Beyblade (c) Takao Aoki
Warning: Canon Diverge. Keju. Drama Korea wanna be. Sesungguhnya author mungkin kurang piknik sampai lupa karakterisasi asli Kai.
аромат
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
09.
Pagi paling cerah bagi Hiwatari Kai adalah memamerkan iris amethyst-nya pada dunia diiringi sambut cicit burung dari jendela—ditambah aksi mencoret kertas tanggalan dengan spidol warna-warni membentuk elemen bebungaan. Kekanakan memang. Dan tidak ada orang lain yang harus tahu karena mahakarya itu akan segera dirobek lalu disingkirkan dalam bentuk serpihan agar tidak meninggalkan bukti otentik.
"Akhirnya sang pangeran bangun?!"
Rusak. Semua luruh berkeping hanya karena kedatangan tamu-tamu sialan yang tidak diharapkan.
Bukan berarti dia tidak mau menyambut Takao dan Max dalam kediamannya, hanya saja Kai ingin menjalani pagi tenang demi membangun mood yang tepat agar mentalnya tidak merosot di jam-jam ke depan. Apadaya sosialita dan hubungan manusia memang kejam bahkan bagi mereka yang tinggal di pedalaman hutan. Kimono tidur terpaksa diganti cepat untuk kemudian bergabung di depan meja makan dengan penampilan lebih pantas.
"Jadi, kami sudah dengar dari Rei kalau kau sudah punya pacar."
Seharusnya Kai bisa menyumpal mulut anti rem milik Takao kapanpun dengan croissant sarapannya.
"Silakan kalau mau berhenti menjadi temanku. Kalau perlu kontraknya akan kusiapkan sekalian."
Tiga remaja mengelilingi meja cukup besar dengan kegelisahan masing-masing namun satu pemikiran. Bahwa mereka ditambah Rei merupakan satu tim dan bersahabat setelah melewati derasnya alir waktu. Tidak mungkin hal kecil seperti memiliki kekasih berjenis kelamin sama mampu menggerogoti tali imajiner yang sudah terikat kuat, tadinya Kai cukup lega mendapati topi takao mengibas vertikal menunjukkan ketidaksetujuan.
"Justru aku mau tanya! Kenapa bukan Rei!?"
Frontal itu membuat Kai menyemburkan teh selai favorit dari mulut. Hampir.
"Kenapa bertanya begitu, Takao!? Itu hak Kai untuk memilih siapa saja."
"Tapi akan lebih bagus lagi kalau dia memilih orang yang ada di dalam tim. Supaya hubungan kita semakin kuat dan tidak ada yang bolos latihan dengan alasan kencan." sungguh bukan jawaban bijak walau maksudnya demikian. Kai hanya mampu terbengong. Berupaya menelan cairan hangat yang entah kenapa tercekat di pangkal tenggorokan.
"Kalau Kai dengan Rei, berarti sisanya hanya kita berdua. Artinya... aku berpasangan denganmu, Takao?"
Pertanyaan ragu-ragu Max disambut angguk riang. Melihatnya, si pirang tampak berpikir keras sebelum menambah, "Tapi aku tidak bisa menyukaimu Takao. Aku lebih menyukai ibuku." seraya menggembungkan dua pipi.
"Aku mengerti. Kalau harus jujur, aku juga lebih memilih kakekku."
Tuhan maha baik, Kai percaya. Karena telepon Takao mendadak berbunyi nyaring, menghentikan pembicaraan nyeleneh yang sudah merusak selera makan sang tuan rumah. Bahkan kali ini Kai tidak keberatan kalau bunyi nyaring itu mengganggu penghuni kediaman Hiwatari akibat nada dering yang cenderung imbisil.
"Telepon dari Rei, katanya kita disuruh ke tempat pertandingan duluan karena dia masih ada sedikit urusan."
Bagus.
Tidak membuang waktu, Kai memerintah pegawainya agar menyiapkan kendaraan untuk mengantarnya bersama kepala-kepala dibawah umur menuju tempat pertandingan. Setidaknya dia bisa terbebas dari siksa dunia bertajuk silaturahmi dari tema-tema panas yang menyangkut dirinya. Ditambah delapan jenis pastila menjadi penyumbat mulut terbaik selama perjalanan, telinga Kai benar-benar damai hingga menjulang tegap di depan meja registrasi acara.
