Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui

Kepingan Kisah by La Miyaa

Warning(s) :

AU, AT, child!Karma, OOC (maybe), typo

Rated : T

Summary :

Sempurna. Itulah hal yang diincar oleh banyak orang. Otak jenius yang dimiliki Karma membuatnya diculik. Apa alasan di balik penculikan itu?/ Kau hanya anak kecil yang kesepian./ Apa kau penguntit, tuan?/

Please Enjoy!

Kepingan Kisah

"Kotak itu hilang?" pria itu menampilkan sorot mata tajam, membuat yang berdiri di hadapannya menciutkan nyali.

"Asano-kun." Seorang wanita berambut pirang berdiri di ambang pintu.

"Ikut denganku. Kau harus melihat ini," kemudian pergi meninggalkan pria itu yang tak lama kemudian mengekorinya.

Selanjutnya yang dilihat membuat matanya memicing. Bagi orang yang tidak terbiasa, sedikit kejanggalan –apalagi sekecil itu— akan tertangkap oleh mata. Namun, tidak bagi seorang Asano Gakushuu yang dengan mudah melihat kejanggalan itu.

"Apa-apaan ini?" ucapnya seraya menghampiri sebuah brangkas besar.

"Mereka tidak meninggalkan jejak sedikitpun," jelas wanita pirang di sampingnya. "Kau pikir orang macam apa yang mampu memecahkan rangkaian kode serumit itu? Dan juga—"

"Nakamura, aku ingi melihat rekaman CCTV terakhir sebelum kotak itu hilang," Asano memotong perkataan Nakamura.

"Aku sudah membawanya," wanita itu menyalakan laptopnya, membuka berkas-berkas di dalamnya. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard.

"Lihatlah baik-baik, mungkin kau bisa melihat sesuatu yang janggal, yang tak bisa kulihat." Nakamura menyerahkan laptopnya, Asano langsung melihat video itu dengan seksama. Memperhatikan semua gerak-gerik banyak orang di dalam sana.

Tidak ada, Asano menggeleng pelan. Dia mengatakan hal yang sama pada dua video berikutnya. Namun, di video ketiga matanya menangkap sesuatu—

"Itu dia," Asano menunjuk seseorang dengan seragam petugas, me-pause kemudian zoom untuk melihatnya lebih jelas. Nakamura mendekat.

"Apa yang kau lihat?" tanyanya seraya menundukkan kepala ke arah layar.

"Orang itu, dia terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang."

"Alat komuikasi?" Nakamura bertanya "Mungkin dia memakai sesuatu."

Kemudian mata Asano menangkap satu titik—

"Pulpen itu, itu dia."

"Apa disini ada rekaman dari sudut lain?" Ah, tepatnya di pintu masuk." Asano bertanya pada Nakamura. Dia mengambil alih laptopnya. Jari-jarinya kembali menari di atas keyboard.

"Sepertinya ada di sini. Ini rekaman yang terakhir, lihatlah..." Asano kembali mengamati video.

Berbagai macam orang berlalu-lalang, keluar masuk –ah itu tidak penting— mata Asano bergerak mengikuti gerakan orang-orang itu. Berhenti pada sosok wanita berambut pirang yang sedang berbicara dengan seorang petugas di sana. Memicingkan mata, sedikit heran, apa yang dilakukan wanita cantik sepertinya dengan seorang petugas kebersihan. Namun...dia tidak melihat sesuatu yang aneh dengannya.

Kemudian sepasang mata violetnya kembali mengamati yang lain. Jatuh pada seorang bocah berambut merah yang sedang duduk didampingi ibunya –pikir Asano. Tunggu, dia sedang berbicara dengan siapa? Sedari tadi ibunya hanya membaca kertas di tangannya. Tidak, ini pasti ada hubungannya dengan yang tadi. Asano mencatat waktu pada video itu, lalu kembali membuka video yang pertama, melihat waktunya, dan...sama persis. Got you.

"Nakamura, aku sudah menemukannya. Sekarang kuserahkan sisanya padamu." Asano menyerahkan laptopnya dan catatan kecil di dalamnya.

"Baiklah, aku akan menyelesaikannya secepat mungkin." Nakamura menerima laptopnya dan selanjutnya berkutat dengan papan tipis itu. Memeriksa semua jaringan yang mungkin saja pernah menangkap wajah mereka.

Wanita itu memiliki jaringan informasi yang luas yang dapat menemukan siapapun dengan mudah, kecuali jika kau sangat cerdas dalam menyembunyikan identitasmu.

Sementara Nakamura sibuk dengan laptopnya, Asano sedang mengamati brankas yang baru beberapa saat lalu kehilangan isinya. Jujur, ia sangat kagum pada entah siapa yang sanggup membobol brankas itu.

Brankas dengan sistem terbaru, namun masih menggunakan model lama. Dengan empat pintu sekaligus dan masing-masing pintu harus dibuka sendiri-sendiri. Lapis kedua terhubung dengan lapis keempat. Sedangkan lapis pertama dan lapis ketiga terpisah. Satu kesalahan memutar angka saja pintu akan kembali pada keadaan awal meskipun sudah mencapai lapis ketiga.

"Setahuku hanya orang-orang khusus yang tahu kuncinya," Asano bergumam "Tidak. Lebih tepatnya hanya satu orang," kemudian dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi seseorang. Tedengar nada sambung beberapa saat lalu diikuti dengan suara khas orang setengah baya.

"Halo. Ada perlu apa?"

"Dapatkah saya bertemu dengan Anda sekarang?"

"Ya tentu. Tapi satu jam lagi. Bagaimana?"

"Baiklah." Sambungan diputus oleh Asano. Setelah dia memasukkan ponselnya kembali ke saku, dia mengamati brankas, lagi. Pelakunya orang dalam? Tidak. Mereka sudah pasti akan terdeteksi karena chip itu.

Tiga hari yang lalu ada pengecekan rutin. Dua hari berikutnya kotak itu menghilang dan sehari sebelum kotak itu menghilang ada seorang wanita pirang berbicara dengan petugas kebersihan.

"Asano-kun," suara itu sedikit mengejutkan Asano yang sedang berfikir.

"Ya, ada apa?"

"Aku sudah menemukan dalangnya. Mereka adalah organisasi yang sudah lama ada di kota ini. Tapi tak kusangka ternyata mereka berjalan di tempat seperti ini juga." Nakamura menjelaskan sembari menunjukan data-data di laptopnya pada Asano.

"Pimpinan organisasi adalah orang asing. Di sini hanya tertulis tanggal lahir dan tempat asalnya saja. Selain itu tidak ada.

"Satu anggotanya adalah seorang perempuan bernama Kanzaki Yukiko. Di sini tertulis dia mantan murid sekolah elit di Jepang."

"Tunggu, itu orang yang kulihat di rekaman CCTV kemarin dan dia bersama dengan anak kecil berusia sekitar 10 tahun. Apa kau juga mencari informasi tentangnya?"

"Eh? Tunggu sebentar. Apa anak ini yang kau maksud?" Nakamura menunjukkan foto seorang anak berambut merah.

"Benar. Aku melihat anak itu di rekaman CCTV kemarin. Dia anak yang bersama dengan perempuan itu."

"Baiklah, aku akan segera mencari data tentang anak itu."

Gerakan mereka sangat terencana dan halus. Tapi sebenarnya siapa otak dibalik pembobolan ini? Merepotkan. Aku tidak bisa berfikir jernih.

Di sela pikirannya yang berkecamuk, Asano melirik jam tangannya. Sudah waktunya. Asano melangkah keluar dari gedung tempat hilangnya benda naas tersebut.

o0o

Karma terbangun di hari berikutnya karena mendengar suara sesuatu yang terjatuh, entah apapun itu ia tak mau ambil pusing. Toh semalaman pikirannya sudah dipenuhi hal-hal yang membuatnya bertanya-tanya. Apakah hal yang dikatakan orang itu benar? Ini sudah dua hari sejak dirinya menghilang dan orang panti pastinya sudah menyadari ketidakhadirannya. Tapi mungkin mereka tidak terlalu keberatan kehilangan satu beban, bukan? Karma tertawa mendengar pemikirannya sendiri.

"Kau sudah bangun, Akabane-kun?" suara seseorang yang sudah Karma ingat baik-baik di memorinya.

"Ya." Karma mengamati wanita yang berjalan memasuki kamarnya.

"Bersiaplah. Hari ini kita akan beraksi." Wanita itu berhenti tepat di depan Karma. "Hei, jangan memandangku seperti itu," wanita itu tertawa. "Kau tahu? Berita kehilanganmu sudah menyebar sejak kemarin sore. Apa kau senang ada seseorang yang mencarimu?"

"..."

"Separuh iya separuh tidak," jawab Karma mantap.

"Pfftt, apa-apaan itu? Sudah kuduga kau anak yang unik Akabane-kun." Dia menyeka cairan bening di sudut matanya. "Cepatlah kebawah," katanya sebelum meninggalkan Karma sendirian di kamar.

Kira-kira apa isi kotak itu? Setelah melihatnya kemarin aku sedikit penasaran. Tapi sepertinya masih butuh kunci untuk membukanya... Oh, jadi begitu. Karma tersenyum. Seperti pemburu mendapatkan buruannya.

.

.

.

~tbc

A/N: ini sudah lanjut. maaf lamaaaaa pake banget. Pokoknya makasih buat yang udah baca :D kehadian kalian menjadi penyemangat bagiku /ea

VERY SLOW UPDATE!