada di suara baritone jernih itu.
Huh? Apa yang dia tanyakan? Membuat boneka?
"Sedikit, tapi tak sebagus yang dibuat manajer toko tempatku bekerja." Aku tak tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berlangsung tapi aku berusaha menjawab pertanyaannya dengan jujur.
Dia mendengus pelan, membungkuk dan menyandarkan kedua sikunya di masing-masing lututnya. "Bagaimana dengan memperbaiki boneka yang rusak?"
"Aku rasa aku bisa," Aku semakin tak mengerti. Apakah dia menguntitku untuk membicarakan tentang boneka?
"Kenapa kau terlihat tak yakin?" Apakah aku mendengar nada menuduh di sana?
"Hari ini aku memperbaiki 3 dari 9 boneka pelanggan yang harus diperbaiki," jawabku diplomatis, merasa lebih berani setiap detiknya.
Kuamati wajah tanpa ekspresinya yang mengendur menjadi sedikit lebih santai, "Bagus."
Semakin lama situasi ini jadi semakin aneh. Apa maksudnya? Apa yang sebenarnya dia inginkan? Tuhan, kepalaku sakit sekali.
"Permisi, ini pesanan Anda. Secangkir cokelat panas dan cappuccino," Megumi tersenyum profesional dan meletakkan masing-masing minuman kami lengkap dengan mangkuk gula dan sirup. "Ada lagi yang bisa saya bantu?"
Pemuda itu menggeleng bersamaan dengan aku mengatakan, "Tidak, terima kasih, Megumi-san."
"Baik, panggil saya jika Anda membutuhkan atau ingin mengetahui tagihannya. Selamat menikmati," Untuk pertama kalinya Megumi-san menatapku dan tersenyum. Ia membungkuk lalu pergi.
Masih menatap sosok pelayan kami, aku berkata, "Jadi, kau tahu tempatku bekerja dan jelas kau mengikutiku dari sana. Sekarang kau bertanya tentang kemampuanku bekerja. Berarti hanya ada dua kemungkinan kenapa kau mengikutiku dan bantuan apa yang bisa aku lakukan untukmu," Dia hanya menatapku.
Mulai tak sabar aku melanjutkan ucapanku, "Entah kau ingin aku memperbaiki boneka atau kau mungkin pemilik toko boneka lain yang ingin merekrut pegawai dari toko lain. Antara yang pertama dan terakhir, aku hanya berharap kau bukan psikopat atau penguntit aneh yang suka mengganggu gadis-gadis." Wajahku terasa panas saat kulihat sudut mulut kanan pemuda aneh itu terangkat sedikit.
"Tidak terlalu buruk," Ucapnya santai mengangkat cangkir cappuccinonya dan menyesapnya perlahan, "Dan kau benar."
Aku menatapnya was-was, "Tentang?"
Matanya terpancang pada wajahku, meneliti reaksiku, "Memperbaiki boneka. Aku ingin kau melakukannya."
"Kenapa tidak datang saja ke toko? Kenapa… harus sampai menguntitku seperti ini?" Aku masih berusaha memahami situasi ini.
Tanpa melepaskan kontak mata dia berkata, "Aku laki-laki."
"Pelanggan kami banyak yang laki-laki," Sahutku sedikit berbohong, kami memang punya pelanggan laki-laki tapi sebanyak yang aku implikasikan, terlebih untuk laki-laki seusianya. Hanya ada sekitar lima orang, itu pun karena mereka playboy yang suka gonta-ganti pacar. Tambahan lagi tidak ada satu pun di antara mereka yang pernah memperbaiki boneka.
"Aku dari akademi Konoha."
Ah, aku sedikit mengerti. Akademi Konoha. Pasti dia harus mempertahankan citra dirinya. Yaah, jika dilihat dari sudut pandang lain memang terlalu aneh melihat pemuda semaskulin dirinya berurusan dengan hal feminin seperti boneka. Tapi itu bukan urusanku.
Ekspresi pemahamanku sepertinya tertangkap olehnya karena kemudian dia berkata, "Kau mengerti kenapa aku melakukan ini." Berupa pernyataan. Aku hanya mengangguk pelan. "Kau akan bekerja untukku?"
Kugigit bagian dalam pipiku, apakah aku harus melakukannya?
Tak ingin terang-terangan menunjukkan rasa tertarikku, alih-alih aku berkata, "Aku belum tahu namamu."
Sekilas matanya melebar lalu dia tersenyum tipis, "Sabaku Gaara."
Aku mengangguk pelan. "Kono Matsuri."
Dia balas mengangguk.
.
.
"Astaga, Matsu, selama itu kau baru mengetahui nama penguntitmu?"
"Itu memang cukup berbahaya."
"Aku rasa Matsu-chan hanya terlalu takut?"
"Bisa terjadi pada siapapun, 'kan?"
"Aku akui kau sedikit ceroboh, Matsu-chan…"
Menghela napas. "Teman-teman, pahamilah. Situasinya terlalu baru dan aneh bagiku…"
"Oke-oke, lanjutkan saja ceritanya dulu…,"
.
.
"Kau membawa bonekanya?" tanyaku ragu-ragu, kulirik tas ransel hitam yang baru kusadari keberadaannya setelah Sabaku-san melepas mantelnya. Dia mengangguk dan menyambar tasnya. Alih-alih membuka dan menunjukkan bonekanya padaku, dia menyerahkan tas ranselnya padaku.
"Kau boleh membukanya, tapi jangan dikeluarkan," Ekspresinya begitu serius, aku mengangguk dan menarik resleting dengan hati-hati.
Boneka itu berbentuk beruang. Di bawah siraman lampu toko yang terang dapat kulihat kulit lembut hitamnya sudah sedikit kusam. Terdapat sobekan besar di bagian jahitan leher dan ujung kaki sebelah kanan. Yang menarik adalah aku juga menemukan bekas jahitan kikuk yang terlepas di ujung kaki kanannya.
"Kau berusaha menjahitnya sendiri?" Semburku sebelum mampu kutahan.
Dia mendengus, "Aku tak sebodoh itu. Si Bodoh yang merusaknya berusaha menjahitnya secara diam-diam. Aku berhasil menghentikannya sebelum Hitam benar-benar hancur," Lalu kedua mata hijau pucatnya untuk seperkian detik membulat, menyadari kesalahannya.
"Ah, jadi namamu Hitam," Tersenyum lebar aku menunduk memandang boneka di dalam tas itu. Untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa tenang bersama Sabaku-san malam ini. "Nama yang manis. Pasti dia spesial." Tanpa mengangkat wajah, aku menyentuh mata kiri boneka itu. Benar dugaanku, benang pengaitnya harus diperkuat.
Hening sejenak, aku meneruskan memeriksa Hitam, tak berharap dia akan menanggapi. Tapi sekali lagi dia mengejutkanku dengan berkata, "Pemberian ibuku."
Sontak aku mengangkat kepalaku. Dia memandang keluar jendela, sorot matanya nyaris tak terbaca, namun aku dapat melihat sekilas kilatan sebuah emosi di sana. Kerinduan.
Tiba-tiba dia menoleh kembali padaku, membuatku hampir terlonjak di sofaku, "Mungkin ini terdengar mencurigakan tapi aku sudah mengawasimu selama tiga hari ini, Kono-san. Kau tidak pernah melakukan hal yang berlebihan saat bekerja. Kau bersikap ramah tapi tidak pernah melewati batas dengan pelanggan-pelangganmu." Aku meringis, Miwako-san dan Ana-chan memang bisa jadi sedikit terlalu suka ikut campur dan bersikap terlalu ramah. "Kau profesional. Aku rasa aku bisa mempercayaimu tentang ini."
Menatap kedua matanya dan mendapati kejujuran dan kepercayaan penuh di sana, seketika pula itu aku tahu… akan menjadi hal yang sulit bagiku untuk tidak jatuh hati padanya.
.
.
.
