Beyblade (c) Takao Aoki
Warning: Canon Diverge. Sinetron. Kai dianiaya hanya demi headcanon dan menuh2in arsip fandom yang terlalu kering #curcol
аромат
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
08.
Hal yang patut dibanggakan dari seorang Hiwatari Kai adalah hati yang keras dan jiwa profesionalisme tinggi. Mutlak.
Menurutnya, sangat tidak relevan mencampuradukkan urusan pribadi dengan tanggung jawab apalagi urusan perasaan dengan komunikasi. Kakeknya, terutama, telah sukses menanamkan didikan berharga ini sedari kecil sehingga dia tumbuh menjadi pribadi yang keras.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah,"
Kai juga bukan tipe yang mentolerir argumen irasional.
"Berhenti dengan omong kosong itu, Rei. Aku tahu akhir-akhir ini kau menghindariku karena sebuah alasan."
Berjarak tidak jauh, suara yang sama masih menyambut. Nadanya tidak suka, "Kalau kau tahu, kenapa masih mendesakku!?"
Rahang Kai mengeras. Tentu saja dia memilih bergeming karena partnernya bukan pribadi tolol yang jarang memakai otaknya. Sejujurnya dia hanya malas berdebat, itu saja. Apalagi latih tanding hari ini lagi-lagi berjalan kurang lancar, dan malahan terpaksa berhenti karena Takao harus berlatih Kendo dengan kakeknya sehingga kegiatan mereka harus mentah lagi一setidaknya untuk anak tunggal klan Hiwatari yang jarang merasa puas.
Kini dua helai kontras tengah bersandar beralaskan papan kayu di area belakang rumah Takao. Menyibukkan mata dengan memandang kolam ikan asimetris ala tradisional Jepang di kejauhan. Sebelumnya Max ikut bergabung bersama sampai panggilan dari ibunya melalui ponsel membuatnya pamit terlebih dahulu.
Sebenarnya Kai bisa saja ikut pamit dengan alasan paling logis; malas membuang-buang waktu. Bagaimanapun dia masih berstatus pelajar yang masih mengemban pekerjaan rumah dan evaluasi mata pelajaran demi keesokan hari tanpa terprediksi. Sementara tidak enak menginterupsi latihan Kendo sang tuan rumah, jadi sambil mencari waktu yang tepat untuk undur diri, terpaksa waktunya dipakai untuk menyelesaikan problematika konyol yang (menurutnya) seharusnya tidak perlu ada.
"Akui saja kau marah. Jadi kita bisa berhenti dengan semua ini." termasuk harga diri untuk mengucap maaf apabila perlu, terlepas dari siapapun yang salah. Kai mulai muak terus-terusan terjebak dalam atmosfer tidak nyaman yang membuat isi otaknya pegal-pegal.
"Semua selalu mudah bagimu sama seperti mengeluarkan kartu kredit ya, Kai..."
Emosinya tidak terpancing, "Kau marah karena aku bilang tidak bisa menerima Moon Cake buatanmu lagi."
"Iya, ya. Bahan untuk bikin kue kan mulai mahal."
Alasan relevan disambut hembus napas lebih panjang dari sebelumnya. Kai bahkan baru tahu kalau anak laki-laki normal bisa merajuk seperti gadis-gadis sekolah menengah.
"Cukup, Rei! Aku bertahan di sini bersama itikad baik untuk berdiskusi dan kuharap kau tidak selamanya bersikap seperti anak kecil. Kupikir kau yang paling mampu mengendalikan emosi di antara kita berempat."
Jeda mereka hanya sesaat sebelum hentakan.
"Kupikir kau tidak akan menerima dia," dua alis di balik poni salju yang biasa menekuk kebawah mendadak terangkat, "Untuk apa kau bertanya padaku tempo hari kalau hasilnya sama saja?! Untuk memuaskan egomu?"
"Kau marah karena aku jadian dengan Yuuya?" pertanyaan Kai iseng-iseng namun berhadiah.
"Oh. Namanya Yuuya dan kalian sudah ja-di-an. OH. Baiklah."
Kai mengingat dialog yang baru didengarnya lebih seperti drama-drama murahan yang tayang saat jam kerja karena memiliki rating rendah. Tidak ada penjelasan logis kenapa dan kapan dia bisa terjebak di tengah naskah picisan yang membuat perutnya mendadak mual, dan tidak ada yang lebih buruk dari terpaksa mengikuti alur permainan supaya semua kesalahpahaman berakhir lebih cepat karena dia sudah muak.
"Sekarang aku paham, menjadi keputusan bagus untuk tidak memilihmu kalau ternyata kau seperti ini." Kai ingin memotong lidahnya nanti.
Sementara si pemuda Cina terkejut. Menggeret ujung sepatunya gelisah pada tanah, meninggalkan jejak garuk yang kentara.
"...Maaf. Aku hanya merasa tidak adil," Kai memerhatikan Rei yang sedari tadi menengadah, mencari sosok sisa matahari yang hampir terbenam, "Kupikir selama ini aku berhasil menginvestasi perasaanku, tapi ternyata pemikiranku terlalu naif karena berpikir tidak punya saingan."
Ketika seseorang berkata masa sekolah menengah merupakan pengalaman paling indah, sepertinya tidak berlaku untuk mantan ketua Blade Sharks. Kai mengurut keningnya yang tidak pegal, "Aku mulai merasa tidak waras."
"Lalu? Kalian sudah sampai... mana?" masih memaksakan bertanya walau jawabannya pasti melukai. Entah karena kehabisan bahan pembicaraan atau rasa frustasi yang bernama penasaran merasa harus dipuaskan.
"Aku tidak sudi melakukan perbuatan hina. Apa-apaan pertanyaanmu itu?!"
"Hanya sekedar ingin tahu... boleh aku dengar?" Rei rupanya seorang masokis, "K-kalau bisa... boleh aku merasakannya juga? A-aku janji setelah ini tidak akan mengganggumu lagi... aku janji..."
Suara sang putra tirai bambu tenggelam bersama sang surya di ufuk barat, menghanguskan bayangan alami di bawah jejak kaki. Lampu-lampu taman baru saja dinyalakan serentak, tidak heran jika kumpulan serangga segera terpikat pada cahayanya untuk berkerumun.
Desah tadi berubah menjadi geram, "Kau aneh. Yuuya aneh. Kalian berdua aneh. Aku serius."
"Kau yang membuatnya menjadi aneh... Hiwatari Kai."
Persetan dengan pamit. Kai akan melakukannya nanti lewat pesan singkat untuk Takao atau besok dia akan kembali sekedar memberi oleh-oleh dengan alih-alih rasa terima kasih karena meminjamkan sarana latihan selama beberapa minggu terakhir. Tali tas-nya sudah bersandar nyaman, melintang dari bahu dan pantatnya sudah tidak menindih bangku. Si rambut perak tahu dia tidak bisa menghindar selamanya ketika menyadari cubitan kecil pada ujung siku seragamnya. Masih ada yang harus dia lakukan.
"Hati-hati di jalan, Kai."
Sentuhan itu lembut, hangat, dan membuat air mata Rei luntur dalam sekejap. Tidak ada rona panas dalam pipi yang berhelai gelap, hanya rasa terguncang ketika kedamaian sesaat itu menyentuh area dahi. Kai baru saja menyingkap ikat kepala merah Rei untuk bisa memberikan kecupan dalam, mengabaikan uar wewangian Camomile menggiurkan yang tercium kentara dari seputaran bibir lawan.
"Sampai jumpa di arena pertandingan."
Kai melangkahkan kaki dengan berat ke luar pagar. Berbohong memang tidak mudah.
To be continued...
.
.
.
A/N:
Setelah nyoba break chapter, аромат diputusin tamat di chapter 11~ #akhirnya
Meskipun chapter selanjutnya bakal slow apdet, mohon terus dukungannya yaa!
R&R maybe? C:
