06.00 AM
KRIIIIINNNGGGG! KKRRRIIIINNNGGG! KKKKKRRRRRRRRIIIIIINNNNNNNGGGGG!—BRAK!
Kkrrr—
Hening.
Taufan dan Gempa menelan ludah. Sudah tiba saatnya.
06.03 AM
Pagi yang cerah, sarapan yang lezat, dan salah dua Boboibro yang galau.
"Sekarang giliran Kak Gempa kan?" Taufan menatap Gempa dengan memelas.
"Bukannya justru giliranmu, Taufan?" Gempa hampir goyah.
"Ta-tapi… Taufan takut…" Taufan memang ikut klub drama dan bisa saja memalsukan mata yang berkaca-kaca itu, tapi Gempa tahu lebih baik. Gempa tidak boleh luluh, Taufan harus menghadapi ini. Ini bagian dari tanggung jawab besar.
Jadi dia menepuk kepala Taufan dengan lembut. "Kamu pasti bisa kok, Taufan. Kamu kan adik kecil Kak Gempa?"
Taufan akhirnya mengangguk pelan, dan melangkah pelan keluar dari dapur. Gempa hanya bisa mendoa'akan yang terbaik untuk adiknya itu.
06.08 AM
Taufan membuka pintu itu dengan gugup. Dia pasti bisa, dia pasti bisa. Di dalam ruangan tampak remang oleh rembesan sinar mentari yang sudah mulai meninggi, jadi dia tidak perlu menyalakan lampu. Lagipula dia tidak perlu melihat apapun, dia harus focus pada apa yang ada di atas ranjang.
Halilintar.
Taufan menguatkan hati dan berjalan mendekati kakaknya, berjinjit agar tidak mengejutkannya.
"Kak… Kak Halilintar…"
Tidak ada respon.
"Kak Hali… Bangun…"
Sunyi.
"Ka—"
Taufan membeku ketika Halilintar bergeming dan memutar tubuhnya dengan gerakan lembam, seraya menggumamkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti Taufan. Sekarang posisi Halilintar menghadap Taufan jadi dia bisa tahu mata Halilintar masih tertutup, dan napasnya masih teratur. Aman.
Tidak. Tidak aman.
Taufan mengambil langkah mundur. Jarak aman. Dia bisa meneriaki Halilintar. Ya, ya, itu ide yang bagus. Namun ketika kakinya merasakan sesuatu yang kasar dan kepalanya menunduk untuk melihat jam weker yang berserakan di lantai… ah, tidak mungkin. Tidak mungkin. Ini tidak akan berhasil.
Taufan mengambil langkah maju. Menelan ludah. Dia bisa. Dia bisa. Dia adik kecilnya Gempa. Menjulurkan dan meraih pundak Halilintar.
Tidak ada reaksi.
Ia meremas dan mengguncangnya.
"Kak Hal—"
GREP!
Halilintar menggenggam tangan Taufan, yang shock dan tidak dapat bergerak ketika Halilintar membuka matanya perlahan.
"Kuhitung sampai tiga," ucap Halilintar lirih. Itu mata setengah tidur, Taufan tahu, dan Halilintar masih belum sadar sepenuhnya, tapi tatapan tajam dengan mata merah itu… "Keluar, atau aku akan memasukan kail di tenggorokanmu dan memancing organ dalammu keluar, lalu aku akan merobek usus kecil keluar dari mulutmu dan usus besar dari bokongmu, lalu menggunakan tubuhmu sebagai tali skipping…"
"…! ! ! ! !"
"Satu…"
Taufan bergetar. Dia harus keluar, dia harus keluar…!
"Dua…"
… Tapi Halilintar menggenggam tangannya!
"Tiga."
Taufan, selesai.
06.45 AM
Kenapa Taufan tampak ketakutan melihatnya? Kenapa Gempa menatapnya dengan putus asa?
Halilintar Cuma bisa bertanya-tanya, diam, dan makan.
… Dia juga merasa harus minta maaf? Entah kenapa.
Seharusnya itu lucu. Lucu gak ya? Damn my dark humor.
Hallo haloo~ Permintaan maafku sedalam-dalamnya karena sudah lama gak update.
Fic ini bukannya discontinued, hanya saja... uh, i can't write story in Bahasa anymore T^T idk why... Butuh momen khusus seperti sekarang. Agh.
I'm still on my way to finish some fic tho, like the continuation of 'LAST SONG'. but of course, it's in English.
Anyway, Update bakalan datang tanpa bisa diprediksi, and i wont promise anything :9 Thanks for reading! I love all the review btw ^-^) again, thank you so much~
