Beyblade (c) Takao Aoki
Warning: Canon Diverge. Alur lambat. Ngobrol random ngga jelas. Jujur aja author masih galau Kai mau dipasangin sama siapa #lol #bohong
аромат
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
03.
"Kai, aaahnngg~"
Kalau boleh diumpamakan, wajah Kai sekarang benar-benar sedatar teflon yang biasa dipakai juru masaknya untuk membuat sarapan. Atau mungkin sepipih talenan ikan, tergantung selera humor masing-masing individu yang mengartikan.
Intinya, Kai tidak ada minat bereaksi lebih saat melihat ujung sumpit berisi daging ikan dengan beberapa jenis sayuran berusaha memblokir arah pandangnya.
"Apa ini?"
"Salad Salmon, mengandung omega tiga dan baik untuk kesehatanmu. Bisa mengatasi rasa depresi juga…" jelas pemilik surai merah gelap itu dengan wajah berseri.
Benar-benar keputusan salah untuk membiarkan orang lain memasuki kawasan pribadinya. Seharusnya Kai menolak dengan tegas saja saat itu—saat di mana seorang Minami Yuuya bersikeras untuk membawakannya bekal setiap hari agar bisa berbincang-bincang dengannya saat jam makan siang. Lagipula memangnya dia sedang terlihat depresi?
"Begini, pertama; aku sudah sarapan. Kedua; aku bisa makan sendiri."
Kai membuang muka untuk mengunyah sisa terakhir roti coklatnya sebelum menghancurkan bungkusnya dan menyelipkan di saku celana. Walau tidak cocok dengan kelihatannya, pemilik marga Hiwatari itu paling anti membuang sampah sembarangan.
"Atau kau ingin mencoba onigiri telur ikan ini? Rasanya dijamin enak!" Yuuya bersikeras memaksakan suapan lain pada mulut Kai, membuat yang menjadi sasaran menjadi jengah.
"BISA KAU BERHENTI?!"
"…m-maaf,"
Kai tidak merasa bersalah karena sudah bersikap ketus. Lagipula sejak awal bukan dia yang berinisiatif berteman, niatnya hanya memainkan peran dengan baik karena tidak mau menimbulkan masalah.
Sudah beberapa hari ini jam istirahat siangnya selalu dihiasi makhluk bernama Yuuya yang gencar mencekokinya bermacam-macam makanan. Bukan karena rasanya tidak enak, tapi Kai lebih memilih bertahan dengan sebuah roti saja daripada dunianya yang selama ini damai harus terusik. Sungguh, tidak pernah terbayang kalau tempat istirahat favorit pangeran Rusia itu berubah drastis menjadi area kemping.
Kalau terus berlanjut, mungkin Kai akan menjadi satu-satunya murid di sekolahnya yang berharap jam istirahat ditiadakan saja.
"Setidaknya kalau hanya minum teh, kau mau kan?"
Apa boleh buat, lagipula dia memang belum minum setelah mengunyah makanan manis berserat halus tadi, "Cinnamon…" ucap Kai pelan pada dirinya saat menerima segelas likuid beraroma kayu manis.
"Kau masih ingat? Senangnya!"
Kai terheran-heran melihat air muka Yuuya yang tadinya murung mendadak cerah hanya karena dia menyebut nama teh yang tepat.
"Tentu saja ingat, memangnya kamu pernah memberiku jenis yang lain?"
"Berarti kita sama-sama gagal move on, ya. Kau dengan roti coklatmu, aku dengan teh Cinnamon-ku."
Tidak peduli dengan makna move on yang dimaksud, Kai menyeruput teh bagiannya dengan cuek. Lama-lama lidahnya mulai terbiasa dengan kecap asing yang menggelitik rongga mulutnya. Wanginya juga agak terlalu menyengat, tapi tidak dipungkiri kalau minuman itu membuatnya sedikit lebih segar.
"Hei, Kai..." rupanya Yuuya masih belum menyerah untuk mengajak bicara, "Kenapa sih bekalmu selalu roti coklat, memangnya tidak ada pilihan lain?"
"Bukan urusanmu."
"Kalau kau begitu suka roti, aku tahu kafe yang bagus. Di sana juga menyediakan beragam teh yang enak, kau mau?"
"Tidak tertarik."
