Apa kalian tau kalo Boboiboy Bersaudara tinggal terpisah setelah kematian orangtua mereka? Gempa tinggal bersama Tok Aba, Halilintar dan si kembar Api-Air tinggal bersama di rumah Om mereka, dan Taufan tinggal bersama Ochobot dan orangtuanya? Eh? Udah tau? Y-ya udah… *awkward glance*

Ehem, pada intinya, mereka jarang sekali bertemu karena masing-masing tinggal di tempat yang jauh. Namun, ada hari-hari khusus dimana mereka bisa ngumpul bareng. Yaitu pas liburan sekolah atau pas bulan Ramadhan. Mereka semua akan menginap di rumah Tok Aba untuk beberapa hari. Kalo sudah ngumpul, mereka heboh banget! Kerjaannya main bareng melulu. Tapi ada saatnya mereka membantu Tok Aba di kedai cokelat. Dan ini satu cerita tentang itu…

Tapi sebelumnya, disclaimer doeloe bokk!


BoBoiBoy: Alternate Universe

BoBoiBoy milik Animonsta.
BoBoiBoy: Alternate Universe punyaku.

Drabble: Errand

Summary: Api dan Air disuruh beli sesuatu oleh Tok Aba.

Note: Umur mereka waktu itu... Gempa (16), Halilintar (14), Taufan (9), Api &Air (6)


Hari Minggu adalah hari libur (you don't say…) namun juga sekaligus hari paling sibuk bagi Tok Aba. Banyak keluarga yang ingin menikmati akhir pecan di taman berkunjung ke kedainya. Ia sangat sibuk hingga Gempa lebih memilih untuk membantunya disbanding bermain bersama adik-adiknya di salah satu hari langka mereka bisa berkumpul.

"Tidak apa Tok Aba. Tok Aba kan gak mungkin menjaga kedai sendirian di Hari Minggu, terlalu banyak pelanggan." Ucap sang cucu tertua dengan penuh pengertian. Tok Aba bangga sekali padanya.

Dan jika Gempa pergi, adik-adiknya tentu saja akan mengikuti. Yah, kecuali Halilintar. Butuh bujukan dan beberapa tatapan memelas dari adiknya untuk membuat si bocah ogah-ogahan ikut. Dan akhirnya, kedai jadi ramai… dalam arti lain.

"Special Hot Chocolate! Biar Taufan yang bikin!"

"Tunggu dul—" Terlambat. Taufan menyambar cangkir dari tangan Gempa.

"Hei, biarkan Kak Gempa saja yang melakukan!" ucap Halilintar marah. Tapi ketika Taufan memutuskan untuk melakukan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia dan Gempa hanya bisa mengawasi Taufan. Dan itu berarti setengah meter dari Taufan.

Tok Aba geleng-geleng kepala. Ketika hanya dengan dirinya dan Gempa saja sudah sesak, sekarang malah ada Taufan, Halilintar dan…

"Api bawa cokelat~!" Api membawa kaleng berisi bubuk cokelat dengan riang.

"Ini cream. Air yang bawa." Air berkata dengan polos dengan senyum kecil dan kaleng whipe-cream di tangannya.

"Kerja bagus anak-anak! Nah, tambahkan air panas… Ouch!"

"Taufan!" Gempa dan Halilintar berteriak bersama-sama (Halilintar lebih terdengar marah), dan bergerak bersamaan juga.

BRUKK! BUGH! BRAKK! PRANGG!

Tiba-tiba mereka semua rata dengan lantai. Dan Tok Aba sudah gak tahan lagi.

"Gempa, di counter sama Atok. Halilintar, Taufan, Api dan Air mengambil dan memberikan pesanan." Ucap Tok Aba dengan tegas, dan tidak ada seorang pun yang protes.

TIME SKIP

Jam 4 sore. Kesibukan berada dipuncaknya. Gempa kalang-kabut menyiapkan pesanan. Halilintar dan Taufan bolak-balik dari counter ke meja pembeli. Api dan Air juga membantu, tapi hanya membawa masing-masing satu gelas. Semuanya akan berjalan lancar (dan melelahkan), jika saja tiba-tiba mereka kehabisan sedotan.

"Kita kehabisan sedotan, Tok." Lapor Gempa.

"Loh, itu kan masih ada." Taufan menunjuk sisa sedotan di counter.

"Gak akan cukup untuk pesanan selanjutnya." jawab Gempa

"Ya udah, gak usah dikasih sedotan. Beres kan." Ucap Halilintar mengangkat bahu.

"Ya gak mungkinlah." balas Gempa datar.

"Api! Air!" panggil Tok Aba tanpa pikir panjang. "Tolong belikan sedotan di toko plastik di depan jalan sana?"

"Boleh?" ucap Air dan Api bersamaan dengan semangat.

Tok Aba menimang-nimang keputusannya. Gempa harus membantunya menyiapkan pesanan, Halilintar dan Taufan cukup cekatan dalam mengambil dan mengantar pesanan, sedangkan Api dan Air… si kakak tidak fokus dan si adik hampir menyisip semua pesanan.

"Iya. Dekat saja dari sini kok. Keluar dari jalan ini lalu…" Tok Aba menjelaskan dengan rinci, si kembar memperhatikan dengan seksama dan senyum lebar, sementara kakak-kakak mereka memicingkan mata. "Sudah paham?"

"Paham!"

"Oke. Hati-hati ya."

"Oke!"

-SKIP TIME-

"Pak Cik, Pak Cik!" panggil Api dengan riang.

"Iya? Ada apa?"

"Kami disuruh beli sedotan." Air dengan senyum polos menjelaskan.

"Wah, pintar sekali. Kalian masih kecil tapi bisa belanja sendirian."

"Tidak jauh kok! Tuh di sana." Air menunjuk Kedai Tok Aba yang hanya 30 meter jauhnya.

"Dan kami gak sendirian!" ucap Api berapi-api (pun intended). "Kami bareng kakak-kakak kami!"

Pak Cik akhirnya menyadari ada 3 sosok yang mengintip dari tiang listrik, pot bunga dan dinding bangunan, memperhatikannya dengan tatapan tajam.

Sementara itu, Tok Aba menyesal mengirim Api dan Air untuk belanja. Sekarang dia harus melayani pembeli sendirian…


Mueheheh! Pendek ya? Kumato baru bangkit dari kubur (#eh) makanya tulisannya amburadul. Ini cuma pemanasan kok!

Interview akan segera di mulai kembali. Stay tuned... *fade away*

.

.

.

.

.

.

.

*balik lagi* Oea, RnR nee? X3 Tuh, tuh! Kotaknya ada di situ!