Disclaimer : BLEACH © Tite Kubo
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.
LOVE
Chapter 2 : Cherry Blossom Petals
Orihime merasakan pusing yang teramat menyiksa bersarang di kepalanya, bahkan setelah ia matipun ia masih harus merasakan sakit seperti ini. kelima jari lentiknya ia gunakan untuk memijit kepalannya yang terasa sakit, sebelah tangannya ia gunakan untuk membantu tubuhnya bangun dari posisi tidurnya, perlahan ia membuka matanya untuk mentolerir cahaya yang masuk ke dalam kamar.
Wangi ini, wangi khas Byakuya. Dengan tak mengindahkan rasa sakit yang mendera kepalanya ia mengedarkan pandangannya pada kamar yang bernuansa gelap itu, ia tersenyum entah mengapa sakit kepalanya hilang seketika ketika ia menyadari bahwa ia sekarang berada di kamar Byakuya, kekasihnya.
Berbicara tentang Byakuya, dimana dia sekarang? Ah! Dia pasti sudah berangkat ke divisinya, dengan hati-hati Orihime menurunkan kedua kakinya dari ranjang, ia akan berdiri ketika tiba-tiba kamar milik Kapten dengan tatanan rambut baru itu terbuka menampakkan sosok tinggi tegap dengan tatapan dinginnya "Kau sudah bangun?"
"Oh? Byakuya-kun!" ucapnya lembut, menyunggingkan senyuman termanisnya Orihime melangkahkan kakinya ceria menuju Byakuya yang belum beranjak dari tempatnya berdiri "Selamat pagi!"
"Ini sudah siang! Bahkan aku sudah sempat ke divisi 6 tadi, kau benar-benar pemalas!" ujar Byakuya dingin "Cepat rapikan dirimu!"
"…"
"Kenapa kau diam saja?"
"A … aku … tidak punya pakaian lagi selain pakaian yang melekat di tubuhku, jika kau akan mengajakku untuk bertemu dengan Ukitake-Soutaichou akan tidak sopan jika aku memakai pakaian seperti ini!" mata indahnya memandang lekat onyx mata milik sang pewaris keluarga Kuchiki itu.
"Aku sudah memerintahkan pelayan untuk menyiapkan pakaian juga beberapa barang yang mungkin kau butuhkan di kamar mandi! Aku akan menunggumu, cepat!"
"Euhm, baiklah!" gadis itu mengangguk mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh kekasihnya, dengan ragu ia membalikkan tubuhnya untuk beranjak ke kamar mandi yang terletak di tempat yang sama dengan ruangan tidur milik ketua clan Kuchiki itu "Orihime . . ."
"Oh?" ekspresi keterkejutan nampak dari gadis berambut panjang itu, ia terpaku di tempatnya berdiri. Itu untuk pertama kalinya Byakuya memanggilnya dengan nada berbeda, nada lembut tanpa penekanan di dalamnya.
"Aku tidak suka menunggu lama!"
Ahhhh~ Orihime menghela napasnya panjang lega, ia terlalu melambungkan harapannya tinggi tadi, ia sempat menginginkan sebuah kata cinta keluar dari mulut pria itu namun lagi-lagi ia harus menelan pil pahit karena harapannya yang terlalu tinggi itu.
"Aku tidak akan lama, Byakuya-kun!" ucapnya kemudian berlalu dari hadapan Byakuya meninggalkan sang pria Kuchiki dalam diam.
…
Dengan balutan Kimono berwarna Pastel dengan corak bunga Sakura yang menghiasi, Orihime memandang dirinya pada cermin yang terletak di kamar mandi, matanya intens menatap bayangan dirinya di dalam cermin itu, tak ada yang berubah dari dirinya kecuali bahwa kenyataannya sekarang dirinya hanyalah 'sebuah' roh.
Ia menghela nafas panjang, setidaknya ia masih bisa merasakan kehidupan yang tak jauh berbeda dengan kehidupan yang dijalaninya sebagai manusia.
Kini gadis Inoue itu mengaplikasikan bedak pada wajahnya kemudian memoleskan pewarna bibir berwarna peach pada bibir tipisnya, ia nampak puas dengan make up pada wajahnya kini ia beralih untuk menata rambutnya "Aku harus menatanya seperti apa?!" bisiknya, nampak sekali raut kebingungan pada wajah ayunya.
