On the day that you were born the angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust in your hair
Of golden starlight in your eyes of blue

Thank Being Born Yixing!

Pria kecil dengan mata rusa itu terus menatap keluar jendela dengan tatapan bingung. Dihitungnya ada 3 mobil parkir di depan rumah. Dia tidak bisa menghitung berapa manusia berada di dalam mobil yang masih diam terparkir dan tidak juga mengeluarkan penumpang di dalamnya.

" Luhannie, apa yang terus kau pandangi daritadi." Sapa Lay mengagetkan Luhan

" Yixing! Coba kau lihat kemari. Kau kenal siapa pemilik mobil-mobil itu? Sudah lebih 15 menit mobil-mobil itu terparkir depan rumah kita. Tapi aku tidak melihat seorang manusia pun keluar." Ucap Luhan menunjuk objek dyang mencuri perhatiannya daritadi.

Lay mengikuti pandangan Luhan keluar jendela. Dia hanya mengenali satu mobil yaitu mobil JunMyeon.

Untuk apalagi dia kemari. Apa kurang puas dia aku marahi seharian kemarin gara-gara seenak jidat mengganti tema handphone ku. Dengus Lay dalam hati.

" Itu mobil JunMyeon. Kau tidak perlu bingung Luhannie, dia memang aneh." Ucap Lay sambil menuju sofa.

Luhan mengikuti sahabatnya itu dan duduk di sofa. Menatap bingung sahabatnya yang kini asik makan anggur dengan santainya.

" Yixing ah. Apa kau tidak berniat keluar dan bertanya?." Tanya Luhan lembut

" Buat apa?. Biarkan saja dia." Ucap Lay

Luhan pun mengalah dan mengikuti sahabatnya itu untuk diam saja di sofa.

Treeet...Treeet...Treeet...

Bell rumah berbunyi, Luhan segera bangkit semangat menuju pintu depan. Lay hanya melihat sahabatnya itu dengan tatapan aneh. Entah makanan apa yang selama ini Sehun berikan hingga tubuh kecil itu menjadi sangat lincah sekarang. Lay memasang telinga nya, dan sesungguhnya dia tidak perlu melakukannya. Karena suara pekikan dari pemilik di balik pintu itu sudah cukup nyaring terdengar hingga dapur belakang.

" Hallo. Maaf kami mengganggu. Saya Baekhyun sahabat dari kecil JunMyeon si pengecut yang membiarkan kami menunggu di mobil hanya untuk dia menyusun kata-kata saja." Celoteh Baekhyun.

" Aku tidak pengecut. Aku hanya mengalami sedikit trauma di omelin seharian." Ucap JunMyeon

" Oh benarkah?. Bahkan harus Eomma mengancam tidak akan memasak makanan kesukaan mu baru kau memberikan kami izin keluar dari mobil." Ucap suara berat Chanyeol

Eomma ada disini. Lay bangkit menuju pintu depan dan terkejut melihat banyaknya pasukan di depan. Keluarga JunMyeon, sahabat-sahabat JunMyeon yang dijumpainya di perdesaan dan bahkan karyawan kafe JunMyeon yang Lay ingat pria dengan mata bulat, lelaki dengan kulit coklat yang terlihat mengantuk dan seseorang dengan seragam kafe matanya seperti kucing yang berusaha menghindar dari Jongdae yang terus mengekorinya.

" Eomma. Kalian semua datang kesini?. Ayo masuk." Ajak Lay

Eomma dan Baekhyun masuk sambil memeluk Lay dan Luhan dengan hangat dan lembut. Dan yang lainnya masuk kecuali JunMyeon langsung melihat sekeliling rumah Lay yang cukup luas walau didesign minimalis. Luhan langsung membawa para tamu untuk terus masuk menuju taman bunga di belakang. Lay menyadari JunMyeon masih berdiri diluar dalam diam.

" Kau kenapa? Ayo masuk aku buatkan jus tomat kesukaanmu nanti." Ucap Lay

" Benarkah? Bagaimana kau tahu aku suka? Apa kau sudah memaafkanku?." Tanya JunMyeon bersemangat.

