Rating : T/M(?)
do not copy-paste without my permission! thanks and enjoy!
Chapter 1 © Queeney
- there will always be a light in the darkness -
Seoul, Korea
Sudah 15 menit lebih Baekhyun dan Luhan berjalan mengelilingi tempat yang disebut EXO tersebut. Baekhyun sedari tadi hanya diam sementara Luhan mengoceh tanpa henti, menceritakan seluk beluk EXO dengan detail. Well, sebenarnya Baekhyun tidak terganggu dengan sikap Luhan yang cerewet dan kelewat bersamangat itu. Ia juga tidak merutuki keputusannya untuk berjalan-jalan di tempat tersebut.
"Jadi begitulah Baekhyun-ssi, karena penyerangan yang terjadi tiga bulan lalu, ada beberapa asisten loth yang tewas sehingga sekarang akan dibuka lagi pemilihan asisten" Luhan menyelesaikan ceritanya. Ia menoleh menghadap Baekhyun sembari menghentikan langkahnya. Baekhyun yang berdiri disebelahnya ikut berhenti, kepalanya mengangguk sedikit menandakan ia mendengar semua ucapan Luhan.
"Aku tahu pertanyaan ini agak lancang, tapi apa sebenarnya hubunganmu dengan Kris, Baekhyun-ssi?"
Baekhyun terdiam, terpekur dalam pikirannya sendiri. Pertanyaan yang diajukan Luhan sebenarnya sudah tidak terhitung banyaknya ia tanyakan pada dirinya sendiri semenjak ia dibawa Kris meninggalkan tempat itu, tempat dimana ia sepertinya kehilangan seluruh ingatannya tentang dirinya sendiri.
[flashback]
Mata Baekhyun bergerak liar, memperhatikan lampu-lampu kota Tokyo yang kini menerangi jalanan yang ramai pembeli dan pejalan kaki. Tangan Baekhyun untuk kesekian kalinya terangkat menuju pelipisnya. Entah apa yang mengusik ketenangan otaknya, tapi Baekhyun hanya bisa menyimpulkan bahwa di dalam kepalanya yang terasa kosong itu hanya ada rasa sakit yang makin lama kian terasa. Seolah rasa sakit disekujur tubuhnya belum cukup untuk mengukir seribu tanda tanya dihati dan pikirannya.
"Arrghh..."
Sebuah ringisan lolos dari bibir mungil Baekhyun. Mata namja cantik itu terpejam dan keningnya mengerut, tidak tahu harus memijat bagian mana dari kepalanya yang terasa berdenyut menyakitkan.
"Kepalamu sakit?" pertanyaan itu terlontar dari sosok yang duduk disebelah Baekhyun, dari seorang bermata tajam dengan postur yang membuatnya tampak seperti pangeran di negeri dongeng. Namja itu masih menyetir mobil sport mewah yang mereka kendarai dan matanya masih menatap lurus ke jalanan yang mereka lewati dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Kau siapa?" tanya Baekhyun setelah beberapa menit terisi dengan keheningan.
"Kris. bukankah sudah ku katakan kalau namaku Kris?" Kris mengalihkan pandangannya sekilas untuk menatap Baekhyun yang duduk disebelahnya.
Kening Baekhyun berdenyut makin menyakitkan. Hal yang sama terjadi seperti sebelumnya, entah kenapa tubuh Baekhyun seperti merespon nama itu, seolah memberitahunya bahwa ia familiar dengan nama tersebut. Bahwa ia telah lama mengenal seseorang bernama Kris.
"Kenapa kau membawaku pergi dari tempat itu?" ujar Baekhyun lagi, dengan nada datar yang sama. Tangannya tidak lagi memijat pelipisnya, agaknya menyerah karena ia tidak merasakan perubahan dari rasa sakit yang dideritanya.
Kris mengalihkan lagi tatapannya dari jalanan kota Tokyo yang sekarang tidak lagi menampakan lampu-lampu terang ataupun keramaian. Sepertinya mereka sudah masuk ke daerah yang sedikit terpencil seperti pedesaan, atau mungkin saja sebentar lagi mereka sudah akan benar-benar meninggalkan kota Tokyo.
"Apa kau ingat sesuatu? Seperti hal yang terjadi padamu di rumah itu?" Kris balik bertanya. Agaknya kedua namja itu memiliki sebuah persamaan diantara banyaknya perbedaan dari mereka.
Mereka sama-sama menjawab sebuah pertanyaan dengan pertanyaan lain. Jika saja ada orang yang menemani mereka di dalam mobil itu, mungkin semenjak tadi dia telah bingung untuk menentukan apakah dua namja tersebut cocok satu sama lain atau sebaliknya.
Baekhyun berpikir sejenak, memutuskan apakah ia harus menjawab pertanyaan itu atau melewatkannya begitu saja dan menanyakan hal lain.
"Apa ada perbedaan jika aku menjawab ingat atau tidak ingat?" akhinya Baekhyun mengambil kesimpulan bahwa ia tidak harus menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas.
Kris mengangguk ringan, entah apa yang disetujuinya mengingat tidak ada satupun jawaban atas pertanyaannya maupun pertanyaan Baekhyun sendiri.
Kris dan Baekhyun kembali terdiam cukup lama. Mereka bukannya saling memikirkan sesuatu, tetapi saling meresapi setiap detik yang terlewat dengan ketenangan dan angin malam yang masuk lewat jendela mobil.
Baekhyun menengadahkan tangannya keluar dari jendela mobil yang beberapa saat lalu ia buka. Jari-jari lentik Baekhyun dapat merasakan setetes air yang jatuh dari langit kelam jauh di atas mereka. Menandakan bahwa sebentar lagi kota tersebut akan diselimuti air hujan.
"Aku... tidak ingat"
Ucapan Baekhyun dengan suara pelan dan terkesan menyedihkan itu seketika membuat Kris membelokan mobil menuju sisi kiri jalan.
Mobil yang semula berkendara dengan kecepatan hampir mencapai maksimal itu seketika mengeluarkan bunyi 'decitan' yang cukup mengerikan dari keempat roda mobil yang bergesakan dengan jalanan aspal. Untung saja tidak ada mobil lain yang melintas di jalanan sepi tersebut.
Kris kali ini bukan hanya mengalihkan pandangannya pada Baekhyun tapi juga tubuh namja itu yang sudah menghadap sempurna pada namja bertubuh mungil yang duduk disampingnya.
"Kau tidak ingat apapun?" tanya Kris tidak kalah pelan dari suara Baekhyun sesaat lalu.
Baekhyun lama menatap diam pada Kris, tidak merespon namja itu. ia menatap kedalam mata kelam tersebut seolah mencari sesuatu yang sebenarnya ia tidak tahu apa.
Baekhyun mengangguk singkat, memberikan jawaban dari pertanyaan Kris. Matanya masih menatap kedua bola mata tajam itu saat tiba-tiba tubuhnya terasa menghentak ke depan. Sebuah tangan telah menarik Baekhyun tanpa sang namja cantik sempat mengerti dengan atmosfir disekitarnya.
Baekhyun merasakan sebuah kehangatan menjalari tubuhnya yang tanpa sadar sedari tadi sudah menggigil karena udara malam yang sangat dingin. Tangan besar dari namja yang tengah memeluknya tersebut terasa dibelakang kepala Baekhyun serta punggungnya.
"Kalau begitu jangan coba mengingatnya" suara Kris tepat memasuki gendang telinga Baekhyun sebelah kanan. Ia bisa merasakan bibir namja yang memiliki badan lebih besar darinya itu bersentuhan dengan tengkuknya.
"Berjanjilah padaku kau tidak akan berusaha untuk mengingat ataupun mencari tahu" Kris lagi-lagi bersuara. Wajah namja itu masih terbenam di ceruk tengkuk Baekhyun yang putih dan mengeluarkan wangi khas miliknya.
Baekhyun tidak tahu harus merespon seperti apa, tapi tidak bisa dipungkiri ia merasa nyaman dengan namja yang masih betah memeluk tubuhnya tersebut. Ada perasaan aneh yang terselip diantara sentuhan yang diberikan Kris padanya. Seperti perasaan rindu.
Kris merasakan sebuah anggukan kecil dari kepala Baekhyun yang bersandar disisi kiri dada bidangnya. Seketika sebuah senyum terukir diwajah namja itu. sebuah senyuman yang tidak bisa diartikan apakah menggambarkan kebahagiaan ataukah kesengsaraan yang lebih menyakitkan dari pada tetesan air mata.
[flashback end]
"Baekhyun-ssi! Baekhyun-ssi!"
Luhan mengguncang kembali tubuh Baekhyun yang ada dalam dekapannya. Entah kenapa tiba-tiba saja tubuh namja cantik itu melemas dan jika saja Luhan tidak sedang mengahadap padanya, mungkin tubuh Baekhyun sudah mencapai tanah seiring kesadarannya yang menjauh bagai tertiup angin dingin yang menemani langkah kaki mereka.
"Baekhyun-ssi, ku mohon bangunlah!" Luhan menampar perlan pipi kanan Baekhyun, rasa panik menjalari tubuhnya. Ia ingat betul perkataan Kris padanya beberapa jam yang lalu.
"Jaga dia lebih daripada kau menjaga dirimu sendiri Lu"
Ucapan yang terkesan lebih dari sekedar serius tersebut berkali-kali terngiang di kepala Luhan. Tangannya bergetar, tidak tahu harus melakukan apa.
"Luhan!" sebuah teriakan yang memanggil namanya membuat Luhan berpaling cepat. Rasa syukur menyelimuti hatinya saat ia melihat Lay berlari tergesa kearahnya.
"Astaga! apa yang terjadi? Dia siapa?" Lay bertanya bertubi-tubi. Namja yang juga bisa dibilang cantik itu menghentikan langkahnya tepat disamping Luhan berada.
Lay mengangkat tangannya dan memeriksa kening Baekhyun. Keningnya mengernyit merasakan suhu tubuh Baekhyun yang tinggi, "Kita harus membawanya ke laboratorium ku" ucap Lay sembari menarik tangan kanannya dari wajah Baekhyun.
Luhan mengangguk cepat dan berusaha bangkit dari tanah tempat ia tadi terjatuh saat berat tubuhnya tidak kuat menahan Baekhyun yang hilang kesadaran secara tiba-tiba.
Lay membantu Luhan mengangkat Baekhyun, tangannya ia tempatkan berada dibawah kaki Baekhyun sedangkan Luhan sendiri memegangi tubuh Baekhyun bagian atas.
Mereka berjalan cepat meninggalkan tempat itu, menuju laboratorium pribadi Lay yang merupakan seorang loth dengan julukan healer.
.
E-X-O
.
"Name?"
Kai menatap namja dihadapannya dengan pandangan yang sedikit... takut(?). Orang-orang yang mengenal namja itu pasti akan mengernyit bingung melihat ekspresi wajah Kai. Pasalnya, seorang Kim Jongin selama ini dikenal sebagai namja cuek yang tidak pernah terlihat takut pada apapun. Jadi sangat mengherankan kenapa wajahnya saat ini terlihat begitu mencekam.
"Your name please!" namja itu berucap lagi. Menyadarkan Kai dari pikirannya yang sempat melayang.
"Kim Jongin" ujarnya menyebutkan namanya pelan. Kening namja dihadapannya mengernyit sedikit bingung mendengar Kai menggunakan bahasa Korea.
"Hangug-ui?" tanyanya perlahan yang diikuti anggukan kepala oleh Kai.
"Dan tinggal di London?" tambahnya lagi bertanya ketika mengecek perkamen data yang diserahkan Kai dengan pandangan yang sedikit menyelidik. Kai lagi-lagi mengangguk. Perasaannya sudah sedikit tenang sekarang, tidak lagi takut untuk membalas tatapan mata namja itu.
"Jamkkanmanyo" ujar namja itu datar kemudian berlalu dari hadapan Kai.
Kai menghela nafas pelan seiring menghilangnya tubuh namja itu dari hadapannya. Benar-benar tidak habis pikir, kenapa bisa Ia sempat takut pada namja yang notabene berwajah imut dengan pipi tembem yang mengintrogasi dia sesaat lalu.
Lagi pula melihat perawakannya, jelas kentara bahwa namja tersebut masih sepantaran dengan Kai. yah, kira-kira hanya 2 atau 3 tahun lebih tua darinya.
Tapi kenapa hawanya tampak begitu membuatmu tertekan? atau apakah karena dia bertemu namja itu di tempat ini? Tempat yang ketika menginjakan kaki di gerbang depannya saja langsung membuat otakmu bekerja cepat dan menyampaikan informasi bahwa tempat ini adalah tempat yang harusnya kau datangi paling akhir.
Begitu mencekam dan kentara terasa menyimpan begitu banyak misteri dan rahasia. Bukan karena design nya –karena sama sekali tidak ada tempat yang akan kau temukan seindah dan semenakjubkan tempat itu- tapi lebih pada sesuatu yang tidak kasat mata.
Kai menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan tempat dia berada. Tatapannya menangkap sebuah bagan dengan judul 'The only- 6 Loth'. Seketika untuk yang ntah keberapa kalinya, kening Kai berkerut, mempertajam fokus penglihatannya untuk memperhatikan dengan jelas wajah-wajah yang terpampang disana serta membaca tulisan yang berada di bawah foto-foto tersebut.
Merasa sedikit pusing karena terlalu memaksakan pandangannya, akhirnya Kai berdiri dari tempat duduknya dan berjalan lebih dekat untuk melihat bagan tersebut.
"Ckckck... pandangan mereka terlihat sama mengintimidasinya" ujarnya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan hawa penguasa yang menguar dari wajah-wajah didepannya tersebut. Padahal hanya sebuah foto, tapi sudah membuatnya merasa merinding. Bagaimana jika ia bertemu langsung dengan orang-orang itu nantinya?
"Ehmm..."
Sebuah dehaman kecil sontak membuat pandangan Kai teralih. Gugup segera menderanya saat melihat siapa yang tengah berdiri dihadapannya.
'Master of Loth, Wufan Kris' begitu Kai membaca keterangan di bawah foto namja tinggi bermata tajam itu beberapa detik lalu yang terletak dibagan tadi.
"Kim Jongin?" tanya Kris perlahan –sekedar berbasa-basi- sembari berjalan memutari meja dan duduk di tempat yang tadi diduduki namja pertama yang mengintrogasi Kai.
"Ne... bangapsumnida" jawab Kai kembali duduk ditempatnya semula. Namja didepannya mengangguk singkat.
"Aku sudah bertanya-tanya kenapa kau tidak menampakan diri tiga hari lalu saat upacara pembukaan" ucapan Kris yang terkesan santai tetapi mengintimdasi itu membuat Kai mengelus tengkuknya gelisah. Ia hanya melayangkan sebuah tawa gugup sebagai tanggapan atas pernyataan Kris.
"Hmm... itu... maaf sebelumnya, tapi kenapa aku bisa diundang untuk masuk ke tempat ini? maksudku ke sekolah ini. aku rasa, aku tidak pernah mendaftarkan diri pada sekolah mana pun dan terutama untuk kualifikasi beasiswa" Kai mengungkap keheranannya pada namja didepannya itu.
Entahlah, pembawaan namja itu serta karisma yang menguar dari tubuhnya seperti menjerat Kai untuk bersikap terbuka dan jujur untuk menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya. Benar-benar tipe seorang Leader.
"Ada saat yang tepat untuk bercerita tentang semua hal Kim Jongin, tapi sepertinya hari ini bukanlah hari yang benar untuk membahasnya" ujar Kris kembali dengan pandangan tajam nan menenangkan miliknya.
"Untuk saat ini bukankah seharusnya yang perlu kau tanyakan adalah hal penting apa yang harus dilakukan anggota baru? mengingat kau datang begitu terlambat dan melewatkan semuanya" lanjut namja itu menyandarkan punggungnya kesandaran kursi empuk yang didudukinya, tampak lelah tapi tetap seperti tidak terusik.
"Gg... geure... ne, informasi apa yang aku tinggalkan selama kertelambatanku Mr. Wufan?" tanya Kai seketika sedikit tergagap, merasa bersalah juga walaupun ia sebenarnya memang tidak berniat mengindahkan surat yang beberapa waktu lalu ditemukannya itu.
Kris tersenyum sekilas, tidak sampai sedetik dan ia kembali pada wajahnya yang mengeluarkan ekspresi dingin.
"Don't call me like that. I'm not even looks like an ahjjussi right? Panggil aku Kris" jawab Kris, tiba-tiba saja tertarik dengan sebuah leontin panjang yang melingkar di leher Kai, membuat namja itu langsung menggenggam leontinnya saat menyadari tatapan Kris.
"Menarik eoh?! Melihat leontin itu masih kau jaga dengan sangat baik mengingat apa yang sudah terjadi" ucapan Kris yang seolah sambil lalu itu seketika membuat tubuh Kai menegang. Tangannya yang perlahan bergetar makin mempererat genggamannya pada leontin yang dulunya berwarna Sapphire blue itu. Matanya bergerak liar seolah otaknya kehilangan fokus pada apa yang tengah dialaminya saat ini.
"Jangan tegang begitu, aku juga sedang tidak ada niat untuk berdiskusi tentang rahasia yang kau jaga rapat-rapat itu. dan jangan takut, aku tidak akan membongkar apapun. lagi pula, aku sendiri juga sebenarnya masih belum bisa meraba pasti apa yang terjadi saat itu" lagi-lagi Kris tersenyum, kali ini sedetik lebih lama dari sebelumnya tapi nyaris tidak terlihat saking cepatnya senyum itu hilang.
"Kau tanya informasi apa yang kau lewatkan pada upacara penerimaan beberapa hari lalu 'kan? Well, tidak terlalu banyak juga sebenarnya. ada beberapa informasi tidak penting yang sepertinya termasuk kategori penting untuk kau tanyakan pada Loth-Officer. Lalu, satu informasi yang benar-benar harus kau ingat baik-baik dan camkan selama kau berada di tempat ini Kim Jongin. Aku tidak akan membongkar rahasiamu jika kau melakukan satu hal"
Kris bangkit dari duduknya, berjalan mengitari meja dan berdiri dengan kedua tangan di dalam saku. Matanya tiba-tiba menangkap sesuatu dari balik jendela kaca dihadapannya. Sesuatu dikejauhan itu seperti sosok yang ia kenal.
"Maksudmu Kris-ssi?"
Kris mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap Kai yang kini tidak tampak takut lagi padanya. Ekspresi wajah namja yang kulitnya sedikit lebih gelap itu, mengeras. Sepertinya ucapan Kris tadi membuat Kai menemukan kekuatannya sendiri meskipun tangannya masih sedikit gemetar.
"Akan ada kualifikasi untuk pemilihan asisten loth. Jika kau berhasil menjadi salah satunya, aku akan membantumu menemukan ibu yang telah lama kau cari keberadaanya"
Kedua mata Kai kontan melebar menatap Kris. Dadanya bergemuruh hebat saat pembicaraan tersebut menyinggung masalah ibunya yang telah lama menghilang.
"Ka... Kau... apa yang sebenarnya kau ketahui tentangku?" ujar Kai tergagap. Rasa takut lagi-lagi menderanya. Jangan katakan kalau ia benar-benar berhasil dipancing keluar dari persembunyian selama dua tahun ini.
Kris melirik lagi sosok dikejauhan yang kini tengah diangkat oleh dua orang lainnya yang tampak berwajah panik. Kris berusaha menenangkan hatinya, meminta akal sehatnya untuk memberitahukan pada kedua kakinya yang gemetar agar bersabar dan tidak berlari menuju sosok itu.
"Sudah kukatakan kalau ini bukan waktu yang tepat. Sekarang kau tunggulah disini sampai seseorang bernama D.O datang untuk mengantarkanmu ke dorm. Jangan lupa dengan apa yang aku katakan sebelumnya Kai, dan jangan bertindak bodoh dengan mencoba kabur dari tempat ini"
Kris menyelesaikan ucapannya dengan cepat dan kemudian dengan langkah tergesa ia meninggalkan ruangan itu. Sepertinya logika namja tinggi tersebut tidak bisa lagi menahan rasa khawatir yang menyelimuti hatinya dengan cepat seperti aliran darahnya sendiri yang berdesir hebat ketika sosok itu terjatuh dan juga seperti kakinya yang terasa berat bagai timah sekaligus terasa seringan kapas saat ia berlari mengejar sosok yang sudah hilang dari pandangannya itu.
Kai menatap kepergian Kris dengan pandangan campur aduk, antara takut, kesal, dan juga bingung kenapa tiba-tiba saja namja itu pergi dari hadapannya dengan tergesa.
'Orang itu sepertinya tahu banyak mengenai diriku. Apakah dia juga tahu tentang cip itu?' Kai sibuk berkutat dengan isi kepalanya sendiri sebelum akhirnya tersedar saat ia melihat seorang namja cantik yang memasuki ruangan tersebut dan seketika sama-sama menunjukan wajah terkejutnya dengan Kai.
.
E-X-O
.
Chanyeol berjalan memasuki ruangan loth dengan helaan nafas berat. Wajahnya yang tampak kusut karena lingkaran hitam yang terdapat dibawah kedua matanya dan juga kulitnya yang pucat menoleh kekanan dan kekiri, memastikan tidak ada seorang pun loth yang tengah berada di tempat itu.
Ia memang merasa tidak enak badan semenjak beberapa hari lalu setelah menyelesaikan misinya, terutama setelah kejadian di Zurich yang membuatnya menerima tamparan keras dari Chen.
Sebenarnya Chanyeol juga hendak mengikuti Chen ke ruang penyembuhan, mengingat luka tembak di lengan kirinya yang masih belum sempat mendapat pertolongan selain sebuah kain yang diikat sembarangan untuk menutupi luka menganga akibat proses pengeluaran peluru secara paksa tersebut. Tapi ia mengurungkan niatnya dengan berjalan kearah yang berlawanan dengan Chen saat ia teringat pesan singkat yang dikirimkan oleh Kyungsoo beberapa waktu lalu mengenai email aneh yang tidak bisa dibuka namja cantik itu.
Chanyeol duduk di kursinya yang biasa. Tangannya terangkat menyisir rambut golden-brown nya yang sedikit ikal. Matanya langsung saja menangkap sesuatu dilayar canova –komputer dual touch screen- nya yang kini tengah menampilkan sebuah amplop besar, menandakan ada email masuk yang ditujutkan padanya.
Tanpa pikir panjang, Chanyeol mengarahkan tangannya untuk menyentuh layar canova itu. Alih-alih menampilkan sebuah pesan, kini layar komputer canggih Chanyeol menampilkan sebuah gambar acak-acakan tanpa adanya tulisan di dalam sebuah kotak yang menutupi gambar amplop besar dibelakangnya. Sebuah pesan rahasia.
Chanyeol memperbaiki posisi duduknya sebelum kembali menekuni isi pesan tersebut. Namja itu, sudah terbiasa mengartikan barisan pesan steganografi dan mengacak kodenya hingga menjadi sebuah password untuk dapat membuka amplop besar yang berisi pesan sesungguhnya tersebut.
Ekspresi wajah Chanyeol tampak mengeras seiring matanya berjalan menelusuri barisan kata dari email yang telah berhasil dibukanya beberapa saat lalu.
"Shit!"
Sebuah umpatan lolos dari bibir Chanyeol. Kini bukan hanya ekspresi wajah yang menunjukan kekesalan, tetapi juga tangannya yang mengepal erat seperti seorang yang tengah berusaha kuat menahan emosinya yang bergejolak.
Chanyeol bangkit dari tempat duduknya, sebenarnya luka ditangan kirinya sudah kembali berdenyut semenjak tadi dan kedua matanya sudah menjerit minta diistirahatkan tapi namja itu tidak mengindahkannya.
Ia berjalan tergesa kembali meninggalkan ruangan, menuju kantor pribadi Kris yang hanya berjarak satu belokan dari tempatnya berada.
"Hyung!" Chanyeol mengetuk pintu kokoh itu dengan tidak sabar. Karena terlalu panik, sepertinya namja itu lupa bahwa beberapa ruangan khusus di EXO –termasuk kantor pribadi Kris- menggunakan sistem kedap suara. Dan sepertinya ia juga lupa dengan fakta bahwa saat ini ia tengah berada di tempat yang dipenuhi berbagai alat-alat canggih, terbukti dari layar plasama dan sebuah bel disamping pintu tersebut yang tidak dilirik oleh namja itu.
"Hyung!" teriak Chanyeol lagi, kali ini tidak mengetuk pintu melainkan menggedornya kuat.
"Chanyeol hyung! Apa yang kau lakukan?" sebuah suara menyadarkan Chanyeol. Ia berpaling cepat dan melihat Tao berlari kearahnya.
"Oh, Tao! Aku sedang ada perlu dengan Kris hyung, tapi dia tidak membuka pintunya" Chanyeol berucap cepat sembari tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tentu saja dia tidak membuka pintunya hyung! Kris ge sedang tidak berada di ruangan itu tapi diruang penyembuhan" Tao mengarahkan tangannya pada sebuah bangunan besar berwarna putih yang terletak tidak jauh dari bangunan tempat mereka berada.
Chanyeol menatap bangunan putih itu heran sebelum akhirnya kembali menatap Tao, "Apa ada yang terluka?" tanyanya sarat akan rasa cemas.
"Ne, anggota baru yang istimewa itu" jawab Tao seadanya, membuat Chanyeol menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.
Maklum saja, Chanyeol sudah dua minggu ini tidak berada di EXO. Ia pergi menjalankan misi ke Swiss, menyusup untuk membantu meringkus sekelompok mafia yang akhir-akhir ini mulai meresahkan FBI. Menjadi penyusup dalam salah satu kelompok terkejam itu tentu saja membuat Chanyeol tidak bisa mengecek EXO secara berkala karena terlalu beresiko. Jadi ia benar-benar ketinggalan berita mengenai keadaan EXO.
"Maksudmu 'istimewa' apa Tao?" tanyanya lagi.
"Aku juga tidak tahu hyung. tapi saat dia datang bersama Kris ge, Kris ge bilang kalau namja cantik itu akan menjadi asistenmu jadi kami harus memperlakukannya dengan baik" jelas Tao sembari mengangkat bahunya sekilas, tanda ia juga bingung dengan keadaan EXO yang menurutnya sedikit kacau itu.
Sementara Chanyeol kini tengah berdiri dengan mata yang berkedip-kedip cepat. Otak jeniusnya sepertinya tiba-tiba saja terkena sindrom lama-mencerna-ucapan, karena ia harus mengulang berkali-kali ucapan Tao didalam otaknya sebelum matanya membelalak kaget.
"Asistenku? Tapi yang kehilangan asisten 'kan bukan aku? aku masih punya Chen" ujar Chanyeol heboh, alisnya bertaut menjadi satu menunjukan ekspresi bingung namja itu.
Tao lagi-lagi menggidikan bahunya, "Itulah kenapa aku bilang dia istimewa! Kau tanyakan saja langsung pada Kris ge, hyung. sebenarnya aku buru-buru harus menemui Xiumin hyung. aku duluan ya" Tao berlalu dari hadapan Chanyeol setelah sekilas menepuk pundak namja itu pelan. Ia berlari meninggalkan Chanyeol menuju ruangan pribadi Xiumin yang terletak disisi lain ruangan loth.
'Sepertinya memang harus aku tanyakan sendiri pada Kris' batin Chanyeol sesaat setelah ia kembali sendirian berdiri di tempat itu.
.
E-X-O
.
Nanjing, China
Suho berjalan mondar-mandir dikamarnya yang megah. Tangan kirinya berada disaku celananya sedangkan tangan kanannya mengurut pelan dagunya. Namja itu tampaknya sedang berpikir keras tentang sesuatu.
"Maaf tuan muda, pesanan anda sudah datang" seseorang yang berada diluar kamar berucap melalui celah pintu yang terbuka.
Suho berpaling pada salah satu bawahannya itu, "Bawa kesini" ujarnya sembari berjalan menuju sofa empuk yang berada disana. Ia duduk dengan melipat satu kakinya menumpu pada kaki yang lain, sementar kedua tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya yang tampan kini menatap sedikit angkuh pada sebuah kotak besar yang diletakkan dihadapannya –diatas meja kaca-.
Namja bertubuh tinggi yang merupakan salah satu bawahan yang paling dipercayai Suho tersebut perlahan membuka kotak dan mempersilahkan Suho untuk melihat isinya.
Mata Suho menangkap sebuah pistol semi automatic FN Five-Seven berserta beberapa butir peluru dan sebuah Minox Camera –kamera pendeteksi yang besarnya tidak lebih dari telepak tangan manusia- dari dalam kotak tersebut. Suho mengambil barang-barang pesanannya itu dan dengan seksama menilai apakah ia merasa puas dengan dua benda yang sudah berada di kedua tangannya itu.
"Apakah sudah kau cobakan sebelumnya Minho?" tanya Suho pada namja tinggi yang tadi membawa kotak itu masuk ke dalam kamar. Sebagai jawabannya Minho menggeleng pelan sambil bergumam "Belum".
"Kerja bagus Minho" puji Suho sembari melempar senyum manisnya pada Minho yang telah menengadah menatap pada bosnya itu. Minho mengangguk hormat, menerima pujian langka dari namja yang memilki wajah bak malaikat tersebut.
"Aku tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Kris nanti saat aku tiba dikerajaannya itu" Suho melangkah meninggalkan kamarnya dengan sebuah pistol yang terselip dipunggung dan minox camera yang ia selipkan ke dalam saku jasnya yang tampak sangat mahal. Senyum manis yang lagi-lagi membuatnya terlihat seperti malaikat, terpatri indah diwajah tanpa cela itu.
.
To Be Continue...
habis R(read) biasanya harus R(review) 'kan? ^^
