Apes...
Satu kata untuk Rangga Wicaksono pagi ini, sungguh memalukan dilihat oleh teman-temannya, ketika ia diseret-seret dengan borgol yang menghiasi tangan kurusnya, layaknya maling sandal pak lurah pas sholat jum'at namun ketahuan dan diarak ke kantor polisi setempat. Dibelakangnya ia mendengar bisik-bisik tapi nyaring milik teman-temannya, menusuk sanubari pendengaran hingga ke urat malunya.
"Oh-em-ji, Sir. Alaude dapat mangsa lagi!" ucap seseorang dari ujung kelas, "Pfft, itu Rangga kan? Ya ampun, udah ada guru killer masih terlambat aja dia" tambah seseorang lagi. "Aku juga mau diborgol ama Sir, Alaude!" bisik seorang siswi perempuan. " Hidih, malu-maluin banget deh, kayak kriminil aja si Rangga" sampai. "Eh, gays, kita doain Rangga yok! Semoga dia tetep hidup pas dia udah keluar nanti! Wkwkwkwk!"
Kampret, lu!
Rutuk demi rutukan keluar dari hati Rangga, muka merah plus pucat campur keringat dingin mulai keluar dari wajah khas Jawanya, membayangkan hukuman apa yang bakal diberi oleh guru killer tercinta. Komat-kamit ia berdoa, semoga yang diatas memberikan pertolongan baginya sembari berjanji tidak akan telat dan menghancurkan jam wekernya lagi. Diliriknya Sir. Alaude yang berjalan didepannya, dilihatnya rambut putih seperti uban khas bule sang guru, tertata rapi dan terawat, serta... Oh, apakah ia melihat senyum sang guru yang menyeringai padanya? Langsung saja Rangga menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata.
" Alaude?" seorang lelaki tinggi menghampiri mereka berdua, "Ara, ara, kau mengundang siswa datang ke ruanganmu lagi?" surai emas miliknya bergerak saat ia menunduk melihat Rangga yang lebih rendah dibandingkan ia. "Dengar-dengar dari siswa yang lain, kau kalau menghukum bisa sampai membuat mereka mati ya?" ucapnya sambil tersenyum hangat sampai-sampai keringat dingin Rangga hilang seketika melihat senyumannya. Matanya bertatapan dengan mata Rangga, membuat Rangga terpana, seakan-akan terperangkap didalamnya .
Itulah Giotto Ieyasu, guru transfer dari jepang, yang mengajar bahasa italia disekolah Rangga dan entah kenapa lagi dia bisa berbahasa Indonesia dengan intonasi yang baik dan benar. Guru yang sangat tampan, gagah, dan tentu saja, Cool. Sungguh pujaan idaman para wanita, entah berapa orang yang jatuh cinta karena kharisma dan tatapan matanya baik itu wanita maupun laki-laki dan sudah beberapa teman Rangga yang (hampir) berganti orientasi seksualnya gara- gara guru satu ini. "Mereka terlalu berlebihan menanggapi hukuman dariku Giotto, aku hanya menyuruh mereka masuk keruanganku itu saja." Ucap Alaude ringan.
'Hanya masuk keruangan anda Sir?! Lalu kenapa kemarin ada siswa sakratul maut gara-gara masuk keruangan anda?!' ingin rasanya Rangga berteriak seperti itu, tapi apa daya, dia masih sayang nyawa.
"Lalu , apakah kau ada keperluan denganku Giotto?" tanya Alaude ke teman sesama gurunya. "Kalau tak ada, bisakah aku permisi untuk keruanganku? Aku ingin segera mungkin meghukum bocah badung ini." Ucap Alaude dingin dan Rangga langsung menambah insensitas doa dalam hatinya "Maa, Alaude jangan terlalu keras dengan anak manis ini... kasihankan? Nanti dia nangis lho?" tangan Giotto menyentuh kedua pundak Rangga "hmm... tapi aku mungkin akan menenangkannya kalau kau terlalu keras menghukum anak manis ini, Alaude" ucap Giotto sambil tersenyum. Merasa tertantang Alaude membalas, "Tak perlu, khusus anak ini aku sendiri yang akan menenangkannya" "Benarkah? Tapi, kalau anak ini datang kepadaku sambil menangis jangan salahkan aku ya?" dan tiba-tiba suhu sekitar jadi sedingin kulkas.
Duh Gusti, percakapan ini terlalu absurd untuk telinga Rangga, ingin sekali ia pergi jauh dari para gurunya yang ganteng-ganteng nyeremin ini, kalau perlu sampai ke gua sekalian yang penting bisa jauh dari mereka. Ah, tidak, tidak. Mungkin ke SG mall saja, supaya ia bisa ngopi sambil wifian atau cuci mata ngeliatin paha-paha cewek bohai disana.
Tidak, tidak bisa, Rangga tidak bisa pergi dari realita yang ia hadapi sekarang.
Merasa percuma dengan perang mata mereka, Alaude membuka mulutnya " Jadi, perlukah aku mengulang pertanyaanku Giotto?" ketus Alaude, "Oh iya! Aku lupa! Aku diperintahkan oleh kepala sekolah supaya kau keruangannya, mungkin kurikulum program kita masih membingungkannya dan minta penjelasanmu darimu." Kata Giotto riang, senang melihat raut muka orang dihadapannya berubah sekejap mata. "Dan ini penting Alaude, kau harus pergi kesana sesegera mungkin~" tangan Giotto berpindah dari pundak ke posisi memeluk Rangga dari belakang serta merta meletakkan dagunya disamping kepala Rangga, mesra. Sebodo amat dengan wajah kesal Alaude melihat perlakuannya ke bocah malang chapter ini, cemburukah?
"Ck... baiklah, aku akan kesana. Kau beruntung kali ini bocah. " mendecih sesaat Alaude melanjutkan " akan kulepaskan kau..." Alaude mengeluarkan kunci borgol kemudian melepaskan benda metal yang melingkari tangan Rangga. Apakah ini keajaiban? Beneran? Ini pertama kalinya Rangga percaya dengan keajaiban. Mata rangga terbelalak melihat tangannya bebas, tak percaya dirinya merasakan ia masih hidup dan utuh saat kedua tangannya dilepaskan dari benda laknat itu...
"... tapi pointmu tetap kukurangi 35 dan hukumanmu akan kulanjutkan nanti"
Shit.
"eeh? Kenapa hukumannya tidak diserahkan keaku saja?" ucap Giotto protes "aku dengan senang hati kok menghukum siswa, apalagi kalau siswanya semanis ini" Please deh pak Giotto, jangan ngegombal sembarangan, kasihan Rangga berasa dia jadi gay sesaat. "Tidak. Aku yang pertama kali menemukan dia bersalah dan akulah yang akan menghukumnya" tidak peduli dengan protes Giotto, Alaude berkata, "kau bocah, cepat kembali kekelasmu dan ikuti pelajaran dengan baik dan benar. CEPAT!" "B-BAIK PAK! Ah-er Terima Kasih Sir!" begitu mengucapkan kata terakhir dan tak lupa dengan ucapan terima kasih, Rangga langsung berjalan cepat menuju ruang kelasnya didekat toilet ujung koridor. Yang hanya dipikirkannya adalah berjalan sejauh mungkin dari guru BP berlagak polisi dadakan itu dan guru bahasa itali pengubah orientasi seksual murid itu serta memanjatkan syukur sebanyak-banyaknya karena keajaiban yang telah diberikan oleh yang diatas, hampir ia menangis saking senangnya, tapi kagak jadi. Jaim, bo.
Dua menit lebih 10 detik berlalu, Rangga akhirnya berhasil menuju pintu kelasnya, sedikit merapikan penampilannya, ia kemudian mengetuk pintu kelasnya.
Tok, tok, tok...
Membuka pelan sedikit pintu kemudian Rangga memasang senyum Pepsodent dan berkata " Maaf pak, saya terlambat..."
Yaaaaaah! Suara riuh rendah kecewa menyambutnya.
"Kukira guru datang!" teriak seseorang teman sekelasnya "Iiih Rangga ini bikin tegang!" sahut seorang lagi "iya nih! Padahal sudah susah payah kusembunyiin kartu pokernya!" dan demo mini terjadi dikelas, memproteskan suara mereka ke Rangga seorang.
"Hei! Ayolah! Sukur-sukur gurunya gak datang kan?" seru Rangga membalas teman-temannya "lho, bukannya kau dihukum sir. Alaude tadi?" tiba-tiba seorang siswi perempuan bertanya "Tadi Sir. Alaude ada keperluan mendadak jadi aku dibebaskan..." jawab Rangga cepat "wiiih, Rangga selamat!" seru seseorang lagi takjub dan suara wiiiiiiih panjang bergema didalam kelas "Dude, lanjut aja sana..." ucapnya lelah. "Yaudah, yok lanjutin main kartunya" ajak seseorang mengalihkan suasana dan disetujui oleh yang lainnya "Oya, Dul! Putar musiknya lagi!" perintah orang itu ke orang lain yang bernama Dul yang duduk di barisan paling depan ujung dekat meja guru. "sip, bos!" jawab Dul dan lagu - menghentak keseluruh ruangan kelas.
Tak dihiraukan lagi, Rangga berjalan menuju mejanya "Yo, Rangga! Beruntung lu sob, hari ini pak Edy lagi dinas keluar kota sampai jum'at depan" sapa teman sebangku Rangga, Joko namanya "bejo banget lu, bisa lepas dari guru killer!" senyum Joko sedikit tak percaya "keajaiban bro, oya habis ini pelajarannya apa?" meletakkan tasnya di samping meja, Rangga kemudian mendaratkan bokong montokny-(uhuk) kemudian Rangga duduk disamping Joko. "Habis ini sejarah, tapi gurunya ga masuk. Jadi, kita punya 4 jam pelajaran kosong" Joko mengacungkan ibu jarinya "siiplah, kalau kayak gini sih, aku kena hukuman juga ga apa-apa" Joko mengangkat sebelah alisnya, matanya seakan berkata: yakin, bro? "Becanda gan" ucap Rangga cepat. "aku mau tidur dulu jok, capek nih." Rangga menguap sambil menutup mulutnya. "oh ok" timpal Joko santai. Rangga kemudian merebahkan kepalanya keatas meja dan menyembunyikan parasnya dibalik kedua tangannya. menikmati keberuntungannya hari itu hingga akhirnya, ia jatuh terlelap ke alam mimpi.
Bersambung...
Maaaf sekali saya baru melanjutkan cerita ini, maaf ;;_;;
Terima kasih Vikuppy, LaLaNur Aprillia dan pohon apel Tanpa review kalian saya tidak mungkin menemukan motivasi untuk melanjutkan cerita ini ;)
Serta terima kasih atas sarannya Vikuppy, dengan ini pairing fanfic ini telah ditentukan! buat pohon apel G27 nya Insya Allah bakal nyusul di chapter depan ya...
sampai jumpa chapter depan ^^/
