A New Start


Disclaimer: Duh.. Anime ini bukan milikku.. Aku bahkan dah ketinggalan sekitar 10 chapter lebih -_-

Author's Note:
Haha.. ha..
Aku minta MAAAFFF sudah membunuh mereka, tapi itu sangat penting untuk menuju ending yang aku mau.

Benar-benar maaf..


Tidak seperti biasanya, Kaito terlihat sangat serius mendengarkan di tengah jam pelajaran. Secara sukses mumbuat sikap yang sama sekali tidak mencurigakan itu menjadi terlihat sangat mencurigakan. Tapi beberapa jam pelajaran sudah berlalu, dan tidak ada apapun yang terjadi. Mungkinkah memang tidak ada yang mencurigakan? Mungkin seisi kelas hanya secara kompak berimajinasi secara berlebihan? Atau Kaito memang sedang serius mendengarkan diskusi internal dalam dirinya sendiri untuk mempersiapkan sesuatu?

Bel pulang sekolah berbunyi. Bahkan sampai detik ini pun sikap Kaito tidak berubah. Semua memperhatikan guru kelas mereka yang dengan was-was mengorbankan diri untuk menjadi orang pertama yang bergerak – meninggalkan kelas. Dia sukses keluar dengan selamat. Semua murid bernafas dengan lega. Baiklah, berarti mereka hanya berimajinasi secara berlebihan.

Ketika sebagian besar siswa sudah keluar dari kelas, Kaito masih duduk dalam sikap yang sama. Ketika Aoko menghampirinya untuk mengajaknya pulang, Kaito tetap tidak bergerak, hanya menjawab singkat bahwa dia perlu waktu sebentar lagi. Ketika Hakuba berdiri untuk pulang, barulah Kaito merespon lingkungan sekitarnya dengan layak.

"Hakuba," panggil Kaito.

"Eh?" Tidak bisa tidak, Hakuba kaget juga mendengar Kaito yang seharian tidak peduli pada apapun di sekitarnya tiba-tiba berbicara padanya. "Ya? Ada apa?"

"Kau.. detektif 'kan," Kaito tidak memberikan waktu untuk Hakuba yang telah membuka mulut untuk protes, langsung lanjut berkata, "Apa kau mungkin menghadiri acara pemakaman Hattori Heiji sekitar satu minggu yang lalu? Dia juga seorang detektif."

Dalam sekejap, Hakuba ingin mengangkat alis dengan keheranan, tidak menyangka Kaito tahu tentang seorang detektif dari daerah lain, bahkan cukup tertarik untuk bertanya padanya. Tapi, ini tentang kematian sesama rekan detektif, bagaimanapun tidak sukanya dia terhadap kecenderungan kasar dari detektif ini, topik ini tetap membuat bahasa tubuh Hakuba menjadi lebih sayu dalam duka. "Benar. Karena sebelumnya aku pernah bertemu dengannya, berusaha menyelesaikan kasus yang sama. Dan karena kedua ayah kami saling mengenal. Kenapa bertanya tentang hal ini?"

Kaito membuat jeda beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan pertanyaan kembali. "Bagaimana.. situasi di sana?"

Hakuba menduga bahwa jeda itu ada karena Kaito harus memilih kata-kata yang tepat untuk bertanya. Itu mungkin karena ada orang lain yang ikut mendengar, masih ada beberapa siswa di kelas. Berarti pertanyaan Kaito yang sesungguhnya berhubungan dengan KID? Mungkinkah tanpa Hakuba tahu, Kaito KID memiliki suatu kaitan dengan Hattori Heiji? "Belum ada perkembangan tentang identitas pelaku penembak jitu yang telah membunuh nyawa Hattori Heiji.."

"Oh.." jawab Kaito terlalu cepat, tanpa mempertimbangkan informasi dari Hakuba lebih lanjut. Mungkin karena sudah tahu? "Maksudku.. tentang orang-orang yang hadir di sana? Bagaimana?" Hmm.. sepertinya dugaan Hakuba salah.

Orang-orang yang waktu itu hadir, ya.. Orang-orang yang waktu itu hadir. Kaitkan dengan KID. Hmm.. anak kecil itu? "Mereka semua bersedih, beberapa sampai terlihat hancur, merasa menyesal. Tapi ada satu anak kecil yang terdominasi oleh rasa marah, dari pada duka. Dengan mengabaikan umurnya yang masih terlalu muda, aku mungkin mengira dia satu-satunya yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tahu harus menujukan kemarahan itu kepada siapa."

Tantei-kun.. Kaito berdiri dengan tenang, meraih tas, dan melambai pada Hakuba. "Thanks, Hakuba. Aku pulang dulu."

Entah kebetulan atau bukan, di kota ini pun, di Tokyo, terdapat jejak-jejak pergerakan yang terlihat berbahaya. Sama seperti di Osaka, di hari-hari sekitar tertembaknya Hattori Heiji. Banyak orang-orang mencurigakan berpakaian hitam berkeliaran dengan senjata api, percakapan dengan tema pembunuhan, tindakan-tindakan ilegal menyusup memasuki berbagai gedung, dengan berbagai kode nama alkohol. Hal ini membuatnya teringat dengan laki-laki yang menodongkan pistol ke arahnya di kereta misteri waktu itu. Laki-laki yang mengaku memiliki kode nama Bourbon. Laki-laki yang memanggil wajah wanita yang sedang dipakainya waktu itu sebagai Sherry. Ketika dia mendapati dirinya terjebak dalam kerumitan (kesialan) hidup Edogawa Conan.

Sepertinya itu adalah suatu organisasi kriminalitas yang jauh lebih besar, lebih berbahaya, dalam lingkup yang jauh lebih luas dibandingkan dengan organisasi pengejar batu mistis miliknya... Bagaimana anak sekecil Tantei-kun bisa terlibat dengan hal seperti itu?

Tapi, apakah adanya tanda-tanda yang sama berarti juga akan ada pembunuhan di Tokyo oleh pihak yang sama? Kalau iya, yang terpikir hanya Conan..

Kadang ingin rasanya Kaito menghampiri anak itu, meminjamkan seluruh kemampuannya untuk membantu. Bekerja sama. Saling melindungi. Tapi mereka hanyalah rival yang bahkan tidak mengenal satu sama lain. Terlalu berlebihan kalau sampai menjadikan nyawa sebagai taruhan. Mereka bahkan bukan teman, apalagi kekasih. Kaito hanya akan menjaga dan membantu anak itu ketika dia berada dalam masalah dan berada dalam pandangannya. Hanya sebatas itu.

Tapi siaran berita di TV spontan meruntuhkan ketetapan hati Kaito.

Terjadi ledakan di rumah Profesor Agasa. Ledakan yang rupanya memang sudah terbiasa terjadi karena beliau merupakan seorang ilmuwan yang sering bereksperimen terhadap berbagai macam hal. Namun kali ini ledakannya terlalu besar hingga memakan nyawa sang ilmuwan serta gadis kecil yang tinggal di rumah itu. Sialnya, atau untungnya, Conan juga menjadi korban, meski hanya korban luka. Terlempar tidak sadarkan diri, tapi hidup.

Kaito spontan menulis dan mengirim pengumuman pembatalan aksi Kaito KID malam ini. Diundur satu minggu lagi. Sebagai gantinya, dia melakukan penerbangan dengan penampilan serba hitam menuju rumah sakit tempat Conan di rawat. Karena kalau memang ledakan itu adalah ledakan yang disengaja seseorang, dan kalau Conan juga merupakan target, tentu pembunuhnya akan datang untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Diam menunggu berjam-jam di atas pohon dalam kegelapan malam hingga pagi, tapi sama sekali tidak ada yang terjadi.

Sehari semalam berikutnya tetap tidak ada yang terjadi. Si Anak juga tidak membuka matanya. Koma?

Hari libur selesai, jadi dia hanya memasang kamera pengintai di dalam dan sekitar kamar Conan. Menyabotase sistem keamanan rumah sakit, sehingga Kaito akan selalu bisa membunyikannya dari jarak jauh jika terjadi sesuatu yang mencurigakan. Dan hari itu tetap berlalu tanpa ada yang terjadi.

Hari berikutnya masih tetap sama. Mungkin Conan waktu itu hanya berada di tempat yang salah di waktu yang salah? Mungkin dia tidak diincar..

Tiga hari tanpa ada apapun yang terjadi membuat Kaito mengambil kembali seluruh kamera pengintai serta mengembalikan sistem alarm rumah sakit seperti sebelumnya. Dan menjadi saksi ketika Conan akhirnya terbangun..

Kaito mengamati mata Conan yang terbuka perlahan-lahan secara kosong, berkedip, tapi tidak ada reaksi lebih. Mungkin karena pusing? Mengantuk? Pandangan kabur? Kaito pun melakukan hal pertama yang terpikir olehnya, melambaikan kedua telapak tangannya di depan Conan dalam jarak dekat. Menyaksikan matanya berkedip dan terfokus melihat Kaito.

"Hallo, pangeran kecil~ tidur nyenyak?" sapa Kaito dengan senyum, dengan kedua telapak tangan tetap di depan. Berjaga-jaga, siapa tahu Conan tiba-tiba menyerangnya.

"Uugh," Conan menekan kedua pelipisnya dengan satu tangan, sekaligus menutup mata. Dengan dahi yang mengerut begitu, sepertinya dia sakit kepala. "Dimana.."

"Di rumah sakit," jawab Kaito, lalu mengulurkan tangan menyentuh kepala Conan yang memiliki perban. Apakah ini sakit? Mungkinkah ini parah? Apakah akan terlalu lancang jika Kaito mencaritahu kondisi kesehatan Conan? Tapi toh bagaimanapun hasilnya, dokter tetap bisa memberikan bantuan lebih baik daripada pencuri. Jadi, mungkin sebaiknya tidak perlu.

Conan akhirnya memperhatikan orang di depannya yang sedang menyentuhnya. "Siapa.."

"Aku?" tanya Kaito sambil menunjuk dirinya sendiri, dan tersenyum. Mirip seperti senyum KID, tapi lebih ramah. "Aku adalah peri manis yang menebarkan keajaiban di kala malam, dan akan menghilang ketika pagi datang.." Kaito jadi tertawa pelan menerima tusukan pandangan dari Conan. "Bercanda. Jangan marah. Aku Kaito KID."

Lebih baik langsung mengaku saja daripada melihat Conan menyakiti kepalanya sendiri dengan berpikir. Tapi jika mempertimbangkan bagaimana dirinya yang biasanya, maka dia pasti tetap akan berpikir. Berpikir bagaimana dia bisa sampai berada di rumah sakit. Berpikir tentang kejadian sebelum dia kehilangan kesadaran hingga sekarang. Dan kalau sudah ingat, dia pasti akan bertanya tentang kondisi Profesor Agasa dan Haibara..

Lebih baik Kaito segera pergi dari sini. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan seperti itu untuknya. Jadi, begitu melihat Conan membuka mulut, Kaito langsung menyela. "Meski, kejadian buruk menimpamu.. seburuk apapun itu, berkali-kali pun.. jangan patah semangat, Tantei-kun. Tetap kejar kebenaran, keadilan, atau apapun itu yang kamu cari. Kalau seandainya tidak tahu harus bagaimana, maka cari aku. Aku tahu kamu bisa. Tapi sekarang, aku harus pergi," bisik Kaito sambil menempelkan jari ke bibirnya, "Karena malam hampir berakhir, dan mimpi pun berakhir. Tidak perlu berpikir keras tentang pertemuan kita, karena dari awal aku tidak ada di sini. Kalau kamu mengerti maksudku," Kaito berkedip.

Dia tidak ingin berita bahwa malam ini Kaito KID mengunjungi kamar rawat Conan tersebar keluar. Tidak ingin ada berita tidak penting yang meng-ekspos mereka berdua. Tidak ingin menambah bahaya yang harus di hadapi Conan jika kabar bahwa mereka bertemu secara privat seperti ini didengar oleh orang yang salah. Mungkin tindakannya ini memang berlebihan. Mungkin seharusnya dia langsung pergi tadi, bukannya malah ngobrol.

Tapi begitu dia berjalan pergi, Conan berusaha menahannya dengan dengan teriakan "Tunggu," dan tangan yang meraih, hampir memegang Kaito.

Tentu saja, tangan itu harus dihindari. Kaito tidak bisa mengambil resiko berada dalam jarak yang bahkan lebih dekat lagi. Conan mungkin akan bisa melihat dan mengingat wajahnya. Jadi dia tetap berjalan menjauh. Begitu sampai di jendela, dia membalikkan badan dan berkata, "Kalau ingin menemuiku, Sabtu minggu ini, Kaito KID akan mencuri opal hitam Noir dari tempatnya berada~" Kaito membiarkan senyum lebar penuh gigi menghiasi wajahnya. Toh publik sudah tau apa yang dia incar. Dia hanya mengubah tanggal. Tapi mungkin saja polisi akan mengubah tempatnya.

Kaito menjatuhkan diri ke belakang melewati jendela, tanpa memberikan kesempatan Conan untuk merespon, dan terbang pulang dengan hanglider hitam.

Hmm.. Angin berhembus dengan lembut, memberikan kesejukan pada badan yang lelah setelah berlarian. Dan arah hembusannya tepat! Langit yang cerah, memberikan pemandangan yang indah. Dan boneka KID yang akan diterbangkannya untuk mengecoh polisi akan dapat terlihat dengan jelas! Pakaian tebal yang nyaman dan hangat, menahan dinginnya malam. Dan batu curiannya berada dalam saku bajunya!

Secara keseluruhan, semua berjalan sesuai rencana. Bahkan Noir yang pada akhirnya terbukti bukan merupakan Pandora juga.. dia sudah menduganya. Karena sudah terlalu sering kecewa jadi tidak terlalu berharap dengan tinggi.

Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati. Dia belum melihat Tantei-kun.

Selama ini, Kaito menghormati janji tidak-tertulis-juga-tidak-terucap-nya dengan Conan, untuk tidak menyelidiki satu sama lain. Karena dia yakin, meski anak-anak, Conan adalah detektif dengan nalar, pengetahuan, dan keberanian yang lebih hebat daripada Hakuba. Tapi tidak seperti Hakuba, Conan tidak pernah sekalipun berusaha menyelidiki identitas KID di luar aksi pencuriannya. Identitas KID sebagai warga negara biasa. Entah karena alasan apa. Entah karena menurutnya menyelidiki siapa KID itu sama sekali tidak penting dan membuang waktu, entah karena diam-diam dia sebenarnya tidak ingin KID tertangkap. Apapun alasannya, Kaito menjadi tidak berani dengan lancang menyelidiki dia. Karena kalau sampai dia melakukan hal itu, lalu ketahuan, lalu dia membalas dengan menyelidiki Kaito, maka.. woah, pasti kacau.

Tapi kalau setengah jam lagi anak itu belum sampai ke atap ini, Kaito mungkin-

Tunggu, ada suara langkah kaki terdengar. Langkah kaki yang berjalan dengan santainya.. huh? Bukan berlari? Pantas lama.. atau mungkin dia sebenarnya berniat menghilangkan suara langkah kakinya agar bisa memberi serangan kejutan?

Kaito memposisikan diri tanpa suara. Berdiri tegak menghadap pintu. Mengarahkan pistol kartunya lurus ke arah pintu. Dengan tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan serta menopang sisi bawah telapak tangan kanan yang menggenggam pistol, untuk membantu memastikan keseimbangan bidikan. Meski pistol rakitannya sama sekali tidak seberat pistol sungguhan, tapi Kaito sudah lama belajar bahwa lebih baik jangan pernah meremehkan Edogawa Conan.

Pintu terbuka, memperlihatkan Conan yang tidak memegang apapun, kecuali handle pintu. Tanpa mengenakan jam tangan. Tanpa mengenakan sepatu mengerikan itu. Tanpa dasi, tapi itu sering juga diletakkan di saku celana. Mungkin jam tangan juga di saku? Sabuk dipakai. Kacamata juga dipakai. Checklist gadget canggih Conan sudah selesai dikerjakan di kepalanya, tapi tidak berarti apa-apa. Karena fokusnya lebih tertarik kepada ekspresi Conan yang murni kaget karena tiba-tiba mendapati dirinya ditodong oleh pistol rakitan. Kaito jadi ikut kaget, dan perlahan-lahan menurunkan kewaspadaan. Kaito menurunkan pistolnya, melepas genggaman tangan kirinya. Tapi tetap menjaga pistolnya berada dalam genggaman. Jari telunjuk juga masih diposisi.

"Hallo, Tantei-kun.. malam ini kamu lama. Tega sekali membiarkanku kedinginan di sini sendirian."

Betapa kagetnya Kaito, karena Conan justru tampak kebingungan, bercampur malu, untuk beberapa saat tidak yakin mau mengatakan apa, lalu bersuara, "Maaf.." dengan raut wajah yang benar-benar menyesal.

Baiklah.. Entah apa yang terjadi, tapi, mari coba ikuti skenario ini? Karena sepertinya lebih menarik. "Oh, baiklah.. Kenapa terlambat? Aku mungkin akan akan memaafkanmu, tergantung alasanmu." Ini percakapan yang benar-benar aneh... Apa dia sungguh akan mengutarakan alasan-alasan? Dia masih menunjukkan wajah yang menyesal..

"KID.." panggil Conan dengan tidak yakin, "Aku benar-benar minta maaf.. tapi-"

"Hah?" Kaito tidak bisa menahan keheranannya sampai terselip keluar kata seperti itu..

"Tapi!" lanjut Conan dengan penekanan, sepertinya kesal karena disela, padahal sudah mengumpulkan keberanian untuk bertanya, "Apa kita memang terbiasa mengobrol seperti ini?"

"Apa-" Implikasi dari pertanyaan itu sudah begitu jelas, sampai Kaito menghentikan pertanyaan spontannya secara tiba-tiba. Implikasi yang begitu dingin dan berat.

"Apa sebenarnya hubunganku denganmu?" tanya Conan.

Itu.. Sejujurnya, Kaito sendiri juga tidak seratus persen yakin. Mungkin, rival?

Conan menunjukkan senyum yang sedih. "Dari pertanyaan-pertanyaanku, kamu mungkin sudah menduga, bahwa aku kehilangan ingatan. Dan kamu pernah mengatakan padaku untuk mencarimu kalau aku sudah tidak tahu harus bagaimana. Jadi.." Conan berjalan mendekat. "Katakan padaku, KID. Siapa aku?"

Kaito mengingat pertama kalinya dia berhadapan dengan Conan. Mengingat ketika anak ini memperkenalkan diri. "Edogawa Conan, Detektif."

"Salah," jawab Conan. Kekecewaan terpancar jelas tanpa bisa tertahan. Dia berjalan lagi melewati Kaito dan memilih bersandar pada pagar, melihat pemandangan kota di malam hari. "Mereka mengatakan bahwa namaku Edogawa Conan. Bahwa orang tuaku di Amerika. Tapi surat-surat identitasku semua palsu."

"Bagaimana kamu bisa tahu?"

"Mereka mengatakan bahwa hanya aku yang tahu nomor telepon orang tuaku, tapi HP-ku hancur dalam ledakan itu. Lalu aku mencoba menyelidiki sendiri tentang diriku. Seharusnya mudah, karena namaku sama sekali tidak umum. Tapi, sama sekali tidak ada.. Edogawa Conan sama sekali tidak pernah lahir dimanapun. Di negara apapun."

Kaito mendekat ke samping Conan. "Apa kamu memberitahu orang lain?"

"Tidak. Tidak berani. Entah apa alasannya, tapi diriku sebelum kehilangan ingatan memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari mereka. Aku tidak berani sembarangan mengatakan bahwa Edogawa Conan adalah identitas yang sepenuhnya palsu. Karena apapun alasannya, pasti itu alasan yang sangat penting. Bahkan bisa jadi berbahaya."

"Lalu.. kenapa memberitahuku?"

Conan menundukkan kepala, ingin menutupi rasa kecewa. "Karena aku kira, kamu tahu. Karena kamu tidak pernah memanggilku dengan nama 'Conan', serta pertemuan di rumah sakit yang harus dirahasiakan.. Aku pikir kita berkomunikasi secara rahasia tanpa diketahui publik, jadi.. aku kira kamu pasti tahu kebenaran tentang diriku lebih banyak daripada mereka yang selama ini di sekitarku."

"Hmm.. secara teknis, mungkin memang iya. Aku tahu kamu sering menunjukkan ekspresi riang khas anak kecil yang terlihat sepenuhnya palsu di mataku.. tapi imut.." Kaito tertawa pelan. "Dan, aku tahu bahwa kamu sedang melawan suatu organisasi kriminal atau semacam itu, yang para anggotanya menggunakan kode nama minuman keras."

Akhirnya, kekecewaan menghilang dari raut wajah Conan, dan dia menghadap ke arah Kaito dengan penuh antusias dan harapan. "Jelaskan."

Kaito tidak tega menghancurkan harapannya, tapi mau bagaimana lagi. "Sayangnya, aku tidak tahu apapun lebih dari itu."

"Oh.." Conan merunduk dengan kecewa lagi.

"Lalu mau bagaimana?"

Conan seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu.

"Ingin aku membantumu?"

Sekali lagi, Conan menatapnya dengan harapan. "Sungguh?"

Kaito tersenyum, "Tentu. Asal kamu tidak keberatan bekerja sama dengan kriminal sepertiku."

Conan merespon syaratnya dengan mengibaskan tangannya, secara tidak langsung mengatakan bahwa itu tidak penting. "Kriminal yang sama sekali tidak menyakiti orang secara fisik? Pencuri yang selalu mengembalikan barang curian? Nah, tidak masalah. Aku tidak tahu apa pendapatku sebelum kehilangan ingatan tentang dirimu, tapi aku merasa bahwa aku bisa mempercayaimu."

"Aku tidak tanggung jawab kalau nanti setelah ingatanmu kembali, ternyata kamu menyesal."

"Jujur.. aku merasa jauh lebih dekat denganmu daripada mereka yang tinggal denganku, mereka yang satu kelas denganku, bahkan para polisi itu juga. Mereka yang benar-benar percaya bahwa aku adalah Edogawa Conan.. Ini terdengar memalukan, tapi entah kenapa, aku merasa jauh lebih nyaman berada di dekatmu." Tanpa sadar, Conan jadi menundukkan kepala karena malu. Tiba-tiba pandangan matanya tertutup kartu putih dengan coretan alamat email dan nomor telepon.

Kaito dengan senang melihat Conan yang mengamati kartunya. "Oke. Aku sudah mendengar pernyataan hatimu, dan aku menerimamu. Mulai sekarang kita adalah 'pasangan'. Kamu bisa menghubungiku melalui alamat dan nomor itu."

"Apa cara bicaramu harus seperti itu?" Conan memutar matanya. "Mungkin aku memang akan menyesal."

"Oh, sayang. Baru malam pertama dan kamu sudah mengatakan akan menyesal? Sungguh dingin dan kejam." Kaito tertawa. "Baiklah, malam sudah semakin larut. Mouri-san pasti sedang kebingungan mencarimu. Jadi, sana pulang."

"Huh? Tidak ada pelukan dan ciuman selamat tinggal?" Conan berjalan menjauh.

Conan mengatakan itu dengan sembarangan, iseng, sama sekali tidak serius. Tapi itu seharusnya bukan pengetahuan untuk dimiliki anak-anak seumurannya. "Kadang aku ragu dengan umurmu," jawab Kaito. Kalau dipikir-pikir, pengetahuannya tentang kondisi mayat dan sebagainya juga bukan pengetahuan yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak.

Conan membuka pintu dan memandang Kaito sebentar. "Aku sendiri saja ragu dengan umurku," melambaikan tangan, kemudian masuk dan menutup pintu.

Dengan ini maka resmi terbentuk kerjasama di antara mereka berdua. Kaito bisa berhenti galau menentukan ingin membantu Conan atau tidak.


Author's Note:

Jujur, aku punya ide untuk satu lagi chapter susulan yang masih satu 'universe' dengan chapter ini, tapi entah bakal ditulis atau engga, wkwkw bisa jadi engga.

Jadi, aku jelaskan di sini saja:
- Organisasi hitam tahu bahwa Shinichi masih hidup, dan berkomunikasi dengan Heiji dan Profesor Agasa
- Organisasi hitam ga tau bahwa Shinichi mengecil, tentang Haibara yang mengecil juga ga tau
- Inget ketika pertama kali orang tua Shinichi muncul, mereka mencoba meyakinkan anaknya agar anaknya ikut mereka hidup di Amerika, melupakan ttg BO, tumbuh dewasa lagi sbg Conan.. jadi kali ini, mereka sudah tahu, tapi diam karena merasa ini adalah kesempatan agar anak mereka hidup normal jauh dari bahaya.
- Abaikan semua plot hole lainnya klo masih ada