Kelopak sakura bermekaran. Berjatuhan dengan perlahan sembari menghiasai sekitar. Sembari melihat kelopak yang berjatuhan tersebut, Aku memainkan ponselku.
Aku melirik seorang perempuan yang sedang sibuk membuat lagu. Dia langsung menghela nafas lega.
"Sudah selesai ? coba mainkan di piano sebelah sana." Perintahku sambil menunjuk sebuah piano yang tidak jauh dari kami berdua.
Dia membawa tumpukan kertas tersebut menuju piano yang kutunjuk lalu bersiap memainkan lagu yang baru saja ia buat. Aku berjalan mendekatinya, menunggu ia mulai permainannya.
"Boleh kumulai ?" Tanyanya, menatapku dengan tatapan yang semangat.
Aku mengangguk.
Dia memulai menekan tuts piano satu persatu secara perlahan. Melodi indah bergema di ruangan yang luas ini.
DING...
Tiba-tiba dia berhenti bermain setelah menekan salah satu tuts piano yang salah. Aku mengambil selembar kertas yang berisi lagunya.
"Haruka... kau salah menulis not disini. Harusnya disini sol, bukan la." Jelasku sambil menunjuk salah satu balok nada.
Haruka terkejut."Be, benarkah ?"
Aku langsung memberikannya kembali selembar kertas tersebut dan ia langsung menghapus not yang salah tersebut.
Yap, inilah Haruka. Nama lengkapnya Haruka Nanami. Dia ingin aku membantunya untuk membuat sebuah lagu yang bagus.
"Ano... Tsukiyama-sensei, bagaimana dengan yang ini ?" Tanya Haruka sembari menunjukkan kertas tersebut.
Aku langsung melihat balok nada yang ditunjuk oleh Haruka. Aku mengangguk mengiyakan. Haruka langsung menaruh kembali kertas tersebut ke tempatnya semula dan kembali bermain.
"Haruka... kenapa kau meminta tolong padaku untuk membuat lagu ?" Tanyaku.
"Karena aku yakin kalau Tsukiyama-sensei adalah orang yang tepat untuk membantuku..." Jawab Haruka, masih bermain piano. "Saat pertama kali aku melihatmu bernyanyi, suaramu menarik perhatianku dan membuatku ingin membuat lagu untukmu. Aku sangat terkejut mendengar saat kau mengatakan kalau lagu yang kau nyanyikan waktu itu adalah murni buatanmu sendiri, aku jadi ingin berusaha lebih keras dan membuat sebuah lagu yang bisa kau nyanyikan suatu saat nanti."
Aku hanya menghela nafas. "Kau tidak perlu membuatku lagu. Lagipula, itu terakhir kalinya aku akan bernyanyi."
Haruka berhenti bermain lalu menatapku. "Kenapa ?"
'Karena aku muak menjadi Idol...' Batinku. "Karena aku sudah tidak ingin bernyanyi lagi. Aku muak bernyanyi, membuat lagu, bermain instrumen, dan lainnya. Dan yang paling membuatku muak adalah, berurusan dengan Idol. Jadi, ini adalah terakhir kalinya aku membantumu membuat lagu."
Haruka terdiam, tidak merespon. Mungkin ucapaku terlalu kasar, tetapi itu semua terlanjur keluar dari mulutku.
"Lupakan..." Ucapku lirih. Aku mengambil kertas dan pulpen. Aku menulis nomor ponselku. "Mulai sekarang, jangan hubungi aku dengan nomor lama, ganti dengan nomor ini."
Aku langsung berjalan pergi, meninggalkannya sendiri yang masih terdiam.
2 tahun berlalu sejak kajadian tersebut. Haruka telah lulus dari Saotome Gakuen. Haruka berhasil membuat STARISH memenangkan Utapri Award tahun ini. Jujur saja, semua yang Haruka lakukan mengingatkanku akan hal yang selalu membuatku muak, Idol.
Sekarang sedang akhir tahun dan Haruka mengajakku untuk bertemu dengannya. Aku menyetujuinya dengan syarat dia tidak menyinggung tentang idol.
"Tsukiyama-sensei !" Panggil Haruka dari kejauhan.
Haruka berlari kecil sampai tiba di dekatku. "Aku sangat senang kau mau pergi denganku hari ini !"
"Kau beruntung hari ini aku sedang nganggur." Ucapku datar. "Jadi, kau ingin menunjukkan apa ?"
"Anu... apakah kau mau datang ke agensiku ?" Tanya Haruka gugup.
Aku menatap Haruka heran dan sedikit terkejut. "Agensi ?" Aku bingung sedikit dengan kalimat Haruka.
"Iya, karena sudah lama kita berdua tidak bertemu dan aku ingin memperkenalkan dirimu dengan beberapa temanku." Jawab Haruka.
'Apa yang ia maksud Tomochika... ?"
"Jadi, mau pergi kesana ?" Tanya Haruka.
"Terserah saja, asal tidak lama kan ?" Tanyaku yang langsung dibalas dengan anggukan semangat dari Haruka.
"Kalau begitu, ayo cari taksi." Ucapnya sambil menarik tanganku.
Tidak lama, kami pun dalam perjalanan menuju agensinya.
Sesampainya disana, perasaanku menjadi sangat tidak enak. Aku melihat sekitar yang terasa sangat familiar bagiku.
'Kenapa banyak pohon ? Emangnya agensi Haruka penuh dengan orang utan ?' Pikirku.
Kami berdua pun sampai di agensi Haruka.
"Tunggu disini dulu." Ucap Haruka yang menyuruhku diam sebentar di depan sebuah ruangan.
Aku hanya mengangguk. Haruka langsung masuk ke ruangan tersebut. Aku menunggu beberapa menit sebelum dia keluar.
"Oy, siapa kau ?" Tanya seseorang dari belakangku.
Aku langsung berputar 180 derajat dan melihat 7 orang pria mendatangiku. Seketika melihat penampilan mereka, perasaan tidak enak itu kembali datang.
"Apa kau datang untuk menemui seseorang ?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Aku tidak tahu, aku diseret oleh temanku kesini." Jawabku.
Mereka semua bingung. "Teman ?"
"Kalian tidak perlu tahu, lagipula ini bukan urusan kalian."Ucapku dingin.
Tiba-tiba, pintu ruangan yang dimasuki oleh Haruka terbuka. Aku langsung melihat Haruka keluar dari ruangan tersebut.
"Baiklah, Tsukiyama-sensei, ayo kita cari mereka." Ucap Haruka sambil menggandeng tanganku.
Aku menatap Haruka heran. 'Apa Haruka tidak menyadari kalau ada 7 orang tadi ?'
Kami berdua mulai berkeliling di sekitar agensinya. Suasana mirip dengan suasana saat di Saotome Gakuen.
Setelah berkeliling, aku dan Haruka berisitrahat di Asrama yang sudah disediakan agensi.
"Apa tujuanmu yang sebenarnya ? Mengelilingi gedung gila ini atau mencari teman yang kau maksud itu ?" Tanyaku kepada Haruka.
"Su, sumimasen ! Aku tidak bermaksud membuatmu lelah berjalan, aku hanya tidak tahu dimana mereka sekarang." Jelas Haruka sambil ojigi.
Aku menghela nafas. "Haaa... memangnya tidak bisa kau panggil saja menggunakan ponselmu atau sms atau apapun ?"
Haruka menatapku sebentar lalu mengangguk. "Ah benar juga ! Aku melupakan kalau masih ada cara seperti itu."
Aku menatap Haruka tidak percaya. 'Anak ini... kenapa dia kikuk sekali...'
Haruka langsung menelpon temannya tersebut. Dari caranya berbicara dengan temannya, sepertinya Haruka tidak akan mengenalkanku kepada seseorang, melainkan beberapa orang.
Beberapa menit kemudian, Haruka menutup teleponnya dan tidak lama setelah itu, teman yang ia maksudpun datang.
Aku menatap mereka terkejut. 'Eh... mereka... orang-orang yang sebelumnya...'
"Minna-san !" Seru Haruka.
Sepertinya inilah teman Haruka yang ingin ia kenalkan.
"Jadi, mana teman yang ingin kau kenalkan ini ?" Tanya si rambut merah yang menyamai warna matanya.
Haruka langsung berjalan mendekatiku sembari memberi sebuah kode. Aku yang entah mengapa mengerti kode tersebut langsung berdiri lalu melakukan perkenalan.
"Tsukiyama... Sakakibara Tsukiyama. Biasanya aku nganggur karena sekarang tidak ada kerjaan." Ucapku sembari melakukan ojigi. "Dozoo."
Mereka mengangguk mengerti. Seketika saja, aku merasa jengkel karena tiba-tiba saja aku menyadari kalau mereka adalah personil dari STARISH.
"Senang berkenalan denganmu. Ore wa-" Aku langsung memotong perkataannya.
"Natsuki, Tokiya, Cecil, Ren, Otoya, Syo, dan Masato dari STARISH." Selaku yang membuat mereka terkejut.
"Bagaimana kau tau ?" Tanya Syo.
"Aku melihat kalian di Utapri Award." Jawabku.
"Jadi, kau adalah salah satu fans kami ?" Tanya Natsuki.
Aku menggeleng kepalaku. "Tidak."
"Anu... Tsukiyama-sensei tidak tertarik dengan Idol." Tambah Haruka.
Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang benar-benar selalu membuatku muak. Aku melempar tatapan tajam kepada Haruka sembari mendekatinya perlahan.
Kupegang bahunya dengan pelan. "Haruka..."
Haruka langsung melihat ke arahku dan terkejut dengan aura yang kukeluarkan. Aku langsung mencubit pipinya dengan sekuat tenaga.
"SUMIMASEN!" Serunya sesaat aku mencubit pipinya, tidak bisa menahan seluruh amarah yang meluap.
"Aku takkan memaafkanmu karena sudah membawaku kemari !" Seruku, sambil memperkuat cubitannya.
"Woah, apa salah Haruka ?!" Tanya Otoya.
"Bukan urusanmu !" Seruku, melempar tatapan tajam kepada Otoya.
"Kau jangan ikut campur Otoya." Tegur Tokiya yang menghentikan Otoya.
"Sial ! Sudah kukatakan kalau aku muak dengan hal yang berhubungan dengan idol ! Kenapa kau tidak bisa mengerti apa yang kukatakan !"
Aku bukanlah tipe orang yang langsung berteriak seperti itu. Hanya saja, kali ini Haruka kelewatan.
"Apa itu suaramu Sakakibara-san ?" Tanya seseorang tiba-tiba.
Dengan cepat, seluruh pandangan mengarah ke suara yang tiba-tiba muncul. Sesaat aku melihat suara sang pemilik, aku langsung berhenti mencubit pipi Haruka.
"Oh... Ringo, Ryuuya, lama tidak bertemu."Ucapku datar.
STARISH terkejut melihatku.
"Waa~ sudah 2 tahun lamanya sudah tidak saling bertemu." Ucap Ringo.
"Tunggu, Ringo-san, kau mengenalnya ?" Tanya Otoya.
"Yup, dia adalah salah satu murid dari Saotome Gakuen. Dia adalah murid paling muda di akademi dulu." Jelas Ringo.
"Paling muda ?" Tanya Tokiya.
Ryuuya terkekeh mendengar pertanyaan Tokiya. "Heh, cuma dia satu-satunya murid yang masih berumur 9 tahun saat itu." Jawab Ryuuya.
"APA ?!" Semua orang terkejut dengan apa yang mereka dengar.
"Kami juga terkejut pada awalnya. Dia adalah murid kelas S yang paling pendek. Aku sempat menanyakan umurnya dan dia menjawab 9 tahun. Saotome saja terkejut mendengar umurnya." Jelas Ryuuya.
"Itu sudah sekitar 6 tahun yang lalu." Ucapku sambil menyilang kedua tanganku.
"6 tahun yang lalu ?" Semua orang bingung.
"Hn, 6 tahun yang lalu. Umurku masih 15 tahun sekarang. Kalian pikir, karena aku tinggi, aku tua begitu ?" Jelasku yang membuat mereka terkejut semua, terutama Haruka.
"Lalu saat kita bertemu ?" Tanya Haruka
"Haruka, kita bertemu saat kau masih baru disekolah. Saat itu, aku masih berumur 13 tahun." Jelasku.
"Setelah lulus, Tsukiyama sempat bekerja sebagai Idol tetapi langsung mengundurkan diri." Jelas Ryuuya.
"Mengundurkan diri ? Kenapa ?" Tanya Syo.
"Orang tuaku hilang." Jawabku yang membuat mereka lebih terkejut dari biasanya.
"Mengapa ?" Tanya Masato.
Kulihat Ryuuya menarik nafas, bersiap menjelaskan. "Saat itu sedang ada konser besar-besaran. Ayah dan Ibunya-"
"Hentikan Ryuuya, mereka tidak perlu tahu soal itu dan kalian semua, berhentilah bertanya. Ini bukan urusan kalian." Ucapku dingin membuat para personil STARISH tersentak sedikit lalu terdiam.
Tiba-tiba saja, tembok yang tepat berada di sebelah kami hancur sehingga membuat lubang.
" , sudah lama tidak bertemu..." Ucap seseorang yang membuatku sweatdrop.
Aku memutar bola mataku. "Oh... ternyata kau lagi..."
"Hohoho, sepertinya kau tidak terlalu senang melihatku hmm~" Ucap Saotome yang membuatku ingin langsung membunuhnya di tempat.
"Woah, kau juga kenal bos ?" Tanya Natsuki
Aku mengangguk. "Mmm, dia sudah banyak membantuku dulu." Jawabku.
"Saotome, sini..." Panggil Ringo tiba-tiba.
Mereka berdua langsung saling berbisik. Aku hanya terdiam sementara sisanya ikut-ikutan berbisik satu sama lain.
"Baiklah, , mumpung anda sedang disini, bagaimana kalau aku menawarkanmu sebuah pekerjaan ?" Tawar Saotome.
"Pekerjaan seperti apa ?" Tanyaku.
"Hmmm~ karena kau lebih berpengalaman, kau akan menjadi Senior STARISH dan QUARTET NIGHT dan kau juga bisa mengurus urusan Idol-mu." Jawab Saotome sambil menghilang tiba-tiba.
Aku hanya terdiam. Aku masih terkejut dengan tawaran pekerjaan itu.
"Jadi, bagaimana Tsuki-chan ?" Tanya Ringo.
"Kalia pasti bercanda..." Gumanku. "Tentu saja tidak ! Sudah kukatakan, aku tidak ingin berurusan dengan idol ! Aku muak dengan idol !"
"Tapi, mereka benar-benar membutuhkanmu." Bujuk Ryuuya.
"Ya, karena kau lebih berpengalaman, kau hanya menjadi Senior mereka." Tambah Ringo. "Ini hanya untuk sementara Tsuki-chan."
"Tidak ! Aku tidak mau karena tidak berniat dan aku muak dengan idol !" Protesku.
"Woah, Tsukiyama, tahan amarahmu." Ucap Tokiya yang berusaha membuatku tenang.
"Bagaimana jika kita membuat perjanjian ?" Tawar Ringo.
"Perjanjian ?" Tanyaku.
"Yup, kau akan diberi waktu beberapa bulan disini. Jika para STARISH dan QUARTET NIGHT menerimamu disini, kau akan bekerja disini, mau tak mau." Jelas Ringo.
"Jika semua orang tidak menerimaku ?" Tanyaku.
"Kau tidak perlu bekerja disini dengan paksaan." Jawab Ringo. "Kau bisa kembali ke kehidupan lamamu yang tenang itu."
Aku berpikir sebentar. Aku tidak ingin terlibat dengan Idol lagi. Tapi, aku merasa tidak enak kepada ketiganya dan harus membalas kebaikan Saotome, Ryuuya, dan Ringo.
Aku menghela nafas berat, memejamkan mataku sebentar lalu menatap mereka kembali. "Baiklah, tapi aku ingin ikut karena pemaksaan." Ucapku sambil mengulurkan tanganku.
Ringo tersenyum lebar. "Baiklah, Tsuki-chan, ini perjanjianmu." Ucapnya yang menjabat tanganku.
Sesaat kemudian, sebuah ide terlintas dikepalaku."Tapi, sebagai gantinya, Aku ingin mereka berdua kembali bekerja jika ada konser."
"'Hmm ? Kay, aku terima." Ucap Ringo.
"Tunggu, siapa yang kau maksud ?" Tanya Syo.
"Bukan urusan kalian." Jawabku datar.
Aku langsung berjalan meninggalkan ruangan.
"Oy, Haruka, antar aku ke kamar baruku !" Perintahku.
Haruka menurut, dia langsung mengantarkanku ke kamar baruku.
Yah, ini mungkin kisah baru yang mungkin mengubah hidupku...
Aku berjalan mengelilingi Asrama Agensi tempat aku tinggal mulai sementara dan di saat yang sama, aku bertemu 4 orang.
"Siapa kau ?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Tsukiyama, Sakakibara Tsukiyama." Jawabku.
"Kenapa kau ada di sini ?" Tanya pria berambut ikal berwarna coklat.
"Pekerja nganggur yang akan berkerja sementara disini, bisa dibilang sebagai Senior kalian." Jawabku.
"Senior kami ?" Tanya mereka kompak.
"Bukan Cuma senior kalian, aku juga senior STARISH." Tambahku.
"Oh, aku ingat, kau pasti Tsuki-chan yang diceritakan Otoyan." Ujar si ikal coklat.
Aku hanya terdiam.
"Apa kau diperintahkan oleh Saotome ?" Tanya si rambut Cyan.
"Ya, kalau tidak untuk apa aku disini ?" Jawabku plus melempar kembali sebuah pertanyaan.
"Entahlah, tapi senang mengenalmu Senpai-chan, panggil aku Reiji." Ucap si ikal coklat yang langsung memperkenalkan dirinya.
"Mikaze Ai." Ucap si Cyan.
"Kurosaki Ranmaru." Ucap si bermata 2 (warna matanya ada dua macam).
"Camus (dibaca Kamyu)." Ucap si pirang. Dilihat dari cara berpakaiannya, dia seperti seorang bangsawan.
"Pekerjaan apa yang akan kau lakukan ?" Tanya Camus.
"Entahlah, aku hanya disuruh menjadi senior." Jawabku.
"Wah, berarti kita bukan senior STARISH lagi ?" Tanya Reiji.
"Tetap saja kalian menjadi senior STARISH." jawabku.
"Berarti STARISH punya dua senior ?" Tanya Ranmaru.
Aku mengangkat bahu. "Entahlah. Paling aku hanya mengurus pekerjaan kalian seperti ada wawancara atau semacamnya, dan paling mengurus kalian."
"Kami tidak butuh pengasuh." Kata Camus.
"Siapa juga yang mau jadi Pengasuh ? ini saja bekerja karena paksaan." Ujarku sambil menjulurkan lidahku.
"Hmm... kau mirip dengan seseorang." Ucap Ai yang membuat seluruh pandangan ke Ai.
"Mirip sama siapa ?" Tanya Ranmaru kepada teman berambut Cyannya.
"Hiyorin Sakakibara. Idol yang tiba-tiba menghilang setelah ia selesai tampil di Utaprins 2 tahun yang lalu." Jelas Ai.
"Oh, aku juga baru menyadarinya, nama belakangnya sama." Kata Reiji.
Mereka berempat langsung menatapku.
Perasaan tidak enakku kembali. "Apa ?!" Tanyaku setengah berteriak.
Mereka mendiamiku. Aku langsung berdecih lalu mengangkat kaki dari tempat tersebut. 'Ugh ! Untung malam ini aku bisa pulang ! Aku tidak akan kembali sampai mereka melupakan pembicaraan sebelumnya ! Aku takkan kembali sampai aku dipanggil oleh Saotome sendiri !'
Ini bukan salah siapapun... Ini salah gadis itu sendiri... melempar dirinya masuk kembali kedalam dunia idol...