Lagi-lagi hening.
Matsuri menatap kawan-kawannya satu persatu, menyadari ekspresi penuh penantian dari mereka ia hanya mengangkat bahu, "Itu akhir untuk ceritaku."
"Kau bercanda, Matsu!" Tenten.
"Ini tidak adil …," Sakura.
"Aku tidak terima!" Ino.
"Tidak bisakah kau meneruskannya, Matsu-chan?" Hinata.
"Sayang sekali…," Temari.
Kelima gadis itu berbicara di saat yang hampir bersamaan dan hampir mampu meluluhkan Matsuri. Namun gadis bermata gelap itu mampu menahan dirinya dan menggeleng,
"Hanya itu yang bisa aku ceritakan pada kalian. Kita harus mematuhi aturan, jangan membuatku merasa bersalah." Matsuri nyaris tertawa melihat ekspresi kelima temannya yang begitu identik, seolah mereka semua anak kembar berusia balita yang ditolak permintaannya oleh ibu mereka.
Menghela napas keras-keras, Ino menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, "Baiklah, kami rasa giliranmu memang sudah selesai, Matsu-chan. Tapi aku ingin menanyakan satu hal dan kau harus menjawab—,"
"Apakah kau masih berhubungan dengannya? Bagaimana kabarnya?" potong Sakura yang langsung saja disambut dengan pelototan maut dari Ino. "Apa? Basa-basi sama sekali tidak cocok untukmu, Ino." Tersenyum tenang, Sakura melipat kedua tangannya di depan dada santai.
"Tidak," Melihat kemungkinan adanya perang lain yang akan terjadi, Matsuri buru-buru menjawab. Berhasil. Perhatian kelima gadis itu kembali terpancang padanya. "Butuh waktu sekitar hampir seminggu untukku memperbaiki bonekanya. Belum pernah aku merasa sedekat itu dengan anak laki-laki seperti dengannya saat itu." Matsuri menunduk dan tersenyum samar. "Ajaibnya, dia juga merasakan hal yang sama."
Hening.
"Jadi kami memutuskan untuk mencobanya. Kalian tahu, berpacaran," Tertawa lirih namun syarat dengan kesedihan. Perasaan semangat yang tadinya sempat dirasakan kelimat gadis itu seketika lenyap.
"Apa yang terjadi?" Tanya Temari hati-hati dengan kedua alis bertaut.
Matsuri menarik napas lelah, "Aku dan rendah diriku. Pengalaman pertama berpacaran dan langsung dengan anak laki-laki yang sangat populer membuatku sangat ketakutan. Setelah dua minggu kami bersama dan dia mengenalkanku pada sahabat-sahabatnya, kabar segera menyebar." Matsuri memejamkan matanya. "Setelah itu hampir setiap hari ada penggemarnya yang datang ke toko tempatku bekerja dan membuat keributan. Dia mencoba menghentikan mereka sekali, mereka memang berhenti menemuiku. Tapi kiriman paket berisi hewan mati, paku, dan surat penuh kemarahan membanjiri kotak pos rumahku. Orang tuaku khawatir, Kakakku marah, dan aku … aku tak tahan lagi. Jadi… aku melepaskannya."
"Neee?!" Hinata menutup mulut dengan kedua tangannya, seakan berusaha menghentikan pekikan yang tak berhasil ditahannya. Ino mengulurkan tangan dan merangkul Hinata, ekspresi kekecawaan tergambar jelas di wajahnya. Sakura dan Temari hanya mengangguk kecil memahami. Sedangkan Tenten mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Kalau saja aku bisa bertemu dengan gadis-gadis kekanakan itu! Akan kubuat mereka berada di ambang kematian, kalau perlu aku akan menggunakan paku," Tatapan campuran antara kekaguman dan kengerian segera diperoleh Tenten dari berbagai arah.
Bahkan Matsuri pun mengangkat kepala, memandang Tenten takjub sesaat lalu tertawa kecil. "Khas sekali, Tennie."
"Aku dengan senang hati akan membantumu, Tennie." Ino menyeringai penuh semangat. Matsuri menatapnya ngeri. Tenten menaikkan alisnya dan menjulurkan tangannya ke depan mengajak Ino ber-high-five, yang langsung menyambutnya.
"Aku rasa itu akan jadi agenda yang menarik," Temari manggut-manggut. Alis Matsuri hampir menyentuh rambutnya saat dilihatnya gadis yang paling kalem itu ikut ber-high-five dengan Ino dan Tenten.
"Aku ikut!" pekik Hinata tertahan. Perasaan puas dan bangga nyaris membuatnya tak bisa duduk diam.
Matsuri menoleh pada Sakura was-was, "Kau tidak akan ikut mereka kan, Sakura-chan?"
Sakura mengangkat sebelah alisnya dan menggedikkan dagu pada keempat gadis lainnya yang memandangnya penuh antisipasi. "Tidak perlu, mereka saja sudah cukup." Matsuri tertawa sedangkan para gadis yang lain mendesah kecewa. "Pada akhirnya aku tinggal mengubur yang tersisa dari mereka, 'kan?"
Sunyi.
Gelak tawa sontak memecah keenam gadis itu sesaat setelah mereka memahami kata-kata Sakura.
"Yaah, karena sepertinya mayoritas dari kita mendukung Tennie melakukan kegilaannya, bagaimana kalau kau saja yang selanjutnya bercerita, Tennie?" Matsuri mengedipkan matanya pada Tenten yang sontak melotot horor dan berteriak, "Matsu! Yang benar saja!"
Dengungan persetujuan segera terdengar.
"Kau jenius, Matsu-chan!" Ino tertawa puas.
"Berjuanglah, Tennie," Ucap Sakura berusaha menampakkan wajah tulus.
"Kami di sini, Tennie," Tambah Temari semakin memanasi lengkap dengan disempatkannya menyentuh lutut Tenten seolah menenangkan.
"Tennie-chan, semangat!" Tak ingin kalah, Hinata bersuara.
"Kalian bercanda!" Tenten menatap masing-masing wajah kelima temannya yang hanya membalasnya dengan ekspresi identik lainnya, penuh penantian dan pengharapan. "Kalian serius?" Serentak mengangguk bersamaan.
"Aaakh! Baiklah! Tapi jangan menyesal. Aku tidak seperti Matsu. Kalau aku bilang aku tidak punya cerita yang terlalu menarik, aku benar-benar jujur. Kisah cintaku lebih zero daripada Matsu."
Kelima gadis itu tak bergeming. Tenten mendesis kesal, melipat kedua tangannya di depan dada dan mulai berpikir. Berusaha menggali kenangan yang berusaha dilupakannya.
"Oke, dari mana aku sebaiknya memulainya? Hmmm."
.
.
.
Hal yang tersulit dalam hidup ini adalah memutuskan kapan kita harus terus berjuang dan kapan kita lebih baik merelakan.
.
.
.
Story 2 End
.
.
.
.
.
.
A/N:
Lebih panjang dari yang aku perkirakan.
Halo, masih ingat denganku?
Nggak ada yang bisa aku katakan selain maaf dan terima kasih atas penantian kalian. Cerita ini aku dedikasikan untuk kalian yang udah bersedia membaca dan meninggalkan jejak di sini. Semoga kalian menikmatinya.
Thanks to you:
devi . meilany (maaf ya? namamu entah bagaimana kehapus di chapter sebelumnya)
Dewa perang
missclouds
andypraze
Putera Jaya
mii-chan07
iya baka-san
NaruHina-Lover
Durara
Ega phika-phika
nawrr
Haruno Kagura
Sunshine Sunset
Hikari ai-hime
Alia Shaza
devanichi
Kisasa Kaguya
kurikuri
Keberatan untuk meninggalkan jejak lagi?
Semoga kita bisa ketemu di cerita selanjutnya dan juga (mungkin) yang lainnya.
Finish on Sunday, November, 11th 2014 at 01:00 AM
Here with,
~Sky~