" Huh. Ya aku tahu karena aku punya mata bisa melihat eomma membuatkan itu untukmu. Dan ya aku sudah maafkanmu. Ayo." Ajak Lay

JunMyeon pun bersemangat masuk kedalam bersama Lay, menyusul rekan dan keluarganya ke dalam rumah Lay.

" Maaf. Kami tidak pernah kedatangan tamu apalagi sebanyak ini. Jadi kita harus berkumpul di taman seperti ini karena tidak cukup tempat duduk di dalam." Ucap Luhan

" Tidak apa-apa. Aku menyukai bunga-bunga kalian. Apa kalian yang menanamnya sendiri?." Tanya Baekhyun

" Ya. Luhan yang menanam nya dia sangat rajin." Ucap Lay.

" Wah. Kau telaten juga." Ucap Minho.

" Kami kesini ingin menjenguk mu. Kami senang kau cepat sehat kembali." Ucap eomma

" Terimakasih. Kalian membuatku terharu. Bagaimana kalau sore ini kita buat pesta BBQ disini? Luhan undang Sehun juga agar tambah ramai." Ucap Lay bersemangat.

" Setuju. Mari kita makan-makan!" Ucap pria berkulit coklat dengan semangat.

" Oh maafkan rekanku ini. Perkenalkan aku Kyungsoo, yang berkulit coklat itu Jongin dan yang bermata indah itu Minseok Hyung." Ucap pria bermata bulat dengan ramah.

" Hai Minseok aku Jongdae." Potong Jongdae langsung

" Tidak ada yang bertanya padamu." Serang Baekhyun sadis.

Taman bunga itupun dipenuhi tawa, seperti biasa satu sama yang lainnya masih saling menghina tanpa rasa untuk menjatuhkan. Siwon masih setia mengganggu adiknya Minho dan Luhan yang kini berbincang ria dengan Baekhyun. Lay sangat bahagia. Dia tidak pernah merasakan keramaian dalam hidupnya seperti ini. Ternyata hidup lebih indah dinikmati dari sekedar hanya membayangkannya dibalik tulisan.

Acara BBQ yang semula dijadwalkan sore itu molor hingga malam menunggu kedatangan sehun yang baru pulang dari rapat perusahaan nya. Dengan ucapan maaf tatapan mata bayi dan pesona wajahnya juga dua kantong daging segar yang dibawanya semua langsung memaafkannya. Apalagi Eomma yang langsung menyukai sifat santun Sehun. Jongdae dan Kyungsoo bertugas sebagai pembakar. Chanyeol dan Jongin bertugas membuat bumbu dan sayur. Baekhyun, Luhan, Minseok dan Lay asik menyiapkan nasi, piring, buah dan lainnya. Sedangkan Sehun dan JunMyeon yang saling diam pergi membeli softdrink.

" Aku mau minta maaf padamu. Mungkin aku terlihat jahat." Ucap Sehun

" Tidak apa. Bahkan kalau bukan karena kata-katamu dulu aku tidak akan bisa maju sampai begini." Ucap JunMyeon

" Kau telah menyadarkanku. Sekarang aku berpikir Luhan berhak memutuskan apa yang harus dia lakukan untuk hidupnya. Asal kami masih saling mencintai apapun kendalanya kurasa tidak apa-apa kan?."

Sehun sepertinya tidak benar bertanya. Dia menghela napas panjang setelah perkataannya itu. JunMyeon merasa kalau hubungan Luhan dan Sehun sedang terjadi sesuatu. Tapi dia tidak bisa bertanya. Ini adalah masalah pribadi mereka.

" Ya kau benar. Cinta butuh perjuangan. Perjuangan tanpa cinta juga tidak akan menghasilkan apa-apa." Jawab JunMyeon.

...

Rindu sesungguhnya adalah saat kau menyadari

Bahwa dia telah jauh berpisah jauh denganmu..

Beruntunglah Luhan yang selalu mengidamkan punya rumah besar dengan banyak kamar. Karena jika tidak begitu mungkin Lay tidak akan kepikiran untuk membuat rumah dengan banyak kamar. Kini masing-masing kamar telah ada penghuninya malam itu. Walau Eomma, Siwon dan Minho telah pamit untuk kembali pulang kerumah, tetapi keadaan rumah Lay masih saja ramai dengan keberadaan sepuluh pria dirumah itu. Baekhyun dan Sehun bertengkar karena berebut ingin sekamar dengan Luhan yang akhirnya dimenangkan oleh Sehun, hingga Baekhyun pun kembali sekamar dengan Chanyeol. Jongdae meminta sekamar dengan Minseok yang langsung dijawab Minseok dengan tatapan horor. Minseok menginginkan tidur dengan Kyungsoo yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Jongin yang mengatakan dia dan Kyungsoo akan tidur dalam satu kamar. Akhirnya Minseok pun mengalah dan menerima takdir satu kamar bersama Jongdae. Tinggal Lay dan JunMyeon.

" Kau jangan bermimpi masuk kamarku." Ucap Lay mengancam JunMyeon yang sedang senyum-senyum membayangkan sesuatu.

" Ha kenapa? Bukankah tinggal kita berdua yang belum dapat kamar?." Ucap JunMyeon senyumannya menghilang.

" Perlu kuingatkan ini adalah rumahku. Jadi aku sudah mempunyai kamar dirumah ini." Ucap Lay meninggalkan JunMyeon.

" Jadi aku bagaimana?." Ucap JunMyeon yang tetap mengikuti Lay hingga didepan pintu kamarnya.

" Ini bantal dan selimutmu. Kau bisa tidur di sofa. Selamat malam." Ucap Lay menyerahkan bantal dan selimut ke tangan JunMyeon dan menutup pintu kamarnya.

Terdengar Jongin,Chanyeol dan Jongdae tertawa dibalik pintu. Mereka semua telah menutup dan mengunci pintu kamar setelah tahu JunMyeon tidak mendapatkan satu kamar dengan Lay.

" Berisik kalian! Kupotong gajimu bulan depan Jongin!." Ucap JunMyeon emosi sambil menuju sofa dengan kesal.

" Hei kenapa Cuma aku!." Teriak Jongin dari dalam kamarnya

" Karena Cuma kau pegawaiku yang mengetawakanku lagipula suaramu paling besar!" ucap JunMyeon lagi

Kini rumah itu dipenuhi tawa yang besar dibalik semua pintu kamar. Bahkan terdengar suara tertawa berat yang sedikit aneh. Sepertinya itu suara Sehun yang turut bahagia melihat penderitaan JunMyeon.

...

Pagi-pagi sekali rumah sudah terasa hebohnya. Jongin dan Sehun berebut untuk cepat ke kamar mandi. Yang satu memaksa karena akan ada rapat penting dan yang satunya tak mau kalah karena merasa bos nya tidak perlu mencari alasan lagi untuk memotong gaji dan uang makannya bila ia telat pergi kerja hari ini. Kyungsoo dan Minseok yang berpikiran lebih dewasa memutuskan untuk terus pergi kerja dan mandi di tempat kerja nanti.

" Tidak bisakah kau hentikan perkelahian kamar mandi itu JunMyeon?." Tanya Lay membangunkan JunMyeon yang masih tidur damai dalam teriakan-teriakan.

" Biar saja. Badanku masih sakit tidur di sofa." Ucap JunMyeon sambil membelakangi Lay dan kembali tidur.

" Luhannie.." Lay putus asa

" Uh.. Tetap saja semuanya bayi. Sehunnie, kau lihat kaca ini lihat kau sangat tampan bahkan tanpa mandi. Pergilah ke rapat itu sekarang. Aku akan mengantarkan baju ganti nanti ke kantormu." Ucap Luhan

" Tidak mungkin Lu. Apa jadinya aku jika tidak mandi." Ucap Sehun masih bersikeras

" Sehunnie.. Ayolah." Luhan memberikan pandangan terimutnya dan akhirnya Sehun menyerah.

