Hallo Haloo! :D
...
..
..
BoBoiBoy: Alternate Universe
BoBoiBoy milik Animonsta.
BoBoiBoy: Alternate Universe punyaku.
Drabble: Mengigau
Summary: Pagi yang malas, Boboiboy Bersaudara, sarapan yang lezat... dan Gempa yang mengantuk.
AN: Api dan Air sudah balik ke rumah Tok Aba, jadi mereka gak ada di drabble ini.
Minggu, pagi hari.
"Silahkan makan! Kemarin gak sempat belanja, jadi Cuma bisa bikin ini,"
Taufan menyajikan setumpuk roti panggang yang masih panas di atas meja bersama berbagai macam rasa selai. Kedua kakaknya tidak merespon. Bukannya mereka tidak suka roti panggang, tapi karena mereka sibuk sendiri. Halilintar menggerutu kesal sambil memijat pinggangnya. Sementara Gempa tampak kesulitan mengangkat kepala dan membuka matanya.
"Ayolah Kak Hali, masih marah sama yang tadi? Yang lalu biarlah berlalu, ayo makan," ajak Taufan sambil duduk di kursinya.
"Kalo rasa sakitnya juga udah berlalu, aku gak bakalan begini!" Taufan hampir yakin kakak yang lebih tua 2 darinya itu akan melempar piring padanya. Syukurnya tidak. "Apa kamu harus membangunkanku, di hari minggu begini, dengan cara menindihku?! Kamu bukan anak SD lagi!"
"Ta-Tapi.. kan, aku sudah minta maaf..." Taufan mengeluarkan jurus pamungkasnya, tatapan memelas. Melihat itu, Halilintar hanya memalingkan wajahnya tanpa menjawab apapun dan mulai makan. Oh yeah, gak ada yang bisa mengalahkan tatapan maut Taufan. Kalau saja perutnya lagi gak lapar, mungkin Taufan bakalan joget penuh kemenangan.
DHUK!
Terdengar suara jedukan, membuat Halilintar dan Taufan menoleh pada kakak tertua sekaligus kepala keluarga mereka. Tampaklah Gempa yang, untuk kesekian kalinya, tidak bisa menahan kantuk dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
"Kak Gempa begadang lagi?" tanya Taufan sambil mengolesi rotinya dengan selai cokelat.
"Hmph, tadi malah sudah kusuruh tidur. Tapi dia bilang dia mau nyelesaikan translate-an malam itu juga," jawab Halilintar kasual sambil menggigit roti selai strawberry miliknya.
"Lah, trus Kak Hali biarin aja?" tanya Taufan kali ini dibarengi dengan rasa heran. Biasanya kakaknya itu selalu keras dengan jadwal tidur Gempa.
"Dia bilang dia mau selesaikan kerjaan itu tadi malam supaya bisa nyantai sama kita di Hari Minggu," jawab Halilintar datar sambil menatap kakaknya. "Dasar bodoh,"
"Ah, Kak Gempa sho swiit amat," Taufan tersenyum lebar. "Tapi sayang Kak Gempa jadi gak bisa menikmati roti panggang yang masih panas. Aku akan makan bagian Kak Gempa," Tangan Taufan menggapai roti ke-2nya dan mengolesinya lagi dengan selai.
"... roti..." Tiba-tiba terdengar suara bisikan dan pelan dari Gempa. "panggang... krhh.."
"Dia mengigau... soal makanan?" Bola mata Halilintar membesar.
"Wow, kupikir Cuma aku yang hanya mikirin soal makanan, hehehe," Taufan malah cengengesan.
"Ternyata kamu sadar diri juga ya," sindir Halilintar membuat Taufan sadar dengan kata-katanya sendiri, tapi kemudian pandangannya kembali ke kakak tertuanya. "Pasti Kak Gempa capek banget,"
"Ah, mana ada. Itu karena roti panggang buatanku super enaak. Makanya sampe keciuman sama Kak Gempa walaupun dia masih tidur," Halilintar memutar bola mata lalu mengambil potongan roti panggang lainnya. Sementara Taufan yang mengangkat roti panggang isi selai cokelatnya tinggi-tinggi dengan wajah bangga yang dramatis. "Lihat ini. Roti panggang lezat buatan Chef Taufan, diselimuti mentega yang banyak lalu dipanggang hingga berwarna kecokelatan yang menawan dan garing! Juga pinggiran renyah ketika digigit!"
"Yeah, renyah... karena gosong," cibir Halilintar pedas diantara aktifitas sibuknya: mengunyah makanan yang barusan diejeknya.
"Krrh... Roti gosong..." Gempa mengulang kata-kata Halilintar di dalam tidurnya.
"Huh, tapi dimakan juga. Jujur saja, ini enak kan?" Taufan tersenyum lebar. "Apalagi dengan kelembutan selai—"
"... Acrylamide..."
"Ya! Selai akrimil— Eh, tunggu dulu. Kita gak punya selai rasa akronim..." Pandangan Taufan dan Halilintar kembali lagi kepada kakak mereka yang masih tidur. "Kak Gempa tadi ngomong sesuatu?"
"Acrylamide... adalah bahan untuk membuat material polyacrylamide..." Gempa masih lanjut mengigau.
Halilintar mengangkat bahu. "Biasalah, Kak Gempa kan emang gitu. Ngomong pake bahasa kutu buku," Halilintar tampak tidak tertarik. Kakak tertua mereka memang bisa dikatakan lebih pintar dari kebanyakan orang dalam bidang sains dan matematika... ah, coret itu. Gempa itu jenius. Titik.
"Polyacrylamide... kandungan yang ada di kaporit... lem.. kertas... kosmetik..." Gempa bergeming sedikit, tapi jelas masih tertidur.
Taufan tampak kagum dengan pengetahuan kakak tertuanya yang bisa menyebutkan nama yang njlimet itu saat tidur, sedangkan dia sendiri mungkin tidak bisa menyebutnya ketika bangun. Taufan pun memperhatikan penjelasan Gempa sambil menikmati roti panggangnya. "Trus apa, Kak Gempa?"
"Roti... mengandung acrylamide... gak bahaya..." Seakan menjawab pertanyaan sang adik, Gempa melanjutkan lagi bersama hembusan napasnya.
"Wow, kupikir di dalam roti Cuma ada kelezatan dan remah roti," Taufan tersenyum lebar dan mengambil roti panggang lagi. Halilintar tampak bertopang dagu sambil menikmati potongan roti ketiganya, gak menanggapi komentar konyol Taufan.
"Gosong... acrylamide banyak..."
Taufan dan Halilintar saling bertatapan dengan wajah bingung plus kaget. Kali ini mereka memberikan perhatian penuh pada kata-kata Gempa, sadar sekarang kalimat yang mereka anggap hanya racauan orang setengah tidur ini mengarah pada sesuatu.
"Makin lama dimasak... acrylamide makin banyak dalam roti... bahaya..." lanjut Gempa masih dengan suara pelan diantara napasnya. "... beracun... kanker... pengaruh buruk sama sistem syaraf... mandul..."
Halilintar dan Taufan terdiam.
Menelan ludah, Taufan meletakkan roti panggang yang dipegangnya perlahan dan menjauhkan piring itu darinya dengan wajah eneg. Sementara Halilintar mulai keringat dingin. Dia sudah habis 3 potong... Halilintar menatap sisa roti panggang kecokelatan yang tersisa di atas meja seperti itu adalah bom yang siap meledak, ia mengubah posisinya dengan gugup hingga tanpa sadar ia menjatuhan garpu. Suara dentingannya cukup nyaring hingga membangunkan Gempa dengan sentakan.
"H-Huh?! Oh, aku tertidur lagi..." Gempa memijat batang hidungnya dan mengucek matanya dengan wajah mengantuk. Halilintar dan Taufan hanya terdiam sambil memperhatikan Gempa mengambil sepotong roti panggang di piring, mengolesinya dengan selai kacang dan langsung menggigit hampir setengahnya. "Hmm, ini enak!" Ekspresi Gempa tampak puas ketika gurihnya selai kacang dan renyahnya roti panggang kecokelatan itu menyentuh indra perasanya.
Mengambil potongan roti kedua, Gempa menatap kedua adiknya dengan tampang polos, "Kok pada gak makan? Kakak habisin semuanya nih?"
Hallo Haloo! :D
Seperti yang sudah kubilang, aku nulis menurut mood. Baru baca artikel soal ak- ehem, acyr- ... Pokoknya itu deh. Itu beneran lho, jadi hati-hati ya.
Makasih banyak untuk Famelshuimizu chan, , ShadowBloodHunter, Lomi Ashi-chan, dan (kak) NaYu Namikaze Uzumaki untuk reviewnya! X3 Untuk Jovihd055, Rampaging Snow (2x), suzumiya-chan, lily, nisa, Asha, zara aziza... Masih juga untuk kalian ya! Sayang kalian gak punya akun jadi gak bisa bilang masih lewat PM.. Eniwei, THANKS A LOT! XD
Untuk pertanyaan yang masuk, masih ditampung dulu ya... Masih belum ada waktu untuk bikin wawancara "^-^)a
Akhir kata, jangan lupa review ;)
