Hallo Haloo! :D

First things first, thank you soooo muuucchhh bagi yang udah review! Rampaging Snow, Willy0610, blackcorrals, alyagupitanurmalitasari, FireBluePhoenix, coklatkeju, Dhiaz Rusyda N, (kak) NaYu Namikaze Uzumaki, Horan Cyclone, Annisa Arliyani Wijayanti, , dan IntonPutri Ice Diamond Tanpa kalian, mungkin aku gak bakalan nemuin kesadaran untuk nerusin fic ini =w=)/ I'm sorry I haven't reply to your wonderful reviews T-T)

Inshi: *tiba-tiba muncul* Hei, coba ada yaoi juga disini, mungkin review bakalan tambah banyak! '~')/

Raizu: *tiba-tiba nongol juga* Gak usah ngurusin fic orang, urus fic-mu sendiri! "=_=)

Woe! Kok kalian datang-datang malah ngerusuh disini sih? Dan Raizu, fic-mu sendiri masih macet kan?

Raizu: …

Inshi: Anyway, Hi There Folks! Kalo kalian gak kenal kami, liat aja di profile. Oea, baca juga fic buatanku 'Deep Inside', pairingnya BBBxF tuh! :D

Raizu: … Kalau kalian suka horror dan mystery, kunjungin 'Ghost Panic'

Seriously, kalian datang Cuma untuk promosi? =_=)

Inshi: Iya :D

Raizu: Enggak juga. Nih ada telepon. *nyerahin HP*

Dari siapa? O.o)

Raizu: D_E_A_D_L_I_N_E

uGYAAAA! *kabur*

Raizu: Hei! Jangan kabur dari kenyataan! *kejar*

Inshi: Kayaknya mereka akan sibuk. Silahkan nikmati drabble… *mikir* Kayaknya ini bukan drabble deh… "^.^)a Anyway, Enjoy.


..

..

Boboiboy: Alternate Universe

Boboiboy © Animonsta
Boboiboy: Alternate Universe punya ICantFindAnotherName

Drabble: One Peaceful Sunday Morning in Boboiboy Brother's Resident

Summary: Pagi yang malas, Boboiboy Bersaudara, sarapan yang penuh tanda tanya dan Gempa yang mengantuk. Halilintar merasakan De Javu yang luar biasa.

Chapter ini ditulis sama kami bertiga! :) Bagian pertama ditulis sama Inshi, kedua sama Raizu dan yang terakhir oleh Kumato! ^o^)/ Coklatkeju, semoga chapter ini bisa menjawab pertanyaanmu :)

Raizu: KUMATOOO!

*ngacir*

..

..


KRIIIINNGGG KRIIIINNNGGG!

Taufan membuka matanya perlahan ketika mendengar suara alarm terlaknat yang mengganggu mimpi indahnya. Seingatnya tadi malam dia sudah mematikan jem wekernya dalam misi untuk tidur sampai siang di hari Minggu ini. Tapi kok masih bunyi juga? Dengan mata setengah terbuka, ia melirik jam wekernya yang menunjukkan pukul 07.30 pagi dan jelas tidak mengeluarkan bunyi bising itu. Artinya...

KRIIIINNGGG KRIIIINNNG—BRAKK!

Taufan mengenali suara itu. Pasti kakaknya, Halilintar, lagi-lagi membanting jam weker tidak berdosa ke lantai. Taufan berpikir ingin tidur kembali, tapi tidak bisa. Tidak seperti kelihatannya, sebenarnya Taufan light sleeper. Kalo sudah terbangun gak bisa tidur lagi. Jadi remaja kelas 2 SMP itu bangkit dari tempat tidurnya dengan niatan untuk membuatkan sarapan untuk kakak-kakaknya.

Saat lewat di depan kamar Halilintar, Taufan berhenti. Ia masih bisa mendengar kakaknya itu masih tidur dengan nyamannya meski dengan jam weker yang nyaringnya hampir setara dengan toa masjid. Bukannya gak adil kalo dia saja yang harus bangun pagi? Taufan pun menyeringai dan masuk ke dalam kamar Halilintar. Tampaklah kamar yang tidak rapi ala para cowok dan jam weker yang berserakan di lantai. Tapi mata Taufan langsung terkunci dengan sosok Halilintar yang tidur telungkup di atas ranjang dan berpikir sejenak.

Membangunkan dengan sembrono bisa berakibat fatal jika dengan kakak yang satu ini. Berbeda dengan Taufan, Halilintar itu heavy sleeper. Dibuktikan dengan kekebalan pada suara bising jam weker (yang padahal bisa membangun seisi rumah) dan gerakan setengah tidur yang liar. Kalau salah langkah, bisa-bisa Taufan kena bogem mentah nyasar.

Jadi, Taufan pun menciptakan teknik paling jitu dan ampuh yang dijamin bisa membangunkan kakaknya tanpa membahayakan dirinya. "Kak Hali... BANGUN!" Taufan menyeru sebelum dia melompat ke atas tubuh kakaknya dan memberinya sapaan pagi paling hangat... dan berat.

"Buhukk— What the…?! TAUFAAAANNN!"

Taufan pun segera kabur sebelum kakaknya yang pemarah itu menghajarnya.

..

Setelah menjitak kepala Taufan, Halilintar membiarkan adik yang lebih muda 2 tahun darinya itu ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sejak kecil… Eh mungkin lebih tepat sejak Halilintar jadi punya kebiasaan memukul orang yang membangunkannya, Taufan sering memberinya kejutan pagi seperti tadi. Kalau dia masih kecil seperti Api dan Air mungkin tidak apa-apa, tapi Taufan udah SMP! Halilintar pun keluar kamar dengan mood yang sangat buruk dan pinggang yang sakit.

Langkahnya terhenti di depan kamar kakaknya, Gempa. Pemuda 16 tahun itu menatap pintu kamar kakaknya sebentar, ragu untuk mengusik tidur kakaknya yang lebih tua 3 tahun darinya itu. Gempa bilang kemarin dia mendadak mendapatkan pekerjaan menerjemahkan dokumen sebuah perusahaan. Mengenal Gempa, dia pasti begadang mengerjakannya, padahal sehari sebelumnya dia juga begadang. Gempa pasti capek, jadi Halilintar harus membiarkannya istirahat. Dengan itu, Halilintar pun beranjak dari pintu kamar kakaknya.

Taptaptaptaptap….

Langkah Halilintar terhenti, dan ia berbalik arah. Tampaknya Halilintar harus membuatnya istirahat. Dengan itu, Halilintar memutar ganggang pintu kamar Gempa.

Mungkin semua orang berpikir Gempa adalah tipe orang yang menyukai kebersihan dan kamarnya adalah tempat paling rapi di dalam rumah. Ternyata tidak; tidak ketika sang kakak sedang dalam mode kerja dan deadline tepat di depan mata. Kamarnya akan dipenuhi oleh kertas-kertas dan berbagai buku referensi, bungkus permen rasa karamel dan mint berserakan di sekitarnya jika tempat sampah di sudut ruangan sudah penuh, dan berbagai macam kabel yang tersambung dengan laptop dan PC-nya tampak kusut di dekat meja kerjanya. Satu-satunya tempat yang rapi adalah tempat tidurnya, karena sang pemilik lebih sering tertidur di meja kerjanya. Daaannn, seperti itulah situasi di kamar Gempa sekarang. Oh, dan jangan lupakan juga suara ketikan keyboard sebagai music latarnya.

Gempa sendiri? Dia sedang duduk di meja kerjanya, fokus mengetikkan kata demi kata dengan cepat tanpa terganggu akan kehadiran Halilintar. Atau mungkin sebenarnya dia hanya tidak sadar dengan kehadiran Halilintar.

Halilintar mengerutkan dahinya. Dia tidak suka melihat Gempa seperti ini. Memang kakaknya melakukan semua ini demi dirinya dan Taufan, tapi kerja semalaman tanpa tidur hingga hampir dua hari? Halilintar bertanya-tanya kapan tubuh Gempa akhirnya menyerah. Tapi Halilintar tidak mau menunggu itu terjadi. Ini semua harus berakhir. Sekarang.

"Kak Gempa."

Gempa masih mengetik dan pandangannya tidak lepas dari layar monitor meski sesekali melihat buku referensi dan kamus. "… Hm." Hanya itu balasan Gempa. Pendek, dan jelas menyulut kemarahan Halilintar.

"Kak Gempa." Namun Halilintar mencoba menahan kemarahannya, membuat suaranya terdengar tertahan dan memaksa. Gempa akhirnya berhenti mengetik dan mengangkat kepalanya sebelum menoleh kepada Halilintar.

"Halilintar?" Gempa benar-benar baru menyadari kehadiran Halilintar. "Kenapa kamu masih bangun malam-malam begini?" Gempa memberinya tatapan khawatir dan nadanya cemas.

Halilintar membalas dengan tatapan marah. "Seriously?! Malam?! Ini sudah pagi tau!" Halilintar gak habis pikir. Sudah segiat itu kah kakaknya dalam bekerja sampai gak sadar waktu? Gempa memang sangat hebat dan tekun dalam mengurus kebutuhan mereka, tapi gak pernah becus mengurus kebutuhan sendiri.

"Oh, sudah pagi ya? Gak terasa ya, haha…" Gempa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa garing.

"Kalau sudah tau pagi, istirahat sana." Ucap Halilintar datar.

"Y-yah, kerjaan kakak tinggal sedikit lagi. Setelah selesai, kakak akan istirahat—"

"Gak ada nanti-nanti. Berhenti kerja. Istirahat. Tidur." Potong Halilintar dingin. " ."

Nada bicara Halilintar terdengar final dan tidak meninggalkan ruang debat sedikit pun. Halilintar mencoba mengontrol emosinya yang siap meledak karena rasa jengkel dengan sikap kakaknya yang terlalu memaksakan diri. Dia berharap Gempa langsung mengerti dan menurut padanya.

"Tidak bisa. Kakak akan istirahat nanti. Lagipula kakak tadi sempat tidur." Balas Gempa tidak mau mengalah. Tentu saja. Halilintar lupa Gempa itu sangat keras kepala apalagi jika menyangkut masalah pekerjaan. Kalau tidak, untuk apa hampir setiap hari Halilintar memaksanya untuk istirahat?

"Tch! Kenapa sih Kak Gempa gak mau ngerti?! Kak Gempa pikir kakak melakukan ini demi kami?!" bentak Halilintar kesal. Hampir saja dia mendorong Gempa akibat emosinya yang terlalu berlebihan. Untungnya saja tidak. "Kak Gempa pikir Kak Gempa kakak yang baik? Huh, gak. Kak Gempa sama sekali bukan kakak yang baik!"

Raut wajah Gempa berubah pucat seketika. Gempa shock. Dan Halilintar tau itu, tapi dia tidak peduli. Halilintar sadar kalimatnya sangat kasar, tapi kakaknya harus tau. Tanpa mengatakan apapun lagi, Halilintar berbalik dan meninggalkan Gempa yang terdiam. Namun sebelum benar-benar meninggalkan Gempa, Halilintar berhenti dan berbalik.

"… Soalnya, kakak yang baik gak akan bikin adik-adiknya khawatir." Dengan itu, Halilintar keluar kamar. Tak jauh dari kamar Gempa, dia bertemu Taufan yang senyum-senyum. "Apa?"

"Gak apa." Taufan masih tersenyum lebar. "Sarapan sudah siap. Taufan panggil Kak Gempa dulu."

"Hm." Halilintar Cuma angkat bahu. "Aku mau cuci muka dulu."

Dan ketika Halilintar kembali, dia merasa lega karena kakaknya duduk di meja makan bersama mereka. Gempa tampak setengah mengantuk (ekspresi yang entah bagaimana dia bisa sembunyikan ketika kerja) dengan kepala yang hampir jatuh ke meja makan. Yah, paling tidak itu tandanya Gempa akan benar-benar istirahat sehabis ini. Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama, karena mata Halilintar tertuju pada setumpuk roti panggang di atas meja.

..

"Itu… roti?" Pertanyaan bodoh, Halilintar tau, tapi sanking takjubnya pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Halilintar.

"Yep. Dikasih Ying kemarin." Jawab Taufan enteng sambil menyusun toples selai di atas meja.

DUKK!

"kkrrhh..." Gempa ketiduran di atas meja, lagi.

Hari minggu yang cerah, pinggang yang sakit, roti panggang dan Gempa yang mengantuk… Halilintar merasakan de javu yang luar biasa.

"Kenapa kamu masak roti lagi?! Kau lupa dengan apa yang dibilang Kak Gempa waktu itu?" Tanya Halilintar gak habis pikir.

"Hii… Tentu saja Taufan gak lupa…" ucap Taufan lirih. Pastinya. Anggap saja mereka shock, trauma dan lapar. Itu gak berlebihan, soalnya mereka jadi gak sarapan.

"Trus kok malah masak roti lagi?!" Tanya Halilintar sambil menunjuk tumpukan roti di atas piring yang tampak suci dan lezat.

"Tapi roti ini beda, kak!" balas Taufan. "Ini namanya roti gandum! Roti ini terbukti lebih sehat dibanding roti putih. Lagipula ini gak dipanggang, jadi ak— ehh, arci—… Pokoknya zat mandul itu gak akan ada!" jelas Taufan cepat.

"Bukannya roti putih juga pake gandum?" Tanya Halilintar.

"Tapi ini beda. Roti gandum mengandung seluruh bagian dari biji gandum, beda dengan roti putih yang meninggalkan kompenen-kompenen biji gandum yang bermanfaat. Makanya roti gandum lebih sehat." jelas Taufan dengan bangga.

Halilintar manggut-manggut sebelum sadar bahwa situasi dimana Taufan mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya sangatlah ganjil. 'Akan hujan kucing hari ini…'

"… gitu kata Ying." Sambung Taufan lengkap dengan cengirannya.

'Ah, gak jadi hujan kucing…'

"Pokoknya ayo makan. Taufan lapar nih!" Taufan pun duduk di kursi dan bersiap untuk menyantap roti. Halilintar juga ngikut.

"Kalau roti gandum ini memang…"

"… gak sehat…"

JEDEEEERRR

Nah lo… Gempa mulai mengigau. Halilintar dan Taufan terpaku.

"Tapi roti gandum kan punya kompenen biji gandum yang gak dimiliki roti putih…" bantah Taufan cepat… kemudian terdiam. Halilintar juga gak bicara atau pun mengomentari kata-kata adiknya yang sama aja seperti sebelumnya. Mereka menunggu reaksi Gempa.

2 menit… 3 menit… Mereka membiarkan menit-menit berlalu dengan mendengarkan suara dengkuran Gempa. Mereka pun mengeluarkan napas yang tanpa sadar mereka tahan.

"… Kayaknya dia Cuma ngigau biasa deh…" ucap Halilintar akhirnya.

"Iya…" sahut Taufan lega. "Kalo gitu ayo makan!"

Akhirnya mereka pun mulai makan dengan bahagia. Happy ending? Not really…

"… Gluten… Phytic Acid…"

Mata Halilintar dan Taufan tertuju pada Gempa.

"Kak Gempa ngigau soal… lem?" Tanya Taufan bingung.

"Gluten itu bukan lem…" bantah Halilintar singkat. Seingatnya Gluten adalah salah satu bentuk protein, tapi apa hubungannya dengan roti? Bukan Cuma itu, Phytic Acid… 'acid' artinya zat asam. Halilintar punya firasat buruk.

"… dalam roti… phytic acid… menurunkan penyerapan mineral penting dalam pencernaan…"

"W-wah… itu hebat kak…" Taufan melirik Halilintar yang berhenti mengunyah rotinya.

"Gluten… ada banyak di dalam roti, terutama roti gandum…" Gempa mulai ngoceh lagi. "Sensitivitas pada gluten… bisa menyebabkan kelainan otak… schizophrenia… cerebellar ataxia… autism… epilepsy…"

Taufan cengok, Halilintar masang muka horror, tapi Gempa belum selesai.

"Serat gandum…"

"Kak Gempa! Kak Gempa! BANGUUUNNN!" Taufan segera berlari dan menggoyang-goyang tubuh kakak pertamanya dengan sepenuh jiwa.

"A-Ada apa?!" Gempa bangun dengan sentakan. "Apa Halilintar membakar dapur lagi?!"

"Fyuuh... Gak apa-apa kok. Yang penting Kak Gempa udah bangun. Itu yang penting!" ucap Taufan lega.

Gempa bingung melihat sikap aneh adiknya. Baru mau bertanya lebih jauh, ia menguap lebar. Halilintar benar, dia butuh istirahat. "Uhm… Kakak mau tidur dulu… Simpan saja rotinya, nanti siang kakak makan…"

"Gak perlu! Ntar siang Taufan bakal masak nasi panas dan sayur-sayuran yang sehat!" potong Taufan cepat, diikuti anggukan Halilintar yang kelihatan grogi.

"O… ke?"

Dengan itu, Gempa meninggalkan kedua adiknya yang diam-diam menjerit dalam hati,

'Jangan makan roti lagi!'

'Jangan biarkan Kak Gempa tidur di meja makan lagi!'

