Thank Being Born Yixing!

Jatuh cinta adalah cara yang tepat untuk bunuh diri secara bahagia. Menyerahkan perasaan kepada orang lain tanpa tahu akan mendapat balasan seperti apa. Sama seperti kau membeli kucing dalam karung. Jatuh cinta, perasaan yang sangat kurang ajar. Dia tidak pernah meminta izin padamu dahulu. Kau mulai memikirkan orang lain, peduli dan rasanya hatimu akan meledak dengan sempurna bila matanya melihat wujudmu yang menyedihkan itu.

JunMyeon mengemudikan mobilnya secara perlahan. Senyum di bibirnya terukir rasanya perutnya penuh dengan sekelompok kupu kupu yang sedang terbang mengikuti lanunan cinta dalam hatinya. Baru kali ini JunMyeon merasakan hal seperti ini. Bahagia karena bisa pergi bersama seseorang. Disebelahnya manusia punca kebahagiaannya diam memandangi kiri jalan tanpa ekspresi. Ia hanya berharap cepat kembali kerumah. Berharap sahabatnya sudah pulang, menunggunya disana.

" Adduh.. aduuh.." Rintih JunMyeon

" Kau kenapa?." Tanya Lay panik

" Perutku sakit daritadi belum makan. Boleh kita singgah makan dulu?. Adduh mungkin aku akan pingsan sebentar lagi." Rintih JunMyeon dengan wajah pura-pura menyedihkan.

" Ha apa? Jangan pingsan nanti kita bisa tabrakan. Baiklah kita cari makan dulu." Ujar Lay panik

" Te-Terimakasih. Ha kita makan disana saja. Itu restauran keluargaku. Kau harus mencoba resep andalan ibuku." Ucap JunMyeon bahagia.

Mudah sekali dia terkena tipu, untung saja dia laki-laki. Kalau perempuan sudah habis dia ditipu orang. Ujar JunMyeon dalam hati.

" Eomma aku datang!." Teriak JunMyeon menuju meja kasir restauran itu.

Lay melihat sekeliling restauran itu. Cukup ramai dan terlihat sangat mewah. Lay pun mengarahkan pandangan pada sosok wanita yang dipanggil eomma oleh JunMyeon. Wanita dengan tampilan keibuan dan sederhana tapi modis. Ia memberi tatapan penuh kasih sayang pada JunMyeon. Lay merasa iri. Ia tidak pernah mendapat pandangan seperti itu oleh seorang ibu. Eomma JunMyeon pun datang memeluk JunMyeon di ikuti oleh dua pria yang satu tinggi besar tampan dan satu lagi agak rendah berbadan seperti JunMyeon.

" Tumben kau pulang? Bagaimana kafe mu itu?." Tanya pria yang tinggi besar

" Siwon, tidak baik kau menyapa adikmu seperti itu. Seringlah main kesini Eomma sangat merindukanmu." Sapa hangat Eomma JunMyeon

" Iya Eomma. Maaf kalau akhir-akhir ini aku jarang berkunjung kerumah. Lagipula kan sudah kutinggalkan kembaranku itu. Walaupun aku lebih tampan daripadanya tapi kurang lebih kami sama." Ujar JunMyeon yang disambut dengan teriakan pria yang berbadan seperti JunMyeon.

" Ya! Aku lebih tampan daripadamu. Kau hanya menang gaya rambutmu itu saja." Ujarnya

" Haha aku Cuma bercanda. Oh iya aku kesini dengan seseorang. Perkenalkan ini Zhang Yixing." JunMyeon menarik tangan Lay untuk mendekat ke kerumunan keluarganya.

" P-Perkenalkan saya Zhang Yixing." Ujar Lay sambil membungkuk pada keluarga JunMyeon.

" Hai Yixing. Aku Eomma nya Kim JunMyeon. Ini orabeoni nya Siwon dan ini kembarannya Minho." Eomma JunMyeon memperkenalkan diri sambil memeluk hangat Lay. Lay agak terkejut menerima pelukan hangat itu, hanya bisa menahan haru pada dirinya sendiri. Pria dengan nama Siwon menjabat tangan Lay dengan dua tangan dan senyuman yang manis akrab. Kembaran JunMyeon pun memeluk Lay seperti Eomma nya tetapi langsung ditarik JunMyeon agar tidak lama berpelukan.

Lay pun disajikan menu handalan restauran itu dan juga menu kegemaran JunMyeon. Mereka makan beramai-ramai di dalam ruangan terpisah dengan pelanggan restauran lainnya. Sesekali Lay melihat keceriaan dalam keluarga itu. Yang lebih tua bercanda dengan adik-adiknya dan Eomma nya menjadi penengah bila bercandaan telah kelewatan batas. Keluarga yang indah penuh dengan kasih sayang.

" Yixing, berjanjilah kau akan sering mengunjungiku. Aku punya firasat JunMyeon kesini karena adanya kau." Bisik Eomma pada Lay dengan senyum ramah.

" Baiklah er.."

" Panggil aku Eomma saja."

" Baiklah Eomma aku berjanji." Ucap Lay yang disambut bahagia oleh JunMyeon.

" Baiklah kami akan pulang dulu. Makasih Eomma masakanmu memang segalanya." Ucap JunMyeon sambil memeluk Eomma nya.

" Apa? Apa kalian tinggal satu rumah?. Secepat itukah?." Histeris Minho

" Ti-Tidak. Aku tidak tinggal dengan sahabatku. " ucap Lay kembali mengingat Luhan. Apakah dia masih menganggap Lay sebagai sahabat.

" Hais. Kau ini. Biarkan sajalah. Bukannya JunMyeon sudah dewasa. Dia berhak menentukan hidupnya seperti apa. Iya kan Eomma?." Tanya Siwon yang langsung di dukung anggukan oleh JunMyeon.

" Iya benar. Dia sudah besar. Dia bisa memilih apa maunya." Ucap Eomma yang membuatnya tenggelam ditengah pelukan ketiga anak laki-lakinya itu.

...

JunMyeon mengantarkan Lay menuju rumahnya dengan perasaan bahagia. Kebahagiaannya kini tidak dapat di hitung lagi. Walaupun dia tidak tahu bagaimana perasaan orang disebelahnya ini padanya. Hari ini sudah cukup menggembirakannya. Tiada yang lebih sempurna lagi jika kau bisa menghabiskan waktu dengan keluarga dan orang yang kau cintai dalam satu waktu yang sama. Menerima perlakuan keluarganya pada orang yang dicintainya dengan baik, begitu pula sebaliknya.

Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan rumah sederhana dengan cat biru, warna kesukaan Luhan. JunMyeon menghafal jelas arah menuju rumah Lay. Melihat rumahnya yang gelap dan menatap heran Lay.

" Bukankah tadi kau bilang kau tinggal dengan sahabatmu? Kenapa rumahmu terlihat sepi sekali?."

" Bukankah kau sudah berjanji tidak akn bertanya lagi?." Tanya Lay balik

" Haha ku kira kau sudah lupa akan janjiku." Ujar JunMyeon

" Aku memang kenyang. Tapi aku tidak lupa. Baiklah terimakasih, selamat tinggal." Ujar Lay sambil membuka pintu mobil.

" Hei. Kau tidak menawariku masuk dulu?." Tanya JunMyeon

" Tidak." Ujar Lay pendek langsung membuka kunci rumahnya dan masuk.

" Hais dingin sekali sikapnya. Bikin semakin semangat saja mengejarnya." Ujar JunMyeon sambil menjalankan mobilnya kembali.

...

Rumus dalam hidup tidaklah begitu susah, kau tidur dimalam hari dan bagun di pagi hari. Lay membuka matanya di pagi itu. Menyadari dirinya tetap sendiri dirumah itu. Baru satu teguk air putih di tangannya. Bell di pintu rumahnya berbunyi. Itu hal yang sangat jarang terjadi, apalagi semenjak Luhan pergi. Apa itu Luhan yang pulang?. Lay cepat menuju pintunya. Berharap orang yang berada di balik pintu itu adalah orang yang diharapkannya selama ini. Dan kerinduan malam pada matahari memberi jejak pada gelap yang ditinggalkan. Menanti kedatangan seseorang seperti memberi spasi dalam kehidupan.

Luhan kembali. Pikir Lay.

