김시현
Present
.
.
It's Hurt #3
Starring Wu Yifan, Kim Joonmyeon, Huang Zitao
BOYXBOY, YAOI, MPREG
Rating : (masih) T
Disclaimer: This story from my plotting on role player/?
Happy Reading…
.
.
Walaupun dia membenciku selama hidupnya, aku akan tetap mencintainya karena dia adalah cinta pertamaku
–Kim Joonmyeon
.***
Yifan terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa sang surya telah kembali keperaduannya beberapa jam yang lalu. Disampingnya, pemuda bermata panda itu masih tertidur pulas.
'Mungkin ia kelelahan setelah bermain berjam-jam denganku,' pikirnya sembari mengelus pelan surai lelaki berdarah China itu. Ia lalu memakai kembali celananya yang tergeletak di lantai, dan memakai asal kemejanya. Ia bahkan tak mau repot dengan tidak mengancingkan seluruh kancing kemejanya, toh ia berada di rumahnya sendiri. Yifan lalu keluar menuju dapur karena merasa tenggorokannya kering. Selama berjalan menuju dapur, ia baru menyadari satu hal, ia tidak melihat Joonmyeon semenjak ia bilang akan pergi ke minimarket siang tadi. Tunggu dulu, kenapa ia jadi memikirkan lelaki pendek itu? Bukankah bagus bila ia menghilang dari kehidupannya? Yifan bisa dengan bebas bermesraan dengan Zitao kapan pun dimana pun tanpa merasa bersalah pada Joonmyeon. Eh? Sejak kapan Yifan merasa bersalah pada Joonmyeon jika bermesraan dengan Zitao? Entahlah, mungkin Yifan agak mabuk sehingga pikiran-pikiran aneh itu terlintas di kepalanya –setidaknya itu yang di yakini Yifan-.
Untuk mendinginkan kepalanya, Yifan langsung menenggak habis satu botol yang ia ambil dari dalam kulkas. Yifan masih tak habis pikir, kenapa ia bisa tiba-tiba memikirkan Joonmyeon? Disaat ia masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ia merasa sepasang tangan melingkar di pinggangnya.
"Gege kenapa meninggalkan Zitao hmm?" terdengar suara manja dari arah belakangnya. Ah benar, Zitao masih berada di rumahnya. Sejenak ia melupakan apa yang ia pikirkan tadi dan kembali bermesraan dengan Zitao.
"Kau sudah bangun rupanya, Peach," ujar Yifan sembari membalik badannya lalu menciumi wajah Zitao sampai sang pemiliki terkekeh-kekeh.
"Gege hentikan itu geli kkk," Zitao lalu memeluk Yifan dengan erat dan menyenderkan kepalanya ke dada bidang Yifan. "Gege sedang banyak pikiran hmm? Aku melihat gege tadi melamun lalu langsung menenggak habis satu botol air dingin, tidak biasanya gege seperti itu. Pasti gege sedang banyak pikiran," ujarnya sambil mengelus-elus dada Yifan.
"Aku baik-baik saja Peach, tenang saja," ujar Yifan lalu mengecup bibir Zitao dan tersenyum lembut, menyembunyikan semua pikirannya tentang Joonmyeon dari lelaki bermata panda dihadapannya.
"Oh iya Peach, aku punya hadiah special untukmu," ucap Yifan sembari menatap Zitao lalu mengelus pipi mulus Zitao. Sedangkan Zitao langsung berbinar-binar setelah mendengar kata 'hadiah'.
"Hadiah? Untukku? Dimana Ge? Ayo berikan padakuuuu," sambut Zitao dengan muka penuh pengharapan yang tampak imut dimata Yifan.
"Ada di kamarku, kau tunggu di ruang tengah ok? Aku akan mengambilkannya untukmu," ujar Yifan dan langsung pergi menuju kamarnya. Sedangkan Zitao menatap Yifan dengan sedikit kesal karena belum sempat berbicara, dirinya sudah ditinggal begitu saja. Padahal ia penasaran dengan kamar Yifan, karena selama ia menjalin kasih dengan lelaki kelebihan kalsium itu belum pernah ia memasuki kamarnya dan selalu berakhir di kamar tamu. Apa ada sesuatu di dalam kamarnya yang tidak mau di tunjukkan kepada dirinya? Ah entahlah, Zitao terlalu kesal untuk memikirnya itu. Untung Yifan akan memberinya hadiah, setidaknya itu sedikit meredakan kekesalannya. Dengan masih merasa kesal Zitao berjalan ke ruang tengah seperti yang diperintah Yifan.
Sementara Yifan di kamarnya mencari-cari cincin yang akan dihadiahkannya kepada Zitao. Setelah beberapa menit mencari akhirnya ia menemukan kotak dari cincin tersebut dan akan melangkah keluar kamarnya ketika ujung matanya menangkap sesuatu tergeletak di atas meja rias Joonmyeon. Ia termenung menatap benda tersebut, sebuah surat dengan tulisan yang cukup dikenalnya. Sebuah surat dari Joonmyeon yang di berikan padanya. Seketika ia melupakan tujuan awalnya untuk mengambil cincin Zitao. Ia membuka amplop surat tersebut dan mulai membacanya.
Untuk Yifan…
Maaf jika selama ini aku membuatmu tidak nyaman karena kehadiranku. Aku tahu kau tak pernah mencintaiku sedikitpun. Kau hanya menganggapku seperti pajangan yang bisa kau pamerkan ke semua orang. Tetapi, tidak peduli kau memperlakukanku seperti apapun, aku tidak pernah bisa membencimu. Karena kau merupakan cinta pertamaku.
Terserah kau percaya atau tidak, aku telah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu di pesta perusahaan ayahmu setahun lalu. Dan ketika aku tahu kita dijodohkan malam itu, aku sangat senang karena bisa menikah dengan pujaan hatiku. Meskipun aku mengetahui kau selingkuh dengan lelaki china bernama Zitao, aku tetap tidak bisa membencimu karena aku terlalu cinta padamu.
Namun, hari ini rasanya aku telah mencapai batasku. Hatiku hancur saat melihatmu menggendong lelaki china itu, bercumbu dengannya, mendesahkan nama satu sama lain. Namun tetap saja aku tidak bisa membencimu, seberapa banyak pun kau menyakitiku.
Oh ya sebenarnya aku mendapat kabar bahagia hari ini, aku hamil. Kau mungkin tidak ingat, tapi aku mengingatnya dengan sangat jelas. Meski kau menyentuhku dalam keadaan mabuk, aku tetap senang karena akhirnya kau menyentuhku. Walaupun kau mendesahkan nama Zitao bukan namaku.
Aku tidak akan menampakkan diriku lagi dihidupmu, dan aku akan membesarkan anak ini. Jangan pernah mencariku, walaupun aku tau kau tidak akan pernah mencariku. Aku akan selalu mencintaimu Yifan.
-Kim Joonmyeon-
Yifan bergetar membaca surat itu, ia merasa hatinya hancur. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja dari kedua matanya. Ia mulai terisak dan tangisannya semakin terdengar memilukan, sampai ia tak sadar bahwa Zitao memasuki kamarnya.
"Gege kenapa la… Gege ada apa? Apa gege sakit?" tanya Zitao yang khawatir melihat Yifan dengan keadaan seperti ini. Ia tidak pernah melihat Yifan seperti ini sebelumnya.
"Pulanglah Peach, aku ingin sendirian sekarang," ucap Yifan dengan suara paraunya.
"Tapi gege…"
"Kubilang pulang Peach! Aku ingin sendirian," belum sempat Zitao menyelesaikan perkataannya, Yifan sudah memotong omongannya dengan nada yang tinggi. Yifan lalu sedikit menyeret Zitao dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan kencang. Sedangkan Zitao masih shock dengan apa yang dialaminya sekarang. Ini adalah kali pertama Yifan membentaknya seperti tadi, sebenarnya apa yang terjadi dengan Yifannya? Dan pada akhirnya Zitao memutuskan untuk pulang dengan perasaan kesal dan bingung.
Sedangkan Yifan masih terisak di kamarnya sembari memandangi sepucuk surat dan juga hasil USG yang diberikan oleh Joonmyeon. Setelah sekian lama ia menyangkal perasaan itu, akhirnya kini ia menyadarinya, bahwa ia telah mencintai Kim Joonmyeon. Selama ini ia terus menyangkal perasaan hangat setiap kali ia melihat lelaki mungil itu. Namun kini ia tidak bisa lagi membohongi hati kecilnya yang berteriak bahwa ia mencintai Joonmyeon. Ia kini menatap hasil USG itu, yang merupakan satu-satunya 'foto' buah hatinya dengan Joonmyeon –walaupun itu hasil dari ketidaksengajaannya karena ia mabuk berat-
"Chanyeol cari tahu dimana Joonmyeon sekarang. Tidak usah banyak bertanya dan segera lakukan apa yang aku minta," Yifan menelpon seseorang yang dipanggilnya 'Chanyeol' yang merupakan sekretaris kepercayaan sekaligus sahabat dekatnya.
'Aku akan menemukanmu Kim Joonmyeon, dan aku akan menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan padamu,' Yifan bertekad dalam hati untuk menemukan Joonmyeon.
4 tahun berlalu sejak kepergian Joonmyeon dari sisi Yifan, tetapi Yifan masih belum menemukan sosok mungil yang kini telah memenuhi hatinya. Ia telah mengerahkan orang-orang terbaiknya, namun hasilnya tetap nihil. Joonmyeon menghilang bak di telan bumi, tidak tahu dimana keberadaannya. Dan selama 4 tahun itu pula ia hidup layaknya mayat hidup. Mungkin pepatah 'hidup segan mati tak mau' cocok untuk menggambarkan keadaan Yifan saat ini.
Kulit yang pucat karena lama tidak terkena matahari, rambut semrawut yang tak terurus, lingkar hitam dibawah matanya dan badan yang dulu kencang berotot kini semakin kurus. Bahkan kaleng dan botol alcohol serta puntung rokok berserakan di kamarnya. Yifan benar-benar tidak berniat untuk melanjutkan hidupnya sejak kehilangan Joonmyeon.
SREEEEKK…
Seorang lelaki jangkung bertelinga lebar menarik gorden di kamar tersebut agar sinar mentari masuk kedalam kamar yang terlihat kelam itu. Sedangkan sang pemilik kamar hanya mengerang tidak suka ketika cahaya mentari itu menerobos kamarnya.
"Wu Yifan sadarlah! Joonmyeon tidak akan senang jika tahu keadaanmu seperti ini," ujar lelaki tersebut sembari memegang pundak Yifan dan mengguncangkan-guncangkannya. Sedangkan Yifan hanya mendesis sinis mendengar pendapat lelaki dihadapannya.
"Aku lelaki brengsek yang tidak pantas mendapat cinta Joonmyeon, Chanyeol. Aku tidak pantas mendapatkan cinta Joonmyeon," Yifan mulai terisak kembali dan memukul-mukul dadanya. "Tetapi aku merasa sakit disini saat kehilangannya, sangat sakit," Yifan memukul-mukul dadanya lebih keras dan makin terisak. Chanyeol tak tega melihat sahabatnya seperti ini lebih lama lagi.
"Cepatlah bersiap, kita harus pergi ke suatu tempat," ujar Chanyeol sembari menarik tangan kurus Yifan. Namun, Yifan menarik tangannya dari genggaman Chanyeol.
"Aku tidak mau pergi kemana pun sebelum Joonmyeon kembali, walaupun itu berarti aku akan menghabiskan sisa hidupku disini karena Joonmyeon tak mungkin kembali," ucap Yifan dengan senyuman sinisnya yang lemah.
"Jika kau ingin menemukan Joonmyeon kau harus mencarinya sendiri! Apa kau pikir Joonmyeon akan senang jika tahu keadaanmu seperti ini? Ia justru akan kecewa padamu hyung! Ia merelakan kebahagiaannya sendiri agar kau merasa bahagia, tetapi lihat keadaanmu sekarang, sangat menyedihkan," Chanyeol mulai kehabisan kesabarannya. Sebenarnya Chanyeol sudah menemukan Joonmyeon sejak setahun yang lalu, namun ia tak memberitahu Yifan. Ia ingin melihat usaha Yifan untuk dapat menemukan Joonmyeon. Namun sepertinya Yifan memang tidak berniat untuk keluar dari lembah kesedihannya. Kalau itu yang terjadi, maka ia sebagai sahabatnya yang akan menariknya keluar dari lembah nista tersebut.
"Kau benar Chanyeol, aku harus mencari Joonmyeon dengan usahaku sendiri," Yifan akhirnya tersadar dari keterpurukannya. Ia merasa tertampar dengan ucapan Chanyeol barusan. Chanyeol benar, jika ia ingin menemukan Joonmyeon maka ia harus mencarinya sendiri. Setelah akhirnya tersadar dari keterpurukannya, ia pun bangkit dan terlihat secercah kepercayaan di matanya bahwa ia akan menemukan Joonmyeon.
Setelah akhirnya 20 menit bersiap, Yifan dan Chanyeol pun pergi ke suatu tempat –yang hanya Chanyeol yang tahu kemana mereka akan pergi-. Perjalanan mereka memakan waktu 30 menit sebelum akhirnya sampai di tujuan mereka, Lotte World.
"Chanyeol untuk apa kita kesini? Bukan saatnya untuk bermain-main sekarang," ujar Yifan dengan geram. Hey ia tak mau waktunya terbuang cuma-cuma hanya untuk bermain disini. Disampingnya, lelaki bertelinga lebar itu malah menampilkan senyum idiotnya.
"Ayolah Yifan hyung, kau butuh sedikit refreshing agar otakmu segar untuk mencari Joonmyeon. Tidak ada salahnya kau melepas sedikit stress-mu disini," jawab Chanyeol dengan santai. Namun, sebenarnya bukan tanpa alasan ia mengajak Yifan ke tempat bermain terbesar di Korea Selatan tersebut. Karena ia tahu bahwa Joonmyeon akan mengajak putra semata wayangnya –anaknya dengan Yifan tentu saja- kesini hari ini. Setelah berusaha menyeret-nyeret Yifan masuk, akhirnya mereka telah berada di area taman bermain tersebut.
"Nah hyung, nikmati refreshing-mu," ujar Chanyeol lalu pergi begitu saja meninggalkan Yifan. Sedangkan Yifan hanya diam di tempatnya sekarang, karena ia memang tak berminat untuk menghabiskan waktunya dengan percuma disini. Akhirnya dia memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada di dekatnya dan hanya mengamati apa yang terjadi disekitarnya.
Tiba-tiba matanya menangkap suatu pemandangan yang menyejukkan hati sekaligus menyakitkan untuknya. Potret sebuah keluarga kecil yang bahagia, yang dengan ceria bermain bersama. Ia jadi teringat bahwa ia memiliki anak dengan Joonmyeon, walaupun itu hasil dari suatu ketidaksengajaan. Walaupun ia belum pernah melihat anaknya, namun ia yakin pasti anaknya akan mewarisi paras Joonmyeon yang secantik malaikat walaupun nyatanya Joonmyeon seorang laki-laki. Lamunannya buyar saat mendengar suara tangis anak kecil, dan ia mendapati seorang anak kecil sedang menangis tersedu-sedu di tengah keramaian. Seolah terhipnotis, Yifan menghampiri anak kecil tersebut lalu menyamakan tingginya dengan anak itu.
"Kenapa menangis anak manis?" demi Tuhan, Yifan sendiri kaget kenapa dirinya bisa selembut ini pada anak kecil. Dirinya tidak pernah menyukai anak kecil, karena ia pikir anak kecil itu menyebalkan dan merepotkan. Namun, entah mengapa melihat anak di depannya membuatnya ingin meredakan tangis dari bocah imut ini.
"Thuho hiks… telpithah hiks… dali appa hueee," ujar anak kecil yang menamai dirinya Thuho –Suho- lalu tangisnya makin menjadi-jadi, membuat Yifan menjadi bingung karena orang-orang mulai menatap dirinya seolah-olah ia adalah seorang pedofilia.
"B…bukan aku yang menyebabkan anak ini menangis sungguh," ucap Yifan terbata-bata, lalu ia membawa anak tersebut ke dalam gendongannya.
"Hey anak manis berhenti menangis ya? Ahjussi akan membelikan permen kapas untukmu jika Suho berhenti menangis," Yifan berkata sembari menghapus jejak air mata di pipi mungil bocah tersebut. Bocah berpipi gembil itu pun menggangguk pelan dan tangisnya mulai mereda. Entah kenapa melihat bocah yang berada di gendongannya ini mengingatkannya pada Joonmyeon. Mungkin ia terlalu merindukan Joonmyeon saat ini.
Sesuai janjinya pada bocah mungil ini, Yifan membelikannya permen kapas, lalu membawanya ke pusat informasi yang ada disana, karena ia tidak mengetahui siapa orang tua dari anak ini. Setelah sampai di pusat informasi, Yifan menjelaskan kejadiannya kepada petugas yang berjaga untuk memberitahukan kepada pengunjung.
"Selamat siang pengunjung setia Lotte World, kami memberitahukan telah ditemukan seorang anak laki-laki berumur sekitar 3 sampai 4 tahun, memakai kaos putih dengan overall jeans bergambar pororo, dan membawa tas biru bergambar pororo. Kepada pengunjung yang merasa kehilangan putra tersayangnya, dimohon untuk menuju pusat informasi kami yang terletak di dekat gerbang utama. Terima kasih," pengumuman telah diumumkan, tinggal menunggu orang tua dari anak ini datang. Sembari menunggu, Yifan menemani anak itu bermain. Semakin lama Yifan menemaninya, semakin ia merindukan Joonmyeon karena ia seperti melihat diri Joonmyeon dalam bocah itu. Senyumnya, tingkahnya, semua hal dari bocah ini mengingatkannya pada Kim Joonmyeon.
"Suho-ya!" sebuah suara yang familiar menyapa gendang telinga Yifan. Apakah ia sebegitu merindukan Joonmyeon sampai suaranya terbayang-bayang? Sedangkan bocah kecil yang sedari tadi ia temani langsung berlari kecil dengan wajah yang sumringah.
"Appaaa!" teriak bocah imut itu dan langsung berlari menuju sang ayah yang telah 'menjemput'nya.
"Suho baik-baik saja hmm?" tanya sang ayah kepada anaknya dan dijawab dengan anggukan yang sangat imut.
"Eung! Ahjuthi tampan dithana menemani Thuho dan membelikan Thuho pelmen kapath," ujar Suho dengan aksen cadelnya lalu menunjuk Yifan yang membelakangi mereka –ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri mungkin-.
"Tuan, saya sangat berterima kasih karena telah membawa anakku kesini," ujar ayah dari Suho. Dan kini Yifan makin tertegun, karena ia yakin bahwa suara ini adalah suara dari seseorang yang sangat dirindukannya saat ini. Dengan perlahan ia berdiri dan membalikkan tubuhnya. Dan ia semakin terkejut ketika melihat wajah yang selalu ia pikirkan setiap harinya. Disisi lain, ayah dari Suho pun sama terkejutnya ketika melihat wajah seseorang yang sangat ia cintai meskipun telah ia tinggalkan 4 tahun silam.
"Kim…Joon...myeon?"
"Wu…Yi...fan?"
-END OF THIS CHAPTER-
halo halooo akhirnya aku kembali dengan chapter 3~~~ maapkeun lama ya /sungkeman/
makasih banget buat yang udah review chapter sebelumnya, maaf ga bisa aku bales satu satu hehe
oh iya, kalau misal ada yang req yifan joonmyeon ngapain gitu bisa pm aku aja (ini sebenernya udah keabisan ide._.)
jangan lupa review ya, aku seneng baca review kalian, bikin semangat ngelanjutin :3
