"bukan...bukan seperti itu..." Heechul tidak bisa melanjutkan kata-katanya, sedangkan Hangeng harus menahan amarahnya didepan Heechul.

Donghae melangkahkan kakinya mendekati Sungmin, sebelum akhirnya tubuh Kyuhyun berdiri di depan Sungmin seolah ingin melindungi gadis itu.

.

.

MinnimieMing Present,

FanFiction

.

.

Cast : CHO KYUHYUN

LEE SUNGMIN

VICTORIA SONG

CHODONGHAE

.

.

Chapter : 3

.

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt.

.

Rate : T

.

Warning GS!

.

.

"jangan menyentuhnya, atau aku tidak akan segan-segan memukulmu". Kyuhyun berujar dengan nada beratnya, ia tidak peduli dengan tatapan terkejut dari ayah dan ibunya karena hati nuraninyalah yang memrintahkannya untuk melindungi Sungmin.

Namun sesuatu yang tidak ia duga terjadi, Donghae hanya berdecih pelan dan tertawa meledek.

"mengapa kau ingin sekali melindunginya, kau sudah jatuh cinta padanya? Sudah melupakan Victoria?" Kyuhyun terdiam, Heechul menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum akhirnya membuka suara.

"Sungmin adalah pelayan eomma"

"aah.. jadi eomma mempekerjakan anak dibawah umur?" Donghae menatap ibunya yang masih menahan tangis. Seandainya, seandainya saja Heechul bisa membawanya pergi dari jeratan ayahnya. Mungkin Donghae akan jauh lebih menghormati Heechul dari apapun didunia ini. Namun faktanya Heechul sama sekali tidak bisa membantunya, dan memilih untuk mengadopsi anak lagi bersama Hangeng.

"lebih baik kau cepat pergi dari rumah ini!" Hangeng berujar dengan keras, dan hanya dibalas oleh tawa meledek dari Donghae

"baiklah"

"apa yang kau lakukan Hannie? Bukankah kau sudah berjanji tidak akan mengusirnya jika suatu saat dia akan kembali, dan sekarang Donghae sudah kembali" Dengan cepat Heechul menahan lengan Donghae. tentu saja masih ia ingat saat dirinya jatuh sakit karena Donghae meninggalkannya, Hangeng berjanji akan membawa Donghae pulang dan tidak akan membiarkan putra mereka itu meninggalkan rumah lagi. Kemana janji Hangeng saat itu? Apa sebegitu bencinya Hangeng pada buah hatinya sendiri?

"Biarkan dia pergi aku sudah muak melihatnya!"

"TAPI DIA ANAKMU JUGA HANNIE!". Hangeng terdiam, ini kedua kalinya ia melihat Heechul yang begitu hancur, dan semua itu karena keegoisannya. Hangeng menatap Donghae yang tengah tersenyum meremehkan padanya. Dengan sekali hentakan Donghae melepas rangkulan tangan Heechul di lengannya membuat wanita paruh baya itu hampir terjatuh jika saja Kyuhyun tidak cepat menahannya.

"kau lihat? Aku hanya bisa menyakitimu lagi dan lagi, wajar jika kalian muak dengan kehadiranku. Sampai kapanpun keturunan Cho hanya dia" Donghae menunjuk kearah wajah Kyuhyun sebelum melanjutkan berbalik dan berjalan membelakangi keluarganya.

"sejak awal kalian memang tidak menyukaiku. Jika bisa memilih, aku ingin saat itu Tuhan tidak menghadirkanku berada di keluarga ini" tidak ada satupun yang membuka suara, ucapan Donghae seperti menampar keras Hangeng dan Heechul. Dengan memberanikan diri, Heechul menepis tangan Kyuhyun dan memeluk Donghae dari belakang.

"jangan pernah pergi lagi Hae, eomma mohon."

"sudahlah eomma, biarkan aku pergi"

"jika kau pergi lagi eomma akan bunuh diri!". Semua mata terbelalak mendengar ucapan Heechul, namun sepertinya wanita itu tidak main-main dengan ucapannya. Heechul meraih gelas wine yang tadi Hangeng letakan dimeja dan memecahkannya dengan cara membenturkannya ke meja. Hangeng dan Kyuhyun mencoba menghentikan sedangkan Sungmin yang bingung dengan situasi ini hampir menangis melihat Heechul.

"aku tidak akan main-main, satu langkah saja kau meninggalkan rumah ini, maka besok kau hanya akan melihat jasad ku tanpa nyawa Cho Donghae" suara Heechul berubah tajam, Donghae membalikan tubunya dan mendekat kearah Heechul. Tanpa disangka namja itu menahan gelas yang di pegang Heechul hingga dari tangannya mengalir darah segar. Heechul tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan putranya.

"a...apa yang kau lakukan?"

"harusnya aku yang bertanya, apa yang eomma lakukan?"

"hiks...eomma mohon jangan tinggalkan eomma" Heechul melepaskan pecahan gelas itu kelantai dan memeluk tubuh putranya dengan erat

"aku tidak akan pergi lagi, tapi syarat kalian tidak perlu menekanku lagi dan jangan ikut campur urusanku"

.

.

.

~~~MinnimieMing~~~

.

.

.

Heechul dengan telaten menutupi luka dengan perban hingga mengelilingi pergelangan sang putra, ia sudah cukup puas dengan kehadiran Donghae dirumahnya lagi. Tidak peduli jika Hangeng akan marah padanya, yang jelas saat ini Heechul hanya ingin melepas rindu pada buah hatinya yang sudah 25 tahun ini hidup bersamanya.

"katakan pada eomma dimana kau tinggal selama ini?" Donghae tersenyum lembut.

"aku tinggal ditempat yang menyenangkan, disana mereka menghargaiku dan menganggapku ada" tangan Heechul berhenti membalut luka di tangan Donghae, jawab putranya benar-benar kembali seolah menampar wajahnya.

"Hae-ya"

"aku akan kembali kuliah besok, bagaimanapun juga aku masih ingin meneruskan impianku. Impian yang di larang oleh kedua orang tuaku. Tapi eomma tidak perlu khawatir, selama Kyuhyun bekerja dengan baik, perusahaan kalian tidak akan bisa hancur"

.

.

.

"terima kasih tuan muda, seharusnya tidak perlu sampai seperti ini". Sungmin mengambil dengan cepat beberapa bungkus baju yang berada di tangan Kyuhyun. Namja tampan itu tidak membuka suara sejak perkelahian Donghae dan keluarga Cho tadi.

"Tuan muda..."

"hmm?" Kyuhyun hanya bergumam, matanya memperhatikan kamar Sungmin yang mungil namun terlihat nyaman itu, kamar yang Sungmin selalu rawat karena gadis itu pikir hanya kamar inilah tempat tinggalnya.

"kau tampak sehat sekali, aku senang" Kyuhyun beralih menatap Sungmin, wajah itu terlihat sedikit berbeda dari saat pertama kali ia bertemu dengan Sungmin dirumah ini, Heechul benar-benar merubah semua gaya Sungmin bukan sebagai pelayan biasa namun menjadi nona muda yang sangat cantik. Seandainya bisa ia ingin memeluk Sungmin sekarang, dan bercerita banyak hal yang ingin ia katakan pada Sungmin selama duabelas tahun ini. Tetapi lagi-lagi ia harus mengingat posisinya sekarang.

"berhentilah berkata jika kau memang sudah lama mengenalku" Kyuhyun menahan suaranya takut jika pelayan lain yang tengah terlelap mendengar kata-katanya. Senyum yang tadi mengembang di bibir Sungmin mengilang.

"tapi kita memang sudah mengenal sejak kecil. Apa yang salah denganmu Kyu? Mengapa kau jadi seperti ini?" Sungmin menundukan kepalanya, tidak siap mendapat tatapan dingin dari Kyuhyun.

"sudah ku bilang..aku..."

"maaf.. maafkan aku tuan muda, ah lebih baik anda segera beristirahat. Saya harus menemui nyonya Cho" Sungmin membungkukan badannya dan berlalu meninggalkan Kyuhyun didalam kamarnya.

Namja itu masih memperhatikan kamar Sungmin, disana hanya ada kasur lantai dan sebuah meja belajar kecil dengan lampu serta buku-buku musik, semuanya terlihat sangat rapih walaupun tidak ada lemari pakaian dan semua baju hanya dilipat dipada sebuah keranjang besar.

Kaki panjangnya melangkah kearah meja belajar itu dan melihat sebuah pigura disana, pigura kecil menampilkan dua kebahagiaan anak berusia 5 tahun tengah tersenyum lebar menatap kamera. Itu adalah fotonya dengan Sungmin saat berumur 5 tahun. Wajah Sungmin masih sama hanya wajahya yang sedikit berbeda termakan usia.

Jantungnya berdetak tidak karuan, bahkan pekerjaannya di kantor tadi tidak bisa fokus hanya karena memikirkan Sungmin dan lagi, baru kali ini Kyuhyun merasa ketidakhadiran Victoria di sisinya hari ini tidaklah penting..

"jika hari itu akan tiba, berjanjilah padaku untuk kembali kesisiku Ming. Namun jika hari itu tidak akan pernah ada, kau benar-benar harus pergi dari kehidupanku yang kejam ini"

.

.

.

MinnimieMing~~~

.

.

.

Sungmin berjalan sendirian ditaman belakang rumah keluarga Cho, taman yang indah karena disana banyak sekali bunga, ditambah dengan bangku raman dan lampu-lampunya, yang paling menonjol dari taman indah itu karena kolam renang luas yang sangat bersih. Gadis cantik itu mendudukan tubuhnya di samping kolam dan memasukan kakinya kedalam air.

Tentu saja ia berbohong untuk menemui Heechul pada Kyuhyun, alasannya karena Sungmin terlalu takut menerima kata-kata dan tatapan tajam dari Kyuhyun. Sungmin meraih kalung yang selalu melingkar di lehernya, kalung yang selalu mengingatkannya pada masa lalunya yang bahagia. Tidak peduli dimana kedua orang tuanya, tapi Sungmin memiliki ibu panti dan teman-teman pantinya yang selalu mengisi hari-harinya. Semua itu tampak membahagiakan

"eomma.. aku merindukanmu". Sungmin menundukan kepalanya, satu persatu air mata menetes kepangkuannya.

"apa yang kau lakukan tengah malam begini?" suara itu mengagetkan Sungmin, dengan cepat ia menghapus air mata diwajahnya dan berbalik menatap sosok tampan yang baru hari ini ia lihat dan baru nama saja yang Sungmin tau.

"selamat malam tuan muda" Sungmin membungkukkan badan dalam duduknya, Donghae hanya membalasnya dengan anggukan pelan dan memilih duduk disalah satu kursi taman tidak jauh dari Sungmin.

"kau tidak menjawab pertanyaanku"

"ah.. saya hanya merasa bosan dikamar..."

"jika kau bosan seharusnya kau tidur, bahkan ini sudah lewat tengah malam" Donghae memotong kata-kata Sungmin, membuat gadis itu seolah kehilangan alasan lain

"aku..."

"kemarilah". Donghae menepuk tempat di sampingnya, dengan cepat Sungmin beranjak dan duduk disamping Donghae.

"siapa namamu?"

"Sungmin...Lee Sungmin"

"nama yang cantik, seperti pemiliknya" wajah Sungmin memerah gadis cantik itu hanya menatap kakinya telanjangnya.

"apa kau benar pelayan eommaku?"

"ne?"

Donghae memperhatikan Sungmin dari ujung kaki hingga kewajah cantiknya yang masih menggunakan make up tipis.

"bahkan penampilanmu sama sekali tidak persis seperti seorang pelayan". Ujar Donghae, saat itu juga Sungmin sadar dengan perubahan gaya pakaian serta tatanan rambutnya yang beberapa jam yang lalu di ubah total oleh Heechul.

"itu...karena tadi nyonya Cho membawaku kesalon" jawab Sungmin gugup, entahlah ia masih sedikit sulit berbicara dengan Donghae apalagi saat melihat bagaimana tuan Cho sepertinya sangat tidak menyukai laki-laki ini.

"eomma memang sangat berlebihan, karena eomma ku sangat menginginkan anak perempuan" Donghae tesenyum lebar. Sungmin tertegun. Ini pertama kalinya ia melihat Donghae tesenyum, dan terlihat sangat tampan.

"apa tangan tuan baik-baik saja?apa masih sakit?" tanya Sungmin mengalihkan pembicaraan, Donghae menatap tangannya yang baru diperban oleh sang ibu. Heechul tertidur di dalam kamarnya dengan alasan takut ia akan meninggalkan keluarganya lagi. Tapi Donghae yang tidak bisa tidur memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi rumah yang sudah 5 bulan ini tidak ia tempati bersama keluarganya.

"ini tidak ada apa-apanya, lebih menyakitkan lagi saat melihat ibumu mencoba bunuh diri karena keegoisanmu sendiri"

"terima kasih sudah kembali tuan muda dan selamat datang kembali kerumah ini". Sungmin tersenyum menampilkan gigi kelincinya yang cantik, membuat Donghae yang sejak awal melihat Sungmin sudah gemas langsung mengacak rambut gadis cantik itu.

"mengapa malah kau yang berterima kasih?"

"karena nyonya Cho pasti senang dengan kehadiran tuan muda" Donghae memutar bola matanya jengah saat mendengar panggilan Sungmin untuknya.

"berhenti memanggilku tuan muda, panggil Donghae atau oppa saja"

"eoh? Apa itu tidak keterlaluan?"

"tidak"

"tapi bagaimana jika..."

"aku lapar sekali, bisakah kau membuatkanku ramen?" ucap Donghae memotong kata-kata Sungmin. Sungmin berkedip cepat sebelum akhirnya mengangguk setuju.

.

.

.

"woaah.. kelihatannya sangat enak, terima kasih Sungmin" Donghae manatap takjub ramen buatan Sungmin, ramen ini terlihat seperti makanan restoran. walaupun para koki selalu memasak makanan layaknya hotel berbintang namun menurut Donghae baru kali ini ia melihat masakan sederhana yang di buat mewah dan itu adalah buatan Sungmin.

"aku hanya memperlajarinya saat menjadi pelayan di kedai ramen dulu, lagi pula sayuran dan daging disini sangat lengkap jadi aku mencampurkannya saja". Balas Sungmin senang, tentu saja ia sangat senang dengan reaksi Donghae.

Donghae baru saja hendak memasukan ramen hangat itu kedalam mulutnya, namun tertunda saat melihat sosok tampan lainnya yang tengah turun dari tangga dan berjalan kearah mereka.

Sungmin memperhatikan Kyuhyun yang tengah berjalan pelan dengan tangannya sebelah dimasukan kedalam celana tidurnya yang panjang. Tampan sekali dengan wajah yang selalu menampilkan tatapan dingin pada siapapun.

"ada yang bisa saya bantu tuan muda?"ucap Sungmin, namun Kyuhyun tidak menjawab sama sekali dan berlalu menuju kulkas besar mengambil sebuah air mineral. Sungmin menunduk sedih, padahal ini bukan pertama kalinya Kyuhyun mengabaikannya. Tapi mengingat bagaimana tadi Kyuhyun begitu perhatian padanya membuat Sungmin sedikit banyak berharap dengan perubahan sikap Kyuhyun.

"biarkan saja dia, Min. dia terlalu angkuh mungkin karena dia benar-benar menjadi Cho sesungguhnya" Donghae berujar dengan penuh penekanan, bagaimana dia sangat membenci kehadiran Kyuhyun di tengah-tengah keluarga Cho sejak awal.

Sungmin dan Kyuhyun terdiam mendengar penuturan Donghae, lebih tepatnya Kyuhyun yang berusaha menenangkan pikirannya dan mengabaikan kata-kata yang selalu ia dengar dari mulut 'Hyung'nya itu.

Kyuhyun meletakan gelas yang tadi ia gunakan dengan kasar sebelum akhirnya kembali melangkah kearah kamar.

"senang bertemu denganmu lagi Cho Kyuhyun, dan aku yakin justru kau yang muak bertemu denganku lagi dirumah ini. Ah kau tidak perlu memusingkan keberadaanku dirumah ini karena memang rumahmu sebenarnya ada di dalam ruangan pribadi di perusahaan ayahmu". Kyuhyun menghentikan langkahnya, tangannya terkepal erat mencoba menahan amarah. Sedangkan Donghae tersenyum puas melihat kepalan tangan Kyuhyun dan memilih melanjutkan makannya saat Kyuhyun benar-benar hilang dari pandangannya.

"apa kau tidak memiliki hubungan yang baik dengan tuan muda Kyuhyun?" tanya Sungmin pelan, Donghae hanya menggeleng pelan

"wae?"

"karena dia bukan adik kandungku". Jawab Donghae santai,Sungmin terdiam.

'aku bukan Kyuhyunmu, aku adalah Cho Kyuhyun.. putra dari Cho Hangeng dan Cho Heechul, aku harap kau tidak membahas masa laluku pada siapapun..'

Sungmin ingat kata-kata Kyuhyun diawal pertemuan mereka, saat itu Kyuhyun benar-benar memintanya untuk melupakan masa lalu mereka. Sungmin benar-benar tidak tau apa yang terjadi dengan keluarga ini,

"kau melamunkan apa?"

"eoh?" Sungmin tidak sadar jika Donghae sudah menyelesaikan acara makannya.

"kau pasti bingung dengan kata-kataku tadi, yang jelas Cho Kyuhyunlah anak yang paling disayang oleh kedua orang tuaku. Kadang aku berpikir apa benar Kyuhyun bukan anak mereka atau justru aku yang ternyata bukan keturunan Cho yang sebenarnya"

"kelihatannya tidak seperti itu"

"maksudmu?" tanya Donghae tidak mengerti.

"sudah beberapa hari aku tinggal disini dan aku pernah melihat tuan besar Cho bertengkar dengan tuan muda" jelas Sungmin, Donghae hanya mengeryitkan dahinya bingung.

"dia sudah seperti itu sejak dulu, mungkin dia pikir saat diadopsi oleh keluarga ini ia akan hidup bahagia, hahaha sayangnya keluarga ini hanya memanfaatkannya"

"a...apa benar seperti itu?" Sungmin kehabisan kata-kata, jadi benar jika tinggal dirumah ini Kyuhyun tidak bahagia.

Donghae yang memperhatikan raut wajah Sungmin mendadak aneh, dan sedikit berpikir-pikir jika Sungmin sudah mengenal Kyuhyun sejak lama.

"kau akan tau suatu saat nanti. sepertinya aku harus kembali kekamar atau eomma akan mencariku. Kau juga harus beristirahat Sungmin dan terima kasih untuk hidangan luar biasanya". Donghae berlalu meninggalkan Sungmin di meja makan. Kepala gadis itu masih tertunduk, matanya mulai panas. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar bahwa Kyuhyun hanya dimanfaatkan oleh keluarga ini, sebelumnya para pelayan sudah membicarakan ini namun Sungmin berusaha berusaha untuk menampik pemikiran itu

.

.

.

~~~MinnimieMing~~~

.

.

.

Suasana diruang makan keluarga Cho terlihat berbeda dari beberapa hari sebelumnya, karena bangku yang biasanya kosong disamping Kyuhyun kini diisi oleh kedatangan Donghae. Namun suasananya tetaplah sama, hanya ada keheningan dan suasana sedikit kaku.

"aku pergi". Ucap Kyuhyun setelah selesai dengan makannya, bahkan makanan itu belum habis sepenuhnya. Kyuhyun benar-benar kehilangan napsu makannya pagi ini karena kehadiran Donghae.

Heechul hanya mengatakan 'hati-hati' sedangkan sang kepala keluarga Cho hanya diam dan melanjutkan makannya dengan tenang.

"aku akan kembali ke Kyunghee" ujar Donghae membuka percakapan, Hangeng yang tengah menyesap kopi paginya menatap putranya datar.

"kau masih mengharapkan impian konyolmu itu?"

"APPA!" Hangeng berlalu meninggalkan meja makan, mengabaikan teriakan Donghae yang ingin protes dengan ucapan Hangeng tentang mimpi mimpinya.

"Hae sudahlah"

"aku semakin tidak mengenal kalian" Donghae bangun dari duduknya dan meninggalkan Heechul yang tengah menunduk dalam, bukan salah putranya yang tidak menginginkan untuk tinggal dirumah ini. Karena faktanya dirumah ini memang tidak dipenuhi cinta oleh seluruh penghuninya.

Sungmin masih berdiri dibelakang Heechul, gadis manis itu mulai terbiasa melihat hubungan kaku dikerluarga Cho. Apa lagi kini Sungmin tau jika Donghaelah sebenarnya putra keluaga Cho namun mereka memilih Kyuhyun untuk meneruskan perusahaan Cho yang sangat besar itu. Mengingat hal itu membuat Sungmin sedih. Dulu Kyuhyun memang sangat menginginkan tinggal dirumah mewah dan memiliki perusahaan besar, tapi sepertinya impiannya itu tidak seindah keadaannya yang sekarang. Rumah mewah dan perusahaan besar tidak menjamin hidupmu akan bahagia.

"Sungmin, mengapa kau melamun?"

"ah maaf..." Heechul tersenyum, tangan cantiknya mengusap rambut Sungmin dengan sayang. Sungmin yang mendapatkan perlakuan lembut itu hanya memejamkan matanya sejenak dan membalas senyum Heechul.

"cepatlah mengganti pakaianmu, bukankah kau harus kuliah pagi ini?"

"kalau begitu aku permisi, Nyonya Cho" Sungmin membungkukan badannya dan berlalu meninggalkan Heechul. Wanita paruh baya itu memperhatikan Sungmin hingga menghilang di balik dinding. Mata indahnya menatap betapa besarnya rumah ini, rumah yang Hangeng beli setelah mereka tiba dari China beberapa tahun lalu. Heechul tidak menyangka takdir begitu mempermainkan kehidupannya. Heechul pikir pernikahannya dengan Hangeng akan membawanya kekehidupan yang bahagia, memiliki putra putri yang mencintainya dan ia akan menjadi ibu yang sempurna. Tapi semua itu hanya angannya saja karena kini tidak ada satupun yang berada di pihaknya sekalipun itu putranya sendiri.

"nyonya..." seorang pelayan paruh baya mendekat kearah Heechul yang tengah menghapus air matanya dengan kasar.

"ada apa?" tanya Heechul dengan nada sedikit serak, hidungnya memerah menahan tangis dan pelayan itu hanya menunduk seraya menyerahkan sebuah map coklat.

"sepertinya itu milik tuan muda Kyuhyun, saya menemukannya di atas meja kerjanya saat ingin membersihkan ruangan tuan muda". Jawab pelayan itu, Heechul meraih mapnya dan membuka lalu membaca isi dari map itu.

"ini adalah berkas rapatnya siang ini, dimana tuan Kim? Katakan ia harus mengantar berkas ini ke kantor Kyuhyun"

"maaf nyonya, tapi tuan Kim baru saja meminta izin pada tuan besar untuk cuti karena anaknya sedang sakit". Heechul menatap pelayan itu seraya mengigit bibirnya, mencoba berpikir cara lain. Jika saja hari ini ia pun tidak ada pertemuan di KyungHee, mungkin Heechul akan membawa berkas ini dan membawa makan siang untuk Kyuhyun. Tapi urusannya lebih mendesak lagi dari pada secarik kertas digenggamannya ini. Tidak mungkin juga Heechul meminta tolong pada Donghae, jelas sekali jika putranya itu tidak menyukai Kyuhyun sejak dulu.

"kalau begitu..." Heechul menghentikan kata-katanya saat melihat Sungmin yang berjalan tergesa seraya melihat jam di pergelangan tangannya, wanita cantik itu tersenyum tipis melihat pakaian dan tatanan rambut Sungmin yang begitu cantik.

"Sungmin-ah".

Sungmin menghentikan langkahnya dan berjalan cepat kearah Heechul.

"ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanyanya sopan, Heechul tidak bisa berhenti menyayangi sosok manis ini. Bahkan sejak dua belas tahun yang lalu.

"bisa tolong kau antarkan berkas ini ke Cho Corp, Kyuhyun meninggalkan berkas penting itu, tempatnya tidak jauh dari Kyunghee. Aku akan memberikan alamatnya untukmu" Sungmin meraih map berwarna coklat itu dan menatapnya , memberikan map ini sama saja dengan bertemu Kyuhyun. Entahlah semakin ia sering bertemu dengan Kyuhyun semakin terasa aneh pula debaran di jantungnya. Sungmin belum pernah merasakan hal seperti itu pada laki-laki manapun.

"Eomma aku berangkat" Donghae yang baru saja turun dari tangga, Donghae mendekat kearah Heechul dan melihat Sungmin serta satu pelayan lagi didekatnya

"Lee Sungmin, mengapa kau diam saja" tanya Donghae saat memperhatikan Sungmin yang tengah memegang sebuah map coklat ditangannya. Gadis manis itu seperti sedang berpikir keras.

"ah.. maaf , bisakah aku mengantar berkas ini jam 10 nanti? Hari ini hanya ada satu mata kuliah" ucap Sungmin tidak enak, jika Heechul menolak permintaannya maka Sungmin pun harus rela meninggalkan jam belajarnya hanya untuk selembar kertas penting ditangannya ini.

Namun ia melihat Heechul seperti menahan tawa dan wanita paruh baya itu mengangguk pelan.

"sepertinya Kyuhyun membutuhkan itu setelah jam makan siang" jawab Heechul. Donghae hanya menatap bingung kearah Heechul dan Sungmin

"jadi kau juga kuliah?" Donghae memperhatikan pakaian Sungmin dari bawah ke atas

'cantik sekali'

"ah iya tuan muda, saya kuliah di KyungHee" jawab Sungmin sopan. Donghae semakin tidak yakin jika gadis di depannya ini benar-benar pelayan ibunya.

"kau sudah ingin berangkat? Cepatlah nanti kalian telat"

"baiklah kalau begitu aku permisi nyonya, tuan muda" Sungmin melangkah sebelum sebuah tangan mencekal lengannya

"kau bilang, kau akan pergi ke Kyunghee bukan?" tanya Donghae, Sungmin yang bingung hanya menganggukan kepalanya pelan.

"kalau begitu kau bisa pergi bersamaku". Namja tampan itu menarik tangan Sungmin dengan cepat mengabaikan Sungmin yang panik karena harus menumpang pada Donghae, dan Heechul yang melihat sifat putranya hanya tertawa seraya menggelengkan kepala.

.

.

.

"lihat-lihat bukan kah itu Donghae? Mahasiswa pasca sarjana?"

"benar, bukankah dia sudah dikeluarkan dari kampus ini?"

"astaga, dia bersama seorang gadis!"

"gadis itu, ya Tuhan bukankah itu wanita sampah yang tiba-tiba datang ke Kyunghee? Kau lihat gaya pakaiannya sekarang"

"aku bertaruh jika dia adalah pelacur Donghae"

Sungmin menundukkan kepalanya saat semua sindiran yang ia dengar di sepanjang koridor terdengar ketelinganya. Ia tidak berani mengegakkan kepalanya, sekalipun mereka mengatakan jika dirinya adalah pelacur Donghae.

Donghae yang berada di depan Sungminpun menahan geram pada semua perempuan yang membicarakannya dan Sungmin.

Perjalanan sepanjang koridor itu terasa sangat jauh bagi Sungmin, hingga keduanya sampai didepan kelas Sungmin. Jika saja Donghae tidak penasaran dan memaksa Sungmin untuk ia antar sampai kelasnya, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Sekarang Sungmin bukanlah lagi dicap sebagai gadis miskin dan sampah KyungHee tapi seorang pelaucur dari anak pemilik Kyunghee.

"maaf membawamu dalam kondisi sulit, tapi jika kau bisa bertahan kau hanya perlu mengabaikan mereka" Sungmin menganggukan kepalanya dan menatap Donghae dengan tersenyum. Lagi-lagi Donghae harus terpesona dengan itu.

"haruskah aku memberitahu mereka jika aku tidak lebih dari seorang pelayan dari keluarga Cho?"

"kau tidak perlu melakukan itu. jika mereka mengatakan hal yang merendahkan dirimu, kau berhak membela dirimu sendiri Sungmin". Donghae mengusap rambut Sungmin pelan sebelum berbalik arah meninggalkan Sungmin.

"tu...tuan tunggu dulu" . Donghae memejamkan matanya, sedikit kesal dengan panggilan Sungmin untuknya.

"ada apa lagi?" tanya Donghae datar, tanpa berbalik menatap Sungmin. Gadis itu pun mau tidak mau berlari kecil untuk bisa berdiri didepan Donghae.

"hari ini aku harus pergi ke kantor Cho Corp, jadi tuan bisa pulang lebih dulu"

"untuk apa kau pergi kesana?". Sungmin belum menajawa dan meraih sebuah map berstempel Cho Corp di luarnya dan memperlihatkannya pada Donghae.

"aku harus mengantar ini pada Kyu...ah maksudku aku harus mengantar ini pada tuan muda Kyuhyun karena berkas ini sangat penting" Sungmin sedikit mengigit bibir bawahnya, hampir saja ia mengatakan hal yang konyol di depan Donghae.

"kalau begitu aku akan mengantarmu kesana.. kau tidak tahu tempatnya bukan?"

"itu...aku lupa mengatakannya pada nyonya Cho" Sungmin menunduk.

"baiklah, setelah selesai dengan kelasmu kau bisa menemuiku di parkiran mobil. Belajarlah dengan baik Lee Sungmin" Donghae meninggalkan Sungmin yang masih melamun ditempatnya. Baru kali ini ada seseorang yang mengatakan itu selain ibu pantinya.

"jadi benar yang aku dengar jika kau dekat dengan Donghae? Ku pikir itu bukan Cho Donghae tapi melihatnya bersamamu membuatku yakin jika dia adalah Cho Donghae". Seorang wanita merangkul Sungmin tiba-tiba, Sungmin pun yang awalnya terkejut langsung memamerkan senyum manisnya pada sosok sahabat barunya itu.

"ya, dan kau tau sendiri siapa aku dikeluarga Cho bukan?" tanya Sungmin, dan Eunhyuk hanya mengangguk maklum. Keduanya berjalan masuk kedalam kelas.

"tapi Donghae mau mengantarmu hingga kekelas, bukankah itu luar biasa?"

"dia yang memaksaku, aku tidak tau apa yang ada didalam otaknya. Bahkan baru sehari aku mengenalnya". Jelas Sungmin, Eunhyuk tampak berpikir sebentar sebelum melanjutkan percakapan mereka.

"aneh sekali, setelah lima bulan meninggalkan Kyunghee kini ia kembali lagi" gumam Eunhyuk pelan.

"apa kau tau banyak tentang Cho Donghae?" tanya Sungmin penasaran

"tentu saja, aku ini pengagum rahasianya"

"apa?!"

.

.

.

~~~MinnimieMing~~~

.

.

.

Sungmin menatap kagum bangunan besar didepannya, bangunan dengan lantai 30 itu menjulang tinggi dengan angkuhnya. Sungmin tidak percaya jika sahabatnya lah yang memegang alih seluruh isi gedung ini, sempat terpikir olehnya jika impian Kyuhyun untuk memiliki perusahan besar akhirnya tercapai, tapi setelah melihat wajah datar dan angkuhnya saja Sungmin sudah menebak jika Kyuhyun benar-benar tidak tahan tinggal dan mengurus perusahaan ini.

"mengapa berdiri disana? Ayo cepat masuk" teriak seseorang didepannya, sosok itulah yang harusnya berada di kursi direktur perusahaan ini namun sikap Donghae yang selalu sesukanya tidak mungkin akan mendapatkan kepercayaan sekalipun itu dari ayahnya sendiri untuk meneruskan Cho Corp.

"perusahaan ini besar sekali" ucap Sungmin saat keduanya sudah memasuki lobby kantor dan bersiap menaiki lift menuju ruangan Kyuhyun.

"tentu saja bocah itu berperan seperti robot disini, dan hasilnya sangat luar biasa. Ayahku bahkan tidak ada apa-apanya dengan kejeniusan Kyuhyun"

"apa benar, keluarga Cho hanya memanfaatkan Kyuhyun?" tanya Sungmin sendu, Donghae yang mendengarnya hanya berpikir jika Sungmin menaruh simpati pada Kyuhyun.

"kenapa kau begitu peduli padanya?"

"ah..itu karena tuan muda Kyuhyun baik padaku" jawab Sungmin seadanya, namun Donghae tidak membalas. Hingga akhirnya mereka sampai ke lantai 10 dimana ruangan seluruh jajaran tertinggi Cho Corp berada di lantai itu.

Sungmin mengikuti langkah Donghae yang lebar, sesekali beberapa karyawan menatap mereka. Sungmin bahkan menyadari jika tidak ada satupun karyawan yang hormat pada Donghae yang notebanenya adalah putra Cho Hangeng

'selamanya keturunan Cho hanya dia...'

Sungmin ingat sekarang. Bisa saja Hangeng mengenalkan Kyuhyun sebagai putra tunggalnya hingga tidak ada yang mengetahui jika putra semata wayang keluarga Cho yang sebenarnya adalah Donghae.

"apa kau pernah kesini sebelumnya?" tanya Sungmin memecahkan keheningan diantara mereka, di lantai ini terlalu luas dan mewah, Sungmin yakin ia tidak akan bisa menghapal pintu keluar menuju lift tadi.

"aku datang kesini saat pertama kali Cho Corp Korea dibangun"

"jadi kantor ini adalah kantor baru? Pantas saja masih terlihat bagus"

"hmm.. kantor pusat Cho Corp sebenarnya berada di China" jelas Donghae, Sungmin hanya menganggukan kepalanya pelan. Tangannya masih memeluk map coklat berisi berkas milik Kyuhyun.

Donghae seolah tidak peduli dengan siapapun yang berada di dalam ruangan dan langsung membuka pintu ruangan Kyuhyun dengan kasar.

'ckleek

'praakk

Suara pintu terbuka dan jatuhnya map yang di pegang Sungmin membuat sepasang kekasih yang tengah bercumbu itu mengalihkan kegiatan mereka.

Tangan Sungmin bergetar hebat, jantungnya kembali berdetak tidak normal. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Kyuhyun dan seorang wanita didalam ruangan itu tengah berciuman panas.

'perasaan apa ini? Mengapa rasanya harus sesakit ini?'

.

.

.

TBC

.

.

.

Hayoloh, ini apa? Maaf kalau masih banyak typo

Saya ngetik aja sampe seminggu lebih, ini cerita sebenernya masih nyambung apa ngga?

Maaf banget kalau KyuMin momentnya kurang, mungkin di chap selanjutnya aku perbanyak KyuMin momentnya.

Hanya untuk mengikuti jalan ceritanya biar jelas bukan bermaksud memisahkan Kyuhyun dari Sungmin ahahahahaaaa

Ini endingnya udah di dalam otak loh, tinggal tumpahin kedalam bentuk tulisan aja. Jadi buat kalian semoga mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir ^_^

.

.

StellaChoi, 28 November 2016