Beyblade (c) Takao Aoki

Warning: Canon Diverge. Cerita gaje, picisan, plot irasional, keju, sinetron abis-abisan plus flow berantakan. Tahan2in aja ya #sob


аромат

.
by Ratu Obeng (id: 1658345)

02.


Seringai senyum dipaksakan menghias wajah remaja tampan yang dihiasi ornamen seperti sirip hiu di kedua pipinya. Di tengah kegelisahan, ujung kakinya menghentak pelan sementara tubuhnya harus tetap bergeming. Sesekali maniknya mencuri-curi pandang ke arah jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.

Pria separuh baya di hadapannya bersikeras untuk mengajaknya bicara, sementara dia masih mencoba dengan sabar menunggu seseorang—yang masih asik memilih bahan-bahan untuk membuat roti dari balik etalase toko. Berbagai pertanyaan dan kalimat yang terlontar dari pria tersebut dijawabnya dengan sepatah dua patah kata atau bahkan hanya dengan anggukan saja.

Kesal. Bosan. Itulah yang sedang dirasakan oleh Hiwatari Kai sambil terus mengeraskan kepalan tangannya supaya tidak lepas kendali. Sempat terpikir olehnya untuk pulang saja meninggalkan rekan yang sedang ditunggunya, tapi perbuatan itu akan sangat tidak beradab.

"Kai, aku sudah selesai! Ayo kita pulang!"

Akhirnya.

"Saya permisi dulu." pamit Kai sopan pada sosok asing tadi. Hatinya terasa lega saat langkahnya mengikuti pemuda sebaya yang sudah menggamit banyak barang belanjaan di kedua lengannya. Entah karena terbiasa sopan atau memang tidak tega, Kai mengambil salah satu barang belanjaan yang sekiranya paling merepotkan.

"Terima kasih, Kai."

"Tidak masalah, Rei. Apa kau selalu belanja sebanyak ini?"

"Tidak juga, kebetulan ada beberapa tepung roti yang memang habis secara bersamaan. Terima kasih sudah menemaniku, maaf Takao sudah merepotkan." pemuda berambut panjang yang dipanggil Rei itu menjawab bersemangat.

Kai hanya memandang koleganya sekilas lalu kembali fokus pada rute yang ada. Seingatnya sepulang sekolah tadi dia berkunjung ke rumah Takao dengan maksud melakukan latih tanding Beyblade karena sebentar lagi akan ada turnamen besar, tapi malah berakhir di sebuah jalan dengan barang belanjaan berisi adonan roti mengisi tangannya. Bibirnya mengeluarkan desahan panjang.

Awalnya sang 'ketua'-lah yang seharusnya memiliki andil untuk menemani Rei berbelanja. Tapi karena dia harus berlatih kendo pada jam tambahan sebagai hukuman karena bolos latihan di hari sebelumnya, dia memohon pada Kai yang kebetulan berada di sana untuk menggantikannya. Begitulah seorang Takao, selalu dengan keputusannya yang seenaknya. Untunglah satu-satunya pewaris tunggal klan Hiwatari itu tidak keberatan, asalkan setelah ini Rei mau ikut menjadi lawan tandingnya.

Walau terkesan kekanak-kanakan, sampai saat ini belum ada yang menarik minat Kai selain pertarungan Beyblade.

"Kau sudah kerasan di sini?" tanya Kai dengan nada datar. Berusaha memulai percakapan karena kebisuan yang terjadi antara mereka sudah terlampau lama.

"Aku masih suka tersesat, tapi sudah betah kok!" sambut Rei polos, senyum lebarnya memperlihatkan gingsulnya yang manis, "Hanya masih butuh adaptasi lebih..."

Rei berasal dari Cina, baru dua bulan dia pindah ke Jepang—tepatnya ke rumah Takao dan ikut menimba ilmu sebagai murid SMA. Merasa tidak enak karena merepotkan Takao serta kakeknya, pemuda bersurai biru gelap itu mencari kerja sambilan sebagai patissier sebuah toko roti. Kai cukup kaget ternyata Rei memiliki keahlian lain yang di luar dugaan. Rakyat negeri bambu memang penuh kejutan.

Matahari sudah hampir tenggelam di sisi barat. Hilang sudah harapan Kai untuk melakukan latih tanding bersama Rei maupun Takao, terutama karena dia belum menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Walau kesal pemuda stoic itu tidak ingin memaksakan diri. Masih ada hari-hari lain yang bisa dipakai untuk mengamuk di arena Beyblade sepuasnya.

