HIYORIN P.O.V

Tidak lama setelah aku menerima pekerjaan bodoh ini, aku tidak menyadari kalau musim semi pun tiba. Bulan maret akhirnya tiba, membuat musim berganti dari musim dingin menjadi musim semi. Membuat pohon sakura mulai bermekaran.

Karena panggilan dari Saotome, akhirnya aku menginjakkan kaki kembali di agensi bodoh ini setelah sekian lamanya aku meliburkan diri sendiri.

Aku membuka gerbang lalu kembali menutupnya. Aku mulai berjalan memasuki perkarangan agensi.

Hari ini, pohon sakura sedang mekar. Banyak kelopak sakura yang bertebangan pada malam ini. Malam musim semi hm... membuatku teringat berbagai kenangan bodohku beberapa tahun yang lalu.

"Yama-chan !" Panggil seseorang dari kejauhan.

Aku langsung menoleh dan melihat Otoya. Ia berlari kecil ke arahku. Dia berlari ke arahku sambil membawa tas gitarnya.

"Kau ingin apa ?" Tanyaku kepada Otoya begitu ia sampai ditempatku berdiri.

"Karena Yama-chan akhirnya ada disini, aku ingin menunjukkan gitar baruku yang baru saja datang hari ini." Jawab Otoya sambil mengeluarkan gitar barunya yang mirip dengannya. Sebuah gitar merah yang sangat serasi dengannya.

"Woah, apa itu gitar edisi terbatas yang sedang marak dibicarakan di internet ?" Tanyaku sedikit takjub.

"Ya, karena kau senior, kau harus melihat seluruh peralatan musik kami kan ? Memastikan kalau ini kualitas yang bagus." Jawab Otoya riang.

"Hm ? apa kau sangat semangat tentang diriku yang menjadi senior sementara ?" Tanyaku agak curiga.

Dia mengagguk semangat. "Tentu saja ! Habis, Haruka bilang kau mempunyai suara yang sangat indah. Mungkin, kalau bisa sekali-sekali aku ingin..."

Dia tiba-tiba berhenti lalu menatapku.

Aku menatapnya heran, "Ingin apa ?" Aku penasaran dengan kelanjutannya.

"Oh, lupakan saja, hahahaha..." Jawab Otoya, sambil tertawa kecil. Ia menggaruk tengkuknya sembari memalingkan pandangannya dariku.

"Hm ? baiklah, dan sedikit saran untukmu, berhenti bertanya tentangku kepada Haruka. Aku tidak suka saat seseorang berusaha sok dekat denganku hanya karena mendengar perkataan seseorang tentangku." Jelasku.

"Gomen..." Guman Otoya lirih. "Aku tidak akan menanyakannnya lagi."

Aku menghela nafas lalu langsung meraih kepalanya dan menepuknya (Fyi, Tinggi kami nyaris sama).

"Jangan kelihatan sedih begitu, terkadang manusia juga buat kesalahan." Hiburku. "Tapi kumohon, berhenti bertanya tentangku kepada Haruka. Itu menyebalkan. Aku maafkan untuk kali ini saja."

Otoya terkejut melihat apa yang baru saja terjadi. Aku langsung pamit dan melanjutkan perjalananku. Tidak lama berjalan, aku bertemu dengan seseorang yang sedang sibuk menatap sebuah pohon sakura yang berdiri sendiri di tengah dan dikelilingi dengan jalan setapak.

Penampakannya terlihat seperti Natsuki.

"Natsuki ?" Panggilku memastikan.

"Oh, Tsuki-chan." Dan benar saja dugaanku.

Aku langsung menghampirinya. "Sedang apa ?"

"Lihat sakura. Lihat itu, ada bunga sakura yang cantik." Ujarnya sambil menunjuk ke arah pohon sakura yang tepat dekat dengan kami.

Aku langsung melihat sakura yang dimaksud Natsuki.

Kulihat sebuah bunga sakura yang tumbuh di salah satu dahan pohon tersebut. "Oh. Itu memang terlihat cantik dan lucu."

"Tsuki-chan juga suka sakura ?" Tanya Natsuki.

"Tidak." Jawabku singkat.

"Tapi, Tsuki-chan memakai hoodie yang warnanya mirip dengan warna bunga sakura." Kata Natsuki yang menyadarinya. "Kau jadi terlihat sangat imut."

Aku menarik pinggiran hoodieku. "Oh, mungkin karena ini musim semi, jadi aku tidak sadar menggunakannya." Aku menyadari kalau aku memakai hoodie berwarna pink seperti sakura. "Dan kumohon, aku tidak suka dipuji seperti itu."

Natsuki cuma tersenyum polos lalu kembali menatap sakura sebelumnya. "Tsuki-chan, apa Tsuki-chan keberatan bekerja disini ?" Tanya Natsuki tiba-tiba.

"Apa maksudmu ?" Tanyaku kembali.

"Nggak, aku cuma bertanya kok." Jawab Natsuki yang membuatku kebingungan.

Aku memilih untuk tidak bertanya kembali dan memilih bermain dengan sakura yang sedang bertebangan dan disaat yang bersamaan, aku melihat raut wajah Natsuki berubah. Raut wajahnya yang berubah tiba-tiba seperti itu membuatku terkejut sedikit.

"Ada apa ?" Tanyaku sembari mendekatinya untuk melihat wajahnya lebih jelas lagi.

Dia langsung menoleh ke arahku. Aku tidak menyahut. Tidak lama, ia kembali tersenyum seperti biasa. "Er... kau baik-baik saja, Natsuki ?"

Natsuki menatapku terkejut sedikit. "Waaa ! Apa aku membuatmu terkejut ? Aku tidak bermaksud membuatmu berpikiran seperti itu, gomen..."

Aku menghela nafas. "Hm ? Kau aneh sekali. Apa kau yakin kau baik-baik saja ?"

Natsuki mengangguk. "Aku hanya berpikir kalau Tsuki-chan itu imut sekali, jadi aku jadi ingin meremasmu." Ucapnya dengan menyungging innocent smile.

"Kau pikir aku ini kain basah yang diremas biar kering gitu ?" Tanyaku jengkel.

"Habis pipi Tsuki-chan tembem sedikit, makanya jadi kelihatan imut-imut gitu~" Jawab Natsuki sambil mengelus pipiku dan sekali-sekali ia cubit dengan pelan.

"Tembem ya..." Gumanku.

Aku langsung menepis tangannya. 'Emangnya aku gendutan... perasaan berat badanku tidak naik...' Pikirku.

Aku langsung berjalan meninggalkan Natsuki kebingungan sendiri. Rasa kesal mendatangi pikiran begitupun hatiku. 'Dia ini... membuat jengkel saja... kenapa harus membahas tentang pipiku ? apa aku gendutan ? sebaiknya aku berhenti makan mie instan.'

Akhirnya, setelah melewati ladang bunga sakura, aku melewati pepohonan yang dikelilingi oleh kunang-kunang, yang artinya aku sudah dekat dengan gedung asrama.

"Tsukiyama ?"

Aku langsung menoleh ke atas pohon dan ternyata, ada Cecil di atas pohon. Dia langsung lompat dari pohon dan mendarat dengan aman didepanku.

"Apa yang kau lakukan di atas sana ? Parkour ?" Tanyaku kepada Cecil.

Dia menunjukkan sebuah buku yang sedari tadi dia pegang. "Belajar sejarah jepang." Jawab Cecil. "Karena sinar bulannya terang, aku belajar di luar sini." Tambahnya.

"Iya sih, tapi jangan terlalu sering, itu bisa merusak matamu dan akhirnya, kau merepotkan banyak orang." Ucapku. "Dan kau tau, itu menyebalkan. Merepotkan banyak orang termasuk aku, itu menyebalkan. Sangat."

"Oh, maafkan kecerobohanku, Tsukiyama." Ucapnya. "Terimakasih sudah menasihatiku."

"Aku tidak menasihati atau semacamnya. Aku tidak peduli soal itu, hanya aku malas sekali jika kau merepotkanku." Ujarku dingin.

Cecil hanya tersenyum polos sementara aku melihat bulan yang sedang menyinari langit.

Pada akhirnya, aku menghela nafas. "Well... terserah saja sih... aku menghargai perjuanganmu mempelajari sejarah Jepang tapi, lain kali belajarlah di ruangan yang cukup terang agar matamu tidak rusak." Jelasku yang diakhiri dengan helaan nafas berat. 'Mereka... merepotkan...'

"Aku anggap itu sebagai pujian dan nasihat, terima kasih." Balas Cecil yang mungkin lebih polos daripada Otoya.

'Bodoh...' batinku. Aku langsung menepuk kepalanya sedikit kencang. "Kau kelewat bodoh." Ucapku yang membuatnya bingung.

"Eh ? Apa benar begitu ?" Tanya Cecil.

"Terserah, anggap saja yang tadi itu adalah pujian." Ucapku yang malah membuatnya tambah bingung. "Sudahlah, aku pergi dulu."

Aku kembali berjalan menuju tempat berikutnya. Akhirnya melewati danau dekat Beranda. Begitu semakin dekat, suara saksofon mulai terdegar. Aku langsung mencari asal suara dan melihat ada Ren yang sedang bermain saksofon sendirian.

Dia langsung menyadari kehadiranku dan berhenti bermain.

"Yang tadi tidak terlalu buruk." Pujiku sembari menghampirinya.

Ren langsung mendekatiku, padahal aku berencana menghampirnya. Dia memegang daguku untuk membuatnya face to face kepadanya.

"Penampilanku yang bagus atau diriku~" Goda Ren yang berhasil membuatku menghela nafas dan menatapnya datar.

"Ha... Dua-duanya." Jawabku yang membuat Ren terkejut. "Habis, kau yang menampilkannya, jadi sama saja."

"Oh, jadi kau tertarik denganku hmm~" Goda Ren lagi.

Tanpa kusadari, tiba-tiba saja suasana berubah. Raut wajah Ren berubah menjadi serius.

"Saat pertama kali bertemu denganmu, aku merasakan sesuatu yang aneh di hatiku..." Ucap Ren yang masih menatapku dengan intens.

Aku hanya terdiam tidak menanggapinya. 'Ugh... Dasar playboy... Dia ini buang-buang waktu sekali... menyebalkan.'

Ren menatapku terkejut tapi, ekspresi itu tidak bertahan lama dan langsung berganti menjadi ekspresinya yang normal. "Hmm~ mungkin harus menunggumu sampai dewasa." Ujarnya tiba-tiba. "Mulai sekarang kupanggil Neko-chan ya~" Ucapnya sambil melakukan blow kiss.

Aku mengangguk. "Baiklah, terserah saja, aku tidak keberatan."

"Hmmm... kau ini unik sekali hm ? reaksimu sangat berbeda dengan perempuan yang kugoda sebelumnya. Apa kau tidak merasakan apapun ?" Tanya Ren. "Seolah kau tidak keberatan jika aku memangsamu sekarang."

"Untuk apa aku merasakan sesuatu yang bodoh ? Semua yang kau lakukan itu hanya sekedar untuk bersenang-senang atau mungkin hanya sebagai pemanis di kehidupanmu. Aku tidak keberatan jika untuk bersenang-senang tapi, jangan sampai keterlaluan." Jelasku. "Aku juga sudah terbiasa bertemu dengan pria sepertimu."

Aku langsung berjalan meninggalkan Ren yang terkejut.

Akhirnya, aku sudah mulai berjalan di salah satu koridor yang terbuka (atau mungkin outdoor ?).

"AKU MENYUKAIMU !" Teriak seseorag tiba-tiba.

Aku terkejut mendengar teriakkan tersebut dan memutuskan untuk mencari asal suara tersebut. Dan teriakkan tersebut berasal dari 'Syo'.

"Apa yang kau lakukan disini, berteriak seperti orang gila ?" Tanyaku kepadanya.

Syo langsung menoleh kearahku lalu berlari kecil menghampiriku dengan semangat.

"Aku sedang berlatih untuk aktingku berikutnya dengan Hyuuga-sensei !" Jawab Syo dengan semangatnya.

"Benarkah ?" Tanyaku lagi.

Ia mengangguk dengan semangatnya. "Ya ! dan ada adengan romantisnya juga." Jawab Syo.

"Oh, bisa kau tunjukkan salah satunya ?"

Syo mengangguk dengan semangat lalu langsung mendekat ke arahku dan memelukku. Sayang sekali, tinggiku dan tingginya beda. Kami lebih terlihat seperti Ibu dan anak, membuatku berusaha menahan tawa.

"Walaupun, Bumi terbelah dan Langit runtuh, tidak ada yang akan mengubah cintaku padamu." Ucap Syo sambil memelukku dengan erat.

Beberapa menit pun berlalu dan dia kunjung tidak melepas pelukannya.

Aku memutar bola mataku jengkel. "Ehem !"

Syo langsung menyadari perbuatannya lalu melepas pelukannya dan melihatku dengan wajah yang mulai memerah. "Ma, maaf ! Aku terbawa suasana..."

"Tidak apa. Dan ngomong-ngomong kau demam ?" Tanyaku.

"Nggak kok !" Jawab Syo setengah teriak.

Aku menunjuk wajahnya. "Lalu, kau kenapa ? wajahmu merah loh." Tanyaku.

"Lupakan apa yang terjadi." Ucap Syo lirih sambil menunduk.

Aku langsung menyentuh keningnya. "Kau benar, kau enggak demam." Kataku sambil menepuk keningnya dengan jari jemariku.

"Eh ?" Dia bingung. Wajahnya bertambah merah.

Aku menghela nafas lalu berjalan kembali, meninggalkannya larut dalam kebingungan. Rasanya, ada yang aneh dari dia. Aku melanjutkan perjalanan menuju dalam gedung dan menemui Masato sedang bermain piano.

Begitu aku masuk, ia langsung berhenti memainkan piano. "Aku sedang dibanjiri cinta dimalam penuh sakura ini..." Ucapnya puitis, seperti sedang membuat puisi.

Ia kembali bermain sementara aku melihatnya dari kejauhan. Tidak lama, dia menyadari kehadiranku dan langsung berhenti bermain.

"Aku tidak menyadari jika kau ada disini, Yama." Ucapnya datar.

"Maaf jika aku mengganggu latihanmu." Ucapku sembari menghampirinya.

"Tidak, tidak apa." Sahut Masato.

Tiba-tiba, angin bertiup, menerbangkan 1 halaman yang berisi not. Aku langsung mengambilnya, begitupun Masato. Alhasil tangan kami bersentuhan. Aku melihat raut wajah Masato yang terlihat terkejut.

'Huh ? Dia terlihat seperti belum pernah bersentuhan secara langsung dengan perempuan...'

"Nih," Aku langsung mengambilnya duluan dan menyerahkannya. "Ngomong-ngomong, permainan pianomu sebelumnya cukup bagus."

"Terima kasih atas pujiannya, Yama." Ujar Masato sembari berjalan kembali menuju piano yang ia mainkan sebelumnya.

Aku hanya mengangguk. "Oh, dan kumohon jangan terlalu formal kepadaku. Aku lebih muda darimu loh."

Aku pun langsung meninggalkannya dan melanjutkan perjalanan lalu...

*Thud

"Maaf, aku tidak melihatmu." Ucapku lirih.

"Sakakibara-san, kau sedang apa malam-malam begini ?" Tanya seseorang. Didengar dari suaranya, aku sudah bisa mendunganya kalau orang ini adalah Tokiya.

"Oh, aku bara saja datang." Jawabku. "Dan ugh... kumohon jangan terlalu formal, aku tidak suka formalitas."

"Baik, mulai sekarang kupanggil Yama-san saja." Ujarnya.

Tiba-tiba, ia langsung mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu. "Aku menerimamu..." Bisiknya.

Aku menatapnya heran. "Bukankah, itu terlalu cepat ?" Tanyaku.

"Jangan kawathir, dilihat dari wajahmu, kau itu orang baik." Jawab Tokiya yang langsung berlalu.

'Maksudnya ?'

Aku mengangkat kedua bahuku tidak peduli dan langsung berjalan kembali. Sekarang sepertinya, aku keluar gedung lagi. Tiba-tiba, aku mendengar suara kuda dan melihat Camus sedang menunggangi seekor kuda putih dan berhenti tepat di depanku. Yah, semacam melihat seorang bangsawan menaiki kuda putihnya.

"Berani-beraninya kau menatapku." Ucapnya dingin.

Seketika mendengar ucapannya, aku menatapnya jengkel. "Heh, memangnya siapa kau ? Kau tidak berhak menyuruh ini itu kepadaku. Kau bukan bos maupun atasanku."

Camus hanya menatapku dengan tatapan dinginnya. Aku pun membalas tatapan tersebut dengan menatapnya sinis.

"Hm... walaupun kau seorang rakyat jelata, kau mempunyai mata yang indah." Puji Camus (sepertinya) yang membuatku bingung.

"Huh ?" Aku bingung dengan apa yang dimaksud.

"Matamu itu, terlihat seperti laut yang indah." Tambahnya.

Dengan ucapan itu dia lontarkan, dia langsung pergi dari hadapanku dengan kudanya. Dia langsung menghilang ke arah hutan. Aku hanya terdiam melihatnya.

'Dasar, anak bangsawan sombong sialan...' Pikirku.

Aku langsung melanjutkan perjalanan dan tiba-tiba mendengar suara seseorang sedang bernyanyi.

"Nanana~ nanana na~ nanana nana~ nanana~ nana nana~ nanana nana~"

Aku langsung mencari asal suara tersebut dan melihat Ai sedang bernyanyi di dekat air mancur.

"Oh... Ini... suaranya Ai toh..."

Aku tak sengaja menyebut namanya. Dia langsung melihatku.

"Oh, ternyata Tsukiyama..."

Dia langsung menghampiriku. "Aku ingin bertanya, kenapa lagu Haruka membuat jantungku berdetak dengan kencang, apa kau tau kenapa ?" Tanya Ai, sembari menatapku dengan intens.

"Oh, begitu... ternyata kau juga tidak tau." Ucap Ai lirih.

'Padahal aku belum mencucapkan sepatah kata pun...'

"Kalau begitu, akan kucari jawabannya nanti." Ucap Ai yang langsung kembali ke posisi ia bernyanyi yaitu, dekat air mancur.

"Erm... jangan memaksakan dirimu." Ucapku canggung.

"Apa kau manasehatiku ?" Tanya Ai yang langsung menoleh kembali ke arahku.

Aku menatapnya jengkel, "Aku cuma ingin kau tidak memaksakan dirimu. Akan sangat merepotkan jika kau jatuh sakit atau semacamnya. Dan itu sangat menyebalkan. Merawat orang sakit sangatlah menyebalkan." Ucapku dingin.

"Hmmm... aneh, perasaan kali ini sangat berbeda saat berada di sekitarmu." Guman Ai tiba-tiba.

Ia langsung menatapku sembari memegangi dada bagian kirinya. Ia memiringkan kepanya lalu mengedipkan matanya beberapa kali.

"Ada yang salah ?" Tanyaku.

Ia langsung kembali semula lalu menggeleng. "Tidak, tidak ada." Jawabnya.

Aku kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya dan langsung kembali berjalan setelahnya.

Beruntungnya, kali ini, aku berada di dalam gedung. Aku melewati koridor yang kosong dan tiba-tiba melihat Ranmaru sedang mendengarkan musik sambil senderan di dekat jendela.

"Oy, apa kau bangun ?" Tanyaku.

Aku berjalan mendekatinya untuk mengecek apa dia bangun atau tidak. Dia hanya diam. Aku mencoba mengibaskan tanganku di depan wajahnya tapi tidak ada respon darinya. Aku memutuskan untuk berjalan kembali.

Tiba-tiba saja, ada yang menyentuh kepalaku.

"Jangan bergerak." Ucapnya. Aku langsung mengenali suara tersebut yang berasal dari Ranmaru.

Aku mengikuti perintahnya untuk tidak bergerak. Setelah dia melepas tangannya dari kepalaku. Aku langsung menoleh ke arahnya. Ternyata ada sakura yang menyangkut di hoodieku.

"Oh..."

Dia menyimpannya di saku celananya lalu menatapku sebentar. Tidak lama, dia langsung berjalan menuju arah yang berlawanan dengan tujuanku.

'Aneh...'

Aku langsung berjalan kembali dan aku mendengar seseorang yang sepertinya memanggilku.

"Yahoo~ Senpai-chan~" Panggilnya.

Aku menoleh ke sang pemilik suara dan mendapatkan Reiji yang sedang tersenyum bodoh ke arahku.

"Oh, apa yang kau lakukan disana ?" Tanyaku.

"Tentu saja menunggumu." Jawab Reiji sembari menghampiriku. "Kudengar hari ini kau akan datang jadi, aku menunggumu disini."

"Lalu, apa yang kau inginkan ?" Tanyaku lagi.

"Kau tak perlu sedingin itu, Senpai-chan~" Ujar Reiji.

"Serius, apa yang kau inginkan ? Kau mulai membuang-buang waktuku." Tanyaku yang mulai kesal.

Reiji menghela nafas lalu menatapku serius. "Mau masuk ke dunia dewasa ?" Tanya Reiji kembali yang sukses membuatku diam.

Suasana langsung berubah dengan cepat. Aku terdiam dan hanya bisa menatapnya setengah terkejut dan bingung.

"Men gomen go~ Cuma bercanda~" Ujarnya riang."Nanti kita bicara lebih banyak lagi ya~"

Aku langsung jengkel melihatnya. Sebelum aku memarahinya, dia langsung pergi dan sosoknya pun menghilang di ujung jalan. Aku menghela nafas berat, 'Aku benci disini... aku hanya perlu membuat mereka tidak menerimaku kan ? well, semoga saja aku bisa bertahan...'

Aku pun melanjutkan perjalananku menuju kamarku. Saat aku membuka pintu sebuah ruangan yang bisa kujadikan jalan pintas, aku melihat Haruka dan seorang perempuan lain di dalam.

"Tsukiyama-sensei !" Sapa Haruka.

Aku diam tidak membalas sapaannya. Kuhampiri keduanya.

"Apa yang kalukan disini ?" Tanyaku.

"Aku juga baru sampai disini dan bertemu dengan Tomo. Oh ! dan perkenalkan, ini Tomochika Shibuya." Ucap Haruka yang memperkenalkan temannya itu.

"Panggil aku Tomo saja." Ucap Tomochika. "Dan kau pasti Tsukiyama, senang berkenalan denganmu." Tambahnya.

Aku hanya mengangguk. "Hm."

Tidak lama, kedua pintu di ruangan ini terbuka. "Maaf kami telat." Ucap seseorang yang sangat kukenal.

Ternyata STARISH dan QUARTET NIGHT yang datang secara bersamaan dari pintu yang berbeda. Aku sedikit terkejut karena kedatangan mereka yang bersamaan. 'Perasaan... aku baru saja menemui mereka satu per satu... kenapa bisa datang bersamaan seperti itu ?'

"Wow, kalian sedang apa disini ?" Tanya Tomochika.

Tiba-tiba lampu dimatikan. Suasana ruangan gelap. Hanya diterangi oleh sinar bulan lewat jendela yang besar dan menjulang tinggi.

"Ladies and Gentleman~"

Kami semua mendengar suara seseorang. Aku hanya sweatdrop begitu aku mengenal sang pemilik suara. Tiba-tiba ada seseorang melompat dari atas. Masih untung ada seutas tali yang memeganginya. Aku menatap sosok tersebut tidak percaya. "Tuhan... siapa orang gila ini..."

Lampu pun dinyalakan kembali.

"Ohayo minna ! walaupun sekarang masih malam~" Sapa Ringo yang turun dari langit-langit ruangan dengan kostum malaikat.

Kami juga melihat ada Ryuuya yang menggunakan sayap malaikat.

"Ada apa ini ? Apa yang kau inginkan, Saotome ?" Tanyaku. "Sebaiknya ini penting karena aku tidak punya waktu yang banyak. Aku lelah, mau tidur."

"Jangan seperti itu Mrs. Sakakibara~ Aku punya pengumuman." Jawab Saotome sembari tertawa misterius.

"Kalian tau soal pertandingan olahraga besar-besaran yang akan diadakan di jepang tahun ini ?" Tanya Ryuuya.

Aku mengangguk. "Super Star Sport bukan ? yang disingkat menjadi Triple S." Jawabku.

Saotome tertawa dengan bangganya. "Right ! Aku ingin mengumumkan kandidat dari agensi ini ! yaitu, Reiji Kotobuki, Kurosaki Ranmaru, Mikaze Ai, dan Camus ! Mereka adalah QUARTET NIGHT !" Jelas Saotome setengah teriak. Ia langsung menunjuk Haruka, "Dan Miss Nanami akan membuat lagunya."

"Oh, selamat berjuang Haruka." Ujarku.

Saotome kembali tertawa miseterius. "Dan, aku juga menamabahkan kandidat misterius yang akan bernyanyi disana." Tambah Saotome.

"Siapa ?" Tanya kami semua berbarengan.

"Mereka adalah grup yang hancur yang akan terbentuk kembali." Jawab Saotome sambil melirikku.

'Eh... ? Apa yang dia maksud grupku ? TRIANGLE... ?' Batinku dalam hati.

Saotome langsung menunjukku. "Dan ! , jika kau mau mereka berdua bekerja kembali, kau harus membuat lagu solo mereka juga !" Seru Saotome yang membuatku terkejut.

Aku langsung melotot ke arahnya. "A, apa-apaan ?! Aku jadi Komposer juga ?!" Tanyaku tidak percaya. "Aku tidak ingin berurusan dengan idol lebih dari ini !"

"Kau ingin mereka berdua kembali kan ?" Tanya Ringo.

Aku menggigit bibir bagian bawah lalu menghela nafas berat. "Ugh... baiklah, aku akan membantu Haruka dan membuat lagu solo mereka juga." Jawabku sambil menyilang kedua tanganku.

STARISH, QUARTET NIGHT, Tomochika, bahkan Haruka kebingungan dengan pembicaraan kami.

"Semoga beruntung, HAHAHAHAHA !" Ucap Saotome yang berputar-putar seperti sedang melakukan balet dan langsung menghilang tanpa jejak.

'Dasar orang aneh...'

Aku langsung menatap Haruka. "Haruka... aku benci mengatakan ini tapi aku akan membantumu tapi, aku hanya bisa membantu sedikit." Ucapku.

"Ah ! Kalau begitu mohon bantuannya Tsukiyama-sensei !" Ucapnya yang langsung melakukan ojigi.

Aku mengangguk. "Hm."

Dengan begitu, aku langsung meninggalkan ruangan menuju beranda. Aku memutuskan untuk bersantai sebentar disini sembari menjernihkan pikiranku. 'Ugh ! Saotome sialan ! Apa yang ada di pikirannya ? Kenapa dia menyuruhku untuk membuatkan lagu solo untuk mereka ? Kan ada Haruka yang lebih berbakat.'

Tanpa kusadari 1 jam berlalu, aku langsung kembali ke gedung asrama. Aku mulai berjalan di korirdor menuju kamarku. Sesaat kemudian, aku mendegar banyak suara hentakan kaki menuju ke arahku. Tiba-tiba saja, aku sudah dikepung anggota STARISH.

"Apa mau kalian ?" Tanyaku.

"Ikut kami." Ucap Otoya sambil menarik tanganku.

Kami pun berlari. Ternyata, ada Haruka juga diseret dengan masalah ini. Kami pun berakhir di ruangan Saotome.

"Apa yang kalian inginkan ?" Tanya Saotome begitu kami tiba di ruangannya.

Tokiya maju untuk mewakili teman-temannya. "Maukah kau memasukkan STARISH ke Triple S juga ?" Pinta Tokiya.

"Awalnya kami berpikir suatu hari kami bisa ikut." Tambah Ren.

"Tapi, suatu hari itu tidak ada." Kata Masato. "Hanya sekarang." Tambah Masato.

"Kami tak punya kesempatan kedua." Ucap Syo.

"Kami ingin seluruh dunia mendengarkan nyanyian kita." Ucap Natsuki.

"Kami ingin ikut !" Seru Otoya.

"Kami akan bernyanyi disana suatu saat nanti, dan suatu saat nanti itu adalah sekarang !" Seru Cecil.

Suasana langsung hening. Aku hanya mengendus. 'Heh, dasar merepotkan... kalian tau Saotome tidak akan memasukkan kalian...'

"Kalian sudah selesai ?" Tanya Saotome sesuai dugaanku.

Mereka yang sebelumnya bersemangat langsung terdiam.

"Aku tidak bisa memasukkan kalian ke Triple S." Jawab Saotome yang disusul helaan nafas dariku.

'Sudah kuduga...'

Satu ruangan langsung terkejut dengan jawaban bos mereka.

"Eh ? kenapa ?" Tanya Tokiya.

Saotome menghela nafas. "Apa kalian tau apa artinya masuk Triple S ?" Tanya Saotome.

"Tidak, tapi kita-"

Saotome langsung tertawa lalu berteriak dengan kerasnya. "REVOLUTION !"

Aku begitupun dengan yang lain kebingungan mendengar ucapannya. "Revolution ?"


Dia dengan bodohnya membiarkan bintang berwarna ungu bersinar di ruang dirinya semakin berhubungan dengan Idol yang akan melakukan sebuah revolusi.