HIYORIN P.O.V
'Dan ini pun terjadi di hari yang tidak menyenangkan.'
Proyek Cross Unit yang kedua. Iklan sebuah ponsel baru. Kami disuruh untuk menentukan konsepnya. Dan pertengkaran dimulai.
"Passion, Streght, dan Elegant..." Gumanku.
Mereka bertiga berbeda pendapat. Gara-gara berbeda pendapat, pertengkaran pun terjadi.
Sebelum ini semua terjadi...
"Baik, keluarkan semua pendapat kalian." Kataku.
"Mulai dariku." Ucap Ren. " Poin terbesar penjualan ponsel ini adalah kualitas suaranya yang tinggi. Bisikan-bisikan pun dapat didengar dengan jelas. Berarti, itu menyampaikan gairah ke orang lain." Jelas Ren.
Haruka langsung mencatat intinya 'Gairah / Passion'.
"Jadi, kupikir iklannya harus memiliki Tarian Latin yang bergairah." Tambah Ren.
Kami semua langsung membayangkan mereka menari Latin.
"Itu lebih cocok untukmu Ren dan itu tema lagumu." Ujarku.
"Tarian Latin, ya ?" Guman Cecil.
"Kualitas suara yang tinggi, ya ? Itu buka ide yang buruk." Ujar Syo. "Tapi, kualitas terbaik ponsel ini adalah baterai dengan daya tahan yang lama. Berarti, ini tentang kekuatan !" Jelas Syo setengah berteriak di akhir.
Haruka mencatat intinya, 'Kekuatan / Streght'.
"Jadi kita harus buat iklan yang kuat !" Seru Syo.
Kami membayangkan iklan yang dimaksud Syo. Yang kami bayangkan adalah Super Hero yang sedang beraksi.
"Itu sih, Syo banget dan itu akan menjadi temamu." Ujarku.
"Pahlawan super..." Guman Cecil.
"Apakah itu tidak terlalu berlebihan ?" Tanya Ren.
"Nggak kok." Jawab Syo.
"Tapi..-" Perkataan Ren disela Syo.
"Apa ?" Tanya Syo.
Pempbicaraan mereka langsung dihentikan oleh Cecil. "Ren, Syo, siap untuk mendengar ideku ?"
"Tentu." Jawab Syo.
"Apa pendapatmu ?" Tanya Ren.
"Aku membeli ponsel karena kualitas desainnya, jadi aku menggambarkan desain yang elegan." Jawab Cecil.
Haruka mencatatnya intinya 'Elegan / elegant'.
"Jadi, kupikir iklannya juga harus elegan." Tambah Cecil.
Kami membayankannya lagi. Mungkin yang dimaksud Cecil adalah pangeran.
"Pangeran ? Maksudnya dirimu ?" Tanya Syo.
"Itu sih wajar buat Cecil jadi, temamu elegan." Ujarku.
Cecil kebingungan.
"Dia benar." Ren setuju denganku dan Syo. "Membuat iklan tentang pangeran karena kau seorang pangeran terlihat sederhana bagimu." Tambah Ren.
"Itu tidak benar. Kalian berdua juga pangeran." Ucap Cecil yang membuat kami kebingungan. "Kita semua memenangkan Uta Prince Award (Utapri Award) jadi, kita semua pangeran." Tambah Cecil.
"Aku mengerti sekarang..." Gumanku.
"Tapi, kalau hanya tentang desain hanya membuat iklannya lemah." Ujar Ren. "Untuk menjual kepada pembeli yang cerdas, kita harus menekankan iklannya ke fitur ponselnya." Tambah Ren.
"Benar Kan, jadi untuk mempromosikan kekuatan dari ponselnya adalah hal yang tepat." Seru Syo.
"Tunggu sebentar, Ochibi-chan." Sela Ren.
"Jangan panggil aku Chibi." Protes Syo.
"Ochibi-chan itu cocok dengan apa yang selalu kau lakukan." Kata Ren.
"Jangan panggil aku Ochibi !" Seru Syo. "Emangnya apa yang selalu kulakukan ?" Tanya Syo
"Tentangmu itu, selalu keberanian dan kekuatan, dan tebing..." Jawab Ren.
"Bukan tebing, ini kota besar !" Seru Syo.
"Tapi, dasarnya itu hal yang sama." Ujar Ren.
"Apa yang kau sebut sama ?" Tanya Syo. "Itu sangat berbeda !"
Aku dan Haruka mulai kawathir dengan apa yang aku terjadi.
'Mereka akan bertengkar...' Gumanku dalam hati.
"Ayo kita terus bicarakan ideku." Kata Cecil untuk menghentikan perkelahian.
"Bicara tentang kesamaan, punyamu itu lebih umum !" Seru Syo. "Kau selalu berbicara tentang pesona dan gairah." Tambah Syo.
"Itu tidak sama, aku tau gairah adalah jalan terbaik untuk menjual ponsel dengan kualitas suara yang terbaik." Ujar Ren.
"Tapi, idemu itu tidak asli kan ?" Tanya Syo.
"Idemu juga tidak asli." Balas Ren.
Mereka berdua saling memberi tatapan tajam.
"Ideku asli kok !" Seru Cecil.
"Ideku juga asli." Kata Ren.
"Aku juga !" Tambah Syo.
"Minna-san ?" Panggil Haruka.
*DUUUAAAARRRR
Dan begitulah kisahnya. Aku hanya bisa mengendus. Mereka bertiga langsung berdiri dan saling memberi tatapan tajam satu sama lain.
Aku langsung pergi meninggalkan mereka, tak peduli apa yang terjadi. Aku pergi ke cafe tempatku nongkrong. Aku memesan milkshake coklat langgananku. Saat milkshakeku sudah dihidangkan, aku meminumnya sambil memandang keluar jendela. Bertompang dagu.
"Yorin !" Panggil seseorang.
Aku langsung meoleh ke arah panggilan dan melihat Momoka dan Aika. Mereka langsung duduk bersamaan.
"Pelayan, tolong yang biasa ya." Pinta Aika.
Keluarga Aika adalah pemilik cafe ini ya wajar, keluarganya adalah keluarga pengolah cafe dan restoran.
"Baik, mohon tunggu sebentar." Ucap sang pelayan.
Sang pelayan langsung meninggalkan kami bertiga.
"Tumben datang kesini, ada apa ?" Tanya Aika.
"Pasti soal Proyek Cross Unit yang kedua ?" Tebak Momoka.
"Ya, kali ini Ren, Syo, dan Cecil. Mereka bertengkar karena berbeda pendapat. Aku hanya bisa angkat tangan dengan cara meninggalkan mereka." Jawabku.
"Itu sama seperti kita akan menentukan tema lagu kan ?" Ujar Momoka.
"Oh, aku ingat saat-saat itu nee~" Guman Aika.
"Saat itu Momoka ingin lagu klasik." Ucapku.
"Aika ingin lagu Rock saat itu." Tambah Momoka.
"Yorin mau lagu Rap." Sambung Aika.
"Akhirnya kita berkelahi gara-gara itu tapi, semua perkelahian berhenti setelah Ichigo membuat lagunya. Seluruh tema lagu digabung dan keluarlah lagu yang sangat hebat." Jelasku.
"Itu benar nee~ Ichi-kun selalu saja punya jalan keluarnya." Tambah Aika.
"Dia yang tak pernah hancurkan hubungan kita walaupun kita bertengkar hebat Cuma gara-gara masalah sepele." Ujar Momoka.
Tiba-tiba, pesanan yang diminta Aika pun datang. Ada banyak makanan penutup.
"Banyak juga pekerjaan yang harus dilakukan jika ingin menjadi Idol lagi." Kata Aika.
"Benar, kita harus banyak menandatangani kontrak." Tambah Momoka.
Aku hanya terdiam, aku lanjut melihat keluar jendela da melihat sebuah majalah yang judulnya 'Apakah Trio ini akan kembali saat Triple S ?'. Ada wajah TRIANGLE.
"Kita akan kembali ke media, apapun caranya..." Gumanku yang membuat kedua temanku bingung.
Aku menghabiskan milkshake, membayar minumanku, lalu aku kembali ke asrama. Aku mengambil komputerku lalu kubuat lagu tema karakter masing-masing sesuai konsep mereka sebelumnya.
Besoknya yang terjadi adalah...
*DUAARRRR !
"*Sigh*... mereka takkan berhasil dengan cara ini." Kataku sambil menghela nafas kecewa.
"Anu... Minna-san..." Haruka berusaha menenangkan mereka.
Mereka malah bertengkar lagi. Aku langsung berdiri dari kursi dan angkat tangan.
"Aku sudah menyerah, terserah kalian mau ngapain, yang penting lagu tema masing-masing sudah kubuat. Sisanya terserah kalian." Kataku sambil beranjak pergi.
Aku langsung berjalan menuju Ruangan Saotome.
"Jadi, bagaimana lagunya ?" Tanya Saotome.
"Mereka mempunyai ide konsep yang berbeda, jadi Haruka dan aku masih belum bisa membuat lagu iklannya. Kalau soal lagu solo, lagu itu sudah selesai." Jelasku.
"What ?! belum menyelesaikan lagunya ?!" Tanya Saotome tidak percaya.
"Ya, mereka bertiga susah untuk bekerja sama." Jawabku.
"Hmmm... bagaimana kalau kita batalkan proyek iklan ini ?" Tanya Saotome dengan senyuman licik di wajahnya.
Aku yang mendengarnya langsung shok.
"Beri kami waktu lagi Saotome !" Pintaku.
"Baiklah, besok harus selesai, kalau tidak, proyek ini dibatalkan." Kata Saotome.
Aku langsung membungkukkan tubuhku.
"Terima kasih banyak, Saotome."
"kenapa kau begitu peduli sekarang ?" Tanya Saotome.
"Bu, bukan apa-apa." Jawabku.
Aku langsung keluar dan menemui Haruka yang sedang ngobrol santai dengan Tomochika.
"Haruka, apa mereka sudah menentukan konsepnya ?" Tanyaku kepada Haruka.
"Belum..." Jawab Haruka agak lesu.
"Aku punya kabar baik dan kabar buruk, mau dengarkan apa dulu ?" Tanyaku kepada mereka.
"Kabar buruk lebih dulu." Jawab Tomochika.
"Kata Saotome, jika kita belum menyelesaikan lagunya sampai besok, proyek ini dibatalkan." Jelasku.
Haruka dan Tomochika langsung terkejut.
"Kalau kabar baiknya ?" Tanya Haruka.
"Kita diberi waktu sampai besok." Jawabku.
"Wah, ini buruk juga." Kata Tomocika.
"Laki-laki memang susah ya." Kata seseorang tiba-tiba.
Ternyata itu Ringo.
"Aku setuju denganmu Ringo, mereka memang suka membuat kerepotan berganda." Aku setuju dengan Ringo.
"Loh, bukannya Tsukimiya-san juga laki-laki ?" Tanya Haruka.
"Aku sih tidak bermasalah banget." Jawab Ringo.
"Lebih baik sekarang Haruka memberitahu mereka, aku akan menunggu di kamar." Kataku sambil pergi menjauh menuju kamarku.
Aku menunggu Haruka sambil memandang keluar. Matahari yang terbenam biasanya membuat suasana hatiku tenang. Apalagi kalau lagi malam hari. Sinar bulan selalu menemaniku. Aku langsung terpikir sesuatu.
'Ah~ bodohnya aku. Konsep ide itu harusnya digabung !' Pikirku.
Aku langsung keluar dari ruangan menuju beranda.
NORMAL P.O.V
Haruka langsung masuk ke ruangan dengan raut wajah sedih. Dia masuk dan langsung duduk di kursi dekat meja belajar.
"Sebenarnya mereka terhubung tapi, hanya saja... mereka tak bisa memperlihatkannya." Kata Haruka.
Tiba-tiba, ponsel Haruka berbunyi. Dia melihat ada pesan masuk.
'Haruka, aku punya ide, tapi, aku gak tau apa mereka akan setuju atau enggak.'
"Apa idenya ?"
'Kau buat lagu yang menggabung seluruh ide mereka, lalu kirim lagunya ke mereka. Akan kubantu agar cepat selesai malam ini.'
Haruka menurut dan langsung mengerjakan lagunya. Beberapa jam kemudian, setelah lagu selesai, Haruka berjalan menuju Beranda dekat danau agensi. Dia menemui Hiyorin. Haruka langsung mengirim lagunya lewat laptopnya.
"Kuharap pesannya masuk..." Guman Haruka.
Hiyorin meraih kepalanya lalu menepuknya. "Jangan kawathir."
HIYORIN P.O.V
Pesan baru !
'Atsuku naru jounetsu tsunai da union kimi ni aitai' : Jinguji Ren
'Kakushi nemutteru honne no kimochi wo tsuyoku saa love call... Try it' : Kurusu Syo
'Vivid ni sync soshite hibike kihin afureru uta no you ni' : Aijima Cecil
"Mereka membalasnya !" Seruku.
Tiba-tiba, ketiga pria ini mucul dan menyanyikan lagu yang haruka buat. Beruntung sekali, proyeknya pun berhasil. Keesokan harinya, Mereka ditampilkan di TV. Terima kasihlah kepada Haruka yang setengah mati membuatkan kalian lagu.
Setelah mereka selesai iklan, mereka bertiga pun pulang dan bercanda bersama anggota STARISH dan Haruka. Aku langsung ke beranda (seperti biasa) dan mendengarkan lagu solo yang pernah kunyanyikan saat masih jadi TRIANGLE sambil melanjutkan melihat langit yang cerah.
"Neko-chan, ternyata kau ada disini toh..." Kata seseorang sambil memainkan rambutku yang sudah nggak lumayan pendek.
Aku langsung melihat orangnya dan ternyata ada seorang pria.
"Apa maumu Ren ?" Tanyaku.
Ren duduk disampingku.
REN P.O.V
"Kenapa kau sedang sendirian disini Neko-chan ?" Tanyaku.
"Tempat ini udaranya sejuk, lumayan buat bersantai." Jawab Tsuki.
Langsung hening. Dia bisa mengakhiri pembicaraan dengan cepat. Tepat saat aku melihat ada sebuah daun masuk ke dalam Hoodienya. Aku langsung meraih kepalanya dan membuka Hoodie yang menutupi kepalanya.
"Apa yang kau lakukan ?" Tanya Tsuki.
Dia langsung menoleh ke arahku. Aku hanya bisa melihat mata biru lautnya yang sedang ada di dalam kegelapan hoodienya sendiri. Aku terdiam, aku hanya membuka hoodienya lalu mengambil daun yang tersangkut di sela-sela rambutnya.
"Kutanya sekali lagi, apa yang kau lakukan ?" Tanya Tsuki lagi.
"Ada daun kecil yang tersangkut di rambutmu." Jawabku sambil menunjukkan daun hijau segar.
Aku lihat rambutnya yang berwarna coklat gelap pendek selehernya. Agak berantakan tapi, cocok dengan cara berpakaiannya.
Aku langsung mendekati wajahnya dan mencium pipi lembutnya. "Neko-chan, aku menerimamu sebagai seniorku~"
Dia hanya menyentuh pipinya tanpa mengatakan apa-apa. Aku langsung meninggalkan Tsuki yang sedang terpatung. Aku melihat wajahnya yang merona sedikit.
'Aku harus cepat-cepat lari sebelum di menghajarku...' Gumanku.
SYO P.O.V
Seperti biasa, aku berhasil menghindari Natsuki dengan makanan buatannya.
*Thud
Aku menabrak seseorang. Aku membuka mataku dan melihat seorang perempuan berhoodie.
"Oh, ternyata kau." Ucap perempuan tersebut yang langsung mengulurkan tangannya.
Aku meraih tangannya.
"Kau sedang apa lari-larian ?" Tanya Tsuki.
"Menghindari makanan maut." Jawabku.
"Maksudnya Natsuki ?" Tebak Tsuki.
Aku mengangguk. Dia menepuk kepalaku.
"Syukurlah kalau begitu. Kau masih diberi kesempatan untuk lari dari Natsuki dan untuk hidup." Ujar Tsuki. "Oh, apa kau tau dimana Ren sekarang ?" Tanya Tsuki.
Aku mengangkat bahu. "Tidak, emangnya kenapa ?"
"Aku harus membalas perilakunya yang sebelumnya." Jawab Tsuki yang sudah mengepalkan tangannya.
'Oh Ren, kau dalam masalah besar...' Pikirku.
"Oh, Yama, aku hanya bilang ini sekali." Ucapku.
"Keluarkan saja."
Aku langsung menarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan. "Aku me-"
"SYO-CHAN ! TSUKI-CHAN !" Panggil seseorang yang memotong perkataanku.
"Ga, gawat !" Seruku dan Tsuki bareng.
Tsuki langsung menarik tanganku dan mulai berlari dari Natsuki.
"Apa yang ingin kau katakan sebelumnya ?" Tanya Tsuki di tengah pelarian.
"Aku suka lagumu dan menerimamu !" Jawabku setengah berteriak sebelum mati karena makanan Natsuki.
Setelah berlari, aku dan Tsuki beristirahat di tempat yang teduh.
"Sial, yang tadi nyaris saja." Ucap Tsuki sambil mengusap keringatnya sendiri dengan tangannya.
"Maaf, kau jadi ikut terseret dalam masalah ini." Ucapku.
"Jangan kawathir, terakhir kali memakan makanan Natsuki sudah membwaku ke mimpi buruk." Ucap Tsuki.
Dia langsung memberikanku sesuatu.
"Apa ini ?" Tanyaku.
"Pasti sulit jika ada Natsuki di sekitarmu jadi, aku berikan jimat ini untukmu." Jawab Tsuki.
Di jimat tersebut ada tulisan 'Jangan mati duluan'. Tsuki langsung menepuk kepalaku. Dia langsung berlari lagi dan disaat yang bersamaan, aku menyadari ada Natsuki di belakangku.
"Oh tuhan..."
CECIL P.O.V
Aku sedang berada di atas pohon seperti biasa. Aku memainkan serulingku sambil menyanyikan lagu yang dibuat Tsukiyama. Setelah bernyanyi dengan puas, aku melihat ada perempuan berhoodie ngos-ngosan.
"Tsukiyama, kau habis lari-larian ?" Tanyaku dari atas pohon.
Dia menoleh ke atas. Dari atas, aku bisa melihat mata biru lautnya dan wajahnya yang penuh dengan keringat.
"Ya, menghindari sesuatu yang akan mengakhiri hidupmu dan apa kau melihat Ren disekitar sini ?" Jawab Tsukiyama sekaligus bertanya.
Aku menggeleng.
"S**t, kemana orang itu..." Guman Tsukiyama.
Aku langsung turun dengan cara melompat dari dahan pohon dan mendarat dengan aman.
"Apa kau dengar laguku tadi ?" Tanyaku.
Dia langsung melihatkku dengan bingung.
"Apa itu yang kau nyanyikan tadi dengan seruling ?" Tanya Tsukiyama.
Aku mengangguk.
"Oh, lagumu bagus. Memang cocok dengan lagu eleganmu." Puji Tsukiyama.
Aku mengeluarkan sapu tangan lalu mengusap seluruh keringatnya. Terlihat wajahnya merona sedikit.
"Aku menerimamu Tsukiyama." Ucapku.
Dia hanya terdiam lalu mengambil sapu tanganku.
"Lain kali biarkan aku melakukannya sendiri." Kata Tsukiyama dengan suara khasnya. Aku hanya bisa tersenyum kepadanya.
Dia langsung melihku dan sepertinya terlihat kebingungan.
"Oh, jika kau bertemu dengan si bajingan itu, katakan padanya untuk bertemu denganku di beranda." Ucap Tsukiyama sambil mengembalikan sapu tanganku.
"Maksudmu Ren ?" Tanyaku.
Dia mengangguk lalu berlalu.
'Oh, sepertinya akan ada yang babak belur besok...'
HIYORIN P.O.V
Aku mencari Ren di Asrama tapi, tetap saja gak ketemu. Karena aku pasrah mencarinya, aku masuk ke Asrama Laki-laki yang tepat di atas Lantai Asrama Perempuan. Aku langsung mendobrak pintu kamar Ren.
*Brak
"Yama, ada apa ?" Tanya Masato yang terkejut akan kehadiranku.
"Mana si banjingan ?" Tanyaku kembali.
"Maksudmu Ren ?" Tebak Ranmaru.
"Ya, orang itu memang butuh diberi pelajaran yang setimpal !" Jawabku setengah berteriak.
"Dia baru saja pergi." Jawab Masato dan Ranmaru berbarengan.
"Kemana ?" Tanyaku.
Mereka berdua mengangkat bahu yang artinya tidak tau.
"Kalau kalian bertemu orang itu, beritahu aku." Aku langsung pergi dari Asrama Laki-laki dan mencarinya di sekitar Beranda.
NORMAL P.O.V
Setelah Hiyorin pergi, Ren keluar dari tempat persembunyiannya yaitu kamar mandi.
"Aku berhutang kepada kalian berdua." Ucap Ren.
"Kau berbuat apa sampai dia mengamuk Jinguji ?" Tanya Masato.
"Aku hanya melakukan apa yang biasa kulakukan." Ucap Ren santai.
"Jika kau bertemu dengannya, bersiaplah mati." Ucap Ranmaru seolah tidak peduli.
Keesokan paginya, di dapur...
*Bak buk bak buk buk bak buk
"Sialan kau bajingan !" Seru Hiyorin yang baru saja masuk ke dapur.
"Gomen Neko-chan..." Ucap Ren yang mungkin nyawanya sudah melayang.
Orang-orang yang berada di dapur yang nyambung dengan ruang makan hanya bisa memberi tatapan horor.
'Kami tidak ingin sepertimu Ren...' Guman Seluruh Makhluk Hidup yang berada di Ruang Makan itu.
Yosh, Gimana-gimana ? Sumimasen minna-san, Authornya baru ada waktu. Uta no Prince-sama is not mine
