Beyblade (c) Takao Aoki
Warning: Canon Diverge. keju. Picis. Ngga sampe menyebabkan kangker atau gangguan kehamilan sih... paling gatel2 aja #YHA
аромат
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
07.
Jika bisa mengendalikan cuaca, Kai berharap langit menangis hari ini. Menurunkan hujan lebat dan petir menyambar sebagai pelengkap orkestra alami. Dengan begitu, dia punya alasan untuk diam di kelas meski harus menyumbat kupingnya dari nada over sopran para remaja putri yang sibuk membahas fashion atau aktor kekinian.
"Kau serius, Kai...?"
Karena derasnya titik-titik air akan menyingkirkan dirinya yang (lagi-lagi) terjebak di atap sekolah bersama Yuuya pada jam makan siang. Menyerah, akhirnya Kai menyibukkan diri dengan mengunyah roti coklatnya seperti biasa sambil mengutuk harapannya yang tidak pernah terjadi.
"...kau serius?" pertanyaan sama dari orang sama dengan nada satu level lebih menuntut.
Sudah tidak mungkin diralat lagi. Kalimat pendek sarat makna sudah terlanjur berkumandang. Ya, aku mau mencobanya denganmu, pada menit ketigabelas tepat setelah jam istirahat dibunyikan bukannya diucap tanpa pikir panjang. Tarik-hembus napas pendek bertubi-tubi kala helaian burgundy sudah hadir di hadapannya seperti hari-hari biasa, tersenyum lebar seraya menyorong isi bekal yang tak terkira jumlahnya.
"Kalau menurutmu aku punya bakat melawak, sebaiknya kau tertawa."
Sebut caranya kurang ajar. Tidak romantis. Jahanam. Potongan abjad yang terangkai dalam sebuah makian tidak akan mengubah keputusan seorang Hiwatari Kai dalam kasusnya kali ini, termasuk mimik yang diperjuangkannya supaya tetap datar karena penyesalan bisa diurus belakangan.
"Ja-jadi artinya kita sudah jadian?"
Euh. Sorot mata berbinar Yuuya membuat Kai kian frustasi. Dia bahkan harus membentak berkali-kali agar terlepas dari pelukan yang menempel padanya beberapa saat.
"Hentikan. Penyataan itu membuatku muak."
"Kalau begitu minggu ini bisa jadi kencan official perdana kita!?"
Sepertinya perubahan gelar pada status mereka cukup memperburuk keadaan—setidaknya untuk sang putra tunggal klan Hiwatari yang mendadak tersedak air liurnya sendiri. Mungkin maksud Yuuya, jalan-jalan mereka versi sebelumnya hanya dianggap tes drive.
"Aku tidak punya waktu. Pertandingan Beyblade hanya tinggal belasan hari,"
"KENCAN DI TAMAN JUGA TIDAK MASALAH!"
"Kupingmu masih berfungsi atau tidak?" siku-siku segitiga mulai mampir di pelipis Kai, "Dan ganti kalimatmu menjadi 'latihan bersama', baru aku setuju."
"Bagaimana kalau kita latihan di rumahmu? Sekalian aku mampir untuk menyapa calon mertua."
Kai tersedak ulang. Kali ini beberapa tetes teh Cinnamon yang tengah diteguknya sampai berceceran di atas fabrik celana.
"Percuma. Keluargaku akan menentang apapun yang kulakukan selain belajar dan berurusan dengan kegiatan perusahaan keluarga. Aku bahkan sedang berjuang mendaftar pertandingan secara diam-diam."
Menjadi sebuah kemajuan besar karena Kai mau sedikit membicarakan keluarganya yang selama ini dia pendam sendiri. Bahkan Takao sebagai sahabat terdekatnya sama sekali tidak tahu menahu perihal ini. Di tengah-tengah pemikirannya, sebuah gigitan dilakukan dan rasa manis berhasil mengerubungi papila. Helai abu dengan gradasi gelapnya tersapu angin, mereduksi kadar konsetrasinya hingga pelupuknya hampir terpejam. Kicau dari lawan bicaranya yang boros kata, cicit dari kumpulan burung gereja, dua-duanya seakan punya fungsi nan sama.
"Hmm... seingatku kita boleh memakai nama panggung saat mendaftar."
"Benarkah?" informasi baru yang membuat mata ngantuk Kai kembali bersinar.
Mahkota kemerahan mengangguk, "Karena aku berencana untuk memakai nama 'Cinnamon' di pertandingan nanti."
Wajah tampang yang seharusnya berhias corak sirip hiu di luar jam sekolah itu mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Setidaknya ujung-ujung bibirnya yang datar kini perlahan terangkat. Potongan terakhir pangan manis di tangannya dihentikan sebentar di ujung kuluman sebelum ditelan, sempat berpikir bahwa nama makanan di mulutnya mungkin cocok sebagai komponen identitas penyamarannya.
Choco Moon Cake.
Tidak. Tidak. Terlalu aneh dan terlalu kewanitaan, pikirnya. Blader sangar mana yang memilih nama menggelikan dalam sebuah pertandingan jantan, keputusannya pasti hanya akan menjadi bahan tertawaan. Dan apa Kai baru saja menyebut dirinya sendiri sangar?
"Nama alias, ya..." Kai bergumam tipis.
"Jangan berpikir untuk memakai nama Choco Mun—ah, apapun itu sebutannya! Dan berhenti memakannya, kau belum menyentuh isi bekalku sama sekali." Yuuya segera mengganti roti setengah makan di tangan Kai dengan setumpuk sushi gulung beraneka rasa. Kalau tidak ingat bahwa makanan dilarang berakhir sia-sia, semua beban itu pasti sudah dilepas searah gravitasi.
"Aku tidak lapar."
"Aku tidak percaya."
Kai malas berdebat, jadi dia segera menggigit potongan-potongan yang diberikan padanya. Aroma legit yang masih tertinggal di jalur saliva mendadak bercampur glukosa, membuat indra pengecapnya sedikit janggal.
Sementara gelagat teman sekelasnya—ralat, pacar baru jadi dua puluh menit lalunya mulai terlihat gelisah. Pandangannya terus menerus tunduk dengan ujung mulut yang membuka tutup seakan ingin menyampaikan sesuatu—yang baru terucap ketika seluruh makanan kandas ke perut Kai. Pemuda stoic itu sesungguhnya memang lapar.
Keduanya kembali berkutat dalam sepi. Kai sendiri tidak punya bahan pembicaraan lagi dan memang tidak tertarik untuk memulai pembicaraan. Otaknya masih berjuang aktif mencari nama samaran yang tepat untuk mendaftar, spare part apa yang sebaiknya dipakai, lalu memikirkan bagaimana caranya agar pelajaran tidak mengganggu jadwal latihannya bersama Dranzer tercinta. Hiwatari Kai memang seorang vvibu Beyblade, orangnya sendiri tidak menampik.
"Ngg... Kai." masih pancingan dari Yuuya.
Sementara delik tajam sudah menjadi reaksi cukup jelas sebagai jawaban.
"Ngomong-ngomong... apa kau pernah... berciuman...?"
"Aku mau kembali ke kelas. Terima kasih makanannya." yang ditanya bangkit berdiri mendadak, segera berbalik punggung untuk menyembunyikan geram dan calon rona di pipinya. Tidak lupa tangannya ikut mengepal karena kesal.
"T-TUNGGU! AKU KAN HANYA BERTANYA! KAI! JANGAN PERGI DULUUU!" tarikan manja Yuuya di ujung celana menghambat gerakan si helai kelabu.
"Tidak usah dilanjutkan lagi. Ini mulai menyebalkan." dan tidak ada hubungan dengan Beyblade, tambah Kai dalam hati.
"Tapi aku penasaraaan!"
"Penasaranmu menggangguku!"
Acara tarik-tarikan berlangsung epik. Untunglah regulasi sekolah mengharuskan murid-muridnya menggunakan ikat pinggang, setidaknya Kai terbebas dari rasa malu yang lebih besar. Kai berusaha mengibas-ngibaskan salah satu kaki yang terbelenggu walau kenyataannya dia lebih ingin membuat bekas tapak sepatu di muka Yuuya tanpa belas kasihan.
"Ya ampun, aku serius cuma mau bertanya..." tarikan itu semakin menjadi-jadi, "Kalau belum pernah ciuman ya suda—"
Membungkam kekasih yang cerewet menjadi sebuah tantangan baru bagi Kai. Hanya cukup menarik paksa kerah kemeja Yuuya lalu membungkuk sedikit. Menumbuk bibir tanpa rem itu dengan miliknya. Sapuannya berlangsung beberapa detik sebelum melepas tangannya kasar hingga pantat lawannya membentur lantai terlebih dulu.
"Sekarang sudah pernah. Puas!?"
Kai benar-benar pergi sementara Yuuya masih mematung hingga bel masuk kelas berbunyi.
To be continued...
.
.
.
A/N:
Minggu lalu rekan author dari sesama fandom Beyblade baru aja ada yang berulang tahun.
Maaf atas ucapan yang telat ini... tapi buat FEITA, sukses selalu yaaa ┏━o(=´∇`=)o━┓
R&R maybe? C:
