Cloudye0705's present
Happy reading^^
.
.
.
Kyungsoo merengut dengan bibir tebalnya yang maju beberapa centi. Dia menatap nyalang namja didepannya yang balas menatapnya nyalang.
"Aku pasti sudah gila."
Namja didepannya mengikuti tingkah lakunya yang mengomel, well dia sedang berkaca ngomong-ngomong.
Dengan nafas memburu dia mengumpat, tak cukup keras memang tapi cukup membuat beban dihatinya berkurang.
Rasanya baru kemarin dia lulus dengan predikat cumlaude. Baru kemarin juga dia sumpah dokter. Harusnya dia menikmati menjadi dokter magang disalah satu rumah sakit bukan disini.
"Ok, tenang Kyung." seperti orang melahirkan dia mengatur nafasnya.
Kyungsoo memperhatikan pantulan dirinya dikaca dengan seksama. Dia terlihat gagah dengan balutan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu sama warna.
Ternyata aku tampan juga.
Senyumnya merekah walau tipis.
Tapi membayangkan bagaimana nasibnya kedepan membuat senyum itu lenyap seketika.
Apa memang harus seperti ini? tanyanya entah pada siapa.
Cklek.
Dia menghiraukan pintu yang terbuka.
"KYUNGIE! " bahkan suara Baekhyun terdengar merdu ditelinganya, otaknya pasti sedang bermasalah.
"Aigoo.. Aigoo.. Aku tak percaya ini."
Aku juga tak percaya Baek.
Kyungsoo hanya membiarkan Baekhyun dengan semangat membara mengguncangkan bahunya sambil mengoceh tentang ini itu. Kyungsoo lemas, tak bertenaga hanya untuk memprotes sahabatnya yang kelewat hyper ini.
"Ya.. Ya kenapa kau diam saja? " nah baru sadar dia. Daritadi padahal Kyungsoo hanya diam tak meladeni omongan Baekhyun.
Baekhyun berteriak lebih histeris -untung suaranya merdu- begitu melihat wajah Kyungsoo yang macam baju kusut tak kenal setrika.
"Baek, tampar aku. "
Plak.
Kyungsoo meringis.
Baekhyun melotot.
"Ya ampun Kyung, maafkan aku. Itu tadi refleks." refleks yang sangat cepat Baekhyun sshi.
Kyungsoo tak protes karena dia memang butuh tamparan untuk memberitahu bahwa semua ini memang bukan mimpi.
Tubuhnya bergetar.
"Kyungie, ka..kau menangis? " wajah kelewat ehem cantik ehem milik Baekhyun pucat pasi. Dia merasa bersalah menampar sahabatnya hingga menangis seperti ini.
Tapi masa hanya karena tamparan dia menangis?
Kyungsoo itu namja kuat, dengan mental baja. Seumur-umur Baekhyun hanya pernah melihat Kyungsoo menangis dua kali. Waktu neneknya meninggal dan waktu Jongin jadian dengan Sehun.
"Kyung, maafkan aku." Baekhyun jadi ingin menangis sekarang.
"Hiks Baek hiks aku pasti sudah tidak waras Baek."
Perempatan tercetak jelas didahi namja Byun yang sayangnga tertutupi rambut.
"Huwaaa,,, aku ingin kabur saja." teriak Kyungsoo.
Dih, jadi karena masalah ini.
"Ya ampun kukira kau sudah merelakan semua ini."
Kyungsoo langsung memberikan tatapan apa-kau-bilang-coba-ulangi-sekali-lagi pada Baekhyun yang kini mengangkat tangan tanda menyerah.
"Mak.. Maksudku sudah terlambat kalau kau ingin mundur." tambah Baekhyun. Dia menghembuskan nafas lega melihat Kyungsoo menunduk lagi.
Sebenarnya Baekhyun merasa kasihan juga sih tapi kan ini demi kebaikan bersama.
"Ingat Kyung, kau tidak sendirian lagi sekarang. Kau juga harus memikirkan masa depan "dia"." Baekhyun mengangkat kedua tangannya membentuk tanda kutip saat mulutnya mengeluarkan kata terakhir.
"Aku tahu." balas Kyungsoo lemah. "Tapi kenapa harus dengannya? " tanya Kyungsoo dramatis.