"Padahal kalau kau bilang mau, aku akan memperlihatkan Beybladeku."
Menyebut kata Beyblade di depan Kai sama seperti melempar api ke dalam minyak, reaksinya sangat terduga, "Tunggu, kenapa kau bisa membawa Beyblade?"
"Ra-ha-si-a," sambil berkata begitu, tangan Yuuya kembali gencar melancarkan aksinya, berharap cabikan makanan di ujung sumpitnya sekarang benar-benar dilahap oleh orang yang dituju, "Bagaimana kalau satu suap salmon dulu?"
Cih!
"Kubilang aku bisa makan sendiri!" Kai merebut cekatan sumpit yang dipegang Yuuya kemudian memakan salmon-apalah tadi supaya tidak terus terganggu. Lagipula dia membutuhkan jawaban atas segala pertanyaannya, Kai paling benci terbelenggu dalam rasa ingin tahu.
"—Jadi? Bagaimana kau bisa membawa Beyblade ke kelas? Kau tahu kan isi tas kita diperiksa setiap masuk dan pulang sekolah?" Kai yang masih penasaran membuat Yuuya lebih bersemangat, terutama karena idolanya jarang menyambutnya dengan kalimat sepanjang tadi.
"Aku jawab, asal kau mau pergi denganku akhir minggu ini."
Mendengar bocah sial di depannya semakin melunjak, Kai mulai habis kesabaran, "Kau menipuku!"
"Oh, ayolah Kai! Kita kan tidak pernah bertemu selain di sekolah."
"Tidak peduli."
"Aku peduli," desaknya, "Karena aku suka padamu!"
Jujur saja, Kai tidak ingin menanggapi sama sekali. SAMA SEKALI. Tapi bukan salahnya kalau dia refleks memasang wajah muak. Kalau tidak melanggar HAM, pemuda dingin itu ingin sekali melempar Yuuya dari atap sekolah.
"Hentikan omong kosong ini, kau mau memberitahuku atau tidak?"
Walau Yuuya memasang tampang tidak puas, Kai tetap bergeming. Mereka berdua bahkan menghabiskan beberapa puluh detik untuk melakukan acara tatap-tatapan dalam hening. Walau hanya pertandingan sepele, Kai memang bukan orang yang mau mengalah. Dia akan mendapatkan apapun yang dia mau, dan dia akan mendapatkan semua jawaban sekarang.
Ada seringai muncul saat Yuuya akhir mengalah dan mengangguk.
"Baiklah. Begini, aku memecah semua onderdilnya kecil-kecil lalu kuselip di buku tulis. Kalau beruntung aku bisa membawa lebih dari satu atau dua spare part, tapi biasanya setiap hari aku hanya membawa satu." Yuuya mengeluarkan Beyblade sempurna miliknya yang berwarna hijau cerah dari balik saku dan menyerahkannya pada Kai.
Kemarahan Kai sedikit banyak mereda saat menyentuh benda tersebut, memperhatikannya seksama, "Bey ini belum punya part logo di tengahnya."
"Karena itulah aku ingin mengajakmu, Kai. Kau tahu banyak sekali soal Beyblade, jadi… kuharap kau bisa membantuku." nada itu manja, "Makanya aku bersikeras supaya kau bisa pergi denganku akhir pekan nanti…"
Sang penguasa Dranzer meneliti lekat benda berporos tunggal di tangannya yang menjadi minat utama selama ini—tersenyum tanpa sadar.
"Baiklah, aku akan menemanimu." ucapnya sambil menyesap teh yang tersisa.
"Terima kasih! Berarti sudah diputuskan, sabtu minggu ini kita kencan!"
Tersedak, Kai spontan menyemburkan isi mulutnya.
To be continued...
.
.
.
A/N:
Ya ampun ngga kerasa lupa apdet setahun (kalo ngga diingetin HAHAHA) #authordipancung
Sebetulnya ini bakal jadi fic yang sedikit panjang, (eh, 5-6 chapter itu panjang nggak sih?) soalnya tiap chapternya bakal di break maksimal 1000an words aja, ganti-gantian nyorot Kai bareng Yuuya atau Kai bareng Rei. Jadi yah, maaf kalo isinya dirasa kependekan… niat awalnya emang cuma drama roman slice of life picisan.
R&R maybe? C:
