Author : Queeney

Main Cast : Baekhyun & all EXO Members

Genre : Sci-fi, Mysteri, Romance, Brothership

Rating : T

Do not copy-paste without my permission! thanks and enjoyed!


Chapter 3 © Queeney

- there will always be a light in the darkness -

"Aku 'kan sudah mengingatkanmu untuk tidak menanyakan itu Lu!" suara Kris berbisik tajam pada Luhan yang tengah berdiri tertunduk dihadapannya. Kemarahan tampaknya tengah menyelimuti namja tampan itu hingga ia tidak bisa mengatur emosi agar dapat berbicara lebih halus pada Luhan yang notabene adalah partner kerja sekaligus salah satu sahabat karibnya.

Luhan mengelus tangkuk dengan gugup. Tanpa Kris memarahinya, Luhan sendiri pun sudah berkali-kali memaki dirinya karena telah melupakan salah satu peringatan yang diberikan oleh Kris.

"Mianhae Kris, aku memang salah" Luhan berucap pelan. Ia sebenarnya bingung dengan sikap Kris yang seperti ini. Kris tidak pernah sekalipun kehilangan ketenangannya sebelum sosok bernama Baekhyun itu bergabung di EXO. Karena hal inilah Luhan sedikit bingung bagaimana caranya agar sang sahabat memaafkannya.

Kris menghela nafas dengan keras. Ia sedikit merasa bersalah juga saat melihat ekspresi Luhan yang begitu memelas. Ia tidak ingin marah pada Luhan karena ia menghormati persahabatan mereka, tetapi melihat Baekhyun yang kembali terbaring di tempat tidur, tidak sadarkan diri, membuatnya hilang kendali. Otak namja itu tiba-tiba saja tidak bisa berpikir jernih. Ia sudah cukup melihat bagaimana mengenaskannya Baekhyun saat ia menemukan namja cantik itu di Tokyo. Kris tidak mau lagi mengingat hal tersebut karena ia akan kembali menyalahkan dirinya sendiri.

"Ah, lagi pula ini sudah terjadi. Tidak apa-apa Lu, maaf aku sudah marah padamu. Tapi lain kali tolong jangan lupa dengan apa yang pernah aku katakan" Kris berucap pelan. Ia memberikan senyum tipis yang biasa pada Luhan sembari berjalan menuju sofa yang terletak di sudut ruangan.

Kepala Luhan mengangguk kecil tanda ia menerima permintaan maaf Kris, sekaligus mengingatkan dirinya sendiri agar lain kali tidak mengulangi kesalahan yang sama.

"Kris hyung!"

Sebuah suara yang memanggil namanya dengan tergesa, membuat Kris beralih menatap sosok yang berdiri di pintu ruangan.

Chanyeol berjalan dengan terburu-buru, mendekat pada Kris tanpa melirik seseorang yang terbaring di atas tempat tidur pasien. Ia duduk tepat di sofa dihadapan Kris sembari tangannya yang tidak terluka, mengacak rambutnya frustasi.

Menyadari bahwa ada hal yang tidak beres, Luhan ikut duduk di sofa. Ia menatap Chanyeol yang sudah dua minggu ini tidak ia lihat, dengan tatapan bertanya. Dalam hati berusaha menebak masalah apa kali ini yang akan menimpa EXO.

"Ada apa Chanyeol-ah? Kau terlihat kusut. Apa kau baru saja datang?" tanya Kris bertubi-tubi. Kedua alis matanya menyatu, menyiratkan rasa heran yang tengah melanda hebat. Tangan kanan namja tampan itu kini menopang dagu, memusatkan perhatian pada Chanyeol.

Beberapa detik berlalu hanya dengan helaan nafas berat Chanyeol yang rupanya sedang berusaha merangkai kata agar berita yang akan disampaikannya tersebut tidak mengagetkan Kris. Ia sempat meringis sebentar saat tangannya yang terluka terasa berdenyut. Ck, bahkan untuk sesaat ia lupa kalau lukanya belum diobati dengan benar.

"Suho hyung akan datang kesini besok" ujar Chanyeol, akhirnya memutuskan untuk berterus-terang karena ia tidak bisa menemukan kata-kata lain yang terdengar tidak begitu mengejutkan.

"SUHO?" teriak Kris seketika bangkit dari duduk. Ekspresi namja itu mengeras seiring kedua tangan mengepal erat. Ia menatap tajam pada Chanyeol, mengisyaratkan bahwa ia berharap apa yang disampaikan Chanyeol barusan hanya lelucon saja.

"Astaga, disaat yang seperti ini..." Luhan bergumam pelan. Rupanya ia juga tak kalah kaget dengan Kris yang kini telah kembali menghempaskan diri ke sofa. Chanyeol mengangguk pada Luhan yang duduk di sampingnya. Sesuai dugaan, kabar ini akan membuat seluruh loth gempar jika mendengarnya. Yah, seperti dirinya sendiri saat membaca pesan itu.

"Kita harus segera mengadakan rapat loth Kris" ujar Luhan pada Kris yang masih terdiam dan tampak sibuk berkutat dengan pikirannya.

Kris mengangkat pandangan, balik menatap mata Luhan. Untuk mengadakan rapat darurat disaat seperti ini –dimana semua loth dan para asisten sedang disibukan dengan program pemilihan asisten baru dan juga beberapa misi tambahan dari FBI– tentu akan sangat mengganggu.

Tapi, situasi ini benar-benar gawat. Jika Suho datang dan mereka tidak ada persiapan apapun, sama saja dengan menggali kuburan mereka sendiri. Well terutama Kris, ia tidak mau berada dalam posisi yang tidak menguntungkan sementara namja itu berkunjung. Apalagi saat ia telah menemukan kedua orang yang sangat diinginkan Suho tersebut.

Untuk sesaat Kris terkesiap dengan pikirannya sendiri. Benar juga, bagaimana mungkin ia tidak memikirkan tentang kemungkinan itu? Jika Suho datang secara mendadak seperti ini, bukan tidak mungkin bahwa namja yang merupakan keturunan sah pendiri EXO tersebut entah bagaimana telah berhasil mendapatkan informasi mengenai perekrutan dua anggota baru itu.

"Baiklah kalau begitu. Luhan, tolong kabari semua loth dan asisten untuk berkumpul jam 7 malam nanti. Aku tidak ingin ada satu pun yang tidak hadir dalam rapat" Kris berucap cepat. Ia tidak biasanya bersikap panik seperti ini, tapi jika Suho diibaratkan sebagai musuh yang harus mereka musnahkan, maka Suho akan ia tandai sebagai salah satu mafia yang paling berbahaya.

Kris bukan namja bodoh yang akan mengabaikan begitu saja firasat buruknya. Karena dari seratus kali kesempatan ia mengikuti firasatnya, hanya sepuluh buah kesalahan yang pernah ia temui. Bisa dikatakan firasatnya hampir selalu benar.

Luhan mengangguk perlahan dan kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Ia harus cepat bertindak jika mereka semua harus berkumpul malam ini, karena Xiumin baru saja mengatakan bahwa ia dan Tao segera akan terbang ke German saat pertemuan pembahasan fighter camp selesai, untuk menjalankan misi.

Kris beralih memandang Chanyeol yang kini meringis. Tangan kanan namja itu menekan pelan balutan kain yang menutupi luka di tangan kirinya.

"Pergilah menemui Lay, Chanyeol-ah! Sepertinya lukamu cukup parah" Kris mengintip luka tembak Chanyeol dari celah kain yang diturunkannya sedikit. Ia dapat melihat bekas darah yang telah mengering di sekitar luka yang masih terbuka lebar dan sesekali mengeluarkan darah segar itu.

"Ne hyung" Chanyeol kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut, masih tanpa melirik sedikit pun pada namja cantik yang terbaring di atas tempat tidur. Tampaknya ia lupa dengan informasi yang diberikan Tao padanya beberapa menit lalu sebelum ia berada di ruang kesehatan.

.


E.X.O


.

Xiumin menyapukan pandangannya, tampak meneliti jumlah yang telah bergabung di dalam aula besar. Tangannya memegang sebuah Latter Roll –surat digital berupa gulungan layar plasma–, berkas hasil rapat tertutup bersama master of Loth beberapa minggu lalu. Itu adalah detail pelaksanaan fighter camp yang akan berlangsung seminggu penuh untuk menemukan wajah-wajah baru yang akan mengisi kekosongan dalam posisi asisten loth.

Di beberapa sisi aula, sebut saja kumpulan mereka yang telah lama berada di EXO, tampak menunggu dengan tenang. Duduk dengan masing-masing flybook –layar plasma datar selebar buku panduan yang dapat dilipat hingga sebesar buku saku– di tangan. Rupanya sebagian besar peraturan dasar telah mendarah daging dalam tubuh mereka, hingga tahu dengan pasti bahwa kebisingan merupakan hal tabu untuk dilakukan saat pertemuan umum seperti ini.

Sementara itu, disisi lain, dimana wajah-wajah baru berkumpul dalam satu podium paling bawah, sibuk berbisik-bisik seru seolah tidak ada hari esok. Tampaknya para anggota baru tersebut tidak menemukan kesulitan berarti dalam berkomunikasi dengan roomate mereka yang baru tadi malam diumumkan.

Xiumin berdeham ringan pada microfon wireless di atas meja dihadapannya. Aula hening seketika, seolah ada tangan-tangan yang serentak menjahit semua mulut anggota-anggota baru itu, karena keheningan yang terlalu tiba-tiba.

"Selamat pagi! Aku harap kalian tidur nyenyak semalam..." Xiumin berhenti sejenak, menyapukan pandangannya pada seluruh siswa dengan senyum tipis di sudut bibirnya.

"Sesuai keputusan rapat, saya sampaikan kepada seluruh anggota tingkat 1, bahwa fighter camp resmi dimulai setelah jam istirahat siang. Perlangkapan dan peraturan, serta semua hal yang berhubungan dengan camp dapat dilihat pada flybook yang pagi ini telah diletakan di kamar kalian masing-masing. Selanjutnya, tingkat 2 sampai dari 6, pagi ini wajib melapor pada asisten Loth atau asisten Loth sementara masing-masing bidang"

Xiumin berdiri dari tempat duduk, berjalan maju ke tengah podium. Ia mengangkat Latter Roll yang ada di tangannya tinggi-tinggi ke udara. Dengan sekali tekan pada ujung kanannya, layar benda canggih tersebut membesar hingga 1,5 meter. Seluruh siswa yang berada di dalam aula kini dapat melihat sebuah gambar emblem yang terpampang jelas pada layar.

Emblem tersebut berbentuk sama persis dengan emblem yang terpasang pada kemeja hitam yang tengah dipakai Xiumin. Perbedaannya hanya terletak pada warna emblem yang berwarna biru muda, bukan seperti milik Xiumin yang berwarna perak terang.

"Seperti yang bisa kalian lihat, emblem ini didesain sama dengan logo EXO yang digunakan oleh para Loth..." Xiumin mengehentikan penjelasaannya sesaat untuk menunjuk pada emblem dibagian kiri dadanya.

"...Emblem skyblue ini nantinya akan menjadi tanda bahwa kalian berada diposisi asisten Loth. Semua keistimewaan asisten Loth seperti memiliki ruang dan kamar pribadi, serta hak untuk menjalankan misi kelas A dan B, akan kalian dapatkan tepat setelah kalian dilantik dan dipasangkan emblem ini"

Xiumin berhenti lagi. Ia kali ini menutup kembali layar Latter Roll dengan menyentuh dua kali bagian kanan layar. Benda canggih itu kembali mengecil dan jatuh tepat di tangan Xiumin. Ia melangkah menuju tempat duduknya semula, meletakan Latter Roll ke atas meja, lalu kembali menghadap pada seluruh siswa EXO.

"Saya harap kalian bisa menjalani seluruh tes dengan sungguh-sungguh tanpa melakukan kecurangan. Dan untuk tahun pertama, sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, penilaian kualifikasi kalian akan dilakukan selama figther camp ini berlangsung. Jadi, untuk tahun depan kalian sudah akan langsung terdaftar pada guild tertentu dan dapat pindah ke asrama permanen tanpa melakukan tes tambahan"

Menutup penjelasannya, Xiumin mengangguk singkat pada Tao untuk mengambil alih pertemuan itu karena ia baru saja melihat Luhan memasuki aula dengan tatapan tertuju penuh padanya.

.


E.X.O


.

"Jadi begitu. Aku setuju dengan keputusan Kris, kalau Suho memang akan berkunjung, kita tidak bisa berdiam diri tanpa perisapan"

Xiumin dan Luhan berjalan beriringan dengan langkah tergesa menuju sebuah ruangan dengan atap tinggi yang tepat berada di depan aula pertemuan. Jam tangan yang dikenakan Xiumin sudah menunjukkan pukul 12.15 saat Luhan selesai dengan penjelasannya selama mereka menyusuri jalan setapak yang terlarang untuk semua orang kecuali para Loth dan asistennya.

"Menurutmu kenapa dia tiba-tiba ingin berkunjung?" tanya Luhan sembari memperhatikan Xiumin yang menempelkan sebuah card-infra pada layar disisi kanan pintu dihadapan mereka.

Card-infra adalah benda berupa sebuah kartu transparan yang amat tipis dengan pola labirin timbul, hasil pernemuan Chanyeol dan Xiumin pada tahun kedua mereka menjabat sebagai Loth-5. Benda tersebut memungkin para Loth dapat mengakses seluruh ruangan terlarang yang ada di EXO.

"Apa kau tidak merasa ini ada hubungannya dengan Baekhyun, Lu?"

Luhan terdiam sejenak, memikirkan beberapa kemungkinan mengenai jawaban yang akan ia lontarkan.

Bergabungnya Byun Baekhyun dengan mereka memang merupakan sebuah tanda tanya besar. Tidak ada seorangpun sejauh ini, yang mendapatkan kehermotan dari Kris untuk mengetahui apa sebenarnya yang membuat pemuda itu begitu bersikeras memasukkan nama Baekhyun dalam daftar anggota baru. Bahkan ia sampai menjemputnya sendiri ke Tokyo, hal yang mungkin tidak akan pernah Kris lakukan pada orang lain selain Baekhyun.

Mereka sebelumnya pernah mendiskusikan beberapa opsi tepat mengenai hal ini, tapi tidak pernah ada kesepakatan yang terjadi antara pemikiran satu dan lainnya. Singkatnya, masih terlalu banyak rahasia yang Kris putuskan untuk ia simpan sendiri alih-alih mempercayainya pada orang-orang terdekatnya.

"Bisa jadi. Tapi kalau memang benar begitu, jujur saja, aku bisa mati penasaran tentangnya kalau tidak ada juga yang mau bersusah-payah memberitahu kita. Semuanya terlalu membingungkan. sebenarnya apa istimewanya pemuda yang terlihat sangat lemah itu. Bukan berarti aku tidak suka padanya, hanya saja Kris seolah memiliki harapan yang sangat tinggi dengan memilihnya menjadi asisten Loth tanpa harus mengikuti kualifikasi sama sekali. Tidakkah kau pikir ini konyol Minseok-ah?"

Pintu di depan mereka sudah terbuka secara otomatis. Luhan melangkah lebih dulu dari Xiumin. Ia berjalan mundur agar dapat menatap Xiumin dengan benar, mengisyaratkan bahwa dia masih menunggu sebuah tanggapan darinya.

Selangkah Xiumin melewati pintu otomatis yang memisahkan mereka dengan sebuah ruangan besar dan gelap tersebut, pintu itu kembali tertutup. Xiumin menjetikkan jarinya ke udara, dan seketika puluhan lampu yang menyebar dalam ruangan, menyala dan membuat mata Luhan dan Xiumin buta sesaat karena silau.

Ruangan tersebut rupanya semacam tempat pembuatan alat elektronik canggih, karena di sekeliling tepi ruangan terdapat rak-rak tinggi yang berisi ribuan suku cadang. Di beberapa bagian dinding ruangan menempel beberapa alat-alat canggih yang sepertinya sudah tidak pernah dipakai lagi, sehingga sekarang hanya ditaruh dalam kotak kaca. Beberapa meja besar juga turut menyebar di dalam ruangan, diantaranya penuh dengan alat canggih setengah jadi atau yang sudah jadi, tapi masih dalam tahap percobaan, sedangkan meja-meja yang lain tampak bersih bahkan dari secuil debu.

"Yah, kau tidak pernah bisa benar-benar mengatakan keputusan Kris itu konyol, Lu. Apa kau tidak ingat bagaimana kita bisa menjadi Loth? Seingatku tidak ada satupun dari kita berlima yang mengikuti kualifikasi Loth. Kris memilih kita berdasarkan -dengan entah bagaimana ia mendapatkan seluruh infonya- kemampuan kita yang kita coba sembunyikan dari orang lain. Aku rasa dia memiliki sedikit kemampuan lebih daripada kita dalam menilai kemampuan seseorang" ujar Xiumin.

Ia dan Luhan masih terus berjalan menuju sebuah podium kecil di ujung sebelah kanan ruangan bundar tersebut. Podium yang mereka tuju sedikit terhalang oleh beberapa rak, sehingga pandangan mereka tidak sepenuhnya bisa menangkap benda-benda yang terletak tepat di tengah, di atas podium.

Luhan lah yang lebih dulu mencapai podium karena ia berjalan beberapa langkah di depan Xiumin. Enam buah Jetpack -ransel terbang personal dengan sebuah pemindai sidik jari pengendali- tersandar pada masing-masing sebuah tiang baja, sehingga Jetpack tersebut tampak siap untuk dikemudikan oleh pemiliknya.

"Yeah benar juga" tanggap Luhan setelah beberapa saat sempat terpesona pada penemuan baru Xiumin tersebut.

Jetpack sebenarnya belum pernah diuji coba oleh ke-5 Loth yang lain. Hanya Xiumin satu-satunya orang yang pernah mengendalikan penemuan amat canggih itu, karena memang dirinya lah yang mencetuskan ide, meneliti material, serta kemudian mengerjakannya selama 1,5 tahun penuh (dibantu dengan sedikit pengetahuan IT yang Chanyeol miliki). Sebuah alat transportasi yang akan membuat FBI dan CIA rela membayar milyaran juta dolar untuk mendapatkan formulanya, well, jika mereka mengetahui hal ini. Tentu saja Kris lebih dari sekedar pintar untuk tidak menyebut-nyebut penemuan berharga ini pada mereka. Para Loth setuju bahwa kecolongan mereka untuk penemuan Latter-Roll yang kemudian juga digunakan oleh tim khusus FBI dan CIA, merupakan suatu ketidakberuntungan. Pantas saja, organisasi pertahanan dunia yang lain, selama ini tidak terlalu bersahabat dengan kedua organisasi besar tersebut, karena yah, mereka tidak terlalu menghargai kepintaran pihak lain.

Kembali pada cerita, Xiumin berdiri pada sisi jetpack yang telah dipindai dengan sidik jarinya. Kedua tangannya berkacak pinggang, senyum bangga terpatri di wajahnya saat melihat betapa Luhan mengagumi masterpiece nya tersebut.

"Benda ini benar-benar terlihat mengagumkan Minseok-ah" celetuk Luhan setengah sadar karena mata dan seluruh fokus otaknya masih sibuk mengagumi benda di depannya tersebut.

"Belum mengaggumkan Lu. Tunggu sampai kau mencobanya sendiri, dan aku akan siap menerima semua pujianmu" Xiumin terkekeh ringan, Luhan memang selalu bisa menghargai penemuannya lebih daripada yang lain.

"Jadi, siap untuk terbang Luhan-ah?"

Luhan mengangguk antusias. Senyum lebarnya kini terarah pada Xiumin.

"Kalau begitu, taruh jari-jarimu masing-masing pada tangan kontrolnya. Alatnya akan aktif dan langsung memindai sidik jarimu, jadi besok-besok kalau kau ingin memakainya lagi, tinggal tekan tombol di bagian kanan saja"

Xiumin memberikan instruksi dengan perlahan. Ia membantu Luhan menyandang jetpack, menyetel ukurannya agar nyaman terpasang pada punggung Luhan. Ia memberikan penjelasan sekilas mengenai tombol-tombol yang ada pada sisi kanan dan kiri jetpack yang telah sempurna tersampir di pundaknya.

Luhan segera mengenali berbagai macam tombol seperti tombol untuk mengatur sandaran kepala, tombol untuk memunculkan tempat duduk hingga ia bisa nyaman saat mengudara, sampai pada tombol yang tidak terlalu penting seperti tombol untuk mengeluarkan sebuah permen mint tepat di depan mulut, kalau-kalau sang pengendara mendadak merasa bosan saat terbang ataupun tiba-tiba mabuk udara (Xiumin sempat terkekeh saat ide tombol ini muncul dalam otaknya).

Keduanya sudah mengenakan jetpack dipunggung mereka. Luhan bahkan sudah menekan tombol nyala saat Xiumin belum menekan remot kontrol atap ruang penemuannya agar dapat terbuka sehingga mereka bisa terbang langsung dari atas podium ke udara terbuka.

"Cepatlah Minseok-ah! Aku sudah tidak sabar mengendarai ini" kata Luhan kelewat bersemangat sampai-sampai tanpa sadar ia telah menjejakkan kaki pada lantai podium, menyebabkan kakinya kini sudah tidak lagi menapak marmer, melainkan mengambang di udara dengan posisi yang telah diatur sedemikian rupa.

"Sabar baby" Xiumin terkekeh lagi. Namjachingu nya itu terkadang bisa jadi sangat menggemaskan seperti anak kecil saat ia sedang bersemangat seperti ini. Bukannya Xiumin keberatan dengan hal tersebut. Ia hanya selalu merasa heran untuk 3 detik yang lama, kenapa ia bisa menjalin hubungan lebih dari seorang sahabat dengan Luhan.

Jari tangan kanan Xiumin sudah menekan tombol untuk membuka atap diatas mereka. Atap tinggi berbentuk setengah lingkaran itu perlahan terbelah dua, menampakkan pemandangan langit yang cerah tak berawan.

"Saatnya kembali ke gedung utama" ujar Luhan ceria.

.


E.X.O


.

Desah angin laut dengan bau asin yang menyengat berhasil membuyarkan lamunan Lay. Pemuda itu mengusap setetes air pada kedua sudut mata beningnya. Memang tidak biasanya ia berada dalam mood yang melankolis seperti itu. Tapi mengingat semua kejadian ekstrim yang akhir-akhir ini menyapa kehidupannya, Lay tidak terlalu heran pada dirinya sendiri.

Ia menatap wajah Chanyeol yang tertidur pulas di atas ranjang lipatnya. Matanya menelusuri slang-slang dan beberapa luka goresan pada tangan kanan namja yang lebih muda satu tahun darinya itu. Beningnya berhenti lama saat menatap bekas luka tembak yang tampak mengenaskan. Inilah yang ia cemaskan setiap kali Chanyeol menjalankan misi kelas A. Namja itu akan selalu pulang dalam keadaan luka yang cukup parah dan tubuh yang sangat lemah.

Tanpa sadar tangan Lay mengepal kuat. Ia tidak mau mengakui hal ini sebelumnya, tapi jika dipikirkan lagi, tidaklah aneh kalau dirinya mulai mempertanyakan apa alasan ia tetap berada di EXO. Well, tempat ini memang menakjubkan. Lay bisa melakukan semua penelitiannya dengan peralatan yang amat canggih dan tidak akan ada yang memprotes dirinya sekalipun ia melakukan penelitian ilegal seperti memproduksi racun mematikan.

Tapi, pekerjaan ini mulai terasa memberatkan. Hatinya terasa tidak lagi sama setelah ia berkali-kali menyaksikan kematian di depan matanya. Bahkan salah satu dari anggota yang tewas itu adalah asistennya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau seandainya–

"Tidak! Apa yang kau pikirkan bodoh?! Dia tidak akan meninggalkanmu"

–Lay menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Yixing hyung? Kau baik-baik saja?" pertanyaan yang berasal dari balik punggungnya membuat Lay tersadar bahwa ia tadi tidak sengaja mengucapkan isi pikirannya keras-keras. Rasa panas kontan menghiasi wajahnya.

Lay memutar kursi yang didudukinya menghadap pada Chen yang beberapa saat lalu datang untuk memberitahunya menyampaikan pesan dari Luhan mengenai rapat loth. Ia mengumpat kecil pada kebodohannya.

"Y... ya. Aku baik-baik saja Jongdae-ya" ujar Lay tergagap, seolah mengundang Chen untuk melakukan interogasi lebih lanjut.

"Rasanya aku pernah mengatakan padamu kalau kau tidak pandai berbohong hyung. Lagi pula kau sudah terdiam lama sekali semenjak aku selesai berbicara" sebelah alis Chen terangkat. Ia bisa saja melepaskan Lay tanpa bertanya lebih lanjut. Tapi rasa penasarannya terhadap Lay –namja yang selalu mendapatkan perhatian lebih darinya– yang akhir-akhir ini memang terlihat sedikit aneh, membuatnya tidak mau mundur.

Bagaimanapun Lay adalah salah satu dari orang yang berperan besar terhadap keselamatan EXO (lupakan sejenak tentang perasaannya). Chen tidak bisa begitu saja mengabaikan segala kemungkinan yang mungkin saja buruk. Mengingat EXO memang tengah berada dalam masa-masa berat sejak kehilangan chipitu. Mereka semua harus waspada terhadap segala hal.

Lay berdeham kecil, bertanya-tanya dalam hati apakah bijak untuk memberitahu Chen tentang kecemasannya.

"Err... Jongdae-ya, boleh aku bertanya satu hal?" Lay melirik kecil pada Chen. Hanya sesaat, karena detik berikutnya ia sudah mengalihkan matanya menatap miniatur unicorn yang terletak di ujung meja kerjanya.

Chen mengangguk.

"Kenapa kau masih bertahan di tempat ini?"

Hening.

Keheningan menyambut percakapan mereka sama mendadaknya dengan tarikan nafas tajam Chen yang terasa mengancam Lay. Ia bangkit berdiri dari tempat tidur pasien yang sedari tadi didudukinya. Kaki namja itu melangkah mendekati Lay dan kemudian berlutut di lantai saat ia sudah cukup dekat untuk dapat mengintip ekspresi wajah Lay yang kini telah menunduk dalam, menemukan kesenangan pada lantai marmer.

"Jangan katakan kalau kau berniat meninggalkan tempat ini hyung" intonasi Chen datar tapi terkesan dingin dan lebih tajam daripada manik matanya.

Lay mendesah frustasi. Ia tidak mau ada kesalahpahaman antara dirinya dan Chen. Selama ini namja itu selalu menjadi tempat curahan hatinya kapanpun ia butuh teman. Ia tidak siap jika harus bermusuhan dengannya.

"Kau tahu 'kan kalau aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Chanyeol. EXO sudah semakin berbahaya Jongdae-ya. Dan dia akhir-akhir ini sering sekali dikirim untuk menjalankan misi kelas A yang bahkan FBI saja menolak untuk mengurusnya sendiri tanpa bantuan kita. Aku tidak terlalu cemas saat dia bersamamu, tapi dia terlalu sering menjalankan misi personal"

Kedua tangan Lay terangkat menjambak rambutnya frustasi. Ia ingat dengan sumpah penobatannya saat menjadi seorang Loth. Dia tidak mau mengakui ini, tapi kini ia merasa terbebani dengan semua tanggung jawab yang diberikan padanya. Nyawanya memang tidak pernah benar-benar berada dalam bahaya, tapi tidak dengan nyawa seseorang yang sangat disayanginya –yang harus berdiri di garis depan saat terjadi penyerangan–. Hal ini terasa membuatnya gila.

Grep

Lay beralih membalas tatapan Chen yang sarat akan... kesedihan? Cengkraman erat pada kedua lengannya membuat Lay tiba-tiba dihantam perasaan bersalah. Ia tahu bahwa ia baru saja menyakiti Chen. Lagi.

"Aku masih disini hyung. Apa kau perlu mangatakan hal itu?" mata itu membalas tatapan Lay dengan pandangan terluka.

"Jongdae-ya... Duìbùqǐ...a...aku..." Lay merasakan tenggorokannya kering secara tiba-tiba. Rasa bersalah menerpanya. Tatapan Chen yang masih tidak lepas darinya itu, membuatnya menyesal telah melupakan begitu saja fakta bahwa Chen telah lama menaruh hati padanya. Astaga, tidak seharusnya dia mengatakan hal itu padanya.

"Jongdae-ya..." Lay tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata maafnya seolah terhenti di tenggorakan.

Chen melepaskan cengkramannya di tangan Lay. Tidak. Ia tidak harusnya marah pada Lay karena namja itu sudah pernah mengatakannya dengan jelas bahwa ia tidak bisa membalas perasaannya. Bagaimanapun, Chen yang memaksa untuk tetap berteman baik dengan Lay. Ia sendiri yang mengatakan bahwa Lay tidak harus menjawab perasaannya.

Tubuh Chen berangsur bangkit. Ia merasakan sedikit perih pada kedua lututnya yang sedari tadi menjadi tumpuan berat tubuhnya. Sembari meringis pelan, ia berjalan mundur. Chen sadar ia butuh berada jauh dari Lay maupun untuk beberapa saat.

.


E.X.O


.

Kesadaran menghampiri Baekhyun. Ia segera tahu bahwa ia baru saja pingsan. Lagi. Betapa ia benci pada pikirannya yang lemah. Dan lebih benci lagi pada hal yang membuatnya lemah bahkan tanpa ia ketahui sekalipun itu hal apa.

Baekhyun bangkit perlahan dari tempat tidur ruang perawatan. Ya, dia sudah tahu ini ruang perawatan karena hanya berjarak beberapa puluh jam lalu, ia juga terbangun persis di tempat yang sama dan dalam keadaan pikiran yang nyaris tersita oleh kekosongan.

Sembari mencabut kasar jarum infus yang tertancap di pergelangan tangan kirinya, Baekhyun menjauh dari tempat tidur, hanya untuk menjangkau kusen jendela dan melihat keluar tanpa yakin harus memperhatikan apa. Kedua bola matanya perlahan bergulir dari gedung tinggi dan terlihat paling megah (ia ingat Luhan berkata bahwa itu gedung utama), lalu pada sebuah taman kecil yang sepertinya sangat jarang menerima kunjungan orang. Sangat disayangkan mengingat tatanan bunga-bunganya yang begitu indah.

'Pasti wangi sekali disana' pikir Baekhyun.

Bola matanya berkelana lagi, kali ini pandangannya tertumbuk pada sosok yang terlihat cukup kecil –karena jarak yang memisahkan kedua gedung– tengah berbaring dan tampak sangat lemah dengan beberapa selang yang menghubungkan tubuhnya dengan alat-alat medis disana. Pemuda itu bergerak pelan dalam tidurnya.

Tidak tahu kenapa, Baekhyun seperti tertarik pada satu objek itu. Matanya kian lama kian terfokus pada pemuda yang sekarang telah tersadar dari tidurnya dan berusaha menggapai gelas yang terletak di samping ranjang. Baekhyun mengernyit saat tangan pemuda itu tidak berhasil menggapai gelas yang akhirnya terjatuh pecah di lantai kamar. Ia jadi tidak bisa membiarkanya begitu saja.

.


E.X.O


.

to be continue...


Note: Halo! setelah sekian lama saya berhasil juga buka ff TT-TT udah lama gak bisa dibuka di hp atau laptop, udah berkali-kali coba gonta-ganti IP tapi masih gak bisa... akkhirnyaaaaaaaaaaaaaaa nemu IP yg bisa buka ffn YAY!

maaf ya buat teman-teman yg udah nunggu lamaaaaaaaaaaaaaaa bgt buat lanjutan ff ini. tapi sebenernya ff ini udah lama di lanjut kok (dipublish di wordpress saya)

masih banyak hal yang belum jelas mengenai isi cerita, tapi saya harap chapter ini udah mewakili jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mengenai EXO itu sebenarnya apa. saya juga berharap selipan romance yang ada di chapter ini bisa menjawab sedikit mengobati rasa penasaran teman-teman tentang pairing dalam cerita, yah walaupun pairing utama masih belum dibocorin hehe sabar ya... pokoknya tetep ikuti ff ini sampai akhir ya... karena tiga chapter ini bisa dibilang masih awal banget dan belum masuk konflik :)

Makasi banyak untuk semua yang udah mau nunggu ff ini! Komentar dan masukan dari teman-teman sangat ditunggu lho ^^

sekali lagi maaf karena udah nunggu lama! *bows*

With love -Ney