Happy Birthday Lay!
Thank being born !
Lay baru saja membaringkan badannya di kasur kamarnya, ketika terdengar deru mobil datang. Dia tidak pernah punya tamu, ia yakin kalau itu adalah tamu untuk Luhan dan benar, suara berat Sehun terdengar. Lay tidak ada maksut ingin menguping pembicaraan Luhan tetapi, semakin lama nada mereka berbicara semakin kuat. Lay menduga bahwa Sehun dan Luhan sedang bertengkar.
" Bahkan kau tahu bagaimana dia menilai kita! Cepat kemasi baju mu kau akan ikut aku pergi dari sini." Suara Sehun terdengar
" Tidak. Aku tidak akan meninggalkan siapa-siapa Sehun. Kumohon kau bisa membedakan mana fiksi dan mana kenyataan." Jawab Luhan
" Bukannya kau sendiri yang bilang bahwa Yixing selalu menulis sesuai dengan perasaan dan kejujuran hatinya?. Aku cukup pintar untuk melihat ini adalah kenyataan yang dijadikan fiksi olehnya." Debat Sehun
" Sehun tolong.." Luhan terdengar lemah karena menahan tangis
" Pilih aku apa dia?."
Kata-kata Sehun membuat Lay tergerak untuk bangun menuju sumber keributan yang terjadi.
" Luhan pergilah. Biarkan aku sendiri untuk mengoreksi masalah pada diriku."
Luhan terkejut mendengar pernyataan Lay yang tiba-tiba. Tangis nya pecah tidak bisa ditahan lagi bersama tarikan tangan Sehun untuk keluar dari sana.
Lay setelah ditinggal Luhan dan Sehun hanya bisa terdiam sembari mengunci pintu depannya bekas ditinggalkan oleh sahabatnya ia memutuskan untuk duduk di sofa dan melupakan lelahnya.
...
Pagi tanpa teriakan lembut Luhan yang membangunkan Lay. Dingin dinding rumah semakin menambah kesunyian. Lay menatap cover novel terbarunya. Novel yang kini tidak hanya menjadi buah bibir orang banyak. Novel yang juga membuat Luhan pergi. Benarkah apa yang ditulisnya merupakan cerminan ketidaksukaannya atas hubungan sahabatnya Luhan dan Sehun? Atau hanya berdasarkan pemikirannya saja. Lay menekan layar handphone nya mencari kontak untuk dihubungi nya.
" Ya halo. Aku akan menulis novel baru persiapkan dirimu untuk mencetaknya." Ucapan singkat Lay mematikan hubungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.
Baru kali ini, Lay memutuskan mengeluarkan novelnya kembali tanpa tahu apa yang harus ia tulis nanti. Tanpa mendapatkan ide apapun dan dalam waktu yang terbilang dekat dengan pengeluaran novel terakhirnya. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia memutuskan hal tersebut.
...
Luhan menatap Sehun yang masih tidur disebelahnya. Menilai wajah sempurna kekasihnya itu. Sehun lebih muda darinya, awalnya mereka berkenalan karena satu group membaca. Dulu Sehun memiliki pacar seorang wanita sebelum mengenal Luhan. Tetapi sejak mengenal Luhan mereka semakin dekat dan mulai saling mencintai. Luhan tidak tahu, apakah dia membawa pengaruh buruk kepada Sehun, ataukah memang mereka tercipta untuk saling bersama. Percintaan mereka merupakan kebalikan dari isi novel yang ditulis Lay. Apakah memang Lay sengaja menilai mereka secara tidak langsung melalui karya nya seperti yang dirasa Sehun ataukah memang hanya sekedar imajinasi Lay.
...