"Ini papan nama kalian. Blok ditentukan oleh jenis warna dan urutan ditentukan dari nomor yang tertera. Dimohon jangan sampai rusak atau hilang." panitia menjelaskan dengan sangat baik untuk mereka. Ketiganya mengangguk patuh.
"Terima kasih."
Max menyemat name tag bertuliskan Aegis pada permukaan kaosnya, sementara dua name tag lain yang diterima dibagikan pada yang empunya. Name tag punya Rei akhirnya bisa diambil setelah memberi alasan paling konyol sedunia. Melibatkan sakit perut dan toilet. Peraturan bahwa hanya peserta sendiri yang boleh mengambil name tag amat sangat sangat merepotkan. Tidak ada yang menginginkan Rei kalah WO hanya karena terlambat daftar ulang.
"CHOCO MOONCAKE? ITU NAMA APAAN, HAHAHAHA?!" nah, kan. Takao dan predikat imbisil memang tidak terpisahkan.
"Kamu sendiri apa? Monkey Magic? Padahal lebih cocok nama monyet gunung!" Kai entah kenapa terpancing juga meski tetap bersikukuh pada mode cool.
Di lain pihak, Max yang lebih dulu menyuarakan kecemasan secara gamblang, "Rei lama, ya..."
"Biar aku menunggunya, kalian masuk saja duluan." si pirang mau protes jika tidak diinterupsi, "Urutan pertandinganku masih lama. Kau lebih baik siap-siap dengan Takao."
Bohong kalau Kai tidak cemas. Rei berbeda dari ketua tim-nya yang serampangan (meski pertandingan kali ini dilakukan secara individu), atau salah satu anggota berdarah asing yang terlalu happy go lucky. Kai yang dikenalnya merupakan pribadi normal yang masih mampu berpikir jernih dalam menghadapi setiap situasi, termasuk yang menurutnya cukup rumit. Melupakan jadwal atau melanggar janji tidak termasuk dalam situasi rumit dalam contoh kasusnya.
Tidak lama setelah ditinggal sendirian, nada dering ponsel menarik si rambut salju kembali dari lamunan. Benda tipis dari kantongnya segera disambar, berjuang agar tidak terdengar panik, "Halo!? Kau di mana?"
"Di hatimu~" bahu Kai yang tegang lemas seketika mendengar suara yang tidak diharapkan. Di seberang Minami Yuuya berseru semangat, "Kau sendiri di mana, Kai? Saingan cintaku ternyata ada di blok yang sama, rasanya tidak sabar untuk menunjukkan kemampuanku padanya..."
"YANG PASTI BUKAN DI HATIMU!"
PIP—tombol off berjasa meminimalisir luapan emosi di hati Kai. Untunglah tadi dia tidak sempat kalap menyebut nama Rei atau akan muncul masalah baru yang tidak perlu.
Nada dering berbunyi lagi tanpa kenal lelah. Hidup Kai hari ini tampak sibuk sekali.
Tidak terjebak hal sama dua kali, layar ponsel diperiksa terlebih dulu, meyakini nama yang ditunggunya yang memang menelepon.
"HALO, REI!" tidak peduli bahwa dirinya setengah berteriak, "Suaramu terputus-putus. Rei!? Dengar, jadwal pertandinganmu sebentar lagi... jadi cepat selesaikan urusanmu lalu angkat bokong sialanmu kemari!"
Hiruk pikuk bagai teredam seketika. Gemersik daun ditelan bunyi liur yang terteguk kencang. Iris keunguan Kai membulat seakan baru melihat hal mustahil di dunia.
"...APA KATAMU!?"
To be continued...
.
.
.
A/N:
Uhihihihiiii~ tinggal 2 chapter lagi sebelum adegan klimaks penghabisan xDDD
Semoga tahun ini аромат bisa tamat *melihat tanggal publish dengan berlinang*
R&R maybe? C:
