Memory

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning: Misstypo, OOC, sinetron, gj, dll haha


Memory 4

Karena akan banyak flashback, jadi kubuat yang normal POV adalah FLASHBACK, dan Hinata POV adalah alur cerita. Terimakasih!

Maaf kalau membuat bingung heheheheu


.

.

"A-anu, aku suka padamu, Naruto-kun!" ujar Hinata setelah beberapa kali terdiam. Ia memang sangat gugup kali ini. Baru pertama Ia menyatakan cinta pada seorang lelaki berambut pirang di depannya sekarang.

"Hinata, kau serius?" tanya si mata sapphire tersebut.

"U-uhm, begitulah."

"Sungguh?!" lelaki bernama Naruto itu tersenyum senang. Kegembiraan di dadanya sudah tak bisa ditutupi lagi kali ini. "Besok, minggu terakhir kita sebelum perpisahan kelulusan minggu depan. Mau bertemu denganku?"

"Eh?"

"Sabtu besok jam 10 di taman Konoha. Bagaimana?"

"B-baik!" dengan senang Hinata menganggukkan kepalanya dan menaikkan sudut bibirnya hingga semu merah di wajahnya ikut muncul menghiasi kecantikkan gadis ini.

"Baiklah, aku akan menunggumu besok!"

.

.

.

"Sudah jam 11.." bisik Hinata. Dari pagi ini Ia memang sudah sibuk. Sibuk memilih baju, membuat bento untuk Naruto, bahkan Hinata menyentuh makeup yang belum pernah Ia gunakan sebelumnya. Tak mau membuat Naruto menunggu, Hinata bahkan datang 1 jam lebih cepat dari jam janjian, yaitu jam 9.

"Mungkin dia terkena macet.." semangat Hinata pada dirinya sendiri. "Mungkin dia tertinggal sesuatu? Atau mungkin keretanya datang terlambat? Atau─ mungkin dia tidak akan datang.."

.

.

"Hinata!"


"Begitulah awal mulanya, dari yang kudengar kau menungguku terus menerus hingga sore hari." Naruto menatapku tak enak hati. "Aku sudah tak punya muka untuk bertemu denganmu lagi setelah hari itu. Bahkan saat upacara kelulusan, aku pura-pura sakit dan langsung pulang tanpa bertemu denganmu."

"..Ke-kenapa? Kenapa kau tidak datang?" tanyaku bingung. Benar juga, pasti ada alasan kenapa dia tidak datang.

"..Itu, itu karena─"

"Karena Naruto menemuiku." tiba-tiba Sakura yang sedari tadi diam langsung angkat bicara. Ia menatapku penuh percaya diri dan serius, beda dari yang biasanya.

"Sakura─"

"Tidak apa, Naruto. Dia harus mengetahuinya." Sakura tersenyum pahit dan kembali menatap mataku tajam. "Hari itu, Naruto sudah siap menemuimu. Tapi, aku meneleponnya. Menyuruhnya datang secepat mungkin ke rumahku. Ayahku tiba-tiba pingsan dan aku berkali-kali menelepon Rumah Sakit tapi tetap tak terhubung. Karena sudah panik, aku langsung menelepon Naruto. Saat itulah alasan mengapa Naruto tidak datang."

"Eh? Ka-kalau hanya begitu, aku juga menger─"

"Kau tidak mengerti, Hinata. Saat itu, ada orang lain yang tidak menerima perilaku Naruto, dia─"

"Cukup, Sakura-chan.. Dari sini biar aku yang cerita." Naruto tersenyum simpul dan mulai menyandarkan punggungnya ke arah kasur.


.

.

"Sakura butuh bantuanku. Maukah kau mengatakannya pada Hinata?" Naruto yang menelepon seseorang lewat ponselnya bernada cemas.

"Apa maksudmu?" jawab lelaki di seberang telepon tersebut. "Kau bisa menyuruhku menemani Sakura, dan kau pergi ke tempat janjian itu. Kenapa kau membuatnya sulit?"

"Sasuke─ kau tahu, kan. Sakura itu.. lemah. Aku tidak bisa meninggalkan dia─"

"Heh. Jadi maksudmu Hinata itu kuat? Apa matamu buta?" Sasuke merendahkan suaranya. "Aku tidak akan pergi ke taman itu. Pergilah dan urus hal itu sendiri!"

PIP

Sasuke mematikan ponselnya. Naruto yang menyadari hal tersebut hanya bisa termenung. Ia benar-benar bingung apa yang harus Ia lakukan sekarang. Meninggalkan Sakura, teman masa kecilnya yang sedang terpuruk di bangku Rumah Sakit sebelahnya ini? Atau Ia harus bergegas menuju tempat janjiannya dengan Hinata? Naruto seakan terombag-ambing dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

"Sa..Sakura-chan, apa kau bisa kutinggal sendiri?" tanya Naruto pelan. Sakura yang awalnya menundukkan wajahnya segera menatap Naruto tajam.

"Kumohon, temani aku. Kita ini teman, kan? Temani aku hingga Ayahku bangun. Kumohon."

"...B-baiklah."

.

.


"Begitulah, karena aku hanya bisa menceritakan apa yang kualami, aku tidak tahu apa yang harus kuceritakan lagi. Mungkin, selebihnya kau bisa menanyakannya pada Sasuke."

"Sa-sasuke-san?" tanyaku bingung. Kenapa? Apa karena Sasuke adalah tunanganku?

"Dia yang tahu cerita lainnya terutama saat kau duduk di Universitas. Karena kalian satu Universitas, aku yakin kau dan Sasuke memiliki banyak kenangan."

Sakura yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. "Hinata, apa ada yang kau ingat?

Aku menggeleng. Tidak ada satupun yang teringat.

"Benar juga. Tidak mungkin kau langsung mengingatnya. Tapi, aku memberitahumu ini karena aku tidak ingin ada kesalah pahaman lagi. "

"Lalu? Apa hanya itu?" tanyaku penasaran. Masa hanya karena hal tersebut, diriku bisa terkait erat dengan Naruto? Apa aku yang dulu masih menyukainya? Tapi jika begitu, aku tidak akan bertunangan dengan Sasuke, 'kan?

"Hal itu..." Naruto memandang Sakura yang memberi kode pada dirinya. " Uhm, aku─"

"Naruto." tiba-tiba suara seseorang dari balik pintu terdengar. Kutengok dan melihat Gaara sudah berdiri disanaa. Ia mengenakan jas putihnya dan segera berjalan mendekat ke ranjang tempat Naruto berada.

"Gaara! Akhirnya kau datang juga. Aku sudah siuman, setidaknya rawat aku dengan baik, dong!" keluh Naruto dengan nada bercandanya. Kulihat keakraban antara keduanya di depan mataku sekarang.

"Aku bukan dokter penanggung jawabmu. Lagipula, kenapa kau disini?" mata Gaara menunjuk ke arahku tajam. Bulu kudukku sedikit bergidik melihat tatapannya yang menusuk langsung ke jantung.

"Aku bertanya pada Naruto-san tentang kejadian sebelum aku lupa ingatan." balasku ragu-ragu.

"Hmm─ lalu?"

"Aku.. masih tidak mengerti. Ah!" tiba-tiba aku ingat sesuatu. Sesuatu hal terpenting yang ingin kutanyakan sedari awal. "Naruto-san, kenapa kau bisa berada disini? Kenapa kau terluka?"

Hening. Keadaan tiba-tiba menjadi hening. Baik Sakura, Naruto, dan Gaara tak menggubris pertanyaanku langsung. Kenapa aura mereka terasa kelam sekarang?

"Tunggu sebentar." Sakura mengangkat suaranya dan mengambil ponsel di dalam saku miliknya. Dengan segera Ia langsung menelepon seseorang disana.

"Di RS tidak boleh menggunakan ponsel." ujar Gaara meski Sakura tak menghiraukannya.

"Ah, halo? Ano, Sasuke-kun?"

Dengan kalimat itu, hatiku langsung melompat tinggi. Kenapa Sakura harus menelepon Sasuke?

"Aku, Naruto, dan Gaara sedang bersama Hinata. Kami sedang menceritakan kejadian dulu sebelum ingatan Hinata hilang. Lalu, kejadian itu.. apa tidak apa-apa?" tanya Sakura pelan. Apa maksudnya dengan kejadian 'itu'? "Baiklah, ya.. Aku tahu. Baik, jaa─"

"Anu, kenapa?" tanyaku bingung.

"Hm? ah, aku bertanya pada Sasuke karena hal ini menyangkut Sasuke juga. Setidaknya aku ingin meminta ijinnya terlebih dahulu." Sakura tersenyum simpul. "Baiklah, kenapa Naruto bisa ada disini? Itu karena kecelakaan."

"Ah, iya. Aku tahu.."

"Lalu, kecelakaan itu─"

"Terjadi saat dia mau menemuimu." tukas Gaara memotong ucapan Sakura yang tampak ragu-ragu. Mendengar ucapan Gaara, aku langsung tercengang. Aku? Aku yang menyebabkan Naruto begini? Bagaimana bisa─

"Gaara! Nasibku memang sedang sial saat itu."

"Tidak, pasti ada sesuatu, 'kan?" seruku kencang.

"Setelah kelulusan Sekolah, sampai lulus di Universitas, kau dan Naruto tidak pernah bertemu. Saat itu, kau sudah bertunangan dengan Sasuke. Naruto sendiri memberanikan dirinya lagi untuk menemuimu, Ia ingin memberitahukan padamu tentang alasan mengapa Ia tidak datang saat dulu." ujar Gaara.

"La-lalu?"

.

.


"Hinata, kudengar kau bertunangan dengan Sasuke?" tanya Naruto lewat telepon untuk pertama kalinya semenjak lulus dari Sekolah.

"Ah, i-iya. Kenapa, Naruto-kun?"

"Anu, saat aku tidak datang dulu di tempat janjian dulu, aku ingin memberitahukan padamu alasannya."

"Naruto-kun.. Tapi, aku sudah tidak memikirkannya."

"Tapi, aku kepikiran! Setidaknya jika aku mengutarakannya padamu, hatiku akan lebih tenang." balas Naruto serius. Mengalah, akhirnya Hinata paham dan setuju untuk datang di tempat janjian itu.

Esoknya, Hinata dan Naruto janji untuk bertemu jam 3 sore di taman, tempat mereka berjanji bertemu dulu. Hinata sendiri sudah siap sejam sebelumnya. Ia tidak mau membuat Naruto menunggu. Hinata yang seorang perawat, meminta ijin untuk pulang lebih cepat. Bahkan Ia sempat membawa baju ganti untuk bertemu dengan Naruto hari itu.

"Mau kemana kau?" tanya Gaara yang berpapasan di depan lobby RS dengan Hinata.

"Aku mau bertemu Naruto-kun. Dia bilang ingin bertemu sebentar." jawab Hinata santai.

"Kau sudah memberitahu Sasuke?"

"Iya, dia titip salam untuk Naruto-kun. Gaara-san juga sudah lama tidak bertemu dengannya?" tanya Hinata.

"Tidak, aku bertemu dengannya lusa kemarin. Baiklah, aku duluan." Gaara lalu mulai melangkahkan kakinya. "Hati-hatilah."

"Baik, terimakasih."

Hinata lalu segera menaiki taksi dan menuju ke tempat janjiannya dengan Sasuke. Tepat beberapa menit setelah duduk di bangku taksi, Hinata mendapat telepon dari Sasuke. Dengan senang Hinata mengangkatnya cepat.

"Sasuke-kun? Kau sudah pulang kerja?"

"Tidak, aku lembur malam ini."

"Ah, apa karena kau menabung untuk pernikahan kita?" tanya Hinata tak enak hati.

"Tentu saja, aku tidak mau menggunakan uang orang tuaku secara cuma-cuma." jawab Sasuke. Memang sebenarnya Sasuke tidak perlu menabung untuk pernikahannya, mengingat Ia adalah anak dari pemilik perusahaan terkenal. Tapi, harga diri Sasuke terlalu tinggi untuk menggunakan uang orang tuanya. Ia lebih memilih banting tulang bekerja pagi-malam dibanding mengadahkan tangan kepada Ayahnya.

"Aku juga menabung, Sasuke-kun. Lebih baik kau kurangi sifat gila kerjamu itu." ujar Hinata pasrah.

"Hmm─ aku tahu. Lalu, kau sudah bertemu Naruto?"

"Tidak, aku baru jalan."

"Mau kujemput?"

"Tidak, aku bisa pulang sendiri, Sasuke-kun. Lagipula, jika aku menginap di rumahmu terus, tou-sama bisa memanggilmu ke rumah lagi." Hinata tertawa pelan.

"Ah, kalau seperti itu, mungkin aku akan berpikir dua kali." canda Sasuke datar. "Baiklah, aku akan kembali bekerja. Hati-hatilah di jalan. Lalu, langsung hubungi aku jika terjadi sesuatu atau si dobe itu memegangmu. Bisa-bisa dia membuatmu jatuh cinta lagi."

"Sasuke-kun─" balas Hinata memberi kode untuk tak membicarakannya lagi.

"Hn, aku mengerti. Sampai jumpa."

Hinata lalu kembali memasukkan teleponnya ke dalam tas. Ia tak sadar bahwa Ia hampir sampai di tempat janjiannya dengan Naruto.

"Baiklah, aku akan menelepon Naruto." ujar Hinata setelah turun dari taksi. Ia lalu menekan nomor Naruto dan mulai menghubunginya. "Halo? Naruto-kun, aku sudah sampai."

"Ah, baiklah. Aku baru keluar dari kantor. Aku akan kesana secepatnya."

"Uhm, aku akan menunggumu."

.

.

.

"Sudah 1 jam lewat tapi Naruto-kun belum datang juga." pikir Hinata dalam hati. Ia lalu kembali membuka ponselnya. Tak ada satupun pesan masuk. "Apa jangan-jangan dia tidak datang lagi?"

Hinata menundukkan wajahnya dalam. Ia benar-benar bingung apa yang harus Ia lakukan sekarang. Apa dia harus menunggu lagi? Menunggu meski akhirnya yang ditunggu tidak datang juga. Entah kenapa, Hinata sedikit lelah dengan hal ini.

"Ponselnya juga tidak aktif." bisik Hinata saat mencoba menghubungi Naruto. "Kenapa? Apa dia berbohong?"

RING RING

"Halo?!"

"Ah, Hinata? Belum selesai juga?" suara di seberang telepon terdengar familiar. Itu Sasuke.

"U-uhm, aku.. sedang membeli minum." ujar Hinata bohong. Ia takut Sasuke akan marah jika Naruto belum datang juga sekarang. Hinata tahu hal itu.

"Ternyata kerjaanku selesai lebih cepat. Jadi aku bisa tidak lembur. Mau kujemput?"

"Ah, anu─"

"Kenapa?"

"A-aku akan pulang satu jam lagi. Ka-kamu mau menjemputku?"

"Baiklah. Tunggulah."

"B-baik."

Pip

Hinata memutuskan panggilannya. Tangannya gemetar, Ia berbohong pada Sasuke kali ini. Terlebih, Hinata akan dijemput Sasuke satu jam lagi. Itu berarti dia akan meninggalkan Naruto jika Naruto belum datang satu jam kedepan.

"Tidak apa, mungkin Naruto tiba-tiba ada urusan mendadak." jawaban Hinata menenangkan hatinya. "Yang penting, aku sudah menunggunya selama 2 jam. Tidak apa, 'kan? Dia membuatku menunggu lebih dari 10 jam dulu."

.

.

"Siaaaal! Kenapa macet begini?" seru Naruto kencang. Dia sudah menunggu 1 jam lebih dijalanan. "Sudah pasti Hinata datang duluan, dan menunggu sendirian!"

Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia menatap ponselnya yang sudah kehabisan baterai dan mati total. "Ponsel tidak berguna!"

Naruto lalu menatap ke jalanan yang mulai berjalan sedikit demi sedikit. Setelah melewati kemacetan, akhirnya jalanan mulai renggang dan lancar. Dengan segera Naruto menginjak gas kencang.

"Ah, sudah hampir 2 jam aku telat. Dia pasti menungguku! Aku tidak akan membuatnya menunggu lagi!" ujar Naruto dalam hati. "Pasti dia menunggu sendirian di taman itu. Lagi-lagi aku membuat kesalahan."

Mengingat kejadian lampau, Naruto segera menaikkan gasnya. Dia benar-benar tidak mau membuat Hinata menunggu. Dengan kecepatan tinggi, Ia bawa mobil sedan hitamnya di jalanan yang renggang. Tak peduli berapa mobil yang memarahinya karena Naruto membawa mobilnya terlalu kencang, hingga Naruto tidak menyadari bahwa sebuah truk tepat berada di depan mobilnya yang melaju kencang.

BRAAKKKK!

Mobil yang Naruto bawa terhantam truk besar, dan dengan seketika mobilnya terguling kencang di jalanan. Naruto yang berada di dalamnya, langsung tak sadarkan diri. Yang Ia tahu hanyalah tubuhnya yang sudah mati rasa.

"Kecelakaan! Hoi, panggil ambulans!"

"Tarik pengemudi mobilnya!" satu-persatu

"Mana ambulansnya!?"

Naruto yang ditarik dari dalam mobil segera di rebahkan di atas jalanan. Ia masih sadar, yang Naruto pikirkan saat itu hanya satu.

"Aku tidak mau membuat hinata menunggu lagi."

.

.

.

"Naruto... kecelakaan?" Sasuke yang mendapat telepon dari Sakura segera memberhentikan mobilnya. Satu jam lalu Ia baru saja menjemput Hinata yang kini duduk di sebelahnya. "Apa maksudmu?"

"Saat ingin menuju ke tempat janjian Hinata, dia terburu-buru dan akhirnya─"

"Bagaimana keadaannya?!"

"Entahlah," isak Sakura. "Dokter sedang melakukan operasi. Karena, tubuh Naruto hampir hancur karena kecelakaan tadi, jadi─"

"Sakura, tenangkan dirimu. Aku akan segera ke RS sekarang." Sasuke lalu mematikan ponselnya dan menatap Hinata di sebelahnya yang hanya terdiam. Hinata terlihat kehilangan rohnya sekarang.

"Naruto-kun.. kecelakaan?"

"Ya. Kenapa kau berbohong? Kau menunggunnya, 'kan? Dia belum menemuimu?"

"U-uhm.. Tapi, karena dia tidak datang juga, aku memintamu menjemputku."

"Hinata─"

"Tapi, dia terburu-buru di jalanan, padahal aku sudah tidak menunggunya." air mata Hinata langsung menetes. "Dia mengira aku masih menunggunya!"

"Hinata!" Sasuke mencengkram pundak Hinata kencang. "Kau sudah menunggunya, jadi itu sudah cukup. Kecelakaan itu bukan salahmu."

"Tapi, dia terburu-buru karena aku!" seru Hinata semakin kencang. "Bagaimana kalau terjadi apa-apa.."

"Kita ke RS sekarang." Sasuke segera kembali menginjak gas dan bergegas menuju Rumah Sakit dimana Naruto berada.

.

.

"Sakura! Dimana Naruto?!" tanya Sasuke saat sudah sampai di RS. Sakura yang merupakan perawat hanya bisa menangis. Ia terlihat tidak kuat untuk ikut dalam operasi yang sedang Naruto jalankan sekarang.

"Dia masih diruang ICU. Sasuke-kun, kenapa Naruto terburu-buru seperti itu? Padahal dia selalu membawa mobilnya hati-hati."

"Itu karena aku." bisik Hinata meski terdengar oleh Sasuke juga Sakura. "Maafkan aku, gara-gara aku dia.."

"Hinata, kau─"

"Hinata, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kejadian ini juga salah Naruto karena dia tidak berhati-hati."

"Dia tidak berhati-hati karena diriku, 'kan?!" seru Hinata. "Seharusnya aku tetap menunggunya.."

"Lalu apa yang kau dapat jika kau menunggunya?" tukas Sasuke tajam.

"Setidaknya─"

"Sudahlah, kita hanya tinggal berdoa saja." ujar Sasuke. Ia lalu menarik Hinata untuk duduk bersama Sakura. Mereka bertiga hanya diam. Yang terdengar hanya isakkan dari Sakura dan Hinata yang terus gemetar. Keringat dingin sudah membasahi pelipis Hinata. Ia benar-benar kehilangan akal saat ini. Yang ada hanya perasaan bersalahnya.

"Maafkan aku─" bisik Hinata seperti mendesis. "Maaf, maafkan aku─"

.

.


"Itulah yang terjadi. Kau tidak bersalah. Kami semua tahu itu, bahkan Naruto juga sudah tahu kamu tidak ada di tempat janjian itu." ujar Sakura.

"Benar, saat aku siuman dari koma, Sakura menceritakannya padaku. Tentang mengapa kau tidak ada di tempat janjian itu, dan tentang kau koma, Hinata. Rasa-rasanya, kita impas kan?" Naruto tersenyum lebar.

"Tapi─"

"Kau yang dulu selalu dipenuhi rasa bersalah. Selalu begitu, hingga kau cuti dari RS. Kau selalu memikirkan Naruto, bahkan selama koma, kau selalu merawat Naruto." jelas Sakura perlahan. "Tapi, karena hal itu, Sasuke.."

"Eh?"

"Kau mengacuhkan Sasuke." balas Gaara lagi-lagi merubah suasana kembali menjadi kelam. "Kau mau memutuskan pertunanganmu dengan Sasuke. Hanya karena kau mau memberikan seluruh hidupmu untuk Naruto karena rasa bersalah."

"A-aku berbuat begitu pada Sasuke-san?"

"Ya, puncaknya saat kejadian itu. Saat kau kecelakaan."


.

.

.

"Hinata, mau kemana kau?!"

"Ke-kemanapun bukan urusanmu, bukan? Kau sendiri pergi dengan siapapun sesuka hati.." Hinata mengambil kopernya dan segera bergegas menuju pintu depan. Lelaki yang sedari tadi duduk di atas sofanya segera berdiri dan menarik lengan Hinata kencang.

"Jangan menilaiku! Kau juga harus menilai dirimu! Kau pikir kenapa aku pergi? Itu karena kau selalu bersama laki-laki lain, kan? Kenapa kau hanya berpikir mengenai Naruto!"

"Lalu─?! Bi-biarkan aku pergi, Sasuke-kun!" Hinata mencoba melepaskan genggaman erat dari lelaki di depannya.

"Jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini sejengkal jari saja!" Sasuke kini menggenggam kedua tangan Hinata, membuat kopernya segera terjatuh.

"Kau menyakitiku.. Le-lepaskan.."

"Apa kau mau pergi menemui laki-laki itu lagi!? Kau mau menemui Naruto, lagi?!"

"Kamu tidak mengerti! Lepaskan aku─"

Sasuke yang masih emosi segera melepaskan tangan Hinata kasar.

"Lakukan sesukamu."

Mendengar kalimatnya, Hinata langsung mengambil kopernya dan bergegas membuka pintu.

"..sebaiknya kamu dinginkan kepalamu." Hinata lalu segera bergegas pergi dan berlalu keluar rumah. Lelaki yang masih menatap kepergian Hinata langsung berbalik, Ia mematung untuk tidak melihat sosok Hinata dari belakang.

BRAAKK!

Tepat beberapa detik setelah Hinata keluar, suara kericuhan mulai terdengar.

"Ada yang tertabrak!"

"Hei, panggil panggil ambulans! Jangan gerakan tubuhnya."

"Pengemudinya mabuk! Keluarkan dia dari sana!" Satu demi satu kalimat terlontar dari warga yang panik. Dada Sasuke kian menyusut saat mendengarnya. Takut apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Buru-buru Ia bergegas keluar dan menemukan Hinata sudah terkapar di atas aspal dengan lumuran darah segar.

Bukannya langsung menghampiri Hinata, kaki Sasuke langsung lemas dan kepalanya mulai kacau. Suara teriakannya menggema kencang hingga warga disana ikut berlari menenangkan dirinya. Dirinya yang sudah runtuh dalam sesaat.

.

.

.


TBC

Akhirnya update juga. Maaf ya kalau kalian jadi bingung karena dari flashback ke normal itu. hehehehe

Ya, sebenernya masalah naruto-hinata nggak berat-berat banget. Karena aku emang ga berniat buat yang berat. /dibuang

Next Chapter adalah yang terakhir! Wohoo~

Ceritanya mungkin lebih fokus ke hinata, atau sasuke? atau naruto ya?

Author sendiri gatau. /dilempar

Pokoknya terimakasih sudah mengikut cerita ini yang dikit banget tapi apdet lelet

See you next chapter!