HIYORIN P.O.V

Kami semua langsung keluar ruangan dan berkumpul di tempat kami dapat pengumuman tetang Triple S. Kami membahas soal Proyek Cross Unit yang terakhir.

"Jadi, Proyek Cross Unit yang terakhir adalah kalian berdua ?" Tanyaku.

"Ya," Jawab Masato.

"Dua lagu cross-unit sebeumnya adalah drama musik rock dan untuk iklan. Tapi, sekarang tidak ada batasan." Jelas Tokiya.

"Kebebasan itu malah membuatnya menjadi lebih sulit." Tambah Masato.

"Kita bebas untuk memilih sendiri nada dan liriknya, tapi aku ingin yang spesial." Ucap Tokiya.

"Aku ingin menulis lagu untuk kalian sekarang." Ucap Haruka yang menurutku tiba-tiba enggak nyambung.

"Untuk kami sekarang ?" Tanya Tokiya.

"Sebuah lagu yang mencerminkan perasaan kalian sekarang." Jawab Haruka.

"Ya, agar menghemat waktu juga." Tambahku.

Tiba-tiba saja Masato dan Tokiya membuka mulultnya bersamaan. "Liriknya...". Mereka berdua langsung saling bertatapan.

Tokiya langsung melanjutkan. "Kali ini, ayo kita coba..." Langsung disusul oleh kalimat Masato. "Membuat lirinya terlebih dahulu."

"Itu ide yang bagus." Ucapku dengan Haruka secara bersamaan.

"Kalian berdua adalah pasangan yang sempurna di acara biasanya. Seperti di acara yang sebelumnya, 'Belajar dari masa lalu'. Episode terakhir itu sangat bagus." Jelasku.

Masato mengangguk. "Sejak aku mulai bekerja di acara itu, aku telah sadar kita dapat bersama lebih baik."

"Saat kita ngobrol juga kita kadang suka lupa waktu." Tambah Tokiya.

"Aku akan melihat lirik apa yang bagus untuk kalian berdua." Ucap Haruka.

"Saotome-san melarang kami mengikuti Triple S sekali. Tapi, melalui upaya kami, aku rasa kita telah dekat mencapainya." Ucap Tokiya.

Aku, Haruka, dan Masato mengangguk.

"Iya atau tidak, itu terjadi sekarang tergantung kepada lagu kita sekarang." Ucap Masato.

"Jika gagal, kalian tidak bisa mengikuti Triple S tapi, jika berhasil, kalian beruntung." Jelasku.

"Revolution..." Ucap Masato dan Tokiya secara bergantian. Mungkin kata itu mengiang-ngiang di kepala mereka gara-gara Saotome.

"Lagu kita akan sepenuhnya mengalami perubahan." Ucap Tokiya.

"Aku tau kita bisa." Ucap Masato.

"Berarti kita berdua penutupnya." Tambah Tokiya.

"Kalian akan bernyanyi di Neo Dream Festival ya... itu lumayan hebat loh." Ujarku.

"Ya, kami akan melakukan yang terbaik." Kata Tokiya.

"Kalau begitu kalian harus memulainya, jangan sampai terjebak loh." Candaku.

"Hei !" Panggil seseorang.

Ternyata Ren, Syo dan Cecil. Aku tak menduga mereka akan muncul tiba-tiba.

"Kita dengar dari Ringo-chan." Ucap Ren yang sepertinya soal Neo Dream Festival tersebut.

"Sangat menakjubkan kalian dapat tampil di Neo Dream Festival." Puji Syo.

"Hebat kalian masuk Neo Dream Festival." Puji Cecil. "Apa itu Neo Dream Festival ?" Tanya Cecil dengan polos.

Aku hanya sweatdrop. "Oh, kau belum tau."

"Neo Dream Festival adalah acara tahunan dimana para ikon penyanyi jepang tampil." Jelas Ren.

"Mereka bernyanyi lagu baru semua. Itu juga ditampilkan secara live juga." Tambah Syo.

"Itu juga mendapatkan ranting tertinggi setiap tahunnya. Itu adalah program musik yang dinonton semua orang." Tambah Ren memperjelas.

"Oh, itu sangat hebat !" Seru Cecil.

"Sou desune." Ucap Syo.

"Sekarang kami sedang membahas lagunya. Mereka berdua ingin membuat liriknya kali ini." Ucapku.

"Benarkah ?" Tanya Otoya.

"Aku sangat menantikannya." Ucap Syo bersemangat. "Berhati-hati, kalian akan berakhir berkelahi seperti kami." Canda Syo.

"Masato dan Tokiya tidak berkelahi." Ucap Cecil dengan nada polosnya.

"Tentu tidak." Ucap Ren.

Tiba-tiba aku baru menyadari kalau tidak ada Natsuki. "Eh, dimana Natsuki ?" Tanyaku.

"Masato-kun ! Tokiya-kun !Aku bawakan kue Piyo-chan untuk kalian !" Seru Natsuki yang tiba-tiba masuk.

"Yamedero Natsuki !" Seru Syo.

"Jangan itu !" Seru Otoya.

"Eh ? kenapa jangan ?" Tanya Natsuki.

Ren langsung mendekati mereka lalu mengambil sebuah kue dan memakannya.

"Rasanya tidak buruk juga tapi, bukan untuk Icchi dan Hijirikawa." Kata ren.

"Ini sangat enak loh, cobalah." Ucap Natsuki yang langsung memasukkan satu kue ke mulut Syo.

"Ugh..."

"Bertahanlah Syo !" Seru Otoya.

"Kalian tolong diam, kita tidak ingin mengganggu mereka." Omel Cecil.

Mereka berlima langsung melihat Tokiya dan Masato yang sedang serius. Aku hanya terdiam.

"Mereka sangat fokus." Ucap Otoya.

"Tidak mengejutkan juga sih." Ucap Ren.

"Kalau butuh apa-apa, langsung tanyakan padaku. Aku masih harus mengurus lagu solo kalian." Kataku sambil keluar ruangan.

Aku lagsung menuju ruangan tempat STARISH berkumpul dekat balkon. Aku mengeluarkan pensil dan mulai menulis lagu.

Beberapa jam kemudian...

"Aku tak punya ide..." Kataku pada diriku sendiri.

Ini baru pertama kalinya aku kehilangan ide dengan mudah.

'Karena Neo Dream Festival tidak ada batas waktu, aku jadi mulai malas...'

Aku langsung keluar dari ruangan membiarkan barang-barangku. Aku langsung berjalan menuju dapur dan aku pun berhenti di depan ruangan tempatku berkumpul sebelumnya.

"Mereka bekerja dengan baik..." Ucapku sambil melihat mereka yang sangat fokus mengerjakan liriknya.

Aku langsung melanjutkan perjalanan lagi menuju dapur. Sesampainya disana, aku langsung mengambil sekaleng soda dari kulkas dan langsung meminumnya.

"Tsuki-chan, bukannya kau harusnya mengerjakan musik ?" Tanya Ringo yang tiba-tiba muncul.

Aku langsung mengeluarjan seluruh isi mulutku.

"Aku kehilangan ide." Jawabku.

"Hmmm... sudah berapa minggu kau disini ?" Tanya Ringo.

"Aku tidak tau tapi, rasanya sudah bertahun-tahun aku disini." Jawabku.

"Aku terkejut loh, kau bisa akrab dengan mereka." Kata Ringo yang membuatku mengeluarkan isi soda dari mulutku lagi.

Aku langsung mengambil lap dan membersihkan bekas tumpahan.

"Aku tidak pernah akrab dengan mereka !" Seruku.

"Hmmm~ benarkah ? bahkan waktu malam bersama Camus ?" Canda Ringo yang membuatku nyaris terkena serangan jantung.

"Darimana kau tau ?!" Tanyaku.

"Aku lebih mengenal tempat ini daripada kau jadi, aku melihat seluruh adengannya~" Jawab Ringo.

"Ringo, soal Camus jangan bilang siapa-siapa, itu seperti neraka jika ada yang tau." Aku memohon agar rahasiaku tidak dibongkar.

"Baiklah~" Kata Ringo yang langsung pergi.

Aku langsung keluar dari dapur menuju ruangan biasaku.

"Yang tadi seperti diancam maut..." Ucapku yang masih berdegup kencang.

Keesokan harinya tiba, aku mendatangi Tokiya dan Masato.

"Hmmm... ada yang tidak benar." Kata Tokiya.

"Benar, ada yang terlupakan." Tambah Masato.

Hening seketika.

"Mungkin kita harus mengatur pikiran kita." Usul Masato.

Tokiya mengangguk. "Benar, kita harus mengubah cara pikir kita."

"Mengapa kita tidak mempertimbangka persamaan kita." Usul Masato.

"Ide bagus." Ucap Tokiya. "disamping program biasanya, bersama, kita bekerja di..."

"Kita tidak pernah bekerja sama." Potong Masato. "Tapi, ketika aku audisi, kau membantuku berlatih. Aku belajar darimu lalu aku harus bisa melakukan apa yang kubisa." Jelas Masato.

"Benarkah ?" Tanya Tokiya yang tersenyum kecil. "Saat latihan dance untuk MAJI LOVE 2000%, aku bergerak oleh dirimu."

"Aku mengerti." Ucap Masato.

"Jadi, kalian dulu ini selalu saling membantu dan kalian baru menyadarinya sekarang ?" Tanyaku.

Mereka berdua mengangguk. "Ya."

"Sulit untuk mengubah pikiran seseorang." Ucap Masato.

"Jika aku memikirkan sesuatu, pasti aku akan melihatnya..." Lanjut Tokiya.

"Jalan ?" Tanya Masato heran.

Tokiya menagngguk. "Hai'."

"Setiap pikiranku selalu hilang dalam labirin, ada tempat aku selalu pergi." Ucap Masato.

"Tempat ?" Tanya Tokiya bingung.

"Bagaimana kalau kita pergi ke air terjun, biasanya aku bermeditasi disana dan selalu menemukan jalan keluar." Saran Masato.

"Hmmm... boleh juga." Kata Tokiya.

"Aku akan mengenatar kalian." Kataku.

Mereka langsung pergi ke tempat air terjun. Keesokan harinya kami pulang ke Asrama Agensi.

"Kita tidak menemukan jalan keluarnya." Kata Tokiya.

"Yang kita lihat Cuma Air." Tambah Masato.

Aku hanya melihat mereka berdua.

'Jadi dapat Ide...'

Aku langsung mengeluarkan peralatanku dan mulai menulis lagu.

NORMAL P.O.V

'Jika Yama-san mulai membuat lagu, aku juga akan berusaha !' Seru Tokiya dalam hatinya.

Tiba-tiba Tokiya dan Masato menhirup bau makanan. Mereka berdua langsung mencari asalnya dan berakhir di sebuah keranjang berisi makanan yang sangat banyak.

"Itu untuk Kalian." Kata Hiyorin.

Mereka berdua melihat ada sepucuk sura diatasanya yang bertulisan 'jaga dirimu. Lakukan yang terbaik'.

"Mereka mengandalakan kita, ayo kita berusaha membuat liriknya." Kata Tokiya.

Masato mengangguk. Mereka berdua langsung membuat lirik lagu untuk lagunya. Beberapa hari kemudian...

"Ugh, karena Neo Dream Festival tidak ada batas waktunya, kita jadi tidak bisa fokus." Ujar Tokiya.

"Masalah lagi ya ?" Tanya Hiyorin kepada kedua temannya.

"Kalau begini, kita takkan bisa menyelesaikan proyek." Tambah Haruka.

"Kami tidak bersemangat seperti di awal." Jawab Masato.

'Mereka berdua dalam masalah, karena kesamaan mereka, itu menjadi gangguan.' Kata Hiyorin di dalam hatinya.

"Ngomong-ngomong, kemana yang lain ?" Tanya Tokiya.

"Mereka pasti sibuk deengan pekerjaannya." Jawab Masato.

"Mereka tidak ingin menganggu kalian agar kalian dapat menulis lirik dengan baik. Kami semu sudah bicara. Semuanya membantu membuat makanan." Jelas Haruka.

"Apa ?" Tanya Masato dan Tokiya secara bersamaan.

"Kukira kau yang membuat makanannya ?" Tanya Tokiya.

"Bukan, tapi mereka." Ucapku memperjelas keadaan.

"Mereka semua sudah mendungkung kita." Guman Tokiya.

"Kita sedang terjebak menulis, kita tidak menyangka mereka melakukannya untuk kami..." Guman Masato.