" Jongin. Kuminta kau sekarang ke kafe atau kusuruh Kyungsoo menjauh darimu." Ucap Junmyeon

Jongin tanpa membantah lagi langsung meninggalkan pintu kamar mandi dan pergi keluar bersama Sehun. Kamar mandi yang bagaikan primadona pagi itupun ditinggal para peminatnya.

" Kenapa tidak daritadi. Bikin kepala ku pusing saja." Ucap Jongdae langsung masuk ke kamar mandi tanpa basa basi.

" Kau tidak pergi kerja juga?." Tanya Lay

" Tidak. Aku tidak mau meninggalkan kau diantara para laki-laki disini." Jawab JunMyeon

" Kau tidak sadar aku juga laki-laki. Sana pergi kerja jangan banyak alasan." Ucap Lay menepuk punggung JunMyeon agar bangun.

" Yak! Aku tidak mau. Aku mau menghabiskan hariku denganmu." Ucap JunMyeon

" Uhuk.. Rasanya aku mau muntah." Ucap Chanyeol yang baru keluar dari kamar bersama Baekhyun

" Anak ini bikin malu saja." Dengus Lay dan pergi meninggalkan JunMyeon yang tertawa riang

...

Masakan Luhan adalah segalanya. Setelah sarapan dan Luhan pergi pamit untuk mengambil baju Sehun dan mengantarkan ke kantor. Jongdae,Chanyeol dan Baekhyun pun akan pamit untuk kembali pulang ke perdesaan. Walaupun Jongdae berjanji akan kembali lagi secepatnya untuk meneken kerjasama dan berkerja di kafe JunMyeon. Tampaknya Minseok tidak akan bisa bekerja dalam damai lagi karena fans beratnya akan satu tempat kerja dengannya. Baekhyun menolak untuk tetap tinggal dirumah Lay karena dia tidak sanggup berpisah dengan orang tua dan neneknya di perdesaan sedangkan Chanyeol yang sudah sukses menjadi bos diperdesaan menolak untuk join bisnis dengan JunMyeon di kota.

Lay menyadari bahwa kini tinggal dia bersama JunMyeon berdua.

" Baiklah sekarang mau mu apa?." Tanya Lay

" Pergi jalan bersamaku? Bagaimana kalau ke pantai? Kita sudah ke perdesaan. Kita belum ke pantai." Ucap JunMyeon mengebu

" Oh tidak. Aku harus menyelesaikan novelku. Sudah berapa hari ini aku istirahat." Ucap Lay

" Baiklah kalau begitu aku akan nonton dan tidur saja di sofa menunggumu menyelesaikan novelmu." Ucap JunMyeon sedikit kecewa

" Terserah kau saja." Ucap Lay tidak memperdulikan JunMyeon.

JunMyeon tetap dalam perkataannya, menunggu Lay menyelesaikan novelnya. Hanya mengganggu Lay ketika waktu makan siang telah tiba dan memaksa Lay untuk makan makanan yang telah dia beli. Kemudian kembali di usir Lay dari kamarnya dan berakhir tidur di sofa.

JunMyeon merasa tubuhnya dicolek oleh seseorang. Ia pun membuka matanya dan melihat Luhan yang dengan tampang tidak enak karena sudah mengganggunya tidur.

JunMyeon memeriksa jam tangannya sudah setengah satu tengah malam.

" Mianhe. Tapi sebaiknya kau pulang saja. Terimakasih telah menemani Yixing seharian ini." Ucap Luhan.

" Mana Yixing?. Apa dia sudah tidur?." Tanya JunMyeon

" Er dia lagi pergi ke penerbit. Dia menitipkan pesan untukmu untuk pulang saja jika kau sudah bangun. Tapi kau tidak bangun-bangun. Kasihan bila kau tidur disofa seperti ini." Ucap Luhan

" Apa dia pergi sendirian malam-malam begini?. Kenapa dia tidak membangunkan ku? Apa dia tidak menganggapku sedemikiannya." JunMyeon kecewa

" Aku minta maaf. Aku tahu Yixing pasti tidak mau merepotkanmu." Ucap Luhan tidak enak

" Bahkan seharian ini aku tidak melakukan apa-apa. Baiklah aku akan pulang. Terimakasih pesannya Luhan." Ucap JunMyeon dan pergi.

Bertahanlah JunMyeon, kumohon bertahanlah demi Yixing. Pinta Luhan dalam hati

...

Cerita tentang hidup lebih cepat dari kedipan mata. Cerita tentang cinta adalah pertemuan dan perpisahan. Dan cinta akan selalu membuat lebih bahagia daripada sekedar terlihat bahagia.

Sehun berdiam, terkadang dalam diam itu ia menahan segala perasaannya. Perasaan bahagia, sedih, berduka dan bergembira. Di depannya Luhan pun turut dalam diam tidak mampu memulai perkataan antara mereka.

" Lu. Hiburlah aku, apa kau sanggup membiarkan detik-detik perpisahan kita ini dalam diam?." Ucap Sehun

" Sehunnie. Maafkan aku, aku berjanji akan sering pulang." Ucap Luhan menahan tangisnya

Luhan yang kuat, tegar bagaikan baja itu kini ringkih di hadapan pasangannya. Tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia menilai keputusannya telah tepat. Ia tidak mungkin memilih antara dua orang yang dikasihinya. Mereka bukan pilihan.

" Tidak Lu. Aku yang akan sering mengganggumu belajar disana. Aku akan sering mengunjungimu. Kau tahu aku sering pergi kesana karena urusan pekerjaan kan. Belajarlah yang giat disana. Aku senang mempunyai pasangan yang mempunyai tekat yang kuat sepertimu." Ucap Sehun

" Sehunnie. Terimakasih. Kau memang mengertiku." Ucap Luhan

.

.

.

.

" Luhan hentikan!. Sejak kapan kau punya pemikiran ingin bersekolah di China? Kenapa harus sejauh itu?." Lay histeris mendengar perkataan sahabatnya yang akan pergi.

" Kau penulis tapi tidak tahu pepatah tuntutlah ilmu hingga kenegeri China? Aku ingin pintar sepertimu Yixing. Aku akan sukses sama sepertimu. Suatu hari nanti aku akan kembali lagi dan menjadi sainganmu. Bagaimana? Keren kan?." Ucap Luhan menyembunyikan kesedihannya.

" Luhannie please apa maksudmu? Apa ini karena kesalahan novel ku lagi?." Ucap Lay mengiba

" Apa novel barumu? Coffee and Unicorn? Bukan aku saja yang menyukainya bahkan seluruh pembaca di muka bumi ini. Aku bangga padamu. Kau sangat genius." Ucap Luhan memeluk Lay

" Lalu kenpa kau pergi meninggalkanku?." Tanya Lay berat

" Yixing-ah aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya mengejar cita-citaku yang lain. Aku akan kembali kesini lagi. Aku janji." Ucap Luhan

...

Ada dua hal yang paling susah dihapus dalam hidup ini yaitu adalah perasaan dan kebiasaan. Apalagi kalau kebiasaan itu menyangkut pada perasaan. Lay setelah ditinggal Luhan ke China menghabiskan waktu dengan terus mengawasi Luhan dari jauh layaknya orangtua dan merawat bunga-bunga Luhan. Udara hari itu sangat cerah, rasanya sayang bila Lay tetap dirumah. Lay pun memutuskan untuk keluar. Mengikuti saran sahabatnya untuk sering pergi keluar rumah berjumpa dengan orang baru.

Sudah lama Lay tidak masuk lagi kedalam kafe kopi itu. Tempat inspirasi dia untuk menuliskan novel terbarunya. Kyungsoo yang sedang melayani pembeli melihat kedatangan Lay menyambutnya dengan senyum dan lambaian tangan. Lay pun membalasnya dan mendatangi Kyungsoo.