Di cafe kopi Lay meneguk segala masalahnya. Ini tegukan yang kedua, desahnya, seakan masalah itu turut larut dalam tubuhnya. Hidup barangkali seperti kopi, yang di tiup dan ditunggu ketika panas dan ditinggalkan ketika sudah dingin. Lay merindukan keberadaan sahabatnya satu-satunya, manusia yang sanggup bertahan dengan dirinya. Bahkan kedua orangtua nya pun tidak sanggup untuk terus berada disampingnya. Ibu Lay meninggal ketika ia melahirkan Lay kedunia dan Ayahnya hingga kini ia tidak tahu berada dimana. Sejak kecil ia berada di panti asuhan, hingga berpindah tangan dari orang tua asuh satu ke orang tua asuh lainnya. Semua tidak ada yang bertahan dengan Lay. Bukan karena ia anak yang nakal, tetapi nasib baik tidak berpihak padanya. Kasih sayang orang tua tampaknya tidak cocok untuk dia nikmati. Orang tua asuhnya ada yang meninggal, mengalami kebakaran adapula yang berniat menjualnya. Hingga dia harus tetap kembali ke panti asuhan.
Di panti asuhan itulah ia mengenal Luhan. Sosok yang dianggapnya melindungi dan menyayanginya tanpa syarat. Luhan bahkan pernah menggantikan Lay menerima hukuman dari ibu panti karena ketahuan makan roti milik kawannya. Pantat Luhan di rotan hingga dia tidak bisa duduk dikursi beberapa hari. Luhan sangat sayang dengan sahabatnya itu. Ia tahu kalau Lay memiliki kelainan darah sehingga ia tidak rela bila Lay menerima hukuman yang mengakibatkan ia meneteskan darah. Luhan sudah terbiasa hidup keras, menerima hukuman ataupun cacian. Walaupun tubuhnya kecil ia memiliki semangat hidup yang kuat.
Berbeda dengan Lay yang dipisahkan ibu nya dari kematian. Luhan adalah anak yang dibuang ibunya. Berjam jam luhan bayi menangis di depan pintu panti asuhan di tengah derasnya air hujan yang membasahi dirinya hingga akhirnya perjuangan tangisannya didengar oleh pemilik panti dan ia pun terselamatkan. Luhan memang sudah berjuang semenjak dari dalam kandungan. Menahan dari obat penggugur kandungan yang ibunya telan hingga berjuang menjadi Luhan yang sekarang.
...
Lay menatap pintu cafe entah siapa yang diharapkan nya datang. Tidak mungkin Luhan karena Lay sendiri sangsi kalau Luhan tahu dia berada di cafe ini. Ini pertama kalinya Lay membawa laptopnya untuk menulis novel. Kebiasaannya berkurung di kamar menulis hingga keesokan harinya.
" Mau tambah kopinya?."
Lamunan Lay seketika buyar ketika seorang pemuda dengan rambut hitam kilau menawarinya kopi. Wajahnya tersenyum manis entah bagaimana bisa membuat pipinya yang terkena sinar matahari musim gugur bersinar.
" A-Apa?." Lay menjawab pertanyaan pemuda tadi dengan sebuah pertanyaan konyol
" Maaf mengagetkanmu. Ini coba lah kopi aku yang meracik nya sendiri. Perkenalkan aku JunMyeon." Sapa ramah laki-laki tadi sambil mengulurkan tangannya.
" Zhang Yixing. Terimakasih kopinya." Jawab Lay sambil mengambil juluran tangan pemuda tadi.
" Baiklah mengerjakan urusan kerjaan? Tugas perkuliahan? Atau mencari ide menulis? Kau pasti membutuhkan kopiku. Cobalah semoga cocok dengan seleramu. Aku tinggal dulu lainkali kita harus mengobrol lagi." Pemuda bernama JunMyeon tadi meninggalkan Lay.
Pemuda yang tanpa menyebutkan nama marganya itu terlihat hangat dan ramah. Beda sekali dengan kepribadian Lay. Lay menatap lekat kopi barunya. Mencari ide menulis?, desah Lay. Ia pun mencium aroma kopi barunya itu menenangkan, sedikit diteguknya kopi tersebut. Pahit,manis dan pekat terasa. Seperti kehidupan. Lay merahi laptopnya dan mencoba menulis paragraf pertamanya.
...
TBC...
Hai hai terimakasih buat yang udah reading dan reviews memberi saran dan semangat kalian luar biasa ^^ antara lain ots-daughter, cumi-cumi, kerdus susu, saklawase,cumberbatch's...
Semoga masih setia membaca chapter selanjutnya dan beri komentar jika ada yang kurang berkenan..
Maaf banyak typo btw kalian jangan lupa yah nonton MV SOLO LAY WHAT YOU NEED terimakasih ^^