"Ini tidak baik, padahal aku bilang tidak akan terbebani." Ucap

Haruka langsung menuju piano dan mulai memainkannya. Setelah memainkan beberapa not, dia langsung berhenti.

"Apa itu..."

"Lagu yang akan kami nyanyikan ?" Tanya mereka berdua.

"Aku mendapatka lagunya saat melihat kalian berdua." Jawab Haruka.

"Coba mainkan lagi." Kata Tokiya.

Haruka langsung memainkannya lagi. Dengan tiba-tiba, Tokiya langsung bernyanyi begitu pun dengan Masato. Haruka berhenti bermain.

"Sepertinya kalian dapat ide." Kata Hiyorin.

Tokiya dan Masato langsung mengangguk dan mulai menulis lirik.

HIYORIN P.O.V

'Itu cepat juga...'

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku dan Haruka menontonnya di TV. STARISH dan QUARTET NIGHT juga menontonnya. Mereka tampil duluan dan...

"Mereka berhasil Haruka !" Seruku.

Haruka mengangguk. Aku dan Haruka langsung tos satu sama lain.

Beberapa hari berlalu, masih belum ada tugas tapi, aku, Masato dan Tokiya sedang pergi jalan-jalan bersama.

"Sudah lama enggak keluar rumah." Kataku sambil meregangkan tubuh.

"Benarkah ? Apa kau sering keluar rumah saat bersama keluargamu ?" Tanya Masato.

"Yup, aku tipe Outdoor tapi, kalau bekerja aku berubah jadi tipe Indoor." Jawabku. "Oh, terimakasih sudah mengantarku berbelanja Tokiya, Masato." Tambahku.

"Ya, aku hanya kebetulan ingin berbelanja juga."Kata Tokiya.

"Kami senang membantumu." Tambah Masato.

Kami langsung berbelaja dan setelah berbelanja, kami makan di restoran cepat saji. Kami langsung makan.

"Aku ke toilet dulu." Kata Tokiya yang langsung pergi.

"Yama, bisa diam sebentar ?" Tanya Masato tiba-tiba.

"Untuk apa ?" Tanyaku balik.

Dia hanya mendekat, aku langsung merasa tegang.

"Ada sisa makanan disini." Jawab Masato sambil mengambil sisa makanan tersebut yang ada di dekat bibirku.

"Oh ternyata be-"

*Smooch

Aku hanya terdiam. Isi pikiranku langsung menghitam.

"Jangan beritahu siapa-siapa." Kata Masato.

Pikiranku masih hitam. Beberapa menit kemudian, Tokiya kembali dari toilet.

"Sebaiknya kita kembali ke Asrama Agensi." Kata Tokiya.

Aku dan Masato mengangguk. Kami langsung pulang. Sesampainya di asrama agensi, kami berpisah masing-masing. Masato ke ruang piano, aku dan Tokiya menuju Beranda dekat danau.

"Apa yang ingin kau tunjukkan ?" Tanyaku kepada Tokiya.

Tokiya langsung mulai bernyanyi. Aku hanya terdiam.

'Ini lagu yang kubuat...'

Di tengah-tengah lagu, Tokiya menarik tanganku dan kami mulai bernyanyi sambil menari. Setelah bernyanyi, kami masih seperti posisi menari.

"Sayang sekali yang namanya jatuh cinta itu tidak diperbolehkan tapi, aku boleh melakukan ini." Kata Tokiya sambil mencium pipiku.

Aku langsung melarikan diri dan berakhir di sebuah ruangan yang berisi piano. Tiba-tiba, piano itu berbunyi. Yang kukira ada hantunya ternyata.

"Masato ? apa yang kau lakukan ?" Tanyaku.

Dia hanya diam lalu bernyanyi.

'Ini lagu yang kubuat juga...'

Setelah menyelesaikan nyanyiannya. Dia langsung tersenyum ke arahku.

"Aku menerimamu sebagai seniorku, Yama." Kata Masato.

"Ba, baiklah..."

Aku langsung berlari secepat mungkin

'Untung saja, ciuman pertamaku sudah terebut oleh Ichigo.'

Original Resonance By Ichinose Tokiya & Hijirikawa Masato

Sei-en Brave Heart By Hijirikawa Masato

Secret Lover By Ichinose Tokiya