Baekhyun menggaruk tengkuknya yang gatal, "emm karena kau melakukan itu dengannya."
Pipi Kyungsoo memerah, dia jadi malu karena mengingat kejadian malam itu.
Isshh, apa yang kupikirkan sih.
"Emm Kyung, kau.. Kau sehat?" tanya Baekhyun hati-hati ketika melihat sahabat karibnya bersemu merah tanpa sebab. Bisa gawat kalau Kyungsoo pingsan lagi, mana kuat dia menggotong tubuh Kyungsoo yang lebih besar darinya.
Cklek.
Kedua orang itu langsung menatap pintu.
"Hai, kau sudah siap Soo?"
Kyungsoo tersenyum lebar. Dia berlari menghambur pada Jongin.
"Jong, aku kangen sekali padamu."
Baekhyun memutar mata melihat tingkah sahabatnya.
Dasar modus.
"Eh,, hehehe kita kan baru tadi ketemu Soo." jawab Jongin canggung. Perasaan dia meninggalkan Kyungsoo tiga puluh menit yang lalu karena Sehun membutuhkannya tapi kenapa Kyungsoo bertingkah seolah tidak bertemu dengannya selama sepuluh abad?
"Habisnya kau ngangenin sih, jadi aku ingin dekat-dekat denganmu hehehe. " Jongin semakin salah tingkah menanggapi tingkah Kyungsoo yang begitu menempel padanya. Kalau mereka sama-sama single sih tak masalah tapi kan mereka sama-sama ada yang punya.
"Kau mau sampai kapan modus begini hah? " tanya Baekhyun yang mulai jengah dengan kemodusan Kyungsoo yang semakin menjadi-jadi.
Kyungsoo mempoutkan bibirnya dengan tidak seksi, "kenapa kau sewot sih Baek ini kan ba..."
"Ya ya, kau sudah mengatakan itu ratusan kali Kyung. Tak usah mengulangnya terus menerus. "
Awas kau Baek. ucap Kyungsoo dalam hati sambil menatap Baekhyun tajam.
Kuadukan Chanyeol baru tahu rasa kau. Baekhyun tak mau kalah memberikan tatapan tajam.
Jongin bingung harus melakukan apa menghadapi dua sahabat yang ini.
"Sayang,," oh terima kasih Tuan Oh.
Sehun berjalan dengan penuh kharisma mendekat pada Jongin. Dia menatap tak suka pada sepasang tangan Kyungsoo yang memeluk Jonginnya erat.
"Semuanya sudah siap Soo, ayo jalan." suara Sehun bagaikan cambuk untuk Do Kyungsoo.
Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Jongin.
"Andwe!! aku belum siap, jangan paksa aku."
Ketiga orang itu hanya bisa menatap Kyungsoo jengah. Adegan ini bukan yang pertama kali bagi mereka.
"Ya! kau sendiri yang bilang hari ini siap. Jangan buat kami memakai tuxedo yang sama selama empat hari Kyung. Aku tak mau, tiga hari saja sudah cukup."
Jongin dan Sehun mengamini ucapan Baekhyun. Bukannya mereka tak mampu membeli tuxedo baru tapi Kyungsoo hanya mau mereka memakai tuxedo ini. Tak ada yang lain.
Akhirnya dengan amat sangat terpaksa mereka menuruti, mereka tak bisa berkutik kalau Kyungsoo sudah mengatakan jargon andalan.
Bukan aku yang minta, ini kan bawaan bayi.
Bahkan seorang Kris Wu yang punya kuasa dengan kehidupan ekonomi Korea sampai tak bisa berkutik.
"Kyaaa.. Tolong aku! " ketiga namja itu memasang headset untuk meredam segala teriakan Kyungsoo. Cari aman saja, mereka tak mau mendengar segala rengekan Kyungsoo yang membawa-bawa sang bayi. Bisa-bisa nanti pernikahan ini diundur lagi.
.
.
Semuanya berawal dari pingsannya Kyungsoo sebulan yang lalu. Awalnya keluarganya tak ambil pusing karena Kyungsoo sedang stress menghadapi semester akhir. Skripsi dan kerja magang membuat dia kerja ekstra.
Tapi ternyata dugaan mereka salah.
Begitu diperiksakan ke dokter ternyata Kyungsoo hamil 2 bulan.
Oh orang tua mana yang tidak syok mendengar anak yang selama ini dibanggakan telah berbadan dua dengan status masih single.
"Bawa dia kesini dan hadapi appa dengan jantan." begitu perintah Tuan Do pada anaknya.
Kyungsoo tentu saja takut. Bukan takut karena anaknya tidak mempunyai ayah tapi dia takut dengan masa depannya.
Anak tidak termasuk dalam agendanya.
"Kyungsoo! jangan berani-baraninya berpikir akan mengaborsi anakmu!" ibunya murka melihat gelagat Kyungsoo yang hanya diam saja tak menjawab ayahnya. Kyungsoo itu paling takut dengan ibunya, hell dia lebih baik dipukuli ayahnya daripada mendengarkan ocehan ibunya yang bisa lebih panjang dari sungai nil.
Akhirnya Kyungsoo menghubungi ayah dari bayinya.
Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol.
Semenjak pesta ulang tahun Baekhyun mereka sepakat untuk menjalin hubungan. Walau hubungan jarak jauh tapi Chanyeol tak pernah absen untuk menelponnya, seringnya sih direject sama Kyungsoo karena dia sibuk lagipula Chanyeol paling-paling membicarakan hal-hal receh macam "Kyungie baby, aku merindukanmu", "Kyungie kau sudah makan? aku tak nafsu makan karena merindukanmu."
Kyungsoo lebih memilih membaca diktat setebal Guinness world record daripada mendengarkam ocehan Park Chanyeol yang tak bermutu.
Walau akhirnya Kyungsoo akan luluh kalau sudah ada Chanyeol dihadapannya. Bagaimana ya malu-malu kucing lah intinya.
Tut.
Tut.
"Halo sayang."
Kyungsoo menghembuskan nafas begitu mendengar suara Chanyeol diseberang sana.
"Pulang sekarang, aku ingin bicara."
Tut.
Kyungsoo membanting handphoneya. Dia tak peduli dengan nasib benda itu yang lebih dia pikirkan adalah nasib masa depannya.
Dengan anak diperutnya bisakah dia mewujudkan impiannya?
Dia tidak bisa menyalahkan Chanyeol karena sepenuhnya bukan salah Chanyeol. Mereka menikmati prosesnya bersama tapi kalau saja Kyungsoo tahu dia punya rahim dia akan menyuruh Chanyeol memakai pengaman waktu itu.
Sudahlah semua sudah terjadi.
.
.
Saat Kyungsoo meneleponnya dia sudah menduga ada yang tak beres, masalahnya selama ini Chanyeol-lah yang selalu menelpon Kyungsoo. Terlebih ketika namja imut itu menyuruhnya pulang, Chanyeol langsung bergerak cepat mengambil baju seperlunya lalu memesan tiket ke Korea penerbangan paling cepat.
Jantungnya semakin tak karuan saat Kyungsoo menyuruhnya untuk langsung kerumahnya. Seumur-umur hubungan mereka yang memasuki usia setahun lebih, Kyungsoo tak pernah mau membawa Chanyeol menemui keluarganya.
Dan Chanyeol cukup terharu dengan penyambutan yang diberikan oleh ayah Kyungsoo.
Sebuah pukulan dipipi kirinya.
"Aku tak peduli bagaimana caranya yang jelas bulan depan nikahi anakku."
Chanyeol hanya melotot kebingungan.
Nikah? dia melemparkan tanya pada Kyungsoo yang menundukkan kepalanya.
"Jangan pura-pura bodoh, anak muda. Kyungsoo hamil dan aku tak mau anakku menikah dengan perut besar."
Siapapun tolong beri nafas buatan untuk Chanyeol.
Butuh beberapa menit untuk mengembalikan jiwa Chanyeol yang melayang dari tubuhnya. Hingga saat dia sadar, dia langsung berlari bersimpuh didepan Kyungsoo.
"Kyung, ak.. Aku akan jadi ayah?" itu pertanyaan yang sama sekali tak Kyungsoo duga akan keluar dari mulut Chanyeol. Awalnya dia kira Chanyeol akan meragukan kehamilannya mengingat jenis kelaminnya dan juga mereka baru melakukan satu kali. Dia menduga Chanyeol akan menanyakan "kau benar hamil?" atau lebih buruk "itu benar anakku?"
Untuk itulah Kyungsoo hanya bisa mengangguk sebagai jawaban yang langsung dihadiahi pelukan erat dari Chanyeol.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu. " Chanyeol melepaskan pelukan mereka demi menampilkan senyuman lebarnya dengan airmata mengalir dipipinya.
Saat itu Kyungsoo tak memikirkan lagi tentang masa depannya menjadi dokter.
.
.
Bukan satu bulan seperti keinginan Tuan Do tapi dua bulan menunggu Kyungsoo menyelesaikan kuliahnya. Untung saja Chanyeol sudah beres dengan segala tetek bengek perkuliahan jadi dia bisa pulang ke Korea dan fokus pada Kyungsoo dan calon baby mereka.
Jangan tanya perasaan orang tua Chanyeol, ibarat kau beli sepatu buy one get one lah. Dapat menantu dapat pula cucu. Ibunya Chanyeol bahkan sudah membelikan berbagai macam barang untuk bayi, walau jenis kelaminnya saja belum diketahui.
Oke kembali pada pernikahan.
Seperti yang tadi kalian baca diatas tentang Baekhyun yang memakai tuxedo yang sama selama tiga hari itu benar dikarenakan Kyungsoo juga menikah selama tiga hari.
Bukan, bukan resepsi mereka yang memakan waktu tiga hari tapi prosesi pernikahan mereka yang berjalan 3 hari. Salahkan saja Kyungsoo yang berubah pikiran disaat-saat terakhir.
Seperti tadi, dia akan menangis lalu berteriak kalau dia belum siap menikah. Membuat kegaduhan hingga Chanyeol turun tangan menenangkan Kyungsoo. Saking cintanya dia pada namja itu, akhirnya Chanyeol setuju untuk mengundur pernikahan. Kyungsoo bilang dia butuh waktu sehari.
Besoknya semuanya sudah siap seperti hari pertama. Semuanya harus sama seperti hari pertama seperti keinginan Kyungsoo, mulai dari pakaian pengiring hingga dekorasi, harus sama. Entah kenapa Kyungsoo akan tahu kalau ada yang beda.
Sebenarnya agak sedikit susah, misal bunga mawar putih yang menjadi bunga inti stoknya minim maka sang WO harus memutar otak untuk itu. Belum lagi janji WO dengan pasangan lain yang terpaksa mereka batalkan demi fokus pada pernikahan ini, untung saja Chanyeol kaya jadi dia membooking dengan harga khusus.
Semuanya demi Kyungsoo.
Tapi dasar Kyungsoonya saja yang tak tahu untung. Kejadian dihari pertama terulang lagi. Kali ini dia menangis histeris, menyalahkan Chanyeol karena membuatnya hamil. Tak hanya itu Chanyeol juga harus menerima bogem mentah dari Kyungsoo. Sebenarnya semua yang melihat kejadian itu kasihan pada Chanyeol -bahkan orang tua Kyungsoo meminta maaf langsung pada sang calon menantu- kesannya kok hanya Chanyeol yang cinta dengan Kyungsoo. Mereka ingin menolong Chanyeol tapi namja tinggi itu melarang semua orang mendekat.
Tak apa, aku baik-baik saja. Begitu yang Chanyeol katakana pada semua orang.
Hari kedua ditutup dengan Kyungsoo yang jatuh pingsan diiringi teriakan histeris dari semua orang.
.
.
"Kurasa kalau hari ini gagal juga aku akan menelpon pihak guinness world record untuk mencatat peristiwa ini, menikah untuk ketiga kalinya tidakkah itu wow sekali?." ucap Taemin, sang manager WO pada sekretarisnya, Luhan. Mereka sedang menunggu sang bride(?) untuk memasuki altar.
Luhan memijit keningnya, "kau benar Tae. Sumpah ini pernikahan paling melelahkan sepanjang sejarahku bekerja dibidang ini." balas Luhan. Tak hanya merek yang lelah, semua orang juga lelah tapi pernikahan harus tetap dijalankan.
Bos, target sudah hampir sampai.
Taemin langsung tegang begitu juga Luhan saat mendengar suara Jungkook melalui earphone yang menempel ditelinga kiri mereka.
Taemin langsung memberikan kode supaya musik dinyalakan pertanda bride sudah dekat. Kini semua orang digereja ikut tegang. Kebanyakan sih yang tau kejadian kemarin jadi mereka waspada saja kalau kalau hari ini terulang kembali.
Didepan sana berdiri Chanyeol dengan tuxedo hitamnya menanti Kyungsoo dengan jantung berdetak keras. Dia pasrah kalau hari ini akan berakhir seperti hari sebelumnya. Dia akan memberi waktu pada Kyungsoo sebanyak yang namja itu mau karena dia tak mau egois.
Dia tau persis kalau pernikahan tak ada dalam agenda Kyungsoo dalam waktu dekat apalagi seorang bayi. Dia tahu betul apa impian Kyungsoo dan secara tak langsung dia menghancurkan impian itu.
Brak.
"JANGAN EGOIS DO KYUNGSOO!"
Semua orang menatap kearah pintu gereja dimana Baekhyun berdiri dengan wajah merah memarahi Kyungsoo. Untung suaranya merdu jadi yang mendengar teriakan tadi telinganya tak akan iritasi.
"Kau bukan lagi Kyungsoo yang dulu. Hidupmu sudah terbagi. Ada bayi dalam perutmu dan ada Chanyeol yang menunggumu disana." kata Baekhyun sambil memegang kedua bahu sahabatnya.
Chanyeol?
Kyungsoo langsung mengikuti arah pandangan Baekhyun.
Didepan sana Kyungsoo bisa melihat senyum lebar milik Chanyeol. Senyum yang dulu begitu dia benci sekarang terlihat begitu indah dimata Kyungsoo.
Kyungsoo masih ingat bagaimana Chanyeol akan menampilkan senyum seperti itu lalu mengejeknya yang patah hati karena Jongin. Mulai saat itu dia membenci namja itu.
Tapi entah sejak kapan Kyungsoo begitu menyukai senyum itu.
Awalnya dia sempat menyesali keputusannya menerima Chanyeol sebagai kekasihnya. Percayalah itu tak mudah.
Mereka dikenal sebagai musuh bebuyutan jadi jangan salahkan kalau ada temannya yang menertawakan hubungan mereka. Kyungsoo malu, inginnya putus saja tapi entah kenapa begitu mendengar suara Chanyeol yang ceria diseberang sana membuat Kyungsoo tak tega. Akhirnya dia diam.
Bisa karena terbiasa, itu yang Kyungsoo alami. Dia terbiasa dengan Chanyeol jadi dia pelan pelan bisa mencintai namja itu walau tak sekalipun kata cinta itu terucap. Dia tak pernah membalas ucapan cinta Chanyeol, terlalu malu untuk mengutarakannya.
Tiba-tiba Kyungsoo merasa dirinya jahat karena sudah membuat Chanyeol menderita dengan semua tingkahnya. Dia akui kalau dia kekanak-kanakan dengan mengundur-undur hari pernikahan.
Kyungsoo hanyalah seorang namja pecundang.
Dia egois sekali hanya memikirkan tentang dirinya. Lupa dengan janin yang ada diperutnya yang butuh kedua orang tuanya dan lupa dengan Chanyeol yang menantinya dengan sabar.
Harusnya Kyungsoo bersyukur Chanyeol ada untuknya sekarang. Nasibnya jelas, anaknya nanti juga akan memiliki keluarga yang lengkap karena banyak diluar sana orang yang hamil diluar nikah dan nasibnya berakhir tragis.
Ugh, Kyungsoo ingin sekali memeluk Chanyeol.
Menghiraukan semua orang disana, Kyungsoo berlari.
"Channniieee.."
Chanyeol menampilkan muka khawatir.
"Sayang jangan lari-lari nanti bayi kita kecapean." ucap Chanyeol begitu mendekap Kyungsoo dalam pelukan.
Ugh, dia bahkan masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan bayiku.
Kyungsoo makin tak karuan rasanya.
Dia baru sadar kalau Chanyeol suamiable sekali.
"Hiks..hiks.."
Semua orang yang menyaksikan adegan tersebut makin menegang mendengar tangisan Kyungsoo. Bahkan sang pastur sekalipun. Bagi mereka tangisan Kyungsoo itu petaka.
Kecuali untuk Chanyeol.
"Sayang, kau kenapa?" dengan mesra dia membelai punggung Kyungsoo.
Bukannya berhenti, tangisan Kyungsoo malah makin kencang.
Ini tidak bisa dibiarkan. Batin Baekhyun meradang.
Dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan langkah tegas Baekhyun maju mendekati dua namja didepan satu masih sesenggukan yang satu menenangkan. Sungguh adegan romantis, kalau orang awam yang melihat. Kalau yang ada di gereja ini sih mereka sudah kebal dengan adegan ini.
"YAA! DO KYUNG... "
"AYO KITA MENIKAH CHANNIE!"
Baekhyun tak jadi melanjutkan teriakannya.
Hening, hanya suara lantunan piano lagu pernikahan yang terdengar.
"Mm.. Mwo?" Chanyeol tergagap dengan gantengnya.
"Isshh,,ayo kita menikah Chan, sekarang!"
Kyungsoo heran dengan reaksi Chanyeol dan semua orang disekitarnya yang menatapnya seolah-olah dia baru mengatakan kalimat paling sakral.
"Oh,,,oh tentu saja kalian akam menikah." Baekhyun akhirnya buka suara setelah rasa terkejutnya hilang.
Harus bertindak cepat atau dia akan berubah, begitulah pikirnya.
"Pastur, ayo mulai prosesinya." titah Baekhyun pada sang pastur yang mengangguk cepat. Seolah paham dengan isi kepala Baekhyun.
Sang pastur segera menguasai keadaan. Dia mulai melakukan ritualnya sebelum bertanya.
"Apa kau Park Chanyeol menerima Do Kyungsoo sebagai pasanganmu?"
"Aku bersedia." jawab Chanyeol mantap tanpa menunggu lama.
Lalu sang pastur beralih menatap Kyungsoo.
"Apa kau Do Kyungsoo menerima Park Chanyeol sebagai pasanganmu?"
1 detik.
5 detik.
10 detik.
Namun Kyungsoo tak kunjung menjawab.
Namja itu malah asyik menatap satu persatu tamu yang duduk menyaksikan upacara ini.
Ada ibunya yang duduk dibagian depan sebelah kanan, disampingnya ada Seungsoo adik pertamanya lalu Seungri adik keduanya dan yang terakhir adalah Xena, adik perempuannya. Ibunya dan Xena memakai gaun putih sementara kedua adik laki-lakinya memakai tuxedo putih.
Semuanya putih hanya Chanyeol dan Kyungsoo yang memakai hitam, sesuai keinginan Kyungsoo.
Kyungsoo tak melihat ayahnya.
Dia menemukan pria tua itu didepan pintu gereja.
Oh Tuhan, aku baru sadar kalau seharusnya aku berjalan dengan ayah menuju altar.
Kyungsoo malu sekali tapi sudahlah semua sudah berlalu. Nanti kalau ada yang menyinggung masalah ini dia tinggal bilang bawaan bayi, beres tak ada yang berani membantah.
Ayahnya memberikan dia senyuman dengan anggukan kepala seolah sebagai persetujuan untuknya.
Selesai dengan ayahnya kini dia menangkap sosok Baekhyun yang berdiri ditengah seperti menunggu dirinya memberi vonis untuknya. Wajahnya tegang sekali dan Kyungsoo tak suka itu.
"Baek, santailah sedikit."
Semuanya orang hanya bisa melotot mendengar kalimat Kyungsoo.
Sungguh kalau situasinya tidak seperti ini sudah dipastikan Baekhyun tak akan tinggal diam.
"Ekhem jadi Do Kyungsoo apa kau menerima Park.."
"Tentu pastur, isshh tentu saja aku menerimanya." jawab Kyungsoo dengan bibir merengut karena kesal ditanya dua kali untuk pertanyaan yang jelas jawabannya.
Bagi Kyungsoo jelas tapi bagi yang lain masih abu-abu.
Ini sudah selesai kan?
Sepertinya iya.
"O...oh dengan ini kalian resmi menjadi suami istri."
Baekhyun tertawa keras lalu diiringi tepuk tangan kencang. Disusul oleh ibu Kyungsoo yang berdiri sambil bertepuk tangan lalu diikuti tamu lainnya. Mereka semua menampilkan senyuman lebar dengan raut wajah lega.
"Sumpah Tae, ini pernikahan teraneh yang pernah kuhadiri." Luhan berbisik disamping Taemin dengan tangan saling menepuk sambil mata terus memperhatikan adegan ciuman pengantin baru itu.
Taemin hanya mengangguk mengiyakan, terlalu lemas untuk mengeluarkan kata.
Akhirnya, batin Taemin berteriak.
Setelah ciuman mereka selesai, Chanyeol memfokuskan pandangannya pada namja yang kini resmi menjadi tanggung jawabnya, menjadi pendamping hidupnya.
"Aku mencintaimu Park Kyungsoo."
Ohh betapa indahnya pipi Kyungsoo yang dipenuhi semburat merah karena malu.
"Ak.. Aku juga mencintaimu." jawab Kyungsoo lirih.
Semua kejadian dua hari lalu terlupakan, semua hari yang terisi dengan kerinduan mendalam terbayarkan, Chanyeol rela melalui itu semua kalau akhirnya Kyungsoo menjadi miliknya.
"Chan, aku mau bulan madu ke Mars."
"Heh!"
"Aku mau jadi orang pertama yang bulan madu disana." Kyungsoo menambahkan.
"Tapi sayang.." Chanyeol meneguk ludahnya melihat tatapan Kyungsoo.
"Apa! Pokoknya aku mau bulan madu ke Mars. TITIK!"
Teriakan Kyungsoo membuat mereka jadi perhatian.
Chanyeol bingung harus menjawab apa.
"Huwaaaa.." semuanya hanya bisa menatap Kyungsoo tak percaya. "Pokoknya kalau tidak ke Mars aku mau pisah saja.!
"ANDWE!" teriak Chanyeol tak kalah histeris dari tangisan istri(?)nya.
Sementara dibangku belakang terlihat sepasang kekasih yang mendoakan Chanyeol dalam hati.
"Sayang.." panggil sang dominant pada namja disampingnya.
"Hmm." balas sang submissive sekenanya. Dia masih memperhatikan adegan didepan yang menampilkan Kyungsoo memukul Chanyeol sambil berkata "ini kan keinginan anakmu juga, idiot."
"Kita menikah besok saja yuk, sebelum kau hamil."
"Heh!"
Adegan didepan sana tak lagi menarik karena perkataan sang kekasih.
"Aku tak mau nasibku seperti Chanyeol." lanjutnya sambil menunjuk depan dengan dagu lancipnya. "Orang hamil itu menyeramkan Jong, lihat saja Kyungsoo. Tadi dia manis sekali sekarang ck brutal sekali dia. Belum lagi dia selalu mengeluarkan jurus ampuhnya "ini kan bawaan bayi". Aku bisa gila kalau itu terjadi padamu, sayang." namja dengan kulit pucat itu mengakhiri kalimatnya dengan wajah ngeri lalu menolehkan kepalanya kesamping untuk melihat Jongin tercintanya, "jadi mau kan menikah denganku besok?"
Apa-apaan ini? Dasar Oh Sehun tidak romantis. Melamarku ditengah kerusuhan seperti ini.
"Mati saja sana." dengan wajah ditekuk Jongin pergi meninggalkan Sehun.
"Ya ya Jongin, sayang tunggu aku."
Cinta memang rumit ya. Tapi serumit apapun, hidupmu akan hambar tanpa cinta jadi jangan menyerah dalam mengejarnya.
"Yaa! Ampun Kyung!"
Walau kau harus babak belur dalam prosesnya.
"Mau ya Jong?"
"Tidak!"
Walau kau harus mendapat penolakan dulu.
Yakinlah ada akhir bahagia untuk tiap kisah yang tercipta.
THE END.
Ga tau ini apa…maafkan akuuhhh yang bikin beginian,,,,ini sebenarnya udah lama tapi males banged ngeditnya euy,,hohoho
Maklumi yuua kalau ada typo-typo yang berseliweran, karena Kyungsoo pun tak sempurna dengan rambut mangkoknya huhuhu
Comments are love for me^^