" Hei orang sibuk. Sudah lama tidak kemari." Ucap Kyungsoo

" Haha, sejak Luhan ke China aku jadi sibuk mengurusi rumah besar itu sendiri." Ucap Lay

" Beruntunglah kau sudah mempunyai rumah. Aku dan Jongin harus bekerja mati-matian untuk membayar uang sewa kamar kami." Ucap Kyungsoo

" Tinggallah dirumahku Kyungsoo, ajak Jongin juga. Aku senang bila rumahku ramai orang." Ucap Lay

" Benarkah Yixing? Apa kau sungguh-sungguh?." Tanya Kyungsoo dengan mata berbinar

" Ya tentu. Pulang kerja nanti kalian harus mengurusi perpindahan barang kalian kerumah." Ucap Lay

" Kau baik sekali. Gomawo Yixing." Kyungsoo tak dapat menahan haru airmatanya.

" Kyungsoo kau membuatku terharu juga." Ucap Lay

" Aku akan memberitahu berita baik ini pada Jongin. Tunggu yah." Kyungsoo pun meninggalkan mesin kasirnya. Lay hanya bisa terbengong melihat Kyungsoo yang kegirangan itu.

" Apa yang kau katakan padanya hingga dia gembira begitu dan melupakan mesin kasir ini?." Tanya Jongdae yang muncul dari arah yang baru dilewati Kyungsoo.

" Haha bukan apa-apa." Ucap Lay

" Yixing kau mau pesan apa?".Tanya Jongdae

" Hmm yang biasa JunMyeon buat? Aku tidak tahu namanya." Ucap Lay dengan wajah penasaran

" Hmm. Aku pun tidak tahu. Lagipula aku tidak bisa bertanya pada JunMyeon karena dia tidak ada disini." Ucap Jongdae

" Dia kemana?." Tanya Lay cepat

" YAK! Kau ini sebenarnya kesini mencari kopi atau JunMyeon?." Tanya Jongdae

" T-tentu saja kopi. Tapi kan kau sendiri tidak tahu nama kopi itu." Bela Lay

" Hmm aku tahu sebenarnya kau mencari JunMyeon bukan? Dia sekarang tidak tinggal di kota lagi. Dia pergi ke perdesaan untuk mengurusi perkebunan keluarganya." Ucap Jongdae

" Apa? Laki-laki seperti dia berubah menjadi pria desa?." Tanya Lay tidak percaya

" Kau tahu? Cinta bisa merubah segalanya." Ucap Jongdae

" Maksudmu...?." tanya Lay

" Sepertinya dia telah menyerah padamu dan memutuskan melupakanmu dengan pindah ke perdesaan menjadi yang bukan dirinya dan menyibukkan diri disana." Ucap Jongdae

" Benarkah sampai seperti itu?." Lay tidak yakin

...

Sesungguhnya Lay bukan penasaran, tetapi kebiasaan-kebiasaan JunMyeon yang mengganggu berada didekatnya dan kemudian hilang membuat Lay merasa sangat kehilangan. Sesungguhnya pun demi apapun juga alasan itu bukan segalanya untuk Lay menyusul JunMyeon menuju perdesaan, menitipkan rumah pada Kyungsoo dan Jongin. Ada yang hilag setelah JunMyeon pergi. Perasaan nya pun terasa kosong. Ia rindu akan sifat-sifat JunMyeon yang bertolak belakang dengan dirinya.

Lay menatap tidak yakin, pria di depan hadapanya. Yang menatapnya dengan pandangan rindu. Tanpa pakaian branded, tanpa jam tangan watch sport dan sepatu yang biasa dipakai. JunMyeon seakan berubah menjadi sosok pribadi yang lain. Menjadi lebih sederhana dan hangat dengan tampilannya kini.

" Jadi hanya begini yang kau bilang perjuanganmu untuk mendapatkanku? Kau malu karena menyerah hingga pergi begitu saja tanpa memberitahu ku?." Tanya Lay

" Yixing.."

" Kau seharusnya malu karena sudah pergi setelah membuat aku terbiasa dengan sikap bodohmu itu." Ucap Lay

" Tapi Yixing.."

" Kenapa? Tidak ada jawaban untuk pertanyaanku ini?." Tanya Lay lagi

" Ani. Itu supir taksimu menunggu kau bayar. Lagipula aku malu menjawab pertanyaanmu di depan supir taksi itu." Ucap JunMyeon

" Yak! Bayarkan aku kalau begitu, apa kau sudah jatuh miskin semenjak disini. Kau tahu aku dari jauh kesini hanya untuk berjumpa dengan wajah bodohmu itu. Dasar si mulut besar." Teriak Lay sambil meninggalkan JunMyeon dan supir taksinya dengan wajah malu.