Lay membuka pintu itu matanya berbinar dan seketika hilang harapannya. Menjumpai laki-laki JunMyeon yang membunyikan bell rumahnya. Bukan Luhan seperti yang dia harapkan.

" Wah kau berantakan sekali jika bangun tidur." Ucap JunMyeon melihat penampilan Lay

" Apa aku harus pakai jas dan dasi jika tidur?. Untuk apa kau kemari lagi." Tanya Lay kesal. Seakan JunMyeon lah yang telah meruntuhkan harapannya itu.

" Haha lucu juga kau rupanya. Boleh aku masuk? Please." Mohon JunMyeon

Lay meninggalkan JunMyeon dengan pintu terbuka, tidak ada kata iya dan tidak. Lagian dia sudah lelah dengan harapannya yang musnah itu. JunMyeon mengikuti Lay dari belakang dengan bahagia. Lay merebahkan pinggang nya di sofa di ikuti oleh JunMyeon.

" Wah banyak sekali novel di rumahmu. Boleh aku lihat?." Tanya JunMyeon yang langsung menuju rak tanpa mendapat persetujuan dari Lay.

Lay hanya diam tidak merespon. Dia dan perasaan nya yang masih hancur.

" Kenapa semua hanya satu penulis? Kau mengaggumi Lay? Aku tidak terlalu paham dunia menulis tapi beberapa kali sempat mendengar namanya. Dia yang anti LGBT itu kan?." Tanya JunMyeon sambil membawa sebuah novel two shadow karya Lay yang terbaru itu.

" Tidak dia tidak anti LGBT. Bukan karena satu karyanya yang mengutarakan issue itu lalu kau bisa menjudge nya begitu." Jawab Lay

" Wah kau pasti penggemarnya. Hingga kau membelanya seperti itu." Ucap JunMyeon

" Terserah kau saja." Ucap Lay ketus

JunMyeon diam membaca penggalan sinopsis dibelakang buku membiarkan Lay yang gerah padanya,

" Jadi kenapa kau kemari?." Tanya Lay ketus

" Galak banget pagi-pagi. Eomma menyuruhku mengajakmu panen tomat dan sayur di desa untuk restaurannya. Kita akan berjumpa mereka disana." Jawab JunMyeon

" Kenapa aku harus setuju pergi denganmu?." Tanya Lay lagi

" Karena kau telah berjanji akan sering mengunjungi Eomma semalam kalau kau lupa. Sana cepat siap-siap aku akan menunggu disini sambil membaca buku ini." Ucap JunMyeon

Mau tidak mau Lay menuruti kemauan JunMyeon, memang dia telah berjanji pada Eomma seperti itu. Dia tidak mungkin mengkhianati janjinya , apalagi pada wanita sebaik Eomma.

...

Lay yang telah duduk disamping JunMyeon yang mengemudi sambil bernyanyi dengan riang bahagia. Lay menilai JunMyeon seperti anak taman kanak-kanak yang bahagia akan pergi bertamasya. kenapa orang ini sangat norak sekali. Ujar Lay dalam hati sambil menertawai JunMyeon. JunMyeon yang tidak tahu kenapa Lay tertawa ikut tertawa bahagia, ia mengira Lay menikmati perjalanan ini juga. Ia senang melihat lesung pipi Lay keluar begitu ia tertawa. Itu begitu indah.

Hingga akhirnya sampailah mereka ketempat tujuan. Sebuah perdesaan dengan tampilan jalan yang di apit tanaman sayur mayur di kanan dan kirinya. Lay sangat bahagia melihat pesona desa itu. Ia ingat desa seperti ini pernah digambarkannya dalam tulisannya untuk Luhan dan menjadi favorit Luhan. Luhan harus kesini suatu hari nanti. Ujar Lay dalam hati.

" Apa keluargamu selalu kesini mencari bahan untuk restauran?." Tanya Lay pada JunMyeon

" Tidak juga, biasa ada yang mengantarkannya. Tapi hari ini kami ingin memetik sendiri sekalian family time." Jawab JunMyeon

" Ayahmu ikut juga?." Tanya Lay

" Ani. Ayahku sudah meninggal. Jauh sebelum ibu membuka restauran." Jawab JunMyeon

" Oh maaf." Ucap Lay pelan

" Tidak apa. Kalau keluargamu dimana?." Tanya JunMyeon

" Aku tidak punya keluarga. Dari bayi aku tinggal di panti asuhan bersama sahabatku. Hanya sahabatku keluargaku satu-satunya." Jawab Lay

" Oh maafkan aku membuat kau sedih. Tapi ngomong-ngomong sahabat yang kau sebutkan dari semalam itu wujudnya nyata kan?." Tanya JunMyeon serius.

" Yak! Kenapa kau sangat bodoh sekali. Kau anggap aku gila apa?! Tentu saja dia nyata, memang kau anggap aku temenan dengan roh halus!." Teriak Lay marah.

"Haha maafkan aku. Karena katanya kau tinggal dengannya tapi dari semalam hingga tadi aku di rumahmu sepertinya kau sendiri. Wajarkan aku bertanya begitu." Ucap JunMyeon merasa tidak enak pada Lay.

" Ya karena dia sedang pergi. Dia sedang marah denganku." Ucap Lay pelan.

JunMyeon tidak bertanya lagi pada Lay. Melihat tatapan mata Lay yang menunjukkan kesedihan. Dia sudah tahu bahwa Lay sangat menyayangi sahabatnya itu. Dan mereka sedang terlibat dalam masalah besar. Mereka berdua memutuskan perjalanan ini berakhir dengan diam hingga sampai tujuan.

...

" Eomma. Itu mereka akhirnya datang juga." Teriak Minho menghampiri mobil hitam yang baru saja parkir di depan rumah perdesaan itu.

" Yixing akhinya kau datang juga." Ucap Eomma dan yang lainnya.

" Yak! Aku anak dan adik beradik kalian kenapa tidak ada sambutan juga untukku?." JunMyeon teriak kesal begitu melihat keluarganya membawa Yixing ke dalam belakang rumah dan meninggalkannya di parkiran.

Lay mengganti pakaiannya dengan pakaian berkebun. Membantu Eomma memetik tomat dan melihat Minho yang lari di kejar Siwon dengan cacing tanah besar di tangannya.

" Menjauh dariku. Dasar kau jorok." Ucap Minho

" Minho. Hormati hyungmu." Ucap Eomma putus asa melihat kelakuan anak nya.

" Yixing. Pakai topi ini kau pasti kepanasan." Ucap JunMyeon sambil menyerahkan topi pada Lay

" Terimakasih." Ucap Lay

Eomma melihat kelakuan JunMyeon hanya tersenyum. Kalau memang ini yang JunMyeon pilih untuknya dan dia berbahagia, itu adalah pilihanku juga. Ucap Eomma dalam hatinya.

" Hei itu Baekhyun dan Chanyeol." Teriak Minho

" Hai kalian. Eomma apa kau sehat saja?." Tanya Baekhyun pria imut yang bertopi seperti Lay

" Wah Baekhyun kau semakin imut saja. Dan Chanyeol bagaimana bisa kau menjadi tinggi seperti raksasa begini." Ucap Eomma

" Haha. Aku hanya melakukan pertumbuhanku dengan baik saja Eomma. Tidak seperti JunMyeon dan Minho yang sibuk membakar uang saja." Ucap Chanyeol pria tinggi itu.

" Apa katamu? Aku tidak membakar uang, aku menghasilkan uang." Ucap JunMyeon dengan nada sombong yang dibuat-buat.

" Haha. Kalau begitu siang ini teraktir kami semua dengan uang yang kau hasilkan. Aku akan memanggil Jongdae juga untuk bergabung." Ucap Chanyeol.

Lay hanya menduga bahawa dua pria yang baru datang itu adalah orang yang sudah akrab dengan keluarga JunMyeon.

" Hei siapa ini? Apa kalian sudah menambah anggota keluarga baru tanpa mengundang kami?." Tanya Baekhyun menatap Lay.

" Itu pacarnya JunMyeon. Namanya Yixing. Yixing perkenalkan namamu tidak perlu malu-malu begitu." Ucap Siwon dengan tatapan maklum.

Yang merasa namanya disebut hanya bisa menggeleng begitu status nya disebut sebagai pacar JunMyeon. Dia bukannya malu tetapi hanya ingin meluruskan pernyataan Siwon.

