Beyblade (c) Takao Aoki
Warning: Canon Diverge. Kai akhirnya terbebas dari penderitaan. Congrats! /lol
аромат
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
11.
"Kai, coba syalmu dilepas dulu. Aku yang melihatnya saja sampai ikut kepanasan."
Si muka berhias sirip hiu terus menenggak air mineral dingin yang baru dibeli dari mesin penjual otomatis, bersikap seolah tuli. Lagipula di antara tiga orang penghuni bumi yang perintahnya akan dituruti oleh seorang Hiwatari Kai—ibunya, kakeknya, dan wasit pertandingan Beyblade—tidak ada nama Takao di sana pun kepentingannya untuk peduli. Tapi faktanya, keringat deras belum berhenti mengalir. Menyusuri pelipis, pipi, lalu bermuara di ujung dagu. Aksi jari Kai melonggarkan sedikit pelindung leher khas-nya setidaknya menjadi bukti kalau pemuda berwatak keras itu masih mau mengakui beberapa nama sebagai kolega penting yang patut dihargai.
"Menurutmu siapa yang akan menang?"
"Tentu saja Rei!" jelas sekali Takao berkicau sembarangan. Untunglah mereka berdua duduk di tribun cukup jauh (dan untunglah suara nyaring Takao tidak akan terdengar dua peserta yang baru menyelesaikan ronde genap dengan kemenangan di pihak yang tidak disangka-sangka). Bahkan karena pertandingan dinyatakan seri, babak penyisihan terakhir harus memasuki ronde pamungkas.
"—sesungguhnya, aku... aku tidak tahu siapa yang akan menang." Takao menambah pendapat jujur, "Minami Yuuya. Dia ternyata Blader tangguh."
Bola mata amethyst mengamati jalannya pertandingan dengan seksama. Kedua Beyblade kembali memasuki arena, menciptakan bunyi bising tidak kalah dari riuh penonton yang antusias.
"Kau sendiri, Kai?! Siapa yang menurutmu bakal menang?"
Yang ditanya juga ingin menjawab apa adanya, seperti apa yang sudah berserak dalam kepala, "...entah."
Untuk seseorang yang bisa menyelesaikan aljabar dalam hitungan menit, baru kali ini Kai menerima pertanyaan yang begitu sulit. Sisi egoisnya tidak menginginkan siapapun baik Rei maupun Yuuya menang sekaligus kalah. Dia hanya ingin menyingkir. Sudah tidak sudi untuk terlibat dalam kasus apapun yang melibatkan hatinya lebih jauh lagi. Lebih dalam lagi. Kalau perlu keluarga Hiwatari mengadopsi anak lain saja supaya pewaris tunggal mereka bisa beralih profesi menjadi biksu, mengemban predikat aseksual permanen sampai akhir hayatnya bertransformasi dalam bentuk abu.
Kau takut, Kai?
Lamunan sekian detik Kai terhenti. Meyakinkan diri kalau kalimat familier yang baru saja berdenging hanyalah flashback menyebalkan semata.
Kau takut seseorang berhasil menyusup ke dalam kehidupanmu, kan? Kau lebih merasa aman—
"DIAM!"
Bergeser sedikit dari tempatnya duduk, Takao gelagapan bingung, "Loh? M-memangnya aku tadi bicara apaa?"
Kepalan tangan kai diremas erat, "Diamlah! Aku tidak akan lari. Aku akan menonton ini semua sampai habis, siapapun pemenangnya."
Apapun resikonya.
Ada tepukan hangat berulang di balik punggung Kai. Max mungkin dari tadi diam saja, tapi aksinya kali ini dianggap sangat tepat, persis seperti mencabut kabel dari stop kontak tepat sebelum aliran listrik berbahaya datang, "Kau kuat, Kai. Itu mungkin salah satu alasan kenapa mereka sangat menyukaimu. Aku dan Takao juga. Bahkan mungkin teman-teman dari Blade Sharks dulu juga begitu."
Lengkung senyum samar hadir menanggapi deduksi Max yang terdengar sok tahu. Kai yang merasa sudah cukup melepas dahaga kemudian bangkit dari duduknya, membuang botol kosong ke tempat sampah terdekat, lalu memperbaiki syal di leher pada bentuk semula. Tidak ada sanggahan dari mulut sang ketua tim dan rekan lainnya ketika dia berjalan tanpa pamit lalu meninggalkan area tribun—dan dukungan tak acuh itu yang sesungguhnya Kai butuhkan.
Di tengah perjalanan menuju ruang tunggu peserta, tepuk tangan serupa deras hujan terdengar beruntun ketika pengeras suara mengumandangkan sebuah nama. Pemenang telah ditentukan. Kai hanya tertawa kecil mendengar hasilnya, memasukkan tangan ke dalam saku sembari berusaha melemaskan bahu. Dia mungkin datang di saat yang terlalu tepat. Berdiri di pintu belakang arena, Rei dan Yuuya langsung menjadikan kehadirannya sebagai sorotan utama.
"Kai..." telinganya belum pernah mendengar Rei menyebut namanya segetir itu.
"Selamat atas kemenanganmu, Rei."
Mahkota Rei menggeleng, membungkus tepian raut tidak puas, "Aku menang karena Beyblade milikmu. Bukan..., aku menang karena sebelum ini kau menyadarkanku untuk tidak menyerah sebelum bertanding..."
Tidak ada sepatah katapun lagi dari Kai saat menerima Dranzer kembali dalam genggamannya.
"Kalau begitu aku yang pergi dari sini. Selamat untuk kalian."
Dari banyak hal yang masih menjadi misteri di dunia ini, Kai paling tidak paham, terutama dengan dirinya sendiri. Lagipula untuk apa dia susah-susah menahan kepergian Yuuya dengan mencengkeram pergelangan tangan sebayanya itu—membiarkan Bey yang diakui berharga hampir setara nyawanya terpelanting begitu saja ke tanah.
"Kenapa?"
"Tidak tahu."
"Kau tidak tahu?" Kai merasa sangat dejavu.
"YANG AKU TAHU, KAU INI PACARKU! JANGAN BERTANYA LAGI ATAU KAU AKAN KUHAJAR!"
Kalau ada sumur di ladang, daripada menumpang mandi mungkin Kai lebih ingin tenggelam sekarang. Tenggelam lalu mati kembung. Seluruh energinya spontan disalurkan lebih pada ujung-ujung jari untuk menahan ledakan rasa malu. Momentum itu membuat Yuuya meringis kesakitan karena aliran darah di lengannya tersumbat sekilas.
"Pacar brengsek macam apa yang menghajar pasangannya sendiri?" Yuuya tertawa geli, dengan cairan bening di ujung-ujung matanya yang setelahnya tumpah, "Kai... dasar kau... bodoh... bodoh..."
Kedua kali dia membuat dirinya terkejut dengan membiarkan Yuuya menangis mengotori syal putihnya, meski Kai tidak memberikan gestur balasan berarti seperti memeluk. Malah melihat lurus-lurus Rei yang masih memandangnya, takjub sekaligus sedih. Kemudian menyembunyikan paras oriental tersebut di balik poni dengan cara menunduk dalam.
Rei menekan pandangannya ke tanah, "Lupakan perjanjian kita, Kai. Aku tidak akan membuatkanmu Moon Cake lagi. Paling tidak sampai kalian putus."
"Hoo..." Kai mundur selangkah merasakan tubuhnya didorong keras. Dilihatnya Yuuya buru-buru mengusap daerah mata sebelum berbalik dan melipat tangan angkuh di depan dada dengan logo palang merah raksasa menyembul imajiner di kepala, "Tenang saja. Akan kupastikan Kai tidak akan pernah makan roti lembek buatanmu seumur hidup!"
"Lebih lembek mana dengan yang baru saja kalah bertanding?!" Rei angkat dagu tidak mau kalah.
"APA KATAMU!?"
Pertikaian mulut itu memakan waktu sekian belas menit dan masih terus berlanjut. Mungkin akan lebih lama andai Rei masih memegang Dranzer sekarang. Kai yang malas ikut campur lebih memilih bersandar di pojokan, menjelajah isi internet melalui ponselnya guna mencari kafe terdekat yang memiliki menu teh wewangian Camomile dan Cinnamon sekaligus. Karena selepas saling mengenal satu sama lain nanti, dua makhluk ngotot itu pasti akan sangat kehausan.
"Akhir seperti ini bukan hal yang buruk, kurasa." gumam Kai pada diri sendiri, bersama senyum lebar yang tidak bisa ditahannya lagi.
Mulai hari ini untuk ke depannya, hari-hari Kai mungkin akan lebih beraroma dari biasanya.
END
.
.
.
A/N:
AKHIRNYA TAMAT JUGAAAAA! Dibuka tanggal 20 desember, ditutup tanggal 20 desember lagi, otsukaresamadeshita!
Makasih banyak (lagi) atas dukungannya selama 4 tahun ini, mudah2an kita bisa ketemu di fic Beyblade lainnya. ILU ALL~
R&R maybe? C:
