Beyblade (c) Takao Aoki

Warning: Keju banget. Shitnetron yang sepertinya punya ujung sangat lengket (?). Rencananya sih chapter 5 or 6 beres, tapi kayaknya mustahil heuheuheu…


аромат

.
by Ratu Obeng (id: 1658345)

04.


Hiwatari Kai sudah tidak mempermasalahkan bunyi bel pintu yang mengganggu kedamaiannya di sabtu pagi cerah, tertanda hari ini—tatkala sosok Yuuya hadir di depan gerbang rumahnya dengan seringai bahagia.

Juga tidak mungkin menggerutu ketika diajak ke surga dan harus berdiri selama beberapa jam untuk memilih onderdil Beyblade di play store berbeda. Dengan ini, sepertinya Kai mulai paham perasaan fangirl yang kapalnya diminati banyak massa karena dia baru saja merasakan hal sama.

Pewaris tunggal keluarga Hiwatari itu hanya tidak menyangka kalau kafe yang sekarang dia sambangi merupakan lokasi tempat Rei bekerja.

Dia ingat kalau Rei memang bekerja di toko roti, tapi sama sekali tidak menduga kalau rekannya ikut merangkap sebagai butler yang melayani para pelanggan.

Bukan masalah besar, sebetulnya. Sang helai perak hanya merasa tidak nyaman bertemu kenalan di luar jam normal. Rasanya paham santainya bisa pindah konsep dalam waktu sekejap. Kagok.

"Hei, Kai… kenapa pelayan itu melihat kemari terus? Aneh…"

—terutama karena Kai malas berurusan dengan banyak pertanyaan.

Namun karena sudah terlanjur datang, yang berdarah Rusia tetap memaksa menjalani kegiatannya di kafe tersebut hingga selesai. Sekedar memesan snack yang dibutuhkan untuk mengisi perutnya, juga minuman yang sesuai.

"Hanya perasaanmu saja…" nada cukup tenang ternyata belum bisa meredam rasa penasaran Yuuya.

Dia tidak menyalahkan pemilik Bey Driger yang mungkin sedang sibuk mengamatinya sembunyi-sembunyi karena berhasil menciduk kejadian langka. Belum pernah sama sekali Kai membiarkan dirinya melanglangbuana tanpa tujuan dengan ditemani seseorang bergelar 'teman' apalagi ke tempat-tempat umum.

Mungkin Takao pernah sekali memaksanya bergabung dalam piknik grup dan pergi ke taman hiburan, tapi Kai sendiri tetap sibuk menyendiri dan ujung-ujungnya malah bertanding Beyblade dengan pengunjung yang ada.

"Ngomong-ngomong, setelah ini bagaimana kalau kita ke toko buku?"

"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, aku sudah tidak ada kewajiban menemanimu."

"Tapi ini belum sore, kita masih punya banyak waktu."

"Aku tidak punya waktu."

"Yang benar saja Kai, padahal seharusnya kita bisa menikmati hari ini lebih lama. Kau lupa, ini kan kencan!?"

Rasa jengkel Kai mulai terbit, "Pergi saja sendiri!" ketusnya. Membiarkan makhluk di depannya meloloskan protes kecil sampai dia puas. Kai akan pura-pura tuli sejenak.

Pandangannya dialihkan ke luar jendela, menikmati sesuatu yang hijau dan jauh.

Selepas kegiatan sehari yang sekiranya padat, Kai berusaha melemaskan bahunya. Mencoba meregenerasi kembali ingatannya sejak diculik paksa dari kediamannya. Sepertinya setelah urusan berakhir, Kai berpikir untuk bertamu ke tempat Max dan berlatih Beyblade di sana. Terlebih karena dia baru saja mendapatkan spare part incaran yang belum lama diidam-idamkan. Profesor Mizuhara—ibu Max, pasti akan dengan senang hati membantunya mengembangkan kemampuan Dranzer ke level maksimal.

Itulah Kai, kapanpun di manapun hanya Beyblade yang ada dalam pikirannya. Dia bahkan tidak sadar ada suara yang sedari tadi terus menerus berusaha memanggil namanya.

"Kai! Hei, Kai!"

Dua Iris delima mengerjap tatkala kembali dari lamunan, "Apa?"

"Ini. Kau mau mencoba minum teh punyaku? Rasanya enak sekali!" Yuuya menawarkan isi gelasnya yang ditolak Kai dalam sepersekian detik.

"Aku punya minuman sendiri." dia merasa sangat rugi menghentikan lamunannya untuk menyambut hal tidak penting. Sementara di sisi seberang, Yuuya masih berharap Kai mau berbagi sedotan dengannya.

"Hanya mencoba saja tidak akan rugi."

Tak Acuh. Kai menyesap kembali limun dingin bagiannya. Berharap level likuidnya segera tereduksi bahkan habis, supaya bebannya lenyap dan dia bisa pergi secepat mungkin.

Namun sepertinya mustahil karena baru saja Yuuya meraih buku menu lalu memesan lagi, kali ini parfait dan potongan Black Forest. Kai bahkan terintimidasi penuh ketika yang datang melayani adalah Rei sendiri.

"Silakan, pesanannya…"

Sekarang meja mereka kembali terisi dengan warna-warni dan aroma mencolok. Dalam salah satu piring yang tersedia, hadir sebuah hidangan yang sangat Kai kenal, membuat Yuuya segera menginterupsi.

"Kami tidak memesan roti coklat,"

"Namanya Moon Cake." Rei buru-buru mengoreksi, "Dalam tradisi etnis Tionghoa, bahkan rakyat Cina sendiri, kue ini sangat istimewa untuk menyambut musim gugur."

"—juga sebagai bentuk cinta," imbuh sang butler lagi dengan penekanan di penghujung frasanya.

"Aku belum pernah dengar kue bulan diisi coklat. Kukira semua penganut klan menjunjung paham konservatif." Yuuya menyanggah dengan nada remeh.

Mungkin hanya perasaan Kai saja kalau sekarang dia melihat percikan api imajiner di antara yang sedang bercengkerama.

"Masalahnya, tamu saya di sini kurang menyukai kacang merah dan biji-bijian. Mungkin ada masalah dengan lidahnya." ditambah kedipan nakal, Rei menyeringai puas ke arah Kai yang di pelipisnya sudah bersarang segitiga siku-siku. Sebuah perintah tak kasat mata agar rekan satu tim-nya lekas pergi.

"Terima kasih. Tapi aku tidak memesannya, kau bisa membawanya lagi…" sementara Kai berusaha bersikap sewajarnya. Dia sudah cukup lelah batin hari ini dan tidak mau terlibat dalam pertikaian yang tidak perlu.

Sekilas matanya seperti menangkap sirat kecewa di wajah yang berambut panjang. Mungkin dia akan bertanya atau meminta maaf pada Rei nanti.

"Anggap ini servis tambahan…" selarik kalimat sebelum sang butter memutuskan berlalu. Menghilang ke dalam bilik karyawan yang aksesnya terbatas bagi setiap pengunjung.

"Hei, aku tidak suka padanya!" Yuuya terlihat cemberut, "Kenalanmu?"

Kai ingin mengucapkan kalimat negatif serupa pada sosok di hadapannya, sayangnya pemuda itu tidak ingin cari ribut sehingga segera mengisi mulutnya dengan pangan manis yang baru saja diterimanya. Mengunyahnya sampai penampang piring tidak lagi memiliki sisa.

"Atau jangan-jangan kau sering membeli kue coklat itu di sini, ya? Dia yang membuatnya untukmu?"

Lagi-lagi pertanyaan yang diabaikan Kai.

"—hei, jawab aku Kaiii~" si rambut merah bersikeras supaya diberi timbal balik konversasi.

"Bukan urusanmu. Cepat habiskan semuanya lalu kita pulang."

Sementara, Kai tidak mengerti kenapa ada bagian dadanya yang terasa sakit.


To be continued...

.

.

.

A/N:
Halo! Setelah setengah tahun berlalu masihkah ada yang baca ini? ;;w;; #mungutkacang

Berhubung lagi kebentur banyak hutang OS di fandom lain, akhirnya update fic2 MC jadi terbengkalai.
Tapi tenang aja, fic ini ngga bakal kena diskon kok, аромат akan berjalan terus hingga tamat #KAPAN

R&R maybe? C: