DIAMOND CANDY
( S030714 | 0932 )
Kim Jongin
Do Kyungsoo
( Yaoi Romance-Fluff )
By. DeNok/Lien
.
.
.
.
.
Sudah lewat sepekan, ia tidak pernah lagi melihat senyum bergaris hati milik laki-laki manis yang selalu menggetarkan hatinya, tidak semudah yang ia pikirkan untuk bisa melupakannya, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Jongin pun merasa kehilangan kepercayaan dirinya sebab hal itu.
Untuk mengalihkan perhatiannya, Jongin bahkan memenuhi permintaan Baekhyun untuk bertemu dengan seseorang yang ia katakan jauh lebih baik dari Kyungsoo, namun tidak, tidak ada satupun yang lebih baik dari Kyungsoo—dia tidak mempunyai garis hati dibibirnya, pipinya juga tidak merona merah, tidak mempunyai mata bulat yang menakjubkan dalam setiap ekspresi, tidak memiliki suara merdu, tidak suka melihat langit, dan dia pun tidak bisa memasak—setelah menyadari hal itu, kenyataannya ia hanya menginginkan Kyungsoo.
Memahami apa itu sakit.
.
.
.
.
.
"Ada apa dengannya?" Sehun bergumam, bertanya-bertanya saat melihat sahabatnya menari tanpa henti selama dua jam lebih.
"Masih berusaha melupakan seseorang, kupikir." Panda Cina yang duduk disamping Sehun menjawab.
"Kyungsoo?" Sehun tak percaya menoleh pada Tao—sahabat yang mereka sebut panda Cina. "Sudah lima bulan berlalu. Bukankah dia berkencan dengan salah satu teman Baekhyun?"
"Seperti itu akan berhasil saja. Kau juga tahu bagaimana Jongin jika sudah menyukai seseorang." Si panda Cina mengambil botol air ditangan Sehun dan meminumnya.
Jongin berhenti menari, tubuhnya jatuh bersimpuh dilantai. Nafasnya memburu, keringat membasahi tubuhnya yang berbalut kaos sleeveless putih, jantungnya berdetak kencang akibat tubuh yang dipaksakan bergerak ditengah rasa lelah.
Ia berdiri setelah merasa penatnya menghilang namun dengan gontai ia mengambil tasnya diatas kursi, ia hanya mengangkat tangan pada sahabat-sahabatnya tanpa menoleh dan mengatakan apapun saat keluar kelas.
Sudah sejak beberapa bulan lalu Jongin tidak pernah lagi menggunakan bus umum saat ke sekolah, ia membawa mobilnya keluar dari gerbang. Dengan semua kelelahan yang ia rasakan, ia ingin segera cepat tiba dirumah, menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menenggelamkan kepalanya yang terasa nyeri dibawa bantal. Saat ia hendak menambahkan kecepatan ketika berada diluar sekolah, ia menyadari beberapa—tidak, lebih tepatnya tiga orang yang ia kenal sedang berdiri diluar gerbang sekolahnya.
Jongin menghentikan mobilnya dan melihat melalui kaca spion mobilnya. Ia hampir tak percaya ketika satu dari tiga orang itu adalah seseorang yang amat ia rindukan. Dengan ragu ia keluar dari mobil dan mendekati ketiga orang itu.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Jongin menegur ketiganya.
Mereka menoleh kebelakang dengan terkejut. Baekhyun memegangi dadanya sembari bersandar pada Chanyeol. Jongin menatap laki-laki kecil yang kini membulatkan mata melihat dirinya—Sudah lima bulan, Jongin merindukannya.
"Aku tidak membawanya kesini." Baekhyun menunjuk Kyungsoo seakan Jongin akan marah jika melihat seseorang yang bersamanya. "Aku datang karena bibi memintaku untuk memastikan keadaanmu, bibi khawatir karena kau memaksa ke sekolah saat sedang sakit. Kami benar-benar baru bertemu disini." Baekhyun menunjuk dirinya dan Kyungsoo.
Selama mendengarkan cerita Baekhyun, Jongin masih memaku tatapannya pada Kyungsoo. Hatinya merasakan kedamaian menatap tatapan sendu mata jernih Kyungsoo, tampak kekhawatiran, kebingungan, dan...apakah itu tatapan penyesalan? Entah, Jongin tak bisa mengartikan dengan tepat arti tatapan Kyungsoo.
Baekhyun berdeham menyela. "Karena kau terlihat baik-baik saja, aku pergi sekarang." Baekhyun menyadari Jongin tidak terlihat baik dengan wajahnya yang pucat, namun Ia berdalih untuk keluar dari situasi canggung diantara Kyungsoo dan Jongin.
"Tapi Jongin, aku ingin kau mendengar apa yang ingin dikatakan Kyungsoo." Baekhyun mendorong Kyungsoo lebih mendekat kehadapan Jongin, mengabaikan Kyungsoo yang terkejut.
Tak ada yang bersuara, dan Baekhyun merasa semakin canggung karena suasana semakin kaku. Ia merasa bingung melihat Jongin dan Kyungsoo yang hanya saling menatap.
"Kyungsoo, kenapa tidak bicara?" Baekhyun berbisik pada Kyungsoo.
Chanyeol berdeham dan menarik lengan Baekhyun. "Baek, kita tidak bermaksud untuk mendengarkan bukan?"
Mulut Baekhyun membulat lebar dan mengangguk mengerti. "Kami pergi." Baekhyun menepuk punggung Jongin dan Kyungsoo bersamaan.
Keduanya masih terpaku dengan tatapan dalam bahkan setelah suara motor besar Chanyeol menghilang dikejauhan, mencoba membaca arti tatapan satu sama lain. Jongin yang memecah pertama kali, ia menarik tangan Kyungsoo, membimbingnya memasuki mobil setelah membukakan pintu dan menutupnya kembali sebelum ia menyusul masuk kedalam mobil. Jongin menghentikan laju mobilnya disekitar taman dekat sekolahnya, mereka butuh tempat untuk berbicara karena ia tahu Kyungsoo ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Kau tidak pernah datang lagi." Kyungsoo membuka suara, ia tertunduk sembari memainkan jari-jarinya, kebiasaan ketika ia gugup.
"Melihat tingkah Baekhyun sesaat tadi, kupikir kalian sudah membahas ini sebelum—"
"Aku berpisah dengannya." Kyungsoo memotong, menatap Jongin dengan meyakinkan.
"Kyungsoo.."
"Dengarkan aku." Kyungsoo memohon.
Jongin menuruti permintaan Kyungsoo, ia diam dan menunggu apa yang ingin dikatakan Kyungsoo.
Lama Kyungsoo menatap Jongin, ia pun terlihat gugup dan gelisah. "Aku merasa bingung pada awalnya, aku tidak yakin dengan hubungan kita akan berjalan baik. Aku takut apa yang aku rasakan padamu hanya pelarian dari perpisahanku dengan kekasihku, dan aku merasa..." Kyungsoo menunduk dalam. "Aku merasa aku tidak sepertimu atau seperti Baekhyun dan Chanyeol, sehingga saat dia mengatakan ingin kembali, aku menyetujuinya."
Terlihat kerutan dikening Jongin. "Intinya adalah kau kembali bersamanya lalu kau memutuskannya dan kau datang padaku? Kyungsoo, ini tidak sesederhana berpindah tempat." Jongin menyentuh pundak Kyungsoo dengan lembut. "Kau masih bingung karena kehadiranku, tapi aku tahu kau masih—"
"Bodoh!"
Jonging terkejut saat Kyungsoo menyela sembari memukul dadanya. Ia bingung karena ia meyakini kesimpulan yang ia tarik dari apa yang diutarakan Kyungsoo.
"Bodoh, bodoh!." Kyungsoo memukul dada Jongin berulang kali, namun Jongin terdiam menatapnya.
"Kami berpisah karena dia menyadari aku tidak sama lagi. Sekarang aku seperti dirimu, seperti Baekhyun, seperti Chanyeol. Aku merasakan apa yang kau rasakan. Aku bahagia melihatmu datang ke kelasku. Jantungku berdetak kencang saat kau duduk disampingku didalam bus. Tapi aku tidak pernah memahami perasaanku." Kyungsoo tertunduk diam, kepalan kedua tangannya tertahan didada Jongin.
Jantung Jongin berpacu mendengar pengakuan Kyungsoo. Ia memang menyadari sikap gugup Kyungsoo disekitar dirinya, sering kali salah tingkah dan pipinya memerah ketika Jongin menggodanya, namun ia tidak pernah berpikir apa yang dirasakan Kyungsoo sudah sejauh itu. Jongin menunduk menatap Kyungsoo dihadapannya.
"Saat kupikir hal yang benar adalah bersama kembali dengan dia, kau menghilang, dan saat itu aku merasa kehilangan sebagian dari diriku. Aku selalu menunggumu datang, menjemputku kekelas dan mengantarku pulang, tapi kau tidak pernah datang lagi." Kyungsoo semakin menunduk menyembunyikan bening air mata yang hendak jatuh.
"Lalu aku bertemu Baekhyun beberapa hari yang lalu, saat aku datang kemari untuk menemuimu. Dia menceritakan semuanya, dan setelah mengetahui alasan kau tidak pernah datang, aku takut untuk bertemu denganmu. Tetapi Baekhyun terus menemuiku dan meyakinkanku bahwa kau akan mendengarkan penjelasanku, sehingga aku berani datang hari ini." Kyungsoo terisak samar, ia menghapus air mata yang mengalir dipipinya.
"Kyungsoo, kau menangis?" Jongin terkejut, dengan khawatir ia mendekat dan membelai rambut Kyungsoo saat ia menyadari punggung Kyungsoo ia khawatir menyadari Kyungsoo meneteskan air mata karenanya "Kyungsoo, dengar—"
"Maafkan aku Jongin, sudah memberimu sebuah harapan dan menghempaskannya begitu saja. Maafkan aku sudah menyakitimu, maafkan aku tidak bisa memberitahu perasaanku lebih awal. Tapi aku ingin kau tahu, aku membutuhkanmu, aku tidak terbiasa tanpamu, aku tidak bisa kehilanganmu." Kyungsoo mengungkapkan perasaannya dengan tangan semakin terkepal di dada Jongin.
Jongin menenangkan Kyungsoo yang semakin terisak, meskipun ia bahagia tetapi ia merasakan sakit melihat Kyungsoo menangis, sehingga ia hanya terdiam dan menarik Kyungsoo ke dalam dekapannya. Jongin bisa merasakan tubuh Kyungsoo yang bergetar dalam tangis, merasakan tangan Kyungsoo memeluk erat tubuhnya sembari menggumamkan kata maaf.
Setelah cukup lama merasakan kegersangan yang menyiksa, kini Jongin merasakan seperti apa rasanya telaga ditengah padang pasir. Menemukan Kyungsoo dalam pelukannya adalah mimpi yang selama ini ia inginkan menjadi nyata.
.
.
.
Mereka saling menatap dalam sendu penuh kasih sayang. Jongin membelai pipi Kyungsoo yang saat ini berada dipangkuannya. Merasakan kebahagiaan yang akhirnya mengakhiri perjalanan awal mereka.
"Sekali kau membuka mulut, kau berbicara banyak dan semua menjadi terlihat jelas. Seakan kau memperlihatkan seluruh sisi dari sifatmu." Jongin berkata, jari-jarinya memainkan telinga Kyungsoo.
"Apa itu hal buruk?" Disisi lain kedua tangan Kyungsoo membelai tengkuk Jongin. Alisnya terangkat ingin tahu.
"Hal buruk karena kau memukulku saat aku sedang sakit." Jongin tersenyum menggoda Kyungsoo.
Namun mata Kyungsoo melotot, dengan kebingungan ia melepaskan rangkulannya di leher Jongin dan mengangkat pantatnya dari pangkuan Jongin, namun gerakannya tertahan karena Jongin memegang erat pinggang Kyungsoo.
"Kau mau kemana?" Jongin pun tampak bingung.
"Kau sedang sakit. Lepaskan aku, Jongin." Kyungsoo berusaha melepas tangan Jongin dengan pikiran bahwa ia akan menyakiti Jongin jika terus berada di pangkuannya.
Jongin terkekeh, ia tetap menahan Kyungsoo di pangkuannya. "Tidak apa-apa sayang, aku sakit karena kau dan aku sudah sembuh karena kau."
Kyungsoo terdiam menatap Jongin, pipinya merona mendengar panggilan sayang yang diucapkan Jongin padanya. Namun ia menepis perasaan malu yang ia rasakan, Kyungsoo menyentuh kening Jongin dan merasakan suhu tubuhnya, tidak panas dan wajahnya pun juga tidak lagi pucat, setelahnya terlihat jelas kelegaan pada wajah Kyungsoo.
"Kau sangat cantik saat pipimu merona." Jongin membelai pipi Kyungsoo yang masih memerah, ia selalu mengagumi wajah Kyungsoo yang mudah merona dan itu tanpak indah baginya.
"Dasar pembual." Kyungsoo menyentil pelan kening Jongin. "Sebaiknya kau antarkan aku pulang, sudah hampir malam."
"Baiklah..." Jongin tertawa sembari melepaskan pelukannya di pinggang Kyungsoo saat ia turun dari pangkuannya.
.
.
.
Waktu berjalan begitu cepat saat ia bersama dengan Kyungsoo, rasanya enggan melepaskan genggaman tangannya ketika Kyungsoo mengatakan harus pergi. Jongin melihatnya berjalan kearah pagar rumah dengan langkah lambat, sesekali Kyungsoo menoleh dan Jongin akan melambaikan tangan padanya. Namun Jongin bertanya-tanya saat melihat Kyungsoo berhenti di depan pintu pagar, dia mengeluarkan sesuatu dari tas ransel kemudian kembali berlari mendekat ke arahnya.
"Ada yang tertinggal?" Alis Jongin terangkat bertanya-tanya.
Ia tidak mendapat jawaban, tangannya ditarik oleh Kyungsoo dan ia merasakan sesuatu di telapak tangannya.
"Aku menyerahkan hatiku padamu." Ucap Kyungsoo setelah melepaskan tangan Jongin, kemudian ia kembali berjalan kearah rumahnya.
Jongin terkekeh pelan mendapati permen berbungkus bening di telapak tangannya, ia bisa melihat permen berbentuk hati di dalam bungkus itu. Ada kalanya sifat Kyungsoo seperti anak kecil, Jongin melihat semua itu hari ini, dan itu menarik, baginya Kyungsoo benar-benar menarik dalam segala hal.
Ia membuka bungkus itu dan memakan permen berbentuk hati di dalamnya sembari melangkah cepat mengejar Kyungsoo yang hendak membuka pagar rumah. Ia menahannya, menarik tangan Kyungsoo dan mengunci tubuh kecil itu dalam dekapannya, satu detik kemudian Jongin menahan tengkuk Kyungsoo dan menempelkan bibirnya dengan bibir Kyungsoo. Ia melumat bibir Kyungsoo dengan gerakan pelan, menarik bibir bawahnya dan menjilatnya selembut mungkin sebelum menghisapnya keras. Saat bibir Kyungsoo terbuka, lidah Jongin mendorong permen di dalam mulutnya hingga masuk kedalam mulut Kyungsoo, saat permen itu berpindah tempat Jongin mencium bibir Kyungsoo perlahan. Dan sebelum ia melepaskan ciumannya, Jongin mendaratkan satu ciuman di bibir Kyungsoo yang membengkak merah.
Jongin tertawa melihat mata Kyungsoo melotot lebar tanpa mengerjap sekalipun, tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnnya dan nafasnya tertahan, ia membeku seolah jiwanya telah terpisah dari raganya. Atas reaksi yang ditunjukkan Kyungsoo, Jongin menyimpulkan ini adalah ciuman pertama Kyungsoo selain dengan perempuan. Ia menggodanya dengan mendaratkan ciuman sekali lagi di bibir Kyungsoo dengan cepat, Jongin menatap Kyungsoo mengerjapkan matanya namun tubuhnya masih membeku, ia menciumnya sekali lagi dan sekali lagi hingga ia merasakan sebuah pukulan keras di dadanya. Jongin tergelak melihat Kyungsoo kini seakan kembali dari kematian dan disadarkan pada dunia nyata. Kyungsoo mengerjapkan matanya dengan cepat disamping pipinya terlihat merah padam.
"Apa rasanya berbeda dibandingkan dengan saat dicium seorang gadis?" Jongin membungkuk menyamakan tingginya dengan Kyungsoo, memandang kekasih kecilnya dengan menggoda.
Jongin dengan sigap menangkap tangan Kyungsoo saat dia hendak memukul dadanya kembali, ia bisa merasakan bahwa Kyungsoo belum terbiasa dengan kontak fisik diantara mereka. Kini Kyungsoo memalingkan wajahnya dan menghindari tatapan Jongin, rasa malu dan kegugupan tampak terlihat jelas.
Jongin terkekeh dan menarik dagu Kyungsoo agar dia menatapnya. "Mata seindah berlian yang sudah mengambil hatiku, jangan terkejut jika aku bergerak lebih cepat."
Mata Kyungsoo tiba-tiba membulat terkejut. "Kau mengembalikan hatiku!" Kyungsoo menyentak tidak suka saat menyadari permen di dalam mulutnya.
Jongin tertawa terbahak. Satu lagi yang ia temukan, Kyungsoo berubah menjadi anak polos ketika sedang gugup. Ia menahan tawanya setelah melihat Kyungsoo menatap tajam ke arahnya, Jongin berdeham pelan lalu memegangi kedua pundak Kyungsoo dan menatap matanya penuh kasih.
"Aku bukan mengembalikan hatimu, tapi aku juga memberikan hatiku. Dan aku akan memberikan hatiku setiap hari dengan cara-cara yang tidak akan pernah kau duga." Jongin mengerling menggoda—sepertinya kebiasaan Baekhyun telah menular padanya.
Alis Kyungsoo bertaut dengan tatapan mata tajam, yang ia sadari Jongin sudah berkali-kali membuatnya malu hingga pipinya kini kembali bersemu seindah mawar merah. Ia harus menghentikan Jongin sebelum dia mempermainkan kelemahannya. "Sudah cukup menggodaku!"
Kali ini Jongin sedikit meringis merasakan sakit ketika Kyungsoo memukul dadanya cukup keras sebelum dia pergi dengan langkah cepat, namun detik kemudian ia terkekeh telah menemukan banyak hal dalam diri Kyungsoo yang membuatnya selalu tertawa. Ia melambaikan tangannya meski Kyungsoo tidak menoleh.
"Sayang, aku akan menjemputmu besok!" Teriaknya pada Kyungsoo.
Menggoda Kyungsoo sepertinya menjadi hobi baru bagi Jongin.
Jongin akan menjemput Kyungsoo, besok, setiap hari, selamanya.
.
.
.
END
.
( E111114 | 0400 )
.
.
Saya tidak pernah membuat FF Kaisoo yang diceritakan dari sudut pandang Jongin dan ini pertama kali saya membuatnya, biasanya saya selalu menceritakan sebuah cerita diambil dari sisi sudut pandang kehidupan Kyungsoo. Tapi karena saya penasaran apa saya bisa keluar dari kebiasaan saya, saya membuat FF ini, yang nyatanya membuat perasaan saya sendiri canggung TT
Dan untuk, satu-satunya orang yang pernah meminta FF padaku sebagai hadiah ulang tahun, ku tepati janjiku...and Happy birthday~!#tiuptrompet
Untuk Sexy Rose, terimakasih sudah memperkenalkan aku sama John legend, XD
Jika ada unek-unek, Kritik dan saran, monggo-silahkan utarakan :3. Tapi saya harap semua yang membaca bisa enjoy, ;)
Thank you guys~
Good bye~^^
DeNok/Lien.