Dasar bodoh perusak suasana, seharusnya tadi dia langsung memelukku seperti di cerita-cerita. Dengus Lay dalam hati.

.

.

.

.

Lay masih dengan wajah kesalnya sisa tadi siang mendengarkan cerita Baekhyun tentang keistimewaan neneknya. Chanyeol yang merasa bosan mendengar cerita Baekhyun mengajak JunMyeon berbicara tentang hal yang jauh tidak penting untuk membunuh rasa bosan. Mereka makan malam diluar perkarangan rumah malam itu.

" Chan.. Bisa kau balikkan dagingnya? Itu sudah hampir gosong." Ucap Baekhyun

" Biar aku saja." Ucap Lay menuju tempat pemanggangan.

Lay membalikkan daging disampingnya JunMyeon datang membawa tempat daging.

" Yixing. Apa kau betul merindukanku?." Tanya JunMyeon

" Aku tidak bilang aku rindu padamu." Ucap Lay ketus

" Jadi alasan apalagi sampai kau menyusulku kesini?." Tanya JunMyeon

" Aku-aku hanya ingin saja." Ucap Lay

" Kau masih sanggup berbohong?." Tanya JunMyeon serius

" Baiklah. Ya memang aku merindukanmu. Aku benci melihat kau yang masuk dalam hidupku kemudian pergi begitu saja." Ucap Lay

JunMyeon memeluk Lay dengan erat. Cinta yang diterima bagaikan balon yang dipompa ketika perjuangan cinta dan dilepaskan ke udara. Tidak perlu khawatir lagi balon akan meledak karena terlalu banyaknya tekanan angin yang masuk.

" Kau tahu, aku akan selalu menjadi kopimu. Yang selalu ada menghentikan kegelisahanmu dan menghangatkamu dari dinginnya kesedihanmu, unicorn." JunMyeon menarik nafas lega. Kini cintanya telah bersambut.

Berbahagialah kalian para pejuang cinta yang telah berhasil mendaratkan cintanya pada tempat yang benar. Kalahkan kegelisahan yang menyeliputi hati. Bila hidup hanya terdiri dari kesedihan dan kegembiraan, jadilah penentu dari batas kedua rasa itu.

The End

Hai pembaca yang baik budiman (aseek kayak dengar RRI jam 06.00 pagi aja, jadul banget guee RRI wkwkwk ^^)

sesuai janji diawal chapter FF ini Cuma sampai 7 aja sesuai dengan tanggal lahir Zhang Yixing aka Lay aka Unicorn ^^

maaf buat yang minta dipanjangin chapternya tidak bisa dipenuhi ya maaafkan dakuu ^^

Jangan lupa yah reviews untuk chapter ini lagi ^^

Buat Anson yang selalu cetia cemungut cetiap caat wkwkw ^^ yang nanya SNS kuambil dari perkataan Zhang Yixing di FF ini "menulis bukanlah sebuah perkenalan fisik. Menulis adalah ketika kau mampu menjadi bagian dari orang lain tanpa harus orang mengenal siapa dirimu" (aseek) terus bersamaku yah walau kita tidak saling kenal hiks jadi sedih o.O

Buat Nichi, para Guest, Kerdus susu, Otps-daughter, Nowords, Regina Pearl Luce, Santy terimakasih sebanyak-banyaknya yang sudah tetap setia memberi reviews dari chapter ke chapter.

Sesungguhnya yang ditunggu setiap penulis FF bukanlah menyelesaikan Chapter FF nya tetapi membaca reviews dari setiap Chapternya.

Carilah olehmu akan sahabat, yang boleh dijadikan obat. Carilah olehmu guru yang boleh beritahukan setiap baik dan buruk.

Kalian semua Sahabat dan guruku. Terimakasih banyaaaaak jumpa lagi di FF selanjutnya ^^