Beyblade (c) Takao Aoki

Warning: Canon Diverge. Hambar. Picis. Keju. Author masih ingin Kai jadi pria galau di antara kiri dan kanan #apaan


аромат

.
by Ratu Obeng (id: 1658345)

05.


"Jadi siapa pelayan di kafe minggu lalu? Serius hanya kenalan? Sepertinya walau seumuran dia bukan murid sekolah kita, ya? Aku juga tidak pernah melihatnya di sekitar sini... terlebih sepertinya dia juga bukan orang Jepang一"

Mengabaikan sesi penyelidikan membosankan yang berulang, yang berhelai perak memilih menjejal mulutnya dengan dua lapis sandwich telur yang sedari tadi mengotori tangan. Tidak lupa memanjakan lidah dengan pangan manis biasanya sebagai hidangan penutup. Bukan perpaduan yang mengesankan, tapi makanan adalah makanan. Lagipula semua itu juga akan bercampur seenaknya di dalam perut.

Di atas atap sekolah pada jam makan siang yang biasanya, Hiwatari Kai harus pasrah terbiasa dengan keegoisan Minami Yuuya, juga permainan detektif-nya—yang sejak bel istirahat dibunyikan—terus mengganggunya. Remaja stoic itu bersumpah dalam hati untuk belajar lebih giat dan mengambil akselerasi tahun depan supaya secepatnya terbebas dari siksaan dunia.

"—Kai,"

"Berisik!"

Tapi seakan tidak didengar, suara yang masih sama terus mengoceh, "Dan kau tetap bersikeras memakan roti coklat membosankan itu... dia yang membuatnya, iya kan? Berarti kalian bertemu setiap hari?"

Gendang telinga yang berekspresi minim hampir korslet mendengar pertanyaan itu-itu saja. Lagipula tidak ada untungnya juga dia menjelaskan perihal Kon Rei pada yang bersangkutan kecuali ada sangkut pautnya dengan Beyblade.

Ah, ya. Tentu saja.

Beyblade.

"Kalau kau begitu tertarik padanya, ikuti saja kompetisi Beyblade yang akan diadakan bulan depan." sekali lempar batu kena dua burung. Kai sepertinya berhasil membungkam makhluk cerewet yang hampir menghanyutkan kewarasannya dan bisa menambah kuota peserta sekaligus karena Yuuya mendadak berteriak dua kalimat.

"DIA PEMAIN BEYBLADE?"

Dijawab dengan surai perak yang bergerak turun, mengangguk.

"BAIKLAH AKU AKAN IKUT DAN MENGALAHKANNYA!"

Seringai puas, "Sebelum bertemu dengan Rei kau pasti sudah kalah olehku duluan di babak penyisihan." Kai menjilat beberapa jari seperti kebiasaannya jika makanan di tangannya baru saja habis. Mungkin dia juga tidak sadar kalau alat makan yang dipakainya acapkali menjadi korban perilaku sama.

"Jadi namanya Rei?" burgundy itu memulai lagi omelannya, "Sudah berapa lama kalian kenal?"

CTAK.

Urat kesabaran Kai terlanjur putus. Dikatupnya tangan cepat untuk berterima kasih sekilas sebelum kemudian meregangkan kaki, sedikit lebih dekt pada langit. Merasakan derak susunan tulangnya efek perubahan posisi sekejap, duduk menjadi berdiri.

Mereka ulang hal-hal yang berhubungan dengan pertandingan gasing tempur kesayangannya dalam ingatan, semangat belajar Kai mendadak luntur. Mungkin setelah ini dia akan pulang lebih cepat dengan alasan paling tidak masuk akal.

"Sudah, aku mau kembali ke kelas."

"Loh, tapi istirahat siang belum selesai! Makananmu juga belum habis—"

"Apa maumu?!" Kai memotong kalimat Yuuya dengan intonasi tajam. Iris delimanya memandang jauh ke bawah pada lawan bicaranya yang masih membeku dalam posisi duduk.

Rasanya sudah cukup pewaris tunggal Hiwatari itu mengalah akhir-akhir ini. Dia sendiri tidak paham kenapa sikapnya bisa berubah cukup drastis hanya karena kehadiran sebaya lain yang dulunya tidak pernah diambil pusing. Selama ini dia terbiasa sendiri dan akan selalu begitu, setidaknya keteguhan hatinya berbisik demikian.

"Mauku? A-apa maksudmu?" yang ditanya berkedip tidak paham.

"Apa niatmu mendekatiku? Uang? Ketenaran? Atau kau senang membuang waktumu hanya untuk membuat orang lain jengkel? Apapun alasanmu, aku tidak sudi terlibat!" hawa yang menerpa, sekilas menusuk, "Jangan ganggu aku lagi!"

Keheningan setelahnya menjadi sahabat sementara.

Dan pada akhirnya Kai tetap berbalik, menuju pintu keluar. Di tengah semua itu otaknya masih terus mencerna, karena sejujurnya dirinya mulai nyaman dengan apa yang akhir-akhir ini diterima. Hanya saja kekerasan hatinya yang terpoles hitungan tahun menolak semua itu, entah karena gengsi atau memang karena dia belum sanggup keluar dari zona aman.

Sementara dari belakang terdengar hirup napas dalam, seluruhnya melalui mulut, lalu kalimat berkumandang menembus jarak pendengaran.

"Hei, Kai! Aku menyukaimu!" jujur Yuuya tanpa sembunyi, tersampaikan lewat perantara udara, "Bukan sebagai partner Beyblade atau teman sekelas. Aku menyukaimu sebagai Hiwatari Kai!"

"Perbaiki sekrup di otakmu, baru kita bicara lagi..." dingin, Kai terus melangkah—memilih tetap berlalu sebelum isi percakapan semakin tidak masuk akal.

"Kau takut, Kai?"

Kaki itu berhenti, berbalik cepat, "Apa katamu?"

"Kau takut seseorang berhasil menyusup ke dalam kehidupanmu, kan? Kau lebih merasa aman menyembunyikan kelemahanmu sendirian persis pengecut."

Kalimat itu cukup membuat setengah porsi emosi Kai bergejolak. Ditandai dengan kedua tangannya mengepal kencang, "Kamu tahu apa tentangku?"

"Aku tidak tahu apa-apa!" sanggahan terburu-buru bersama gelengan kepala, "Karena tidak tahu apapun makanya aku ingin tahu lebih banyak lagi tentangmu!"

"Lalu kau berharap aku menerima perasaanmu begitu saja, begitu?"

"Tentu saja! Perasaanku ini serius. Aku bisa mengajarimu perlahan supaya memiliki hal yang sama! Karena itu—"

Terlalu sombong. Bahkan keluarganya saja tidak berhasil mengisi penuh cinta dalam hatinya. Apalagi hanya figur asing yang sama sekali tidak ada hubungan khusus apa-apa, si rambut perak tidak paham dari mana rasa percaya diri Yuuya berasal.

"—jadilah pacarku!"

Kai yakin sudah menenggak habis tetes pekat aromaterapi bagiannya hari ini. Tapi kenapa angin termal tetap melantunkan wangi senada yang tidak henti membungkus indera penciumannya?

Aroma Cinnamon.


To be continued...

.

.

.

A/N:
Akhirnya bisa apdet lagi meskipun length chapter kali ini tergolong pendek.
Tengkyu berat beng-beng untuk reader yang masih setia mendukung #bow

R&R maybe? C: