Memory

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Terimakasih atas review-review kaliaan /peluksatusatu

Akhirnya aku update juga, lebih cepat dibanding linkofus kan? hehehe

Dan, yes, aku sudah selesai membuat plot cerita hingga akhir, semoga semua suka dengan fic ini

Warning: Misstypo, OOC, sinetron, gj, dll haha


Memory 2


Mataku terbuka dengan indahnya di pagi hari kala jam weker sialan sudah berdering nyaring memekik telinga. Kutolehkan wajahku ke samping dan yang tampak adalah wajah gadis yang bahkan tak kukenal. Ya, di kaca yang memantulkan wajahku sekarang, terpampang wajah gadis berkulit putih dengan mata indigonya memandang kaca. Inilah aku sekarang. Entah takdir apa yang membuatku berada di tubuh ini. Bahkan aku sendiri tak mengenal gadis berambut panjang yang satu ini.

"Hinata? Siapa dia?"

.

.

Setelah melamun cukup lama, kuangkat tubuhku dari kasur dan segera bangun. Di depan wastafel, sekali lagi kupandangi cermin.

Aku tidak tahu siapa Hinata. Yang aku tahu sekarang, aku ini lelaki bernama Uzumaki Naruto. Hanya itu. Selebihnya nihil. Tak ada satu hal pun yang kutahu bahkan tentang diriku, 'Naruto' ini sendiri. Apa hubunganku dengan Hinata? Kenapa jiwa kami bisa tertukar?

Mulai gila memikirkannya, aku segera mencuci muka dan bersiap-siap mengenakan pakaian rapih. Menuju ke RS. Tempat dimana tubuhku berada.


.

.

.

"..'Naruto'?" Gaara memandangku bingung. Tepat saat menaiki lift, tiba-tiba aku berpapasan dengan si mata panda ini. Ia tampaknya sedang luang mengingat sekarang jam makan siang. "Kenapa kau bertanya kalau aku tahu Naruto atau tidak?"

"Ah, tidak. Mungkin saja kau kenal dia. Pasien di kamar nomor 442 itu." Jawabku pura-pura. Mana mungkin aku mengatakan bahwa itu adalah tubuhku, dan yang sedang berbicara denganmu ini bukanlah Hinata. Itu akan terdengar gila.

"..ah, pasien yang koma itu?" Gaara mengangguk paham. "Tidak, aku tidak mengenalnya. Aku hanya tahu semenjak dia masuk RS ini, karena dia cukup diperbincangkan."

"Eh? Ke-kenapa?"

"Karena kondisinya aneh. Saat masuk RS, nafasnya sudah berhenti. Tapi, beberapa saat, jantungnya berdetak lagi. Seperti berusaha melawan sakitnya." Balas Gaara datar sembari menunggui lift terbuka.

"Sa-sakit apa?" Tanyaku lebih dalam. Aku benar-benar penasaran akan hal ini.

"Bukan penyakit, tapi sakit akan hancurnya tubuh itu. Dia pasien kecelakaan lalu lintas. Dia terhimpit di dalam mobil yang Ia bawa." Gaara menatapku lewat ekor matanya. "Kau tahu? Tulang-tulangnya patah, bahkan ada yang remuk. Dia juga kehabisan banyak darah. Beruntung dia masih bisa hidup sekarang."

Aku termanggu mendengarnya. Ya, dia memang hidup tapi ditubuh orang yang sedang kau ceritakan, kau tahu?!

"Kenapa kau datang ke RS lagi?" tanya Gaara dengan menatapku tajam.

"Ah, anu─Aku mau check-up." dengan tawa kecil, aku menatap matanya yang seakan tak percaya dengan perkataanku barusan.

Belum sempat bertanya lagi, tiba-tiba pintu lift terbuka membuat Gaara bergegas keluar.

"Sampai nanti."

"Ah, baik! Sampai nanti!" Jawabku sok manis dibalas dengan pintu lift yang segera tertutup. "Haah─jadi, aku kecelakaan, dan hampir mati lalu koma? Benar-benar rumit."

Sesungguhnya, asalkan ingatanku tak hilang, mungkin aku bisa segera ke rumahku dan menemui teman-teman yang bisa membantu. Sayang aku benar-benar tak ingat apapun.

Sesampainya di depan kamar 442, kubuka pintunya dan yang kutemukan bukanlah tubuhku saja disana. Ada seorang lelaki berkuncir tinggi mirip nanas sedang menatap tubuhku yang masih tertidur di atas kasur. Siapa dia?

"..Hm? Ada apa?" Lelaki itu bangun dari duduknya di sebuah kursi dan menatap diriku.

"A-ah..salam kenal─Namaku Uzu-eh.. Hyuuga Hinata."

"Salam kenal, Nara Shikamaru. Kau kenalan Naruto?"

"Tidak─eh, benar... Maaf, aku menganggumu."

"..tidak apa." Aku menatapnya lebih tajam. Dia datang kesini, itu artinya dia salah satu kenalanku, bukan?

"Ano, apa hubunganmu dengan Naruto?" Tanyaku tanpa basa-basi.

"Hmm.. Teman. Kau sendiri?"

"A-aku juga.." Balasku gugup. Yah, aku juga tidak tahu hubunganku dengan Hinata ini. Merasa tidak bisa menjelajahi lebih jauh dengan tubuhku yang masih terbaring, aku buru-buru kembali ke arah pintu. "Maaf, aku kelupaan sesuatu. Aku permisi dulu."

Tanpa menoleh lagi, buru-buru aku keluar dan berlari kecil menuju lift. Sembari menunggu, aku menatap kembali ruangan 442 itu.

"Haah─seharusnya aku bertanya lebih jauh padanya."

.

.

.


NORMAL POV

Seorang wanita berambut merah jambu di dalam mobilnya segera keluar dengan secepat mungkin saat melihat siapa yang menghampiri mobilnya.

"Gaara-san─! Bagaimana?!"

"Sabar dulu. Aku juga mengajaknya saat bertemu di pintu depan." Lelaki bermata emerald ini menunjuk lelaki dibelakangnya.

"Shikamaru? Sedang apa kau kesini?"

"Menjenguk Naruto. Lalu saat aku pulang, aku bertemu Gaara di depan. Kau tahu? Hinata datang ke ruangan Naruto sendiri. Dia tidak mengenalku." Shikamaru tersenyum malas.

"Dia pergi ke ruangan Naruto? Sendiri?" Sakura memandang Shikamaru tidak percaya. "Dia lupa ingatan! Makanya dia tidak mengenalmu juga. Tapi, kenapa- Naruto.."

"Dia juga bertanya padaku apa aku mengenal Naruto. Aku berbohong padanya, tapi aku katakan alasan Naruto koma." Gaara lalu memandang Shikamaru. "Kau sendiri?"

"Ya, aku juga berpura-pura tak mengenal Hinata. Jadi, dia akan berpikir bahwa dia dan Naruto tak ada hubungan apapun."

Sakura bernapas lega mendengarnya. "Terimakasih. Apapun yang terjadi, Hinata tidak boleh mengingat Naruto atau bertemu dengannya lagi. Jangan sampai kejadian itu terulang kedua kalinya."

"Ya, aku tahu itu. Kau sendiri tahu bahwa aku yang paling mengerti hal tersebut, 'kan?" Gaara memandang Sakura penuh arti.

"Uhm, aku mengerti."

.

.


"Hinata─!"

Dari kejauhan kulihat ada yang memanggil. Dia si rambut ayam, Sasuke. Kupandangi dengan bingung mengapa dia memanggilku yang asik makan di sebuah kafe terbuka pinggir kota.

"Sasuke-san? Ada apa?" Tanyaku basa-basi.

"Kau sendirian?"

"─iya.." Jawabku ragu. Ia lalu segera duduk di bangku tepat sebelahku dan menyerahkan sebuah buku.

"Ini, bukumu. Sebelum kecelakaan itu, kau meminjamkanku buku ini."

"Eh? Begitu─" kuambil buku tersebut dan melihat judulnya. 'Hana', judul yang aneh. "Hei, Sasuke-san. Menurutmu, Hinata yang kau kenal itu bagaimana?"

"...kenapa? Sebelumnya kau sudah pernah bertanya, 'kan?"

