김시현

Present

.

.

It's Hurt #2

Starring Wu Yifan, Kim Joonmyeon, Huang Zitao

BOYXBOY, YAOI, MPREG

Rating : T otw M

Disclaimer: This story from my plotting on role player/?

Happy Reading…

.

.

Walaupun dia membenciku selama hidupnya, aku akan tetap mencintainya karena dia adalah cinta pertamaku

Kim Joonmyeon

.***

Orang bilang cara terbaik melampiaskan kekesalan atau kesedihan adalah teriakkan semua yang membuat dirimu sedih. Maka disini lah Joonmyeon, di pinggiran Sungai Han meneriakkan semua kekesalannya kepada Yifan.

"WU YIFAN SIALAN! BISA-BISANYA KAU MEMBAWA PANDA JELEK ITU KE RUMAH BAHKAN BERMESRAAN DENGAN SANTAI! TIANG BODOH KAU AKAN MENYESAL KARENA MENGACUHKANKU SELAMA INI! AKU MEMBENCIMU WU YIFAAAAAAAAAN!" teriak Joonmyeon bahkan sampai membuatnya terbatuk-batuk, lalu terdiam sebentar. "Tapi aku tidak pernah bisa membencimu," lanjutnya dengan pelan lalu terisak karena rasa itu datang lagi. Rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya.

"Wah wah ternyata seorang Kim Joonmyeon yang tidak pernah marah bisa teriak sekencang itu," tiba-tiba ada suara seorang lelaki mengagetkan Joonmyeon karena seingatnya ketika ia datang hanya ada dirinya seorang. Dengan cepat ia menghapus air matanya dan berbalik untuk melihat siapa yang tiba-tiba datang.

"Choi Minho!" ujarnya dengan riang lalu berlari kearah lelaki jangkung itu. Sedangkan lelaki yang dipanggil 'Choi Minho' itu pun melambaikan tangannya.

"Choi Minho kemana saja kau selama ini huh? Semenjak kita wisuda kau menghilang begitu saja," ujar Joonmyeon sembari mem-pout-kan bibirnya. Tentu saja Joonmyeon merasa kesal, siapa yang tidak kesal ketika sahabatmu sejak masih memakai popok sampai mengenakan toga tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi sehabis upacara wisuda kelulusannya?

"Maafkan aku Myeonnie, Appa menyuruhku melanjutkan bisnisnya yang berada di Jepang, maka dari itu aku langsung berangkat tanpa sempat memberitahumu, mianhae." ujar Minho sembari mengacak-acak rambut Joonmyeon dan dibalas sebuah death glare karena rambutnya yang indah jadi berantakan sekarang.

"Kenapa kau tidak memberitahuku ketika kau sudah di Jepang? Kau tidak membalas pesanku, tidak mengangkat telponku, bahkan tidak mengirimiku pesan! Sahabat macam apa kau Choi Minho? Dasar menyebalkan," oh lihatlah Joonmyeon sedang merajuk sekarang, dengan bibir majunya sebagai andalan.

"Baiklah aku mengaku salah tidak memberimu kabar selama aku di Jepang karena aku saaaangat sibuk. Maafkan aku ya Myeonnie? Ya ya ya?" ujar Minho dengan puppy eyes andalannya, karena ia tahu Joonmyeon tak akan tahan jika sudah diberi jurus ini. Dan terbukti dengan Joonmyeon yang menganggukkan kepalanya dengan pelan.

"Ah jadi mengapa seorang Kim Joonmyeon yang terkenal sebagai malaikat bisa memaki dan berteriak seperti itu? Dan kalau aku tak salah dengar aku mendengar nama Yifan ditengah makianmu, apa kau sedang bertengkar dengan…suamimu?" tanya Minho dengan hati-hati. Seketika raut wajah Joonmyeon berubah menjadi sendu dan lama lama terisak dan menangis di hadapan Minho. Minho yang melihat itu pun langsung merengkuh tubuh mungil itu kedalam dekapannya.

"Menangislah sepuasmu Myeonnie, lepaskan semua beban dihatimu," ujarnya sembari mengelus-elus kepala Joonmyeon. Hatinya sakit melihat Joonmyeon seperti ini. Sosok yang dicintainya selama 18 tahun menangis tersedu-sedu karena suaminya. Ya, Choi Minho telah mencintai Joonmyeon semenjak peremuan pertama mereka ketika masih di taman kanak-kanak. Ia jatuh kepada pesona Kim Joonmyeon yang menggemaskan. Sejak itu lah Minho selalu berusaha untuk melindungi Joonmyeon. Bahkan tiap ada lelaki yang memberi kode mereka akan mendekati Joonmyeon, Minho akan terus menempel dengan Joonmyeon karena ia tak mau Joonmyeon disakiti oleh lelaki-lelaki itu. Karena ia percaya hanya dirinya yang mampu menjaga Joonmyeon. Terdengar egois? Memang, karena Choi Minho tak ingin sesuatu yang ia anggap miliknya di ambil orang lain.

Tetapi, ketika suatu hari Joonmyeon bercerita dengan antusias bahwa ia dijodohkan dengan pangeran dambaannya, Minho tak bisa berbuat apa-apa. Jika Joonmyeon bahagia maka ia harus bahagia juga kan? Ia bahkan diundang Joonmyeon ke pernikahannya yang diadakan seminggu setelah upacara wisuda kelulusan mereka. Maka dari itu, ia menawarkan diri kepada ayahnya untuk mengurusi perusahaan mereka yang berada di Jepang. Ia tak sanggup jika harus melihat Joonmyeon bersanding di pelaminan dengan orang lain selain dirinya.

Namun karena sifat posesifnya kepada Joonmyeon, ia menyewa seseorang untuk terus memerhatikan setiap kegiatan Joonmyeon. Dan betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa Joonmyeon sering menangis di kamarnya karena Yifan berselingkuh dengan lelaki bermata panda bernama Huang Zitao. Maka dari itu ia memutuskan untuk pulang ke Korea dan menyingkirkan Joonmyeon dari lelaki brengsek yang telah merebut kebahagian malaikatnya.

Kriuukk~~

Sebuah suara membawa Minho kembali ke kesadarannya. Melihat Joonmyeon tersipu malu karena suara perutnya membuat Minho terkekeh karena demi apapun wajah malu Joonmyeon yang memerah merupakan hal yang paling disukai Minho.

"Kau lapar hmm?" tanya Minho dan dijawab anggukan malu-malu dari Joonmyeon. "Baiklah apa yang mau kau makan hmm? Bulgogi? Samgyeopsal?" tanyanya lagi.

"Apa saja yang penting makan, aku lapar," ujar Joonmyeon sambil mem-pout-kan bibirnya. Demi tuhan Minho sudah akan menciumnya jika tidak ingat jika Joonmyeon sudah menikah.

"Baiklah ayo kita makan!" ujar Minho lalu merangkul Joonmyeon dan menyusuri sepanjang Sungai Han. Dan ketika melewati kedai tteokbeokki Joonmyeon tiba-tiba merengek minta dibelikan tteokbeokki.

"Minho-ya aku mau tteokbeokki, tteokbeokkiiiiiii," ujar Joonmyeon sambil menarik-narik lengan baju Minho dan ber-aegyo ria. Minho pun samapi kage dibuatnya, karena ia tak pernah melihat Joonmyeon seperti ini sebelumnya.

"B…baiklah kita beli tteokbeokki," ujar Minho masih keadaan shock setelah melihat Joonmyeon seperti tadi.

"Ahjussi tteokbeokki-nya dua porsi jumbo arra?," ujar Joonmyeon sambil terkekeh lalu masuk ke dalam kedai. Minho pun semakin bingung melihat tingkah Joonmyeon dan porsi makannya yang bertambah.

"Kau yakin bisa menghabiskannya?" tanya Minho sedikit sanksi, pasalnya ia tahu bahwa porsi makan Joonmyeon tidak sebanyak itu. Apa bertengkar dengan Yifan membuatnya selapar itu?

"Tentu saja! Kau meragukanku Choi Minho?" tanya Joonmyeon dengan nada kecewa.

"T…tidak, hanya saja…nafsu makanmu sedikit bertambah? Tidak biasanya kau memesan sesuatu dalam ukuran jumbo, dan kau memesannya 2 porsi," ucapnya bermaksud untuk meyakinkan Joonmyeon, namun nada suara masih terdengar meragukan Joonmyeon.

"Entahlah aku hanya sedang ingin makan tteokbeokki, itu saja," ujar Joonmyeon. "Ah pesanan kita sudah jadi, ayo kita makan!" lanjutnya saat melihat pesanan mereka telah diantarkan ke meja mereka. Joonmyeon pun mulai memakan tteokbeokki yang berada di hadapannya dengan lahapnya. Hingga tiba pada suapan ke 10…

"Minho-ya, aku kenyang, kau yang habiskan ya?" ujarnya sambil mengeluarkan puppy eyes-nya. Minho yang mendengar hal itu seketika jaw drop. Bagaimana bisa ia menghabiskan 2 porsi jumbo tteokbeokki sendirian?

"Myeonnie kau harus menghabiskan apa yang sudah kau pesan, tidak baik membuang-buang makanan, hmm?" ujar Minho dengan lembut kepada Joonmyeon, namun lelaki mungil itu malah memanyunkan bibirnya.

"Aku sudah kenyang Minho-ya, lagi pula aku tidak membuangnya kan? Aku memintamu untuk menghabiskan tteokbeokki itu," ucapnya dengan nada kesal dan masih memanyunkan bibirnya.

"Tapi aku sudah makan sebelum kesini Myeonnie, aku masih merasa kenyang. Bagaimana kalau tteokbeokki-nya dibawa pulang saja?" tanya Minho, namun jawab dengan gelengan keras oleh Joonmyeon.

"Tidak boleh! Kau harus menghabiskannya disini!" mendengar hal itu Minho hanya dapat menghela napasnya. Jika Joonmyeon sudah bicara seperti itu, maka apa yang ia inginkan harus dipenuhi. Dan dengan terpaksa Minho memakan 2 porsi tteokbeokki jumbo yang masih terlihat utuh karena Joonmyeon hanya makan beberapa suap saja. Dan ketika ia sedang mencoba menghabiskan tteokbeokki-nya ia teringat kakak iparnya yang sifatnya sama persis dengan Joonmyeon sekarang.

"Myeonnie-ya… apa kau sering mual-mual akhir-akhir ini?" tanya Minho hati-hati. Joonmyeon yang medengar pertanyaan Minho langsung membulatkan matanya.

"Minho-ya bagaimana kau tahu aku sering mual-mual? Jangan bilang kau sudah memata-mataiku selama ini eoh?" Minho tertegun mendengar jawaban tersebut.

'Jangan jangan Joonmyeon…'

"Myeonnie-ya ayo ikut aku, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat," ujar Minho lalu langsung menarik lengan Joonmyeon ke mobilnya. Sedangkan Joonmyeon hanya menatap Minho dengan tatapan heran.

"Yaaak! Choi Minho kau bahkan belum menjawab pertanyaanku bagaimana bisa kau tahu aku sering mual-mual akhir-akhir ini?" ucap Joonmyeon sambil memberontak mencoba melepaskan diri dari Minho, namun sia-sia saja usahanya karena tenaga Minho lebih besar dari tenaganya.

"Nanti akan kuberitahu alasannya setelah aku memastikan sesuatu, sekarang silahkan masuk tuan putri," ujar Minho sembari membukakan pintu mobilnya untuk Joonmyeon.

"Janji kau akan memberitahuku?"

"Seorang Choi Minho tidak pernah berbohong, kau tahu itu Myeonnie," jawab Minho dengan senyuman manisnya. "Sekarang masuk mobil oke?" akhirnya Joonmyeon pun memasuki mobil Minho dengan masih terheran-heran.

"Minho-ya, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa kau kelihatan terburu-buru sekali,"

"Nanti kau akan tahu Myeonnie," ujar Minho lalu menggambil handphone-nya. "Hyung, ini aku. Apa kau ada waktu sekarang? Oh baiklah aku akan sampai di tempatmu dalam 10 menit." Dan mereka pun melaju ke tempat yang hanya Minho tau tujuannya.

"Rumah sakit? Minho-ya kau sakit eoh? Kenapa kau tidak bilang padaku?" tanya Joonmyeon khawatir setelah sampai di tempat tujuan mereka yang ternyata adalah Rumah Sakit.

"Aku baik-baik saja Myeonnie, percaya padaku," ujarnya menenangkan Joonmyeon yang sudah hampir menangis dengan mengusak lembut kepala lelaki mungil itu sambil tersenyum.

"Lalu kenapa kita ke Rumah Sakit jika kau baik-baik saja?" tanya Joonmyeon lagi.

"Kau ingin mengetahui kenapa aku tahu kau mual-mual kan? Kalau begitu ikut aku," Minho menarik Joonmyeon masuk ke dalam Rumah Sakit dan menyeretnya ke bagian Ob/Gyn. Menyadari Minho menariknya ke bagian Ob/Gyn, Joonmyeon pun makin heran dibuatnya.

"Choi Minho untuk apa kau menyeretku ke bagian Ob/Gyn? Lepaskan aku sekaraaaang," ucap Joonmyeon sambil merengek-rengek pada Minho agar ia melepas cengkramannya pada tangan mungilnya. Namun Minho seperti tidak mendengar rengekan Joonmyeon dan terus menyeretnya. Dan akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu yang bertuliskan 'dr. Shim Changmin' dan masuk ke dalam ruangan itu.

"Hyung tolong periksa dia," ujar Minho dengan santai lalu duduk di depan meja dengan papan nama yang persis seperti di pintu.

"Choi Minho kau gila! Aku ini lelaki! Kenapa aku harus di periksa di bagian Ob/Gyn?" Joonmyeon kembali berteriak karena kesal.

"Santai saja Tuan…"

"Kim Joonmyeon, namaku Kim Joonmyeon,"

"Baiklah Joonmyeon-ssi, santai saja karena beberapa pasienku juga lelaki. Berbaringlah, aku akan memeriksamu," ujar lelaki ber-nametag 'dr. Shim Changmin' disertai senyum ramahnya yang Joonmyeon akui itu manis namun ia masih kalah tampan dengan Yifannya. Dengan ragu-ragu Joonmyeon naik ke atas tempat tidur yang berada di ruangan itu dan membaringkan tubuh mungilnya.

"Angkat sedikit bajumu," ujar sang dokter. Mendengar hal itu Joonmyeon langsung menatapnya dengan mata membulat sempurna. "Tenang, aku hanya akan memberikan gel ini lalu memeriksamu dengan USG," ujarnya melanjutkan.

"U…USG?" tanya Joonmyeon kebingungan.

"Tentu saja, untuk apa Minho membawamu ke bagian Ob/Gyn kalau bukan untuk di USG. Tenang saja aku tidak akan macam-macam," dengan ragu-ragu Joonmyeon mengangkat bajunya sampai sebatas dadanya, kemudian ia merasakan gel dingin diatas perutnya. Pemeriksaan USG pun dimulai, yang pada awalnya tidak terlihat apa-apa, mulai terbentuk tampilan pada monitor yang tampak seperti gumpalan di dalam perut Joonmyeon. Melihat itu, Minho dan sang dokter tersenyum bahagia, sedangkan Joonmyeon menatapnya dengan kebingungan.

"Apa yang ada di perutku itu? Apa jangan-jangan aku memiliki tumor ganas? Andwae eommaaaaa," Joonmyeon malah menangis karena ia mengira gumpalan tersebut adalah sebuah tumor ganas. Melihat Joonmyeon menangis, dua lelaki jangkung itu malah terkekeh lalu Minho mengusap lembut kepala Joonmyeon.

"Itu bukan tumor ganas Myeonnie, itu adalah bayimu," ujar Minho sambil tersenyum menatap Joonmyeon.

"Ba…bayi? Aku…memiliki bayi?" tanya Joonmyeon kebingungan. Lalu ia menatap Changmin dengan mata yang mengerjap-ngerjap. "Dokter benarkah aku memiliki bayi? Di dalam sini?" ujarnya sambil mengusap perutnya.

"Selamat Joonmyeon-ssi, kau salah satu lelaki istimewa yang di beri anugerah bisa mengandung layaknya wanita," ucapnya diiringi senyum yang tampak menenangkan.

"J…jinjja? Jadi… aku akan memiliki seorang anak? Minho-ya! Aku akan jadi seorang ayah! Ya Tuhan aku tidak percaya ini semua," ujar Joonmyeon dengan bahagia, bahkan hampir menitikkan air matanya.

"Kau bukan menjadi seorang ayah Myeonnie, tapi seorang ibu karena kau mengandung. Tidak ada cerita seorang ayah mengandung anaknya kkk" Minho menggoda Joonmyeon yang berakhir dengan bibir Joonmyeon yang kembali maju satu senti tetapi tak lama kemudian senyumnya langsung terkembang kembali.

"Minho-ya, antar aku pulang, aku harus memberi tahu Yifan. Ia pasti senang mendengarnya." Mendengar nama Yifan disebut, raut wajah Minho lagsung berubah, namun belum sempat Joonmyeon menyadari perubahan ekspresinya senyumnya sudah kembali dan menatap lembut Joonmyeon –setidaknya itu yang dilihat Joonmyeon-.

"Baiklah ku antar kau pulang, hyung kami pamit, terimakasih telah memeriksa Joonmyeon," ucap Minho kepada Changmin.

"Oh tunggu, kau melupakan ini Joonmyeon-ssi," ujar Changmin sembari memberikan selembar foto yang nampak seperti foto polaroid.

"Apa ini dokter?" tanya Joonmyeon kebingungan.