Ya Tuhan, sudah berapa kali pria itu mengetuk pintu, memintanya untuk segera keluar dari Kamar Mandi "Sebentar lagi! Kumohon bersabarlah Byakuya-kun!" Pinta Orihime, kali ini ia memutuskan untuk mengikat rambut panjangnya ala ponytail.
Sesegera mungkin ia mengenakan alas kakinya, kemudian menggeser pintu kayu yang menjadi sekat pemisah antara kamar tidur dan kamar mandi.
"Aku sudah siap!" ucap Orihime lirih, Byakuya yang tadinya sedang membaca beberapa kertas di tangannya mau tak mau menatap direksi dimana Orihime berdiri sekarang, surai rambut orange miliknya ia ikat tinggi dengan Kimono berwarna pastel membalut tubuh mungil milik gadis itu sukses membuat Byakuya tertegun.
"Byakuya-kun?" panggil Orihime ketika menyadari bahwa kini onyx milik Byakuya memandangnya takjub "Euum …." Ucapnya terkejut, dapat Orihime lihat bahwa saat ini telah terbentuk semburat merah jambu pada pipi pria itu. buru-buru begitu menyadari lawan bicaranya telah memandangnya takjub, Byakuya segera mengalihkan pandangannya dari Orihime.
Sang gadis Inoue itu hanya tersenyum simpul, tak ingin menjadi besar kepala karena 'perhatian' yang di berikan Byakuya baru saja, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu keluar "Kita mau kemana?" tanyanya pada sang pewaris clan Kuchiki.
Ia tak menjawab. Pria berperawakan tinggi itu malah berjalan ke arah Orihime yang berdiri di ambang pintu keluar "Ikuti saja aku dan jangan banyak bertanya, kau sudah terlalu banyak bicara!" perintahnya dingin.
Kini keduanya berjalan beriringan tanpa ada satupun yang mengeluarkan satu patah katapun, hanya terdegar suara riak air sungai dan burung-burung yang bernyanyi merdu menemani sisa perjalanan mereka menuju tempat yang dimaksud oleh Byakuya.
"Kita tidak ke divisi utama? Kau mau membawaku kemana Byakuya-kun?" tanya Orihime pada sang kekasih. Tak ada sahutan dari pria berambut panjang itu, ia tetap diam seribu bahasa, membuat sang gadis yang berjalan disampingnya menghela napasnya panjang-panjang, bibirnya mengerucut menandakan bahwa ia kini telah kesal pada sosok tampan di sampingnya.
"Kenapa sakit?" desisnya, namun masih cukup terdengar oleh sosok di sampingnya.
"Kau tidak apa-apa?"
Orihime hanya menundukkan kepala, mengangguk lemah "Aku tidak apa-apa".
Keduanya kini kembali berjalan dalam diam, Orihime berusaha untuk menguasai emosinya meskipun hatinya masih terasa sesak karena sikap Byakuya padanya. Mengapa perasaannya masih bisa terasa sakit padahal nyata-nyata ia kini sudah tidak bernyawa, ternyata mati tidak selalu memecahkan masalah. Andai saat itu ia tidak mengorbankan dirinya untuk Byakuya, akankah ia menyerah dengan cintanya pada Ichigo?, tidak seperti saat ini.
Ia telah sadar sepenuhnya bagaimana ia telah berhasil menyerah dan melupakan cintanya pada Ichigo untuk mencintai pria yang berjalan di depannya saat ini, matanya menatap sendu pada direksi dimana prianya berjalan beberapa langkah di depannya. Ingin sekali rasanya ia mengungkapkan rasa sakitnya, ingin sekali ia berteriak, namun apa daya seorang Orihime Inoue saat ini? ia hanyalah jiwa yang lemah dimana rohnya baru terpisah dari tubuhnya.
Ia merindukan Tatsuki, Uryuu, Ichigo, dan Sado.
Ia kini sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga tak menyadari bahwa sosok tegap yang tadi berjalan beberapa langkah di depannya tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Bruughh!
"Ouchhh!" pekik Orihime memegangi mukannya yang 'bertemu' langsung dengan bahu sang pria Kuchiki.