"Kenapa? Ya.. Karena aku penasaran dengan diriku yang dulu." Kutatap wajah Sasuke yang mulai masam mendengar pertanyaanku.

"Hanya gadis biasa yang baik hati."

"He?" Aku segera menyunggingkan senyum palsu dan melihat wajahnya bingung. "Kau bercanda?"

"...Tapi, cara bicaranya, beda dengan sekarang. Dia tidak bicara sepertimu sekarang."

"Ah, begitu.." Aku menutup mulutku buru-buru. Bisa gawat jika cara bicaraku berbeda dengan si Hinata itu. "Oya, kau kenal Naruto? Uzumaki Naruto."

Dengan kalimat itu, Sasuke segera memandang wajahku sinis dan mengangkat tubuhnya. Sasuke lalu membisu dan kembali membuka suaranya dingin.

"Tidak. Maaf, Aku harus kembali ke kantor sekarang. Aku duluan." Sasuke tanpa basa-basi lagi segera berjalan meninggalkanku. Ada apa dengan dia? Aneh. Dia, atau Gaara tak mengenal Naruto. Jadi, hubunganku dengan Hinata apa? Kenapa jiwa kami bisa terukar?

"Hoi, Hinata─?!" Lagi-lagi suara lelaki mengganggu lamunanku, ku tolehkan kepalaku dan menemukan laki-laki yang ternyata dia adalah Kiba.

"Ah, Kiba-kun.." Aku menyapanya dengan senyuman semanis mungkin. "Sedang apa kau disini?"

"Kantorku dekat sini, sama dengan Sasuke. Kenapa dia pergi duluan?"

"E-etto─Iya, dia hanya kesini sebentar dan langsung pergi."

"He─? Kenapa?" Tanya Kiba yang tetap berdiri di depanku.

"Ya, saat aku bertanya apa dia mengenal Uzumaki Naruto atau tidak, Ia langsung pergi."

Sama dengan Sasuke, Kiba langsung terdiam dengan kalimat tersebut.

"Kau─sudah ingat tentang Naruto?"

"Eh?"

"Sebisa mungkin jangan bertemu lagi dengannya. Jika benar kau sudah ingat tentangnya, kau sendiri juga pasti tidak mau 'kan berhubungan dengannya lagi?"

"Ke-kenapa? Kiba-kun, tolong katakan padaku!" Pandangku memohon pada Kiba. Hanya dia satu-satunya harapanku. Aku ingin tahu hubungan apa yang kupunya dengan Hinata.

"Karena..Kau sendiri yang bilang seperti itu. Dulu, kamu bilang tidak mau menemui laki-laki itu lagi. "

.

.

"A-apa maksudmu?" tanyaku serius. Kiba lalu melihat jam tangannya dan tersenyum simpul.

"Waktu istirahatku sudah habis, Hinata. Membicarakannya bisa sampai berjam-jam." dia tertawa kecil. "Lagipula, kalau kau belum mengingatnya.. lebih baik tetap seperti ini. Jangan lagi kau ingat Naruto. Bisa dibilang, dia tidak ada hubungannya denganmu."

"Eh? Jadi, sebenarnya aku mengenal Naruto, 'kan?"

"...Hanya 'kenal'. Kalian tidak tahu satu sama lain, bahkan bertemu." ujar Kiba seperti berbisik. "Maaf, aku duluan ya, Hinata!"

Dengan sekejap, Kiba sudah berlari meninggalkanku. Ia tampak aneh, bahkan Ia tak mau menatap mataku. Ada apa dengan orang-orang itu? Apa Hinata dan diriku benar-benar belum pernah bertemu? Jika benar begitu, kenapa Hinata tidak boleh mengingat diriku?!

Pusing. Kepalaku terasa tercampur aduk sekarang. Sebenarnya hubungan apa yang kumiliki dengan Hinata?! Semuanya tampak menyembunyikkan sesuatu. Aku yakin satu hal, aku dan Hinata pasti memiliki hubungan tertentu.


Suara ponselku yang di taruh di atas meja mulai berdering kencang. Melihat siapa si penelepon, buru-buru tanganku memencet tombol hijau di layar.

"Halo, Sasuke-san?"

"Ah, selamat malam. Maaf larut malam begini aku menelepon, tapi aku ingin meminta maaf atas kejadian tadi siang." jawab Sasuke sedikit pelan.

"Eh? kejadian apa?"

"Aku pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanmu. Mengenai Naruto, kau tahu apa tentang dia?"

"Ah, anu... aku hanya ingat namanya saja. Tiba-tiba nama itu muncul di kepalaku." jawabku asal.

"Jika kau tanya yang lain, semua pasti akan menutupinya. Karena itu aku ingin bilang langsung padamu."

"B-baik.."

"Kau mengenal Naruto dengan baik, dan Naruto juga mengenalmu dengan baik. Kau dan dia satu kelas saat kelas 3 bersamaku dan yang lainnya." jelas Sasuke datar. Nadanya terasa kelam di telinga, tampak tak ingin membuka sebuah misteri secara langsung, tapi perlahan. Ia tampak berhati-hati dalam berbicara.

"Lalu, apa aku dan Naruto sangat dekat?" tanyaku penasaran.

"Mengenai itu, aku tidak tahu. Aku tidak sedekat itu denganmu saat dulu."

"Eh? Kenapa?"

"Karena, kita baru dekat saat sudah lulus Sekolah. Kau dan aku, satu Universitas dulu meski beda jurusan." jawab Sasuke membuatku mengangguk paham.

"L-lalu, hubunganmu dengan Naruto?" tanyaku lagi.

"Aku dan Naruto? Kami teman baik. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Mendengar jawaban Sasuke, mataku langsung terbuka lebar. Jadi, Aku dan Sasuke bersahabat?! Pantas saja aku merasa nyaman di dekatnya. Untunglah! Itu artinya aku bisa memberitahukan padanya tentang sesungguhnya, 'kan?

"Anu, Sasuke-san─ sebenarnya Aku─"

"Hm?"

"Anu─" aku terhenti. Kenapa mulutku tak mau berbicara? Ini kesempatan emas. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, pasti─Apa? Apa yang akan terjadi? Apa aku akan langsung kembali ke tubuhku? Tidak. Masalahnya akan semakin gawat.

"Hinata?" panggil Sasuke membangunkan lamunanku.

"Tidak, bukan apa-apa.."

"Baiklah, aku akan menutup teleponnya. Telepon aku jika kau masih penasaran atau ingin bertanya apapun. Selamat malam."

"Ah, baik.. Selamat malam."

Kututup teleponnya dan berjalan ke arah jendela luar. Sedikit menyesal dengan tindakan bodohku tadi. Kenapa aku tidak bilang kalau aku ini Naruto? Tapi, setidaknya aku tahu, aku dan Hinata memiliki hubungan. Kami bukan orang asing. Tapi, kenapa Gaara bersikap seakan Ia tak mengenal Naruto?

Pusing, buru-buru aku melempar tubuhku ke arah kasur. Entah takdir apa yang membuatku ada di tubuh gadis ini.

"Hinata─Kenapa kau tidak mau kembali ke tubuhmu?"

.

.


"Hei, Hinata!" suara Kiba yang terdengar beberapa meter dariku yang berdiri di pinggir jalan membuatku langsung menolehkan kepala dan menatapnya bingung.

"Kiba-kun? Sedang apa kau kemari?"

"Kau mau kemana?" tanyanya saat sudah berdiri tepat disampingku.

"Ke RS. Aku mau menjenguk Naruto." jawabku polos. Ya, aku sudah malas menyembunyikkannya. Toh, Sasuke juga bilang lebih baik aku jujur jika ditanya oleh mereka.

"Kau belum ingat Naruto, tapi tetap menjengukknya? Kau mulai aneh, Hinata."

"Karena aku punya keperluan khusus, bukan dengan Naruto tapi Hinata." ujarku sembari berjalan menyeberangi jalan tanpa peduli Kiba yang masih bingung dengan perkataanku barusan.

.

.

Saat sampai di RS, kulihat Gaara yang sedang berdiri di depan meja informasi. Ia tampaknya sedang berbicara dengan salah satu resepsionis tanpa tahu kehadiranku. Kulihat jam besuk, masih 30 menit lagi akan dibuka. Mau tak mau aku duduk di salah satu bangku kosong disana.

"Hinata?" Gaara yang menyadari keberadaanku, segera berjalan dan ikut duduk di sebelah kananku.

"Selamat pagi, Gaara-san."

"Kau mau check-up lagi?" tanya Gaara. Ia tampak mengujiku dilihat dari tatapannya.

"Tidak, aku mau menjenguk seseorang."

"Naruto?" balas Gaara membuatku sedikit kaget. Ternyata benar, dia tahu siapa diriku.

"Apa kau kenal dengan Naruto?" tanyaku serius.

"...Iya." dengan segera Ia langsung berdiri dan kembali menatapku. "Dia dipindahkan di ruang 201 karena keadaannya sudah stabil. Mungkin dia akan bangun dari komanya. Doakan saja."

"Eh? Kau tidak melarangku menemui Naruto?"

"Kenapa? Kalian berteman, sudah sewajarnya kau menjenguk Naruto, 'kan? Aku kemarin pura-pura tak mengetahuinya agar kau tidak melihatnya karena kondisi tubuhnya parah. Hanya itu. Aku permisi dulu."

Kulihat Gaara menjauh dariku dan memasuki lift. Memang ada benarnya juga dari perkataannya barusan. Saat aku melihat tubuhku yang terbaring di kasur, tubuhku penuh dengan lilitan perban, selang yang memasuki mulut dan alat bantu pernapasan yang terpasang di diriku saat itu memang sedikit mengenaskan. Yah, mungkin Gaara berkata jujur barusan. Masih menunggu, kulihat ponselku dan mendapat pesan dari Sasuke.

.

To: Hinata

Sub : Kau dimana?

Aku ada di depan Rumah Sakit, mau menjenguk Naruto bersama?

.

Setelah membacanya, buru-buru aku berdiri dan keluar dari RS. Kulihat Sasuke yang baru saja turun dari mobilnya di parkiran.

"Sasuke-san!" seruku senang. Ya, aku senang mengetahui sahabatku disini. Setidaknya, walaupun aku tidak meningatnya, tapi fakta bahwa dia sahabatku membuatku bahagia.

"Apa jam besuk sudah dibuka?" tanya Sasuke saat mendekat ke arahku.

"Tidak, tapi tadi aku bertemu Gaara-san." ucapku.

"Gaara? Dia sedang kerja?"

"Tidak, tampaknya dia sedang luang."

"Ah, begitu." Sasuke lalu memasuki RS dan duduk di di bangku panjang. Mengikutinya, buru-buru aku menatap wajahnya. Kenapa aku bisa berteman dengannya? Dia tampak dingin, sama sekali bukan tipe orang yang mau kuajak berteman. Lagipula, kenapa dia mau berteman denganku? Itu juga aneh.

"Apa kau sudah makan?" tanya Sasuke membuka topik.

"Belum, aku langsung berangkat tadi pagi."

"Hah─ tunggu disini, aku akan membelikanmu makan dulu." Sasuke lalu berdiri dan melepas jaketnya yang langsung Ia lempar pelan ke pangkuanku.

"Tidak usah, aku bisa membeli sendiri." ujarku basa-basi, meski aku sangat senang aku tak perlu repot-repot membelinya.

"Diam disitu, sebelum jam besuk dibuka makanlah dulu." Sasuke lalu segera keluar lagi dari gedung RS. Aku sendiri hanya bisa duduk tenang. Yah, memang aku hampir tak memperhatikan pola makan akhir-akhir ini. Tapi, aku tidak bisa membiarkannya, bagaimanapun ini tubuh Hinata. Sebisa mungkin aku tak ingin melukai atau tak menjaga tubuhnya selama aku berada di dalamnya. Tapi, memang ada perasaan yang aneh. Bagaimanapun aku bersikap, tubuh ini milik Hinata. Itu berarti hati dan jantungnya-pun milik gadis bermata indigo ini. Saat berada di tubuhnya, rasa-rasanya aku terkadang paham apa kata hati gadis ini.

Hinata, banyak orang mengkhawatirkan dan menjagamu. Kembalilah.

.

.

.


Setelah menghabiskan makananku, buru-buru aku dan Sasuke memasuki ruang rawat Naruto─diriku─yang sudah dibuka. Dengan perlahan kulihat tubuhku yang sudah tak lagi mengenakan selang di mulutnya, hanya alat bantu pernapasan, dan infus yang masih terpasang di lengan. Perban yang awalnya hampir menutupi seluruh tubuhku kini hanya berada di kepala dan lengan kanan.

"Syukurlah dia sudah baikkan." ucap Sasuke. Dari nadanya, aku bisa tahu dia senang. Jika benar dia sahabatku, jika aku terbangun di tubuhku aku akan langsung memeluknya.

"I-iya.." jawabku ragu. Aku lalu mendekat ke tubuhku. Apa jika dia terbangun aku akan langsung kembali ke tubuhku?

"Hinata, sesungguhnya... Sebisa mungkin aku tidak mau kamu melihat wajah Naruto lagi." ucap Sasuke pelan. "Tapi, jika ingatanmu bisa kembali, aku akan membiarkanmu sepuasnya."

"Ano─ kenapa?"

"Kau, menderita karenanya 'kan?" Sasuke menatapku. Ia yang berada di sampingku menatapku tanpa ada tekanan di mata onyx miliknya. "Karena─ Kau mencintai laki-laki ini.."

"Eh? Aku─"

Kenapa? Hinata mencintaiku?! Apa karena hal itu jiwa kami tertukar? Sebenarnya, hubunganku dengan Hinata itu seperti apa?

"..Kau mencintai Naruto, lebih dari kau mencintai dirimu sendiri."

"S-Sasuke-san─ apa jangan-jangan tunanganku Naruto?!" seruku kencang. Jika benar, mungkin itu salah satu alasan mengapa aku ditubuh Hinata sekarang. Kulihat wajah Sasuke yang mendengar pertanyaanku. Entah─ Dia tampak kaget, bingung. Mungkin perkiraanku tepat.

"..Hm." Sasuke menundukkan wajahnya, melihat tubuhku yang terbaring di kasur. "..Be─"

"Sasuke."

Tiba-tiba suara berat di balik pintu yang terbuka menghentikkan ucapan Sasuke. Buru-buru kulihat ke arah suara dan menemukkan Gaara yang berada di pintu bersama dengan Sakura yang kaget dengan apa yang dilihatnya kini.

"Hinata, kenapa kau disini?" ujar Sakura tercengang.

"...Sakura-chan."

"Sasuke─!" Sakura yang melihat Sasuke berdiri di sampingku segera berlari kecil dan mencengkram kerah baju Sasuke erat.

"Anu─ sebenarnya, ada apa ini?" tanyaku yang mulai semakin bingung dengan situasi ini.

.

.


TBC

Maaf chapter ini lebih sedikit dari sebelumnya u_u

Lalu, untuk berapa chapter, aku belum tahu tapi nggak akan sebanyak telenovela.

Kalian maunya setiap chapter panjang tapi lelet update apa pendek2 tapi update cepet?

Aku agak galau karena ini hehe

Ngomong-ngomong, terimakasih banyak atas reviewnya! :D Maaf nggak bisa balas satu-satu tapi aku baca semua (kyaah)


Thanks to:

Rini desu,Rei Atsuko,keiKo-buu89,ghwen,Beauty Melody,kika-chan,hyuuga kyoko,guest,z,ichi,Durara,pasti gaara,Yuka,po,namika ashara,sushimakipark,moonlightYagami,kurophanthomhive,Ramen,Mimiko, Mikuru.

Banyak yang nanya, ditubuh Hinata itu Naruto? Jawabannya IYA. Jiwa mereka tertukar. Kenapa? Ayo baca terus biar tahu jawabannya hehe (Promosi) Mengenai Pairing, sejalannya fic ini nanti pasti ketahuan kok tanpa harus nunggu ending siapa tunangannya. Lalu, untuk misterinya Author ini cuma naro sedikit misteri, ga kayak LinkofUs wahaha. Sebenarnya mau banyakkin Scene yang ada Sakura juga, tapi takutnya karakter Hinata(Naruto) bakal tenggelam kalo Sakura terlalu di fokusin hehe, jadi untuk fans Sakura maaf ya dia cuma dikit disini uwu

Silahkan reviewnyaaa! ^_^d Aku seneng banget bacain review kalian(/3\)hwhw See you, Next Chapter!