Sorry, i cheated on you *backfired*
Disclaimer:
Hanya kumpulan cerita fiksi yang menggunakan karakter ciptaan Aoyama Gosho. Inspirasi didapat dari apapun yang aku lihat, baca, dengar, dimanapun.
Chapter sebelumnya terinspirasi dari kejadian nyata di kantor.
Kali ini terinspirasi dari suatu video di youtube, dimana seseorang gay mengerjai pasangannya seperti ini, wkwkwk, cute parah..
Warnings:
- Kaishin/Shinkai
Rencana ini berawal dari rasa penasaran-gregetan Kaito karena Shinichi sama sekali tidak pernah merasa cemburu. Tidak peduli bagaimana pun Kaito mencoba memancing reaksi itu muncul dengan menggoda perempuan maupun laki-laki di depan Shinichi. Mau tidak mau, ini jadi membuatnya berpikir bahwa mungkin Shinichi tidak sebegitu suka pada Kaito? Tapi, mungkin itu tidak benar. Selama ini, hanya Kaito yang mendapatkan perhatian Shinichi yang paling besar. Hanya Kaito yang bisa berada dalam jarak dengan dalam waktu yang lama dengan Shinichi tanpa membuatnya terganggu. Hanya Kaito yang bisa membuat Shinichi tersenyum dengan penuh cinta, salah tingkah, kehilangan daya pikirnya yang luar biasa dalam kehangatan cinta dan membuatnya sulit menahan senyuman bodoh yang merekah secara random.
Jadi.. perasaan Shinichi benar-benar nyata, kan? Tanpa ada keraguan. Tapi, semua orang, siapapun, pasti akan merasa resah kalau pasangannya sama sekali tidak pernah cemburu. Kaito perlu memastikan dengan sejelas-jelasnya. Lagipula, ada kemungkinan bahwa Shinichi tidak cemburu karena dia memang sama sekali tidak peka, sama sekali tidak sadar bahwa Kaito sedang menggoda orang lain lebih dari sewajarnya. Jadi, kali ini Kaito akan dengan sangat jelas mengatakan langsung bahwa dia selingkuh, mengatakan begitu tepat di depan muka Shinichi. Secara efektif mengeliminasi kemungkinan faktor Shinichi yang peka atau tidak peka. Kalau dia memang benar-benar mencintai Kaito, dia harus merasa cemburu.
Tunggu, masih ada kemungkinan lain. Bisa jadi dia malah akan menghancurkan hati Shinichi. Ini.. kemungkinan yang tidak diharapkan. Kaito tidak ingin membuat Shinichi menangis atau apa. Tapi, baiklah.. Jadi, kemungkinannya adalah: marah, cemburu, frustasi atau sedih, hancur, menangis. Atau kombinasi.
Tapi kalau tidak keduanya, Kaito harus bisa menerima bahwa Shinichi tidak mencintainya.
"Aku pulang..." Salam dari Shinichi yang baru memasuki rumah.
Kaito langsung otomatis menyusun skenario singkat di kepalanya sekaligus berusaha membuat penampilannya kusut. Dia menggosok kedua tangannya ke mukanya agar kusut. Bergulungan di tempat tidur agar pakaiannya agak kusut.
"Kaito?" Shinichi mengetuk pintu sebentar, sesaat kemudian baru membuka pintu. Benar-benar, selalu sopan. "Huh? Kamu di sini? Tumben tidak menyambutku.." Shinichi berjalan mendekati Kaito.
Kaito berkedip-kedip berusaha mengeluarkan air mata. Minimal membuat matanya berkaca-kaca. Sambil membelakangi Shinichi. Tapi Shinichi menyentuh pundaknya, ingin Kaito berbalik.
"Hey.. kamu kenapa? Sakit..?" Karena Kaito menolak pindah posisi, Shinichi mengalah dengan menaiki tempat tidur, membungkukkan badan di atas Kaito untuk melihat wajahnya, penampilannya yang berantakan, menyentuh keningnya dengan khawatir.
Kaito tiba-tiba terduduk, tapi langsung memeluk Shinichi, mengubur mukanya ke dada Shinichi. Dan terisak (isakan palsu).
"K-.. Ka-.." Kepala Shinichi sampai berhenti bekerja. Balas memeluk dan membelai kepala Kaito dengan canggung dan kaku untuk sesaat. Sampai tidak tahu setelah membuka mulut harus mengatakan apa. Hanya sesaat. Shinichi pulih dari kekagetannya dan langsung menjadi lembut. "Hei.. ada apa Kaito? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Shinichi begitu sabar. Tidak mendapatkan jawaban sama sekali malah membuatnya beralih dari khawatir menjadi lembut, berusaha mendorong Kaito untuk berbicara. Kaito jadi merasa bersalah karena dia mau berbohong dengan kebohongan yang mungkin akan sangat menyakiti.. Batal saja, kah? Tapi nanggung..
"Hei.." Shinichi mengecup bibir Kaito dengan ringan dan lembut.. Dia mencoba pendekatan baru rupanya, untuk mendorong Kaito agar mau bercerita ada apa. Dia mengira ada sesuatu alasan yang membuat Kaito berat untuk mengatakan ada apa. Jadi, dalam diam, dia berusaha menyampaikan pada Kaito bahwa dia berada dalam pikiran yang tenang. Benar-benar tenang. Dia tidak akan tiba-tiba marah, kehilangan kendali atau apa pun yang ditakutkan Kaito. Bahwa apapun yang sedang terjadi, dia tetap akan seperti ini, di sisi Kaito, memberi dukungan penuh untuk kebaikan Kaito. Bahwa Kaito bisa mempercayakan apapun padanya. Shinichi terus mengecup Kaito berkali-kali dengan penuh kelembutan, dengan mata yang sedikit bertanya-tanya. Menunjukkan bahwa dia penasaran, tapi tidak akan pernah memaksa.
Sial.. Kali ini Kaito merasa bersalah lagi untuk alasan yang berbeda. Merasa bersalah karena sempat meragukan keseriusan perasaan Shinichi padanya. Padahal sudah jelas sebesar ini. Kaito ingin membatalkan niatnya, tapi sudah kepalang tanggung. Dan ini bukan topik yang bisa dibicarakan sambil berciuman. Kaito mendorong Shinichi untuk membuat sangat sedikit jarak, sekedar untuk melepas ciuman mereka. "Shinichi.." Kaito tidak menduduk, dia ingin Shinichi bisa melihat raut wajahnya agar percaya pada kebohongan yang akan dilontarkan. Dia bahkan tidak perlu memalsukan raut wajahnya yang penuh rasa bersalah. "Kamu tahu.. akhir-akhir ini kamu menghabiskan waktu dengan Ran lebih banyak dari pada sebelumnya.."
"Oh.." Ekspresi Shinichi menunjukkan bahwa dia menyadari sesuatu. Sambil menyesal, dia mendekatkan diri dan meraih Kaito ke dalam pelukannya. "Maaf, tapi kamu tahu bahwa ini ada alasannya." Lalu dia menangkupkan kedua telapak tangannya ke sisi wajah Kaito dengan benar-benar merasa menyesal. Dia mengecup Kaito lagi. "Apa aku membuatmu kesepian?"
Kaito jadi merasa serba salah. "Bukan-bukan.. Bukan itu maksudku!" Kaito menggelengkan kepalanya, dan tidak berani menatap Shinichi secara langsung. Takut melihat Shinichi yang mungkin akan tersakiti. Tapi ini sudah dekat. Dia mungkin akan bisa melihat bagaimana reaksi Shinichi yang cemburu. Kaito melepaskan dekapan tangan Shinichi di wajahnya, dan menghindari tatapannya. "Maksudku.. uh, aku.. Saat kamu pergi.." Kaito mengangguk singkat. "Yeah, itu membuatku kesepian. Jadi, aku pergi.."
Cerita Kaito terhenti. Dan tangan Shinichi masih dipegang oleh Kaito di pangkuannya. Dia menunduk sambil memainkan cincin di jari tangan Kaito, memutar-mutarnya, sekedar mengisi waktu. "Lalu..?" dorongnya.
Kaito mengarang bebas. "Aku pergi. Ke tempat Casino. Bermain kartu, dadu, bilyard, apapun.. Dan rupanya ada seseorang yang mengamatiku, terpesona dengan kemampuanku, mendekatiku."
"Oh.." Gerakan jari Shinichi yang memainkan cincin Kaito terhenti. Semua tanda gerakan terhenti. Dengan wajah yang masih tetap menunduk. "Lalu, kalian.. berinteraksi? Seperti apa orang itu?"
Cemburu? Cemburu 'kah, Shinichi? Sayang Kaito tidak bisa melihat wajahnya. Hmm.. masih kurang. Kaito masih belum mengatakan dengan sangat jelas bahwa dia sudah selingkuh. "Dia cantik, ramping, elegan. Laki-laki, tapi cantik. Saking cantiknya, setiap kali kami masuk kafe, pelayan kafe selalu menyapanya dengan panggilan 'mbak', dia hanya senyum-senyum saja terhadap kesalahpahaman si pelayan. Rupanya dia sudah terbiasa.."
"Ke kafe?" potong Shinichi. Pegangannya pada tangan Kaito tiba-tiba menjadi lebih kuat.
"Eh? I-iya. Yah, kami.. berinteraksi." Kaito menggelengkan kepalanya. "Bukan, maksudku, kami.." Lalu menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya keluar.. "Aku selingkuh, Shinichi." Debaran jantung Kaito terasa begitu keras sampai tidak beraturan.
"Selingkuh? Sejauh apa?"
Huh? Kaito mempersiapkan diri untuk menghadapi luapan emosi, entah itu marah atau sedih. Tapi dia malah diinterogasi? "Umm.. kami sempat.." Sejauh apa? Sejauh apa? "Ciuman." Ucap Kaito dengan pasrah.
Kaito yang masih bersiap-siap menghadapi luapan emosi justru kaget karena Shinichi malah tiba-tiba memeluknya dengan erat. Membenamkan kepala Kaito ke dadanya. Membuatnya bisa mendengar debar jantung Shinichi yang mulai meningkat, dan bisikan Shinichi di belakang telinganya. "Maaf, Kaito. Aku minta maaf."
Dia malah merasa menyesal dan minta maaf? Kaito bingung sekali karena prediksinya kok benar-benar meleset semua. "Oh.. tidak apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf, aku yang salah.." jawab Kaito dengan setengah bingung.
"Bukan. Aku yang salah. Ini terjadi karena aku, kan? Aku minta maaf, Kaito. Apalagi.. aku juga selingkuh."
Apa..? Sekarang giliran Kaito yang tiba-tiba menjadi kaku. Ingin mengklarifikasi kebenaran kalimat yang baru saja didengarnya. Tapi dia merasa begitu lemas, dengan seluruh organ tubuhnya terasa dingin. Benar-benar berhenti.
"..dengan Ran." Lanjut Shinichi tanpa ampun.
Kaito tidak bisa menerima ini. Dia tidak bisa tetap diam mendengarkan seperti anak baik. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Shinichi, tapi Shinichi tetap memegangnya dengan erat. Dia bahkan tidak bisa melihat wajah Shinichi kalau seperti ini. "Shinichi. Ini tidak lucu." Suara Kaito bergetar.
"Maaf.. aku minta maaf-" Tapi permintaan maaf Shinichi dipotong oleh Kaito yang masih memberontak dari pelukannya.
"Dengar! Aku tadi cuma bohong! Aku tadi hanya bohong karena penasaran ingin melihatmu cemburu. Hanya itu. Kenapa jadi begini.." Kaito menemukan kekuatan untuk melepaskan diri dari dekapan Shinichi, memandang Shinichi dengan perasaan yang remuk. "Kamu bilang hanya sedang menyelidiki kasus teman Ran, di kampus Ran, yang ternyata cukup dalam sampai melibatkan pejabat kampus, sampai beberapa hari-"
Begitu lepas dari pelukannya, Shinichi langsung mencoba memeluk Kaito lagi, ingin menenangkannya. Tapi Kaito benar-benar tidak membiarkannya memeluk lagi. Mencoba metode lain, dia mencium Kaito untuk membuatnya bisa diam. Baru sebentar, Kaito langsung menjauh. "Kaito.."
"Apa kasusmu itu palsu? Apa Ran masih menyukaimu? Kamu juga masih menyukainya?" Kaito benar-benar terlihat panik, gemetaran, dan tidak bisa didekati. "Berikan handphone-mu." Perintahnya sambil menyodorkan tangan.
"Untuk apa? Kaito, ini privasiku."
"Aku tidak peduli. Aku mau melihat isi pesan-pesan mu dengan Ran. BERIKAN HANDPHONE-MU!" Masih dengan panik dan gemetar, Kaito berusaha merampas sendiri HP Shinichi dari sakunya, tanpa sedikitpun ke-eleganan pencuri dalam dirinya. Bahkan ada satu air mata tertetes.
Shinichi tidak bisa melihat ini lagi. Dia menahan kedua tangan Kaito dan menjatuhkan dia terlentang di tempat tidur. "Kaito, tenang." Kaito masih memberontak. "Hei, aku cuma bohong!"
Barulah Kaito bisa diam, memandang Shinichi yang berada di atasnya dengan bingung. "A.. apa..?" tidak terlalu percaya dengan pendengarannya. Tidak tahu harus berpikir apa.
Shinichi tersenyum dengan lega, karena akhirnya Kaito tenang juga. "Aku bohong. Aku tadi cuma bohong." Melihat Kaito yang melihatnya dengan bingung membuatnya jadi ingin tertawa. "Aku tahu kamu bohong, dan itu kebohongan yang sangat tidak lucu. Jadi aku membalasmu." Shinichi tersenyum dengan bangga.
"Tapi-" Kaito hampir langsung protes, tapi terhenti. Membiarkan pikirannya bekerja dengan tenang dan logis untuk sesaat, tanpa terkuasai luapan emosi. Dia bangun ke posisi duduk, membiarkan Shinichi yang jadi terduduk di pangkuannya, memeluknya dengan ekspresi yang terlihat senang sekali.. "Darimana kamu tahu kalau aku bohong?"
"Hmm~ menurutmu?" Jawab Shinichi dengan senyum penuh rahasia, menggoda Kaito. Lalu tertawa. "Apa yang kamu lakukan saat aku meninggalkanmu lama dalam beberapa hari ini, Kaito?" malah bertanya balik..
"Uh, aku.." Tingkah laku Shinichi yang cengengesan dengan raut wajah yang seolah tahu segalanya membuat Kaito curiga. "Hakuba memberitahumu, ya?"
Shinichi tertawa kecil. "Yup. Bahwa kamu terus-terusan mengganggu, mengerjai Hakuba. Kepada siapa lagi dia mau protes tentang tingkahmu kalau bukan kepadaku?"
"Aaarrgh Hakubaaaaa..." ucap Kaito frustasi.
"Lagipula, apa maksudmu ingin melihatku cemburu?" lanjut Shinichi tanpa ampun. "Memangnya tidak pernah melihatku cemburu? Aku selalu cemburu melihatmu menggoda semua orang!"
"Eh? Tapi.. cemburu? Tapi kamu cuma diam saja setiap kali aku menggoda orang.." tanya Kaito benar-benar bingung.
"Iya. Dan itu cemburu. Aku diam saja, tanpa mendekatimu, tanpa menanggapimu dengan lebih antusias. Jelas berbeda 'kan dengan tingkahku saat aku tidak cemburu dan berada di dekatmu seperti ini?" Shinichi jadi agak gemas melihat Kaito yang masih memandangnya dengan bingung. "Pikir lagi sendiri. Dasar tidak peka." Shinichi mengecup bibir Kaito singkat, lalu dia turun dan keluar dari kamar.
Meninggalkan Kaito sendiri yang dengan syok menyadari bahwa bukan Shinichi yang tidak peka, tapi justru dirinya sendiri yang tidak peka.