"Kau melamun?! Huh?" alih-alih memutar tubuhnya untuk melihat sang keadaan sang kekasih, Byakuya hanya terpaku pada tempatnya berdiri "Apa yang kau pikirkan?"
Rona kemerahan akhirnya terbentuk pada wajah cantiknya "Aku?" Orihime terlihat berpikir sejenak "Aku hanya memikirkan bagaimana wajah anak-anak kita nanti!" ucapnya penuh dengan rasa percaya diri tanpa menyadari bahwa kini pipi Byakuya bak udang rebus, merah merona karena perkataannya.
"Byakuya-kun?" panggilnya.
Gadis ini benar-benar …!.
Tak ada sahutan dari sang pria otomatis membuat sang gadis Inoue itu mengerucutkan bibirnya, ia berjalan cepat menuju sang kekasih yang memang berada beberapa langkah di depannya "Kau tidak apa-apa?"
Pertanyaan yang seharusnya tadi ia jawab malah kini harus ia tujukan pada Byakuya Kuchiki, calon suaminya.
Wajah ayunya menyeringai penuh kemenangan, ia tersadar apa yang telah ia katakana tadi berhasil membuat Byakuya tersipu "Kau pasti sedang membayangkan bagaimana wajah anak-anak kita nanti! Jika dia laki-laki pasti dia akan mewarisi warna rambutku dan raut wajah tampanmu, jika dia perempuan pasti dia akan mewarisi warna rambutmu dan wajah cantikku!" ucap Orihime bangga dengan menepuk keduatangannya.
"Uh?!" Byakuya yang jarang sekali menampakkan ekspresinya kini terlihat menatap kekasihnya horror menyadari bagaimana Byakuya berekspresi.
"Aku juga mencintaimu, Byakuya-kun!" timpal gadis itu kemudian berjalan ceria mendahului sang pria yang memandang gadisnya 'takjub'. Orihime adalah sebuah keajaiban. Ya! Dia adalah sebuah keajaiban yang akhirnya mampu membuatnya berekspresi sedemikian rupa setelah kematian Hisana, mendiang istrinya yang sangat ia cintai. Namun, apakah ia mampu mencintai Orihime sebesar rasa cintanya terhadap Hisana?
Dia menghela napas panjang dan segera melagkahkan kakinya untuk mengejar ketertinggalannya dari Orihime.
.
.
.
.
.
.
"Waaaaahhhhh~" Mulut gadis itu tak henti-hentinya menganga, matanya membulat takjub manakala melihat kelopak bunga Sakura yang berguguran, Indah.
Sebuah lengkungan terbentuk sempurna pada wajahnya, kemudian memalingkan wajahnya untuk bertemu dengan onyx milik sang pria yang berdiri di sampingnya "Indah!" ucapnya takjub.
Byakuya tak menjawab, lagipula apa yang harus dijawab? Gadisnya tidak mengeluarkan pertanyaan apapun padanya. "Ini yang kau mau tunjukkan padaku?"
Ia hanya mengangguk, kemudian menunjuk tempat dimana kursi dan meja telah di tata sedemikian rupa dengan makanan yang disajikan hangat, terlihat dari uap yang menguar dari makanan-makanan itu "Itu?"
"Kau belum sarapan, makanlah!"
"Bagaimana denganmu?"
"Aku juga belum sarapan!" balasnya. Byakuya melangkahkan kaki jenjangnya menuju tempat dimana pelayan-pelayannya meletakkan makanan itu "Apakah kau akan berdiri seperti itu saja dan membiarkanku makan sendirian?"
"Aku akan kesana" pekik Orihime ceria, gadis pemilik kekuatan penyembuh itu kemudian berlari kecil untuk menghampiri kekasihnya begitu telah sampai ia tersenyum dan mengambil tempat duduk tepat di hadapan sang pria Kuchiki "Aku akan melayanimu, Kuchiki-sama!" ucapnya.
Dengan cekatan Orihime mengambilkan nasi, dan beberapa lauk untuk Byakuya dan menyajikannya di hadapan pria pemilik Senbozakura itu. sang pria hanya menganggukkan kepala kemudian menyantap makanan yang disajikan oleh calon istrinya dalam diam. Orihime sendiri hanya tersenyum penuh arti, diam-diam ia akan mencuri pandang pada kapten divisi 6 itu, iya! Dia memang telah benar-benar jatuh cinta pada pria itu.