"Kalau begitu, aku pulang dulu."

Namun cengkeraman tiba-tiba Rei pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Kai.

"Kau belum mendapat jatah coklatmu hari ini. Lagipula sekarang belum terlalu malam, bagaimana kalau kita minum teh?" ajak Rei.

"Aku tidak suka teh." tolak pemuda beriris amethyst itu tanpa maksud menyinggung.

"Jangan begitu, aku punya teh Camomile yang bagus untuk tubuh lelah."

Kai merasa déjà vu.

"Tidak usah." elaknya lagi sambil menyingkirkan tangannya, menjauhkan kehangatan yang sempat bersinggungan menerpa kulit mereka.

"Ah, apa kau akan menemui pacarmu?"

Kalimat tanya yang membuat Kai langsung batuk-batuk kecil.

"Aku tidak punya pacar." sanggah Kai seraya melengos pergi dari hadapan Rei.

"Hei, aku cuma bertanya…" ujarnya sambil menahan tawa, mengikuti langkah Kai dengan mempersempit jarak agar suaranya masih berada dalam area pendengaran yang cukup, "Ayo kita kembali ke tempat Takao dulu!"

"Jangan bertanya hal tidak berguna seperti itu. Dan jangan mengaturku, aku tidak suka diatur!" Kai makin mempercepat langkahnya—ingin sekali untuk menghindari percakapan aneh yang sepertinya sudah ia dapati di hari sebelumnya, namun tentu saja dengan pengganggu yang berbeda.

"Apa pacarmu mengaturmu?"

"Kalau aku punya pacar pun, dia tidak akan bisa mengaturku."

"Oh…" jawab pemuda Cina itu mengangguk pelan sebelum meneruskan kalimatnya, "Kalau aku bisa mengaturmu, apa artinya kau bisa jadi pacarku?"

"Hah?"

Langkah Kai mendadak terhenti. Ia berbalik dan menatap mata pemuda yang langkahnya tertinggal sedikit di belakangnya. Tercipta jeda panjang di antara keduanya. Yang dipandang menunjukkan muka serius sebelum akhirnya menyunggingkan seringai, memperlihatkan barisan gigi putihnya.

"Hahaha, coba lihat wajahmu tadi! Kau benar-benar lucu!" Rei tertawa spontan sambil menunjuk ke arah hidung Kai. Membuat sosok yang lebih tinggi menggeram kesal sekarang. Diserahkan barang belanjaan di tangannya dengan kasar kepada sang empunya, sementara dia bermaksud untuk pergi secepatnya.

"Lawakanmu tidak lucu!"

"E-ehhh... kau mau kemana?"

Kai memutar bola matanya senewen. Dia mulai frustasi dengan orang-orang di sekelilingnya yang sangat tidak peka—atau memang biasa saja karena dia terlampau jenius sehingga makhluk sekitarnya terlihat ber-IQ rendah. Sekali lagi Kai hanya mendesah panjang sebelum menjawab untuk kedua kalinya,

"Pulang."

"Baiklah. Pulang saja, Hiwatari Kai. Tapi kau tidak akan mendapatkan cemilan favoritmu lagi sebelum minum teh bersamaku." ancam Rei tegas dan jelas sambil mengedipkan sebelah mata pada mantan rivalnya. Sengaja.

Kai mengangkat salah satu alisnya sebal, "Kau yang memaksaku untuk menjadikan roti buatanmu sebagai favoritku."

"Tapi kenyataannya kau tidak menolak. Artinya kau cukup menyukainya." jabar Rei tanpa merasa bersalah. Senyumnya dikembangkan lebih lebar lagi.

Kai mengutuk dirinya yang mengalami kesialan beruntun dengan dua pemuda, dua kali, hanya dalam dua hari. Walau menggerutu dalam hati, Kai terpaksa mengangguk samar menyetujui ajakan tersebut.


To be continued...

.

.

.

A/N:
Hiyaaa~ ada yang doyan KaiRei nggaaaa? Pasangan HOT yang selalu bikin meleleh di depan TV tiap minggu pagi #IYA
Walau di series-nya (IMO) hint-nya ngga banyak, tapi adegan mereka duaan di movie bikin HNGGGGGGGGG!(*/∇\*)

Mohon staytuned untuk adegan penyiksaan (?) Kai selanjutnya, ya!

R&R maybe? C: