HIYORIN P.O.V

"Aku ingin kalian menulis lagu untuk dinyanyikan saat acara pembukaan Shining Tower !" Jelas Saotome.

"Baiklah." Jawab Kami bertiga yang artinya kami mengerti.

Haruka melihatku dan Camus.

"A, aku akan berusaha !" Seru Haruka.

Kami langsung keluar. Aku berjalan bersama Haruka dan Camus menuju Asrama Agensi. Setelah sampainya disana, Aku dan Camus berpisah bersama Haruka dan jalan berdua menuju kamar masing-masing.

"Tsukiyama-sensei ! Camus-senpai !" Panggil seseorang.

Aku dan Camus langsung menoleh ke asal suara tersebut dan melihat Haruka berlarian.

"Aku ingin mendiskusikan lagunya." Ucap Haruka.

"Pertama-tama, buatlah lagunya dulu, setelah itu kita bicarakan." Ucap Camus.

Aku hanya terdiam. Cara Camus berbicara sangat dingin. Seolah dia tidak peduli terhadap kerja keras Haruka.

"Kalau begitu, ayo diskusikan itu." Usul Haruka.

"Aku tidak punya waktu untuk mendengar perkataan rakyat jelata." Ucap Camus yang rasanya sangat menghina bagiku.

Aku tetap berjalan bersama Camus sambil memberinya tatapan tajam saat dia tidak melihat.

Haruka mengejar dari belakang sambil berlari kecil. "Tapi..." Perkataan Haruka langsung terpotong oleh sesuatu.

"Haruka !" Seruku.

Aku tau kalau Haruka akan jatuh, aku ingin menangkapnya tetapi...

"Cecil-san..."

Haruka sudah ditangkap oleh Cecil duluan.

'Woah, itu sangat cepat. Dan, darimana pula dia muncul ?!' Ucapku dalam hati.

"Camus, apa yang kau lakukan terhadap Haruka ?" Tanya Cecil.

"Aku tidak melakukan apapun, dia tersandung sendiri." Jawab Camus dengan nada dingin sambil menoleh sedikit ke belakang.

"Haruka tidak ceroboh !" Seru Cecil.

Camus hanya melihat ke arah mereka berdua sebentar.

"Terserah." Kata Camus sambil meninggalkan kami. "Temui aku jika lagunya sudah selesai." Tambah Camus yang langsung berjalan menjauh.

"Haruka !" Aku langsung mendatangi Haruka.

"Haruka, apa kau baik-baik saja ?" Tanya Cecil.

"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Haruka.

"Aku kawathir." Ucap Cecil yang membuat aku da Haruka bingung.

"Emangnya ada apa ?" Tanyaku.

"Camus itu berhati dingin." Jawab Cecil.

"Berhati dingin ? kurasa dia tidak begitu." Ucap Haruka dengan polosnya.

'Apa kau bercanda ? Haruka sadarlah ! dia baru saja mengatai kita dengan sebutan 'RAKYAT JELATA' !' Seruku dalam hati sambil memberi Haruka tatapan tidak percaya.

"Tidak, aku sekamar dengannya. Dia selalu kejam kepadaku." Kata Cecil yang sepertinya akan menjelaskan panjang lebar.

"Selalu kejam padamu ?" Haruka terlihat sedikit tidak percaya kepada ucapan Cecil.

"Dia juga menyuruhku antri semalaman untuk membeli kue beras edisi terbatas, dia menyuruhku bangun tengah malam untuk membuatkannya kopi." Jelas Cecil sambil mengepal kedua tangannya.

"Dia menyuruhmu melakukan itu semua ?" Tanyaku.

"Ya, dia itu dingin, arogan, dan kurang ajar..." Jawab Cecil yang menguatkan kepalannya.

Aku dan Haruka hanya sweatdrop.

"Tapi, semua yang ia kerjakan, selesai dengan sempurna." Tambah Cecil.

"Apapun yang ia kerjakan ?" Tanya Haruka.

"Ya, nyanyiannya, aktingnya, dan semuanya tapi dia tidak melakukannya dengan tulus." Jawab Cecil.

Aku dan Haruka hanya terdiam mendengar apa yang baru saja Cecil ucapkan.

"Berjuanglah, karena aku suka lagu kalian." Tambah Cecil yang sepertinya ingin menghibur kami.

"Ya, terima kasih banyak." Ucap Haruka.

Aku hanya mengangguk kecil. Setelah berbincang sebentar dengan Cecil, aku dan Haruka langsung melanjutkan perjalanan menuju kamar Haruka.


"Tsukiyama-sensei, apa kau juga sudah membuat lagunya ?" Tanya Haruka.

"Sebenarnya sudah ada di pikiran, tinggal menulisnya saja." Jawabku.

"Woah, itu cepat sekali." Kata Haruka.

"Kau juga ingin mebuat lagunya kan ?" Tanyaku.

"Ya, karena Camus-senpai ingin aku membuat lagunya terlebih dahulu." Jawab Haruka. "Ano... Tsukiyama-sensei, apa menurutmu Camus-senpai itu dingin ?" Tanya Haruka tiba-tiba.

"Sebenarnya Cecil ada benarnya juga sih. Dia emang kurang ajar dan dingin. Buktinya, dia tadi mengatai kita berdua dengan sebutan rakyat jelata. Aku kan Sakakibara (Keturunan bangsawan) ! seenaknya saja menyebutku dengan sebutan Rakyat Jelata !" Jawabku yang marah-marah sendiri di akhir kalimat.

Haruka hanya terdiam.

"Kau ingin mengenal Camus kan ? kalau begitu besok kita ke tempat kerjanya." Ucapku yang langsung keluar dari kamarnya.

'Camus tidak tulus tapi, dia perfeksionis... orang macam apa itu ? oh Kami-sama, apa yang harus kulakukan kepada orang dingin ini...'


Keesokan harinya tiba, aku dan Haruka mendatangi tempat pekerjaan Camus. Acaranya membuat semua orang yang ada di studio bergemuruh. Para wanita yang menonton acara Camus secara langsung bertepuk tangan meriah. Para kru pun begitu. Aku dan Haruka juga ikut tepuk tangan tapi tidak semeriah orang-orang yang ada di studio ini.

'Tidak tulus tapi perfeksionis ? lagunya menjadi peringkat teratas dalam beberapa minggu ini ? Ternyata dia memang sangat hebat...'

"KYAAAAA !"

Aku menghayal terlalu lama hingga bengong dan terkejut dengan teriakan para wanita di studio ini.

"Hebat..." Guman Haruka yang melihat para wanita yang berteriak itu, mungkin teriak dengan toa.

Setelah Camus selesai tampil, Aku dan Haruka datang menemuinya.

"Camus-senpai !" Panggil Haruka.

Camus menoleh ke arah kami berdua.

"Anu..."

"Apa lagunya sudah selesai ?" Tanya Camus.

"Tidak, belum." Jawab Haruka.

Aku hanya mengangguk yang artinya aku sudah selesai.

"Lantas, apa mau kalian berdua ?" Tanya Camus lagi.

"Aku ingin tau tentangmu lebih banyak lagi." Jawab Haruka tiba-tiba.

Aku hanya shok melihatnya, sementara Camus hanya memberikan kami berdua tatapan dingin dari mata es nya.

"Diriku ?" Tanya Camus.

"Aku ingin lebih tau tentang dirimu agar bisa menulis lagu yang cocok denganmu." Jawab Haruka yang kelihatan serius. "Jadi, tolong izinkan aku untuk mengikutimu saat bekerja !" Seru Haruka yang langsung membungkukkan tubuhnya.

Aku hanya shok mendengar perkataannya. Camus hanya berjalan kembali, aku dan Haruka mengejarnya dengan berlari kecil.

"Kumohon ! aku harus tau tentang dirimu demi lagu !" Pinta Haruka. "Akan kulakukan apapun ! Aku takkan mengganggumu, jadi..."

'AWAS HARUKA ! DIA BERHENTI !' Seruku dalam hati.

Haruka menabrak punggung Camus.

"Baiklah." Ucap Camus.

Haruka yang mendengar jawaban Camus langsung membungkukkan tubuhnya. "Terima kasih banyak !" Seru Haruka.

"Asal kau jadi pelayanku." Ucap Camus yang memberikan Aku dan Haruka tatapan dingin.

"Pelayan ?" Aku dan Haruka bingung dengan apa yang dimaksud oleh Camus.

"Nah, ayo ke lokasi berikutnya." Ucap Camus yang langsung berjalan lagi, tidak memperdulikan aku dan Haruka.

"Anu.. Camus-senpai..." Panggil Haruka yang terlihat kebingungan.

Camus langsung menunjuk ke arah tumpukan sebuket bunga yang ada suratnya.

"Kau lihat bunga-bunga itu ? Bunga itu diberikan untukku, kau harus membawa semuanya ke ruanganku." Tambah Camus.

Aku dan Haruka shok dengan itu. Camus langsung meninggalkan kami.

"Eh ? Eh ! Anu ? Eh ?" Haruka kebingungan.

"Cepatlah !" Perintah Camus.

'Ugh, Otou-san... Okaa-chan... apa begini nasib kalian berdua saat menjadi idol ?'

"Akan kubantu Haruka." Ucapku.

Akhirnya kami menurut dan mengerjakan perintahnya. Setelah itu, Aku, Haruka, dan Camus langsung menaiki mobil untuk pekerjaan Camus yang berikutnya. Aku duduk di depan. Camus dan Haruka duduk di belakang.

"Lokasi selanjutnya-"

Perkataan Haruka disela oleh Camus.

"Pekerjaan jadi model di studio di dalam kota untuk majalah fashion 'Lady Go'. Setelah itu, pengambilan gambar di studio lain. Setelah itu, rekaman sebagai bintang tamu acara radio." Sela Camus.

'Yang benar saja ! dia mengingat seluruh jadwalnya. Aku saja lupa setengahnya.'

"Kau ingat semuanya ?" Tanya Haruka.

Camus hanya diam. Dia langsung menutup buku yang ia baca karena sudah sampai di tempat tujuan. Camus memberikan bukunya kepada Haruka. Camus langsung keluar. Aku dan Haruka segera menyusulnya. Aku dan Haruka hanya melihat pekerjaan Camus. Anehnya, saat di tempat kerja, kepribadiannya berubah 360 derajat ! Dia berubah menjadi lebih baik dan ramah.

"Selamat pagi." Sapa Camus dengan ramah.

'Sangat ramah ! tidak mungkin orang dingin dan arogan ini bisa menjadi ramah dan lembut seperti itu !'

"Woah, perubahan yang cepat..." Kataku.

Saat dia bersiap untuk di foto, Camus tiba-tiba mendatangi kami.

"Ada apa ?" Tanyaku.

"Ambilkan buku yang barusan kuberi." Perintah Camus kepada Haruka.

Haruka langsung mengambilkan bukunya di dalam tasnya Haruka. Aku hanya terdiam. Saat Haruka menyerahkannya, Camus mengambilnya dengan kasar.

"Sialan ! Akan kuhajar orang itu nanti !" Seruku dengan nada kecil.

"Tsukiyama-sensei, kau tak boleh seperti itu." Kata Haruka memperingatiku.

Aku hanya mengendus kesal.

Setelah semua pekerjaan kami lakukan. Kami bertiga pulang ke Asrama Agensi. Setelah sampainya di Asrama, Haruka masih menjadi pelayannya, sementara aku berhenti.

Aku langsung menemui anggota STARISH.

"Tsuki-chan, Okaerinasai." Ucap Natsuki.

"Kemana Haruka ?" Tanya Cecil.

"Dia masih bersama Camus, jangan kawathir dia pasti baik-baik saja." Jawabku.

"Kalau boleh tanya, kau habis darimana ?" Tanya Tokiya.

Aku melemaskan seluruh tubuhku lalu menjawabnya. "Menemani Haruka untuk melihat pekerjaan Camus." Jawabku.

"Woah, itu baru, kenapa Lady ingin melakukan itu ?" Tanya Ren.

"Haruka ingin mengetahui tentang Camus lebih banyak agar dia bisa membuat lagunya." Jawabku lagi.

Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kamar masing-masing dan tiba saatnya kami menemui Haruka di pertigaan jalan (Emangnya ini jalan raya ?).

"Wah~ Haru-chan mau minum teh ya ?" Tanya Natsuki.

"Wah ! pasti seru." Seru Syo.

"Oh, ini bukan untukku tapi, untuk Camus." Jawab Haruka.

"Jangan bilang..." Cecil langsung pergi dan menemui Camus. Aku dan lainnya langsung mengejarnya. "Camus ! kenapa kau memerintah Haruka ?!" Tanya Cecil.

"Ini bukan urusanmu." Jawab Camus.

"Ini urusanku juga !" Seru Cecil.

"Dia yang ingin menjadi pelayanku, terserah kau mau sebut apapun, pembantu, budak, atau bawahan." Jawab Camus.

"Kau ..." Saat Cecil siap beraksi, Haruka langsung menghentikan.

"Cecil-san ! kau salah paham !" Seru Haruka.

Camus langsung meninggalkan ruangan.

"Lebih baik, kita bicarakan ini baik-baik dulu." Saranku.

Kami langsung berkumpul dan membahas masalah Haruka. Haruka langsung menjelaskan semuanya.

"Oh, jadi ini semua untuk membuat lagunya." Kata Cecil yang mengerti masalahnya.

"Kapan pembukaan Shining Towernya ?" Tanya Tokiya.

"Akhir Pekan ini." Jawab Haruka.

"Wah, itu tinggal beberapa hari lagi !" Seru Syo.

"Tsuki-chan sudah selesai dengan langunya ?" Tanya Natsuki.

"Sebenarnya, saat melihat Camus di tempat kerjanya, aku mendapat lagu tema karakter yang baru, jadi kutulis ulang. Sendainya aku gak pergi pasti aku takkan menulis lagunya." Jawabku.

"Tapi, aku masih kasihan dengan Haruka, dia ingin membuat lagunya sampai menjadi pelayan demi lagunya." Kata Cecil.

"Si Bangsawan Brengsek itu benar-benar ingin dihajar, aku tak menyangka Haruka melakukan ini semua untuk bajingan itu." Gerutuku.

"Kalau mau sih, aku akan jadi pelayannya My Lady~" Kata Ren sambil menggoda Haruka.

Secara spontan, aku melindungi Haruka begitu pun dengan Masato yang menarik Ren menjauh.

"Hmmm... kau memberiku ide, bagaimana kalau kita jadi pelayan Haruka untuk membantunnya ?" Saranku.

"Aku setuju, aku akan membantu Haru-chan, ya kan, Syo-chan ?" Ujar Natsuki.

"Ya, aku juga akan membantu." Kata Syo.

"Minna ! Ayo kita serius untuk membantu Haruka !" Seru Cacil.

Semua orang langsung tersenyum ke arah Haruka.

"Aku juga membantumu Haruka." Kataku sambil menepuk pelan kepala Haruka.

"Ya, aku juga akan berusaha !" Seru Haruka.

Haruka langsung mengantarkan tehnya ke Camus. Keesokan harinya pun tiba, kami semua langsung membantu Haruka, dari pekerjaan pertama sampai selesai. Kami membantu Haruka, sampai akhir pekanpun tiba.

"Haruka, apa kau sudah memberikannya kepada Camus ?" Tanyaku kepada Haruka.

"Apa maksudmu ?" Tanya Haruka.

"Soal lagunya loh, malam ini hari pembukaannya." Jawabku.

"Baru saja aku mau memberikannya." Kata Haruka.

"Kalau begitu, aku ikut." Ucapku.

"Tsukiyama-sensei sudah memberikannya ?" Tanya Haruka.

"Aku sudah memberikannya di tempo hari." Jawabku.

Kami berdua langsung berjalan menuju ruangan QUARTET NIGHT. Kami langsung menemui Camus yang kebetulan sedang sendirian di ruangan.

"Camus-senpai, aku dengar kau tak pernah tulus dalam melakukan pekerjaanmu, saat mengikutimu seharian, ternyata itu benar. Jadi, aku membuat lagu yang akan membuatmu menjadi tulus." Jelas Haruka sambil memberikan lagunya ke Camus.

Camus langsung melihat lagunya. "Apa ini adalah lagu yang akan membuatku menjadi tulus ?" Tanya Camus.

"Ya." Jawab Haruka.

Camus hanya tertawa dengan angkuh. "Kau pikir ini sudah cukup membuatku menjadi tulus ? jangan terlalu berharap." Kata Camus yang mengembalikan lagunya kepada Haruka.

"Kalau begitu akan kutulis lagi." Ucap Haruka.

"Tidak perlu." Ucap Camus.

Aku dan Haruka shok mendengar itu. Camus langsung pergi dari ruangan.

"Haruka apa kau baik-baik saja ?" Tanyaku kepada Haruka. Haruka mengangguk. Setelah itu Haruka langsung pergi. Aku hanya menghela nafas.

"Aku akan menemui Camus setelah Pembukaan Shining Tower." Ucapku sambil menggigit jempolku dengan taring kecil hingga berdarah. "Seenaknya saja menolak lagu Haruka..."

Malamnya tiba, aku dan lainnya sedang berada di ruanganku untuk melihat acara pembukaan Shining Tower. Acaranya Live.

"Pembukaannya dimulai !" Seru Otoya dan Syo.

Kami semua lagsung melihat ke ayar TV.

'Lagunya Haruka dinyanyikan ! tapi, tapi, ah sudahlah...'

"Wah pembukaanya keren sekali !" Seru Otoya.

"Haruka juga muncul di pembukaannya..." Kataku yang sweatdrop.

"Benar juga, kenapa Haruka bisa muncul ?" Tanya Cecil.

"Ini masih misteri..."


Setelah pembukaan, aku langsung keluar menuju danau dekat beranda.

Aku menghela nafasku sambil menutup mataku. Saat kubuka kembali, ada seseorang tepat didepanku.

"Waaa ! apa yang kau lakukan disini ?" Tanyaku kepada Camus.

"Aku mencarimu setelah acara pembukaan Sakakibara." Jawab Camus. Camus menyentuh pipiku lalu tersenyum.

"Aku tidak pernah menyangka ini tapi, aku hanya menerimamu sebagai seniorku." Jawab Camus.

Setelah itu, dia langsung mendekati telingaku.

"Tapi, ada syaratnya, jika kau memberitahu soal senyuman ini, aku akan melakukan ini..."

Tiba-tiba wajah Camus mendekat. Aku panik ! sangat panik kalau mau tau.

"Ca, Camus..."

*CHUP

Di, dia menciumku pas di...

"Mmmmppphhhh !" Aku berusaha mendorong Camus tapi apa dayaku. Dia laki-laki dan lebih kuat daripada aku. Dia langsung melepasku.

"Aku sudah melihat lagu yang kau buat Rakyat Jelata. Aku akan menyanyikannya dengan tulus." Ucap Camus yang langsung pergi.

Aku hanya diam, tidak tau harus apa.

"Ba, bajingan..."


NORMAL P.O.V

"Yorin !" Panggil Aika kepada temannya yang sedang asik berteduh di bawah pohon.

"Ada apa Aika ?" Tanya Hiyorin yang sepertinya baru bangun dari tidur.

"Oh, jadi kau sedang tidur ?" Tanya Momoka.

"Duh, tentu saja." Jawab Hiyorin.

"Maaf jika kami mengganggu tidur cantikmu itu, aku hanya ingin memberitau kalau lagu Double Face yang dinyanyikan oleh Camus yang kau buat itu benar-benar keren !" Seru Aika.

Beberpa saat kemudian wajah Hiyorin merona sedikit, matanya terbuka lebar, mulutnya terbuka sedikit.

Kedua temannya terkejut melihat Hiyorin.

"Yorin... jangan-jangan kamu suka Camus ya ?!" Tanya Aika setengah berteriak.

"Ya nggak mungkin lah !" Jawab Hiyorin.

"Lalu, apa yang ada di bibir mungilmu itu ?" Tanya Momoka.

'Persetan kau Camus ! kau sempat-sempatnya menggigit bibir bawahku !' Seru Hiyorin di dalam hatinya.

"Itu, jelas-jelas bekas gigitan kecil." Ucap Aika.

"Yorin, kau sudah ciuman sama siapa ?" Tanya Momoka kawathir.

"Aku gak ciuman kok !" Seru Hiyorin.

"Wajahmu memerah sebelumnya, jangan-jangan kau sudah dicium oleh Camus." Tebak Momoka dan Aika.

"Astaga, kau masih muda tapi, sudah dapat ciuman di bibir mungilmu itu. Sebagai Ayahmu aku terharu." Canda Aika.

"Siapa yang bilang kalau kau ayahku !" Seru Hiyorin.

"Aku juga sebagai ibumu bangga karena kau akan segera dapat pacar." Ucap Momoka yang kayaknya mulai ngawur kayak Aika.

"Aku gak bakal pacaran ! dan aku benci si Bangawan Sombong itu !" Seru Hiyorin.

"Sebagai orangtuamu, kami menghukummu karena sudah dapat pacar duluan sebelum kami." Ucap Momoka dan Aika yang sudah ngawur kelewatan.

"AKU BELUM DAPAT PACAR !"