"Apa yang kau lakukan? Makanlah dengan benar!" perintah Kapten Kuchiki.
"Katakan padaku, Byakuya-kun! ini sudah hampir jam 12 siang, jadi kau melewatkan sarapanmu tadi pagi? Kau menungguku hanya untuk makan bersama?" matanya berbinar, senyuman indah terlukis pada wajah ayunya dan tatapannya penuh harap akan jawaban sang pria "Kau mengkhawatirkanku?"
"Kau baru saja pulih, bagaimana aku tidak mengkhawatirkan kondisimu? Kau pingsan begitu saja kemarin!"
Mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Byakuya, senyumannya pun semakin lebar "Terimakasih, Byakuya-kun!"
"Hn~" jawabnya singkat dan kembali menyantap makanan yang tadi sempat ia 'lupakan' karena tingkah sang kekasih, sementara itu Orihime dengan lahap menyantap makanan miliknya setelah mendengar pengakuan yang ia rasa sangat membuat hatinya terasa nyaman.
.
.
.
.
"Taichou, ….!" Rangiku mengerucutkan bibir tipisnya, kesal dengan perbuatan sang Kapten yang sejak tadi tidak memberikan perhatian berlebih padanya.
"Jangan fikir jika kau adalah tunanganku, lantas kau akan bebas dari semua tugasmu Matsumoto-Fukutaichou?" jelas sang pemuda berambut perak tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas tugas yang harus ia tandatangani.
"Kau sungguh tidak mengasyikkan, Taichou! Lebih baik aku minum bersama Yumichika dan Abarai!"
Rangiku berdiri dari tempatnya duduk dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu keluar ruangan kerja mereka.
"Kau yakin Abarai-Fukutaichou memiliki waktu hanya sekedar menemanimu untuk minum, Fukutaichou?" Toshiro mengalihkan perhatiannya dari tumpukan tugasnya menuju pada direksi dimana Rangiku, tunangannya kini tengah berdiri dan sedang memegang knob pintu kayu berwarna cokelat itu "Abarai-Fukutaichou pasti sedang sibuk menghandle pekerjaan Kuchiki-Taichou, sejak Kuchiki-Taichou mengambil libur hari ini"
"Ku … Ku … Kuchiki-Taichou?" Rangiku terbata demi hanya untuk melafalkan nama Byakuya, bagaimanapun juga ia tak pernah melihat ataupun mendengar bahwa Kuchiki-Taichou mengambil liburan barang seharipun, ia adalah Kapten paling dingin dan taat juga rajin di Seireitei, tentu bersama dengan Kapten yang kini merangkap menjadi kekasihnya itu.
Untuk itulah seringaian terbentuk pada wajah Letnan berambut Orange itu "Kalau begitu, kenapa Taichou tidak mengambil libur saja? kita bisa pergi ke Dunia manusia memakai Gigai dan menghabiskan waktu di sana!"
"Tidak!" jawab Toshiro dingin dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.
"Kau sangat membosankan Shiro-chan!" ejek Rangiku.
"Jika kau kembali ke tempatmu kemudian mengerjakan tugas-tugasmu dengan benar dan selesai tepat pada waktunya, mungkin aku akan memikirkan tawaranmu itu!"
"Benarkah Shiro-kun?" pekik wanita cantik yang telah memotong rambutnya sebahu itu ceria, tanpa pikir panjang ia kemudian melupakan niatannya untuk pergi minum dan berbalik arah berjalan mendekat pada meja kerja Toshiro.
Chuuppp~
"Aku tau kau sangat, sangat dan sangat mencintaiku! Akupun juga mencintaimu Shiro-kun!" bisik Rangiku setelah mengecup singkat bibir sang kekasih yang kini sudah tingginya sudah melampaui tinggi badannya.
Jemari rangiku kini mengacak surai rambut perak milik sang kekasih gemas.
"Matsumoto-Fukutaichou!"
Geram terhadap kelakuan sang kekasih tiba-tiba saja suhu ruangan menjadi turun drastis, menandakan bahwa sang pemuda kini tengah kesal.
"Aku mengerti, Aku mengerti Taichou! Tak bisakah kau membuat suhu ruangan ini kembali normal?" keluh Rangiku dan segera kembali menuju meja kerjanya.