"Itu foto bayimu dari USG, simpanlah untuk kenang-kenangan. Hati-hati dijalan," ujarnya lalu melambaikan tangan kepada 2 lelaki yang memiliki perbedaan tinggi tersebut.

"Jaaa~~ kita sudah sampai di…" perkataannya terputus saat melihat Joonmyeon tertidur dengan pulas layaknya bayi. Sangat manis. Tanpa sadar ia membawa tangannya ke pucuk kepala Joonmyeon dan mengelusnya dengan perlahan sembari memperhatikan wajah malaikatnya yang tenang.

"Ughh…" terdengar erangan kecil dari mulut Joonmyeon yang menandakan ia sudah terbangun, Minho yang mendengar erangan itu pun salah tingkah dan kembali pada posisi awalnya sebelum Joonmyeon menyadari kalau ia memperhatikannya selama tidur tadi. "Oh kita sudah sampai? Kenapa kau tidak membangkunkan ku?" tanya Joonmyeon.

"Kau tidur nyenyak sekali, aku tidak tega membangunkanmu," ucapnya sambil mengelus kepala Joonmyeon. "Ja~~ silahkan masuk, kalau kau membutuhkan ku telepon saja aku arra? Nomorku masih sama."

"Baiklah Minho nanti aku menelponmu," Joonmyeon lalu keluar dari mobil Minho dan berjalan kearah rumahnya setelah sebelumnya melambaikan tangannya pada Minho. Ia berjalan dengan langkah ringan dan senyum yang terus terkembang di wajahnya, tidak sabar untuk memberitahu ini pada Yifan. Namun, senyumnya menghilang ketika melihat Yifan menggendong seseorang sambil berciuman panas menuju salah satu kamar tamu di kediaman mereka. Hatinya sakit melihat itu semua, tetapi yang ia lakukan malah mengikuti dua sejoli itu dan melihat semua yang dilakukan Yifan dan lelaki bermata panda itu. Bagaimana Yifan menatap lelaki itu, bagaimana Yifan memperlakukannya dengan gairah yang memuncak, dan bagaimana mereka berdua saling mendesahkan nama pasangannya. Yifan tidak pernah melakukan hal itu kepadanya. Bahkan ketika Yifan menyentuhnya pun ia dibawah pengaruh alcohol dan mendesahkan nama lelaki panda itu, bukan mendesahkan namanya. Ia lalu menatap miris hasil USG yang ada di genggamannya. Yifan mungkin tidak menginginkan bayi yang ada di kandungannya sekarang. Ia pun berjalan dengan gontai ke kamarnya –dan kamar Yifan juga tentunya- dan membereskan semua bajunya dengan isakan yang terdengar sangat jelas, lalu ia menelpon satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini.

"Yeoboseyo, Minho-ya bisa kau bantu aku? Sepertinya aku sudah mencapai batasku di tempat ini," ujarnya masih sambil terisak dan pertahanan yang selama ini ia pertahankan sudah hancur. Ia terisak dengan hebat, bahkan ia tak menyadari bahwa telponnya dengan Minho masih tersambung. Minho yang memang masih di depan Rumah Joonmyeon karena merasakan perasaan yang tidak enak langsung berlari memasuki rumah megah bergaya Victorian itu. Dan ia menemukan Joonmyeon yang sedang terisak di kamarnya, lalu merengkuhnya kedalam pelukannya, membiarkan lelaki mungil itu menangis sepuasnya di dalam rengkuhannya. Setelah tangisnya mulai mereda, Minho memapah Joonmyeon untuk membawanya keluar.

"Tunggu disini sebentar Minho-ya," ujarnya kepada Minho. Lalu ia kembali memasuki bekas kamarnya dan menaruh hasil USG dan sepucuk surat untuk Yifan di mejanya.

"Selamat tinggal Yifan, ku harap kau bahagia," lalu ia pun keluar bersama Minho, menjauhi segala sesuatu yang berhubungan dengan Yifan.

-END OF THIS CHAPTER-

yahahaha aku balik dengan chapter 2 xD maaf aku baru update sekarang dan tds belom aku update T.T dan aku mau ucapin buat yang udah kasih review, follow sama fav, jeongmal kamsahamnidaaaaa /bow/

oh iya tentang kenapa ini pairingnya krisho, soalnya aku emang krisho shipper dan aku kangen sama momen mereka T.T dan kenapa ada slight kristao, soalnya tao deket sama kris kan, jadi cocok aja buat dijadiin phonya krisho xD