" Hai Yixing. Aku Baekhyun. Aku jamin kita bisa menjadi teman dekat." Ucap Baekhyun mendekap Lay yang masih menggeleng-geleng.

" Ti-bukan.. Maksutku.." Ucap Lay gugup

" Yixing begitu terharu kau peluk hingga tidak bisa berbicara begitu. Sungguh pacarku ini sangat penyayang orangnya." Ucap Chanyeol menatap hangat Baekhyun yang disebut pacarnya itu.

" Ayo kita masuk ke dalam dan makan ayam? Bagaimana kalian mau? JunMyeon yang traktir." Ucap Minho yang disambut teriakan semangat lainnya.

" Apa? Aku?!." Protes JunMyeon yang tidak dipedulikan.

Lay masih diam hingga tangannya ditarik JunMyeon.

" Ayo masuk sebelum matahari membakar kulitmu." Ucap JunMyeon

...

Acara makan ayam traktiran JunMyeon menjadi tambah rusuh dengan datangnya satu lagi personil yaitu Jongdae. Rupanya Baekhyun, Chanyeol dan Chen adalah teman-teman dari kecil nya JunMyeon dan Minho. Dulu ketika kecil mereka tumbuh di perdesaan ini hingga pindah ke kota mengikuti tuntutan pekerjaan ayahnya. Perkebunan dan rumah masih dirawat oleh Ibu dan Ayah Baekhyun yang masih saudara dekat ayahnya JunMyeon.

" Kau ingat Kris dan Tao?." Tanya Chanyeol pada JunMyeon

" Ya tentu si sok inggris dan si mata panda itu kan?." Ucap JunMyeon

" Hei mereka sudah sangat sukses sekarang. Kris hidup di New York dan Tao membuka butik tas branded disana." Ucap Baekhyun.

" Jangan bilang kalau mereka masih bercinta hingga sekarang?." Ucap JunMyeon

" Ya kau benar. Hebatkan mereka. Sukses dalam karier dan cinta. Walau mereka pergi meninggalkan kita jauh." Ucap Baekhyun sedih

" Sudahlah Baek. Bukannya baru malam tadi kalian video call?." Ucap Chanyeol menenangkan Baekhyun

" Iya. Kris juga menawari ku kesana. Tapi rasanya dunia barat tidak sesuai untukku." Ucap Jongdae

" Kenapa kau tidak bekerja di kafe ku saja?. Disana aku punya pembuat kopi handal namanya minseok kau pasti sangat suka kopi buatannya. Kujamin kau akan betah disana." Ucap JunMyeon

" Akan kupertimbangkan." Jawab Jongdae

" Kalau kau bagaimana Yixing?. Maksutku apa kau satu kerjaan juga dengan JunMyeon?." Tanya Baekhyun

" Tidak. Aku seorang penulis." Ucap Lay

" Homina-Homina. Benarkah?." Ucap Baekhyun kaget.

" Ya begitulah." Jawab Lay tersenyum melihat mata puppy Baekhyun yang lucu karena kaget.

" Siapa nama penamu?, kudengar penulis tidak menuliskan nama asli mereka pada karya mereka." Ucap Baekhyun

" Hmm.. Nama pena ku Lay." Jawab Lay

" HOMINA-MINA!." Teriak semua orang yang berada disana kecuali Eomma yang tidak mengerti dan Siwon yang lambat kagetnya karena sibuk menguyah ayamnya.

...

TBC

Fuh panjang nih yang chapter ini...

maaf buat yang mengharap Lay bertemu Luhan belum bisa dikabulkan di chapter ini.

Semoga chapter selanjutnya deh ya ^^ maafkan akyuuuu haha

Makasih buat yang masih reviews dan fav n follow.. kalian membuat gadis kecil yang tidak kecil lagi ini terharu (Apa sih author sedeng) ^^

Kasih reviews lagi yah chapter ini gimana. Maaf ga bisa upload dan menampilkan HunHan tanggal 10/10 authornya lagi berduka tepat tanggal ini dulu Sehun ditinggal Luhan ke China T_T

Anggap saja mereka lagi pacaran diatas rate T (Karena FF nya rate T) jadi tidak bisa ditampikan disini hahaha ^^