Dengan kembalinya Rangiku ke meja kerjanya, suhu di ruangan divisi yang dipimpin Toshiro Hitsugaya itu perlahan kembali normal dan membuat sang pemilik surai rambut berwarna orange itu tersenyum lega. Catatan untuknya, bahwa ia tidak boleh lagi membuat kesal sang Kapten.
.
.
.
.
Kelopak bunga Sakura berguguran satu per satu dari pohonnya, Indah. Terasa semakin indah ketika sepasang kekasih itu terlihat sangat menikmati pemandangan yang disajikan alam kepada mereka "Byakuya-kun . . ."
"Hn?"
"Kapan aku bertemu dengan Ukitake-Soutaichou? Apa yang akan ia lakukan padaku? Dan bagaimana reaksi para anggota clan padaku? Apa mereka akan merestui hubungan kita?"
Byakuya menghela napas panjang, mengapa gadis ini harus bertanya hal yang sulit untuk ia jawab? Bahkan ia belum tau tentang janjinya dihadapan makam orangtuannya dan penolakan beberapa anggota clan terhadap kehadirannya.
"Byakuya-kun?!" ucap orihime lembut, jemari lembutnya mengusap pundak Byakuya pelan "Apa ada yang kau sembunyikan dariku?"
"Kau sangat cerewet Orihime! Waktunya kita kembali ke Kuchiki Mansion dan kau persiapkan dirimu untuk bertemu dengan Ukitake-Soutaichou nanti malam atau kau ingin pergi dengan Rukia dan Matsumoto-Fukutaichou saja dan aku bisa membatalkan pertemuan dengan Soutaichou?"
Orihime tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Tidak perlu, lagipula aku juga sangat merindukan Ukitake-Soutaichou!" ucapnya kemudian beranjak dari posisi duduknya "Uhm, apa kau tidak kembali ke divisimu?"
"Aku mengambil cuti hari ini!" jelasnya kemudian mengikuti kekasihnya yang sudah berjalan terlebih dahulu untuk kembali ke Mansion utama keluarga Kuchiki.
"Uhh?" Orihime menghentikan langkahnya dan memandang sosok yang sudah berdiri disampingnya tak percaya "Benarkah?"
Byakuya mengangguk.
"Jadi tadi kau hanya berpura-pura, saat kau bilang bahwa kau sudah dari divisi 6?"
Lagi pria itu mengangguk "Tapi aku memang benar-benar belum sarapan pagi ini" jelasnya, kemudian berjalan mendahului sang gadis Inoue, "Benarkah?" timpal Orihime untuk memastikan kembali apa yang ia dengar, kaki jenjangnya ia langkahkan cepat agar dapat mengimbangi gerak langkah sang kekasih "Apa untungnya aku berbohong padamu?"
"Aku mencintaimu, Byakuya-kun!" pekiknya ceria. Adik dari mendiang Sora Inoue itu mengalungkan keduatangan mungil miliknya pada pundak sang kekasih.
"Jaga sikapmu, Orihime!" perintahnya dingin.
Sungguh Orihime tidak peduli sedingin apa ia mengucapkan hal itu sekarang, kenyataan ini membuatnya sangat bahagia. Tak peduli dengan apa yang akan menghadang hubungan mereka kedepannya nanti, pasti ia akan hadapi. Ia mencintai pria ini! sangat mencintainya hingga ia tak mampu lagi untuk berdiri pada kedua kakinya sendiri dan sekarang Byakuyalah yang menjadi tumpuan hidupnya.
"Aku tau! Dan aku akan menunggu sampai kau juga membalas cintaku!" bisiknya pada pria itu kemudian melepaskan pelukannya.
Orihime tersenyum dan mengaitkan tangannya pada lengan Byakuya, seperti ini di sepanjang perjalanan menuju Kuchiki Mansion, tak ada penolakan yang keluar dari bibir tipis pria dingin itu, pun tak ada sepatah katapun dari keduanya, hanya menikmati kebersamaan seperti ini nyatanya membuat hati Byakuya terasa menghangat.
Hangat … ya! Sangat hangat.
.
.
.
.
To Be Continued …
Chapter 2 done, semoga tidak mengecewakan dan mohon maaf jika masih ditemukan typo-typo :D.
Enjoy ^^
#Vale