TING TUNG!

Bersamaan dengan itu, terdengar suara bel pintu berbunyi. Halilintar beranjak untuk membukakan pintu selagi Taufan membersihkan meja makan.


..

*mencet bel* Fyuuh, akhirnya selamat juga dari kejaran Raizu… *mencet bel lagi* Kalo sembunyi disini mungkin gak bakalan ketahuan.*tekan bel lagi* Btw lagi, sekarang Kumato lagi di depan rumahnya…

?: BERISIK! *bukain pintu*

Hallo haloo, Halilintar! :D *senyum inosen*

Halilintar: *terdiam* ... maaf, gak terima sumbangan '-' *tutup pintu*

*gedor-gedor* Woi, begitu kah cara kalian memperlakukan tamu?

Taufan: Kak Hali, siapa yang datang?

Halilintar: Cewek sinting yang gak beres.

Taufan, biarkan aku masuk. Aku bawa kue cokelat nih!

Taufan: Kak Hali, jangan begitu dong! Tamu itu adalah raja! *ngebukain pintu* Mana kuenya?

Halilintar: … *facepalm* *sigh* Ngapain kamu disini?

Aku datang berkunjung. Alter ego-ku bilang wawancara di tempatku mulai membosankan, jadi aku datang ke rumah kalian. ^o^)/ Lagipula aku mau kabur dari Raizu dan deadline ._.

Halilintar: Logika macam apa itu? Dan sana kerjakan deadline-mu!

Y-yah…

Taufan: Lupakan soal itu, mana kue cokelatnya? Laper nih! *o*)/

Iya, iya. Geezz, kamu ini belum sarapan apa?

Taufan: *keringat dingin* Be-Begitulah…

Halilintar: …

…? Eniwei, tadi aku diantar sama cewek yang pakai jilbab warna pink! Ni dia!

Taufan: Oh, Kak Yaya! (/'v')/

Yaya: Halo Taufan ^-^)

Halilintar: …

Oh? Kalian udah saling kenal? 'o')?

Taufan: Kak Yaya tuh tetangga kami! Kak Hali seumuran dengan Kak Yaya lho!

Wah! Kalo gitu sebagai tanda terima kasih udah mengantarku ke sini, kamu mau ikut wawancara gak? :D

Yaya: Wawancara?

Iya!

Taufan: Ayo ikut kak! Seru kok!

Yaya: Heemm, boleh deh :)

Yeeeeyyy! Kalo gitu ayo masuk, kita mulai wawancaranya di dalam! XD

Halilintar: Woe, seenaknya aja masuk. Ini rumah kami tau!

Lha? Emangnya kita bakal wawancara di depan pintu apa? -_-)

Halilintar: Gak ada wawancara. Kak Gempa lagi istirahat di dalam karena begadang. Lain kali aja.

E-ehhh?! Kok gitu siiih? Taufan bantuin aku dong, kan kuenya dah kamu ambil T^T)

Taufan: *sibuk ngunyah kue cokelat* Hah Hahi hehheh, Hahh Hempha hahhus hishihahaht. *masuk rumah*

Eh, tunggu dulu—

Halilintar: Bye. *tutup pintu*

HALILINTAAAARRR! DX

Halilintar: *buka pintu*

Oh? Kamu berubah pikiran ya? *puppy eyes*

Halilintar: *nyuekin Kumato, ngelirik ke Yaya* Yaya, sorry. *tutup pintu lagi*

WOOOEE! Kau seharusnya minta maaf padaku! *mencak-mencak*

Yaya: Sudah, sudah. Kak Gempa harus istirahat. Lain kali saja datang lagi "^-^)a

Sepertinya memang harus begitu… Nanti di wawancara selanjutnya kamu harus datang ya?

Yaya: Oke ^-^) Aku pergi dulu ya. *pergi*

Meehh… Wawancaranya batal deh… ToT) Anyway, Kirimkan pertanyaan kalian seputar kehidupan Boboiboy bersaudara di rumah! Tenang aja, review-review sebelumnya juga bakalan dijawab juga kok! Thanks for reading, sorry kalo endingnya gaje =w=)a And lastly, RnR nee? ^3^)/

Raizu: Kumato! Ini harus selesai hari ini juga!

BaideweikaloyangreviewbanyakntarHalilintarbakalanKumatojadiinbutleryangbisadiapaapainselamasehari! *kabur*